Bab 194: Hei, Nak, Awas
Mata Juhwan membelalak begitu melihatnya. Ia tampak seolah-olah baru saja melihat hantu.
Junghwa refleks melihat ke arah tubuhnya sendiri. Gaunnya, yang tertutup debu kotor, terkoyak di beberapa bagian karena terseret-seret oleh raja. Rambutnya pasti juga sangat berantakan. Rambut yang biasanya digelung dan ditata indah itu kini telah hancur berantakan selama beberapa hari terakhir saat ia berlarian dikejar-kejar oleh perusuh. Hiasan rambut bertatahkan permata yang biasa ia pakai sudah lama lenyap, jatuh entah di mana.
Tiba-tiba, ia teringat wajah istri Juhwan yang pernah dilihatnya di pesta. Apakah sekarang ia terlihat jauh lebih menyedihkan dari wanita itu? Mood-nya langsung hancur.
Sejak kecil, ia menyukai hal-hal yang indah. Setiap kali ia mendandani dirinya dengan cantik dan menarik pandangan orang lain, ia merasa seolah dirinya dicintai. Tapi sekarang ia...
Pada saat itu, raja yang tadi mencengkeram pergelangan tangannya, menarik Junghwa ke belakangnya dan menyembunyikannya. ...Terlepas dari apa pun itu, orang ini memang mencintaiku. Ia membenci raja tua yang jelek itu, tapi mungkin ia harus berterima kasih padanya. Lagi pula, pria itu tetap mencintainya walau ia terlihat sehancur ini.
Tapi demi bertahan hidup, ia harus meninggalkan pria ini. Jika ia tetap bersama raja, satu-satunya masa depan yang menantinya adalah kematian bersama. Junghwa berontak untuk melepaskan tangannya dari raja dan menatap Juhwan. "T-tolong bantu aku. Kita berdua sama-sama dari Bumi, kan? Kumohon. Aku ingin hidup."
Ia ingin hidup. Ia tidak ingin mati.
Daniel dan Margrave sedang berada di dalam kota. Mereka tidak membawa prajurit apa pun. Awalnya, Daniel dan Margrave berencana untuk ikut serta menangkap raja, tapi semakin dekat mereka ke lokasi Lee Junghwa, aura wanita itu terasa semakin kuat.
Rasanya seolah area di sekitar Lee Junghwa telah dipenuhi oleh energi jahat yang terkondensasi pekat. Jika Juhwan membawa mereka ke tempat seperti itu, meski ia sudah melapisi mereka dengan kekuatan penyembuhannya, mereka mungkin saja bisa berubah. Sekuat itulah energinya.
"Tapi aku tidak menyangka akan melihat hal seperti ini..." Juhwan menatap Lee Junghwa dengan perasaan getir di dadanya.
Ia sempat memikirkan apakah ada cara agar wanita itu tetap bisa hidup. Kalau ia terus hidup di Bumi, takkan ada yang salah dengan kehidupannya. Karena terpengaruh bagian dari sang dewa jahat, jalan hidupnya mungkin akan sedikit berliku, tapi ia akan tetap hidup sebagai orang biasa, mati, lalu terlahir kembali untuk menjalani kehidupan baru.
Di mata orang-orang dunia ini, Lee Junghwa mungkin tampak seperti inkarnasi iblis, penyihir, atau makhluk pembawa sial, tapi itu bukan kesalahannya. Semata-mata karena eksistensinya yang terlahir salah. "Karena itulah aku ingin membantunya."
Jika ia mengurung wanita itu di suatu tempat terpencil dan terus-menerus mengalirinya dengan kekuatan penyembuh, mungkin suatu hari nanti ia bisa hidup berdampingan dengan setidaknya satu binatang ajaib. Manusia takkan sanggup berada di dekatnya. Ia harus menghabiskan seluruh hidupnya sendirian.
Meski begitu, Juhwan pernah berpikir, bila ia terus mencari, mungkin ada setidaknya satu binatang ajaib yang sudi menemaninya dan mengurangi rasa sepinya. Sama halnya dengan dirinya yang memiliki Oz, Yeonhwa, dan Kutu Santa, mungkin di luar sana ada makhluk yang bersedia menerima reinkarnasi sang dewa jahat.
Tapi ini tidak bisa dilanjutkan. Penampilan wanita itu sudah sepenuhnya hancur. Matanya hitam legam, dan rambutnya meliuk-liuk di udara layaknya ular. Seolah punya kehendak sendiri, rambutnya merayap di udara, meraba-raba sekeliling sambil menari sendiri.
Apakah ini karena mana-nya? Tampaknya mana yang meluap dari tubuhnya sudah tak bisa ia kendalikan lagi, dan kekuatannya merasuk ke rambutnya. Untaian rambut yang berkelebat itu mirip lengan boneka angin yang sering dipasang di acara pembukaan toko.
Gigi-gigi tajam yang menyembul dari mulutnya tampak seperti taring babi hutan. Taring itu menembus melintasi bibirnya dan mencuat sampai ke arah dagu. Ketika Juhwan melihat tangan yang sedang digenggam raja, napasnya tercekat sejenak. Kuku-kukunya memanjang, melingkar spiral hingga menyentuh tanah, dan pada setiap sendi jarinya, tulang telah menembus keluar dari kulit.
Jika tangannya saja seperti ini, sisa tubuh di balik pakaiannya pasti tak kalah mengerikan. Meskipun begitu, tak ada sedikit pun raut kesakitan di wajahnya. Baik dia maupun raja di sebelahnya seakan tak menyadari bahwa rupa Junghwa telah berubah sedemikian rupa.
Tiba-tiba, Juhwan teringat pria yang menyerbu Hans di jalan tadi. Pria itu tampak menganggap Hans sebagai orang yang sama sekali berbeda. Apakah dunia yang mereka lihat benar-benar berbeda dengan kenyataan?
Raja menarik paksa Lee Junghwa ke belakang saat ia sedang memohon pertolongan. Kulitnya tertarik kencang, lalu robek. Tulang bahunya terekspos dari balik kulit yang koyak, tapi baik raja maupun Lee Junghwa tak menyadarinya. Seakan-akan mereka sama sekali tak bisa melihatnya.
Juhwan menghela napas panjang dan mempererat genggamannya pada kapaknya. Tanpa sepengetahuan Lee Junghwa maupun raja, ia mengalirkan mana ke kapaknya. Setidaknya, ia akan membuatnya berlangsung cepat dan tanpa rasa sakit, sehingga wanita itu takkan menyadari bahwa ia sedang meregang nyawa.
Berpikir demikian, Juhwan mengayunkan kapaknya membelah udara. Saat kapak itu bergerak menuju Lee Junghwa, seluruh rambut panjangnya seketika melesat ke arah Juhwan. Setiap helainya bak anak panah. Lee Junghwa sendiri berwajah kosong, seakan tak tahu apa-apa, tapi insting bertahannya bergerak melindungi secara otomatis.
Namun tepat sebelum rambutnya mencapai tubuh Juhwan, helaian rambut itu kehilangan seluruh kekuatannya dan jatuh lunglai ke tanah. Seolah rambut itu kehilangan tekad untuk melawan begitu bersentuhan dengan mana Juhwan.
Kapak Juhwan terus melesat di udara dan menebas leher Lee Junghwa. Sebelum bilah tebalnya mengenai kulitnya, ketajaman mana di baliknya telah terlebih dulu memutus napasnya. Saat kepala Lee Junghwa terjatuh, mata hitamnya masih menyisakan sedikit kelembapan, tubuhnya pun tumbang beberapa saat kemudian.
Mana pekat yang kelam mengalir keluar dari tubuhnya. Mana yang telah kehilangan tuannya itu bergejolak ke arah Juhwan, seakan tersedot masuk. Yeonhwa mengibaskan ekornya dengan kesal. Namun, unicorn itu tidak mencoba menghentikan mana tersebut. Mana ini tidak mencoba menyerangku.
Jika Yeonhwa tak bereaksi, berarti energi itu tidak berbahaya. Di saat ia memikirkan itu, mana yang mengarah padanya meresap masuk ke dalam tubuhnya. Kulitnya terasa sedikit perih. Tapi itu tidak menyakitkan.
"... Begitu rupanya." Rasanya sama seperti air mata dewa jahat. Tidak lebih, tidak kurang. Sesuatu yang memang aslinya merupakan bagian darinya kini telah kembali.
Sesaat, ia cemas apakah ia akan menderita kesakitan seperti saat ia menyerap air mata dewa jahat sebelumnya. Namun sepertinya tidak ada yang salah. Ia memutar mana-nya perlahan, tapi tidak ada perubahan khusus. Satu-satunya perbedaan adalah jumlah mana di dalam tubuhnya meningkat dengan sangat drastis. Kepalanya terasa agak berkabut, seolah-olah sedang mabuk.
Raja, yang tadi berdiri membisu, berteriak selangkah lebih lambat, seakan ia baru saja menyadari apa yang terjadi. "Junghwa!" Bau busuk menyeruak dari tubuh dan mulut raja. Secara fisik, ia tak terlihat banyak berubah, tapi mungkin organ dalamnya telah berubah menjadi sesuatu yang menjijikkan.
Juhwan meraup beberapa butir pasir dari tanah dan menyebarkannya ke wajah raja. Mana di dalam pasir itu mengikat bibir raja. Mulut raja tertutup rapat seakan telah dijahit dengan benang. Suara redam keluar darinya, tapi hanya itu. Raja tak bisa lagi bicara.
Juhwan berkata pada raja dengan nada rendah, "Aku takkan membunuhmu di sini." Raja Simoni akan diseret ke atas panggung eksekusi begitu Daniel naik takhta.
Juhwan turun dari Yeonhwa dan melepaskan cincin stempel kerajaan dari jari raja. Tapi sang raja tampaknya tak peduli soal itu. Ia hanya menatap nanar mayat Junghwa. Dengan wajah dipenuhi keputusasaan, ia terus meneteskan air mata.
Juhwan mendesah pelan, lalu menciptakan api kecil dari tubuhnya. Ia memindahkan api itu ke tubuh dan kepala Lee Junghwa. Ketika ia menambahkan mana untuk memperbesar apinya, tubuh Lee Junghwa seketika tersulut kobaran api dan berubah menjadi abu.
Juhwan mengangkat tangannya, memberi isyarat ke arah atas tembok, dan para prajurit pun mulai bergerak. Tak lama, prajurit-prajurit itu akan turun untuk mengikat raja. Setelah menyegel tubuh raja dengan mana agar ia tak bisa kabur, Juhwan menuntun Yeonhwa ke dalam tembok kota.
Di seberang gerbang yang terbuka lebar, di ujung jalan, Daniel sedang berdiri. Saat Juhwan melewati gerbang, beberapa prajurit melompat turun dari tembok dan bersorak. "Penyihirnya sudah mati!" "Penyihir yang membuat raja gila sudah mati! Sang Pejuang Tuhan telah mengeksekusi penyihir itu!"
Sorakan para prajurit menyebar di jalanan layaknya wabah. Pembantaian masih terjadi di beberapa penjuru kota. Masih ada urusan pencarian pangeran-pangeran yang memperebutkan takhta. Masih ada setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan.
Namun kini, tak hanya prajurit yang bertarung. Bahkan warga kota yang tadi diam-diam bersembunyi kini ikut angkat senjata. Juhwan mengamati ekspresi orang-orang itu satu per satu. Terlihat jelas bahwa hati rakyat lebih condong pada Daniel, bukan pada pangeran-pangeran yang lain. Meskipun hal itu juga karena gelarnya sebagai Pejuang Tuhan.
Juhwan perlahan mendekati Daniel. Sorak-sorai rakyat makin bergemuruh. Ia turun dari Yeonhwa dan menghampiri Daniel. Seperti yang telah mereka sepakati sebelumnya, Daniel mengulurkan tangannya. Juhwan mencium tangan tersebut, lalu meletakkan cincin stempel kerajaan itu di telapak tangannya dengan penuh hormat.
Ketika Daniel mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar cincin itu bisa dilihat dengan jelas oleh rakyat, para prajurit bersorak bak guntur. "Hidup Yang Mulia!" "Hidup raja yang baru!" "Hidup Raja Daniel!" "Hidup sang Raja!"
Kemudian para pendeta datang berlarian. Mereka membawa para pendeta wanita di atas kereta dorong yang entah mereka dapatkan dari mana. Orang-orang di jalanan buru-buru menundukkan tubuh dan berbisik. "Itu Kepala Pendeta." "Pendeta Wanita Tinggi..." "Seluruh pendeta wanita dari kuil telah keluar."
Kereta dorong itu, yang berguncang kencang seolah akan melempar penumpangnya, berhenti di dekat Juhwan. Ini bukan pemandangan yang ia sangka-sangka. Ia melirik ke arah Margrave, namun pria itu menggeleng pelan. Artinya, ini bukan ulah Margrave juga.
Para pendeta wanita turun dari kereta, terhuyung-huyung seakan kesulitan berdiri setelah perjalanan yang kasar. Pendeta wanita yang berdiri paling depan mengambil beberapa langkah maju seraya menangkupkan kedua tangan di dadanya. "Pejuang! Putra Tuhan... pendeta wanita yang hina ini memberi hormat kepada Anda." Lalu ia menundukkan kepala dan jatuh berlutut.
Di belakangnya, semua orang yang datang dari kuil ikut berlutut. Sorakan para prajurit dan warga yang menyaksikan kembali membahana, seolah akan membelah langit. Ketika Juhwan melirik ke samping, Margrave sedang tersenyum. Walau bukan dia yang merencanakannya, mungkin dia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi.
Juhwan berdecak lidah dalam hati dan mengulurkan tangannya ke pendeta wanita yang berlutut di paling depan. "Pendeta, silakan berdiri. Saya bukan orang yang sehebat itu." "Tidak. Anda pastilah Tuhan itu sendiri, yang telah meminjam wujud manusia dan turun ke tanah ini. Jiwa saya mengatakan demikian." Mata Pendeta Wanita Tinggi, yang menatapnya seolah ia adalah entitas yang menyilaukan, berbinar cemerlang.
Suci dan polos layaknya anak kecil. Ekspresi seperti itu memang diciptakan untuk wanita sepertinya. Namun akan merepotkan jika semua orang terus berlutut seperti ini.
Juhwan meraih tangan pendeta wanita itu, yang menggelengkan kepalanya seakan terharu, dan membantunya berdiri. "Semuanya, tolong berdiri. Ada orang-orang yang butuh pertolongan. Jika Anda benar-benar ingin melakukan sesuatu untuk saya, tolong bantu mereka." "Ah... maafkan saya. Tentu saja, itu yang seharusnya kami lakukan..."
Pendeta wanita itu tampak kikuk, lalu ia mengecup tangan Juhwan dan berdiri. Dimulai darinya, pendeta wanita lain juga maju dan mencium punggung tangan Juhwan. Saat para pendeta pria juga terlihat akan melakukan hal yang sama, Juhwan akhirnya menolak. Bukan berarti ia sangat menikmati tangannya dicium oleh para wanita, tapi setidaknya ia ingin menghindari ciuman dari pria.
Para pendeta dan pendeta wanita menyebar ke sekitar area itu untuk merawat yang terluka. Sesekali, Pendeta Wanita Tinggi mencuri pandang ke arahnya dengan mata berbinar. Apa dia benar-benar bisa merasakan sesuatu di dalam diriku? Itu membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.
"Luar biasa." Jalanan itu jaraknya sangat jauh, tapi bahkan dari sini pun, semua orang bisa melihat gerbangnya berubah menjadi serbuk. Dorothy menatap pemandangan itu dengan mulut ternganga.
Sebagian besar prajurit di dekatnya sudah berlari ke arah kota. Yang tersisa hanyalah tentara kuil, pendeta wanita, dan sekitar dua puluh prajurit. Ruang luas itu terasa melompong. Seolah-olah ia mendadak ditinggalkan sendirian. Dan dari seberang ruang itu, seekor kelinci kecil sedang berlari ke arahnya. Itu Oz.
"Dia cepat sekali." Dia terlihat seperti kilatan petir kecil yang melesat di atas tanah. Tanpa ada halangan pandangan, wujudnya semakin menyerupai petir. Dalam sekejap mata, Oz melintasi jarak yang jauh itu dan melompat ke udara.
Dorothy, yang sejak tadi berdiri di luar kereta, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Oz! Tadi hebat sekali!" Ketika Oz mendarat di pelukannya, Dorothy mengangkat kelinci bertanduk itu tinggi-tinggi dengan kedua tangannya lalu berputar-putar.
"Kita berhasil! Kita benar-benar berhasil. Kita luar biasa. Kita pasangan yang hebat, kan, Oz? Sekarang ayo kita ubah seluruh kastil itu jadi bubuk, bukan cuma gerbangnya saja. Itu pasti lebih hebat lagi!" "Ppiit!"
Sepertinya ia terlalu banyak berputar. Kepalanya mulai pusing. "Uwaaaaaah!" Dia terhuyung berputar, tubuhnya oleng ke sana-kemari. Lizzie buru-buru memegangi Dorothy, tapi kaki anak itu tak mau berhenti melangkah.
"Ibu, Ibu, badanku gerak terus!" Tepat pada saat itu. Dari kejauhan, sebuah pohon menggoyangkan cabang-cabangnya dan berbicara pada Dorothy.
[Hei, awas. Nak, awas.] Dia tidak yakin kata-katanya persis seperti itu. Jaraknya terlalu jauh. Tapi pasti artinya mendekati itu.
Sambil berusaha mati-matian menghentikan tubuh dan kepalanya yang berputar-putar, Dorothy menengok ke arah datangnya suara tersebut. Di kejauhan, mungkin dekat pohon yang bicara padanya tadi, ada seorang pria berdiri di sana.
Dia mungkin orang dari pihak kastil. Tadi ada beberapa pria sepertinya. Karena orang-orang itu keluar dari gerbang kastil, para prajurit langsung menembak mati mereka dengan panah. Namun, para prajurit tidak menyadari keberadaan pria ini. Sepertinya ia tidak keluar melalui gerbang yang sudah jadi debu itu, tapi dari tempat lain di sebelahnya, di dekat ujung tembok.
Ada pepohonan di sana, membuatnya susah dilihat. Tadi para prajurit juga menggerutu bahwa mereka harus lebih hati-hati di area itu. Pria itu sedang memegang busur.
Sambil memaksa mata dan kepalanya berhenti berputar, Dorothy berteriak sekeras-kerasnya. "Ibu! Ada orang. Bawa busur! Dia pegang busur!" Namun sebelum Dorothy selesai bicara, pria itu sudah melepaskan anak panahnya.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments