Header Ads Widget

Chapter 3.5 - Interlude: Gema (Bagian 1)

 


Musuh Oshiku Volume 2 Chapter 3.5 Interlude: Gema (Bagian 1)

Aku sangat menyukai musik.

Ayahku kabarnya menghilang saat aku masih kecil, meninggalkan aku dan ibuku. Karena itu, aku mendapat kamarku sendiri di sebuah apartemen kecil yang hanya seukuran enam tikar tatami.

Aku bahkan tidak pernah bertanya pria seperti apa dia sebenarnya. Dia mungkin hanya pria brengsek lainnya yang tak berguna. Dan wanita yang jatuh cinta padanya—ibuku—juga sama tidak bergunanya. Setiap malam, dia membawa pulang pria yang berbeda-beda, bertahan hidup dari uang yang mereka berikan.

Di dunia ini, tidur dengan seorang wanita tidaklah murah. Pria-pria yang bahkan tidak bisa membangkitkan Lux—sebuah bakat bawaan—bekerja keras hingga kelelahan, menabung hanya untuk menghamburkan penghasilan mereka demi fantasi satu malam. Dan para wanita yang bergantung pada pria-pria semacam itu untuk bertahan hidup, kondisinya bahkan jauh lebih menyedihkan.

Setidaknya bagiku, ibuku adalah makhluk yang sangat hina. Andai saja dia membesarkanku dengan uang hasil menjual dirinya, mungkin keadaannya akan berbeda. Tapi aku tidak seberuntung itu.

Aku sama sekali tidak punya ingatan pernah dirawat dengan baik. Aku hanya makan sekali sehari—yaitu makan siang dari sekolah. Kalau bukan karena kebijakan pendidikan gratis dari pemerintah untuk mengatasi angka penurunan kelahiran, aku bahkan tidak akan pernah bisa masuk sekolah dasar. Aku pasti sudah lama mati kelaparan.

Tapi, bukan berarti sekolah adalah tempat yang nyaman bagiku. Aku tidak pernah masuk tempat penitipan anak atau TK, jadi SD adalah pandangan pertamaku ke dunia luar. Itu juga pada dasarnya adalah pertama kalinya aku berinteraksi dengan orang-orang.

Ibuku tidak pernah mempedulikanku, jadi kuanggap memang begitulah cara kerja sebuah hubungan—aku pun hampir tidak pernah bicara. Aku belajar kosakata dari radio, yang selalu kunyalakan untuk meredam suara-suara desahan dari kamar sebelah. Gadis dengan latar belakang seperti itu jelas tidak punya harapan untuk bisa berbaur dengan masyarakat.

Dalam sebulan setelah mulai sekolah, aku langsung dikucilkan. Tapi aku tidak pernah mempertanyakannya. Aku tidak bisa. Bagiku, itu adalah hal yang normal. Beberapa gadis berhati baik mencoba mengajakku bicara, tapi binar di mata mereka membuatku muak, jadi aku mengabaikan mereka.

Sekolah jauh dari kata nyaman. Namun, itu masih jauh lebih baik daripada berada rumah.

Dari surga kecil yang sepi itu, aku berjalan pulang dengan langkah lambat dan enggan. Kamar tepat setelah pintu masuk adalah milik ibuku—kamar tidur sekaligus tempat kerjanya. Aku menahan napas, berlari melewatinya, dan mengunci diri di kamarku sendiri di bagian belakang.

Terkadang, kamarku yang sempit anehnya terasa sangat luas. Di hari-hari seperti itu, aku akan menyalakan radio dan meringkuk di sudut ruangan. Aku tidak pandai bicara, tapi aku suka obrolan ceria para penyiar radio. Cara mereka bertukar candaan dengan bintang tamu terdengar menyenangkan.

Tapi yang lebih kusukai adalah musik. Aku mengagumi suara jernih dari siaran FM. Sambil mendengarkan, kabut yang menggumpal di dadaku perlahan akan memudar.

Sambil memeluk lutut, aku berayun mengikuti irama. Kadang, aku menggerakkan tanganku mengikuti ketukan. Mengangkat lenganku dengan ringan membuatku merasa lebih ringan. Merentangkannya lebar-lebar membuat hatiku terasa lapang. Menurunkannya perlahan membuatku merasa tenang.

—Aku sangat menyukai musik.

Masalahnya adalah saat hari hujan. Apartemen kami murah, jadi suara rintik hujan yang menghantam atap bergema dengan keras. Bahkan suara jernih siaran FM pun akan menjadi kacau karena suara bisingnya.

Aku membenci hujan itu, sedikit saja.

♢♢♢♢♢

Di antara semua hal terburuk tentang ibuku, ada dua hal yang paling membuatku muak.

Pertama, wajahnya. Banyak ibu dan anak perempuan yang wajahnya tidak mirip, tapi sialnya, aku sangat mirip dengannya. Setiap kali seseorang memuji penampilanku, aku merasa mual. Apakah wajah ibuku yang kubenci, atau pujian tidak langsung untuknya? Mungkin keduanya.

Dan kedua—Yang lebih buruk dari wajahnya adalah Lux miliknya, bakat bawaannya. Efeknya adalah [Charm / Pesona]. Sebuah kemampuan licik yang menarik hati orang-orang di luar kehendak mereka.

Dalam praktiknya, kemampuan itu lemah—hanya cukup untuk menarik pandangan seseorang. —Karena begitu perhatian orang-orang tertuju padanya, pada akhirnya mereka akan tetap terpaku pada wajah cantiknya.

Biasanya, Lux yang memengaruhi pikiran sangat diawasi oleh pemerintah. Tapi miliknya terlalu lemah untuk dianggap penting—hanya cukup untuk menjerat segelintir pria. Aku sering berharap kekuatannya lebih dari itu. Jika begitu, setidaknya pihak [White Scales of Prim-Libra] akan melabelinya sebagai ancaman.

Namun masalah sebenarnya adalah ini: Lux dan Umbra mereka—kutukan kompensasinya—bersifat turun-temurun.

Detail pastinya memang belum diklarifikasi, dan ini hanyalah wacana yang didasarkan pada hasil statistik. Tapi, angka berbicara lebih lantang daripada sekadar pidato omong kosong. Suka atau tidak, orang tua dan anak sering kali berbagi bakat dan kutukan yang sama.

Saat pertama kali mengetahui hal ini, aku hampir menangis. Aku akan berakhir dengan kekuatan yang sama seperti wanita itu. Pikiran tersebut sangat membuatku ketakutan. Aku kehilangan banyak waktu tidur di malam hari karena rasa takut itu.

Aku mengetahuinya di hari ulang tahunku yang ketujuh, dari buku catatan kesehatan ibu yang sudah lusuh dan terkubur di dalam laci. Hari itu turun hujan, cuaca khas musim gugur. Kebetulan saat itu hari libur, jadi aku sedang meringkuk di kamarku ketika hal itu terjadi.

Wahyu (Revelation)—begitulah mereka menyebut momen ketika sebuah Lux bangkit.

Sebuah dentingan bergema di dalam kepalaku, yang katanya merupakan berkat dari para dewa. Nama yang sangat malas, pikirku, bahkan mencemooh istilah tersebut.

Tepat pada saat jarum jam menunjuk angka dua belas, suara lonceng berbunyi, dan aku mengetahui Lux bawaanku sendiri. Tidak—"mengetahui" bukanlah kata yang tepat. Aku "menyadarinya".

Ketika kau mengetahui hal baru, atau ketika kau menantangnya, kau mungkin tiba-tiba berpikir, "Ah, mungkin ini memang untukku." Sebuah rasa kepastian yang aneh.

Begitulah cara aku menyadari apa yang bisa dilakukan oleh Lux-ku.

[Telekinesis]. Kekuatan untuk mengendalikan diriku sendiri dan benda anorganik sesuka hati.

Tentu saja, kekuatan itu tidak terbatas—tapi masalah kekuatannya tidaklah penting.

—Aku tidak sama dengan wanita itu!

Memikirkan hal itu saja sudah membuat tubuhku terasa seringan bulu. Terbebas dari ketegangan yang tak tertahankan, aku spontan berdiri tanpa pikir panjang.

Dan kemudian—Tuhan mengingatkanku.

Setelah Lux, datanglah Umbra. Nyaris terasa seperti sebuah ejekan.

[Charm / Pesona].

Permanen, terjadi di luar kendali—selalu menarik pandangan siapa pun yang melihatku. Bayaran untuk kemampuanku mengendalikan diri sendiri dan objek sesuka hati. Seolah ingin berkata: Kau tidak bisa mengendalikan orang lain sesukamu.

"Ah... ah..."

Lututku bergetar hebat. Aku sangat ketakutan. Didorong rasa putus asa ingin melarikan diri, aku membuka paksa pintu geser dan berlari ke luar.

Entah kenapa hari itu ibuku sedang sendirian di kamarnya, dengan wajah kosong. Mata kosongnya menatap lurus ke arahku.

"—Ah."

Binar memabukkan dalam tatapannya itu—aku tidak akan pernah melupakannya.

♢♢♢♢♢

—Apa yang terasa seperti neraka bagimu, mungkin tidak terlihat seperti neraka bagi orang lain. Begitulah yang sering terjadi.

Pada hari ulang tahunku yang ketujuh, aku mengisi survei nasional, menuliskan Lux dan Umbra-ku dengan jujur. Atau lebih tepatnya, aku harus melakukannya. Peringatan—"Laporan palsu adalah tindak kejahatan"—membuatku takut.

Belakangan aku baru tahu bahwa ada lembaga khusus untuk mengungkap kebohongan semacam itu. Membayangkan apa yang akan terjadi jika aku berbohong, masih membuatku merinding hingga sekarang.

Kurasa itulah alasannya aku masih membenci mereka. Karena beberapa hari setelah menyerahkan formulir itu, aku dipanggil ke lembaga nasional tersebut dan dipaksa melewati serangkaian "tes" yang melelahkan.

[Telekinesis] adalah Lux yang sangat berguna. Normalnya, kemampuan seperti itu hanya bekerja pada benda mati. Mampu mengendalikan diri sendiri adalah sesuatu yang belum pernah terdengar pada bakat sejenis. Memang sulit dikuasai—tapi meski begitu, kemampuanku tetaplah luar biasa.

—Namun, Umbra-ku jauh lebih menarik perhatian.

Apa yang menjadi kutukan bagiku, justru dianggap anugerah bagi orang lain.

Ketika seseorang menyebutnya "seperti memiliki dua Lux," aku langsung meneriaki dan memaki mereka. Bagi diriku yang baru berusia tujuh tahun, itu bukanlah sebuah pujian.

Di sekitar masa inilah, aku mulai lebih sering mengumpat dan berkata kasar. Sebelumnya, aku sangat jarang berbicara—jadi sebenarnya itu bukan perubahan yang terlalu mencolok. Tapi, itu cukup membantu mengusir serangga-serangga pengganggu yang tertarik pada cahaya Umbra-ku.

Sulit dipercaya, beberapa orang tidak mau berhenti mengejarku kecuali aku menolak mereka mentah-mentah. Tipe-tipe orang yang "cukup menjanjikan"—seperti bintang kelas, atau atlet andalan. Menjadi target dari pengagum-pengagum mereka yang dimabuk cinta adalah hal terburuk.

Tatapan cemburu para pengagum itu membekas di benakku. "Pasti enak ya, punya banyak bakat," bisikan yang sengaja disuarakan agar bisa kudengar—itu sudah jadi rutinitas sehari-hari.

Meski begitu, tak satu pun dari mereka punya nyali untuk bertindak lebih jauh dari itu. Tetap saja, itu sudah cukup untuk membuat suasana hatiku buruk. Dan kenyataan bahwa ini semua terjadi karena Umbra-ku membuatku semakin muak.

—Jadi, aku menetapkan tujuan untuk menjadi seorang Excia, sang Penjaga Bersayap.

Dipuji—atau dicemooh—karena Umbra-ku benar-benar tak tertahankan. Namun, Bayangan Kompensasi Umbra-ku sangat tebal—sesuatu yang tak bisa kuhapus, sebesar apa pun aku menginginkannya.

Jika begitu, aku hanya perlu mengalahkannya dengan Bakat Lux yang jauh lebih terang. Tidak seperti gadis-gadis pelamun lainnya, menjadi malaikat bukanlah sebuah impian bagiku—itu hanyalah alat untuk mencapai tujuanku.

Sekitar waktu yang sama saat aku mulai berbicara dengan nada yang lebih ketus, aku mulai membawa pulang banyak barang rongsokan.

"......Apa yang sedang kaulakukan?"

"Bukan apa-apa."

Aku mengabaikan pertanyaan ibuku, kedua tanganku penuh dengan barang-barang bekas yang kuambil dari ruang seni. Tentu saja, itu semua untuk melatih Bakat Lux-ku.

Aku menimbang berat badanku di ruang UKS, lalu mengumpulkan benda-benda yang lebih ringan dariku sebanyak mungkin. Kebetulan, setelah melihat apel pertama yang kucoba gerakkan menabrak dinding hingga hancur, aku memutuskan untuk menunda usahaku mencoba membuat diriku melayang menggunakan telekinesis.

Pernah suatu ketika aku bahkan mencoba menambah berat badan, berpikir bahwa menghilangkan batasanku akan membuatku lebih kuat—tetapi karena menghabiskan sebagian besar hidupku dengan makanan seadanya, perutku tidak bisa menerima porsi makanan yang lebih banyak.

Aku pun langsung menyerah pada ide itu dengan cepat.

"......Apakah ada sesuatu yang ingin kau capai?"

"Excia, Penjaga Bersayap."

Ketika aku menjawab dengan ketus, dia tampak sangat terkejut.

Rasakan itu, aku tersenyum sinis pada diriku sendiri setelah menutup pintu geser kamarku.

——Tanpa sadar, radio yang dulu sangat sering kudengarkan sudah terkubur di bawah tumpukan barang rongsokan.

◇◇◇◇◇

"Hei, murid pindahan di Kelas 4 itu... katanya dia sama sekali tidak punya Bakat Lux."

"Masa sih, yang benar?"

Aku tidak sengaja mendengar percakapan itu di hari musim semi yang cerah, hampir dua tahun setelah ulang tahunku yang ketujuh. Aku ingat betapa tidak cocoknya obrolan semacam itu dengan sinar matahari yang begitu ceria.

Orang-orang sampah memang hanya bisa bertahan hidup di dunia yang sampah. Kurasa itu memang habitat alami mereka.

"......Orang-orang yang menyedihkan."

Dan sebagai tambahan, aku juga mengarahkan kata-kata tersebut pada si murid pindahan yang mereka jadikan target gunjingan.

Betapa tragisnya nasib kita berdua, dibenci hanya gara-gara masalah punya bakat atau tidak. Waktu itu, hanya itu saja yang ada di pikiranku—ketertarikanku memudar hampir seketika.

——Aku sama sekali tidak menduga bahwa dalam hitungan bulan, dialah yang justru akan mendekatiku.

"M-maukah kau... menjadi temanku...?"

Mendengar itu, aku langsung menyuarakan hal pertama yang terlintas di benakku.

"——Benar-benar tidak ada gunanya."

Gadis yang tadinya kukasihani itu, entah bagaimana berakhir dikelilingi oleh banyak teman. Rumor mengatakan bahwa ada seorang anak laki-laki kelas enam yang terus mengunjunginya, dan karena anak itu populer, si murid pindahan pun langsung menjadi pusat perhatian dalam waktu singkat.

Aku sama sekali tidak paham soal itu—dan aku juga tidak peduli sedikit pun. Baik pada situasinya, maupun padanya, seorang gadis pelamun yang kegirangan karena punya banyak teman.

"Apa, kau sedang mengoleksi teman seperti mengumpulkan stempel hadiah?"

Dan sekarang, aku diharapkan menjadi stempel terakhir di kartunya?

Konyol. Aku sedang sibuk—aku tidak punya waktu untuk terseret dalam omong kosong ini. Dengan pemikiran itu, aku berbalik pergi—namun suaranya menghentikanku.

"Teman sungguhan...!"

"————"

"Aku diberi tahu... bahwa mencari teman sungguhan akan membantu..."

Teman sungguhan—frasa yang sangat cocok untuk seseorang yang terlalu suka berkhayal sepertinya. Namun, yang menarik perhatianku adalah bagian di mana dia "diberi tahu".

"......Apa maksudnya itu? Seseorang menyuruhmu?"

Menoleh kembali, kulihat dia menundukkan kepala karena malu. Memperhatikannya, sebuah pikiran terlintas di benakku.

——Gadis ini... dia sama sekali tidak peduli pada wajahku, ataupun Kompensasi Umbra-ku, kan?

Begitu menyadari hal itu, aku pun angkat bicara.

"Baiklah."

Menjadi teman bukanlah masalah besar. Aku selalu bisa memutuskan hubungan dengannya nanti. Lebih dari itu, aku ingin melihat apakah sikap ketidakpeduliannya terhadap kekuatanku ini benar-benar tulus.

"Ayo kita berteman kalau begitu—[teman]."

Masih memandangnya rendah dalam segala hal, aku menerima tawarannya.

............Yang tidak pernah kuduga adalah, dalam waktu kurang dari setahun, aku justru menjadi terlalu dekat dengannya.


PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER

Post a Comment

0 Comments