BAB 2 PUTRI MERAH TUA
(Bagaimanapun juga, aku masih merasa sangat tidak nyaman berada di sini... Rasanya aku ingin melarikan diri saja...)
Kini, di tengah situasi di mana semua orang terang-terangan menjauhiku, aku harus terus-menerus menahan diri dari gempuran tatapan-tatapan aneh yang menusuk.
Sambil memikirkan hal-hal menyedihkan semacam itu dalam perjalanan menuju kelas untuk mengikuti pelajaran pertamaku, sebuah kejadian tak terduga terjadi.
"Hei, duduklah di sini. Kau sedang mencari bangku yang kosong, kan?"
"..."
"Kau. Ya, kau yang sedang berdiri mematung di sana."
"Hah? Aku?"
"Siapa lagi yang sedang kuajak bicara selain kau?"
"Yah, uh..."
Di saat aku sedang kebingungan mencari tempat duduk, seseorang tiba-tiba memanggilku.
Hari ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang berinisiatif memanggil namaku. Aku bahkan dipersilakan untuk duduk di dekatnya. Di tengah kebingunganku yang meluap-luap, secercah kebahagiaan mendadak mekar di dalam dadaku.
Sosok yang memberikan pengalaman berharga ini padaku adalah seorang siswi berambut merah menyala yang duduk di deretan kursi paling belakang───
(Kalau tidak salah... gadis itu bernama Elena. Berdasarkan sisa ingatanku, sepertinya Byleth tidak memiliki hubungan yang terlalu baik dengannya.)
"Respons macam apa itu, samar sekali. Apa kau tidak sudi duduk bersebelahan denganku di kelas?"
"Bukan begitu, sama sekali tidak. Hanya saja... rasanya sedikit aneh bagiku..."
"Dengar, ya... soal perubahan sikapmu yang mendadak drastis terhadap Sia, juga soal auramu yang terasa berbeda hari ini... ada beberapa hal yang lebih baik tidak kudengar langsung dari mulutmu."
"Ahaha, ya, tentu saja, aku mengerti..."
Aku buru-buru mengambil tempat duduk di sebelahnya. Saat ia kembali duduk, aroma melati yang lembut dari parfumnya samar-samar menyapa indra penciumanku.
"Ah, apakah kau mendengar tentang perubahan sikapku itu langsung dari mulut Sia? Yah, bagaimanapun juga, hanya Sia seorang yang tahu tentang apa yang terjadi pagi ini..."
"Hmm, siapa tahu, kan? Lagipula, kalau aku jujur memberitahumu, kau pasti akan marah."
"Tidak juga."
"Cih, omong kosong. Atas dasar itulah aku tidak akan sudi memberitahumu."
"Sayang sekali."
Nada bicaranya seketika menajam begitu nama Sia disinggung. Elena dan Sia memang menjalin hubungan persahabatan yang cukup erat. Jadi, sangat bisa dipahami jika ia memandang perlakuan kejam Byleth terhadap Sia sebagai sebuah red flag yang patut diwaspadai.
(Meskipun terasa menyakitkan dicap sebagai sumber masalah, tapi rasanya sangat menghangatkan hati melihatnya begitu tulus mengkhawatirkan Sia...)
Terkurung dalam pusaran perasaan yang ambivalen ini, pada akhirnya rasa bahagialah yang mengambil alih.
"Um, Elena... ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa itu?"
"Kebetulan, kau juga tidak punya teman ya di sini?"
"A-apa maksudmu!?"
Sepasang mata ungunya membelalak lebar, jelas-jelas terkejut dengan pertanyaanku yang tiba-tiba dan menusuk.
Tentu saja, aku sama sekali tidak bermaksud memprovokasinya.
(Mengingat hubungan mereka berdua yang kurang harmonis, bersikap sedikit blak-blakan dan kasar seperti ini seharusnya adalah cara berinteraksi yang paling natural di antara kami...)
Aku sudah memikirkan dengan sangat matang bagaimana caranya agar interaksi kami tidak terasa canggung atau palsu.
"Sebelumnya aku tidak pernah terlalu memikirkannya, tapi kalau kuperhatikan lagi, kau juga selalu duduk sendirian di kelas."
"Bukankah hal yang sama juga berlaku untukmu? Atau jangan-jangan kau sedang mencoba menyamakan dirimu denganku?"
Ia menatapku dengan sorot mata yang tajam dan menusuk. Mungkin karena proporsi wajahnya yang begitu rupawan, bahkan ekspresi garang seperti itu pun entah bagaimana memancarkan pesona tersendiri.
"Tidak, aku hanya bertanya karena sungguh-sungguh penasaran. Kalau semua orang di kelas selalu mengajakmu mengobrol setiap hari, seharusnya kau tidak... dibenci sepertiku, kan?"
"Pilihan kata-katamu tidak bisa lebih halus lagi, ya?"
"Kau benar, maaf..."
Aku teringat akan sebuah fakta. Elena adalah siswi yang sangat populer.
