Bab: Rahasia Serat Termal dan Uji Coba Malam Hari
Senja telah lama larut saat Randy menginjakkan kaki kembali di kediaman Victor. Tanpa sisa kehangatan matahari, udara utara terasa seperti pisau yang mengiris kulit. Di depan pintu, Liz dan para pelayan menyambutnya dengan penampilan yang janggal; mereka mengenakan lapisan pakaian bulu yang sangat tebal hingga menyerupai boneka salju atau suku Inuit.
"Penampilan yang menarik, Liz," goda Randy, meski hatinya sedikit miris melihat putri Marquis itu harus membungkus diri sedemikian rupa demi bertahan di rumahnya sendiri.
"Ini hasil karyaku hari ini. Daripada membeku menunggu inovasimu, lebih baik aku jadi beruang bulu," balas Liz dengan nada bermartabat namun terlihat lucu karena pipinya yang memerah tertimbun kerah bulu.
Sambil berjalan menuju ruang kerja, Liz menyerahkan selembar proposal. "Aku sudah merevisi anggaran. Setengah biaya pembangunan jalan ke Hutan Terkutuk akan ditanggung oleh Serikat. Sisanya, dialokasikan untuk produksi pakaian musim dingin 'ringan' yang kau janjikan."
Randy menatap dokumen itu dengan serius. Liz telah melakukan bagiannya dengan luar biasa; kegagalan kini bukan lagi sebuah pilihan.
"Jadi, bagaimana progresnya?" tanya Liz penasaran.
Randy menyeringai, mengangkat sedikit ujung bajunya untuk memperlihatkan lapisan kain tipis yang baru. "Aku sudah membuat prototipe dari prototipe. Ini dia: Kaus Dalam Termal."
Uji Coba Pertama: Rasa Gatal yang Hangat
Liz tampak skeptis saat Randy mengeluarkan tumpukan rumput layu dari kantong ajaibnya. Namun, ia tetap mengikuti instruksi Randy. Mereka berdua masuk ke ruang kerja Liz. Dengan sihirnya, Liz membantu mengolah batang rumput itu menjadi serat halus dan mengintegrasikannya ke dalam lapisan pakaian dalamnya sendiri sebagai uji coba.
"Agak gatal," keluh Liz saat keluar dari ruang ganti. Wajahnya masih mengenakan jubah bulu tebal.
Namun, beberapa menit berlalu, ekspresi Liz berubah. "Tunggu... rasanya berbeda. Hawanya mulai... panas?"
Liz perlahan melepas mantel bulu terluarnya. Ia tampak terkejut. "Randy, ini bukan efek plasebo. Ini benar-benar hangat!"
"Aku tahu!" Randy mengepalkan tangan dengan semangat. "Sekarang, kita harus tahu kenapa dia hangat agar bisa diproduksi massal."
Eksperimen Larut Malam: Mencari Pemicu Panas
Setelah makan malam, suasana ruang makan berubah menjadi laboratorium dadakan. Di satu sudut, Clarice sedang menggambar desain gaun, sementara Cecil membaca buku. Randy, Liz, dan kini Ellie si penyihir, berkumpul mengelilingi sampel rumput kering.
"Kita harus mencari tahu pemicunya," ujar Randy serius. "Tekanan? Panas tubuh? Atau kelembapan?"
Eksperimen pertama: Tekanan. Mereka meletakkan beban berat di atas batang rumput. Cecil dan Clarice ikut membantu menyentuh sampel tersebut. "Tidak ada perubahan," lapor Cecil. "Sama, masih dingin," tambah Clarice. Kesimpulan: Gaya atau tekanan fisik bukan pemicu utama.
Eksperimen kedua: Suhu dan Kelembapan. Ellie mengambil peran. Ia menciptakan membran sihir transparan di sekitar batang rumput untuk mengisolasi udara.
"Aku akan menggetarkan energi magis untuk menciptakan gesekan panas," ujar Ellie sombong. Suhu di dalam membran meningkat hingga sehangat matahari musim panas. Randy menyentuh batang itu; awalnya sangat panas, namun saat suhu mencapai titik tertentu, reaksi panas dari batang itu justru berhenti.
"Berhenti, Ellie!" potong Randy.
Randy mengamati dengan jeli. Batang itu tidak terbakar, tapi panasnya konstan di titik tertentu. Saat ditarik keluar dari membran panas, batang itu perlahan mendingin namun tetap mempertahankan suhu hangat lebih lama daripada kayu biasa.
"Mungkinkah ini mekanisme pertahanan diri?" gumam Randy.
Jawaban dari Kamus Tua
Tiba-tiba, Alan masuk ke ruangan sambil membawa sebuah buku tebal. "Mendengar diskusi kalian tentang tanaman panas, aku teringat sesuatu. Ini kamus botani dari Kekaisaran Utara."
Alan membuka halaman yang memperlihatkan tanaman bernama Symplocarpus. "Tanaman ini mekar di salju dengan memicu metabolisme internal untuk mencairkan es di sekitarnya. Mereka hanya menghasilkan panas saat suhu lingkungan turun di bawah titik tertentu."
Mata Randy berbinar. "Itu dia! Rumput dari gua Grimbear ini memiliki sisa zat kimia yang bereaksi terhadap suhu dingin. Ia bukan hanya menyerap kelembapan untuk memicu panas (reaksi eksotermik), tapi ia punya 'termostat' alami. Ia berhenti menghasilkan panas jika sudah terlalu panas agar tidak merusak selnya sendiri."
"Pantas saja Grimbear memakainya sebagai tempat tidur," tambah Liz. "Serat ini akan tetap hangat selama suhu lingkungan dingin, dan berhenti bereaksi saat kita berada di dekat perapian."
"Luar biasa, Ayah! Itu assist terbaik!" seru Randy.
Dengan variabel yang kini jelas—suhu pemicu dan kadar kelembapan optimal—Randy, Liz, dan Ellie langsung membagi tugas. Mereka tidak hanya akan membuat pakaian dalam, mereka akan menciptakan standar baru bagi kehidupan di wilayah Victor. Monopoli bijih sihir keluarga Shadler kini berada di ambang kehancuran.
0 Comments