BAB 1 PELAYAN PRIBADI
(Tidak tidak tidak tidak, perbuatan gila macam apa yang sudah dilakukan oleh Byleth ini!?)
Aku terperanjat hebat saat menyadari bagaimana caraku—atau lebih tepatnya, Byleth di masa lalu—memperlakukan Sia, pelayan pribadiku sendiri. Sejujurnya, aku sampai kehabisan kata-kata.
"Um... By-Byleth-sama...?"
"Ah! Ya, aku sudah bangun."
Suara Sia dari balik pintu, yang mencoba memastikan apakah aku sudah terjaga, berhasil menarik kesadaranku kembali ke realita. Andai saja ini hanya perasaanku semata... tapi kegugupan jelas-jelas terdengar meresapi setiap getar suaranya.
Hal terbaik yang bisa kulakukan saat ini adalah memastikan aku tidak membuatnya semakin ketakutan... Aku sengaja menggunakan nada suara selembut mungkin saat membalas panggilannya.
"Sia, masuklah."
"Y-ya, permisi..."
Begitu mendengar balasanku, ia melangkah masuk ke dalam kamar tidur dengan tubuh yang sedikit gemetar.
Ia mengenakan seragam pelayan. Rambut pirang keputihannya yang selembut sutra diikat dengan pita merah muda menjadi gaya twintail. Matanya yang besar berwarna biru tampak berputar kebingungan. Tubuhnya mungil, dengan wajah yang masih memancarkan aura kekanak-kanakan.
───Persis seperti yang terekam dalam ingatanku, ia datang membawa nampan berisi teh.
Anehnya, meskipun ini adalah pertemuan pertama kami secara langsung sejak aku bereinkarnasi, aku sama sekali tidak merasa canggung ataupun tidak nyaman saat berhadapan dengannya.
"Byleth-sama, se-selamat pagi...!"
"Ya, selamat pagi juga, Sia."
"Eek! U-um, selamat pagi!"
"Uh, ya, selamat pagi."
Sama sekali tidak menyangka akan mendapat balasan sapaan, gadis itu menatap ke sekeliling ruangan dengan raut wajah kebingungan, sebelum akhirnya kembali menundukkan kepala di hadapanku.
"Um... Saya membawakan teh untuk Anda, tapi... apakah Anda berkenan meminumnya...?"
"Ya. Karena kau sudah repot-repot menyiapkannya, tentu saja aku akan meminumnya."
"Oh, terima kasih banyak!"
"Hah? Um, ya... sama-sama."
Aku bisa mengerti kalau ia merespons dengan kata 'Dimengerti' selayaknya sedang menerima perintah. Namun, ucapan terima kasih yang barusan benar-benar terasa ganjil.
Tidak, alasan di balik respons ganjil itu sebenarnya sudah sangat jelas.
(Haaah... Aku sudah mengintimidasi seorang gadis yang telah bekerja keras sejak pagi buta. Aku memang yang terburuk...)
Meskipun jauh di lubuk hatiku aku benar-benar merasa demikian, Byleth saat ini adalah diriku. Perasaan yang begitu kompleks dan sulit untuk digambarkan mulai berkecamuk di dalam dadaku. Demi mengusir rasa gelisah itu, aku memaksakan sebuah senyuman dan menundukkan kepalaku dengan canggung.
"Bagaimanapun juga, terima kasih seperti biasanya, Sia. Kau sangat membantu."
"Eh!?"
Demi memastikan ketulusanku tersampaikan, aku sengaja sedikit menaikkan nada suaraku. Namun, keputusan ini ternyata adalah sebuah kesalahan besar. Aku baru menyadarinya begitu aku kembali mengangkat kepalaku.
"Eh───"
Yang tertangkap oleh pandanganku adalah sosok Sia yang mematung tertegun. Genggamannya melemah, hingga nampan yang dibawanya terlepas dan jatuh.
Seorang pria yang selalu bersikap kasar, arogan, yang sama sekali tak pernah diharapkan akan mengucapkan terima kasih, pria yang tak pernah sekali pun menghargai usahanya, tiba-tiba saja menundukkan kepala padanya hari ini.
Wajar saja ia terkejut setengah mati, seolah-olah dunia baru saja terbalik───
Prang!!
Suara cangkir teh yang pecah berkeping-keping bergema nyaring di seluruh penjuru ruangan. Pecahan keramik berserakan. Teh yang masih mengepulkan asap panas menggenangi lantai.
"..."
"..."
Keheningan seketika menyelimuti kamar tidur tersebut.
Berbeda denganku yang masih terpaku akibat keterkejutan, Sia dengan cepat mendapatkan kesadarannya kembali.
"Oh—oh t-tidak, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya! Saya akan segera membersihkannya!!"
"Woah, woah, berhenti! Itu perintah!"
"Y-ya, Byleth-sama!"
Dengan wajah pucat pasi, gadis itu buru-buru berjongkok untuk memunguti pecahan keramik. Gerakannya begitu panik dan tergesa-gesa. Aku segera menghentikannya.
(Kalau aku membiarkannya memunguti pecahan tajam itu dengan tangan gemetar dan panik seperti itu, jari-jarinya pasti akan berlumuran darah... Sudah pasti.)
Membayangkannya saja sudah cukup membuat bulu kudukku merinding.
(Meskipun aku tadi menggunakan embel-embel 'perintah', seharusnya itu tidak sampai membuatnya gemetar ketakutan seperti itu...)
Caranya merespons bagai menggigit lidah sendiri menjadi bukti nyata betapa takutnya ia padaku. Itu adalah bukti tak terbantahkan dari teror yang selalu ia rasakan.
"Um, itu berbahaya, jadi biarkan aku saja yang membersihkannya."
"Ah..."
Mungkin ia akan baik-baik saja kalau melakukannya dengan tenang, namun aku tak tega membiarkannya membersihkan kekacauan ini dalam kondisinya yang sekarang. Apalagi, akar dari kepanikannya saat ini tak lain adalah akibat dari tindakan-tindakan kejam Byleth di masa lalu.
Dengan mengucapkan terima kasih, akulah yang memancing terjadinya kesalahan ini. Jadi, kesalahan ini sama sekali bukan sepenuhnya milik Sia.
Dengan inisiatif sendiri, aku mengumpulkan pecahan-pecahan cangkir ke atas nampan, lalu mengambil beberapa lembar kertas dari meja samping untuk menyeka genangan teh. Ketika aku melirik Sia di sela-sela kegiatanku, ia tengah berdiri dengan mata berkaca-kaca menahan tangis, sementara seluruh tubuhnya tak berhenti bergetar.
(Benar-benar lingkungan kerja yang beracun... ya.)
Menyedihkannya, ini adalah buah dari perlakuan buruk yang selalu kutimpakan padanya selama ini.
Untuk menghindari kecurigaan bahwa aku telah bereinkarnasi, mempertahankan sikap dan tabiat Byleth yang lama mungkin adalah pilihan paling logis. Namun, tak mungkin aku sanggup terus memperlakukannya dengan sekejam itu.