Ia terkenal karena telah menolak begitu banyak lamaran dari para putra bangsawan, hingga mendapatkan julukan 'Putri Merah Tua' berkat rambut merahnya yang menawan dan kecantikannya yang tak terbantahkan.
"Yah, aku sadar diri aku tidak berada di posisi yang pantas untuk melontarkan sindiran halus seperti itu. Aku hanya..."
"Fufufu, kau benar-benar tidak tahu diri. Kufufu..."
"Kau tertawa terlalu keras, tahu."
"M-maaf. Respons penolakan dirimu tadi sungguh lucu. Mungkin karena ini pertama kalinya aku mendengarmu berbicara seperti itu?"
"Itu... bisa diperdebatkan."
Sebuah pujian terselubung yang sama sekali tidak kuapresiasi.
Aku mengangkat sebelah alisku, seolah-olah memberikan isyarat, "Lalu? Lanjutkan." Elena pun kembali menetralkan ekspresinya untuk melanjutkan percakapan kami.
"...Yah, meskipun aku selalu dikelilingi orang yang mengajakku mengobrol setiap harinya, aku tak akan menampik fakta bahwa hanya segelintir dari mereka yang bisa kuanggap sebagai teman sejati. Banyak di antara mereka yang merasa segan dan terintimidasi oleh gelar 'Count' yang disandang keluargaku. Walaupun kalau boleh jujur, teman-temanku saat ini justru bukanlah orang-orang yang berasal dari kalangan dengan hak istimewa."
"Oh?"
Tidak memiliki hak istimewa, itu artinya mereka bukanlah keturunan bangsawan.
"Untuk ukuran seorang bangsawan sepertimu, bukankah itu hal yang sangat tidak biasa?"
"Bisa juga dibilang bahwa aku memang tidak pernah berniat untuk mencari teman dari kalangan bangsawan, atau setidaknya aku tidak sedang mencarinya saat ini."
"Harus kuakui, jalan pikiranmu cukup tajam."
Ia tersenyum simpul, seolah membenarkan, 'Tentu saja'.
"Aku memang tidak pernah berusaha untuk menjalin relasi dengan mereka. Mayoritas siswa bangsawan di akademi ini memiliki pola pikir yang sangat bertentangan dengan prinsip dasar Akademi Ravelwarts. Sebenarnya aku sedikit enggan mengatakannya secara terang-terangan di hadapanmu, mengingat kau juga berasal dari pihak mereka..."
"Um, kalau boleh aku tahu, apa sih sebenarnya prinsip dasar akademi ini?"
"Kalau kau sampai berani bilang kau tidak tahu, kau hanya akan membuatku semakin kesal," tukas Elena, menatapku dengan pandangan seolah ia baru saja menyadari sesuatu.
"Seluruh siswa berdiri di atas pijakan yang sama."
"Oh, begitu rupanya."
(Untuk ukuran sebuah institusi pendidikan, prinsip itu terdengar cukup agresif dan revolusioner, tapi wajar saja karena pada dasarnya tempat ini adalah sebuah sekolah.)
Meskipun prinsip luhur itu terbukti gagal diterapkan jika Byleth saja sampai tidak mengingatnya, setidaknya pesan yang ingin disampaikan tidaklah buruk.
"...Ah, tunggu sebentar. Kalau begitu logikanya, bukankah itu berarti aku yang merupakan putri dari seorang Count dan kau yang merupakan putra dari seorang Marquess, memiliki kedudukan yang setara dengan murid dari kalangan rakyat jelata di sini?"
"Secara teori, ya, seperti itulah adanya."
"..."
"..."
Beberapa detik keheningan yang canggung berlalu di antara kami, sementara Elena terus menatapku dengan sorot mata tak percaya...
"T-tolong hentikan basa-basimu! Jujur saja padaku───kau pasti menyimpan keluhan soal prinsip ini, kan? Ayolah, bereaksilah seperti siswa bangsawan pada umumnya!"
"Memangnya prinsip itu sebegitu keterlaluannya, ya?"
"K-kalau begitu, aku akan menjelaskannya dengan cara yang paling tidak kau sukai. Prinsip konyol ini secara efektif melucuti status bangsawanku dan kebangsawananmu, kau paham? Itu artinya, siswa dari kalangan rakyat jelata sekalipun memiliki hak yang sama untuk memanggilmu dengan sebutan 'Byleth' tanpa embel-embel penghormatan!"
"Selama kita masih berada di dalam area akademi, apakah itu benar-benar menjadi masalah? Lagipula, mengotak-ngotakkan murid berdasarkan perbedaan kasta hanya akan menjadi batu sandungan dalam proses belajar-mengajar."
"I-itu..."
"Lagipula, status bangsawan itu adalah buah dari pencapaian dan kerja keras orang tua kita, bukan hasil jerih payah kita sendiri. Meskipun berasal dari status sosial yang lebih rendah, ada banyak sekali rakyat jelata yang terlahir dengan bakat dan kemampuan di atas rata-rata. Tidakkah kau berpikir bahwa justru para bangsawan arogan itulah yang terlalu gengsi untuk mengakui realita tersebut selama berada di lingkungan sekolah?"
"Yah, um..."
'Kenapa kau malah sependapat denganku!?'
Begitulah kira-kira kalimat yang terpancar jelas dari raut wajahnya. Suaranya bahkan terdengar sedikit bergetar.
"Kau... kau ini... Tolong jangan memaksakan diri berbohong semanis itu hanya karena kau sangat putus asa ingin berteman denganku."
"Aku sama sekali tidak bermaksud begitu, kok. Kalau kau mau berpikir secara logis, hierarki sosial yang kaku di antara sesama murid di akademi ini adalah hal yang sangat tidak esensial. Hal itu murni hanya akan menghalangi efektivitas proses belajar."
"Y-yah, tapi..."
Pupil mata ungu Elena tampak bergetar hebat. Ia terlihat sangat kebingungan, hingga kehabisan kata-kata...
"T-tidak mungkin, kau pasti sedang membohongiku. Semua omong kosong yang baru saja kau ucapkan sangat bertolak belakang dengan tindakanmu selama ini!"
"Bertolak belakang bagaimana maksudmu?"
"Ya, bertolak belakang! Karena selama ini kau selalu dengan kejam menganiaya dan merundung Sia. Kau memanggilnya di setiap jam makan siang tanpa alasan yang jelas, bertingkah layaknya tiran yang kejam dan arogan. Kau hanya bisa melakukan semua kekejaman itu karena kau berlindung di balik tameng status sosialmu, kan!"
"Ah, soal itu..."
(Gadis ini sepenuhnya benar───Byleth yang asli tidak akan pernah melontarkan pandangan-pandangan diplomatis yang bisa memicu kecurigaan seperti tadi. Aku terlalu terbawa suasana saat menjabarkan pandanganku sendiri...)
Saking asyiknya mengemukakan argumen pribadiku, aku sampai melupakan satu fakta krusial.
Pantas saja Elena terlihat begitu syok dan tak percaya sedari tadi.
(Tapi yang jauh lebih penting dari itu... sekarang aku harus memutar otak mencari alasan logis mengapa aku selama ini selalu menganiaya Sia...)
"..."
"Lihat, kan? Terbukti kau memang tidak jujur. Kau bahkan tidak mampu menjawab kontradiksi dari omonganmu sendiri. Kau pasti sedang merencanakan niat busuk yang lain, kan?"
"T-tidak, sama sekali bukan begitu. Aku hanya... merasa sedikit ragu untuk membeberkannya padamu..."
"Hoh? Begitu rupanya? Kalau begitu, buktikan. Jawab pertanyaanku barusan."
"Ya-yah, uh... bagaimana, ya..."
Sambil mengulur waktu untuk merangkai jawaban, aku memeras otakku sekuat tenaga.
Berkat keputusasaan itu, aku akhirnya berhasil menemukan satu celah alasan yang bebas dari kontradiksi.
"Ehem, berjanjilah untuk merahasiakan hal ini dari siapa pun, terutama dari Sia."
"Aku mengerti. Cepat katakan alasanmu."
"Ya, ya, sabarlah sedikit. Alasan mengapa aku selalu bersikap keras padanya... kau tahu sendiri ada banyak sekali siswa dari kalangan bangsawan yang terdaftar di akademi ini, kan? Tepatnya, ada banyak sekali murid dengan status pelayan seperti Sia yang bersekolah sambil melayani majikan mereka, dan tidak sedikit dari para bangsawan itu yang menentang keras prinsip 'Seluruh siswa berdiri di atas pijakan yang sama'."
"Padahal di awal percakapan tadi kau bahkan tidak tahu menahu soal prinsip itu, kan?"
"Pssh, aku hanya berpura-pura bodoh. Akan jauh lebih mudah bagiku untuk bergerak jika mereka menganggapku sebagai salah satu pihak yang menentang prinsip tersebut. Itulah sebabnya, bahkan setelah kau memberitahuku, reaksiku terlihat sangat wajar dan tidak terkejut."
"Fufu, begitu rupanya."
(Astaga, hampir saja penyamaranku terbongkar!)
Keringat dingin mulai merembes di punggungku.
"Lalu? Lanjutkan ceritamu."
"Dengan banyaknya bangsawan kolot yang menentang prinsip tersebut, kalau sejak awal aku membiarkan Sia bertindak terlalu bebas, eksistensinya pasti akan memancing kebencian dari kalangan bangsawan lain. Mereka pasti akan mencibir, 'Jangan terlalu sombong hanya karena kau diberi sedikit kebebasan'."
"..."
"Kemungkinan terburuknya, ia bisa saja menjadi target kecemburuan atau bahkan kebencian dari sesama pelayan lainnya. Mereka akan mulai berbisik-bisik, 'Kenapa hanya dia saja pelayan yang mendapatkan hak istimewa sebebas itu?'"
"A-argumenmu itu... tidak sepenuhnya salah..."
Elena meletakkan jemari lentiknya di dagu, kembali berpikir keras. Sebuah gestur anggun yang sangat pantas disandingkan dengan julukannya sebagai sang 'Putri Merah Tua'.
"Namun pada akhirnya, nyatanya hari ini kau membiarkannya melakukan apa pun sesukanya, kan? Menurutku, tindakanmu ini sangat tidak konsisten dengan alasan yang baru saja kau jabarkan."
"Yah, itu karena... narasi bahwa 'Aku selalu bersikap sangat keras pada pelayanku' sudah terlanjur mengakar kuat dan tersebar luas di kalangan murid-murid. Jadi aku berpikir, kalau aku membebaskannya hari ini, hal itu bisa dimaklumi dengan dalih, 'Aku sedang berbaik hati memberinya sedikit waktu luang'. Dan lagi, dengan fondasi mental baja yang telah kutanamkan melalui didikan kerasku selama ini, ditambah dengan kepribadian murninya yang begitu mudah disukai... mulai sekarang dan seterusnya, ia pasti akan dilimpahi kasih sayang oleh orang-orang di sekitarnya, kan? Bahkan jika suatu hari nanti ia berbuat ulah dan ada yang memusuhinya, orang-orang di sekelilingnya pasti akan pasang badan untuk melindunginya."
(Aku sendiri hampir tidak percaya aku sanggup merangkai kebohongan serumit ini secara spontan... Apakah ini berkat sisa-sisa kecerdasan otak Byleth?)
Aku benar-benar takjub pada kelihaian lidahku sendiri.
"Tunggu dulu, jadi selama ini kau sudah memikirkan dampaknya sampai sejauh itu dan merencanakan semuanya dengan sangat rapi? Seharusnya, kau bisa mencari cara yang jauh lebih manusiawi untuk melindunginya, tanpa harus membuat Sia melalui masa-masa yang begitu menyiksa."
"Pada saat itu, aku menilai bahwa bersikap keras dan tanpa ampun padanya adalah metode terbaik untuk mempercepat proses kedewasaannya. Tidak akan ada satupun manusia yang bisa berkembang tanpa melalui ujian dan penderitaan."
"Yah, argumenmu memang ada benarnya, tapi..."
Aku sangat memahami apa yang ingin disampaikan oleh Elena. Bahwa 'Metode yang selama ini kugunakan untuk mendidiknya terlalu kejam dan tidak manusiawi'.
Bahwa 'Pasti ada metode keras lain yang efeknya lebih baik dan manusiawi'.
Kalau boleh jujur, argumennya itu seratus persen benar.
Karena kehabisan bahan untuk menyanggah, aku terpaksa memberikan respons yang terkesan ekstrem.
"Aku menganggap semua itu sebagai bagian dari tanggung jawabku sebagai majikannya, dan aku percaya sepenuhnya bahwa ada pelajaran-pelajaran berharga yang hanya bisa didapatkan melalui didikan yang keras dan tanpa kompromi."
"Aku tidak akan mendebat pendapatmu soal itu. Faktanya, Sia memang tumbuh menjadi gadis yang luar biasa tangguh berkat tempaan kerasmu. Namun, aku sama sekali tidak menganggap perilakumu selama ini sebagai sesuatu yang patut diapresiasi. Kau sengaja bersikap sangat kejam hanya agar ia bisa tumbuh dewasa dengan cepat, kan? Seharusnya kau bisa menerapkan pendekatan yang lebih bertahap dan tidak menyiksanya."
"Yah... mungkin kau benar. Sepertinya aku memang telah melakukan hal-hal yang kelewat batas pada Sia."
Meskipun Elena tampaknya mempercayai semua bualanku, kenyataan bahwa semua yang kuucapkan sejak tadi hanyalah karangan spontan semata sukses membuatku dihantui rasa bersalah yang teramat pekat.
Kenyataan yang sebenarnya adalah: Byleth selama ini hanya murni menyiksa Sia demi memuaskan egonya. Fakta bahwa Sia berhasil melalui semua neraka itu dan 'tumbuh' menjadi lebih kuat, murni hanyalah sebuah kebetulan yang beruntung.
"Syukurlah kalau kau akhirnya menyadarinya. Mulai sekarang, kau berjanji akan memperlakukannya dengan lebih baik, kan?"
"Tentu saja. Aku telah menilainya, dan aku yakin seratus persen ia kini sudah sangat mumpuni untuk melayani keluarga bangsawan mana pun."
"Penilaian yang sangat terlambat, tahu."
"Kau mungkin benar..."
Sangat menyakitkan bagiku harus mencari-cari pembenaran atas tindakan keji Byleth di masa lalu, namun situasilah yang memaksaku untuk melakukannya.
"Yah, selama kau berjanji akan memperlakukannya dengan baik mulai sekarang, aku tidak akan memperpanjang masalah ini. Tapi ingat, kalau Sia sampai melakukan kesalahan yang fatal, kau tetap harus menegurnya dengan tegas, oke? Jangan malah memanjakannya───bersikap baik dan memanjakan itu adalah dua hal yang sama sekali berbeda."
"Itu tidak mungkin, Sia bukanlah tipe gadis yang suka berbuat ulah. Sia itu..."
"Kalau selama ini kau memendam pemikiran positif seperti itu tentangnya, bukankah seharusnya kau merasa jauh lebih tersiksa saat harus bersikap kejam padanya...?"
"Tentu saja itu sangat menyiksa (menerima kenyataan atas apa yang telah dilakukan Byleth)."
"Haaah... Kau ini benar-benar tidak bisa diandalkan, ya. Seharusnya kau bisa sedikit mengandalkanku jika situasinya sesulit itu."
Gadis itu menghela napas panjang, lalu menatapku dengan sorot mata penuh rasa iba.
"Ketidakmampuanmu dalam menangani situasi rumit secara diam-diam, ditambah perlakuan kasarmu pada Sia, adalah biang keladi di balik tersebarnya rumor-rumor busuk tentangmu. Setelah mendengar penjelasanmu barusan, aku bahkan bisa membayangkan bagaimana rumor-rumor itu semakin dibumbui dengan kebohongan-kebohongan yang dilebih-lebihkan oleh orang lain."
"Ya-yah, mau bagaimana lagi..."
"Respons macam apa itu? Hambar sekali."
(Itu karena sosok Byleth dalam rumor-rumor tersebut telah diubah menjadi sesosok ogre yang mengerikan...)
Aku menelan kembali keluhanku dan menyimpannya rapat-rapat di dalam hati.
"Bagaimanapun juga, tolong terus jaga dan perhatikan Sia dengan baik."
"Kau tidak perlu repot-repot memintaku untuk melakukan itu, tahu. Aku sama sekali tidak berniat menjalin interaksi dengannya jika hanya didasari oleh rasa kewajiban semata."
"Berlagak keren, ya."
"Hehe, aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
Rangkaian penjelasanku yang panjang dan melelahkan akhirnya usai sudah. Entah bagaimana, aku berhasil meyakinkan Elena. Aku juga sangat bersyukur karena hubunganku dengannya tidak berakhir memburuk.
"Tapi tetap saja... aku benar-benar terkejut. Tidak kusangka kau akan berpihak pada kubu ini."
"Maksudmu, berpihak pada prinsip kesetaraan sekolah ini?"
"Benar. Kalau sampai aku menceritakan hal ini pada murid bangsawan lain, rahang mereka pasti akan copot karena saking terkejutnya."
"Oh, itu terdengar sangat menyenangkan."
Aku menyentuh kerah seragamku dengan santai dan membalas candaannya dengan sebuah seringai jahil.
"Oh, benar juga. Maaf kalau pertanyaanku sedikit melantur, tapi kenapa kau juga memilih untuk berpihak pada kubu yang menyetujui prinsip itu, Elena? Padahal, status sosial keluargamu sangatlah tinggi."
"Baru sekarang kau terpikir untuk menanyakannya?"
"Yah, aku hanya penasaran saja."
Balasan telaknya sukses membuatku tersenyum kecut.
Dengan gaya bicaranya yang santai, ia pun mulai menjelaskan.
"Tidak ada alasan filosofis yang mendalam, sungguh. Sebagai seorang bangsawan, memihak dan mengayomi rakyat jelata adalah jalan yang paling benar untuk ditempuh. Para bangsawan kolot penganut hierarki kaku mungkin akan murka jika mendengar pernyataanku ini, tapi faktanya, eksistensi kaum bangsawan tidak akan pernah bisa bertahan tanpa adanya dukungan penuh dari rakyat jelata, kan?"
"Aku paham maksudmu... Tentu saja."
"Ditambah lagi, aku juga punya alasan yang sangat personal───menurutku, akan sangat menyenangkan jika aku bisa menjalin hubungan baik dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Dan diskriminasi adalah penghalang terbesar untuk mewujudkan hal itu."
"Hahaha, begitu rupanya. Pemikiran seperti itu benar-benar sangat mencerminkan karaktermu, Elena."
"Heh, hei, kau tidak perlu sampai tertawa terbahak-bahak seperti itu, kan."
"Maaf, maaf, aku sungguh tidak bermaksud menyinggungmu."
Dan, tepat pada detik itu juga──.
Lonceng akademi berdentang nyaring, suaranya menggema ke seluruh penjuru lorong sekolah. Tak lama kemudian, seorang guru pengajar melangkah masuk ke dalam kelas. Rupanya sedari tadi ia sudah menunggu di luar hingga lonceng berbunyi.
"Um, hei, Byleth...?"
Di saat guru sedang sibuk memanggil nama-nama murid untuk presensi, kudengar suara Elena memanggilku dengan nada yang sedikit malu-malu.
"Ah, terima kasih, ya... Aku hanya... merasa sedikit, sangat sedikit... senang."
"Hm? Senang untuk apa?"
"Tentu saja untuk prinsip kesetaraan itu... Kau tahu sendiri, hampir seluruh siswa bangsawan di sini sangat menentang keras prinsip itu..."
"Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya mengutarakan pendapat logis yang sudah sepantasnya diucapkan."
"Y-ya... pokoknya, terima kasih..."
"Sama-sama."
Sepertinya ia menyimpan cukup banyak keresahan terkait prinsip kesetaraan tersebut.
Dalam waktu yang relatif singkat ini, aku merasa berhasil membangun hubungan yang sedikit lebih baik dengan Elena.
"Fiuh, akhirnya selesai juga..."
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa pelajaran jam keempat telah usai. Agenda selanjutnya adalah jam istirahat makan siang, yang juga merangkap sebagai waktu istirahat utama di siang hari.
"Kau... daya fokusmu sungguh luar biasa, ya. Bahkan anak-anak lain di sekitar kita sampai dibuat melongo keheranan. Senang rasanya melihatmu belajar dengan seserius itu."
"Yah, kalau aku sampai berani mengganggu jalannya pelajaran, aku mungkin akan ditusuk dengan pena. Setidaknya, begitulah ancaman yang sering kudengar..."
Sebagai langkah antisipasi, aku menanggapi pujiannya dengan candaan ringan agar tidak memancing kecurigaan yang berlebihan.
Kini, setelah isi tas sekolahku diganti dengan buku-buku pelajaran yang sesungguhnya, membuat onar atau tertidur di kelas bukanlah pilihan yang bisa kuambil. Atau lebih tepatnya, itu bukanlah sesuatu yang pantas untuk kulakukan.
"Hmm. Mungkin ini hanya perasaanku saja, ya. Tapi saat kau melontarkan kalimat 'Aku mungkin akan ditusuk dengan pena', entah kenapa firasatku mengatakan kalau kalimat itu secara spesifik ditujukan padaku."
"Tentu saja aku tidak bermaksud menuduhmu begitu, tapi ya..."
"Oh, benarkah? Kalau begitu, maafkan aku karena telah salah sangka. Tapi sepertinya kau tidak perlu terlalu mencemaskan hal konyol semacam itu. Mana ada orang waras yang berani mencari gara-gara dengan iblis."
"Siapa yang kau panggil iblis?"
"Fufu, bukankah kau sendiri yang memulai perang kata-kata kasar denganku tadi?"
"Yah, karena kau sendiri yang mengatakannya, kurasa dugaanmu itu benar..."
Setelah aku menyatakan persetujuanku terhadap prinsip dasar Akademi Ravelwarts───yakni 'Seluruh siswa setara'───jurang pemisah antara aku dan Elena secara bertahap mulai menyusut seiring berjalannya waktu.
Selama di dalam kelas, ia mulai terbiasa mengajakku untuk duduk bersebelahan dengannya. Dan setiap kali aku sedang sibuk mencatat penjelasan guru dengan wajah tegang, ia akan dengan jahilnya menggambar corat-coret kecil yang lucu—meskipun jujur saja kemampuan menggambarnya agak pas-pasan—di sudut buku catatanku, semata-mata hanya untuk menghiburku.
"'Yah, karena kau sendiri yang mengatakannya, kurasa dugaanmu itu benar'... Jadi sedari tadi kau memang sedang menyindirku, ya? Apa kau benar-benar ingin merasakan sensasi ditusuk dengan pena, huh?"
Masih dengan pena tergenggam di tangannya, Elena dengan luwes memutar posisinya sehingga bagian ujung pena yang tajam kini terarah tepat ke arahku, persis seperti ancaman seorang pembunuh bayaran dengan belatinya.
"Aku mohon ampun yang sebesar-besarnya."
Aku segera mengangkat kedua tanganku ke udara, memberikan isyarat bahwa aku menyerah dan hanya bercanda. Seolah puas dengan reaksi panikku, ia membalasnya dengan senyum jahil seraya berkata, "Tidak apa-apa", menurunkan kembali penanya.
"Tapi ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa itu?"
"Apa rencanamu untuk makan siang hari ini? Kau tidak berniat egois dengan memaksa Sia untuk mengurus semuanya lagi, kan?"
"Ah, tenang saja, rencananya hari ini aku hanya akan bersantai dan menikmati waktu sendirian."
"Bersantai sendirian?"
"Ya, bersantai yang dalam artian harfiah bersantai."
Tentu saja aku tidak bisa jujur padanya bahwa 'Aku sedang mempertimbangkan untuk tidak makan siang sama sekali'.
Hanya ada satu alasan kuat di balik keputusanku untuk melewatkan makan siang.
(Mengingat posisiku saat ini yang sedang dijauhi oleh seluruh murid di angkatanku, mentalku sama sekali tidak cukup kuat untuk melangkah masuk ke tempat komunal yang dipenuhi oleh lebih banyak orang...)
Membayangkan pemandangan di mana semua orang akan berhamburan menjauh layaknya kawanan laba-laba yang disiram air panas begitu aku menginjakkan kaki di ruang makan utama... rasanya terlalu mudah dan mengerikan untuk dibayangkan.
Mungkin terdengar berlebihan, namun probabilitas terjadinya skenario memalukan itu sangatlah tinggi, sehingga aku sama sekali tidak bisa melangkah masuk ke sana dengan perasaan tenang dan damai.
'Kalau sedari awal kau sudah berniat untuk makan sendirian, setidaknya kau bisa menyuruh Sia untuk membawakan makan siangmu ke tempat yang lebih sepi...', mungkin begitulah saran yang akan dilontarkan Elena. Dan sejujurnya, sarannya itu sama sekali tidak salah.
Namun, setelah semua perlakuan kejam dan nirmanusiawi yang telah kutimpakan pada Sia, opsi meminta tolong padanya sama sekali tidak terlintas dalam benakku. Aku murni hanya ingin memberinya kebebasan penuh, waktu luang di mana aku bisa mengamatinya dari kejauhan, tersenyum bahagia saat menghabiskan waktu bersama teman-temannya yang sesungguhnya.
"Atau jangan-jangan... kau sebenarnya tidak tahu bagaimana cara memesan makanan di ruang makan utama? Gara-gara selama ini kau terlalu bergantung dan selalu menyuruh-nyuruh Sia?"
"Ayolah, jangan meremehkanku. Tentu saja aku tahu caranya. Kau tinggal melihat-lihat papan menu, lalu menyebutkan pesananmu pada staf di sana, kan?"
"Oh, benarkah begitu? Lalu... kebohongan apa lagi yang sedang berusaha kau tutupi dariku kali ini?"
Sembari menautkan alisnya, Elena tampak berpikir keras selama beberapa detik, sebelum akhirnya kedua matanya membelalak kaget karena berhasil menyimpulkan sesuatu.
"Byleth, maukah kau ikut makan siang bersamaku dan Sia?"
"Hah?"
"Hari ini aku sudah janjian untuk makan siang bersama Sia. Kalau ada aku dan Sia yang menemanimu, kau tidak perlu merasa cemas lagi dengan tatapan orang-orang, kan?"
Memang benar, keberadaan mereka berdua di sisiku pasti akan meredakan kecemasanku secara signifikan.
Meskipun begitu, aku tetap menggelengkan kepalaku menolak.
"Aku sangat menghargai tawaran baikmu, tapi dengan berat hati aku harus menolaknya. Mengingat hari ini aku sudah memberinya kebebasan penuh, aku yakin Sia pasti akan sangat terkejut kalau tiba-tiba majikannya muncul merusak suasana. Dan lagi, aku sama sekali tidak ingin membebani pikirannya dengan kehadiranku."
"Tapi... bukankah menurutmu ia justru akan merasa sangat bahagia jika kau ikut bergabung?"
"Hmm?"
"Atau mungkin kau berpikir sebaliknya?"
"Tidak, aku sama sekali tidak berpikir begitu."
Elena menatapku dengan raut wajah kebingungan yang teramat sangat, matanya terbelalak lebar seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Ia tidak sedang bercanda, ia benar-benar kesulitan memahami jalan pikiranku.
"Dengar, meskipun terdengar sangat menyedihkan jika aku sendiri yang mengatakannya, tapi aku benar-benar tidak bisa menemukan satu pun alasan logis mengapa Sia harus merasa bahagia dengan kehadiranku. Tidakkah kau berpikir kehadiranku justru hanya akan merusak suasana hatinya?"
"──Pfft."
Sepertinya ia sedang berusaha mati-matian untuk menahan tawa, karena kudua pipinya tiba-tiba saja menggembung besar seperti balon yang siap meledak.
"Ayolah, ini tidak lucu. Kalau kau yang datang, itu beda cerita. Tapi kalau aku yang tiba-tiba muncul di sana, aku sungguh tak bisa membayangkan alasan apa yang bisa membuatnya senang. Bukankah kedatanganku hanya akan menjadi parasit yang mengganggu ketenangannya?"
"Pfft, fufu... kumohon, berhentilah memasang wajah serius dan putus asa seperti itu saat kau sedang menistakan dirimu sendiri."
"Tolong jangan tertawa sekeras itu, omonganmu barusan rasanya menancap tajam di dadaku, tahu."
"M-maafkan aku, habisnya ucapanmu barusan sangat lucu."
Percakapan ini sukses membangkitkan deja vu pada percakapan kami tadi pagi.
Meskipun tanggapanku barusan jelas-jelas bernada frustrasi, Elena tetap saja bisa mempertahankan ketenangannya dan terus tertawa lepas dengan cara yang begitu anggun. Aku sungguh ragu apakah aku bisa meniru tingkat keanggunannya itu.
"O-oke, oke, aku sudah baikan sekarang."
"Kau yakin?"
Setelah berdeham pelan untuk menormalkan napasnya, meskipun rona merah di wajahnya akibat terlalu banyak tertawa masih belum sepenuhnya pudar, ia kembali memasang raut wajah serius.
