Episode 73: Percikan Kecil Menjadi Kebakaran Besar
Di dalam sebuah ruangan Kastil Kerajaan Iblis.
Para agen intelijen yang baru saja kabur dari hutan Kenta tengah melaporkan hasil temuan mereka kepada Raja Iblis, Megido.
"Begitu ya... Jadi kemungkinan besar mantan agen intelijen kita bersembunyi di wilayah Kenta." Megido melipat tangan di dada, wajahnya tampak berpikir keras.
Di sebelahnya, salah satu penasihat kerajaan terus-menerus mencaci maki para agen yang baru kembali itu. "Kalian lari tanpa memberikan perlawanan sama sekali?! Di mana letak harga diri kalian sebagai prajurit?! Benar-benar memalukan!"
Para agen itu hanya bisa menggertakkan gigi menahan kesal. Dalam hati mereka berteriak, "Coba saja kau hadapi monster itu sendiri!" Namun, karena lawan bicara mereka adalah pejabat tinggi, mereka hanya bisa diam.
Tiba-tiba, suara dingin memotong ruangan. "Kalau begitu, kau saja yang pergi ke sana."
Para agen sempat mengira salah satu dari mereka tak sengaja menyuarakan isi hati. Namun, ternyata Raja Megido-lah yang berbicara, menatap tajam penasihatnya.
"...Yang Mulia?" "Kenapa? Kau bilang mereka menyedihkan, kan? Kalau begitu, pergilah ke sana dan tunjukkan pada mereka cara bertarung yang benar."
Wajah sang penasihat langsung memucat. Ia hanyalah pejabat sipil yang hanya bisa sihir dasar. Berhadapan dengan Kenta—pria yang telah membantai Raja Iblis terkuat sepanjang sejarah—sama saja dengan meminta tiket gratis ke akhirat.
"H-Hahaha... Yang Mulia sungguh pandai bercanda. Tentu saja itu mustahil," tawanya canggung. "Kalau begitu, tutup mulutmu," desis Megido.
Megido menunjuk para agennya. "Asal kau tahu, orang-orang ini jauh lebih kuat darimu. Dan fakta bahwa mereka memilih lari tanpa berani melancarkan satu serangan pun... kau harusnya berpikir apa arti di balik tindakan itu."
Megido mungkin tidak begitu pandai dalam intrik politik, tetapi insting tempur dan taktisnya sangat tajam. Ia memuji keputusan unit intelijennya yang lebih memilih membawa pulang informasi berharga ketimbang mati konyol. Mendengar pembelaan Raja mereka, mata para agen intelijen itu berkaca-kaca karena terharu.
Megido kembali fokus pada laporan. "Jadi, kalian tidak mendapat konfirmasi pasti?" "Benar, Yang Mulia. Kenta menyangkal keberadaan wanita tersebut, dan ia menegaskan tidak sudi tunduk pada tuntutan kita."
"...Apakah dia selalu bersikap arogan seperti itu? Dulu saat aku bertarung dengannya, auranya tidak seperti itu." Megido pernah ikut serta dalam aliansi yang mencoba menghentikan Kenta di masa lalu. Ia ingat Kenta sebagai sosok yang difitnah oleh manusia, namun ia tidak menyangka Kenta kini begitu sinis.
"Sikapnya memang banyak berubah, Yang Mulia. Tekanan sihirnya sungguh luar biasa mengerikan..." Agen itu bergidik ngeri mengingat kejadian tadi. "Hanya mengingatnya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri."
"Jika manusia bisa memberikan rasa takut sebesar itu pada iblis berpengalaman, maka itu sudah pasti dia," simpul Megido. Ia mulai memutar otak. "Wanita itu mantan intelijen kan? Mungkin saja mereka bertemu saat perang dulu dan diam-diam jatuh cinta."
Salah satu agen dengan ragu menambahkan informasi krusial. "Ada satu hal lagi, Yang Mulia. Wanita bernama Mona itu... dulunya adalah pelayan pribadi dari adik Anda, Putri Meileen."
Mata Megido terbelalak. Ia sampai menggebrak meja dan berdiri dari kursinya. "APA?! KENAPA KAU BARU BILANG SEKARANG?!"
"M-Maafkan hamba! Hamba takut informasi ini akan memicu kepanikan, jadi hamba ragu menyampaikannya..."
"Itu bukan detail kecil! Itu informasi paling krusial! Jika mantan pelayan adikku ada di sana, itu berarti..." Megido menggigit bibirnya, wajahnya pias. "...Adikku kemungkinan besar tinggal bersama musuh besar kita, Kenta."
Megido menjatuhkan dirinya kembali ke kursi dan memijat pelipisnya. "Adikku adalah pengkhianat yang berkolaborasi dengan Kenta untuk membunuh ayah kami. Setelah itu, mereka berdua diasingkan dan menghilang. Tidak aneh jika dua buronan dengan nasib yang sama akhirnya bersatu dan tinggal bersama."
Tatapan Megido tertuju pada kalender di mejanya. "...Sudah lebih dari dua tahun sejak aku mengusir adikku. Kalau dipikir-pikir..."
Sebuah skenario terburuk yang sangat masuk akal terlintas di benaknya. "Bagaimana jika... mereka sudah memiliki anak?"
Suasana ruangan langsung hening. Para pejabat menelan ludah. Seorang anak yang mewarisi garis keturunan Kerajaan Iblis dan kekuatan mengerikan dari manusia anomali bernama Kenta? Itu adalah ancaman eksistensial.
"Ini bukan lagi sekadar percikan api. Ini bisa menjadi kebakaran besar yang menghanguskan seluruh ras kita," bisik seorang penasihat dengan gemetar.
Megido bangkit dari kursinya, matanya menatap tajam ke luar jendela. "Kita tidak bisa diam saja. Siapkan pasukan... Kita akan pergi ke tempat Kenta."
Kerajaan Iblis akhirnya memutuskan untuk ikut campur.
0 Comments