Bab: Panggung Sandiwara dan Dominasi Mutlak
Adu mulut antara Cain, sang petualang peringkat S, dan Randy di kedai guild berakhir seketika begitu baja ditarik dari sarungnya. Namun, bagi Randy, inilah momen yang ia tunggu. Di kerajaan ini, hukum duel antara bangsawan dan rakyat jelata masih berakar pada noblesse oblige. Seorang bangsawan tidak bisa menghukum rakyat jelata hanya karena "tidak hormat" tanpa mengguncang fondasi kepercayaan publik. Tapi, jika rakyat jelata itu yang menantang dan menarik senjata duluan? Itu adalah undangan resmi menuju kehancuran yang sah secara hukum.
Randy mengikuti aturan main itu dengan patuh—setidaknya di permukaan. Saat Aaron Knightley mengintervensi, Randy mengira sang Kepala Guild akan melerai. Namun, Aaron justru menyeringai tipis.
"Izinkan saya menunjukkan tempat di mana kalian bisa benar-benar saling membunuh," ujar Aaron tenang.
Arena yang Sesak
Lapangan latihan Guild di pinggiran Livernant biasanya luas dan sunyi, namun malam ini, tempat itu berubah menjadi koloseum. Kabar duel antara "Anak Bangsawan Victor" dan "Badai Berlumuran Darah" menyebar secepat api di padang rumput kering.
Dinding setinggi dada di sekeliling arena dipenuhi lautan manusia. Mereka yang tak kebagian tempat rela berdiri di atas kursi, mengintip dari jendela, atau bergelantungan di pagar kayu.
"Aaron benar-benar memanfaatkan kita sebagai hiburan," bisik Randy, menatap tajam sang Kepala Guild yang kini berdiri santai di tengah lapangan sebagai saksi.
"Randy, kau baik-baik saja?" Liz mendekat, wajahnya cemas.
"Jangan khawatir, Liz. Aku tidak akan kalah," jawab Randy lembut.
"Bukan itu..." Liz menggigit bibir. "Kekhawatiranku adalah kau mungkin... berlebihan. Ellie tadi berbisik padaku: 'Jika kau tidak membunuhnya, lakukan apa pun yang kau mau padanya'."
Randy menyeringai lebar. Sang Penyihir Agung rupanya sedang haus darah. "Aku akan menahan diri... setidaknya sampai dia tidak bisa bernapas."
Ronde Kedua: Tanpa Senjata, Tanpa Ampun
Cain berdiri di sisi lain, otot-mencuat dan aura intimidasi yang cukup untuk membuat petualang peringkat A gemetar. Randy mengakuinya; fisik Cain memang luar biasa. Namun, dibandingkan dengan monster-monster di keluarga Victor, Cain hanyalah anak kecil yang bermain pedang.
Demi kehormatan Keith Strahl—sang "Black Flash" asli yang legendaris—Randy merasa jijik melihat seseorang menyandang gelar peringkat S dengan sikap serendah Cain.
"Mulai!" teriak Aaron.
Cain bergerak lebih dulu. Tinju kanannya melesat secepat kilat menuju dahi Randy. Namun, bagi Randy, gerakan itu terasa lambat. Ia menangkisnya hanya dengan telapak tangan kiri, lalu mencengkeram tangan Cain.
Suara tulang yang bergeser terdengar linu. Cain mengerang, mencoba memukul dengan tangan kirinya, namun Randy sudah menangkap kedua pergelangan tangannya. Dengan satu gerakan memutar yang presisi, Randy memaksa sang raksasa itu menekuk lutut di hadapannya.
"Lepaskan—!"
DUAK!
Randy melayangkan tendangan telak ke tenggorokan Cain, memutus kalimat "Aku menyerah" sebelum sempat terucap. Penonton tersentak. Randy tidak memberinya kesempatan untuk menyerah.
Ia menyeret Cain, membantingnya ke tanah, dan menginjak wajahnya hingga retakan menjalar di lantai batu arena. Darah mulai mengalir, namun Randy menyadari sesuatu; luka Cain mulai menutup dengan sendirinya.
"Penyembuhan alami? Menarik," gumam Randy.
Cain melompat mundur, menyeka darah di mulutnya dengan seringai gila. "Jangan sombong, bocah!"
Cain menyerang lagi, kali ini mencoba trik kotor dengan menendang debu dan kerikil ke mata Randy. Saat pandangan Randy terganggu, Cain menghantamkan pukulan berkekuatan penuh ke perut Randy.
BOOM!
Suara benturan itu mengguncang seluruh arena. Namun, Randy bahkan tidak bergeming.
"Hanya segini?" Randy menyeringai. Ia membalas dengan pukulan pendek ke bahu Cain. KRAK! Tulang bahu Cain hancur seketika, lengannya terkulai lemas.
Selanjutnya adalah pembantaian. Pukulan kait kiri menghantam dagu, disusul tendangan memutar yang membuat otak Cain terguncang hebat. Randy menjambak rambut Cain yang sudah tak berdaya, mengangkat kepalanya, dan mengepalkan tinju kanan untuk serangan terakhir...
"Cukup!" Aaron melesat ke tengah, menghentikan tangan Randy. "Pemenangnya: Randolph Victor!"
Siasat di Balik Kehancuran
Randy menghela napas, melempar tubuh Cain yang hancur ke lantai seperti sampah. Tanpa keringat, tanpa luka, ia berjalan menghampiri Liz. "Aku lapar, ayo cari makan."
Aaron menatap punggung Randy dengan perasaan campur aduk. Ia melihat rekan-rekan Cain bergegas menyembuhkan pemimpin mereka yang kini meraung tidak terima, "Aku belum kalah! Jika aku menggunakan pedangku... jika aku menggunakan Carnage...!"
Aaron menyadari sesuatu yang mengerikan. Cain adalah pendekar pedang besar. Kekuatan aslinya ada pada Pedang Iblis Pembantai miliknya. Dengan memukuli Cain tanpa senjata, Randy secara tidak langsung memberikan "harapan palsu" pada Cain bahwa ia masih punya peluang jika menggunakan pedang.
Apakah bocah ini sengaja? pikir Aaron ngeri. Dia membiarkan Cain hidup hanya agar punya alasan untuk duel bersenjata di masa depan—di mana dia bisa membunuh Cain secara permanen tanpa melanggar hukum?
Jika benar, maka Randolph Victor bukan sekadar pejuang yang kuat. Ia adalah iblis perang yang sedang menyusun papan catur kematiannya sendiri.
0 Comments