Sambil mengumpulkan sisa pecahan, rasa kasihan membuncah di dadaku melihatnya begitu terguncang hanya karena sepatah ucapan terima kasih dariku. Aku pun memanggilnya lagi.
"Sia, kau tidak terluka, kan? Tidak ada luka bakar?"
"T-tidak, saya tidak terluka ataupun terkena luka bakar... Saya sungguh mohon maaf..."
"Hah?"
Permintaan maafnya barusan seolah menyiratkan, 'Akan jauh lebih baik bagi saya kalau saya terluka atau terkena luka bakar'.
Hanya imajinasiku saja, kan?
Aku berpikir sejenak, namun mengingat bagaimana perlakuan yang selalu ia terima selama ini, sepertinya ia memang menyiratkan hal tersebut.
"Bagaimanapun juga, aku bersyukur kau tidak terluka atau kenapa-kenapa."
"......"
Kata-kataku sepertinya tidak benar-benar meresap ke dalam benaknya, karena ia tetap saja menunduk kaku.
(Oh... dari sudut pandang Sia, ia pasti merasa sangat bersalah karena telah membuat majikannya sendiri turun tangan membersihkan kekacauan...)
Karena aku telah memerintahkannya untuk berhenti, seharusnya ia tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Namun, mengingat perbedaan status di antara kami, wajar saja jika ia merasa tak enak hati.
"Hei, Sia?"
"Eep!"
"Yah, um... bagaimana mengatakannya, ya... jangan terlalu dipikirkan, oke? Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan. Jadi, lain kali berhati-hatilah. Kalau kau tak sengaja menjatuhkan sesuatu lagi, cukup pungut dengan tenang dan hati-hati, ya?"
"............"
Gadis itu menatapku dengan sorot mata kebingungan yang teramat sangat, seolah-olah otaknya menolak untuk memproses apa yang baru saja ia dengar.
"Um, pokoknya, mulai sekarang berhati-hatilah, oke?"
"Y-ya... saya mengerti..."
Ia tampak bingung setengah mati karena aku tidak memarahinya seperti yang biasa kulakukan. Meskipun menyedihkan melihatnya seperti ini, setidaknya aku lega bisa melihat ekspresi lain selain raut ketakutan di wajahnya.
"Benar. Oh, soal cangkir ini, ayo kita sepakati saja kalau aku yang memecahkannya jika nanti ada yang bertanya. Aku akan menyesuaikan ceritanya, jadi kau tinggal mengiyakan saja."
"Eh, t-tunggu, Anda tidak perlu sampai melakukan hal sejauh itu...!"
"Tidak apa-apa, sungguh, tidak apa-apa."
Baik Sia yang memecahkannya ataupun Byleth yang memecahkannya, hasil akhirnya tetap sama—cangkir itu sudah hancur. Namun, dengan mengklaim bahwa akulah pelakunya, Sia akan terbebas dari amukan maupun hukuman dari pihak lain.
Dalam situasi seperti ini, menggunakan otoritas posisiku rasanya bukanlah hal yang buruk.
"Oh, mengenai hukuman... cangkir itu adalah barang berharga kesayangan Anda, jadi..."
Sepertinya ia ingin berkata, 'Byleth-sama yang biasanya pasti akan...' namun ketakutan mencekik tenggorokannya, mencegahnya untuk melanjutkan kalimat.
Aku harus segera meredakan ketegangannya.
"Memang benar aku sangat menyukai cangkir ini. Tapi yang namanya barang pecah belah, pada akhirnya pasti akan pecah juga, itu sudah takdirnya."
"......"
(Tepat sekali. Pasti terdengar sangat aneh, kan? Bahwa Byleth yang dulu selalu menyiksamu kini bisa mengucapkan hal sebijak ini. Setidaknya dari ekspresimu, kau terlihat sangat syok.)
Itulah alasan mengapa aku harus menyampaikan satu hal ini padanya, agar ia bisa segera terbiasa dengan kepribadian Byleth yang sekarang.
"Bagaimanapun juga, yang terpenting adalah kau tidak terluka, Sia. Aku bisa membeli cangkir yang baru kapan saja dengan mudah, tapi tidak akan ada yang bisa menggantikan sosokmu."
"............"
(Tepat sekali. Semuanya pasti terasa janggal, kan? Byleth yang selama ini selalu menindasmu, tiba-tiba melontarkan kata-kata manis. Kau pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya yang sedang berbicara padamu ini.)
Gadis itu tidak membalas sepatah kata pun. Ia hanya mematung di tempatnya sejak tadi.
Di tengah keheningan itu, aku berusaha memutar otak dengan hati-hati, mencari rangkaian kata yang tepat untuk menyesuaikan diri dengan situasi di masa lalu agar reinkarnasiku tidak terbongkar.
"Lagipula, dari awal bukankah ini salahku karena membuat cangkir itu terjatuh? Itu terjadi karena aku mendadak bertingkah tidak seperti biasanya."
"T-tidak, ini sepenuhnya adalah kelalaian saya!!"
"Sejujurnya, tak masalah. Setidaknya, bagiku ini bukan salahmu."
Glek. Ia pasti menangkap nuansa 'perintah' dalam nada suaraku yang tegas. Suara tegukan ludahnya terdengar sangat jelas di telingaku.
(Astaga, dia tidak perlu sampai gemetar ketakutan seperti itu... Rasanya seperti ada gempa bumi berskala kecil yang hanya berpusat pada dirinya saja...)
Aku tak kuasa menahan rasa iba melihatnya dalam situasi yang menyiksa ini.
"Um, sejujurnya... aku sendiri juga merasa terkejut."
"Apakah karena aku berterima kasih padamu?"
...Ia mengangguk.
Sebuah anggukan yang sangat kecil dan ragu-ragu setelah jeda keheningan yang cukup panjang. Matanya memancarkan campuran antisipasi dan ketakutan, menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ini adalah momen penentuan bagiku. Di sinilah aku harus memastikan agar tidak ada satu pun yang menaruh curiga bahwa jiwaku telah digantikan oleh orang lain melalui reinkarnasi.
Tentu saja aku tidak bisa dengan santainya mengatakan, 'Oh, sebenarnya jiwa di dalam tubuh ini sudah berganti', karena itu terdengar sangat tidak masuk akal. Sudah pasti aku akan dianggap 'gila' atau 'hilang ingatan'. Meskipun terdengar berlebihan, tapi rumor semacam itu bisa berakibat pada hilangnya hak-hakku sebagai manusia. Aku bahkan bisa saja menjadi target persekusi.
"Yah, maksudku, tidakkah kau berpikir kalau aku ini sudah sedikit berubah?"
"..."
Diam berarti setuju. Tak mungkin ia bisa menyangkal fakta bahwa aku telah banyak berubah.
(Sial, aku harus mencari penjelasan untuk semua penindasan dan perlakuan kasar yang telah kulakukan pada Sia selama ini... Kenapa...)
Jujur saja, aku benar-benar kehabisan kata-kata. Aku telah melakukan perbuatan-perbuatan keji yang tak termaafkan, bahkan jika aku memohon ampun hingga sujud berdarah sekalipun.
Meskipun begitu, aku tetap harus memberikan penjelasan. Aku harus berterus terang, meskipun aku tahu sepenuhnya bahwa aku sedang mengeksploitasi kepolosan karakter Sia.
"Um... aku tahu tak ada satu pun hal yang bisa menebus dosa-dosaku di masa lalu, tapi aku ingin meminta maaf darimu, Sia. Atas semua yang telah kulakukan selama ini."
Glek.
Di dunia ini, sebuah pemandangan yang sangat mustahil dan tak terpikirkan bagi seorang pewaris tunggal keluarga bangsawan untuk menundukkan kepala dan meminta maaf kepada seorang pelayan.
Apa yang sebenarnya terjadi!? Pasti itu yang sedang ditanyakan oleh sorot matanya yang kebingungan. Namun, tak mungkin aku meresponsnya dengan candaan ringan seperti, 'Oh, tenang saja, kepribadianku baru saja kerasukan roh baik! Hahaha'.
"Bagaimana aku harus mengatakannya... um, yah..."
"Ya?"
"Ini mungkin terdengar sangat sulit untuk dipercaya, tapi... um, kau tahu?"
Sambil mengulur-ulur waktu, aku mati-matian memeras otak mencari penjelasan yang logis.
"Yah, alasan mengapa aku selalu bersikap sangat keras padamu selama ini adalah karena... aku ingin memastikan bahwa ketika saatnya tiba bagimu untuk meninggalkan kediaman ini dan bekerja untuk keluarga bangsawan lain, kau tidak akan mengalami kesulitan sedikit pun. Tergantung pada tabiat bangsawan yang kau layani kelak, kau bisa saja menghadapi perlakuan yang jauh lebih buruk."
"..."
"Secara teori, kau memang dijadwalkan untuk melayani di sini sampai kau lulus dari akademi. Namun, selalu ada kemungkinan bahwa kekuasaan keluarga Viscount akan merosot, dan pada akhirnya aku harus melepaskanmu. Jadi... aku ingin membentukmu agar kau memiliki mental sekeras baja yang bisa bertahan dalam kondisi apa pun, tak peduli betapa buruknya situasi yang menghadangmu."
Aku sadar betul bahwa aku sedang mengarang pembelaan kosong, namun saat ini, aku harus bertahan hidup sebagai Byleth. Tak mungkin aku mengungkapkan fakta menjijikkan bahwa alasan sebenarnya Byleth menindas Sia adalah: 'Aku tidak tahan melihat betapa sempurnanya dirimu'.
Oleh karena itu, aku harus bertahan dengan kebohongan yang baru saja kurangkai ini.
"Yah, maksudku, reputasi kerja Sia sendiri sudah sangat gemilang, bahkan sampai terdengar di berbagai pertemuan malam para bangsawan. Aku hanya ingin memastikan kau tidak akan tersandung masalah yang tidak perlu. Tapi jika pada akhirnya aku tetap memintamu untuk menjadi pelayan pribadiku, maka aku harus siap menanggung segala risikonya."
Dalam konteks ini, jauh lebih bijaksana untuk menyampaikan alasan-alasan palsu yang telah kurangkai sendiri.
"..."
"Ja-jadi, kau tahu? Aku sempat berbincang dengan beberapa kenalan mengenai situasiku. Mereka memberiku berbagai macam saran. Ada yang bilang, 'Kau terlalu berlebihan padanya' atau 'Kau seharusnya berbicara empat mata dengannya'. Dan begitulah, saran mereka membawaku sampai ke titik ini."
"..."
(Ugh, ini sungguh sulit. Mencoba membela diri dengan kebohongan itu sangat menguras tenaga. Jujur saja, seluruh situasi ini terasa begitu mustahil... Apalagi Sia masih saja membisu...)
Saat kami duduk saling berhadapan dalam kecanggungan yang mencekam, pemikiran itu terus menghantuiku.
"Byleth-sama..."
"Ya?"
Akhirnya gadis itu buka suara, dan matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata.
"Ja-jadi, pada intinya... semua perlakuan keras Byleth-sama selama ini... adalah karena Anda mengkhawatirkan masa depan saya? Bukan karena kinerja saya yang buruk atau semacamnya, kan?"
"Tentu saja bukan!"
(Tunggu, apa dia baru saja menelan mentah-mentah kebohonganku barusan!?)
Hampir saja kalimat yang tersimpan dalam batinku meluncur keluar.
"...Aku telah mengamati dedikasimu selama ini, Sia, dan aku yakin sepenuhnya bahwa kau akan mampu bersinar di lingkungan mana pun. Jadi, aku berjanji tidak akan lagi melontarkan tuntutan yang tidak masuk akal. Bagiku, Sia adalah pelayan pribadiku yang paling berharga, dan aku sangat bangga memilikimu."
"Ugh... Te-terima kasih..."
"Wah!?"
Tak mampu lagi membendung luapan emosinya, gadis itu mulai terisak pelan.
Bagi Sia yang tak pernah sekalipun menerima pujian, mendengar kalimat apresiasi yang membenarkan bahwa segala jerih payahnya selama ini tidaklah sia-sia... pastilah terasa seperti tetesan air sejuk di padang gersang.
Ia menarik rambut pirang keputihannya yang lembut untuk menutupi sebagian wajahnya, berusaha sekuat tenaga menelan isak tangisnya agar tak terlihat menyedihkan dengan wajah yang bersimbah air mata. Ia tak ingin menampilkan sosok yang rapuh di hadapan majikannya.
Keinginannya yang kuat itu tersampaikan padaku.
"Ah, astaga, tidak... Aku benar-benar telah membuatmu melewati masa-masa yang menyiksa. Aku sungguh, sangat menyesal. Sungguh. Mulai dari sekarang, semuanya akan menjadi lebih baik, oke? Jadi, tolong tetaplah mengandalkanku...?"
Selama ini, yang kulakukan hanyalah memperlakukannya layaknya binatang. Aku tidak memiliki hak sedikit pun untuk mengucapkan kalimat manis seperti itu. Ia punya seribu satu alasan untuk menolak niat baikku mentah-mentah.
Kata-kataku ini mungkin tak memiliki arti apa-apa baginya.
Namun, jauh di lubuk hatiku, aku benar-benar ingin memperbaiki hubungan dengan Sia. Aku ingin melihatnya menjalani hidup yang bahagia. Aku ingin kami membangun ikatan yang harmonis.
Mungkin ini terdengar sangat egois, tapi inilah perasaanku yang sejujurnya.
"Sia...?"
Ketika aku memanggil namanya dengan lembut, ia masih menyembunyikan wajah mungilnya di balik rambut. Namun, ia merespons ketulusanku dengan sebuah anggukan mantap.
"Terima kasih, Sia. Aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi majikan yang bisa kau banggakan juga."
"Sa-saya juga berjanji akan mengerahkan kemampuan terbaik saya dalam menjalankan tugas-tugas saya mulai dari sekarang..."
"Kau tidak perlu memaksakan dirimu sampai kelelahan, mengerti, Sia?"
(Kalau aku sampai membuat Sia bekerja lebih keras dari yang sudah dilakukannya selama ini, itu sama saja dengan menyiksanya.)
Aku sama sekali tidak pernah menyangka bahwa percakapan kami akan berkembang ke arah yang sehangat ini hanya dalam waktu beberapa puluh menit sejak aku mengambil alih tubuh ini. Aku juga tidak pernah membayangkan akan membuat seorang gadis menangis haru.
Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar bagiku untuk mencerna seluruh situasi ganjil ini. Namun, aku benar-benar bersyukur dari lubuk hatiku yang terdalam karena jurang pemisah di antara kami telah menyempit jika dibandingkan dengan hubungan kami di masa lalu.
Setelah itu, tepat setelah aku selesai menyantap sarapan...
(Whoooa... Tidak, seriusan deh. Pemandangan kota ini benar-benar gila...)
Jalanan yang tersusun rapi dari bebatuan, kanal air jernih yang membelah kota. Deretan rumah penduduk yang dibangun kokoh dari perpaduan batu bata dan batu alam. Atap-atap rumah yang seragam berwarna oranye cerah, memberikan ilusi seolah-olah aku sedang berada di sebuah dunia dongeng yang dikelilingi oleh tembok kastil pelindung.
(Tadinya aku berniat untuk naik kereta kuda di separuh perjalanan, tapi ternyata berjalan kaki adalah pilihan yang sangat tepat... Meskipun tindakanku ini sangat bertolak belakang dengan Byleth yang asli, tapi aku sudah menyiapkan dalih yang tepat, jadi seharusnya tidak masalah.)
Dalih itu tak lain adalah: 'Aku hanya ingin menikmati perjalanan sembari mengobrol santai dengan Sia'.
Namun, berkat kepercayaannya yang begitu murni padaku, aku bisa sedikit bersantai dan menikmati nuansa kota ini.
Andai saja aku tidak mewarisi ingatan dari Byleth, aku mungkin akan jauh lebih terpukau dengan keindahan arsitektur kota ini. Namun tetap saja, pengalaman ini sudah cukup memberiku sensasi 'berwisata' yang menyenangkan.
Sembari asyik menikmati pemandangan... aku menyadari sesekali Sia mencuri pandang ke arahku dengan ragu-ragu.
"Hm? Ada apa, Sia?"
"Oh, m-maafkan kelancangan saya!"
Mengira bahwa tingkahnya telah menggangguku, ia dengan cepat meminta maaf dan menundukkan pandangannya. Namun tak lama berselang, ia kembali mencuri pandang ke arahku, sambil terus meremas ujung jari-jarinya dengan gelisah. Karena kami berjalan bersisian, sangat mudah bagiku untuk menyadari kegelisahannya.
"Nah, kau melakukannya lagi."
"Ah, yah, um, ini, anu..."
"Ahaha, santai saja, kau tidak perlu panik begitu. Aku tidak akan memarahimu atau semacamnya, kok."
Mungkin ia merasa canggung karena sikapku hari ini sangat bertolak belakang dengan Byleth yang biasanya. Wajar saja jika ia masih merasa linglung sampai ia benar-benar bisa beradaptasi.
"Bagaimanapun juga, maafkan aku soal yang tadi, ya. Aku selalu saja refleks berjalan di depan sendirian."
"T-tidak, sama sekali tidak masalah!"
Byleth yang biasanya pasti akan terus berjalan di depan tanpa memedulikan Sia sedikit pun, seolah-olah gadis itu tak eksis, dan meninggalkannya begitu saja di belakang. Bagi Sia, tertinggal jauh di belakang dan harus 'berlari tergopoh-gopoh untuk menyusul' sudah menjadi makanan sehari-hari.
Namun, mulai hari ini dan seterusnya, semuanya akan berbeda. Aku akan terus berjalan di sisinya, menyelaraskan langkah kakiku dengan langkah kecilnya.
"Um, Byleth-sama."
"Ya?"
"Oh, mohon jangan terlalu mengkhawatirkan saya. Sebagai pelayan yang bertugas mendampingi Anda, membuat majikan saya merasa cemas adalah sebuah kegagalan... Dan lagi pula, pagi ini saya juga sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal..."
"Bukan berarti aku benar-benar cemas, kok. Aku hanya merasa sisi ini terasa jauh lebih nyaman bagiku."
Aku baru menyadari satu hal yang menarik. Pada dasarnya, Sia tidak memiliki prasangka buruk. Ia adalah tipe orang yang mudah memberikan kepercayaan. Sifat ini sangat erat kaitannya dengan kepribadiannya yang teramat polos. Kejernihan di balik sepasang matanya adalah bukti yang tak terbantahkan.
(Andai saja orang dengan kepribadian selembut Sia bukanlah pelayan pribadiku, sudah pasti reaksiku akan sangat berbeda...)
Separuh dari diriku pasti akan menatapnya dengan penuh keraguan. Dan separuhnya lagi mungkin akan memandangnya rendah. Memikirkannya saja sudah cukup membuatku bergidik ngeri.
"Soal kau yang menjatuhkan cangkir tadi───bukankah kita sudah sepakat bahwa itu sepenuhnya salahku karena mendadak mengucapkan terima kasih tanpa ada angin atau hujan? Jadi tolong, jangan dipikirkan lagi."
Mengingat betapa terkejutnya ia hanya karena sebuah ucapan terima kasih kembali menorehkan rasa ngilu di dadaku. Namun, aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosi tersebut.
"Dan untuk teh buatanmu, Sia... tak peduli jenis cangkir apa yang digunakan untuk menghidangkannya, teh buatanmu akan selalu terasa nikmat."
"Oh, terima kasih banyak..."
"Ah, haha..."
Apakah kalimatku barusan terdengar terlalu cheesy?
Tiba-tiba saja rasa malu menyerangku. Saat aku menggaruk pipiku yang terasa memanas dan memalingkan pandangan ke depan, sayup-sayup aku mendengar suara dari arah sampingku.
"Aku harus membiasakan diri dengan cepat..."
Gumamannya teramat sangat pelan. Sia pasti mengira aku tidak akan bisa mendengarnya.
Meliriknya dari sudut mataku, kulihat ia tersenyum simpul dengan raut bahagia, senyum tulus yang membuat bibirnya sedikit melengkung. Aku sempat ragu, apakah sebaiknya aku pura-pura tidak dengar saja? Namun, momen langka saat kami hanya berdua ini adalah kesempatan emas bagi kami untuk semakin mempererat hubungan.
"───Ya. Tolong biasakan dirimu secepatnya, ya."
"Eek! S-saya mohon maaf yang sebesar-besarnya!!"
Andai saja aku meresponsnya dengan nada bercanda, ia pasti akan langsung memasang ekspresi panik yang bisa ditebak seperti, 'Apakah Anda baru saja mendengar ucapanku!?'
Kalau saja hubungan kami benar-benar baik, ia tidak akan terburu-buru meminta maaf seperti tadi. Ia pasti akan merajuk manja dan memprotes, 'Apakah Anda baru saja menguping!?', dan obrolan kami akan terus berlanjut secara natural.
(Ya ampun, iblis macam apa yang tega menyiksa gadis semanis ini... Kalau hanya karena ketidaksukaan semata, tindakan itu benar-benar tidak masuk akal.)
Meski secara fisik bukan diriku yang melakukan semua itu, memikirkan kenyataan kelam ini membuat dadaku sesak.
"...Hei, Sia. Omong-omong, bolehkah aku menanyakan satu hal padamu?"
"Y-ya, tentu saja. Ada apa?"
"Menurutmu, antara diriku yang dulu dan diriku yang sekarang, manakah yang lebih kau sukai?"
"Eh..."
Tentu saja jawabannya adalah yang kedua. Seharusnya sudah pasti yang kedua. Namun aku hanya butuh konfirmasi darinya untuk meyakinkan diriku sendiri.
"Apakah pertanyaan itu terlalu sulit untuk dijawab?"
"............"
Waktu berlalu dalam keheningan. Sepertinya ia berusaha menghindari menjawab, namun di saat yang sama ia juga menganggap pertanyaanku sebagai sebuah titah yang tak boleh dibantah.
Sambil terus berkomat-kamit tak jelas dengan mulut mungilnya, ia tampak salah tingkah sebelum akhirnya menjawab.
"I-itu... um, saya jauh lebih mengagumi sosok Byleth-sama yang baik hati seperti ini..."
"Terima kasih. Mendengarnya saja sudah cukup membuatku lega."
Kalau saja ia menjawab, 'Saya lebih memilih sosok Byleth-sama yang dulu' di momen krusial ini, aku mungkin akan terlalu shock hingga tak mampu menggerakkan satu jari pun.
Awalnya aku cemas, jangan-jangan ia malah merasa jijik dengan perubahan drastisku yang tiba-tiba ini. Syukurlah, kecemasanku itu terbukti tak berdasar.
Dengan perasaan lega yang membuncah, kini aku bisa mengalihkan perhatianku untuk mengamati situasi di sekeliling kami. Sejujurnya, hal ini sudah mengganggu pikiranku sedari tadi.
Para siswa-siswi berseragam yang melintas di sekitar kami—yang jelas-jelas merupakan murid Akademi Ravelwarts—sesekali melemparkan tatapan menusuk ke arah kami.
Tatapan penuh simpati yang ditujukan untuk Sia, dan tatapan penuh cibiran yang dialamatkan untukku...
Aku sama sekali tidak terkejut melihat reaksi mereka. Semua ini adalah buah dari tabiat sehari-hari Byleth di masa lalu. Buah dari rumor-rumor busuk yang melekat erat pada namanya. Itulah akar dari semua pandangan menghakimi ini.
"...Sigh. Aku sadar betul ini murni salahku, tapi aku sungguh ingin memperbaiki reputasi buruk ini secepatnya. Kau mengerti maksudku kan, Sia?"
"Mm..."
"Ahaha, maaf, lupakan saja."
Aku baru saja melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat tidak adil untuk dijawab olehnya.
Sia menautkan alisnya, tampak cemas. Ia menundukkan pandangan mata birunya, lalu mengembuskan napas pelan sebagai satu-satunya respons yang bisa ia berikan.
Mengiyakan ucapanku sama saja dengan bertindak tidak sopan padaku, namun mengabaikannya juga tak kalah tidak sopannya. Tidak memberikan jawaban verbal adalah jalan tengah paling aman bagi seorang pelayan sepertinya, dan ia memilih embusan napas sebagai cara untuk mengomunikasikannya.
Ia benar-benar gadis yang luar biasa bijaksana di balik wajah imutnya itu.
(Sia ini memang sangat luar biasa, ya...)
Bahkan dengan rentetan rumor menjijikkan yang telah tersebar luas, bahkan dengan trauma perlakuan kejam yang ia terima di masa lalu, ia tetap setia mendampingiku tanpa menunjukkan raut kebencian atau rasa jijik sedikit pun.
Ia benar-benar sosok pelayan yang rasanya terlalu berharga untuk manusia sepertiku.
"Aku harus berusaha keras untuk memperbaikinya... dalam segala hal."
"Oh, um... mohon jangan terlalu membebani pikiran Anda. Saya akan memastikan semua orang tahu tentang 'metode bimbingan ketat Anda yang sebenarnya sangat memikirkan masa depan saya'!"
"Terima kasih... Oh, tunggu sebentar!"
"Ya?"
Disuguhi senyuman sepolos itu, aku nyaris saja hanyut dan terlena, namun syukurlah aku berhasil menginjak rem kesadaranku tepat pada waktunya.
Kalau aku membiarkannya menyebarkan cerita karangan itu, justru hal itu akan mengundang sorotan tajam melebihi biasanya. Dan secara logis, alasan fiktif yang terdengar menyakitkan itu juga akan ikut tersebar luas dari mulut ke mulut. Aku sama sekali tidak boleh membiarkan penyamaranku sebagai Byleth yang baru terbongkar di hadapan publik.
"Maksudku, aku akan jauh lebih bahagia kalau kau menahan diri untuk tidak menyebarkan cerita itu atas inisiatifmu sendiri."
(Andai saja semua orang di luar sana memiliki hati sepolos dan semudah percaya seperti Sia, situasinya pasti akan berbeda. Tapi kenyataannya jelas tidak mungkin seperti itu...)
Jalan yang paling aman adalah dengan bertindak low profile. Namun, kalaupun ada orang sebodoh itu yang datang mendekat dan termakan mentah-mentah kebohonganku, memikirkan betapa konyolnya situasi itu rasanya cukup menggelikan.
...Astaga, pikiranku mulai melantur ke mana-mana.
"Aku pasti akan sangat senang kalau kau mau membelaku, tapi orang lain mungkin saja berasumsi kalau akulah yang memerintahkanmu untuk berkata seperti itu. Karena itu, aku ingin kau lebih berhati-hati dalam bertindak."
Aku berusaha memperhalus bahasaku, namun tentu saja ia tetap menangkapnya sebagai sebuah 'perintah mutlak'.
"Oh, saya mengerti! Kalau begitu, saya hanya akan menceritakannya jika topik itu muncul secara natural dalam obrolan!"
"Terima kasih atas pengertianmu."
"Byleth-sama, tolong jangan sungkan untuk memberi tahu saya jika ada hal lain yang bisa saya bantu."
"Tentu. Aku akan mengandalkan bantuanmu jika saatnya tiba."
"Ya!"
Entah karena vibes-nya yang begitu mirip dengan hewan kecil yang tak berdaya, atau karena usahanya yang gigih dalam mendampingiku di balik tubuh mungilnya, atau mungkin karena senyumnya yang teramat memikat───aku merasakan dorongan kuat untuk mengelus puncak kepalanya dengan sayang. Tentu saja, aku menekan kuat-kuat dorongan itu.
(Yah, prioritas utamaku saat ini adalah menjalani hari-hari dengan damai dan setenang mungkin... Mencegah agar rumor busuk tentangku tidak semakin liar menyebar... hal-hal semacam itulah.)
Karena sekarang aku telah bereinkarnasi ke dunia ini, melangkah dengan hati-hati dan penuh perhitungan adalah strategi terbaik untuk mengawali hidup baru ini.
Setelah memantapkan rencana di dalam kepalaku, kami kembali melanjutkan perjalanan selama kurang lebih lima belas menit lamanya.
(Apakah tempat ini benar-benar sebuah akademi...?)
Tembok luar bercat putih bersih yang kontras dengan atap genteng berwarna biru laut yang elegan. Bangunan-bangunan megah yang auranya menyaingi kemewahan sebuah kastil───kami akhirnya tiba di gerbang Akademi Ravelwarts.
Gerbang utama berwarna putih itu menjulang begitu kokoh, memberikan kesan intimidatif saat dilihat dari bawah. Pepohonan rindang ditanam dengan presisi di sekeliling akademi, menaungi area kampus yang luar biasa luas, diperindah dengan hamparan bunga-bunga yang sedang mekar sempurna dan beberapa air mancur artistik yang menambah kesan mewah.
Jalan setapaknya tersusun dari batu berkualitas tinggi dan dirawat dengan sangat apik. Tak lupa, empat orang penjaga bersiaga penuh di pos gerbang utama.
(Ada aura kemewahan yang sangat pekat yang membuat rakyat jelata pasti merasa segan hanya untuk melangkahkan kaki ke dalam... Tak diragukan lagi, tempat ini adalah sarangnya para bangsawan kelas atas...)
Seseorang yang tidak lahir dan dibesarkan di dunia ini mungkin akan kesulitan mencerna fakta bahwa tempat semewah ini hanyalah sebuah sekolah.
Sambil memikirkan hal-hal semacam itu, aku melangkah melewati gerbang utama, menyeberangi area halaman depan yang sangat luas, dan akhirnya masuk ke dalam gedung utama sekolah.
"Oh, benar juga. Karena kita hari ini datang agak terlambat, kau tidak perlu repot-repot mengantarku sampai ke depan kelas."
"Dimengerti!"
Tingkat kelas kami berbeda. Begitu juga dengan status sosial kami sebagai seorang bangsawan dan pelayan. Karena itulah, ruangan kelas kami berada di lokasi yang terpisah.
"Ayo kita sama-sama belajar dengan giat hari ini."
"Ya! Oh, Byleth-sama, ada satu hal lagi yang ingin saya pastikan pada Anda..."
"Apa itu?"
"Untuk makan siang Anda hari ini, menu apa yang ingin Anda santap? Saya akan mengambilkannya lebih awal dari kantin dan membawakannya ke tempat biasa Anda beristirahat..."
"Oh... Soal itu. Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan mengurus makan siangku sendiri. Jadi Sia, tolong gunakan waktu istirahatmu untuk bersosialisasi dan menghabiskan waktu bersama teman-temanmu atau apa pun itu. Nikmatilah kehidupan masa mudamu di akademi ini. Tentu saja, begitu kita berada di luar jam sekolah, aku akan kembali mengandalkan bantuanmu seperti biasa."
"Be-benarkah?"
"Benar. Anggap saja ini sebagai hadiah kecil dariku atas semua dedikasi dan kerja kerasmu selama ini."
Aku melontarkan alasan klise agar terdengar rasional, namun faktanya, inilah yang benar-benar ingin kulakukan.
Byleth yang selalu dijauhi oleh semua orang mau tak mau harus selalu menghabiskan waktu luangnya sendirian. Ia kemudian menggunakan Sia sebagai pelampiasan rasa sepinya, dan... dengan sengaja mencari-cari alasan untuk terus membuat gadis itu sibuk tak karuan.
Meskipun ia bisa dengan mudah menikmati makan siang di kantin yang nyaman, ia justru akan memerintahkan Sia untuk menyiapkan makanannya di lokasi terpencil. Hal ini tak lain hanya untuk menambah beban kerja Sia, memanggilnya di saat-saat ia tak punya urusan penting, dan terus mencari-cari celah kesalahan demi memaksanya mengulang pekerjaan yang sama berkali-kali.
Semua hal yang dilakukannya benar-benar perbuatan rendahan dan nirfaedah.
(Untuk saat ini, aku harus memangkas habis beban kerja Sia... Kalau dibiarkan seperti dulu, beban fisik dan mentalnya akan terlalu berat, dan rumor buruk tentangku hanya akan semakin tak terkendali...)
Aku segera menghentikan laju pikiran negatifku yang terus berputar-putar.
Ketika aku menoleh ke arah Sia, kulihat ia tengah berdiri mematung dengan rahang bawah yang nyaris jatuh. Sepertinya kalimatku barusan membawa dampak syok yang lumayan parah baginya.
"Padahal baru tadi kau berjanji 'Aku harus membiasakan diri dengan cepat'..."
"S-saya sungguh mohon maaf yang sebesar-besarnya...!"
"Ah, aku tidak serius, kok! Aku sama sekali tidak menyalahkanmu! Sungguh, aku sangat senang mendengar tekadmu yang ingin cepat terbiasa dengan semua ini."
Rupanya lelucon ringan dariku tidak mempan sama sekali, semuanya gara-gara dosa-dosa Byleth di masa lalu. Meskipun penolakan secara tak langsung ini kembali menorehkan rasa sakit di hatiku, kalau aku sampai ikut-ikutan murung, Sia pasti akan merasa jauh lebih bersalah.
Di saat seperti ini, aku harus tetap menjaga sikap tenangku.
"Jadi tolong, teruslah bersikap seperti ini ke depannya. Aku berjanji hanya akan memanggilmu jika benar-benar ada urusan mendesak, jadi maafkan aku sebelumnya jika aku merepotkanmu nanti."
"T-tidak, sama sekali tidak merepotkan! Tolong jangan sungkan untuk memanggil saya kapan pun Anda butuhkan!"
Gadis itu melambaikan kedua tangannya dengan panik, memohon dengan sangat agar aku tidak merasa sungkan. Sikapnya yang lucu dan panik ini saja sudah cukup untuk memulihkan sebagian besar energi mentalku yang terkuras.
"Ahaha, sampai jumpa lagi sepulang sekolah nanti."
"Ya! Saya akan menunggu Anda!"
Dengan sedikit rasa enggan yang tersisa di hati, aku akhirnya mengucapkan salam perpisahan. Sia mengantarku dengan postur tubuh membungkuk sempurna yang memancarkan keanggunan, hingga aku benar-benar lenyap dari pandangannya.
"Baiklah, saatnya mengerahkan seluruh kemampuanku..."
Setelah dengan tegas menyatakan, "Nikmatilah kehidupan masa mudamu di akademi ini", akan menjadi sangat memalukan bagiku jika aku terus mengandalkan bantuan Sia. Tidak, lebih tepatnya, aku memang sudah seharusnya tidak bergantung padanya lagi.
Aku melangkahkan kakiku menuju ruang kelas dengan langkah penuh determinasi. Namun, tekad baja itu seketika retak berkeping-keping hanya dalam hitungan detik.
"...dan ternyata situasinya benar-benar seburuk yang kubayangkan, persis seperti tebakanku..."
Sebuah gumaman penuh keputusasaan meluncur tanpa sadar dari bibirku begitu aku menginjakkan kaki di dalam ruang kelas.
Ketika aku masuk, tiga hal yang sangat menyolok langsung menyambutku:
Suara tawa dan obrolan riang teman-teman sekelasku lenyap seketika, tergantikan oleh keheningan yang mencekam.
Tak ada satu pun dari mereka yang berani atau bahkan berniat untuk menatap mataku.
Begitu aku mengambil tempat duduk di bangkuku, secara serempak mereka semua memutar punggung mereka dariku, menciptakan sebuah radius kosong seolah-olah aku adalah sumber penyakit menular.
Mereka kemungkinan besar sengaja melakukan semua ini agar aku tidak menyadari keberadaan mereka, agar aku tidak menjadikan mereka target rundunganku selanjutnya.
(I-ini sungguh menyiksa mental... Bagaimana bisa Byleth, sang biang keladi di balik semua teror ini, bisa tetap menjalani hari-harinya seolah tak terjadi apa-apa...?)
Aku benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran pemuda itu.
Dihadapkan pada realita yang jauh, jauh lebih buruk dari mimpi terburukku sekalipun, dorongan untuk segera berlari keluar dan mencari Sia kembali muncul... namun aku harus menahan diri kuat-kuat.
"S-sepertinya hari ini akan menjadi hari yang sangat, sangat berat..."
Lagi-lagi, isi hatiku bocor keluar dalam bentuk gumaman tanpa kusadari.
Sementara itu, di gerbang utama akademi sesaat setelah mereka berpisah.
"Oh, oi, oi! Lihat ke sana, cepat! Elena-sama ada di sana!"
"Kau, jangan bercanda dan memberiku harapan palsu seperti itu."
"Tidak, aku serius, bodoh! Cepat lihat ke sana!"
"Ah..."
"Jangan menatapnya dengan wajah dungu seperti itu..."
Ratusan pasang mata seketika terkunci pada sesosok siswa yang baru saja menginjakkan kaki tepat di luar gerbang utama akademi.
"Hm... Sepertinya hari ini aku datang sedikit lebih siang dari biasanya."
Gadis itu bergumam pelan pada dirinya sendiri seraya melirik jam menara raksasa yang berdiri kokoh berdampingan dengan gedung Akademi Ravelwarts.
Namanya adalah Elena Leclaire.
Ciri khas yang paling menonjol dari dirinya adalah rambut merahnya yang menyala terang, terurai indah hingga menyentuh pinggang. Sepasang mata ungu yang tajam dan menghipnotis, bentuk hidung yang mancung sempurna, dan bibir merah muda tipis yang menggoda. Sebuah kalung choker hitam melingkar pas di lehernya yang jenjang, menambah kesan elegan.
Meskipun menyandang status bergengsi sebagai putri dari keluarga bangsawan Upper House yang sangat dihormati, Elena sama sekali tidak pernah menyombongkan silsilah keluarganya. Ia justru berhasil memenangkan kekaguman serta kepercayaan tanpa syarat dari banyak pihak, tak terkecuali dari mereka yang berasal dari kasta yang lebih rendah.
Berbekal pesona kecantikan dan kepribadiannya yang luar biasa, tak heran jika hari ini pun kedatangannya disambut oleh lautan tatapan penuh kekaguman dan iri dari para siswa lainnya.
Dan tepat pada saat itu.
Sepasang mata ungunya menangkap sosok seorang teman dekat. Ia sedikit melebarkan matanya sebelum akhirnya memanggil.
"Oh, selamat pagi, Sia. Kebetulan sekali kita bertemu di sini."
"Ah! Selamat pagi, Elena-sama!"
Benar sekali. Teman dekat yang dimaksud tak lain adalah Sia, pelayan pribadi Byleth.
Mendengar sapaan itu, Sia bergegas menghampiri Elena dengan senyum cerah dan langkah setengah berlari.
Seorang pelayan dari keluarga Viscount dan seorang putri dari keluarga Count. Sekilas, tak ada benang merah yang bisa menghubungkan mereka berdua. Namun, pada berbagai acara kumpul-kumpul sosial antar bangsawan di luar jam akademi───seperti pesta perjamuan makan malam, misalnya───jalan mereka sudah dipastikan akan sering bersilangan.
Ketulusan hati Sia yang murni serta sikap humble Elena yang tidak pernah memandang rendah kasta sosial seseorang membuat mereka berdua sangat cocok satu sama lain, hingga akhirnya mereka menjalin ikatan persahabatan yang teramat erat.
"Tumben sekali Anda datang agak siang hari ini. Anda sedang tidak kurang enak badan, kan?"
"Fufu, tentu saja aku baik-baik saja, kok. Terima kasih karena sudah mencemaskanku."
Fakta bahwa Sia begitu mencemaskan Elena hanya karena gadis itu datang sedikit lebih lambat dari biasanya adalah bukti betapa besar perhatian pelayan kecil itu.
"Sebenarnya, tadi pagi aku harus mendiskusikan urusan mendesak dengan adikku. Dan itulah alasan mengapa aku baru bisa berangkat jam segini."
"Oh, jadi begitu ceritanya. Saya berjanji akan berusaha lebih keras lagi agar kelak saya bisa menjadi sosok yang bisa diandalkan, sama seperti Anda, Elena-sama...!"
"Apa yang kau bicarakan? Bukankah kau sendiri sudah hampir setiap hari selalu diandalkan oleh majikanmu?"
"T-tidak, saya masih harus banyak belajar!"
"Fufu, menurutku kau terlalu merendah."
Melihat reaksi Sia yang salah tingkah sembari mengibaskan kedua tangan mungilnya untuk menyangkal, Elena dengan anggun menutupi sebagian mulutnya dengan punggung tangan, matanya menyipit karena geli.
"Sekadar bertukar sapa denganmu saja sudah cukup untuk mengembalikan mood-ku, tahu? Belum lagi kau datang di waktu yang sangat tepat saat aku harus 'memetik bunga'. Bantuanmu tadi pagi benar-benar sangat berarti bagiku. Terima kasih banyak, ya."
"Eep... B-bagaimana Anda bisa tahu soal itu...?"
"Yah, arah gerbang yang kau lewati tadi berasal dari arah toilet. Belum lagi aku melihat ujung sapu tangan yang biasanya kau gunakan untuk mengelap tanganmu sedikit menyembul dari saku seragammu. Tumben sekali kau ceroboh dalam hal-hal kecil seperti itu, kan?"
"Ah... Ah!?"
Begitu ditegur oleh pengamatan tajam Elena, wajah Sia seketika memerah matang, persis seperti kepiting rebus.
Dengan gerakan refleks yang teramat panik, dan kecepatan yang nyaris di luar nalar manusia, ia buru-buru memasukkan kembali sapu tangan malang itu ke dalam saku dalam-dalam untuk melenyapkan barang bukti, lalu berusaha keras merangkai kata demi membela diri.
"S-seharusnya Anda memberitahuku dengan nada yang lebih pelan, Elena-sama! Bagaimana kalau sampai ada siswa laki-laki yang mendengarnya...!"
"M-maafkan aku, Sia. Habisnya, reaksi panikmu barusan sungguh di luar dugaanku, sangat tidak biasa."
Cara Sia memprotes secara halus dan bagaimana Elena meresponsnya dengan permintaan maaf yang disertai senyum geli adalah bukti nyata kesekian dari kedekatan hubungan mereka berdua.
"Lalu, Sia. Apakah kau sedang melamun memikirkan sesuatu tadi? Atau mungkin... baru saja terjadi sesuatu yang sangat membahagiakan padamu?"
"Y-ya! Sesuatu yang luar biasa membahagiakan baru saja terjadi pada saya pagi ini...!"
Sia merespons dengan antusiasme tinggi, sepasang mata birunya berbinar-binar memancarkan suka cita.
"Dari raut wajahmu, kau terlihat seperti orang yang sangat tidak sabar ingin membagikan kabar gembira itu. Fufu, maukah kau menceritakannya padaku, tentu saja jika kau tidak keberatan?"
"Oh, terima kasih karena mau mendengarkan!"
Sembari sedikit memajukan posisi tubuhnya, Elena mengambil postur tubuh layaknya seorang kakak perempuan yang penuh perhatian yang sedang mendengarkan curahan hati adik kesayangannya. Matanya sedikit menyipit menanti.
"Jadi begini, pagi ini... Anda tahu!? Byleth-sama memuji kinerja saya!!"
"Hah?"
"Saya sadar ini terdengar sangat memalukan jika saya sendiri yang mengatakannya, tapi... Beliau memuji saya dengan sebutan 'luar biasa', dan bahkan berkata bahwa saya adalah 'pelayan yang sangat membanggakan' bagi Beliau!!"
"............"
"Kalau diingat-ingat lagi, pujian itu benar-benar membuat saya terbang ke awan... Saya tahu saya harus segera beradaptasi dengan perubahan sikap Beliau, tapi... ehehe."
Menangkup kedua pipinya yang masih memerah dengan kedua tangannya, Sia tak henti-hentinya memamerkan senyum kebahagiaan.
Wajar saja ia begitu bahagia. Sampai kemarin, Byleth tak pernah sekalipun, bahkan dalam mimpi sekalipun, memujinya. Yang ia terima hanyalah caci maki dan amarah yang tak berujung.
Namun, berbeda halnya dengan reaksi Elena. Gadis itu benar-benar kesulitan mencerna informasi barusan.
"S-Sia? Maaf, bisakah aku memastikan satu hal lagi? Byleth... memujimu? Si Byleth arogan itu berani menyebutmu 'pelayan yang membanggakan'?"
"Benar! Sebagai bentuk hadiah atas dedikasi dan kerja keras saya selama ini, mulai hari ini dan seterusnya, saya dibebastugaskan dari kewajiban untuk menyiapkan dan melayani makan siang Beliau. Beliau secara khusus memerintahkan saya untuk menikmati kehidupan masa muda saya di akademi ini terlebih dahulu."
"A-aku mengerti... syukurlah kalau begitu."
Sementara Sia terus memancarkan aura kebahagiaan layaknya bunga yang sedang mekar, Elena justru meresponsnya dengan ekspresi wajah yang menegang kaku.
Reputasi busuk mengenai Byleth sudah lama sampai ke telinga Elena. Ia juga mengetahui fakta bahwa selama ini Byleth selalu memperlakukan Sia layaknya budak rendahan selama berada di lingkungan akademi.
Oleh karena itu, perubahan drastis pada sikap Byleth ini terasa sangat mengerikan baginya. Sangat menyeramkan.
"Dan, oh! Anda tahu!? Ada satu lagi kejadian yang membahagiakan yang terjadi pada saya!"
"A-apa itu?"
"Sebenarnya saya sangat malu menceritakannya, tapi... pagi ini, akibat kecerobohan saya, saya tak sengaja memecahkan cangkir teh kesayangan Byleth-sama..."
"Hah!? Itu sangat fatal! Apa kau tidak terluka?"
Bahkan di mata Elena yang penyayang, kesalahan ceroboh seperti memecahkan cangkir milik seorang majikan, terlebih lagi jika benda itu adalah barang kesayangannya, adalah sebuah pelanggaran yang sulit untuk dibenarkan.
Mengingat betapa buruknya temperamen Byleth, kejadian mengerikan apa pun bisa saja menimpa Sia, namun───
"Ya, saya tidak terluka sedikit pun! Byleth-sama langsung turun tangan dan memunguti sendiri serpihan-serpihan cangkir itu agar jari saya tidak sampai terluka! Beliau bahkan dengan heroik melindungi saya dengan berkata, 'Ayo kita sepakati saja kalau akulah yang memecahkannya'!"
"Hahhh!?"
"Saya sadar ini terdengar sangat lancang, tapi perlakuan Beliau tadi... sukses membuat jantung saya berdebar tak karuan, Anda tahu... Ehehe. Oh, tolong rahasiakan cerita ini dari siapa pun, ya!"
"Y-ya. Aku berjanji..."
Mendengar suara Sia yang begitu antusias seraya terus meremas ujung jari-jarinya, otak Elena tiba-tiba saja blank dan kesulitan memproses seluruh rangkaian informasi yang baru saja ia terima.
(Sebenarnya... rencana kotor apa yang sedang disembunyikan oleh pria brengsek itu?)
Tindakannya barusan sangat berkontradiksi dengan seluruh rekam jejak perilakunya di masa lalu.
Memberikan teror ketakutan dan kebaikan secara silih berganti... seolah-olah ia sedang menerapkan teknik cuci otak yang sangat manipulatif───
Bagi Elena, serangkaian kejadian janggal ini sukses memicu firasat buruk yang sangat tak menyenangkan di dalam hatinya.
0 Comments