Episode 74: Tamu yang Hanya Membawa Masalah
"Hei, tunggu sebentar, Jagoan!" "Hahaha!"
Lebih dari setahun telah berlalu. Bayi Leon kini sudah bisa berlari dengan kedua kakinya, membuat siapa pun yang mengasuhnya kewalahan. Biasanya Eva yang paling rajin menemaninya bermain, tapi hari ini berbeda.
"Nara, bagaimana keadaan Eva?" tanya Meileen sambil menangkap Leon yang berlarian, lalu menyerahkannya padaku.
Nara, yang sedang berkunjung ke rumah kami, menghela napas. "Dia masih merasa mual. Jadi aku mengambil beberapa buah-buahan segar untuknya." "Aku sangat mengerti rasanya. Tolong sampaikan padanya agar tidak memaksakan diri," ucap Meileen simpatik.
Nara mengangguk, mengambil keranjang buah yang sudah disiapkan Mona, lalu pamit pulang ke rumahnya.
Ya, Eva sedang hamil. Sejak kami menyelamatkan Nara dari istana Admos, mereka berdua tinggal bersama di rumah yang baru selesai dibangun. Kehamilan Eva tentu saja hanya masalah waktu. Karena morning sickness-nya sedang parah, Eva harus istirahat total, dan tugasku hari ini adalah menjadi pengasuh Leon.
"Wah, energimu bertambah setiap hari ya, jagoan," kataku sambil menimang Leon. Leon tertawa riang, sementara Meileen tersenyum melihat kami. "Anak-anak memang tumbuh sangat cepat, kan? Bidan Bennett juga pernah bilang begitu."
Ah, Nyonya Bennett. Sejak tahu Eva hamil, kami kembali meminta bantuannya. Dia benar-benar sudah seperti dokter keluarga kami. Aku harus memberinya hadiah sebagai ucapan terima kasih nanti.
Saat aku sedang berpikir tentang hadiah, tiba-tiba...
Tring...
Sihir deteksiku menangkap sekelompok besar orang di perbatasan hutan.
"Putri Weimar lagi? Mau apa dia sekarang?" gumamku kesal.
Berdasarkan fluktuasi sihirnya, mereka adalah manusia. Karena penjaga di luar tidak menahan mereka, sudah pasti rombongan itu adalah Putri Weimar. Kalau dia sampai repot-repot datang langsung tanpa membuat janji dengan Ivern, berarti ada masalah besar yang terjadi.
Aku langsung merasa pusing.
"Sepertinya Sang Putri sudah tiba. Aku akan pergi menemuinya," pamitku pada Meileen. "Hati-hati. Oh ya, tolong peringatkan Nara agar tidak keluar rumah," ingat Meileen. "Ah, benar juga. Nara pernah bertemu Putri sebelumnya."
Aku mampir sebentar ke rumah Nara dan mengetuk pintunya. "Ada apa, Maya?" Nara membuka pintu. "Jangan ceroboh begitu, kau harus lebih waspada sebelum membuka pintu," tegurku.
"Eh? Memangnya ada siapa? Di sini kan cuma ada kita-kita saja." "Saat ini, pihak Iblis sangat mencurigai wilayah kita. Iblis tingkat tinggi mungkin saja bisa menembus penghalang. Kita harus waspada." "Ah, benar juga. Jadi, ada apa?"
"Putri Weimar datang berkunjung. Tetaplah di dalam rumah dan pastikan dia tidak melihat wajahmu, oke?" Nara terkejut. "Putri negara ini datang langsung? Wah, kau benar-benar sudah menaklukkan Weimar, ya?"
"Aku tidak menaklukkan siapa-siapa. Mereka sendiri yang seenaknya datang kepadaku setiap kali ada masalah!" bantahku. "Oh, begitu? Memangnya masalah apa yang kau buat terakhir kali?" goda Nara. "Terakhir kali... ah. Pihak Admos minta Weimar untuk melakukan pemanggilan pahlawan baru, jadi dia datang untuk memperingatkanku."
Nara bersiul. "...Itu sih sama saja mereka ada di bawah kendalimu." "Kalau mereka di bawah kendaliku, harusnya mereka memberiku upeti sembako! Buktinya, kita menghidupi diri sendiri tanpa bantuan Weimar," gerutuku.
"Iya, iya, aku mengerti. Eva juga baru saja tertidur, aku akan menemaninya di dalam. Silakan urus tamumu."
Setelah memastikan Nara aman, aku berjalan menuju pinggiran hutan menemui Putri Weimar dan rombongannya.
"Ada apa ini? Bawa pasukan banyak sekali. Masalah apa yang mau kalian lemparkan padaku kali ini?" sapaku tanpa basa-basi.
Melihat kedatanganku, wajah tegang Sang Putri sedikit mereda. "Oh, Lady Maya. Syukurlah. Saya sempat bingung harus bagaimana karena Tuan Ivern sedang tidak ada." "Kunjungan mendadak tanpa janji... Skala masalahnya pasti beda dari yang kemarin."
"Y-Ya, bisa dibilang begitu..." "Yaudah, ayo masuk."
Aku membimbing mereka menembus hutan. Meskipun bicaraku tidak sopan untuk ukuran rakyat biasa kepada bangsawan, tak ada satu pun pengawal yang protes. Mereka rombongan yang sama dengan yang sebelumnya, jadi mereka sudah paham betul sifatku. Bukannya marah, mereka malah terlihat sangat berhati-hati agar tidak membuatku kesal.
Firasatku makin buruk.
Di tengah perjalanan, pandangan Putri tertuju pada satu titik di kejauhan. "...Sepertinya ada beberapa rumah baru yang sedang dibangun di sana."
Itu arah rumah Nara. "Terus kenapa? Apa masalahnya buatmu?" balasku dingin. "T-Tidak! Saya tidak bermaksud ikut campur! Saya cuma kagum, itu saja!" Sang Putri panik. "Baguslah kalau begitu."
Sesampainya di taman rumahku, aku mempersilakan mereka duduk di meja luar ruangan.
"Jadi, apa masalahnya?" tanyaku to the point. Sang Putri menelan ludah sebelum menjawab dengan ragu. "Sebenarnya... kami menerima tuntutan resmi dari Kerajaan Iblis. Mereka meminta izin untuk menyelidiki wilayah tempat Lady Maya tinggal."
...Tuh kan. Benar-benar bawa masalah.
0 Comments