Bab: Kota Air Livernant dan Provokasi Sang Badai
Matahari baru saja melewati puncaknya saat kapal cepat keluarga Marquis membelah aliran sungai besar menuju Livernant. Randy menyandarkan tubuhnya di pagar kapal, napasnya membentuk uap putih di udara dingin.
"Aku tidak ingin melihat Ignifolia (Rumput Termal) lagi untuk waktu yang lama," gumam Randy dengan senyum kecut.
Liz, yang duduk di sampingnya, hanya mengangguk lemah. "Setuju. Rasanya kita sudah berubah menjadi mesin pembuat kaus dalam otomatis selama dua hari terakhir."
Mereka berhasil menyelesaikan ribuan set pakaian untuk para pekerja pelabuhan tepat sebelum tengah hari. Namun, kelelahan itu dibayar dengan pemandangan Livernant yang mulai berkilauan di cakrawala—kota paling makmur di Kadipaten, pusat perdagangan yang dibangun di atas jaringan kanal yang rumit.
"Keluarga Hartfield punya industri tekstil besar di seberang sungai," Randy menatap pantai jauh. "Jika kita ingin memproduksi massal tanpa tangan kita kapalan, kita butuh kerja sama mereka. Tapi aku tidak bisa begitu saja memaksa Cecilia atau Luke menjadi buruh pabrikku."
Randy menggaruk kepalanya. "Tapi Luke... dia pasti senang jika kupanggil untuk pekerjaan kasar seperti menggali lubang panas bumi."
"Kau hanya ingin menjadikannya kuli, kan?" Liz menatapnya datar, membuat Randy hanya bisa mengangkat bahu sambil tertahannya tawa.
Kedai yang Berisik dan Kabut Fitnah
Kapal merapat saat senja membakar langit Livernant. Setelah menitipkan barang, tujuan pertama mereka adalah Persekutuan Petualang. Randy memegang surat pengantar dari Volkan; mereka butuh akses ke dokumen kuno tentang prasasti sihir (rune) demi menyempurnakan sistem pemanas.
Suasana di dalam gedung Persekutuan sangat riuh. Aroma ale murah dan keringat memenuhi ruangan. Randy menggenggam tangan Liz erat. "Jangan menjauh dariku."
Kehadiran mereka—dua remaja berpakaian rapi di tengah kumpulan petualang kasar—langsung mengundang tatapan tidak sopan. Saat Randy sedang mengurus administrasi di resepsionis, seorang pria mabuk mencoba mendekat.
"Hei, gadis manis! Kenapa bersama bocah pucat itu? Kemari dan minum bersamaku!"
Randy menghela napas, menahan diri untuk tidak mematahkan rahang pria itu di tempat. Keadaan semakin tegang hingga sesosok pria tua dengan mata setajam elang muncul dari lantai atas.
"Hentikan, kalian bodoh. Kalian tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?"
Seluruh kedai mendadak sunyi. Pria itu adalah Aaron Knightley, Kepala Persekutuan Kadipaten, seorang veteran dengan aura yang setara dengan kakek Randy.
"Randolph Victor. Aku sudah mendugamu akan datang, tapi tidak secepat ini," Aaron menyeringai tipis. "Kakekmu, Volkan, berutang banyak padaku, jadi aku akan membantumu. Datanglah besok siang."
Namun, saat suasana mulai mencair, sebuah suara lantang memecah kesunyian dari sudut bar.
"Tunggu dulu, Pak Tua! Jadi ini si bocah dari keluarga Victor itu? Keluarga pengkhianat yang mencoba mencekik leher kita semua?"
Perangkap Kata-Kata: Kebodohan Sang "Badai"
Seorang pria bertubuh raksasa berdiri. Namanya Cain, petualang peringkat S yang dikenal sebagai "Badai Berlumuran Darah". Ia membanting gelasnya, memicu kehebohan.
"Kudengar keluarga Victor menggunakan pengaruh bangsawan Kerajaan untuk memaksa Count Shadler menurunkan harga bijih sihir hanya untuk kepentingan mereka sendiri! Kalian ingin hidup hangat sendirian sementara rakyat Kadipaten membeku karena pasokan terbatas, ya?"
Rumor itu adalah fitnah keji yang disebarkan Shadler, namun bagi para petualang yang tidak tahu apa-apa, itu terdengar seperti pengkhianatan. Aaron menyipitkan mata, bersiap mengusir Cain, tapi Randy mengangkat tangan, menghentikannya.
"Aaron, biarkan saja," ujar Randy tenang, matanya berkilat berbahaya. "Jika ada orang bodoh yang ingin menantang Victor, mereka harus diberi pelajaran secara resmi."
Randy melangkah maju, menatap Cain dengan tatapan meremehkan. "Cain, ya? Katakan padaku, berapa banyak Shadler membayarmu untuk menyalak seperti anjing di sini?"
"Apa katamu?!" Cain menggeram.
"Kau bilang kami menekan Shadler untuk menurunkan harga? Kau benar-benar idiot yang sempurna," Randy mendengus. "Jika Victor meminta harga murah, seharusnya kami menjual bijih sihir di wilayah kami dengan harga murah juga, kan? Tapi kenyataannya, Shadler mengirim surat resmi yang mengatakan tambangnya menipis dan ia menaikkan harga untuk semua orang, termasuk Victor."
Randy mengeluarkan salinan surat resmi berstempel Shadler yang diberikan Keith. "Jika harga di Livernant ini belum naik, itu hanya masalah waktu. Shadler sedang memonopoli energi musim dingin kalian, dan kau—si Badai yang 'pintar' ini—malah membantunya menindas orang yang mencoba mencari solusi."
Para petualang di sekitar mulai berbisik gelisah. "Apa? Harga bijih akan naik lagi?"
"Kau... kau hanya pandai bicara, bocah!" Cain gemetar karena malu dan marah. Ia meraih pedang besarnya yang bersandar di meja. "Kau menantang petualang peringkat S? Aku akan menghajarmu sampai kau memohon ampun!"
Randy menyeringai lebar. Inilah yang ia tunggu. Sebagai bangsawan, ia tidak bisa memukul rakyat biasa tanpa alasan. Namun, jika pihak lawan yang menarik senjata duluan setelah kalah berdebat...
"Oh, jadi sekarang kau ingin menggunakan otot karena otakmu tidak berfungsi?" Randy melemaskan lehernya, auranya mendadak berubah menjadi sangat mengintimidasi. "Ayo, Cain. Tunjukkan padaku seberapa merah 'badai'-mu itu sebelum aku mengakhirinya."
0 Comments