Bab 164: Makam Dewa Jahat
Ketakutan lahir ketika kau memiliki sesuatu yang berharga. Jika kau tidak memiliki apa-apa, maka tidak ada yang perlu ditakutkan. Karena ada sesuatu yang tidak ingin kau hilangkan, kau menjadi takut kehilangannya. Dalam artian tersebut, mungkin ini adalah momen paling menakutkan dalam hidup Juhwan.
"Haa..." Juhwan menekan tangannya ke dadanya, yang terasa berat seolah-olah sebuah batu diletakkan di atasnya, dan bernapas pendek.
Ia tahu tidak ada apa-apa di hutan tempat Dewa Jahat konon disegel itu. Tidak akan ada bahaya fisik. Tetapi ia takut bahwa apa pun yang ia pelajari di dalam hutan itu mungkin akan mengubah sesuatu. Ia hanya ingin menutup matanya dan membuang muka. Ia ingin tetap menjadi tidak lebih dari Kim Juhwan, seorang manusia biasa. Suami Lizzie. Ayah Dorothy. Seorang rakyat jelata yang rendah. Seandainya saja ia bisa hidup seperti itu.
Juhwan menarik napas. Lizzie, yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba menatapnya dan tersenyum cerah. Di tangannya ada sepotong roti jahe yang terlihat agak kasar dan polos. "Makanan di sini lebih sederhana daripada yang kita makan di kastil Margrave. Tapi kurasa aku lebih suka ini. Apa karena aku rakyat jelata ya?"
Saat Lizzie memiringkan kepalanya, Dorothy, yang mulutnya penuh dengan daging, bergumam sambil mengunyah. "Dorothy lebih suka roti manis dari kastil yang itu, Ibu. Tapi daging ini juga enak. Lembut." Dengan tangan berlumuran saus lengket, Dorothy menyodorkan sepotong daging kepada Juhwan. "Ayah, Ayah, cobain deh. Enak banget lho."
Juhwan menjulurkan lehernya dan menerima daging itu ke dalam mulutnya, bahkan sampai menggigit pelan jari-jari Dorothy. Dorothy meledak dalam tawa. "Ayah lapar ya? Dorothy kasih lagi ya?" "Boleh. Ayah minta satu suap lagi ya?"
Saat ia memakan sepotong daging lagi dari tangan Dorothy, Juhwan melirik Lizzie. Wanita itu sedang menatapnya dengan mata lembut, tersenyum. Lizzie, maukah kau terus tersenyum padaku seperti itu? Ia menggumamkan kata-kata itu dalam diam, tak mampu mengucapkannya dengan suara keras.
Dewa Jahat yang ditakuti semua orang. Lizzie belum pernah mengatakannya secara langsung, tapi tidak ada satupun manusia yang menyukai Dewa Jahat. Semua orang percaya bahwa penderitaan di dunia ini terjadi karena Dewa Jahat. Juhwan bisa merasakannya dari orang-orang yang membicarakannya. Semua orang takut dan membenci Dewa Jahat. Jika Lizzie mengetahui kebenarannya, apakah ia masih akan tersenyum padanya? Apakah ia tidak akan takut? Apakah mungkin ia percaya bahwa alasan hidupnya selama ini begitu sulit adalah karena Dewa Jahat? Hatinya serasa diremas menyakitkan.
"Lizzie, aku berpikir untuk masuk ke hutan itu sekali saja. Kalau kau takut pergi—" "Aku akan pergi bersamamu." Lizzie memotong perkataannya dan meletakkan rotinya.
Lizzie hampir tidak pernah menyelanya. Bahkan, Juhwan tidak ingat Lizzie pernah melakukan itu sebelumnya. "Ke mana pun kau pergi, aku akan mengikutimu. Aku pasti akan ikut. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, Juhwan." Lizzie datang ke depannya dan berlutut, menatap ke arahnya. "Kau bertingkah agak aneh sejak kita datang ke sini. Rasanya seperti kau sedang berbohong. Itu yang aku rasakan."
Lizzie meraih tangannya. "Kumohon, Juhwan. Entah itu berbahaya atau tidak, bawa aku bersamamu. Aku akan berhati-hati supaya aku tidak jadi beban. Aku tidak akan menjauh dari Oz. Apapun yang terjadi, aku tidak akan mencoba menyelamatkanmu. Kalau aku merasa ini sedikit saja berbahaya, aku akan langsung kabur tanpa ragu, jadi kumohon, selalu biarkan aku berada di sisimu."
Tidak apa-apa, Lizzie. Tidak ada bahaya. Ia tahu semuanya akan baik-baik saja bahkan jika mereka memasuki hutan itu. Ia hanya merasa takut. Takut bahwa ada emosi lain yang mungkin bercampur dengan cara istrinya itu menatapnya. Ketika Juhwan dengan lembut membelai kepala Lizzie, Dorothy datang dengan makanan yang belepotan di mulut dan tangannya, lalu menyorongkan kepalanya. "Ayah, Dorothy juga." "Tentu saja."
Rupanya, Kutu Santa tanpa sadar telah melayang menuju jendela. Oz melesat di udara bagai sambaran petir dan dengan cepat menendangnya jatuh. "Kueek! Kelinci kurang ajar! Paeng! Kalau kau menendangku seperti itu, aku bisa mati! Paeng!" Kutu Santa terkapar di lantai, berteriak-teriak paeng, paeng. Melihatnya, Juhwan menghembuskan napas lembut.
Juhwan berjalan perlahan dengan Lizzie dan Dorothy menunggangi punggung Yeonhwa. Mereka sedang dalam perjalanan menuju hutan tempat perang para dewa terjadi. Yeonhwa mengenakan pelana dan perlengkapan hadiah dari Margrave. Karena pelana itu dibuat sesuai dengan ukuran tubuh Juhwan, ukurannya cukup besar. Bahkan dengan Lizzie dan Dorothy duduk di atasnya, masih banyak ruang tersisa. Kain tebal berlapis-lapis telah diikat kuat ke pelana tersebut. Juhwan memasangnya agar Lizzie dan Dorothy bisa merasa sedikit lebih nyaman.
Tubuh mereka ditahan di tempatnya oleh angin agar mereka tidak jatuh. Seiring ia menjadi semakin terbiasa dengan sihir, pekerjaan halus seperti ini pun menjadi mungkin dilakukan. Lizzie dan Dorothy, yang tidak tahu apa-apa, hanya menganggap Juhwan adalah penyihir yang luar biasa. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Hal itu bisa terjadi bukan karena Juhwan seorang penyihir, melainkan hanya karena ia adalah Dewa Jahat.
Melihat ke belakang sekarang, memang sudah seperti itu sejak ia pertama kali menggunakan sihir penyembuhan. Fakta bahwa ia bisa menggunakan sihir penyembuhan pada tingkat yang tidak bisa dilakukan orang lain, itu sendiri sudah menjadi bukti bahwa Juhwan adalah Dewa Jahat. Sekarang setelah ia menyadari siapa dirinya, ia merasa seperti orang bodoh karena tidak menyadarinya lebih awal.
Saat mereka berdiri di pintu masuk hutan, hembusan angin meniup ke arah mereka. Anginnya dingin. Bukan sekadar sejuk, melainkan terasa lembap dan menyeramkan. Rasa menggigil yang tajam menjalar di tulang punggungnya. Di luar hutan, hari masih siang terang benderang. Tapi di dalam, keadaannya gelap gulita. Ia hampir tidak bisa melihat apa yang ada di balik pepohonan. Meskipun sinar matahari yang terang jelas-jelas menyinari hutan itu, tempat tersebut terasa gelap dan suram. Tempat itu tampak seperti tempat di mana pagi tak pernah datang, di mana malam abadi terus berlanjut tanpa akhir.
Lizzie dan Dorothy sepertinya merasakan hal yang sama. Mereka menyusut ketakutan dan melihat sekeliling. "Tidak apa-apa. Ini tidak akan berbahaya." Juhwan menenangkan mereka dan mengambil satu langkah masuk ke dalam hutan.
Hanya satu langkah. Seketika ia melangkah masuk dari luar, pemandangannya berubah. Cahaya yang beberapa saat lalu menyinari kulitnya dengan hangat kini menyentuhnya dengan energi dingin yang bercampur di dalamnya. Hal itu membuat bulu kuduknya berdiri. Rasanya seperti sisik ikan yang menggesek kulitnya. Ia tidak mendengar apa-apa sampai sesaat sebelumnya, namun begitu ia menginjakkan kaki di hutan, suara angin seperti rintihan hantu datang dari segala arah. Angin yang bergerak di antara ranting-ranting pohon terdengar seperti angin utara yang bertiup di pertengahan musim dingin.
"Ayah, apa ini hutan hantu?" Dorothy berbicara dengan suara kecil yang ketakutan. Lizzie berbisik kepadanya bahwa ini bukan hutan hantu, melainkan tempat di mana perang para dewa terjadi. Dorothy sepertinya tidak terlalu mengerti. Menyesuaikan dengan suara Lizzie yang berbisik, Dorothy merendahkan suaranya sendiri.
"Apa karena Dewa Jahat itu dewa yang jahat? Apa dia berkelahi dengan dewa-dewa lain, dan itu yang bikin tempat ini jadi hutan hantu?" "Bukan begitu, Dorothy. Tempat ini terasa menakutkan karena Dewa Jahat disegel di sini. Konon Dewa Jahat itu adalah dewa yang sangat kuat dan menakutkan." "Kenapa Dewa Jahat menakutkan? Apa dia jahat? Kenapa dia disegel di sini kalau dia itu dewa?" "Hmm, Ibu juga tidak begitu tahu… Tapi mungkin itu karena dia membenci manusia. Katanya Dewa Jahat sangat benci manusia." "Kenapa Dewa Jahat benci manusia?" "Yah, Ibu tidak terlalu tahu… Tapi mungkin karena dia memang dewa yang jahat?"
Jadi begitulah kesan orang-orang terhadap Dewa Jahat. Mendengarkan percakapan mereka, Juhwan terus berjalan lebih dalam ke hutan.
Gelap dari segala arah. Jelas ada langit biru yang terlihat di atas pepohonan, namun hampir tidak ada cahaya yang masuk. Rasanya seolah ada tudung tak kasat mata yang terbentang melintasi langit. Juhwan tiba-tiba menengadah. Rasanya seolah ada sesuatu yang dengan lembut melayang ke arahnya. Mungkin sesuatu yang kecil dan ringan, seperti kepingan salju. Berbeda dari atmosfer hutan itu, sesuatu itu membawa energi yang manis dan hangat.
Namun saat ia melihat ke sekeliling, ia tidak melihat apa-apa. Hanya pepohonan yang memenuhi udara, tubuh mereka bergetar saat menatap ke bawah ke arah Juhwan. Pepohonan itu, yang berdiri di sana-sini dengan jarak di antara mereka, lebih besar dan lebih raksasa daripada pohon di tempat lain. Ia merasa seolah dirinya telah menjadi seekor semut. Terbawa oleh angin, terdengar suara dahan-dahan yang berguncang. Suaranya terdengar seperti pepohonan itu sedang menjerit.
"Ayah." Dorothy merentangkan kedua tangannya ke arah Juhwan. Sepertinya berada di pelukan Juhwan tidak terlalu menakutkan dibanding duduk di atas Yeonhwa. Saat Juhwan mengulurkan tangannya, Dorothy masuk ke dalam pelukannya seolah melompat turun. Seperti seekor koala, ia melingkarkan kakinya di tubuh ayahnya.
"Lizzie, kau tidak apa-apa?" Ketika Juhwan bertanya, Lizzie mengangguk pelan dengan wajah pucat. Tapi jelas terlihat bahwa ia ketakutan. "Kemarilah." Juhwan mengulurkan tangannya, namun Lizzie tetap duduk di atas Yeonhwa tanpa bergerak.
Lizzie sudah bilang sebelumnya bahwa kalau hutan ini menjadi berbahaya, ia akan segera menunggangi Yeonhwa dan melarikan diri. Ia telah meminta Juhwan membawanya hanya setelah mengatakan hal itu. Ia pasti berpikir Juhwan mungkin akan meninggalkannya jika tidak begitu. Apakah itu sebabnya dia tidak bisa bilang kalau dia mau turun?
Juhwan memberikan senyum tipis dan kembali mengulurkan tangannya. Ia dengan lembut membungkus tubuh Lizzie dengan angin dan menariknya turun. Seketika Lizzie mengeluarkan suara terkejut, ia sudah berada di dalam pelukan Juhwan. Saat Juhwan berjalan menyusuri hutan sambil menggendong mereka berdua, Lizzie sedikit bergeser seolah merasa bersalah.
"Juhwan, aku akan jalan saja. Aku berat." "Tidak apa-apa. Aku membuatmu lebih ringan dengan angin. Bahkan tanpa sihir angin pun, kau sama sekali tidak berat." Lizzie terdiam sejenak sebelum tiba-tiba berbicara.
"Agak aneh tiba-tiba bilang begini, tapi Juhwan, kau tahu... Sejak hari itu sampai sekarang, aku hanya terus semakin menyukaimu. Kemarin, aku yakin aku sangat menyukaimu sampai perasaanku tidak mungkin bertumbuh lebih besar lagi. Tapi pas aku buka mata hari ini, ternyata aku jadi lebih menyukaimu." Lizzie membenamkan wajahnya di bahu Juhwan dan terus bergumam. "Aku benar-benar mencintaimu. Aku sangat mencintaimu sampai aku tidak tahu harus berbuat apa. Jadi apapun yang terjadi, kapanpun itu, jangan lepaskan aku, Juhwan."
Itu tidak akan pernah terjadi. Ia telah mencari begitu lama dan akhirnya menemukan keluarga yang bisa ia cintai. Tidak mungkin ia akan melepaskannya.
Ini bukan sekadar masalah tentang kehidupannya saat ini. Saat Santa pertama kali bertemu dengannya dan mengatakan apa yang ia katakan, Juhwan mengira itu karena Santa sudah gila. Tapi sekarang, ia mengerti. Ia telah menjalani kehidupan yang haus akan kasih sayang untuk waktu yang sangat lama. Mungkin itu karena ia dulunya adalah Dewa Jahat. Itulah sebabnya ia selalu berakhir sendirian. Baru setelah ia datang dari Bumi ke tempat ini, ia akhirnya bisa membangun sebuah keluarga. Kehidupannya yang sebelumnya mungkin memang selalu dipenuhi kesepian. Ia tidak memiliki ingatan tentang hal itu, tapi setelah menyadari ia adalah Dewa Jahat, ia jadi mengerti.
Aku pasti terus hidup seperti itu.
Dorothy menatap diam-diam ke arah pepohonan, lalu memiringkan kepalanya. "Ayah, kenapa pohon-pohon itu terus menyuruh Ayah untuk marah?" Mendengar kata-kata Dorothy, Lizzie mengangkat kepalanya. Ia tampak kedinginan sampai ke tulang. Wajahnya menjadi pucat seperti habis melihat hantu.
"Dorothy, apa pohon-pohon itu ngomong begitu?" "Mm. Mereka terus nyuruh Ayah buat marah." Dorothy meletakkan jari-jarinya di atas matanya dan membuat ekspresi marah. "Mereka bilangnya begini, sambil marah. Marah, marah, aku benci mereka, aku benci mereka, orang-orang itu, bakal kubunuh, bakal kubunuh mereka semua."
Apakah begitu cara Dorothy mendengarnya? Juhwan berjalan perlahan dan menatap ke atas ke arah pepohonan. Bagi Juhwan, rasanya seolah-olah pepohonan itu sedang menjerit dan menangis. Mereka seperti berteriak bahwa ini menyakitkan, sangat menyakitkan, sakit sekali sampai mereka bisa mati. Bukan tubuh mereka, melainkan hati mereka. Pikiran mereka. Begitulah rasanya apa yang sedang mereka katakan.
Hati Dewa Jahat pasti telah meresap ke dalam pohon-pohon ini. Mungkin Dewa Jahat pernah ingin mati. Dalam sisa-sisa peninggalan Dewa Jahat yang pernah dilihat Juhwan selama ini, tidak pernah ada keinginan untuk hidup. Di dalam air mata Dewa Jahat dan di dalam pohon-pohon ini, di balik kemarahan itu, hanya ada kesedihan dan rasa sakit. Mungkin setelah kehilangan istrinya dan ditinggal sendirian, ia merasa hidup ini terlalu sulit untuk ditanggung.
Saat mereka masuk lebih dalam, udaranya perlahan berubah. Sesuatu yang hangat perlahan bercampur ke dalam energi yang suram dan dingin. Rasanya seperti sinar matahari meresap ke dalam naungan pepohonan.
Kutu Santa terbang mendekat dan berteriak. "Di sini! Paeng! Di sini, paeng! Aku mencium baunya. Paeng. Di sinilah sesuatu yang paling penting bagi kami berada. Paeng. Dulu ada di sini. Paeng!"
Kutu Santa terbang ke sana kemari dengan bingung, lalu melesat ke depan di antara pepohonan. Juhwan sempat bertanya-tanya apakah Yeonhwa dan Oz mungkin akan terpengaruh juga, tapi tak satu pun dari mereka yang menunjukkan reaksi apa-apa. Mengikuti jalan yang diambil oleh Kutu Santa, mereka mengagetkan beberapa ekor tupai yang segera berlarian memanjat pohon.
Kalau dipikir-pikir, mereka sama sekali belum melihat satupun hewan sampai saat ini. Tidak ada tupai, tidak ada rubah atau kucing hutan, bahkan serangga sekalipun. Tiba-tiba, suara burung berkicau mencapai telinganya. Tangisan serangga, gemerisik rumput yang tertiup angin, dan suara aliran sungai berbaur di dalamnya. Sampai sesaat yang lalu, yang ada hanyalah ratapan hantu dari suara angin. Rasanya seolah-olah mereka telah memasuki ruang yang sama sekali berbeda.
Saat Juhwan berjalan lebih dalam ke dalam, bunga-bunga mekar serentak dari semak-semak yang tumbuh lebat di kedua sisinya. "Juhwan, lihat ke sana. Bunga." Mata Lizzie terbelalak.
Setiap langkah yang Juhwan ambil, bunga-bunga mekar dengan cerah di sekelilingnya. Di depannya, kuncup-kuncup bermunculan satu per satu pada cabang-cabang yang tadinya gundul. Kapanpun Juhwan lewat, kelopak bunganya mekar seperti brondong jagung yang meletup. "Ayah, apa Ayah itu dewa bunga? Hebat banget!" Mata Dorothy membulat. Yah, ia bukan dewa bunga.
Juhwan dengan hati-hati melirik Lizzie. Wanita itu tampak tenggelam dalam pikirannya. Ia menatap hutan, berpikir dengan saksama. Berbeda dengan Dorothy yang masih kecil, mungkin Lizzie menyadari sesuatu. Mungkin ia menyadari, sedikit banyak, bahwa Juhwan memiliki hubungan yang mendalam dengan Dewa Jahat.
Semakin dalam mereka pergi, udara menjadi semakin hangat. Pepohonan yang suram menghilang, dan daun-daun hijau berkilau cerah. Kupu-kupu dan burung-burung terbang ke sana kemari, dan hijaunya dedaunan tumbuh semakin lebat.
Tiba-tiba, sesuatu yang kecil mendarat di kulitnya. Rasanya seperti kepingan salju yang transparan. Ia pernah merasakannya sekali sebelumnya, di luar hutan.
Kutu Santa, yang tadi telah pergi duluan, terbang kembali sambil mengepakkan sayapnya seperti orang gila. "A-Ada di sana. Paeng. Ada di dalam situ, paeng!" "Ada apa di sana?"
Saat Juhwan bertanya, Kutu Santa tersenyum lebar. "Aku tidak tahu. Paeng. Tapi Santa yang membuatnya. Aku bisa mencium baunya. Paeng." Kutu Santa tampaknya benar-benar lupa bahwa, pada awalnya, ia enggan memberitahu Juhwan apa-apa. Ia menarik-narik baju Juhwan, mendesaknya untuk bergegas.
Tarikan seekor Kutu Santa yang kecil dan tak bertenaga mana mungkin bisa menggerakkan apapun. Meskipun begitu, Kutu Santa terus menariknya dan tersenyum cerah. "Tidak kusangka aku akan melihat sesuatu yang dibuat Santa di tempat seperti ini. Aku benar-benar beruntung. Paeng. Melihatnya membuat tubuhku dipenuhi tenaga. Paeng. Nanti, waktu aku bertemu teman-temanku, akan kuceritakan semuanya pada mereka. Paeng. Saat kami bekerja keras melakukan perbuatan baik, sepertinya semua hasil kebaikan itu berkumpul di sini."
Didesak oleh Kutu Santa, Juhwan melangkah lebih jauh ke dalam, dan tiba-tiba sebuah tanah lapang yang terang muncul. Rasanya seperti mereka telah tiba di sebuah taman kecil. Bunga-bunga bermekaran di mana-mana, dan kupu-kupu beterbangan di udara. Di tengahnya berdiri sebuah struktur yang terbuat dari tumpukan batu kecil. Batu-batu telah didirikan melingkar, dan di tengahnya terdapat beberapa pilar batu yang di atasnya diberi batu datar. Kelihatannya persis seperti miniatur Stonehenge.
Kutu Santa terbang di atasnya dan berteriak. "Ini dia! Ini! Paeng! Baunya seperti Santa. Paeng! Ada sesuatu yang sedikit aneh, tapi bagaimanapun juga, baunya seperti Santa. Paeng!"
Lizzie bergumam seolah terkesima. "Ini… pastilah… makam Dewa Jahat…?" Mata Lizzie sedikit melebar, dan kemudian ia tiba-tiba menatap Juhwan. Melihat keterkejutan yang memenuhi mata istrinya, Juhwan memalingkan pandangannya.
Lizzie sudah tahu. Lizzie telah menyadarinya. Ia tidak sanggup menatap mata wanita itu. Keberaniannya berhamburan seperti debu dan menghilang entah ke mana.
Dewa Jahat. Dewa jahat yang dibenci oleh manusia. Kata-kata itu berkedip-kedip di benaknya.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments