Jalan-Jalan ke Kota
"Aku sudah memutuskan, aku mau pergi ke kota!"
Tepat setelah menyelesaikan sarapannya, Phil berteriak lantang di ruang kerjanya.
"Ada angin apa kau tiba-tiba bilang begitu? Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke rumah bordil." "Kita masih bisa mendiskusikan bagian itu─bagaimana kalau kita membahas soal 'keinginan untuk pergi' dengan pikiran positif?" "Kalau begitu aku akan mulai dengan menegaskan pendirianku untuk 'tidak membiarkanmu pergi'." "Baiklah, mari kita akhiri perdebatan ini di sini. Entah kenapa firasatku bilang mataku bakal sakit kalau kita teruskan. Kompromi damai adalah jalan terbaik."
Melihat tidak ada peluang untuk menang dalam perdebatan ini, Phil segera mundur teratur demi menjaga sisa umur matanya. Berkat hubungan mereka yang sudah berlangsung lama, ia telah belajar menilai waktu yang tepat untuk menyerah.
"Pergi ke kota...? Oh, saya juga, saya juga! Saya mau ikut pergi!"
Duduk di sofa sambil ngemil, Milis dengan antusias mengangkat tangannya. Sinar matahari pagi menyinari jubah emasnya, membuatnya berkilau memesona.
"Tentu saja, silakan. Lagipula, tujuan utama jalan-jalan ini memang untuk Nona Milis." "Heeeh? Benarkah?" "Iya. Sebentar lagi Anda akan menghadiri pesta ulang tahun putra mahkota, kan? Jadi aku pikir kita bisa pergi mencari gaun untuk Anda."
Meskipun statusnya sebagai Saintess (Orang Suci), etika berpakaian tetap berlaku baginya di pesta formal. Pakaian menunjukkan kedudukan dan tujuan seseorang, yang mana terkadang harus disesuaikan dengan acara. Memakai mantel kebesaran sendirian di pantai, misalnya, akan membuat seseorang terlihat mencolok sekaligus bodoh karena tak bisa membaca situasi.
Terlebih lagi, meskipun semua orang berpakaian dengan benar, satu orang yang salah kostum bisa merusak citra seluruh kelompok. Kesan semacam ini jauh lebih diperhatikan di kalangan bangsawan. Tak peduli apa gelar yang disandangnya, seorang Saintess yang hanya memakai jubah upacara di tengah pesta bisa membahayakan citra Gereja, dan bahkan citra Phil sendiri.
"Benar juga, saya tidak punya gaun... Lagipula, saya kan ke sini cuma untuk bertemu Tuan Phil." "Itulah kenapa aku menyarankannya. Aku akan menyuruh orang mengirimkan gaun pilihan kita nanti langsung ke Yang Mulia, jadi Anda tidak perlu repot bawa barang belanjaan." "Tapi itu malah akan makin merepotkan Anda! Padahal Anda sudah sangat banyak membantu saya..." "Tidak apa-apa, aku kan juga sudah berjanji."
Meskipun hasilnya jauh dari ideal, Phil memang pernah berjanji untuk "jalan-jalan bersama" sebagai tanda terima kasih atas kebohongan yang Milis lakukan untuknya beberapa waktu lalu. Mumpung ada kesempatan, sekalian saja ia menepati janjinya. Begitulah alasan rasional Phil.
Milis tampak ingin protes lebih jauh, tapi setelah berpikir sejenak, ia tersenyum cerah dan menundukkan kepalanya.
"T-Terima kasih banyak, Tuan Phil! Saya pasti akan membalas kebaikan Anda nanti!" "Tolong, biarkan saya yang traktir. Meski penampilanku begini, sebagai putra seorang Count, aku ini lumayan kaya. Karena kunjunganku ke rumah bordil sepertinya─" "??" "─hampir mustahil terjadi, aku ingin menghamburkan tabunganku dari kecil di sini mumpung bisa...! Anda pasti mengerti penderitaanku...!"
