Header Ads Widget

Episode 15: Biarkan mereka yang ingin bicara, bicara.

 


Kembalinya Sang Putri Es dan Kebangkitan Sang Naga Tidur

Kepulangan mereka ke ibu kota berjalan jauh lebih lancar dari yang diperkirakan. Saat melintasi pos pemeriksaan gerbang utama, Randy dan Liz sudah bersiap menghadapi interogasi yang rumit. Namun, penjaga gerbang hanya mematung, menatap Liz seolah-olah baru saja melihat hantu, tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.

"Dia tampak sangat terkejut," bisik Liz sambil menggaruk pipinya yang merona tipis.

"Wajar saja. Sampai beberapa hari lalu, rumor yang beredar adalah kau sudah meninggal dunia," jawab Randy santai.

Randy tidak tahu pasti mengapa pemerintah tidak membantah rumor kematian tersebut. Ia hanya punya firasat bahwa pengasingan Elizabeth adalah sebuah kesalahan yang ingin ditutupi oleh banyak pihak. Namun, Randy tidak peduli dengan intrik busuk itu. Baginya, kenyataan bahwa Liz selamat dan diizinkan masuk kembali adalah satu-satunya hal yang penting.

"Rumor kematian yang berubah menjadi kemunculan tiba-tiba... Kau akan menjadi bintang utama sejak hari pertama semester baru," goda Randy sambil tertawa kecil.

"Tuan Randolph... apakah itu sebuah sindiran?" Liz menggembungkan pipinya kesal.

"Anggap saja itu caraku menghiburmu," Randy mengangkat bahu dengan senyum provokatif. "Ingat kan? Aku sudah bilang tidak akan menahan diri lagi."

Liz terdiam sejenak, lalu menatap Randy dengan serius. "Saya akan melakukan yang terbaik."

"Jangan terlalu memaksakan diri. Cukup nikmati saja panggungnya. Siapa yang paling bisa menikmati suasana, dialah pemenangnya."

Kalimat Randy membuat Liz sadar. Dibandingkan ketakutan karena ditunjuk atau dibicarakan, Randy ingin ia menghadapi segalanya dengan kepala tegak.


Kereta mereka perlahan memasuki kawasan akademi. Semakin dekat ke gerbang sekolah, jumlah kereta mewah kian bertambah. Mengingat upacara pembukaan akan diadakan besok, hari ini adalah puncak kembalinya para siswa ke asrama.

Ketegangan kembali menyergap Liz. Randy, yang menyadari kegelisahan itu, kembali bersuara.

"Kau tidak sendirian. Aku juga akan menonjol bersamamu."

Liz mendongak, menatap Randy yang tampak sangat tenang.

"Mereka yang hanya bisa melontarkan fitnah dari jauh adalah orang-orang yang tidak punya pengaruh dalam hidup kita. Biarkan mereka menggonggong. Sebentar lagi mereka akan bungkam."

"Tuan Randolph, kekerasan itu tidak baik," tegur Liz pelan, meski ia mulai tersenyum.

"Aku tidak bicara soal kekerasan fisik, Liz. Kau sendiri yang akan membungkam mereka. Ingatlah siapa dirimu. Kau adalah putri dari Marquis Brauberg yang disegani, dan sekarang kau adalah asisten pribadiku yang paling kompeten. Tunjukkan pada mereka bahwa kau telah melampaui masa lalu."

Liz mengangguk penuh semangat, matanya yang tadi tegang kini berkaca-kaca karena tekad. "Dan Randy juga... Kau juga akan terbang tinggi dari sini."

Randy hanya tertawa hambar. "Seorang majikan tidak boleh terlihat lebih rendah dari pelayannya, kan? Aku akan berusaha."


Sambil menunggu kereta benar-benar berhenti, Liz tiba-tiba bertanya, "Ngomong-ngomong, Randy... kenapa dulu kau berusaha keras untuk tidak mencolok di sekolah?"

Randy terdiam sejenak sebelum tersenyum masam. Ia mulai menceritakan kebenaran pahit di balik program studi luar negerinya.

Dahulu, kerajaan kecil asalnya selalu mengirimkan siswa berbakat ke Alexandria. Namun, para jenius itu justru menolak pulang setelah lulus dan memilih menjadi birokrat di kerajaan besar ini. Akibat eksodus intelektual tersebut, kerajaan asalnya mengubah strategi: mereka mengirimkan bangsawan pinggiran yang "tidak terlalu penting" seperti Randy, dengan harapan jika ia sukses, ia akan kembali karena memiliki keterikatan tanah di kampung halaman.

"Aku merasa seperti barang buangan yang dikirim hanya karena tidak ada orang lain yang mau. Itulah sebabnya aku malas dan bersikap sinis. Aku pikir tidak ada gunanya belajar di tempat yang penuh dengan orang-orang sombong yang hanya suka mengungguli satu sama lain."

"Jadi itu alasan Anda menjadi 'siswa malas'?" tanya Liz lembut.

"Ya. Itu adalah amukan kekanak-kanakan karena aku merasa tidak diinginkan. Tapi sekarang aku sadar, menyia-nyiakan kesempatan hanya karena gengsi adalah kebodohan."

Tepat saat Randy selesai bicara, kereta berhenti. Pintu gerbong dibuka oleh Harrison, membiarkan cahaya matahari sore masuk dan menyinari mereka.

Randy melangkah keluar lebih dulu dengan martabat seorang bangsawan. Lalu, ia berbalik dan mengulurkan tangannya.

"Tuan... mengulurkan tangan pada pelayannya?" Liz ragu sejenak.

"Tidak masalah. Ambil saja," jawab Randy mantap.

Liz meraih tangan Randy dan melangkah turun. Seketika, suasana di sekitar meja resepsionis asrama menjadi sunyi senyap, sebelum kemudian meledak dalam bisik-bisik riuh. Ratusan pasang mata tertuju pada mereka.

Tanpa mempedulikan tatapan aneh itu, Randy berjalan dengan dagu terangkat menuju meja administrasi, diikuti Liz yang berjalan setengah langkah di belakangnya dengan anggun.

"Randolph Victor, kembali untuk semester kedua," ucap Randy pada petugas wanita di meja tersebut. "Dan ini asisten pribadiku, Elizabeth."

Begitu nama itu diucapkan, seruan kaget terdengar dari kerumunan. "Elizabeth von Brauberg?!" "Dia benar-benar masih hidup?" "Siapa pria yang bersamanya itu?"

Petugas resepsionis tampak gemetar saat memeriksa dokumen izin masuk sementara. "R-Randolph-sama... ini..."

"Saya harap dukungan Anda terus berlanjut di semester kedua," potong Randy dengan senyum tipis yang penuh tekanan, tidak memberi ruang bagi petugas itu untuk membantah.

"E-eh, baik! Tentu saja!" petugas itu mengangguk kaku.


Dari kejauhan, beberapa pasang mata mengawasi mereka dengan emosi yang berbeda-beda.

"Hah? Kenapa dia bisa kembali ke sini...?" gumam seorang pemuda dengan wajah pucat. "Elizabeth von Brauberg... Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Cathy lagi," desis suara lain yang penuh kebencian. "Benarkah itu... Liza...?" tanya sebuah suara pelan yang terdengar penuh kerinduan.

Kehidupan sekolah yang penuh badai telah resmi dimulai.


Catatan Penulis: Dengan ini, Bab Satu berakhir. Terima kasih atas dukungan luar biasa melalui komentar, suka, dan penilaian bintang yang Anda berikan. Dukungan Anda adalah motivasi utama saya untuk menulis setiap hari.

Bab Dua akan segera hadir setelah jeda singkat. Dalam versi buku fisik yang kini tersedia, Anda bisa menemukan detail lebih dalam mengenai liburan musim panas mereka serta ilustrasi eksklusif pencarian jasad Eleonora. Sampai jumpa di bab selanjutnya!


PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER