Header Ads Widget

Chapter 16 - Mulai Hari Ini, Seorang Pemburu

 


Mulai Hari Ini, Seorang Pemburu


Di dunia ini, tampaknya semua orang terbiasa bangun sangat pagi. Juhwan memang sudah menduga akan ada orang yang mendatangi pondoknya di pagi hari, tetapi dia sama sekali tidak menyangka bakal sepagi ini.

Juhwan memberikan anggukan kepala kepada pemburu tua itu, memberikan isyarat bahwa dia akan segera keluar setelah bersiap-siap sejenak.

Dia sengaja tidak mengajak pak tua itu untuk masuk ke dalam. Memikirkan waktu-waktu di mana dia mungkin sedang tidak berada di rumah nanti, Juhwan tidak ingin membiasakan orang asing masuk begitu saja ke dalam kediaman yang hanya ditinggali oleh seorang wanita dan anak kecil.

‘Tapi tetap saja… senyuman orang tua itu terasa mencurigakan.’

Saat membalikkan badannya, Juhwan sempat melirik kembali ke arah si pak tua. Senyuman pemburu tua itu terlihat persis seperti ekspresi licik seorang kepala HRD sebuah perusahaan saat sedang menghadapi sesi negosiasi gaji karyawan.

Ketika dia melangkah masuk ke dalam rumah, Liz sedang sibuk mempersiapkan sesuatu di dekat area dapur. Juhwan sebenarnya masuk kembali hanya untuk berpamitan bahwa dia akan pergi ke gunung, tetapi atmosfer di dalam ruangan tidak mengizinkannya untuk langsung berbicara.

Wanita itu bergerak ke sana kemari dengan terburu-buru, dan begitu matanya menangkap sosok Juhwan, dia langsung melangkah mendekat lalu meraih lengannya. Jemarinya yang ramping mencengkeram erat saat menuntun tubuh besar Juhwan berjalan.

Mengikuti tarikan tangannya, Juhwan duduk di atas ranjang yang posisinya telah dipindahkan ke samping tempat perapian tengah. Liz pun segera kembali melanjutkan kesibukannya yang tertunda dengan gerakan lincah.

Liz rupanya telah menempatkan sebuah lempengan besi datar di atas kobaran api perapian dan sedang menyangrai gandum oat. Potongan daging serigala yang telah dicincang halus tampak tercampur merata di dalamnya.

Di dekat perapian terdapat sebongkah kecil lemak hewan yang sudah setengah meleleh. Itu adalah potongan lemak serigala yang dipisahkan Juhwan kemarin. Dia awalnya mengira gumpalan lemak itu murni ditujukan sebagai bahan baku minyak lampu, tetapi ternyata oleh Liz justru dimanfaatkan sebagai minyak memasak. Aromanya yang menguar ke seluruh ruangan tercium sangat gurih dan kaya rasa.

Ketika masakannya dirasa sudah hampir matang dengan sempurna, Liz menekan gandum oat goreng tersebut hingga merata di atas permukaan lempengan besi agar tingkat kematangannya seimbang. Selagi proses memasak itu berlalu, dia menuangkan air hangat ke dalam sebuah botol minum yang terbuat dari kulit binatang.

Melihat keberadaan wadah kulit tersebut, kini Juhwan sadar bahwa Liz bukan berniat menyuruhnya makan besar sebelum berangkat—melainkan sedang menyiapkannya sebuah bekal makan siang untuk dibawa ke atas gunung.

‘Baguslah.’

Hatinya terasa menghangat menerima kotak bekal yang tak terduga ini. Sejak zaman SMP hingga sekarang, selain ibu-ibu pemilik warung makan langganannya, tidak pernah ada satu orang pun yang memasakkan makanan khusus untuk dirinya secara tulus. Sebagian besar waktu hidupnya di Bumi dulu dihabiskan murni dengan menyantap makanan instan siap saji dari minimarket.

‘Yah, tapi makanan minimarket juga sebenarnya lumayan enak sih.’

