Header Ads Widget

Chapter 8 - Pahlawan

 


Pahlawan

Gudang penyimpanan itu kosong melompong, tetapi tampaknya awalnya ada rak-rak yang terpasang di sana. Beberapa bagian dindingnya tampak mengalami perubahan warna.

Di lantai berserakan sisa-sisa barang—benda-benda yang pasti terjatuh saat seluruh isi gudang dijarah. Serpihan tanaman kering seperti obat herbal, potongan daging dendeng yang tampak bekas digerogoti tikus, patahan logam yang mungkin dulunya bagian dari cangkul, potongan jerami, dan secuil potongan bulu hewan…

Kim Juhwan berjongkok di samping wanita itu.

Awalnya, Juhwan mengira wanita dan anak itu diberikan kepadanya. Namun, tampaknya yang terjadi justru sebaliknya. Dialah yang telah diberikan kepada mereka.

Mungkin rumah ini dulunya milik orang tua si wanita… atau mendiang suaminya.

‘Jadi begini jadinya sebuah keluarga ketika kepala rumah tangganya meninggal.’

Aku tidak akan pernah mati. Aku tidak akan meninggalkan keluargaku dalam kondisi seperti ini. Bahkan jika aku mati, aku akan merangkak keluar dari neraka dan kembali kepada mereka.

Memikirkan hal itu, Kim Juhwan mengangkat tubuh wanita itu dengan hati-hati agar tidak mengejutkannya. Wanita itu tidak boleh duduk di atas tanah yang dingin. Dia pernah mendengar bahwa hal itu buruk bagi kesehatan tubuh seorang wanita.

"Tidak apa-apa. Aku di sini. Mulai sekarang, aku yang akan mengurus semuanya dan menghidupi kita."

Sambil membopongnya, dia menepuk-nepuk punggung wanita itu dengan lembut. Walaupun wanita itu mungkin tidak memahami kata-katanya, rasa nyaman yang dia berikan pasti akan tersampaikan.

"Tidak apa-apa… tidak apa-apa…"

Saat dia terus membisikkan kata-kata itu, sang wanita—yang awalnya tubuhnya terasa kaku—akhirnya menyandarkan wajahnya ke dada Juhwan dan mulai terisak kembali.

Apakah kenyataan ini memang begitu menghancurkan hati? Bahkan setelah mereka masuk ke dalam rumah, wanita itu masih terus menangis untuk waktu yang lama.

Tidak ada kursi di sana. Kim Juhwan duduk di lantai kayu, lalu melanjutkan belaian lembutnya di punggung wanita tersebut.

Sang anak diam-diam mendekat, mencengkeram pakaian ibunya dengan erat, dan ikut menangis juga. Anak itu meringkuk seolah ingin bersembunyi dari tatapan Juhwan, meremas kain pakaian itu sambil meraung.

Awalnya, Juhwan mengira itu hanya karena mereka adalah keluarga. Namun, tampaknya ada yang berbeda. Anak itu terlihat memegangi pakaian si wanita seakan takut ibunya akan lari meninggalkannya.

Suara tangisan pun menggema ke seluruh penjuru rumah. Kim Juhwan hanya bisa duduk di sana dengan perasaan canggung.

Sembari dia terus mengusap punggung wanita itu, sang anak—yang sedari tadi berjongkok—akhirnya terkulai lemas di lantai karena kelelahan. Juhwan mengangkat anak itu dan mendudukkannya di atas pangkuannya.

Tanpa adanya perapian, bagian dalam pondok itu terasa sama dinginnya dengan udara di luar.

"Kalau kamu duduk di lantai seperti ini, kamu bisa masuk angin."

Tentu saja, anak itu tidak mengerti ucapannya. Anak itu meliriknya dengan gugup, tetapi tetap tidak mau melepaskan cengkeramannya pada pakaian ibunya.

Saat anak itu duduk di pangkuannya, pakaian wanita itu agak tertarik ke satu sisi, menyingkap lehernya yang ramping dan tulang selangkangnya.

"… "

Kim Juhwan sedikit memalingkan pandangannya. Namun, wanita itu tampaknya tidak menyadarinya—atau mungkin dia tidak terbiasa dengan tatapan seorang pria.

Tiba-tiba, dia menjadi sangat sadar akan kelembutan tubuh wanita yang sedang bersandar padanya. Jantungnya berdegup tak menentu.

Sebuah pemikiran terlintas di benaknya. Apakah anak ini benar-benar putrinya? Apakah pria yang meninggal itu adalah suaminya? Dan jika benar demikian… apakah dia mencintainya?

Itu tidak penting lagi. Mulai sekarang, mereka akan hidup bersama. Rasa cinta dan kasih sayang pasti akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Jika dia memperlakukannya lebih baik daripada yang pernah dilakukan mendiang suaminya, mereka pasti bisa menjadi keluarga yang utuh. Sepasang suami istri yang bahagia.

Dia merasa percaya diri. Namun tetap saja… ada bagian kecil di hatinya yang terasa perih.

Sambil mengusap punggung keduanya dengan lembut, Kim Juhwan berbicara dengan suara lirih:

"Mulai sekarang, aku akan mengisi rumah ini dengan semua yang kalian inginkan. Aku akan membuatmu lebih bahagia dari siapa pun. Aku akan memastikan kamu tidak pernah menyesal karena aku telah menjadi bagian dari keluargamu. Aku tidak akan pernah membuatmu menangis lagi…"

Dia terus mengulang kata-kata senada. Lebih dari sekadar menenangkan mereka, itu adalah sumpah untuk dirinya sendiri. Dia akan menjadi suami yang baik. Menjadi seorang ayah yang baik.

Isak tangis mereka berdua lambat laun mereda seiring berjalannya waktu. Wanita itu sesekali mencuri pandang ke arahnya. Rasa takut yang menyelimutinya di awal kini mulai memudar. Dia memang masih sedikit tersentak, tetapi itu terasa lebih seperti kecanggungan karena belum terbiasa ketimbang rasa takut.

Itu adalah pertanda baik. Kim Juhwan memberikan senyuman tipis kepadanya dan mulai memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kelangsungan hidup mereka kini sepenuhnya bergantung pada dirinya. Dia harus bekerja tanpa kenal lelah.

‘Jadi, apa yang harus kulakukan pertama kali…?’

Ekspresi wajahnya mengeras. Ini adalah awal yang sebenarnya dari kehidupan barunya. Tidak ada satu pun hal yang pernah dia lakukan di Bumi yang akan berguna di sini. Pekerjaan kantorannya sama sekali tidak berarti. Sebaliknya, waktu singkat yang pernah dia habiskan di rumah kakeknya di desa saat masih SMP kemungkinan besar akan jauh lebih membantu.

Sambil terus mengusap punggung mereka, dia tenggelam dalam pikirannya.

Hari masih pagi. Jika dia bergegas, dia mungkin bisa menyalakan perapian malam ini. Pertama, mengumpulkan kayu bakar. Kemudian mengambil air—pasti ada aliran sungai di dekat sini. Setelah itu, mencuci pakaian mereka di suatu tempat.

Selagi pakaian itu kering… dia mungkin harus menutupi tubuhnya sendiri dengan dedaunan. Dia tidak mungkin memperlihatkan penampilan yang memalukan seperti itu di hadapan wanita dan anak tersebut.

Tapi… apakah ada dedaunan yang ukurannya cukup besar? Mengingat ukuran tubuhnya sendiri tidak bisa dibilang kecil.

Angin berembus langsung ke dalam rumah. Tidak ada kayu bakar. Semuanya telah dicuri. Dia bahkan mungkin akan berakhir telanjang bulat, menutupi tubuhnya dengan dedaunan seperti orang gila.

Namun… anehnya… hatinya terasa hangat, seolah-olah dia sedang melayang di angkasa. Semoga saja dia bisa menemukan dedaunan yang besar.


Setelah wanita itu agak tenang, Kim Juhwan menunjuk dirinya sendiri dan berkata:

"Kim Juhwan."

Kemudian dia menunjuk ke arah si wanita dan sang anak secara bergantian. Setelah mengulang gerakan itu beberapa kali, wanita itu berkata dengan ragu:

"… Lizy…"

Dia menunjuk dirinya sendiri lagi.

"Lizy."

Kemudian dia menunjuk ke arah anaknya—dan menggelengkan kepala. Tampaknya anak itu tidak memiliki nama.

Wajah sang anak perlahan tertunduk lesu menatap lantai. Dia tidak tahu mengapa anak itu tidak punya nama, namun dia bisa merasakannya—itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Sebuah luka batin.

Sambil meletakkan tangannya yang besar di atas kepala anak itu, Kim Juhwan berkata:

"Kalau begitu mulai sekarang, namamu adalah Dorothy."

Nama seorang gadis kecil yang manis dari kisah The Wizard of Oz. Seorang gadis yang pergi melakukan perjalanan, bertemu teman-teman baru, bertualang, dan menemukan kebahagiaannya.

Dia mengulanginya lagi:

"Kim Juhwan… Lizy… Dorothy."

Saat dia menunjuk ke arahnya dan mengucapkan "Dorothy," mata anak itu membelalak.

"Dorothy?" tanya anak itu dengan nada ragu.

"Ya. Itu adalah nama yang membawa kebahagiaan. Nama yang akan mempertemukanmu dengan banyak teman baik dan orang-orang yang kamu cintai."

Walaupun anak itu tidak mengerti, dia tetap ingin mengatakannya. Bahwa itu adalah nama yang sangat indah. Bahwa dia pasti akan hidup bahagia.

Anak itu sedikit menundukkan kepalanya lalu bergumam lirih:

"Dorothy."

Untuk pertama kalinya sejak bertemu dengannya, anak itu tersenyum. Senyuman itu kecil—tetapi sanggup membuat hati Juhwan membuncah hangat.


Dia adalah pria yang aneh.

Ukuran tubuh dan tangannya jauh lebih besar daripada mendiang suaminya—tetapi dia tidak mencoba untuk memukulnya sama sekali. Dia tidak bersikap kasar. Malahan… dia terasa sangat sopan.

Sulit untuk dijelaskan, tetapi dia benar-benar berbeda dari orang-orang di desa. Seperti berasal dari jenis manusia yang berbeda.

Suaranya jauh lebih lembut daripada suara siapa pun yang pernah dia dengar. Dan cara bicaranya terasa… tidak biasa. Dia belum pernah bertemu dengan seorang bangsawan, tetapi gaya bicaranya terdengar sangat halus—seperti seseorang yang berkedudukan tinggi. Meskipun tidak memahami kata-katanya, dia bisa merasakan hal itu.

‘Dia tidak terlihat seperti seseorang yang pantas berada di desa terpencil seperti ini.’

Lizy memperhatikannya saat pria itu memeriksa setiap sudut rumah. Memikirkan bahwa pria ini akan menjadi suaminya rasanya sangat aneh. Pria itu benar-benar berbeda dari apa yang dia bayangkan sebelumnya. Sesuatu di dalam dadanya terasa menggelitik secara samar.

Pria itu sudah memberi tahu namanya—tetapi sangat sulit diucapkan.

"Gim… Juhan…?"

Lafalnya selalu saja salah. Akhirnya, pria itu membiarkannya memanggil "Juhwan" saja.

‘Juhwan.’

Sementara dia kesulitan mengeja nama pria itu, Juhwan justru melafalkan namanya dengan sangat sempurna. Dan anehnya… kedengarannya sangat berbeda saat pria itu mengucapkannya. Padahal itu adalah nama yang sama, tetapi terdengar jauh lebih anggun. Hampir terasa… seperti nama bangsawan.

Juhwan tampaknya sedang memeriksa celah-celah dan kerusakan yang ada di dalam rumah. Dia memeriksa dinding dan sudut-sudut ruangan dengan cermat, terutama bagian-bagian kayu yang sudah lapuk. Mungkin dia sedang berpikir untuk memperbaikinya.

Namun, pemikiran itu mendatangkan kesedihan kembali ke lubuk hatinya. Semuanya sudah lenyap. Makanan, kulit binatang, perabotan, bahkan perkakas—busur, anak panah, pisau, cangkul, palu, kapak cadangan—semuanya telah dijarah. Hanya sebilah kapak rusak yang tersisa.

Tanpa adanya perkakas, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa berburu. Tidak bisa bertani. Tidak bisa memperbaiki rumah. Dan tidak ada perlindungan dari serangan binatang buas.

Apa yang harus mereka lakukan sekarang? Pandangannya terasa menggelap seketika.

"…?"

Sebuah suara tiba-tiba terdengar begitu dekat. Tersentak kaget, dia mendongak.

Juhwan sedang menatapnya dengan raut penuh kekhawatiran. Pria itu dengan lembut meletakkan tangannya yang besar di atas kepalanya lalu mengusapnya pelan.

‘…’

Mungkin pria itu mengira dia hanyalah seorang anak kecil. Mungkin dia bahkan tidak menyadari bahwa dirinya adalah istrinya.

Usia Lizy sudah 21 tahun sekarang, tetapi tubuhnya selalu mungil akibat kekurangan gizi kronis. Orang-orang sering salah mengira dia jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Bagi seseorang yang bertubuh sebesar Juhwan, dia mungkin terlihat seperti anak-anak. Itu akan menjelaskan alasan mengapa sedari tadi pria itu terus membopongnya.

Jika dipikir-pikir seperti itu… semuanya menjadi masuk akal. Namun hal itu membuat perasaannya menjadi campur aduk. Sebagian kecil dari dirinya ingin menegaskan bahwa dia bukan anak-anak, namun bagian lain dari dirinya… justru ingin terus diperlakukan manja seperti itu. Hatinya terasa gelisah tak menentu.

Juhwan menatap matanya dalam-dalam lalu tersenyum. Masih ada sisa-sisa air mata di sana. Dengan lembut dia menghapusnya menggunakan jemarinya yang tebal. Sentuhannya terasa begitu halus.

Sembari menatap tangan pria itu, dia membatin—Mungkin dia memang benar-benar seseorang yang memiliki status sosial tinggi. Tangannya tidak selembut apa yang dikatakan oleh istri kepala desa—tetapi yang pasti ini bukanlah tangan seorang petani. Bukan tangan rakyat jelata biasa.

Semua orang di desa memiliki tangan yang serupa—kasar, pecah-pecah, dan kapalan. Tangan miliknya pun sama persis seperti itu. Merasa malu yang teramat sangat secara tiba-tiba, dia menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung.

Juhwan memiringkan kepalanya heran. Kemudian dia dengan lembut meraih pergelangan tangan wanita itu. Tangan besarnya mampu melingkari pergelangan tangan tersebut dengan sangat longgar. Dia memeriksa tangan wanita itu dengan saksama, seolah sedang memastikan apakah ada luka di sana.

Dia merasa sangat jengah. Dia mengepalkan jemarinya erat-erat demi menyembunyikannya.

Juhwan tersenyum simpul. Lalu dia menepuk kepalanya sekali lagi sembari menggumamkan sesuatu. Tampaknya dia sedang mengatakan bahwa dia merasa lega karena dirinya tidak terluka.

‘Aneh sekali.’

Dia belum pernah menerima kebaikan yang tulus seperti ini seumur hidupnya. Tidak dari ibunya, tidak pula dari ayahnya.

Hatinya yang baru saja tenang kini kembali bergejolak tak menentu.

‘Ini aneh… ini sungguh sangat aneh…’

Perasaan asing yang belum pernah dia alami sebelumnya kini menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasa malu, rasa canggung, sekaligus kehangatan yang berbaur menjadi satu—ada sesuatu di lubuk hatinya yang paling dalam yang terasa menggelitik. Sebuah tempat emosional yang tak bisa dia jangkau sendiri. Dia tidak bisa berdiam diri begitu saja.

Kemudian dia tiba-tiba teringat akan sebuah rumor. Seorang pahlawan telah bangkit. Orang-orang bilang bahwa di sebuah negara yang sedang dilanda perang, sebuah ritual pemanggilan pahlawan telah berhasil dilakukan. Seorang pahlawan yang memiliki rambut sehitam pekat dan mata yang hitam legam. Negara musuh kabarnya sedang merayakan kemenangan itu dengan sukacita. Berita tersebut bahkan telah menyebar luas hingga ke desa-desa kecil yang terpencil.

‘Rambut hitam… mata hitam…’

Lizy perlahan-lahan mengangkat kepalanya—dan menatap lurus ke wajah pria yang kini telah resmi menjadi suaminya.

PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER

Post a Comment

0 Comments