Bab 034: Sepertinya Kita Memungut Kelinci yang Aneh
Dorothy berjalan berkeliling rumah sambil membawa keranjang yang berisi anak kelinci. Dia memamerkan kelinci itu kepada Lizzy, lalu kembali ke tempat tidur, meletakkan keranjangnya, dan mengoceh panjang lebar.
Entah mengapa, dia kemudian mengangkat kelinci itu lagi dan membawanya "tur keliling".
"Ini dapur, ini lantai, ini dinding..."
Juhwan tidak habis pikir mengapa putrinya memperkenalkan benda-benda itu pada seekor hewan. Namun, mendengarkan apa yang dikatakan Dorothy sambil berjalan ke sana kemari, tampaknya kelinci kecil itu resmi menjadi anggota termuda di rumah mereka. Awalnya Dorothy hanya memanggilnya "kelinci", tetapi tak lama kemudian hewan itu mendapat nama baru.
Juhwan tidak tahu apakah itu nama pemberian Dorothy atau sebuah kosakata baru yang belum pernah dia pelajari. Yang pasti, si anak kelinci sekarang punya nama panggilan.
'Aduh, kalau begini caranya, kita tidak akan bisa memakan kelinci itu bahkan setelah dia besar nanti.'
Juhwan tersenyum geli melihat kelinci berbulu loreng cokelat kekuningan itu, serta Dorothy yang berlari ke arahnya sambil mendekap si kelinci. Senyum lebar terkembang di wajah bocah itu. Kesedihan karena kelinci yang kabur kemarin tampaknya langsung sirna setelah dia makan daging di pagi hari dan melihat anak kelinci ini bergerak aktif.
Syukurlah. Juhwan sempat khawatir jika putrinya akan menangis seharian lagi hari ini.
"Ayah, kelincinya Dorothy ##!" teriak Dorothy sambil berlari.
Bingung dengan maksud ucapan anaknya, Juhwan menatap Lizzy yang datang mendekat sambil membawa kain basah. Lizzy sempat beralih pandang dan ragu sejenak, tampak kebingungan bagaimana harus menjelaskan arti kata tersebut.
Setelah berpikir sebentar, Lizzy menunjuk perutnya sendiri dan berkata dengan malu-malu, "Bayi."
Kemudian dia menunjuk Dorothy, lalu kembali menunjuk ke perutnya sendiri. Setelah mengulang isyarat itu beberapa kali, maknanya menjadi sangat jelas bagi Juhwan.
"Ya ampun."
Juhwan bergumam tanpa sadar dan menatap kosong ke arah perut Lizzy. Pikirannya mendadak blong.
Tidak mungkin, di dalam tubuh yang kecil dan ramping itu... Ah, tapi tidak salah lagi, kami memang sudah melakukannya. Memang agak terlalu cepat, tapi hal seperti ini cepat atau lambat pasti terjadi.
Juhwan langsung berlutut dan dengan sangat lembut meletakkan tangannya di atas perut Lizzy. Takut memberikan tekanan sekecil apa pun, dia menyentuhnya dengan sangat, sangat hati-hati.
Melihat hal itu, Dorothy dengan mata membelalak tiba-tiba berteriak kencang.
"##?"
Lizzy yang terkejut langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Bukan, bukan, bukan! Bukan bayi! ##! Itu sebuah kata!"
Juhwan ambruk berlutut di tanah, tubuhnya membungkuk ke depan. Pinggangnya mendadak lemas sampai-sampai tidak bisa digerakkan. Rasanya seperti seseorang baru saja melemparkannya tinggi-tinggi ke langit yang jauh, lalu mengempaskannya kembali ke tanah.
Kejutan yang tadi saja sudah luar biasa, tetapi kebenaran yang sekarang rasanya sama mengejutkannya. Pikirannya campur aduk; dia tidak tahu harus merasa lega atau malah kecewa.
Selama ini dia berpikir bahwa kehadiran seorang anak adalah kehendak surga. Di dunia kabin terpencil yang serbaterbatas informasi ini, dia tidak tahu cara menunda kehamilan. Dan melihat Lizzy sama sekali tidak memikirkan hal itu, dia mengira mungkin memang tidak ada caranya. Di sudut hatinya, dia juga punya keinginan kecil untuk memiliki keluarga yang lebih ramai.
Namun sejujurnya, dia ingin menghindari kehadiran bayi untuk saat ini. Dia ingin menunggu sampai lingkungan mereka sedikit lebih siap. Dia ingin membangun ikatan yang lebih kuat dengan Dorothy dan mencurahkan lebih banyak kasih sayang—kasih sayang yang selama ini belum sempat dinikmati oleh bocah itu.
Walaupun nanti Dorothy punya adik dan tetap akan disayang, ada hal-hal tertentu yang hanya bisa dinikmati oleh seorang anak tunggal. Selama Tuhan mengizinkan, Juhwan berharap masa-masa itu bisa bertahan selama mungkin. Waktu yang cukup sampai Dorothy merasa kasih sayang yang diterimanya sudah benar-benar utuh.
Setelah itu, barulah perlahan-lahan, di saat dia, Lizzy, dan bahkan Dorothy sudah siap menanti, kehadiran seorang anak baru akan menjadi momen yang sempurna.
Ya, dia benar-benar berpikir seperti itu. Namun, begitu tahu bahwa dugaannya salah, ada rasa kecewa kecil yang kembali menyelinap di hatinya.
'Tapi itu tadi cuma salah paham. Dia hanya mencoba menjelaskan arti kata...'
Juhwan merasa bodoh karena salah menangkap maksud. Padahal dia jelas-jelas melihat Lizzy sedang berusaha menjelaskan sebuah kata, tetapi pikirannya langsung buyar begitu mendengar kata "bayi".
Lizzy ikut berlutut di samping Juhwan. Dia menyeka dahi dan leher Juhwan dengan kain basah, seolah-olah sedang meminta maaf. Kain yang tadinya dipakai untuk menyeka keringat sehabis membelah kayu, kini menyapu keringat dinginnya. Sebagian dari keringat dingin itu mungkin adalah bentuk pelampiasan rasa malu yang teramat sangat dari tubuhnya. Juhwan merasa agak gengsi.
Dorothy, yang tampaknya menganggap gerakan Lizzy menyeka keringat itu sebagai permainan yang seru, memeluk keranjang kelinci dengan satu tangan dan mengulurkan tangannya yang lain.
"Ibu, Dorothy juga mau!"
Saat dia mengayunkan tangannya, keranjang itu bergoyang hebat.
Gawat, anak kelincinya bisa jatuh. Ini bukan waktunya untuk melamun.
Juhwan dengan cekatan mengulurkan tangan. Untunglah, dia berhasil menangkap si kelinci kecil sebelum terembas ke tanah.
Namanya juga anak-anak, perhatian Dorothy mudah sekali teralih ke mana-mana. Setiap gerakannya selalu membuat orang yang melihat jantungan, tetapi Dorothy sendiri sama sekali tidak sadar.
Menghabiskan waktu seharian bersama anak kecil benar-benar menguras energi mental. Dalam beberapa hal, ini terasa lebih melelahkan daripada berburu di hutan. Juhwan sempat heran bagaimana Lizzy bisa baik-baik saja menghadapi ini setiap hari.
Ah, ternyata Lizzy memang baik-baik saja. Justru dialah yang kehabisan energi sampai rasanya jiwanya terbang melayang keluar dari tubuh.
"...."
Di luar mungkin tampak lemah dan rapuh, tetapi di luar dugaan, Lizzy adalah sosok yang sangat kuat. Melihat senyum cerahnya yang tanpa beban membuat Juhwan berpikir demikian.
Ketika Juhwan membalikkan tubuhnya menghadap Dorothy, anak itu dengan sangat serius mulai menggosok dahinya dengan kain basah. Dia sangat bersemangat. Namun, alih-alih menyeka dengan lembut, gerakannya lebih mirip seperti orang yang sedang menggosok cucian. Jika itu orang biasa, mereka pasti sudah menjerit kesakitan sekarang.
Dorothy bertanya dengan mata berbinar-binar.
"Ayah, enak tidak?"
"....Iya."
"Dorothy juga suka Ayah! Suka bangeeet!"
"...."
Lizzy terkikik di samping mereka. Tadi mereka sedang bicara tentang apakah usapan kain itu terasa nyaman atau tidak, tapi sejak kapan topiknya berubah jadi Dorothy yang menyatakan rasa sayangnya?
Keranjang kelinci diletakkan di lantai. Dengan mata hitam besarnya yang bulat, anak kelinci itu menggeliat dan melihat sekeliling.
Lukanya sudah banyak sembuh, tetapi tampaknya masih terlalu dini baginya untuk melompat-lompat. Meskipun tulangnya tidak lagi terlihat menonjol, daging barunya masih tampak cekung dibanding area sekitarnya.
Dorothy masih terus menggosok tempat yang sama di dahi Juhwan sejak tadi, dan tampaknya belum ada tanda-tanda akan selesai dalam waktu dekat. "Ah, capek," keluhnya, tetapi tangan kecilnya tetap saja menggosok dahi ayahnya. Rasanya kulit Juhwan bisa terkelupas kalau begini terus.
Juhwan, yang hanya bisa pasrah sambil menatap kosong, diam-diam merapalkan sihir penyembuh pada si anak kelinci. Pada awal-awal, efek penyembuhan lukanya langsung terlihat setiap kali dia merapalkan sihir, tetapi sekarang tidak lagi. Rasanya seperti dia sedang memulihkan luka dalam yang tidak kasat mata.
Tiba-tiba, Dorothy yang sejak tadi memperhatikan kelinci itu berbicara seolah baru mengingat sesuatu.
"Ayah, anak kelinci punya #. Lucu ya."
"?"
Tidak mengerti apa maksudnya, Juhwan menatap Lizzy. Lizzy memiringkan kepalanya lalu membentuk isyarat tanduk rusa dengan jari-jari di atas kepalanya.
"Tanduk?"
"Iya, tanduk! Anak kelinci punya tanduk di kepalanya. Di sini! Di sini!"
Sambil melempar kain basah ke samping, Dorothy menunjuk ke arah kepala si kelinci kecil. Tepat di antara kedua telinganya, agak maju ke arah dahi. Di permukaannya, bagian itu hanya tertutup oleh bulu-bulu halus yang lebat.
Mana ada kelinci yang punya tanduk, pikir Juhwan. Namun, dia tetap meletakkan tangannya di atas kepala kelinci demi menyenangkan hati putrinya.
Pada sentuhan pertama, rasanya memang tidak ada apa-apa. Namun, saat dia meraba lebih dalam dan merasakan struktur tengkoraknya dengan jari, dia jelas merasakan adanya tonjolan kecil. Berbeda dengan benjolan biasa, tonjolan ini terasa runcing. Itu benar-benar terasa seperti tanduk, persis seperti yang dikatakan Dorothy.
"...."
Apa yang harus dia lakukan sekarang? Sepertinya hewan yang mereka bawa pulang ini bukanlah kelinci biasa, melainkan makhluk yang aneh.
Juhwan sempat bimbang apakah harus membuang anak kelinci itu atau membiarkannya hidup di luar rumah, tetapi Dorothy dan Lizzy sama-sama menentang ide itu. Tampaknya mereka sudah terlanjur sayang hanya dalam waktu beberapa hari.
Hewan itu juga tidak terlihat berbahaya bagi Juhwan, tetapi apakah benar-benar aman? Lagi pula, dari luar wujudnya tetaplah seekor kelinci biasa. Juhwan sudah memeriksa gigi dan bagian tubuh lainnya, dan selain tonjolan mirip tanduk itu, tidak ada yang berbeda dari kelinci pada umumnya.
Sifatnya pun sangat penurut. Setelah diberi makan dan didekap selama beberapa hari, hewan itu bahkan suka mengendus-enduskan tubuhnya ke tangan Dorothy seperti anak manja. Mungkin ini memang kelinci biasa yang kebetulan memiliki struktur tengkorak yang unik.
"...."
Jika Gus ada di sini, Juhwan pasti akan bertanya makhluk apa ini sebenarnya. Namun, pria itu masih belum kunjung datang. Juhwan mengira Gus akan kembali dalam waktu 3 atau 4 hari, tetapi ini sudah memasuki hari kelima. Apakah dia pergi ke tempat yang sangat jauh?
'Pria dengan kaki pincang itu.'
Gus jauh lebih berpengalaman dan ahli di dalam hutan daripada Juhwan, jadi seharusnya tidak ada masalah yang berarti. Namun tetap saja, Juhwan tidak bisa menahan rasa cemasnya. Mengingat faktor usia dan kondisi fisik Gus, gunung ini tidak sepenuhnya aman bagi orang tua seperti dia.
Setelah beberapa waktu berlalu, dan setelah dia bisa memastikan bagaimana cara dunia ini memperlakukan orang-orang yang bisa menggunakan sihir—serta jika dia menilai bahwa aman untuk menunjukkan sihir penyembuhnya—maka mungkin dia bisa mencoba menyembuhkan kaki Gus.
'Yah, sepertinya dia sebenarnya sudah tahu kalau aku bisa menggunakan sihir penyembuh.'
Dulu, saat Juhwan belum tahu banyak tentang profesi seorang pemburu, dia tidak berpikir bahwa Gus akan menyadari sihirnya. Waktu itu sedang puncak musim dingin, jadi dia biasanya mengenakan pakaian lengan panjang, dan hanya bagian dekat tangannya yang terlihat. Bahkan jika Gus sempat melihat bekas luka besar di balik lengannya yang robek, itu pasti hanya sekilas. Kecuali jika Gus orang yang sangat peka, dia hanya akan menganggapnya sebagai bekas luka biasa.
Namun, setelah menghabiskan lebih banyak waktu bersama Gus, Juhwan tersadar. Ah, dia pasti sudah tahu. Gus adalah tipe orang yang bisa menemukan jejak kaki yang bahkan tidak terlihat oleh mata Juhwan sendiri. Tidak mungkin orang sejelas itu melewatkan perubahan pada lukanya.
Mengingat wajah Gus yang agak kaku dan ketus, Juhwan tersenyum tipis.
Berbeda dengan luka kelinci kecil, luka pada tubuh manusia mungkin membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk sembuh. Luka lama yang sudah telanjur menutup dan mengeras bahkan mungkin tidak bisa disembuhkan secara total. Namun setidaknya, jika ada rasa sakit yang tersisa, Juhwan yakin dia bisa meringankannya.
Jika hal itu terjadi, mungkin pria tua itu akan sedikit merasa senang. Akan sangat menyenangkan jika dia bisa membalas budi kepada Gus, yang selama ini telah mengajarinya banyak hal dan membantunya dalam berbagai situasi.
Juhwan berharap di masa depan, di jalan yang akan dilewati Dorothy nanti, setidaknya akan ada satu lagi orang dewasa yang bisa dia percayai dan ikuti. Dan dia sangat berharap orang itu adalah Gus. Di dunia di mana mereka tidak memiliki satu pun kerabat sedarah, Juhwan berpikir akan sangat indah jika Gus bisa menjadi sosok kakek bagi Dorothy, seperti layaknya ayah bagi Lizzy.
Juhwan pun mulai melanjutkan pekerjaannya membangun pagar di sekeliling rumah. Dia meruncingkan ujung-ujung bambu agar sulit dipanjat oleh siapa pun, lalu menyusun dinding bambu itu di samping pagar yang sudah jadi sebelumnya.
Saat sedang asyik bekerja, Dorothy datang menghampirinya sambil membawa secangkir kecil air dengan kedua tangan kecilnya.
Saat berangkat dari rumah, cangkir itu pasti terisi hampir penuh, tetapi setibanya di depan Juhwan, isinya sudah tinggal kurang dari separuh. Melihat tangan anaknya yang basah kuyup, sudah sangat jelas ke mana perginya air yang hilang itu.
"Terima kasih, Dorothy."
"Sama-sama!"
Juhwan mengusap kepala putrinya sekali lalu meminum air tersebut sampai habis. Cangkir kayu itu kemudian diambil kembali oleh sang anak.
Entah mengapa, saat menerima cangkir itu kembali, Dorothy menengadahkan kepalanya dan mencoba meminum beberapa tetes sisa air yang tersisa di dalamnya. Padahal persediaan air di rumah sangat melimpah, kenapa dia bersikeras ingin meminum sisa air yang dia bawa sendiri?
Kadang-kadang, kelakuan anak kecil memang benar-benar sulit dimengerti.
"Enak!"
Dorothy tersenyum lebar lalu berlari kembali ke rumah dengan cangkir kosongnya.
'Besok, sambil memeriksa perangkap, haruskah aku mencari sarang lebah juga?'
Di antara barang-barang yang mereka beli dari pedagang keliling kemarin, ada sedikit madu di dalamnya. Namun, makanan manis tampaknya menjadi barang yang sangat langka di daerah ini karena jumlah yang dijual sangat sedikit.
Jika dia bisa menemukan madu di hutan, Dorothy dan Lizzy pasti akan sangat senang. Mungkin dia juga bisa menjual sebagian dengan harga tinggi di kota.
'Mari kita coba mencarinya besok.'
Berternak lebah sepertinya bukan ide yang buruk. Saat masih hidup di Bumi dulu, kakeknya pernah memelihara lebah di sebuah lahan terbuka dekat gunung. Juhwan tidak pernah melihatnya dari dekat jadi tidak tahu detailnya, tetapi tampaknya hal itu tidak terlalu sulit untuk dilakukan.
Hal-hal yang ingin dia lakukan dan harapan-harapan yang dia impikan terus bertambah banyak. Membayangkan wajah bahagia Dorothy dan Lizzy saat menikmati air madu yang manis, Juhwan tanpa sadar menyeringai senang.
Sambil beristirahat setelah menyelesaikan sebagian pagar, Juhwan berlatih merapalkan sihir untuk menjaga api tetap menyala di beberapa bilah kayu.
Untuk memastikan agar Gus tidak melihatnya jika tiba-tiba pria itu pulang, Juhwan meletakkan sebilah kayu kecil di antara posisi duduknya dan pagar. Dengan cara ini, karena postur tubuhnya yang besar, tidak akan ada orang yang bisa melihat apa yang sedang dilakukannya dari luar. Mereka hanya akan melihat Juhwan yang sedang duduk beristirahat sejenak dari pekerjaannya.
Di dunia di mana penyihir adalah keberadaan yang sangat langka, sihir yang terlalu mencolok hanya akan mengundang masalah. Akan jauh lebih baik jika dia bisa menciptakan api yang membakar dari dalam tanpa terlihat sama sekali di permukaan luar, sehingga sihir itu bisa digunakan secara praktis tanpa menarik perhatian orang lain.
Juhwan membayangkan aliran lava yang menyala merah membara di dalam tanah, lalu menyalurkan kekuatan sihirnya ke bilah kayu yang terletak di tanah.
Bilah kayu itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa pun di bagian luarnya. Tidak ada asap yang keluar sedikit pun.
Apakah aku melakukan kesalahan? Apakah kekuatan apinya kurang, atau metode visualisasi sihirku yang keliru?
Tepat saat Juhwan menghela napas dan mengulurkan tangannya untuk memeriksa kayu itu, tiba-tiba kayu tersebut berubah warna menjadi merah membara layaknya bola api. Hingga sesaat yang lalu, penampilannya begitu biasa sampai-sampai tidak akan ada orang yang menyadarinya, tetapi perubahan itu terjadi dalam sekejap mata. Tampaknya perubahan bertahap yang terjadi di dalam serat kayu memang sama sekali tidak mengekspos diri ke luar.
Latihannya sukses besar.
Juhwan segera menyiramkan air yang sudah dia siapkan di sampingnya ke arah bola api tersebut untuk mencegah kebakaran. Dengan suara mendesis yang nyaring, asap tebal langsung membubung tinggi. Bola api yang tadinya merah membara seperti lava bergolak, kini dengan cepat berubah menjadi arang hitam mati.
Setelah memeriksa dengan teliti bahwa tidak ada bara api yang tersisa, dia kembali melanjutkan pekerjaannya membangun pagar.
Setelah bekerja beberapa lama, matahari yang tadinya tegak lurus di atas kepala kini mulai condong ke barat. Waktu mungkin sudah menunjukkan sekitar pukul tiga atau empat sore.
Dorothy berlari keluar dari dalam rumah dengan wajah yang luar biasa ceria.
"Ayah, waktunya makan! Daging kelinci!"
Saat Juhwan mendekat, anak itu melompat-lompat kegirangan seperti anak ayam yang mencoba terbang. Ketika Juhwan dengan cekatan menangkap pinggang Dorothy dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, bocah itu tertawa terbahak-bahak. Juhwan sangat senang melihat putrinya bahagia, tetapi terkadang dia juga khawatir anak itu bisa jatuh terjerembap jika dia tidak berhati-hati.
Juhwan menggendong anaknya di samping pinggang dengan satu tangan. Dorothy terkikik kegelian dan menggeliat aktif di dalam dekapannya. Tampaknya dia sangat menikmati hal itu.
Saat Juhwan hendak melangkah masuk ke dalam rumah, dia mendadak menghentikan gerakannya dan menolehkan pandangan.
Dia merasa seolah-olah baru saja mendengar suara lengkingan burung dari tempat yang sangat jauh. Suara itu terlalu samar untuk didengar dengan jelas, itu hanya sebuah perasaan yang tiba-tiba melintas di benaknya.
Saat dia menatap langit malam yang jauh secara saksama, terlihat beberapa ekor burung sedang terbang berputar-putar tinggi di angkasa. Karena jaraknya yang sangat jauh, mereka hanya terlihat seperti titik-titik hitam kecil. Ada beberapa puncak gunung yang memisahkan tempat burung-burung itu berada dengan gunung tempat tinggalnya saat ini.
'Aneh sekali.'
Dia belum pernah melihat burung-burung terbang berputar-putar di langit seperti itu sebelumnya di daerah ini, dan pemandangan itu terasa agak asing serta tidak familier di matanya.
"Ayah! Ayah! Daging! Daging!"
Dorothy mendesaknya untuk segera masuk ke dalam sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. Juhwan menatap burung-burung itu sekali lagi selama beberapa saat, lalu membalikkan badannya dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments