Header Ads Widget

Chapter 68 - Pelanggaran Perjanjian

 

Episode 68: Pelanggaran Perjanjian

"Menculik penyihir penyembuh secara paksa... keluarga kerajaan benar-benar melakukan hal yang biadab."

Setelah sebelumnya diusir oleh keluarga kerajaan Admos dan menyimpan dendam, Ota memanfaatkan momen ini untuk menjelek-jelekkan mereka. Namun, asisten wanita di klinik tersebut buru-buru meluruskan.

"Tidak, istana kerajaan menawarkan bayaran yang sangat besar. Dokter kami pergi ke istana atas kemauannya sendiri, jadi dia tidak diculik."

Para pasien di sana mengangguk maklum. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penyihir penyembuh sangat materialistis, lagipula tidak semua dokter memiliki bakat sihir. Banyak dokter biasa yang tetap praktik, jadi warga sebenarnya tidak terlalu panik. Namun, Ota yang tidak paham situasi dunia ini, salah menafsirkan ucapan asisten tersebut dan menjadi sok pahlawan.

"Apa?! Itu tetap saja tidak benar! Baiklah, serahkan padaku! Aku akan mengobati kalian semua dengan harga murah, menggantikan dokter mata duitan yang meninggalkan tempat ini!"

Dengan rasa percaya diri yang berlebihan, Ota melangkah masuk ke dalam area staf klinik.

"Hah? Tunggu sebentar, Tuan! Anda tidak boleh masuk!"

Mengabaikan protes si asisten wanita, Ota masuk ke ruang pemeriksaan dan duduk di kursi dokter.

"Ayo, cepat panggil pasiennya!" "T-tapi Tuan, ini pelanggaran..." "Benarkah Anda bisa menyembuhkan dengan harga murah?"

Saat asisten itu masih mencoba menghentikan Ota, seorang wanita tua masuk, tergiur oleh janji pengobatan murah.

"Tentu saja! Bagiku, sungguh hina menggunakan sihir penyembuhan hanya untuk memeras uang rakyat!" kata Ota berapi-api.

Maka dimulailah aksi Ota membuka praktik ilegal di klinik milik orang lain.

Asisten wanita itu sudah kehabisan akal untuk menghentikannya. Pasien terus berdatangan dari mulut ke mulut mendengar ada sihir penyembuhan murah. Di hadapan para pasien, Ota menggunakan jumlah mana (kekuatan sihir) luar biasa yang ia dapatkan sebagai "bonus" pemanggilan pahlawan, sehingga sihir kasarnya tetap terlihat lebih ampuh daripada dokter biasa.

"Sihir itu sepenuhnya tentang imajinasi... Tenang saja, aku sudah banyak membaca manga bertema medis, jadi aku pasti bisa melakukannya!" gummanya.

Dalam novel yang dibaca Ota, sihir hanya butuh imajinasi. Tapi di dunia ini, sihir mirip seperti bahasa pemrograman; efeknya tidak akan maksimal jika mana tidak dikontrol dan rumusnya tidak disusun dengan presisi. Untungnya, kapasitas mana Ota yang luar biasa besar menutupi kurangnya tekniknya.

Warga sangat puas karena pengobatannya murah dan lumayan manjur. Klinik itu langsung meledak dengan pasien. Ota bahkan mulai dijuluki "Orang Suci dari Pusat Kota".

Melihat ruang tunggu yang sesak, asisten wanita itu menghela napas frustrasi dan bersembunyi di ruang belakang. "Haa... apa yang harus kulakukan? Dokter pasti akan segera kembali dari istana..."

Asisten itu panik karena sang dokter tidak pernah bermaksud menutup kliniknya permanen; ia hanya sedang "dinas luar" demi uang. Kalau dokter tahu kliniknya diambil alih, masalah besar akan terjadi. Terlebih lagi, meski pasiennya banyak, Ota memasang tarif sangat murah sehingga klinik ini sama sekali tidak mendapat untung (mengingat si asisten juga sama materialistisnya dengan atasannya).

Saat asisten itu sedang pusing tujuh keliling, sekelompok pria berjas putih tiba-tiba menerobos masuk.

"Apa benar ini klinik yang berani menawarkan sihir penyembuhan dengan harga semurah ini?!" bentak salah satu dari mereka.

Mereka adalah asosiasi dokter dari klinik-klinik di sekitar kota yang tidak bisa menggunakan sihir penyembuhan. Wajah mereka merah padam menahan marah. Beberapa pasien di ruang tunggu langsung memalingkan wajah ketakutan; mereka rupanya mengenali dokter-dokter itu.

Pemimpin dokter itu menatap si asisten wanita. "Kudengar klinik ini menawarkan sihir penyembuhan dengan tarif yang sangat murah. Apa maksudnya kalian melanggar perjanjian asosiasi?!"

Mendengar bentakan itu, si asisten wanita langsung menangis tersedu-sedu.

"A-apa?! Tunggu! Kenapa kau malah menangis? Apa perkataanku terlalu kasar?" Dokter itu langsung panik dan kehilangan momentum marahnya.

Sambil terisak, asisten itu menceritakan semuanya: Dokter aslinya sedang di istana, lalu pria bernama Ota tiba-tiba masuk, mengambil alih ruang pemeriksaan, mematok harga murah secara sepihak, dan warga malah mendukungnya dengan julukan "Orang Suci".

