Header Ads Widget

Chapter 83 - Kecemburuan Seorang Pria

 


Bab 083: Kecemburuan Seorang Pria

Juhwan sudah melihat lumayan banyak desa sejauh ini. Sebagian besar dari mereka memang kumuh.

Namun sepertinya ia belum pernah melihat desa dengan kondisi semenyedihkan ini. Ada pagar pembatas di sini, tapi lebih dari separuhnya sudah hancur atau habis terbakar. Dengan pertahanan semacam ini, jangankan bandit, menahan hewan liar masuk saja sudah sulit.

"Semiskin apa pun sebuah desa, biasanya mereka tidak akan membiarkannya sampai seburuk ini."

Jika pagar hancur, kebanyakan desa setidaknya akan memotong bambu atau dahan pohon untuk membuat semacam pembatas darurat. Namun desa ini bahkan tidak memilikinya. Sangat aneh.

Gerbang di pintu masuk desa juga tidak berfungsi dengan baik. Bagian atas tempat gerbang terhubung ke pagar telah patah, membuatnya miring ke bawah. Sepertinya mereka membiarkannya begitu saja karena gerbang itu tidak bisa dibuka maupun ditutup.

Lizzie perlahan mengemudikan kereta kuda masuk ke dalam desa. Ia juga tampak terkejut dengan kondisi tempat ini. Ia tidak mengatakan apa-apa. Bahunya yang sedikit membungkuk sudah berbicara banyak.

"Ayah." Dorothy, yang sedang mengintip ke luar melalui celah yang terhubung ke kursi kusir, memanggil Juhwan dengan suara pelan.

Bahkan di mata seorang anak kecil sekalipun, suasana hati Juhwan dan Lizzie pasti terlihat berbeda. Anak itu melihat sekeliling dengan cemas, lalu menjulurkan tangan mungilnya ke arah kursi kusir.

Ah. Ia melakukan kesalahan.

Anak-anak jauh lebih peka terhadap ekspresi orang tua mereka dibandingkan apa pun. Hanya ketika orang tua terlihat marah atau ketakutan, barulah anak mulai merasa bahwa hal-hal di sekitarnya berbahaya dan menakutkan. Ia tahu hal itu, namun ia kurang pengertian.

Juhwan meraih tangan Dorothy dan tersenyum lembut.

Melihatnya tersenyum, Dorothy akhirnya tampak lebih rileks. Anak itu mengembuskan napas lega, lalu berbicara pada Oz di dalam sakunya. "Tidak apa-apa, Oz. Tempat ini tidak seram. Ini cuma desa biasa."

Ternyata ia memang ketakutan.

Melihat Dorothy berusaha tampil berani untuk menenangkan Oz layaknya seorang kakak perempuan, Lizzie menoleh. Ia sepertinya juga menyadari bahwa Dorothy sedari tadi mengamati ekspresinya. Lizzie memberinya senyuman lembut. "Dorothy, kamu boleh makan kismis, jadi pergilah bermain dengan Oz di dalam kereta."

"Benarkah? Sebelum makan siang juga boleh? Apa tidak apa-apa? Ibu kan selalu bilang aku harus memakannya sesudah makan besar." "Makan siang hari ini mungkin agak terlambat. Jadi tidak masalah." "Oke!"

Setelah Dorothy masuk ke dalam, Lizzie diam-diam melihat sekeliling. "Kondisi desa ini sepertinya sangat buruk."

Maksudnya adalah mereka mungkin akan merasa bersalah bahkan untuk sekadar makan di tempat ini. Mungkin karena ia sendiri pernah merasakan kelaparan, ada nada simpati yang samar dalam suaranya.

Hanya dengan melihat tempat ini saja, sangat mudah untuk membayangkan bagaimana keadaan desa ini. Sebuah helaan napas lolos dari bibir Juhwan tanpa ia sadari.

Berbeda dengan Lizzie, pikiran Juhwan langsung beralih ke mode waspada. Ia mungkin harus mempertimbangkan tidak hanya soal hewan magis (magic beast), tapi bahkan kemungkinan penjarahan oleh penduduk desa itu sendiri.

Ia ragu ada orang semacam itu di sini, tapi saat manusia terpojok hingga ke titik ekstrem, tak ada yang tahu apa yang mungkin mereka lakukan. Bahkan orang-orang yang biasanya merasa jijik hanya dengan membayangkan menyentuh air kencing pun akan meminum air kencingnya sendiri jika terdampar di tengah laut. Dalam situasi apa pun, nyawa manusia itu sendiri adalah yang utama. Kebaikan dan kejahatan, rasa malu dan martabat—semua itu tidak ada artinya di hadapan naluri bertahan hidup.

Saat kereta kuda melaju dengan bunyi berderak, pandangan Juhwan tiba-tiba tertuju ke tanah. Ada noda gelap di dekat tepi jalan. Di bagian ujung-ujungnya, noda itu tampak membawa rona kemerahan yang pekat.

Apa itu darah?

Itu bukan darah dari beberapa hari yang lalu. Kemungkinan besar itu adalah noda yang sudah lama. Dilihat dari ukuran bercaknya, cukup banyak darah yang tumpah di sana.

Setelah menyadarinya, ia melihat sekeliling lagi dan menemukan beberapa noda serupa di sana-sini.

Jejak penjarahan.

Ia teringat apa yang pernah dikatakan kepala guild padanya. Serangan musuh kadang terjadi di dekat perbatasan. Bahkan jika tidak terjadi baru-baru ini, desa ini mungkin pernah dijarah sebelumnya.

Saat mereka masuk sedikit lebih dalam, seolah mendukung kecurigaan Juhwan, beberapa rumah mulai terlihat dengan pintu dan jendela yang hancur. Tidak ada satu orang pun yang terlihat. Rasanya seolah-olah mereka telah memasuki desa hantu seperti di dalam film.

Mereka melewati ladang musim dingin yang kosong dan beberapa rumah terpencil, menuju lebih jauh ke dalam. Baru setelah mereka mendekati area di mana beberapa rumah berkumpul, mereka akhirnya melihat seseorang.

Ia terlihat berusia sekitar dua puluh tahun. Seorang pria yang cukup muda. Ia tidak membawa busur atau anak panah, tapi ia berpakaian layaknya seorang pemburu pada umumnya.

Pemuda itu melihat kereta kuda mereka dan mendekat. Ia melirik ke arah Lizzie. Saat melihat wajah istrinya, wajah pria itu sedikit memerah.

Membaca sorot kekaguman di mata pria itu, suasana hati Juhwan sedikit memburuk.

Pria itu masih muda dan berpenampilan layaknya pemuda yang rapi. Ia memang tidak tampan, tapi ia memiliki penampilan segar khas orang seusianya. Berbeda dengan Juhwan, pria itu tidak punya wajah yang kasar atau menakutkan. Usianya juga lebih dekat dengan Lizzie daripada Juhwan.

Juhwan melirik Lizzie. Apakah Lizzie menyadari tatapan pria itu dan tersipu malu? Apakah ia setidaknya merasa sedikit senang karena mendapat perhatian darinya?

Hal itu mengganggunya. Namun ternyata Lizzie sama sekali tidak menyadari tatapan pria itu. Ia bahkan tidak repot-repot melihat wajahnya. Bagi istrinya, pria itu tak lebih dari sekadar "Penduduk Desa Nomor Satu" yang sedang lewat.

Syukurlah.

"Ternyata aku lumayan picik juga."

Ia belum pernah merasa seperti ini saat di Bumi. Seingatnya, ia tidak pernah bersikap posesif terhadap seorang wanita.

Sejak datang ke dunia ini, Lizzie tidak pernah menerima tatapan seperti itu dari laki-laki lain. Memang ada beberapa pria yang mencoba menggodanya, tapi belum pernah ada yang menatapnya dengan ketertarikan murni antara pria dan wanita seperti pemuda ini.

Wajahnya yang tirus, matanya yang besar, pergelangan tangan dan kakinya yang ramping, serta kulitnya yang pucat telah terlihat sangat cantik memikat di mata Juhwan sejak awal. Tapi mungkin standar kecantikan di era ini sedikit berbeda, atau mungkin karena sebelumnya tubuh Lizzie terlalu kurus dan lusuh. Bahkan dengan wajah yang sama, begitu kulitnya membaik, seluruh kesan pada seseorang bisa berubah total.

Kini setelah ia mendapat asupan nutrisi yang layak, perubahan itu menyebar ke seluruh tubuh Lizzie. Sangat wajar jika ia mulai menarik perhatian orang lain.

Seiring berjalannya waktu, ia akan menjadi semakin cantik. Lizzie yang sekarang ibarat sekuntum bunga yang baru saja mulai mekar.

Pria yang picik itu sungguh menyedihkan. Suasana hati Juhwan sedikit merosot.

Tapi kenapa orang ini berani menunjukkan ketertarikan pada wanita yang sudah bersuami? Mungkin yang aneh itu bukan Juhwan karena merasa cemburu, tapi pria itu.

Pemikiran itu datang sedikit terlambat.

Pemuda yang sedari tadi merona sendirian tanpa alasan yang jelas itu akhirnya mengalihkan pandangannya pada Juhwan. Meski matanya masih jelas-jelas mengarah ke Lizzie, ia memindai kereta kuda itu dari atas ke bawah.

"Ini bukan tempat yang harusnya didatangi orang biasa sekarang. Ada hewan magis berbahaya yang sering muncul. Kalau kalian menuju perbatasan, sebaiknya kalian putar balik."

Melihat semua barang bawaan mereka, pria itu sepertinya mengira mereka adalah pelancong atau orang-orang yang sedang menuju perbatasan.

Apakah ini pemburu hewan magis yang dibicarakan kepala guild? Masa iya. Katanya pemburu itu sudah sangat berpengalaman, dan pria ini terlalu muda untuk kriteria itu.

Pria itu melanjutkan ucapannya sambil mencuri pandang ke arah Lizzie. "Tempat ini tidak cocok untuk nona muda secantik ini."

Ah. Barulah saat itu Juhwan sadar.

Pria ini ternyata tidak mengira Lizzie adalah istrinya. Ia mungkin mengira wanita itu adalah adik perempuan Juhwan. Atau bahkan putrinya.

Di dunia ini, orang-orang menikah di usia dini. Bukan hal yang aneh bagi pria berusia sekitar tiga puluh tahun untuk memiliki anak perempuan berusia belasan. Mungkin pria itu mengira Juhwan berusia sekitar empat puluhan dan Lizzie masih belasan tahun.

Kalau begitu, wajahnya yang merona dan curi-curi pandang itu masuk akal.

Diperlakukan seperti pria tua oleh Lizzie adalah satu hal, tapi sekarang bahkan pria lain pun memperlakukannya seperti paman-paman.

Suasana hatinya semakin merosot.

Lizzie menegakkan postur tubuhnya dan menatap pria itu. Ia tampak sedikit marah. "Saya ini istrinya. Saya bukan nona muda."

Juhwan sempat mengira semua wanita suka dipanggil "nona muda", tapi ternyata Lizzie berbeda. Ia merasa sedikit lega.

Sungguh, ternyata ia adalah pria yang berpikiran sangat sempit. Dan kesadaran itu kembali membuat suasana hatinya merosot.

"Kami adalah petualang yang datang ke sini untuk membantu perburuan hewan magis. Apa kau tahu Desa Petualang? Kami menerima permintaannya di sana." Mendengar ucapan Juhwan, ekspresi pria itu seketika berubah.

"Ah. Asisten pembantu ya." Itu adalah wajah seseorang yang memandang rendah orang-orang yang ada di bawahnya.

Juhwan tersenyum kecut. Dalam profesi yang dijunjung tinggi oleh orang lain, orang-orang seperti ini terkadang muncul.

Tapi seperti kata pepatah, padi yang berisi akan makin merunduk. Mereka yang telah menempuh satu jalan untuk waktu yang lama mungkin memang keras kepala, tapi mereka tidak memandang rendah orang lain sembarangan seperti ini. Sikap meremehkan semacam ini biasanya terlihat pada para pemula yang baru saja mulai bekerja. Mereka masih muda dan kurang pengalaman.

Juhwan memutuskan untuk membiarkannya saja, menganggap pihak lain hanya masih belum dewasa, namun Lizzie tampaknya marah. Alisnya sedikit terangkat dan bibirnya mengeras.

Kalau dipikir-pikir, Lizzie juga masih terhitung petualang pemula.

"Kudengar ada pemburu hewan magis berpengalaman yang mengambil pekerjaan ini. Apa kau orangnya?"

"Bukan. Itu guru saya. Guru saya adalah salah satu pemburu hewan magis terbaik di wilayah kita ini. Yah, entah apa kalian pernah dengar namanya. Pernah dengar soal Pemburu Gwell?"

Dada pemuda itu membusung bangga. Caranya mencuri pandang ke wajah Lizzie secara diam-diam benar-benar terlihat seperti sedang pamer.

Juhwan menjawab dengan senyum tipis. "Tidak. Saya belum pernah dengar."

Bahu pemuda itu tampak sedikit merosot. Apakah semangatnya luntur karena ia tadinya ingin pamer, tapi lawan bicaranya malah mengaku belum pernah mendengarnya? Ia mungkin berharap Juhwan akan terkesan dan berkata, "Wah."

Meski begitu, raut wajah sombong masih menempel di wajahnya. "Yah, orang-orang dari desa terpencil mungkin tidak tahu. Beliau itu sangat terkenal di kalangan petualang lho, padahal Desa Petualang itu kan letaknya di antah berantah. Di kota Modoni, nama Pemburu Hewan Magis Gwell itu sama terkenalnya dengan nama Tuan Leonard."

Juhwan memang tidak tahu soal itu, tapi Leonard rupanya cukup terkenal. Entah ia terkenal sebagai pemburu hewan magis atau sebagai pedagang, Juhwan tak tahu pasti.

Pria itu membusungkan dadanya lagi dan berkata, "Saya ini murid pribadi satu-satunya, Jack. Guru belum pernah menerima murid sebelumnya. Saya ini yang pertama dan yang terakhir baginya."

"Ayahku juga orang terkenal lho! Dia itu penyihir!" Dorothy, yang Juhwan kira sedang bermain di dalam kereta, tiba-tiba menyelipkan hidungnya ke celah menuju kursi kusir dan angkat bicara.

Lizzie juga ikut memasang ekspresi angkuh. "Yah, dia memang bisa menggunakan sedikit sihir. Tapi toh penyihir guild itu semuanya kurang lebih sama saja. Baru sekitar Tingkat Tiga mereka mulai mempelajari sihir yang benar-benar bisa dipakai."

Jack melirik Juhwan dan mendengus pelan. "Kau kelihatannya lebih cocok sebagai orang yang mengandalkan otot daripada sihir. Apa Tingkatmu sekitar Tingkat Empat?"

"Suamiku ini petualang Tingkat Dua. Dia bisa menggunakan sihir api dan sihir penyembuhan." Lizzie meniru Jack dan menatapnya dengan tatapan yang sedikit meremehkan. Melihat mata Jack membelalak, Lizzie tertawa kecil, seolah sedang mengejeknya.

Ah, sungguh tidak ada gunanya saling bersaing soal hal semacam ini. Juhwan diam-diam menertawakan pria itu karena bersikap seperti pemula, hanya untuk melihat istrinya sendiri melakukan hal yang persis sama. "Ini bukan hal yang patut aku tertawakan."

Tapi tingkah Lizzie ini sangat lucu. Ia marah demi membela suaminya dan malah ikut memamerkannya. Mustahil Juhwan tidak menganggap tingkahnya itu sangat menggemaskan. Sesuatu terasa menggelitik dengan hangat di dalam dadanya.

Melihat ekspresi Jack yang agak frustrasi, Juhwan pun membuka suaranya. "Di mana Tuan Gwell? Saya ingin bertemu dengannya untuk membahas apa yang harus kita lakukan selanjutnya."

"Guru pergi ke gunung untuk melacak jejak hewan magis itu." Rupanya, mereka berdua sudah tiba sejak kemarin lusa. Mereka memasuki desa menjelang senja, dan tepat sebelum mereka tiba, hewan magis itu telah membawa kabur seorang anak desa.

"Kabarnya monster itu juga turun lima hari sebelum membawa anak itu, dan sempat menyeret pergi satu orang saat itu. Guru bilang ada kemungkinan anak itu masih hidup selama satu atau dua hari. Jadi begitu matahari terbit kemarin, beliau langsung pergi ke hutan."

"Beliau pergi sendirian, tanpa ada yang membantu?" Jack mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Mungkin ia sebenarnya ingin ikut pergi bersamanya tapi ditolak.

Namun ada sesuatu yang janggal. Jika Gwell bisa menangani hewan magis itu sendirian, Leonard atau kepala guild tidak akan repot-repot mengirim Juhwan.

"Apa Tuan Gwell bilang dia masuk ke sana untuk menyelamatkan anak itu?" Jack menatap Juhwan dengan tatapan aneh. Itu adalah wajah seseorang yang sedang mendengar pertanyaan konyol. "Guru bilang ada kemungkinan anak itu masih hidup, jadi tentu saja begitu."

Mungkin Gwell hanya sekadar menyatakan sebuah fakta. Melacak jejak hewan sangatlah sulit. Namun jika mangsa yang dibawanya masih hidup dan bisa bergerak, maka jejaknya akan sedikit lebih mudah untuk diikuti.

Ini hanya sekadar tebakan, tapi mungkin pemburu bernama Gwell itu tidak benar-benar yakin ia bisa menyelamatkan anak itu. Ia mungkin kasihan pada anak tersebut, namun ia tak pernah benar-benar berpikir akan bisa membawa anak itu kembali dalam keadaan hidup.

"Dia mungkin buru-buru masuk ke hutan murni karena dia perlu menangkap jejaknya sebelum jejak itu hilang." Kalau itu Gus, pria itu pasti akan melakukan hal yang sama.

Juhwan menghela napas pelan dan menatap Jack. "Jadi hewan magis itu turun ke desa kira-kira setiap empat atau lima hari sekali." "Ya."

Satu lagi embusan napas berat lolos dari bibirnya. Jika hewan magis itu terus terobsesi dengan desa ini dan muncul secara berkala, maka desa itu sendiri tak terelakkan akan menjadi umpannya. Bukan sengaja dijadikan umpan, tapi memang akan begitu secara alami.

Pemburu bernama Gwell itu pasti memikirkan hal yang sama, makanya ia buru-buru mengejar hewan magis tersebut.

Jika memungkinkan, Juhwan ingin menghindari menggunakan penduduk desa sebagai umpan. Dan untuk melakukannya, ia harus menemukan sarang makhluk tersebut.

Saat mereka sedang berbicara dengan Jack, seorang pria desa paruh baya mendekat. Wajahnya terlihat lelah karena kecemasan dan kelelahan yang bertumpuk.

"Selamat datang. Saya adalah kepala desa di sini."

Kepala desa yang sebelumnya kabarnya baru saja meninggal, dan putranya mengambil alih posisi tersebut. Mantan kepala desa itu rupanya terkena panah musuh dari pasukan penyerbu pada musim gugur yang lalu. Dengan adanya serbuan musuh dan serangan hewan magis yang terjadi silih berganti, desa itu nyaris tak bisa bertahan hidup. Kepala desa tersebut menjelaskan semua ini dengan suara yang bergetar menahan tangis.

"Kami sangat, sangat membutuhkan bantuan Anda, Tuan Petualang. Tapi desa kami tidak punya apa-apa untuk ditawarkan. Bahkan makan sekali sehari saja kami sudah kesulitan, Tuan."

Sepertinya penjelasan panjang lebar soal kondisi desa ini pada akhirnya berujung pada hal tersebut.

Pihak guild memang bilang bahwa semua biaya untuk penaklukan hewan magis ini akan dibebankan kepada penguasa wilayah. Paling-paling desa hanya perlu menyediakan penginapan dan makanan bagi para petualang. Tapi sang kepala desa menyatakan bahwa hal sekecil itu pun sulit bagi mereka.

"Tidak apa-apa. Kami membawa semua makanan kami sendiri." "Terima kasih. Terima kasih banyak, Tuan."

Kepala desa itu membungkukkan badannya berkali-kali. Ia menawarkan diri untuk mengaturkan tempat menginap bagi mereka, tapi Juhwan menolak tawaran itu juga. Kereta kuda mereka jauh lebih baik daripada rumah mana pun yang sudah setengah hancur di sana.

Kepala desa itu kembali membungkuk dan terus mengucapkan terima kasih.

Mungkin karena mereka sangat takut dengan hewan magis itu, beberapa orang terlihat bersembunyi di dalam rumah mereka dan mengintip ke luar. Wajah mereka bisa terlihat dari balik jendela-jendela kecil. Tiap-tiap wajah itu terlihat kurus kering dan cekung.

Dunia ini benar-benar tempat yang keras untuk ditinggali. Satu lagi helaan napas pelan lolos dari bibir Juhwan.

Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments