Episode 67: Sang Raja yang Menuai Apa yang Ditaburnya
Raja Admos, yang sebelumnya terjebak dalam ledakan sihir Kenta di reruntuhan pemanggilan Lindor, menderita luka parah namun entah bagaimana berhasil selamat. Ia dievakuasi dengan hati-hati kembali ke Admos dan menjalani perawatan intensif di kamar pribadinya.
Metode pengobatannya melibatkan pengumpulan orang-orang yang mahir dalam sihir penyembuhan—sebuah bakat yang sangat langka di kalangan manusia. Di antara ras manusia, mereka yang bisa menggunakan sihir penyembuhan biasanya hanya berprofesi sebagai dokter kota biasa.
Meskipun mereka sangat dihormati oleh masyarakat, kemampuan sihir mereka sebenarnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatan Kenta atau ras iblis. Meski begitu, pihak istana rela menghamburkan kekayaan mereka demi memanggil para dokter kota ini.
Dengan bayaran sebesar itu, siapa yang tidak mau meninggalkan kliniknya sendiri untuk mengabdi pada raja?
Maka, terkumpullah banyak dokter. Karena mereka tahu betul bahwa menjadi penyihir penyembuh sangat menguntungkan, mereka langsung menerima tawaran hadiah besar dari istana dan mengabaikan pasien-pasien di klinik mereka sendiri.
Para dokter yang terkumpul itu bergiliran setiap hari menggunakan sihir penyembuhan pada Raja Admos. Sihir manusia, yang efeknya sangat kecil jika dilakukan sendirian, ternyata lumayan efektif jika digunakan secara massal.
Namun, hasilnya tetap tidak instan. Butuh waktu berbulan-bulan bagi Raja Admos untuk pulih sampai ia akhirnya bisa bergerak sendiri. Walau belum pulih total, Raja Admos kini sudah bisa bangun dari tempat tidur, duduk di sofa kamarnya, dan menikmati teh.
"Fiuh. Akhirnya aku bisa menggerakkan tubuhku lagi. Jujur saja, dokter-dokter itu benar-benar tidak kompeten. Kemampuan mereka biasa saja, tapi mereka pintar sekali memeras uang."
Komentar sinis Raja Admos itu hanya ditanggapi dengan senyum masam oleh para penasihatnya.
"Namun, jika bukan karena mereka, Yang Mulia mungkin akan menderita jauh lebih lama. Saya rasa kontribusi mereka cukup besar."
Raja Admos mendecakkan lidah, tidak senang dibantah. "Cih, sudahlah. Yang lebih penting, sebenarnya apa yang terjadi dengan ledakan itu?"
Seorang penasihat maju untuk melapor. "Menurut informasi dari Lindor, Kenta-Maya mengetahui upaya kita untuk memanggil pahlawan dari dunia lain lagi. Karena itu, ia meledakkan reruntuhan tersebut beserta semua yang ada di sekitarnya."
Mendengar laporan itu, Raja Admos murka dan membanting cangkir tehnya ke lantai. Prang!
"Dasar orang biadab dari dunia lain!! Jadi semua penderitaanku ini gara-gara dia?!"
Meskipun Kenta memang meledakkan tempat itu, akar masalahnya adalah Admos yang keras kepala mencoba memanggil orang dari dunia lain untuk kedua kalinya dalam waktu singkat. Terlebih lagi, karena tujuan pemanggilan itu adalah untuk membunuh Kenta, wajar saja jika Kenta bertindak untuk menghentikannya.
Namun, bagi Raja Admos yang lahir dan dibesarkan dengan ego seorang penguasa absolut, siapa pun yang menghalanginya adalah musuh yang tak termaafkan.
"Sialan kau, Kenta-Maya... tunggu saja pembalasanku."
Raja Admos ingin segera menyerang, namun ia masih punya sedikit akal sehat untuk menyadari bahwa itu ide yang buruk untuk saat ini.
"Hei! Segera hubungi pihak Lindor dan perintahkan mereka untuk memanggil orang lain dari dunia lain!"
Para penasihat tampak kebingungan dan ragu-ragu untuk menjawab.
"Ada apa? Kenapa kalian diam saja?"
"M-Maaf, Yang Mulia..."
Dengan hati-hati, sang ajudan menjelaskan semua kejadian selama Raja Admos tak sadarkan diri. Reruntuhan pemanggilan telah hancur lebur oleh sihir Kenta. Setelah itu, daratan Lindor berubah menjadi tanah tandus. Seluruh penduduk Kerajaan Lindor, dari bangsawan hingga rakyat jelata, telah meninggalkan negara itu. Kini, Lindor menjadi wilayah tak berpenghuni.
Banyak organisasi kriminal mencoba menyusup ke bekas wilayah Lindor, namun kabarnya, Kenta menggunakan sihir untuk mencegat dan membantai mereka di perbatasan.
Mendengar semua itu, wajah Raja Admos pucat pasi karena terkejut.
"J-Jadi, maksudmu kita tidak bisa lagi memanggil orang dari dunia lain?!"
Keterkejutan itu dengan cepat berubah kembali menjadi amarah. Sang raja melemparkan piring kecil dari meja ke arah pelayannya.
"Dan terlebih lagi, dia mencegat siapa saja yang mencoba masuk ke negara Lindor yang sekarang kosong?! Itu sudah pasti karena Kenta-Maya berniat menguasai Lindor!!"
Itu hanyalah asumsi tak berdasar, tetapi di kepala Raja Admos, "Kenta ingin menguasai Lindor" telah menjadi fakta mutlak. Pernyataan Raja Admos ini bocor ke luar istana dan menjadi cikal bakal rumor yang menyebar ke negara-negara tetangga.
Ya, sumber rumor konyol itu ternyata berasal dari sini.
Ketika Kenta mendengar rumor tersebut, ia memutuskan untuk berhenti mencegat organisasi kriminal di perbatasan. Akibatnya? Organisasi kriminal melenggang bebas masuk ke wilayah Admos. Pada akhirnya, Raja Admos menuai hasil dari kebodohannya sendiri.
Sementara istana kerajaan sedang panik memikirkan masalah Kenta dan perbatasan, sebuah keributan lain terjadi di sudut kota.
Ini terjadi ketika istana kerajaan memonopoli semua dokter kota yang bisa sihir penyembuhan. Akibatnya, masyarakat umum kehilangan akses ke perawatan sihir.
Seseorang melihat situasi ini sebagai peluang emas.
"Hmm, begitu rupanya. Jadi, keluarga kerajaan mengumpulkan semua penyihir penyembuh ke istana hanya untuk menyembuhkan raja? Benar-benar kejam."
Pria yang mengatakan itu adalah Ota. Ia kebetulan mendengar keluhan para pasien di sebuah klinik yang ditinggalkan dokternya ke istana.
0 Comments