Bab: Hangatnya Kesetiaan dan Bayang-Bayang Masa Lalu
"Bagaimana rasanya? Terlalu panas atau sudah pas?" "Sangat pas, Tuan Muda! Ini benar-benar ajaib!"
Rita berputar dengan ceria di halaman belakang yang bermandikan cahaya matahari musim dingin. Senyumnya lebar, seolah beban berat baru saja diangkat dari bahunya. Dengan pakaian dalam termal (pakaian dalam fungsional serupa kaus) ciptaan Randy, para pelayan kini bisa bekerja dengan gesit tanpa perlu mengenakan lapisan mantel yang berat dan menyesakkan.
Hanya butuh dua hari bagi Randy untuk mengubah rumput kering dari gua Grimbear menjadi solusi massal. Melalui eksperimen larut malam bersama Liz dan Ellie—memastikan bahwa energi magis seluler tumbuhan tersebut memiliki mekanisme penghenti panas otomatis agar tidak membakar kulit—prototipe ini akhirnya didistribusikan kepada seluruh penghuni mansion sebagai uji coba lapangan.
Produksi ini dilakukan dengan prinsip "berpikir sambil berjalan". Randy dan Liz tidak membangun jalur pabrik yang rumit; mereka menggunakan keahlian sihir dan presisi manual untuk memodifikasi pakaian dalam yang sudah ada.
Pesanan pun membludak. Para pekerja wanita di bagian produksi serum kecantikan bahkan memohon agar giliran mereka dipercepat.
Dialog Hati ke Hati: Ayah dan Anak
"Aku tidak percaya kau benar-benar mewujudkannya," Alan muncul dengan senyum masam yang bangga. Ia memperhatikan para pelayan yang kini bisa mencuci pakaian dengan lebih nyaman.
"Meskipun tubuh mereka hangat, air cucian itu tetap dingin," gumam Randy sambil mencatat sesuatu. "Langkah selanjutnya, aku akan membangun ruang binatu berdinding kaca (ruang berjemur). Panas matahari akan membantu pekerjaan mereka."
Alan menatap putranya lama, lalu bergumam, "Kau selalu punya cara untuk membantu, Randy. Ayah sangat mengandalkanmu."
Randy mendengus kecil, "Jangan bicara omong kosong. Ayah sendiri yang bilang waktu itu: 'Kita ini keluarga, jangan khawatir.' Aku tidak sedang 'membantu' orang lain, aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang anak untuk rumahnya."
Alan tertegun, lalu terkekeh pelan. "Kau masih ingat kata-kata itu?"
"Mana mungkin aku lupa," jawab Randy pendek tanpa menoleh, lalu melambaikan tangan saat ia dan Liz berjalan menuju kereta kuda. "Ayo, Liz. Kita harus ke lokasi pembangunan pelabuhan. Para pekerja di sana sudah mulai membeku."
Alan menatap punggung putranya yang kian tegap. Di matanya, Randy bukan lagi bocah pembuat masalah, melainkan tiang penyangga masa depan Victor.
Rahasia di Balik "Dropkick" Sang Pewaris
Di dalam kereta yang melaju menuju desa nelayan, suasana mendadak sunyi. Randy tampak sangat serius meninjau cetak biru sistem pemanas sentral yang akan ia tunjukkan kepada para insinyur.
"Liz, kau terlihat ingin menanyakan sesuatu," ujar Randy tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya.
"Ehem... soal percakapanmu dengan Tuan Alan tadi," Liz menggaruk pipinya. "Sepertinya ada cerita besar di balik kata-kata 'Jangan khawatir' itu."
Randy menghela napas panjang, melipat cetak birunya, dan menatap keluar jendela. "Itu tentang kesalahan terbesarku. Luke mungkin menceritakannya sebagai lelucon jenaka, tapi bagiku, itu adalah noda."
Randy menceritakan kejadian tujuh tahun lalu. Di pesta ulang tahun Clarice yang kelima, Oldis Shadler—putra sulung Count Shadler—merebut dan menginjak buku catatan kesayangan Clarice sambil menghina mereka sebagai "bangsawan miskin".
Tanpa pikir panjang, Randy melayangkan Dropkick (tendangan dua kaki) ke wajah Oldis hingga pemuda itu terpental dan pingsan. Pesta berubah menjadi bencana diplomatik.
"Count Shadler mengamuk. Ayah harus membayar ganti rugi yang luar biasa besar. Untuk melunasinya, Ayah terpaksa menjual pedang pusaka keluarganya—simbol kehormatan seorang ksatria," suara Randy merendah. "Saat itu aku sadar, aku hanyalah bocah egois yang tidak bisa bertanggung jawab. Aku sok jagoan, tapi Ayah yang harus menanggung akibatnya."
"Dan Tuan Alan tidak marah?" tanya Liz lembut.
"Dia justru memelukku dan berkata, 'Kita keluarga, jangan khawatir. Jika kau tidak menendangnya, mungkin Ayah sendiri yang akan melakukannya.' Itulah pertama kalinya ia berbicara padaku sebagai sesama pria, bukan sekadar otoritas orang tua."
Randy menyeringai tipis, sebuah seringai yang tampak berbahaya. "Jadi, kali ini, aku tidak akan membiarkan Ayah berkorban lagi. Kita akan menghancurkan keluarga Shadler dengan cara yang lebih elegan daripada tendangan ke wajah."
Ambisi dan Kebutaan Sang Elang: Wilayah Shadler
Sementara itu, di wilayah tetangga yang kaya akan tambang bijih sihir, Goldis Shadler sedang murka. Ia berdiri di ruang kerjanya yang mewah, menatap pegunungan utara yang menjadi sumber kekayaannya.
"Apa yang dipikirkan si udik Victor itu? Mereka membatalkan semua pesanan bijih sihir musim dingin? Apa mereka berencana mati membeku?" Goldis mengelus kumisnya dengan gusar.
Baginya, Victor hanyalah kerikil kecil. Tujuh tahun lalu, ia merasa telah mematahkan taring keluarga itu saat berhasil merampas pedang pusaka Alan Victor sebagai ganti rugi atas insiden putranya.
Pintu terbuka, dan Oldis Shadler masuk. Ia kini seorang ksatria bertubuh besar yang mengabdi di Ordo Ksatria Kadipaten. Namun, di balik seragam gagahnya, ada rasa dendam yang belum tuntas terhadap tendangan Randy tujuh tahun lalu.
"Ayah, mungkin mereka mendapat dukungan rahasia dari Kerajaan," lapor Oldis.
"Jika benar mereka mengimpor energi dari luar tanpa izin Kadipaten, itu adalah pelanggaran berat. Kita bisa menghancurkan mereka secara legal," Goldis menyeringai licik.
Keluarga Shadler memiliki prasangka yang kuat: mereka menganggap Randy tetaplah "si bocah bodoh" yang hanya tahu kekerasan, dan Alan adalah bangsawan yang lemah.
Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa di balik tembok-tembok dingin mansion Victor, seekor binatang buas telah berevolusi menjadi "Iblis Perang" yang cerdas. Randy tidak lagi hanya mengandalkan otot; ia kini memegang kendali atas teknologi yang akan menjadikan gunung emas milik Shadler hanyalah tumpukan batu yang tak berguna.
Pertempuran dingin yang sesungguhnya baru saja dimulai.
0 Comments