Dia terutama sangat menyukai kimbap segitiga. Makanan itu sangat sempurna untuk dijadikan camilan pendamping saat sedang minum brenewal.

Juhwan duduk terdiam dalam keheningan, memandangi sepasang tangan Liz yang bergerak sibuk di depannya. Sang pemburu tua saat ini sedang berdiri menunggunya di luar dalam udara dingin, jadi dia seharusnya bergegas—tetapi di dalam lubuk hatinya, Juhwan ingin terus duduk diam menikmati momen seperti ini selamanya.

Di seberang perapian, tepat di samping Liz, Dorothy duduk bersila dengan mulut yang sedikit terbuka, menatap saksama tanpa berkedip ke arah masakan oat goreng tersebut. Seuntai air liur tampak menjuntai lucu dari sudut bibir kecilnya.

Tiba-tiba, Liz menangkap pandangan mata suaminya. Wanita itu melempar sebuah senyuman yang sangat manis.

Jumlah persediaan gandum oat yang Juhwan lihat kemarin sebenarnya tidak bisa dibilang melimpah. Dia sempat bertanya-tanya di dalam hati apakah tidak apa-apa memasaknya kering dalam porsi besar seperti ini alih-alih menghematnya dengan menjadikannya bubur cair yang encer. Jangan-jangan Liz memasak porsi sebanyak ini murni hanya untuk dirinya, sementara wanita itu dan Dorothy nantinya hanya akan menyantap sisa bubur yang tidak mengenyangkan.

Seolah-olah sanggup membaca kekhawatiran yang tebersit di dalam isi pikiran suaminya, Liz memberikan sebuah gestur isyarat tangan ringan menunjuk ke arah Dorothy dan masakan di atas lempengan besi—menyuruh Juhwan untuk tidak perlu merasa khawatir sama sekali.

Proses memasak akhirnya selesai. Liz memasukkan oat goreng itu ke dalam sebuah wadah kayu berbentuk bulat, menekannya kuat-kuat ke bawah menggunakan sendok kayu hingga terisi penuh dan padat. Dia belum menutup bagian penutup wadahnya, kemungkinan besar karena sedang menunggu uap panasnya menguap dan mendingin terlebih dahulu.

Wanita itu kemudian bangkit berdiri lalu berjalan menuju ke sudut ruangan, mengambil sebuah tas selempang usang yang terbuat dari kulit binatang.

Tas itu sebelumnya berada di dalam bungkusan barang bantuan yang diberikan kemarin hari. Kondisinya sudah sangat usang dan dipenuhi goresan—kemungkinan besar merupakan barang peninggalan yang dulunya sering digunakan oleh pemburu pemilik pondok ini terdahulu saat pergi ke hutan.

Mungkin semua pemburu gunung di dunia ini selalu membawa tas serupa ke mana pun mereka pergi. Itulah alasan mengapa para penduduk desa memutuskan untuk mengembalikan barang khusus tersebut ke tempat ini.

Namun, tindakan mengembalikan barang yang sempat mereka jarah secara massal kemarin seperti ini… kemungkinan besar merupakan wujud investasi atau utang budi terselubung yang harus dia bayar lunas dengan hasil buruannya di kemudian hari.

‘Kalau dipikir-pikir kembali, orang-orang desa itu benar-benar licik dan menyebalkan.’

Selagi Juhwan memperhatikannya dalam diam, Liz sempat terlihat ragu-ragu sejenak di sudut ruangan, sebelum akhirnya memutuskan untuk memasukkan sebilah pisau yang terbungkus sarung kulit, selembar kain kecil mirip saputangan, dan gulungan benda menyerupai tali tambang ke dalam tas kulit tersebut.

Liz pasti sedang memeras otaknya untuk memikirkan barang apa saja yang sekiranya akan dibutuhkan oleh seorang pemburu saat berada di dalam hutan liar. Keberadaan pisau tentu saja sangat masuk akal, tetapi untuk apa fungsi tali tambang itu? Apa yang harus dia lakukan dengan benda tersebut nanti di atas gunung? Liz masih terus membongkar dan menerka-nerka barang bantuan di sudut ruangan dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat serius.

Entah mengapa, gurat wajahnya yang terlampau serius saat sedang mengurus keperluan suaminya itu justru terlihat sangat menggemaskan di mata Juhwan, membuat pria itu terus memperhatikannya selama beberapa saat dengan senyuman tipis sebelum akhirnya memalingkan pandangannya kembali.

Pandangan mata Juhwan kembali jatuh ke arah lempengan besi memasak yang ada di atas perapian.

‘Sudah kuduga…’

Hanya tersisa sangat sedikit gandum oat di atas lempengan besi setelah porsi bekal makan siangnya dipadatkan masuk ke dalam wadah kayu bulat. Jumlah sisa makanan yang tertinggal itu tampaknya hanya akan cukup untuk mengenyangkan perut Dorothy yang kecil, tetapi jelas tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan porsi makan Liz sendiri.

Juhwan dengan gerakan diam-diam memanfaatkan momen saat Liz membelakanginya. Dia membuka kembali penutup wadah kayunya, mengambil sebagian nasi gandum goreng dari dalam bekalnya untuk diletakkan kembali ke atas lempengan besi memasak, lalu segera menutup rapat kembali wadah bekalnya sebelum Liz berbalik menghampirinya.

Sepasang mata Dorothy seketika berbinar-binar cerah menyaksikan aksi rahasia yang dilakukan ayahnya. Anak itu menyedot kembali air liurnya yang hendak menetes dengan suara nyaring lalu bergumam lirih penuh kemenangan:

"Daging."

Liz, yang sedang berjalan mendekat dari sudut ruangan sambil membawa tas kulit selempang, mendengar gumaman polos anak itu dan langsung meledak dalam tewa kecil yang renyah.

Ketika Juhwan menerima wadah bekal tersebut dari tangan Liz, wanita itu mengambilnya kembali sebentar untuk membungkusnya menggunakan selembar kain persegi secara hati-hati, mengikatnya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam tas kulit selempang. Kemudian, dia menyerahkan tas itu kembali kepada Juhwan dengan gestur pemalu sembari mengucapkan sebuah kalimat asing yang terdengar lembut:

"####."

Kalimat itu kemungkinan besar memiliki arti, “Semoga perjalananmu aman” atau “Hati-hati di jalan”.

"####?"

Ketika Juhwan mencoba menirukan pelafalan kata asing tersebut dengan lidahnya yang kaku, Liz tersenyum lalu membenarkan lafalnya sedikit dengan penuh kesabaran.

"####."

"Aku berangkat dulu ya."

Saat Juhwan berhasil mengulanginya dengan intonasi yang benar, Liz menyunggingkan senyuman paling cerah yang dia miliki lalu kembali membalas:

"Hati-hati di jalan."

Dorothy dengan terburu-buru berlari kecil mendekat lalu berdiri tegak tepat di samping kaki Liz. Sambil mendongak menatap Juhwan dengan sepasang mata bulatnya yang melebar, anak itu ikut berteriak lantang dengan seluruh kekuatan suaranya:

"Hati-hati di jalan!"

Tersentak kaget oleh kerasnya volume suaranya sendiri yang menggema di dalam pondok, mata anak itu semakin membelalak bulat dengan lucu. Ini kemungkinan besar adalah kali pertama dalam hidupnya dia memiliki keberanian untuk meneriakkan kalimat perpisahan sekencang itu kepada seorang pria.

Juhwan melettekan telapak tangannya yang besar di atas kepala anak itu, mengusap bulu-bulu halusnya dengan lembut.

"Aku berangkat dulu ya, Dorothy."

Tepat ketika dia membalikkan tubuhnya dan melangkah membuka pintu untuk pergi keluar, suara cempreng Dorothy kembali membahana nyaring dari arah belakang tubuhnya:

"Hati-hati di jalan!"

Dia menolehkan kepalanya ke belakang sekali lagi sambil tersenyum. Di ambang pintu, Dorothy tampak sedang melambai-lambaikan kedua tangan kecilnya di udara dengan penuh energi dan semangat yang meluap-luap. Liz berdiri terdiam dengan anggun di samping anak itu, terus melepas kepergian suaminya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa cemas yang mendalam. Meskipun tahu suaminya kemungkinan besar belum akan melakukan aktivitas berburu hewan buas yang berbahaya hari ini, wanita itu tetap tidak bisa menyembunyikan naluri khawatirnya.

Kondisi ini benar-benar menjadi sebuah masalah besar bagi keteguhan iman Juhwan. Dia mendadak merasa kakinya sangat berat untuk melangkah pergi meninggalkan pondok tua ini. Sosok istri dan anak perempuan yang baru saja dia dapatkan kemarin hari benar-benar terlihat terlampau manis dan menggemaskan di matanya.


Nama pemburu tua yang berjalan pincang itu adalah Gus.

Gus menuntun langkah Juhwan mendaki jalur pegunungan yang terjal dan tertutup es, lalu menyuruh pria muda itu untuk berdiri diam dan melakukan pengamatan dengan sangat cermat terhadap pergerakannya.

Juhwan berdiri diam di atas sebuah jalur setapak hutan yang sempit sesuai dengan instruksi isyarat yang diberikan, memperhatikan dengan saksama bagaimana cara Gus berjalan di depannya.

Pada awalnya, pergerakan pak tua itu terlihat persis seperti cara berjalan orang normal pada umumnya. Namun ketika diperhatikan dengan jauh lebih jeli dan fokus, bagian punggung dan pundak Gus tampak sedikit membungkuk condong ke arah depan. Sepasang kakinya juga tidak pernah menapak dalam posisi tegak lurus sempurna—melainkan selalu sedikit menekuk rendah ke bawah, memberikan kesan postur tubuh layaknya seekor gorila dalam wujud seorang manusia.

Gus berjalan beberapa meter ke arah depan, lalu berputar balik menghampirinya, berbalik lagi, dan menghentakkan kaki sepatunya ke atas permukaan tanah dengan pelan berulang kali—memberikan kode isyarat agar Juhwan memfokuskan seluruh perhatian matanya pada bagian pergerakan telapak kaki pak tua itu kali ini.

Juhwan memberikan anggukan kepala tanda mengerti lalu segera mengarahkan pandangan matanya ke bawah menatap tanah.

Namun, satu-satunya hal yang tertangkap oleh pandangan matanya hanyalah sepasang sepatu bot usang yang menapak tanah bergantian. Bagaimana mungkin ada perbedaan besar atau rahasia ilmu berburu dari cara menapakkan kaki biasa seperti ini? Menyimpan rasa sangsi yang besar di dalam hatinya, dia tetap memilih untuk terus menonton peragaan tersebut tanpa mengalihkan fokusnya sedikit pun.

Di awal-awal pengamatan, tidak ada satu pun detail menonjol yang berhasil dia tangkap. Gerakan itu murni terlihat seperti aktivitas berjalan kaki biasa di atas lintasan bersalju.

Namun dengan penuh kesabaran yang luar biasa, Gus terus-menerus mengulang demonstrasi gerakan menapak yang sama secara konstan di hadapan Juhwan.

Hingga akhirnya setelah melewati belasan kali percobaan, Juhwan berhasil menyadari sebuah detail yang sangat janggal: besaran tekanan, ritme, dan distribusi kekuatan pada setiap langkah kaki yang dihentakkan ternyata selalu berbeda-beda secara dinamis.

Terkadang jejak bekas injakan kaki yang tercetak di atas tanah terlihat sangat dalam, namun di langkah berikutnya jejak cetakan tersebut justru mendadak lenyap sama sekali tak berbekas seolah pak tua itu bisa melayang.

Mengingat permukaan tanah di musim dingin memiliki tekstur yang sangat keras akibat membeku, meninggalkan jejak kaki yang jelas bukanlah perkara yang mudah—sehingga kemampuan untuk bisa menciptakan cetakan kaki yang mendalam atau menyembunyikannya sama sekali tentu saja membutuhkan teknik manipulasi berat beban tubuh yang jauh lebih rumit lagi.

‘Apakah ini sejenis teknik langkah kaki rahasia dalam ilmu bela diri dunia silat atau bagaimana?’

Tapi setahu dirinya semenjak terlempar ke sini, tempat ini bukanlah dunia fiksi wuxia yang dipenuhi pendekar pemilik energi dalam… kan?

Sembari Juhwan berjalan mengekorinya menyusuri jalan setapak hutan yang semakin sunyi, dia terus mempelajari kontur tanah di bawah kakinya dengan tingkat konsentrasi tinggi.

Bahkan bentuk geometris dari cetakan jejak kaki yang ditinggalkan oleh sepatu Gus pun ternyata bervariasi secara konstan.

Beberapa cetakan tampak menghadap lurus ke depan dengan rapi, namun cetakan kaki yang lain justru terlihat sengaja dibuat miring menunjuk ke arah samping, padahal jalur setapak yang sedang mereka lalui saat ini murni merupakan sebuah lintasan lurus yang bersih.

Jika jejak-jejak kaki tersebut diperhatikan secara terpisah oleh musuh atau hewan pemangsa yang sedang melacak dari belakang, pola arah cetakannya yang acak dan menipu itu pasti akan langsung menyesatkan analisis mereka mengenai arah pelarian yang sebenarnya.

Gus tampaknya langsung menyadari dari perubahan gurat ekspresi wajah Juhwan bahwa pria muda itu telah berhasil menangkap esensi utama dari teknik dasar yang dia ajarkan. Pak tua itu melangkah mendekatinya dengan raut wajah gembira yang luar biasa lalu menepuk-nepuk bagian pinggang Juhwan—dia kemungkinan besar berniat ingin memberikan tepukan bangga di punggung Juhwan, namun postur tubuhnya yang pendek serta kaki pincangnya membuat tangannya tidak sanggup menjangkau pundak tinggi pria muda itu.

Ketidaktahuan untuk bisa saling berkomunikasi secara lisan menggunakan bahasa yang sama memang terasa sangat melelahkan dan membuat frustrasi mental.

Gus terus memberikan demonstrasi visual berulang-ulang kali di sepanjang jalan, hingga Juhwan akhirnya berhasil menarik kesimpulan garis besar dari esensi ilmu langkah kaki tersebut: seorang pemburu wajib mendistribusikan berat badannya secara merata dan dinamis selama berjalan di alam liar agar tidak menimbulkan suara, dan ketika sengaja ingin meninggalkan jejak palsu atau menyembunyikan eksistensi langkah dari buruan, fokuskan pusat gravitasi pada kekuatan otot tubuh bagian bawah secara presisi.

Juhwan mulai mempraktikkannya secara aktif di belakang Gus, meniru setiap pergerakan tubuh pemburu tua itu sekaligus mencoba menghafalkan kosakata lisan baru yang diucapkan oleh pak tua tersebut sebagai instruksi berburu.

Berhenti. Ikuti. Tenang. Burung. Hati-hati…

Dia menghafal arti dari setiap kosakata penting tersebut satu demi satu ke dalam kepalanya dengan serius.

Mungkin karena didorong oleh rasa keterdesakan situasi hidup yang ekstrem untuk bisa bertahan hidup menafkahi keluarga barunya, kosakata asing tersebut terasa sangat mudah untuk melekat kuat di dalam memorinya saat ini. Seandainya saja dulu aktivitas belajar di bangku sekolah saat SMP dan SMA bisa terasa semudah dan secepat ini, dia pasti sudah berhasil menduduki peringkat pertama di sekolahnya tanpa perlu bersusah payah belajar semalaman.

Gus terus menuntun langkahnya mengitari berbagai penjuru pegunungan yang rimbun, menunjuk ke arah berbagai macam detail kecil alam di sepanjang lintasan mereka. Pak tua itu meraba kontur medan tanah menggunakan tangannya dan menyuruh Juhwan untuk ikut menyentuh permukaan kulit batang pohon tertentu secara langsung menggunakan telapak tangannya sendiri.

Pada awalnya, aktivitas meraba-raba pohon dan tanah itu terasa sama sekali tidak masuk akal bagi logika modernnya, tetapi lambat laun Juhwan mulai menyadari tujuan aslinya—dia saat ini sedang diajarkan secara intensif untuk mengenali karakteristik terrain, kelembapan, dan topografi gunung ini secara mendalam melalui indra peraba.

Bahkan jenis pepohonan yang sekilas memiliki wujud fisik batang dan dahan yang persis sama pun ternyata dapat dibedakan satu sama lain secara akurat murni dengan menganalisis karakteristik, warna, dan tekstur dari tumpukan daun kering mereka yang berguguran di atas tanah.

Terlepas dari segenap kebaikan bimbingannya yang tulus, Gus entah mengapa tetap memancarkan aura janggal yang menyerupai sosok seorang manajer HRD—seolah-olah ada sebuah agenda tersembunyi, perhitungan bisnis, atau niat lain yang sedang dia sembunyikan rapat-rapat di balik topeng senyuman ramahnya. Namun, pak tua itu tergolong sangat rajin dan penuh dedikasi, membimbing Juhwan langkah demi langkah dengan tingkat kesabaran yang luar biasa tinggi kepada murid barunya.

Waktu berlalu dengan sangat cepat tanpa terasa di dalam hutan. Posisi matahari di atas kepala menunjukkan bahwa hari tampaknya sudah melewati waktu tengah hari. Perut Juhwan yang besar mulai mengeluarkan suara keroncongan yang cukup nyaring akibat kelaparan karena sedari tadi terus melakukan aktivitas fisik berat. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk berjongkok berlindung di celah antara pepohonan yang rimbun demi menyantap perbekalan makanan mereka masing-masing.

Gus mengeluarkan potongan daging dendeng kering yang keras dan sebuah wadah air dari dalam tas kulitnya, memberikan isyarat tangan menyuruh Juhwan untuk ikut makan, lalu mulai mengunyah makanannya sendiri dengan tenang penuh khidmat.

Juhwan membuka tas kulitnya dan mengeluarkan wadah bekal makan siang gandum goreng yang disiapkan oleh Liz tadi pagi. Seketika itu juga, aroma masakan gurih yang sangat harum, hangat, dan menggugah selera langsung menyeruak bebas keluar, menyebar luas ke udara sekitar dalam radius beberapa meter.

Melihat hal itu, Gus mendadak mengernyitkan keningnya dengan rapat dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat penuh raut penolakan, sambil mengarahkan jari telunjuknya menunjuk lurus ke arah wadah bekal kayu tersebut dengan tatapan mata yang tajam. Juhwan pun secara instan langsung memahami apa maksud dari reaksi keras pak tua itu.

‘Bekal makan siangku…’ Sepasang bahunya seketika merosot lemas penuh kekecewaan yang mendalam.

Namun saat duduk terdiam merenung di tengah keheningan hutan liar yang mencekam seperti ini, akal sehatnya dengan cepat menyadari alasan logis di balik larangan keras sang pemburu tua. Aroma masakan dari bekal oat gorengnya ternyata terlampau kuat, gurih, dan menyengat—terasa sangat artifisial, asing, dan mencolok untuk lingkungan alam liar yang murni. Bau harum tersebut bisa dengan mudah menyebar jauh tertiup angin pegunungan, memberikan sinyal kewaspadaan instan kepada seluruh habitat hewan buruan dalam radius ratusan meter agar menjauh, atau yang lebih buruk, aroma gurih itu bisa memancing kedatangan monster predator lapar langsung ke arah posisi mereka berdua saat ini. Ini sama sekali bukanlah jenis makanan yang boleh dibawa atau dibuka oleh seorang pemburu sejati saat sedang bertugas mengintai di dalam hutan.

Juhwan menatap kosong ke arah langit di balik celah rimbunnya dedaunan pepohonan sembari terus memegangi wadah bekal kayunya dengan lesu. Aroma harum masakan oat gorengnya terus membubung tinggi ke atas, menjangkau kawanan burung hutan di dahan atas yang mendadak mulai berkicau riuh seolah terusik oleh bau asing tersebut. Bahkan kawanan serigala gunung sekalipun kemungkinan besar sudah bisa mencium aroma gurih lemak serigala ini dengan sangat jelas dari jarak yang teramat jauh.

‘Lalu sekarang apa yang harus kulakukan dengan bekal makan siang lezat yang sudah dibuatkan oleh istriku dengan susah payah ini…’

Gus terkekeh pelan melihat ekspresi merana dan frustrasi pria muda di depannya yang mendadak lesu. Pak tua itu menggumamkan beberapa patah kata asing yang kemungkinan besar memiliki arti jenaka seperti: Tidak perlu sampai meratapi nasib sesedih itu dan memasang wajah sekecewa itu hanya karena sekeranjang kotak bekal yang salah tempat.

Namun Gus tentu saja tidak akan pernah mengerti nilai sentimentil di balik makanan tersebut—pria di hadapannya ini adalah seorang mantan pekerja kantoran modern yang standar kelezatan lidahnya selama puluhan tahun di Bumi hanya dibentuk murni oleh jajaran makanan instan minimarket yang membosankan. Meskipun merasa kecewa karena tidak bisa menikmati makanannya dengan tenang, Juhwan tetap memaksakan sebuah senyuman tipis di bibirnya.

Gus toh dari awal di pondok tadi sebenarnya tidak melarangnya untuk membawa wadah bekal ini ke atas gunung. Mungkin karena pak tua itu tahu agenda mereka hari ini murni hanyalah sesi pelatihan orientasi medan luar ruangan biasa—bukan aktivitas berburu hewan yang sesungguhnya di mana keheningan mutlak diperlukan. Dan membiarkan Juhwan mengalami kesalahan fatal ini secara langsung melalui pengalaman nyata di lapangan tentu saja akan jauh lebih efektif tertanam kuat di dalam otaknya ketimbang harus menjelaskan teori larangan panjang lebar yang membosankan sebelum berangkat.

Juhwan akhirnya menyantap nasi gandum goreng dari dalam wadah kayunya dengan perasaan yang agak campur aduk, mengunyahnya dengan gerakan secepat mungkin demi menghabiskan sumber aromanya agar tidak terus menyebar luas di dalam hutan. Masakan itu sebenarnya dibuat dengan metode yang sangat sederhana—hanya menggunakan tumisan lemak dan diberi taburan garam dapur seadanya—tetapi entah mengapa rasanya terasa luar biasa lezat dan mewah di lidahnya yang sedang kelaparan parah.

‘Mulai besok, mau tidak mau aku harus ikut beralih menyantap daging dendeng kering yang hambar dan sekeras batu seperti pak tua ini…’

…Tetapi masalahnya, mereka saat ini sama sekali tidak memiliki persediaan daging dendeng awetan semacam itu di pondok. Status mereka saat ini masih merupakan sekelompok penghuni baru yang baru saja menetap kemarin hari—sama sekali belum ada waktu luang yang cukup bagi Liz untuk mengolah daging serigala semalam menjadi dendeng kering awetan jangka panjang.

‘Lalu… apakah besok aku terpaksa harus menahan lapar seharian penuh tanpa makan apa pun saat berada di dalam hutan? Ataukah aku harus mengunyah biji-bijian gandum mentah yang keras?’ Memikirkan prospek menu makan siangnya di hari esok yang suram membuat suasana hati Juhwan mendadak menjadi agak lesu dan depresi kembali.

PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER

Post a Comment

0 Comments