Header Ads Widget

Prolog V1 Kizoku Reijou. Ore ni Dake Natsuku Light Novel Bahasa indonesia

 

Larut malam, sekitar pukul satu dini hari.

Sebuah sepeda motor melaju membelah jalanan pegunungan yang gelap gulita. Satu-satunya penerangan yang bisa diandalkan hanyalah cahaya bulan pudar yang nyaris tak mampu menembus pekatnya malam, serta sorot lampu depan dari sepeda motor tersebut.

"Seperti biasa, di sini gelap sekali. Andai saja mereka mau sedikit lebih sering merawat jalan ini... pasti akan sangat membantu."

Bergumam pada dirinya sendiri, pemuda yang mengendarai sepeda motor itu terus melaju dengan kecepatan konstan.

Rute ini adalah jalan tercepat untuk pulang dari tempat kerjanya. Ia selalu melewatinya meskipun mulutnya tak pernah berhenti mengeluh.

"Aah, aku harus cepat pulang dan tidur. Besok aku harus lembur lagi..."

Pemuda itu adalah seorang pekerja kantoran, salah satu dari mereka yang kerap dijuluki sebagai 'budak korporat'. Hari itu adalah hari yang biasa baginya, rutinitas yang tak ada bedanya dengan hari-hari sebelumnya. Namun, keseharian yang biasa itu bisa hancur berkeping-keping hanya dalam sekejap akibat kecelakaan atau bencana.

Sialnya, hari ini adalah hari nahas tersebut bagi sang pemuda.

"Hah───!?"

Tiba-tiba, mata pemuda itu terbelalak lebar. Dari balik rimbunnya hutan, sesosok bayangan melompat ke tengah jalan. Tersorot oleh lampu depan kendaraannya, bayangan itu ternyata adalah seekor kucing.

"Ah, brengsek───!"

Seketika, ia secara refleks membanting setang ke kanan demi menghindari hewan tersebut. Namun, hal itu tidak berakhir baik, setidaknya bagi dirinya sendiri.

"Ah..."

Terdengar suara benturan tumpul. Saat ia memproses apa yang sebenarnya terjadi, semuanya sudah terlambat. Tepat di depannya, menjulang pagar pembatas jalan yang memisahkan aspal dengan jurang curam.

Tidak ada waktu lagi yang tersisa untuk berkhayal maupun berpikir. Dalam sensasi yang terasa seperti gerakan lambat, kata 'kematian' seketika melintas di benaknya.

Roda depannya menghantam pagar pembatas dengan momentum penuh. Seiring dengan benturan luar biasa keras yang tercipta, roda belakangnya terlempar ke udara. Tubuhnya pun ikut terpelanting dari sepeda motor, melayang melintasi bibir tebing.

"Gah───!"

Pada saat ia menyadari segalanya, sudah mustahil baginya untuk melawan gravitasi.

"Aaaaaaahhhhhh──────!"

Entah berapa detik berlalu dalam jeritannya... sebelum tubuhnya menghantam tanah dengan keras, menjemput ajalnya.

Namun...

"Aaaaaaaahhh!!!!"

Masih berteriak seolah-olah kenyataan mengerikan itu terus berlanjut, pemuda itu langsung terbangun dan terduduk tegak. Dan ia segera menyadari ada sesuatu yang ganjil.

"...Hah!? Hah? Eh?"

Tubuhnya yang seharusnya hancur terjatuh dari tebing sama sekali tidak terluka.

Bukan hanya itu, tubuh yang biasa ia kenali kini entah bagaimana tampak lebih kurus, dan kulit di lengannya pun tidak lagi kecokelatan akibat paparan sinar matahari.

"...Hah? A-apa ini? Apa-apaan ini!?"

Ia sedang mengenakan piyama yang sangat lembut. Dan saat ini, ia berada di atas sebuah ranjang yang luar biasa besar, menyisakan begitu banyak ruang kosong bahkan jika ia merentangkan tangan dan kakinya.

"Tidak, tidak mungkin... tidak tidak tidak tidak tidak..."

Otaknya tidak bisa memproses semua ini. Baru saja ia mengendarai sepeda motor dan mengalami kecelakaan maut. Meskipun ingatan itu begitu nyata, tempatnya membuka mata saat ini benar-benar berbeda.

"Apa... apa yang sebenarnya terjadi...?"

Masih dilanda kebingungan, ia bangkit dari ranjang dan memijakkan kakinya di atas lantai. Perasaan cemas menyelimutinya seiring pandangannya menyapu sekeliling kamar tidur tersebut.

Pada saat itulah, matanya menangkap pantulan dirinya sendiri dari sebuah cermin dengan bingkai hiasan yang mewah.

"──────!?"

Pemandangan itu seketika membuat pikirannya kosong melompong.

Sosok yang terpantul di cermin memiliki rambut cokelat yang tersisir rapi. Sepasang mata berwarna hijau besar. Serta proporsi wajah yang asing namun menawan, dari bentuk hidungnya hingga bibirnya.

Ia mengucek matanya kuat-kuat lalu kembali menatap cermin, namun tak ada satu pun hal yang berubah.

"Siapa... siapa pria tampan ini... Ah, apakah ini Byleth-kun... Hm? Tunggu, kenapa aku bisa tahu namanya...?"

Tepat ketika ia menggumamkan kalimat itu tanpa sadar, sebuah sensasi aneh mengalir deras ke seluruh tubuhnya.

"..."

Ia terdiam menatap dirinya di cermin selama beberapa detik. Hingga akhirnya, ia menyadarinya.

Ingatan dari kehidupannya di masa lalu. Ditambah dengan ingatan samar-samar mengenai seorang anak laki-laki bernama Byleth. Kini, kedua kepingan memori itu melebur menjadi satu.

(Tidak mungkin... ini gila... Ini seperti fenomena kerasukan, atau reinkarnasi, atau semacamnya, tapi...)

Tidak ada penjelasan logis mana pun yang bisa menjawab mengapa fenomena magis ini bisa terjadi. Namun, meskipun situasinya sangat tidak masuk akal, anehnya ia tidak merasa terlalu panik. Mungkin berkat ingatan Byleth yang telah berpadu dan berfungsi dengan lancar, satu-satunya hal yang masih mengganjal pikirannya hanyalah fakta bahwa ia kini telah 'bereinkarnasi'.

Sisa ingatan lainnya perlahan mulai terasa wajar.

Bahwa tempat ini adalah sebuah negara bernama Giselpaine. Bahwa sebuah negara bernama Jepang tidak pernah eksis di dunia ini. Dan bahwa dirinya adalah Byleth, putra tunggal berusia delapan belas tahun dari keturunan keluarga Viscount.

Kedua orang tuanya saat ini sedang sibuk melakukan pengembangan di wilayah kekuasaan lain, sementara kakek dan neneknyalah yang mengambil alih pengelolaan wilayah ini untuk sementara waktu. Ia juga memiliki para pelayan yang selalu siap sedia melayaninya, dan masih banyak lagi.

"Sungguh, semua ini terasa sangat aneh... Baiklah, kalau begitu, sekarang seharusnya sudah masuk waktu sarapan... Dan setelah selesai makan, aku juga harus bersiap pergi ke akademi..."

Ia mencoba menguraikan situasinya saat ini dengan tenang, menarik benang merahnya satu per satu dari dalam ingatan. Sejujurnya, ia ingin meluangkan waktu sejenak untuk menata pikirannya dengan benar, namun ia tidak mau menarik perhatian banyak orang jika tiba-tiba beralasan sakit untuk beristirahat.

"Untuk saat ini, aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti alurnya... Lagi pula, tidak akan ada satu orang pun yang mengerti meskipun aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi..."

Tepat ketika ia memantapkan niatnya untuk mengambil kebijakan bertindak seiring waktu berjalan ini, hal itu terjadi.

Tok... tok...

"Ihh!?"

Di saat yang luar biasa presisi, pintu ganda kamarnya yang terhubung langsung dengan lorong diketuk, disusul oleh suara seseorang.

"Byleth-sama. H-hari sudah pagi..."

Terdengar sebuah suara yang lembut dan sedikit ragu-ragu dari balik pintu.

(Itu suara pelayan pribadiku, Sia... Dia pasti sangat sibuk, tapi ia tetap datang untuk membangunkanku setiap hari. Gadis itu benar-benar melakukan yang terbaik...)

Memang, itu sudah menjadi tuntutan pekerjaannya, jadi wajar saja ia melakukannya. Namun, Byleth yang baru tidak berpikir demikian.

Ia baru saja bermaksud meresponsnya dengan sopan sebagai bentuk apresiasi, ketika tiba-tiba sebuah sentakan keras menyengat otaknya.

Seketika, kilasan ingatan melintas. Sesosok gadis mungil berbalut seragam pelayan. Rambut pirang keputihannya yang lembut diikat dengan pita merah muda menjadi gaya twintail. Sepasang matanya yang besar dan berwarna biru tampak berputar kebingungan. Dengan wajahnya yang masih memancarkan kesan kekanak-kanakan, gadis itu—Sia—tengah berdiri menunduk di hadapan Byleth, sementara sang majikan menatapnya dengan alis yang berkerut tajam.

[Hei, Sia. Kau membangunkanku lebih lambat dari biasanya hari ini. Apa saja sih yang kau kerjakan? Kau paham tidak, kalau kau itu adalah pelayan pribadiku?]

[S-Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya...! T-tapi, saya sudah mengetuk pintu tepat pada waktunya, hanya saja Byleth-sama tidak merespons───]

[Haaah. Beraninya kau berpikir kalau aku akan kembali tidur setelah dibangunkan.]

[Ah...]

Sambil mempertahankan sikapnya yang congkak dan angkuh, Byleth berbicara dengan nada yang begitu jahat.

[Seperti biasa, kau memang tidak berguna, ya? Sungguh, aku akan segera menyingkirkan dan menggantimu dengan pelayan lain.]

[Saya sungguh minta maaf...! T-tolong, jangan lakukan itu... tolong maafkan saya...]

[Berapa kali aku harus mendengar permintaan maaf omong kosong itu? Cepat kerjakan tugasmu dengan benar. Pelayan tidak berguna sepertimu hanya akan menjadi batu sandungan.]

[Saya berjanji akan melayani Anda dengan lebih baik lagi ke depannya, jadi tolong maafkan saya... Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya...]

Walaupun mendapat perlakuan yang sama sekali tak masuk akal, gadis itu tetap menunduk dalam-dalam dan memohon ampun.

Keluarganya mengemban misi khusus untuk melayani keluarga bangsawan ini selama beberapa generasi lamanya. Sia baru berusia 16 tahun. Usianya dua tahun lebih muda dari Byleth, dan ia juga merupakan seorang siswi yang terdaftar di sekolah yang sama: Akademi Raverwarts.

Gadis itu selalu mengerahkan segala kemampuannya demi mendukung majikannya. ...Namun, Byleth di masa lalu selalu mempertahankan sifat dominannya, terus-menerus mengintimidasi gadis malang itu setiap harinya.

Sebagai pewaris tunggal dari keluarga Viscount berpangkat tinggi yang nyaris tidak pernah menerima penolakan dari siapa pun, sosok Byleth tumbuh menjadi pemuda yang sangat arogan. Akibat dari tabiat buruknya tersebut, desas-desus pun mulai menyebar luas di luaran sana, mengecap dirinya sebagai 'pemuda yang sombong dan kejam'.

Semua rentetan ingatan itu mengalir deras, membanjiri benaknya secara bersamaan.


PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER

Post a Comment

0 Comments