Merasakan tekanan aura membunuh dari sebelahnya, Phil secara refleks bersujud di lantai. Menggigit bibirnya seolah menahan air mata, ia benar-benar terlihat menyedihkan.
"Nona Saintess, mumpung kita sudah di sini, silakan pesan gaun yang paling mewah. Mungkin yang bertahtakan berlian agar sesuai dengan Anda?" "Apakah itu benar-benar tidak apa-apa...? Kedengarannya bakal sangat mahal." "Tidak masalah. Phil ini tetaplah anak bangsawan, jadi dia punya banyak tabungan." "E-Ehm, Nona Kahlua...? Secara teknis itu dari tabungan yang kumpulkan sen demi sen sambil ngebayangin mainan yang kumau waktu kecil... tapi kalau buat beli itu, bukankah tabunganku untuk 'Event Bebas Pilih' di rumah bordil nanti bakal ludes...?" "Akhir-akhir ini aku juga lagi pengin gaun baru. Tidak masalah, kan~?" "I-Iya, Nona... akan kuhadiahkan dengan senang hati."
Dihadapkan pada senyuman Kahlua yang memesona (sekaligus mengancam), Phil terduduk lemas di lantai. Ia bergumam soal "Hari Diskon 5x Lipat" yang akan datang sambil mendengus sedih.
(Serius deh, kenapa dia ngebet banget mau ke sana...? Apa aku ini tidak cukup baginya...?)
Kahlua merengut, tapi sayangnya gumamannya itu tidak sampai ke telinga si pemuda malang tersebut. Dasar pemuda tak tertolong.
Tidak, aku harus tegar...! Aku tidak boleh pengecut soal mendandani gadis-gadis imut cuma karena aku tidak bisa mengunjungi para kakak cantik itu...! Bertahanlah...! Bersenang-senanglah dalam memberikan hadiah layaknya adegan romantis nan jantan...! Memberikan hadiah adalah hak istimewa yang cuma bisa dinikmati pria sejati...!
Kembali menguasai diri, Phil memompa semangatnya dengan pikiran positif. Melihat hal itu, pipi Milis sedikit merona.
"S-Sangat keren... Tuan Phil." "Haaahh... separuh diriku merasa senang tapi juga serba salah. Rumit sekali." "Baiklah! Mari kita berangkat sekarang mumpung kerumunan pengunjung kebun binatang di luar sana masih sepi, ini pasti berkat Nona Privasi-chan yang melindungi kita! Mungkin dia berhasil membuka sedikit celah buat kita!"
Dan begitulah, demi menghadiahi gaun untuk kedua gadis tersebut, mengorbankan dana kunjungannya ke para kakak-kakak ufufu♡ yang berwarna-warni, Phil berangkat ke pusat kota.
P.S. Hari ini adalah hari terakhir dari "Event Bebas Pilih" di rumah bordil favorit Phil.
[Sebelah sini, Tuan Phil─!] [Kami bisa melihat wajah Anda!] [Aku mau pamer ke keluargaku kalau aku lihat Pahlawan Bayangan secara langsung!]
Klang, klang, klang, klang!
Terlanjur percaya bahwa Nona Privasi-chan telah kembali, kelompok itu naik kereta kuda dari mansion menuju kota. Turun di pintu masuk kota, mereka melanjutkan dengan berjalan kaki untuk menyusuri jalanan yang ramai.
Sebagai permukiman terbesar di seluruh wilayah Salemabart, toko-toko dan kios-kios berjejer memadati setiap sudut sejauh mata memandang. Sejalan dengan ekonominya yang pesat, obrolan riang warga bergema dari segala penjuru. Hari ini, ada lebih banyak orang dari biasanya yang memadati distrik komersial.
Dipenuhi energi dan aktivitas, sang Wakil Penguasa Wilayah, Phil, merasa cukup puas melihatnya. Itu pun, cuma pada awalnya saja─
"Urghh... ada apa dengan semua jeritan ini! Ini bukan parade kemenangan pahlawan! Hentikan sekarang jugaaaa!!!"
Phil hampir berteriak, nyaris tak bisa menahan perasaannya. Hanya dengan berjalan saja, ia sudah disambut sorakan tanpa henti, entah itu yang berwarna kuning maupun merah muda jika divisualisasikan. Persis seperti kemunculan selebriti papan atas, seluruh perhatian terpusat pada Phil dalam radius yang sangat luas.
"Wah, ternyata kau lebih populer dari Sang Saintess. Hei, bisa jalan agak jauhan sedikit? Kalau bisa sampai tidak kelihatan, supaya aku tidak ikut terseret." "Apa yang kau bicarakan, Partner? Sini, berbagilah panggung sorotan ini denganku☆" "Terima kasih, tapi aku akan pas kalau disuruh jadi pusat perhatian massa tanpa ada event khusus. Nikmati saja panggung itu sendirian." "UWAAAH banyak sekali orangnya! Seperti yang diharapkan dari Anda, Tuan Phil!" "AKU SAMA SEKALI NGGAK SENANG, TAHUUUU!!!!!"
Ke mana perginya Nona Privasi-chan? Mata-mata itu terus mengikutinya sejauh apa pun ia berjalan layaknya kelinci yang menunggu diberi makan, yang mana justru semakin menarik lebih banyak orang ke dalam keributan. Terpojok oleh para penggemar fanatiknya, Phil menangis tersedu-sedu.
Milis dan Kahlua dengan lembut mengelus kepala pemuda malang itu untuk menghiburnya. Keduanya belum pernah melihat pemandangan yang lebih menyedihkan dari ini di kedua belah pihak.
"Di bagian mana dalam hidupku aku berbuat salah...? Bagaimana caranya agar semuanya kembali seperti semula? Apa aku harus nulis surat ke dewa untuk minta bantuan? Birokrasi ilahi?" gumam Phil sambil terisak. "Mulailah dengan berhenti ke rumah bordil dan mabuk-mabukan." ujar Kahlua. "Dan lebih memanjakan Partner-mu, jadi─" "Biar kupertimbangkan setengahnya saja... maaf, alkohol dan seks itu nutrisi yang sangat penting buat kehidupan manusia." "Bodoh."
Kalau hal-hal itu benar-benar sepenting itu, umat manusia pasti sudah punah dari dulu.
"Mau bagaimana lagi... dengan mengambil tindakan ekstrem, aku akan telanjang untuk meredakan gairah mereka! Dikutuk dan dicaci maki oleh para wanita pasti akan menjauhkanku dari urusan pahlawan ini! Ganti Kelas: dari Pahlawan jadi Orang Mesum!"
Didorong oleh keputusasaan dari kerumunan yang tak ada habisnya, kata-kata gila itu meluncur dari mulut Phil. Pastinya, dengan memamerkan tubuhnya, ia akan menghancurkan citra murninya dan kembali terdegradasi menjadi [Pemuda Tak Berguna] ditambah gelar baru [Si Pamer Alat Kelamin].
Namun─
"Tuan Phil, apa itu... sutori-ppushoo (pertunjukan telanjang)?" "Ah, telanjang itu maksudnya... eeehm..." "Ya!? Apa itu!?" "............"
─Impuls berapi-apinya itu seketika padam saat dihadapkan pada sepasang mata lebar nan polos yang dipenuhi rasa penasaran yang murni.
"Sudah tenang sekarang?" "Menggunakan gadis imut sebagai senjata itu curang... tapi ya, kurasa aku sudah tenang." "Ehm, jadi apa sebenarnya sutori-ppushoo itu?"
Menyerah, Phil menjejalkan kebohongan acak pada gadis polos itu dengan mengatakan bahwa itu adalah "sebuah tarian yang indah". Dengan begitu, Sang Saintess yang suci akan tetap murni untuk satu hari yang damai lagi.
"Jadi, di mana toko gaunnya?" "Hmm? Aku punya satu rekomendasi tapi... ada tempat khusus yang ingin kalian kunjungi?" "Saya belum terlalu sering berkeliling di kota ini, jadi saya serahkan saja pada Anda, Tuan Phil!" "Dimengerti─Kahlua?" "Aku serahkan pada seleramu juga." "Iya, iya, terima kasih sudah meletakkan tekanan itu langsung di pundak pemuda sampah ini."
Phil menggerutu soal bagaimana mereka tidak seharusnya mengharapkan selera fashion dari seorang putra bangsawan yang tak berguna. Sementara itu, Kahlua sedikit menghela napas menatap punggungnya.
"Cara bicaraku tadi agak keliru..." "Hah? Apa maksud Anda?" "Aku bilang begitu karena aku ingin dia memilihkan sesuatu untukku. Aku juga tidak terlalu akrab dengan toko-toko di sini, jadi aku berharap bisa memakai sesuatu yang dia ketahui dan yang ia rekomendasikan." "Oh, begitu rupanya. Meski mungkin kata-kata Anda tadi agak salah, saya mengerti perasaan Anda! Saya juga ingin Tuan Phil yang memilihkan gaun saya!" Namun... "Sepertinya beliau malah tersinggung." "Anda benar... mungkin aku memang tidak punya pesona feminin itu."
Dengan murung, Kahlua menatap punggung Phil. Tepat saat itu, kehangatan menyelimuti tangan Kahlua.
"Anda tidak perlu khawatir, Nona Kahlua. Saya bisa merasakan pesona feminin Anda dengan sangat jelas bahkan sebagai orang luar." "Anda pikir begitu...?" "Ya. Kalau Anda memang benar-benar tidak punya sisi feminin, Tuan Phil tidak mungkin dengan penuh kasih sayang selalu menganggap Anda sebagai seorang gadis." "Kurasa tidak juga..." "Tegakkan kepala Anda, Nona Kahlua. Kalau Anda meragukan sisi kewanitaan Anda sendiri, izinkan saya untuk menopang punggung Anda. Pesona wanita bukanlah segalanya─beliau pasti sangat menghargai semua kualitas baik Anda yang lain selama kalian menghabiskan waktu bersama. Jadi tidak perlu merasa kecil hati, oke?" "...... Saya mengerti." "Kita tidak boleh berjalan sambil menundukkan kepala, atau kita akan melewatkan apa yang sedang kita cari."
Milis berbicara dengan lembut. Matanya yang teduh dipenuhi dengan kasih sayang yang tulus.
"Luar biasa... Anda benar-benar seorang Saintess." "Oh? Anda juga berpikir begitu?" "Iya─kata-kata Anda barusan terasa sangat hangat." "Saya senang bisa membantu. Menyelamatkan satu jiwa yang bermasalah saja sudah membuat saya bahagia."
Melihat Milis yang tersenyum, Kahlua membatin, "Luar biasa". Hanya dengan menerima kata-kata itu saja sudah cukup untuk mengangkat semangatnya yang sempat tenggelam. Apakah ini karena Milis adalah seorang Saintess? Ia tidak bisa tidak berpikir demikian.
"Ngomong-ngomong, Nona Kahlua." "Ya?" "Ehm... apakah benar Anda memendam perasaan pada Tuan Phil?"
Milis tersipu malu saat ia dengan ragu-ragu melontarkan pertanyaan itu. Dihadapkan pada pertanyaan itu, Kahlua yang baru saja mendapatkan semangatnya kembali, memberikan jawaban yang tegas.
"Ya, tentu saja─satu-satunya orang yang kuinginkan untuk berdiri di sampingku, sekarang dan selamanya, hanyalah Phil seorang."
Semenjak hari itu. Kahlua berjalan di belakang Phil, dengan wajah yang sama merahnya seperti Milis di sebelahnya.
///
Phil Salemabart sedang dilanda kebingungan. Seorang pemuda yang memegang prinsip (mengaku-ngaku) "pengambilan keputusan instan" dalam segala hal, kini mengeluarkan erangan kecil yang langka.
"Hmmm... apa aku harus main aman dengan warna putih, atau berani beda dengan warna hitam?"
Kelompok itu telah tiba di toko penjahit langganan keluarga Count, dengan masih diikuti oleh para Gallery (Penonton). Mungkin karena tidak ingin mengganggu bisnis orang, para penonton itu menahan teriakan histeris mereka dan hanya menonton dari luar jendela.
Mengesampingkan sedikit rasa tidak nyaman akibat tatapan tajam itu, Phil memeriksa gulungan kain demi kain tanpa terganggu untuk memilih gaun.
"Kau serius sekali rupanya." "Ya iyalah, akal sehat bilang kalau cewek itu paling bersinar kalau didandani habis-habisan. Aku tidak boleh membiarkan pilihan yang asal-asalan merusak material yang sudah imut ini... aku harus totalitas di sini." "B-Begitu ya..."
Kahlua sedikit tersipu mendengar pendapat Phil yang sangat serius yang melibatkan frasa [Material yang Imut]. Kata kunci dari formula [Serius + Material Imut] itu cukup untuk membuat hati gadisnya bergejolak dan menampilkan rona merah di wajahnya.
"Waaaah... banyak sekali kain yang cantik!"
Dengan mata berbinar melihat kain-kain asing tersebut, Milis ikut mengaguminya di samping Phil. Toko ini hanya fokus pada pembuatan gaun. Pada dasarnya, semua gaun dibuat berdasarkan pesanan. Pelanggan memilih kain dan menyampaikan harapan desain mereka kepada pengrajin, yang kemudian akan mewujudkannya dengan keahlian mereka. Konon kabarnya toko ini sering dikunjungi oleh ibu Phil, sehingga ia memilih tempat ini karena memercayai kemampuan mereka.
"Tapi kemungkinan yang ini juga kelihatan menarik... Aarrghh, andai saja aku punya selera estetika fashion! Beginilah penderitaan orang biasa, ya! Sekarang aku paham perasaan para seniman!!" "Kau kan tidak butuh jiwa seni, Phil? Selama kau memilih sesuatu yang membuatku sena─" "Hei hei, seperti yang kubilang, aku ingin memilih sesuatu yang membuat kalian bersinar paling terang! Kalian yang menyerahkannya padaku, kan─jadi sebagai pria, aku harus membuktikannya! Meskipun kalian sudah imut dari sananya, kalau disandingkan dengan yang lain, kalian ini ibarat angsa hitam di antara anak ayam! Jadi di sini aku harus─" "Tolong, jangan bicara lagi...!"
Panik, Kahlua buru-buru membekap mulut Phil. Dengan wajah merah padam, ia terus menundukkan pandangannya untuk menyembunyikan ekspresinya.
"Yah, kalau kau yang menyuruh, aku akan diam. Hei, Nona Milis!" "Ya, ada apa?" "Berdiri di situ sebentar!" "Dimengerti!"
Milis, yang entah bagaimana sempat menjaga jarak, kembali seperti anak anjing yang patuh, berdiri tepat di depan Phil. Phil kemudian menempelkan beberapa potongan kain ke tubuh Milis untuk membandingkannya.
"Memang benar, kalau kita pakai pendekatan klasik, putih adalah pilihan terbaik. Nona Milis ini murni dan baik hati... untuk menegaskan hal itu, putih murni nan polos adalah yang terbaik. Kalau kita merancang gaun panjang untuk tubuh mungilnya, itu akan semakin menonjolkan keimutannya layaknya hewan kecil. Kalau sampai ada malaikat yang tiba-tiba turun di pesta itu, atau ada orang tua yang saking terpesonanya sampai merasa dipanggil ke surga, itu tidak akan mengejutkan." "Ehm, Tuan Phil?" "Sebaliknya, bagaimana dengan hitam pekat ini sebagai kontras? Dengan sedikit dekorasi, hitam ini bisa berkilau seperti langit malam. Memanfaatkan perbedaan antara wajahnya yang polos dan kesan yang agak jahil, kita bisa memunculkan transisi dari kepolosan anak-anak ke atmosfer yang lebih dewasa. Secara image, mungkin akan mirip seperti Little Devil (Iblis Kecil)? Tapi aku khawatir ini juga bakal bikin orang tua kena serangan jantung." "Ahhh...!"
Bergumam sambil membayangkan pemandangan saat ia menempelkan kain-kain itu, Phil tanpa sadar menyuarakan isi kepalanya. Di sisi lain, Milis, yang tanpa sengaja mendengar gumaman itu dari jarak dekat, tersipu malu sampai ke tingkat yang ekstrem.
"Baiklah, selanjutnya Kahlua───Sini, C'mon, Kahlua!" "Rasanya serba salah kalau disuruh begitu... haaah, kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang aneh seperti dia, ya?"
Merasakan antisipasi sekaligus kegugupan akibat ulah Phil yang tidak sadar diri itu, Kahlua menghela napas dan berdiri di sampingnya.
Dan───
"Kalau Kahlua memilih gaya konvensional, mungkin warnanya merah. Rambut merah indahnya yang memikat mata itu akan sangat serasi. Terlebih lagi, Kahlua masih mempertahankan sisi polosnya tapi ia adalah tipe gadis cantik dengan aura dewasa. Dengan gaun merah, kita bisa sepenuhnya memunculkan sisi dewasanya yang alami. Kalau mempertimbangkan kualitas bahannya, tidak ada warna lain selain ini. Aku yakin, pria mana pun seumuranku pasti akan langsung jatuh hati." "............!" "Di sisi lain, warna putih yang kita coba pada Nona Milis tadi juga cukup menggoda. Dengan membuat gaunnya terlihat cerah, itu pasti akan berkilau seirama dengan chandelier (lampu gantung kristal) di tempat acara. Kalau begitu, kita bisa mengubah Kahlua yang cantik menjadi bintang utama di pesta itu. Sekilas mungkin terlihat kurang cocok dengan rambut merahnya, tapi Kahlua punya kemampuan dan penampilan yang bisa menaklukkan pakaian apa pun... jadi, kalau begitu, memprioritaskan agar dia tampil menonjol dan memamerkan kecantikannya ke semua orang mungkin ide yang bagus." "Ugh!"
Sekali lagi, serangan telak menghantam jantung gadis Kahlua. Warna kulit di bawah lehernya dan wajah di atas lehernya kini jelas-jelas menciptakan kontras warna antara merah cerah dan oranye pucat.
"Baiklah sudah kuputuskan! Nona Milis pakai hitam, Kahlua pakai putih! Apa kalian berdua tidak keberatan!?" "I-Iya, lakukan sesuka Anda!" "A-Aku juga tidak masalah dengan itu...!" "Hmm? Apa kalian berdua agak demam?" "Kami sama sekali tidak sedang masuk angin! Kau saja yang terlalu tidak peka dalam hal ini! Kau mungkin tidak akan sadar kalau suatu hari nanti ada yang menusukmu dari belakang!" "Yah... kalaupun ada yang mau menusukku, itu pasti kau, kan Kahlua? Soalnya mataku ini sudah sering kau tusuk." "Sana cepat bayar gaunnya!!!" "Siap laksanakan, Nyonya!"
Di bawah tekanan aura membunuh yang luar biasa, Phil secara refleks memberi hormat. Dan segera setelahnya, ia berjalan menuju bagian kasir untuk melunasi tagihan dan mengurus hal-hal lainnya.
Menatap punggungnya yang menjauh, Kahlua bergumam───
"Serius deh, dia benar-benar cowok yang bodoh..."
Sambil memegangi pipinya yang masih memerah, Kahlua mengerucutkan bibirnya seolah sedang merajuk.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments