"H-Hah! A-Aku jatuh cinta pada pandangan pertama! Tolong berkencanlah denganku!" "Tidak." "Sial, kau cantik sekali. Jadilah milikku." "Mati sana." "E-Ehm, Utsurugi-san, kau benar-benar cantik, jadi—" "Selamat tinggal."
Semenjak membangkitkan Bakat Lux-ku, jumlah pernyataan cinta yang kuterima—baik dari laki-laki maupun perempuan—melonjak drastis. Dulu, mungkin hanya terjadi satu atau dua kali dalam satu semester. Sekarang, aku terpaksa menahan lelucon konyol ini dua atau tiga kali sebulan.
"Ini sama sekali tidak masuk akal."
Kata-kata itu meluncur dari mulutku saat aku keluar dari kelas. Mereka semua hanya menilai orang dari penampilannya saja. Lagipula, apa sebenarnya "cinta pada pandangan pertama" itu?
Jatuh cinta pada seseorang hanya karena wajahnya adalah hal yang benar-benar dangkal. Jika akal sehat adalah hal yang membuat kita menjadi manusia, maka mereka yang membiarkan insting mengendalikan emosi mereka tidak lebih baik dari binatang.
"Bodoh sekali."
"Ada apa?"
Aku mengangkat pandanganku yang tertunduk dan melihat Hina, dengan ransel merah mudanya yang terpasang erat, sedang menatapku. Senyum tipis mengembang di bibirku.
"Bukan apa-apa." "Benarkah?" "Ya. Ayo pulang."
Sambil membenarkan letak ransel abu-abuku, aku menyamakan langkah di samping temanku.
Hampir tiga tahun telah berlalu sejak aku mendapatkan teman pertamaku. Dan di saat yang sama, langkah pertama menuju tujuanku sudah di depan mata—ujian masuk untuk akademi pelatihan Excia, sang Penjaga Bersayap.
◇◇◇◇◇
——Tiga tahun kemudian. White Scales of Cyclic Protection: Prim Libra – Akademi Pelatihan Excia Terafiliasi.
"Utsurugi-san... Akhirnya... akhirnya..."
Di bawah tatapan perawat itu, aku memalingkan wajahku dengan canggung.
"—Akhirnya, aku bisa menyatakanmu [sembuh total]."
Lengan dan kakiku masih terbalut lapisan perban, tak ada satu inci pun kulit yang terlihat. Bahu kananku yang terkilir ditahan agar tidak bergerak menggunakan gendongan lengan.
Selama lebih dari dua tahun sejak masuk akademi, aku terus-menerus berada dalam kondisi cedera, menjadikanku pelanggan tetap di ruang UKS. Tidak heran—aku telah menghabiskan setiap detik dari dua tahun tersebut berlatih menggerakkan tubuhku sendiri menggunakan telekinesis.
Rasanya seperti mengendalikan boneka dengan benang tak kasat mata. Dan setiap kali tekanannya menjadi terlalu berlebihan, tubuhku pun hancur.
Latihan tanpa henti itu memberiku gelar sebagai "anak ajaib". Meskipun begitu, mengingat betapa mudahnya Hina menguasai "Akselerasi" di sampingku, mungkin aku hanyalah si "jenius" jika dibandingkan dengan dirinya yang "monster".
Tapi hari ini, pada akhirnya, kehidupanku sebagai orang yang penuh cedera telah berakhir. Setelah dua tahun menerima perawatan yang nyaris tanpa henti, aku sangat bisa memahami kelegaan perawat tersebut.
"Terima kasih."
Aku melesat keluar dari ruang UKS. Di tengah pelarianku, kulempar perban dan gendongan lengan itu ke tempat sampah dan bergegas menuju pintu masuk.
"Maaf membuat kalian menunggu—!"
Mendengar suaraku, Hina dan satu orang lagi menoleh.
"Kami baru saja menunggu sebentar, kok."
Youtome Rinne. Seorang Excia yang langsung mengklaim gelar Ace sejak ia bergabung dengan Prim-Libra—kini diakui sebagai yang terkuat di cabang ini. Dan selama seminggu ke depan, dia akan menjadi instruktur kami dalam pelatihan lapangan.
——Hujan.
"Haah...! Hah...!"
Seorang wanita tergeletak roboh tak jauh dariku, sementara tanganku yang terulur masih gemetar. Seorang wanita yang dadanya tertusuk tembus oleh pedang panjang.
Di sampingnya, Hina duduk membeku di atas tanah yang basah, menatap kosong pada darah yang menyebar di bawah wanita itu. Lalu, tersadar kembali pada kenyataan, Hina menoleh cepat ke arahku dengan tatapan putus asa.
"Rui! Perawatan darurat—!!"
Sambil menurunkan lenganku, aku menggeleng pelan.
"Tidak ada gunanya. Aku menusuk jantungnya."
Berkat latihanku, tubuhku bergerak berdasarkan insting—langsung memberikan serangan fatal.
"……!"
Hina menggigit bibirnya, menolak memalingkan pandangan dari nyawa yang perlahan memudar di hadapannya.
Sekalipun orang itu adalah anggota geng perampok yang kejam. Sekalipun dia adalah orang yang mencoba membunuh kami beberapa saat yang lalu. Hina tetap menghargai sebuah kehidupan.
Di era ini, di mana kematian telah lama kehilangan bobotnya, nilai-nilai yang dipegang Hina sangatlah ketinggalan zaman. Pihak akademi telah menegurnya berkali-kali karena hal itu.
Tapi... aku tidak membenci bagian dirinya yang itu. Karena aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti itu.
——Namun.
Aku menatap tanganku yang baru saja merenggut nyawa seseorang dalam satu serangan. Kelihatannya tidak ada yang berbeda dari biasanya.
——Seharusnya tidak ada yang berbeda.
"…………"
Hujan terasa tidak wajar, begitu lebat menerpa kulitku. Dingin, namun anehnya terasa membakar.
…Menjijikkan.
Aku menatap tajam rintik hujan, tak mampu memahami alasannya. Hina hanya menatap kosong ke tanah. Lalu, dari sudut mataku, kulihat Instruktur Rinne berlari ke arah kami dengan wajah pucat.
◇◇◇◇◇
Kejadiannya berlangsung pada sore hari, seminggu setelah pelatihan lapangan kami dimulai.
Setelah menemukan tempat persembunyian geng perampok berantai, kami ditugaskan untuk menyerbunya berkoordinasi dengan beberapa tim lain. Yah, kata menyerbu mungkin agak berlebihan—karena hanya para ketua tim (Excia yang sudah resmi) yang akan masuk ke dalam.
Peserta pelatihan seperti kami ditempatkan di pintu keluar untuk mencegat tersangka yang kabur. Bukannya kami mengharapkan adanya aksi sungguhan. Terlebih lagi, mengingat Rinne—yang terkuat di cabang ini—yang memimpin penyerbuan tersebut.
——Sampai akhirnya, seorang anggota geng kembali ke tempat persembunyian itu dari luar.
Wanita itu mencoba lari, tetapi dengan mudah ditangkap oleh "Akselerasi" milik Hina. Lalu, pada saat itu juga—entah karena pengaruh Bakat Lux atau sekadar keberuntungan semata—tubuh Hina tiba-tiba terkunci dan tak bisa bergerak.
Tersangka itu mengangkat pisaunya— Dan sebelum pisau itu sempat menghujam, pedangku telah lebih dulu menembusnya.
Mengingatnya kembali, itu bukanlah kesalahan siapa pun. Hanya waktu yang tidak tepat. Tapi, tidak semua orang melihatnya seperti itu.
"KENAPA!? Aku meminta kalian untuk menghentikannya, bukan MEMBUNUHNYA!"
Ibu dari wanita yang telah kubunuh. Dialah yang telah memberi kami informasi tentang tempat persembunyian itu. Tim kami telah mengambil pernyataannya minggu lalu.
Sekarang, saat Rinne menjelaskan apa yang terjadi di dalam ruangan itu, aku hanya berdiri di luar dengan kepala yang berdenyut hebat.
Di era Bakat Lux ini, kematian telah menjadi hal yang sepele. Tapi, bukan berarti kehidupan juga menjadi sepele. Tak peduli apa kata masyarakat, akan selalu ada orang yang berduka atas kehilangan. Seorang perampok, seorang penjahat—itu tidak masalah. Nyawa mereka tidaklah ringan.
Dan nyawa wanita itu? Dia telah dicintai—oleh ibunya.
Tanpa kusadari, kata-kata ini meluncur dari mulutku.
"Tidak seperti... nyawaku..."
Aku tidak menyesalinya. Aku tidak pernah menyukai ibuku. Aku sama sekali tidak merasa cemburu. Seharusnya aku tidak merasakan apa pun.
——Lalu, kenapa?
Pandanganku bergoyang, pikiranku kacau balau.
"Rui...!"
Hina memelukku. Dia pasti sudah memahaminya sejak awal. Tentang beratnya sebuah nyawa.
Dan kemudian, aku menyadarinya. Alasan mengapa telekinesis-ku hanya bisa menggerakkan benda mati—atau diriku sendiri. Karena bagiku, tidak ada nyawa yang lebih ringan daripada nyawaku sendiri.
"——Ah."
Terbenam di dada rekan kerjaku yang jauh lebih mungil, aku menyadari—aku menangis.
Deg. Deg. Detak jantungnya bergema menyentuhku. Suara dari kehidupan yang telah kulindungi dengan cara merenggut kehidupan lainnya. Suara dari cinta yang tak akan pernah bisa kumiliki.
Bahkan hingga sekarang, gema dari kejadian di hari itu menolak untuk pergi dariku.
◇◇◇◇◇
——Apakah ini yang dinamakan obsesi? Keinginan egois ini—untuk tidak pernah melepaskan Hina yang berharga dari genggamanku?
Aku menghentikan tongkat batonku, dan mengepalkan tanganku yang bebas. Musik pun berhenti dengan sangat serempak.
Lalu— Tepuk tangan riuh meledak, sama derasnya dengan hujan badai.
——Layaknya rintik hujan yang menghantam.
Aku mendongak. Cahaya masuk melalui kaca patri, memandikan panggung dengan sinar. Latar yang begitu mewah. Sama sekali tidak seperti hari-hari itu di sudut yang kumuh, saat aku mengayunkan lengan dan berayun sendirian.
Semuanya telah berbeda sekarang. Berubah secara mutlak, tak bisa ditarik kembali.
0 Comments