Mendengar itu, kemarahan para dokter beralih. Tepat saat itu, pintu ruang pemeriksaan terbuka dan Ota menjulurkan kepalanya.

"Hei, mana pasien berikutnya? Cepat panggil masuk."

Pemimpin dokter itu langsung melabrak Ota. "Kami dari asosiasi dokter kota ini. Kami dengar kau melanggar perjanjian batas harga untuk sihir penyembuhan. Kami datang untuk memprotes!"

Ota tampak bingung. "Memprotes apa? Aku tidak mencari untung. Aku berhak menetapkan harga pengobatanku sendiri!"

Dokter itu menghela napas lelah. "Hmph... Aku tidak tahu kau ini anak manja dari mana, tapi kenyataannya kau ini bodoh." "Hah?! Apa maksudmu?!" "Dengar. Di seluruh negara manusia, ada kesepakatan tegas untuk membedakan harga antara perawatan dengan sihir penyembuhan dan perawatan medis biasa. Perawatan sihir harus mahal."

"K-kenapa begitu? Aku tidak mengerti..."

Ota mencari dukungan dari para pasien di ruang tunggu yang baru saja ia obati dengan murah. Tapi mereka semua justru membuang muka, bahkan ada yang buru-buru menyelinap keluar dari klinik.

"Kenapa? Apa kau sebodoh itu? Coba bayangkan apa yang terjadi kalau sihir penyembuhan tingkat tinggi dijual dengan harga sangat murah!" bentak si dokter. "Tentu saja semua orang akan senang!" balas Ota.

Ota tidak punya niat semulia itu. Fakta sebenarnya adalah sihir serangannya payah, dan rencananya untuk menjadi jagoan tempur gagal total. Ia banting setir menjadi healer ilegal karena ingin dipuja, dan kalau beruntung, ia berharap bisa membangun harem dengan asisten klinik dan pasien-pasien cantik. (Asisten wanita itu sendiri sebenarnya sangat jijik dengan tatapan mesum Ota, yang menjadi alasan lain kenapa ia ingin Ota cepat pergi).

Jawaban polos Ota malah membuat para dokter tertawa sinis. "Tentu saja orang-orang senang. Makanya ruang tunggu ini sesak. Hei, kau!" Dokter itu menunjuk seorang pasien. "Sudah berapa lama kau menunggu?" "E-eh... sekitar dua jam?" jawab pria itu takut-takut.

"Dengar itu? Pasien ini harus menunggu dua jam! Kalau kau bisa mengobati mereka dalam sekejap mungkin tidak masalah, tapi kenyataannya kau tidak mampu. Sebentar lagi kau akan kewalahan. Dulu, ketika sihir penyembuhan dijual murah, para penyihir kelelahan dan gagal menangani jumlah pasien yang membludak, sementara dokter tanpa sihir kehilangan mata pencaharian. Itulah sebabnya kesepakatan harga ini dibuat."

Ota tergagap, baru menyadari realitas dunia ini. "I-itu..."

"Lagipula, kau ini membuka praktik ilegal di klinik milik orang lain! Pergi dari sini sekarang juga!"

Ota mengira ini adalah klise "pahlawan yang ditindas oleh organisasi korup", jadi ia menatap para pasien, berharap mereka membelanya. Tapi tak ada satupun yang bersuara.

"Percuma kau mencari dukungan mereka. Para warga juga tahu bahwa merekalah yang melanggar kesepakatan dengan memanfaatkan kebodohanmu," sindir si dokter.

Ota lalu menatap si asisten wanita dengan penuh harap. Asisten itu menatap Ota dengan jijik dan bersembunyi di balik para dokter.

"Menjijikkan..." bisik wanita itu.

Ota, yang merasa dirinya adalah pahlawan pembela rakyat, hancur lebur mendengar kata-kata kasar dari gadis incarannya. Tak bisa melawan argumen sekelompok pria dewasa, Ota akhirnya diseret keluar dari klinik. Tak ada satu pun warga yang mencoba membelanya.

Setelah berjalan cukup jauh, Ota menggaruk-garuk kepalanya dengan frustrasi.

"Ah, sialan!! Padahal sedikit lagi aku bisa membangun harem yang tak terkalahkan di dunia lain!!"

Bukannya introspeksi, Ota malah marah karena fantasi harem-nya gagal.

"Sial... Mungkin sudah saatnya aku pergi belajar sihir ke Kerajaan Iblis."

Ota tahu Nara dilatih dengan metode Spartan di istana Admos, jadi ia sengaja menghindari Nara. Merasa tidak ada masa depan lagi di kerajaan manusia karena aturan asosiasi medis, ia memutuskan untuk mencari kekuatan di wilayah iblis.

"Haa... Latihan itu pasti membosankan, tapi kalau itu bisa membuatku jadi overpowered, kurasa aku akan menanggungnya," gumamnya sambil mulai berjalan ke arah Kerajaan Iblis.

Sayangnya, ia sama sekali tidak tahu bahwa Kerajaan Iblis saat ini sedang dalam status siaga tinggi dan menutup perbatasan dari manusia.


PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER

Post a Comment

0 Comments