"Ini murni hanya pendapat pribadiku, ya. Tapi menurutku, jika Byleth yang datang adalah sosok yang sekarang duduk di hadapanku ini, Sia pasti akan sangat kegirangan. Tadi pagi saja ia terlihat sangat antusias dan bersemangat saat menceritakan perubahan sikapmu padaku."
"Hah? Meskipun kau bilang begitu, aku tetap yakin kehadiranku hanya akan menjadi beban emosional baginya. Untuk saat ini, aku hanya ingin ia benar-benar menikmati waktu kebebasannya."
"......"
Itulah kejujuran terdalam dari isi hatiku.
"Byleth... kau ini benar-benar sudah berubah 180 derajat, ya? Ah! Jangan bilang... kau sudah mulai jatuh pesona pada keimutan Sia?"
"Menggunakan kata 'jatuh pesona' rasanya terlalu berlebihan. Jika harus mendeskripsikan perasaanku padanya, kata yang paling tepat adalah 'rasa hormat'."
"M-menghormati pelayanmu sendiri?"
"Tepat sekali. Maksudku, bukankah gadis itu sangat luar biasa? Usianya dua tahun lebih muda dariku, tapi ia sanggup bangun pagi-pagi buta setiap harinya, menyiapkan segala kebutuhanku dengan sempurna, bekerja tanpa kenal lelah, dan di saat yang sama ia juga mampu berprestasi dalam studinya tanpa pernah mengeluh sedikit pun, meskipun semua itu adalah tuntutan pekerjaannya. Mustahil bagiku untuk bisa meniru dedikasi dan kegigihannya itu."
"............"
"Eh? Elena? Kenapa kau menatapku dengan tatapan ngeri seperti itu? Seolah-olah aku ini adalah monster jejadian."
"M-maaf... rasanya memang sedikit aneh mengatakannya, tapi untuk sesaat tadi... kau sama sekali tidak terlihat seperti Byleth yang kukenal."
"Bagaimana kalau kita pergi ke klinik sekolah sekarang? Aku akan dengan senang hati mengantarmu memeriksakan matamu."
"A-ayolah, aku tidak sedang bercanda!"
"Baiklah, baiklah."
(Fiuh... hampir saja jantungku copot karena dicecar dengan pernyataan setajam itu...)
Tiba-tiba saja sekujur tubuhku terasa lemas, seolah-olah jatah umurku baru saja terpangkas sepuluh tahun akibat serangan jantung mendadak.
"...Tapi aku bisa mengerti posisimu. Kalau rasa hormatmu padanya sudah sedalam itu, kurasa aku tidak berhak memaksamu lebih jauh lagi."
"Ya. Karena itu, nikmatilah makan siang kalian berdua tanpa kehadiranku."
"Tentu saja, kami berdua pasti akan menikmati makan siang yang sangat menyenangkan."
"Heh, nadamu terdengar sangat percaya diri."
Andai saja aku bisa menarik kembali kata-kata bodoh barusan.
"Tentu saja aku percaya diri. Karena aku sudah berencana untuk menceritakan secara detail percakapan kita barusan—tentang betapa besarnya rasa hormatmu pada Sia—kepada gadis malang itu."
"Eh-, tu-tunggu dulu, jangan lakukan itu! Itu ide yang sangat buruk!"
"Fufu, sayang sekali. Aku sama sekali tidak punya kewajiban untuk tunduk pada perintahmu, Tuan Bangsawan."
Dengan senyum kemenangan yang tercetak jelas di wajahnya, Elena menjulurkan lidah merah mudanya dengan gestur mengejek yang kekanak-kanakan, 'Nyah!'.
"Kalau begitu, aku duluan, ya. Aku sudah tidak sabar menantikan reaksi manis Sia saat mendengar cerita ini."
"Ah───"
Tanpa sudi menunggu balasanku, Elena dengan langkah seringan bulu melenggang pergi meninggalkan kelas.
"Haaah... Aku hanya bisa berdoa semoga Sia tidak menelan mentah-mentah cerita hiperbola dari Elena, tapi mengingat sifat polosnya... ia kemungkinan besar akan mempercayainya... selama sikapnya tidak mendadak berubah aneh padaku nanti, kurasa semuanya akan baik-baik saja..."
Aku sama sekali tidak cemas identitasku sebagai reinkarnator akan terbongkar.
Yang paling kucemaskan saat ini adalah bagaimana Sia akan merespons cerita tersebut, dan apakah sikapnya akan berubah drastis padaku.
(Yah, meratapi hal yang sudah terjadi juga tidak ada gunanya... Lebih baik aku pergi mencari ketenangan di perpustakaan dan membunuh waktu di sana... Seharusnya pada jam istirahat seperti ini, tempat itu cukup sepi dari jangkauan murid-murid.)
Setelah dengan cepat mengatur ulang prioritas pikiranku, aku segera beranjak dari kursiku dan melangkah mencari tempat persembunyian yang aman dan tenang.
PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER
0 Comments