Bab 110: Ada Sesuatu yang Aneh di Sini
Perpindahan kelinci-kelinci dari tong kayu besar tempat mereka tinggal selama beberapa hari terakhir akhirnya selesai. Mungkin karena ia pernah membuatnya sebelumnya, kandang kelinci kali ini terlihat sedikit lebih bagus dari yang terakhir.
Karena ia sudah membeli engsel sebelumnya, pintunya bisa membuka dan menutup dengan baik, dan ia telah menancapkan kayunya jauh ke dalam tanah agar kelinci-kelinci itu tidak bisa menggali jalan keluar dan kabur.
Seperti halnya semua hal dalam hidup, semakin sering kau melakukan sesuatu, kau akan semakin ahli. Melihat kandang kelinci yang ia buat dengan tangannya sendiri, Juhwan merasa agak bangga. Kalau begini terus, ia pikir ia mungkin bisa membangun sebuah rumah secara utuh dalam waktu singkat.
Tetapi masih terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Sejak datang ke pegunungan, Juhwan, Lizzie, dan bahkan Dorothy menjadi sangat sibuk sehingga setiap hari berlalu dengan cepat layaknya bayangan buram. Mereka memperbaiki atap yang bocor dan menambal lubang pada dinding kayu dengan melapisi papan tambahan. Setiap kali Juhwan menangani pekerjaan semacam itu, Lizzie membuat penutup kanvas untuk bagian atap yang membutuhkannya, atau memotong dan menjahit kain menjadi satu untuk digantung pada dinding seperti tirai penahan angin.
Dorothy mengikuti ayah dan ibunya ke mana pun mereka bekerja, berlari melakukan tugas-tugas kecil untuk mereka. Cukup mengejutkan, ternyata banyak hal yang bisa dibantu oleh anak kecil. Juhwan bertanya-tanya apakah ia merasa tidak suka, tetapi Dorothy tampak bangga karena bisa ikut bekerja juga, dan ia tak pernah mengeluh. Sebaliknya, setiap kali ia menyelesaikan tugas, ia berlari ke arah Oz dan Yeonhwa lalu menyombongkan diri dalam bentuk rengekan.
"Dorothy capek banget."
Oz dan Yeonhwa mungkin juga tidak punya waktu tenang karena harus mendengarkan anak itu pamer setiap hari.
Mereka menebang pohon di sekitar rumah sedikit demi sedikit setiap hari, membelah kayunya dan memisahkannya menjadi kayu bakar dan kayu potong untuk gudang penyimpanan yang baru. Entah akan digunakan untuk gudang atau sebagai kayu bakar, kayu itu harus dikeringkan terlebih dahulu untuk sementara waktu.
Gudang yang sudah ada saat ini ukurannya tidak terlalu besar. Untuk menyimpan ini dan itu dengan baik, mereka membutuhkan gudang yang lebih besar. Ia belum mulai membangunnya, tetapi setelah ia mengumpulkan cukup kayu, ia berencana untuk memulai.
Ia juga ingin memperluas rumah, tetapi itu harus menunggu sampai musim semi, saat cuaca menjadi lebih hangat. Jika ia menjebol dinding pada musim ini, bagian dalam rumah akan berubah menjadi dataran Siberia dan mereka semua akan mati membeku. Untuk saat ini, yang bisa ia lakukan hanyalah rajin mengumpulkan bahan baku untuk perluasan bangunan tersebut.
Sembari memperbaiki rumah, ia juga menemukan sesuatu yang baru. Ayahnya rupanya ingin membangun tungku pemanas di kabin ini. Ada sisa-sisa tanah liat padat di dekat bagian bawah salah satu sisi rumah, seolah-olah ayahnya berniat meletakkannya di sana. Dilihat dari beberapa batu datar di dekatnya, ia mungkin bahkan ingin membuat sebagian rumah menjadi sesuatu yang menyerupai ondol (sistem pemanas lantai).
Tetapi bagi seseorang yang bahkan sudah kesulitan untuk membangun satu kabin, membangun sistem ondol pasti akan sangat rumit. Mungkin ia tidak memahami dengan benar bagaimana struktur itu bekerja sedari awal. Jika ia memaksakan memasang tungku dan membuatnya bekerja seperti ondol atau perapian dengan cara asal-asalan, maka sungguh beruntung ia gagal. Dengan keahlian sang ayah, seluruh rumah mungkin akan habis terbakar.
Ketika Juhwan terbangun di subuh yang gelap, ia menyantap sarapan sederhana bersama Lizzie tepat sebelum fajar menyingsing. Saat ia menyendok sup yang terbuat dari tepung, garam, dan sedikit sayuran kering, Juhwan menatap Lizzie dalam diam.
Di remang cahaya fajar sebelum yang lainnya terbangun, Lizzie terlihat lebih putih dan lebih rapuh. Ia tampak hampir seperti seorang peri.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" "Tidak apa-apa. Kau cantik. Tadi aku berpikir kau terlihat seperti peri."
Wajah Lizzie memerah seketika.
Juhwan sangat menyukai waktu-waktu ini. Malam-malam yang manis itu menyenangkan. Siang hari yang bising juga bagus. Tetapi ada sesuatu yang sangat berharga di waktu fajar yang sepi ini, duduk bersama sementara anak mereka tertidur di dekat mereka. Rasanya seolah-olah hanya dia dan Lizzie yang ada di seluruh dunia ini.
Melihat wajah Lizzie berubah merah cerah, Juhwan tersenyum.
Ah, ini menyenangkan.
Sangat menyenangkan sampai-sampai rasanya tak tertahankan.
Setelah selesai sarapan, Juhwan mengenakan rompi di atas pakaian yang tidak terlalu tebal dan mengambil busur serta anak panahnya. Kapak dan pisau kecil terpasang erat di sabuk kulit yang dibuat Lizzie untuknya. Begitu ia melilitkannya di pinggang dan mengikatnya kuat-kuat, ia siap.
Lizzie menyerahkan kantong air dari kulit berisi air rendaman herbal dan menatapnya. Dalam keremangan cahaya api, matanya berbinar. Bibir kecilnya bergerak sedikit, dan suara lirih pun keluar.
"Hati-hati." "Pasti. Aku berangkat."
Mereka berbagi ciuman ringan di dekat pintu, lalu Juhwan meninggalkan rumah.
Karena ia akan pulang sekitar tengah hari, ia tidak perlu menyiapkan bekal makan siang. Saat kembali, ia akan makan siang bersama Lizzie dan anak mereka sambil menceritakan apa yang ia lihat saat berburu, atau tentang hal-hal yang terjadi di rumah. Setelah itu, ia menimba air, memperbaiki rumah, menebang pohon, atau mengurus pekerjaan rumah tangga lainnya.
Di malam hari, setelah anak mereka tertidur, ia dan Lizzie menikmati segelas anggur ringan dan menghabiskan waktu sebagai suami istri.
Itulah akhir dari hari itu. Kemudian mereka akan tidur, bangun lagi sebelum subuh, dan mengulanginya lagi. Semjak mereka datang ke pegunungan ini, rutinitas itulah yang terus berlanjut hampir setiap hari. Sederhana, tetapi damai dan hangat. Waktu berlalu dengan cara yang menenangkan hatinya.
Saat Juhwan memasuki gunung dari kabinnya, tatapannya tiba-tiba beralih ke jalan setapak gunung kecil yang mengarah keluar dari rumah.
Kalau dipikir-pikir, ia seharusnya memperlebar jalan itu sedikit sebelum musim semi tiba. Kereta kuda mereka nyaris tak bisa melewati jalan itu sekarang, jadi saat musim panas tiba nanti, semak belukar kemungkinan akan menutupi jalan sepenuhnya.
Di luar sana, dampak perang panjang dan kecemasan-kecemasan baru telah mengacaukan segalanya, tetapi di dalam gunung ini terasa sunyi, seolah-olah tempat ini telah dipotong dan dipisahkan dari belahan dunia lain. Karena ini adalah hutan yang dihuni oleh monster, orang jarang datang kemari. Bahkan jika perang pecah, mungkin hanya tempat ini yang akan tetap setenang sekarang.
Faktanya, jika semak belukar menghalangi jalan sedikit saja, area ini hampir tidak dapat dilihat dari luar. Tempat ini akan benar-benar tersembunyi dari dunia luar. Jalan sempit itu terasa seperti gerbang misterius yang memisahkan tempat ini dari segala sesuatu yang ada di luarnya.
Kehidupan di pegunungan di mana mereka bisa mandiri asalkan memiliki persediaan makanan dalam jumlah tertentu. Yeonhwa dan Oz, keduanya lebih kuat dari ratusan tentara, juga ada di sini. Dalam hal ini, tempat ini jauh lebih aman dan berkelimpahan dibandingkan dengan kota-kota besar di luar sana yang dilindungi oleh pasukan tentara.
Oz juga melakukan latihannya sendiri sedikit demi sedikit, jadi ia akan tumbuh semakin kuat seiring berjalannya waktu. Begitu bunga mekar dan buah tumbuh, mereka bisa mengeringkan buah dan mengumpulkan madu dari sarang lebah. Asalkan mereka menyimpan cukup garam, bahkan jika perang benar-benar pecah, tempat ini mungkin tidak ada urusannya dengan dunia luar.
Jika aku membangun kabin darurat sedikit lebih dalam di gunung, dan menemukan beberapa gua tempat menyimpan makanan dalam waktu lama...
Pikiran egois perlahan-lahan mengakar makin nyata di benaknya. Sepertinya manusia, begitu mereka mendapatkan sesuatu yang berharga dan menjadi bahagia, tidak serta merta menjadi lebih murah hati dan mulia terhadap orang lain. Sebaliknya, mereka menjadi picik dan egois.
Atau mungkin hanya dia yang berubah seperti itu. Sisa secercah cinta untuk umat manusia yang pernah ada di sudut hatinya sepertinya telah ia serahkan kepada Santa Claus dan ditinggalkan begitu saja.
Juhwan tersenyum getir dan melangkah pergi.
Saat ia memasuki hutan semakin dalam, ia memeriksa tanda-tanda yang ia ukir di pepohonan dan terus berjalan. Ia masih mengeksplorasi daerah di sekitar rumah. Sedikit demi sedikit ia memperluas jangkauannya, melebar layaknya siput yang bergerak ke luar.
Kemarin, ia bahkan menemukan area tempat tumbuhnya bambu. Ia sempat sedikit khawatir karena anak panahnya hampir habis, jadi itu merupakan sebuah keberuntungan. Bambu, yang bisa digunakan sebagai anak panah hanya dengan membakarnya sedikit di atas api lalu menajamkan ujungnya, saat ini adalah salah satu senjata yang paling mudah digunakan oleh Juhwan.
Mengendalikan sihir angin membutuhkan jenis konsentrasi yang berbeda dari sihir api. Ia harus membagi perhatiannya dengan lebih cermat. Tetapi setelah menguasainya melalui deteksi sihir, membiasakan diri dengannya berlangsung cepat. Rasanya seperti belajar naik sepeda. Begitu kau menemukan keseimbangan dan mulai bergerak, kau tidak lagi khawatir akan jatuh ke samping.
Sekarang, tanpa busur pun, ia bisa melesatkan anak panah dalam jarak dekat.
Mungkin anak panah yang ditembakkan dengan sihir angin akan terbukti jauh lebih berguna daripada pisau atau kapak. Juhwan mengambil dua anak panah bambu kasar yang telah ia buat dan mengisinya dengan kekuatan sihir. Ia bahkan belum memasang bulu panahnya. Ia sekadar menghaluskan permukaannya dan menajamkan ujungnya.
Ia membungkus angin di sekitar anak panah itu lalu menerbangkannya. Kedua anak panah itu melayang ke depan cukup pelan hingga bisa dilihat mata telanjang. Lalu, saat Juhwan mengerahkan lebih banyak kekuatan ke dalamnya, panah itu melesat cepat di akhir lintasan dan menancap di pohon yang agak jauh.
Ketika ia mendekat, ia melihat anak panah bambu itu, yang bahkan tidak memiliki mata panah logam, telah menancap hampir separuh jalan ke dalam batang pohon. Bahkan ketika ia menariknya dengan tangan, panah itu tidak mau keluar. Berkat kekuatan sihir angin yang membungkus permukaan bambunya, tidak ada satu goresan pun pada anak panah tersebut.
Senyum lebar mengembang di wajah Juhwan.
Untuk saat ini, mengendalikan tiga atau empat anak panah sekaligus adalah batas kemampuannya, tetapi dengan sedikit latihan lagi, jumlah panah yang bisa ia kendalikan pada satu waktu pasti akan bertambah.
Saat ia tinggal di desa dulu, tidak ada tempat yang cocok untuk menyebarkan kekuatan sihirnya dan berlatih. Ia selalu merasa terkekang, takut jangan-jangan ia akan secara tidak sengaja melukai Roxy atau orang lain. Di sini, ia bisa menggunakannya sepuasnya tanpa khawatir merusak manusia atau bangunan. Kemampuannya meningkat pesat setiap harinya. Jika terus begini, ia bahkan mungkin bisa melampaui kemampuan Yeonhwa dalam waktu dekat.
Pikiran itu membuatnya merasa aneh. Dulu ia hanyalah manusia biasa, namun kini ia terus berubah menjadi sesuatu yang berbeda.
Saat Juhwan berjalan sambil sesekali memeriksa tanah, langkahnya terhenti.
Jejak kaki besar yang pertama kali ia temukan di dekat rumah muncul kembali. Ketika ia menyentuhnya dengan jari, tepiannya hancur. Tidak seperti sebelumnya, itu berarti jejak ini masih baru.
Juhwan memegang beberapa anak panah di tangannya dan dengan hati-hati mengamati sekelilingnya. Tidak jauh dari situ, ia menemukan jejak kaki lain. Saat ia mencari di daerah sekitarnya, ia segera menemukan kotoran yang tampaknya belum lama ditinggalkan. Ia belum pernah melihat bentuk kotoran seperti itu sebelumnya, namun melihat betapa besarnya kotoran itu, kemungkinan besar benda itu milik pemilik jejak kaki tersebut.
Juhwan menghentikan sementara penjelajahannya di tempat lain dan memutuskan untuk melacak makhluk tersebut. Karnivora yang memiliki wilayah kekuasaan akan menjelajah daerah yang jauh lebih luas daripada dugaan orang saat memburu mangsa. Ia tidak tahu jenis binatang buas apa ini, tetapi dilihat dari kotorannya, itu adalah karnivora. Baunya cukup menyengat. Semakin besar tubuhnya, semakin banyak makanan yang dibutuhkannya. Secara umum, semakin besar hewan itu, semakin besar pula wilayah yang dibutuhkannya.
Kabin itu hampir pasti masuk dalam area perburuan makhluk ini. Fakta bahwa jejak kakinya ada di dekat rumah memperjelas hal tersebut. Setidaknya, makhluk itu sering berkeliaran di area sekitar rumah hingga beberapa bulan yang lalu.
Aku harus menangkapnya.
Ia menyebarkan kekuatan sihirnya sejauh mungkin ke segala arah dan mencari dengan cermat. Tidak ada hewan besar di dekat situ. Rupanya, makhluk itu menginjak dedaunan gugur saat melintas. Di beberapa tempat, ada daun yang terinjak dan berserakan. Ia menemukan jejak kaki, dan setiap kali ia kehilangannya, ia mencari di area sekitar lagi.
Pelacakan berlanjut hingga waktu makan siang semakin dekat. Di tengah proses itu, Juhwan menyadari sesuatu yang sedikit aneh. Semakin dalam ia masuk ke hutan saat mengikuti jejak itu, semakin banyak komposisi pepohonan di sekitarnya yang berubah.
Juhwan bukanlah ahli pepohonan. Sejujurnya, jika itu bukan pohon ginkgo atau pinus, ia hampir tidak bisa membedakan satu jenis pohon dengan jenis lainnya. Bahkan untuk pohon buah-buahan, ia harus melihat buahnya sebelum tahu itu pohon apa. Ia tipe orang yang tidak bisa membedakan pohon sakura dengan pohon plum.
Namun, ia kurang lebih tahu seperti apa pohon tropis itu. Dan ia juga tahu bahwa pohon tropis tidak hidup di hutan di mana semuanya membeku di tengah musim dingin.
Juhwan melihat pepohonan di sekitarnya. Beberapa pohon yang tampak seperti pohon palem bercampur di antara pohon-pohon lain, tumbuh menjulang tinggi ke langit. Iklimnya sendiri sepertinya tidak berubah. Suhunya terasa sama seperti di tempat lain. Namun, saat ia meletakkan tangannya di tanah, ia merasakan kehangatan samar yang berasal darinya.
Bukan hanya pepohonan yang aneh. Tanah itu sendiri juga aneh.
Haruskah aku memanjat pohon dan melihat-lihat?
Ia tidak percaya diri dengan kemampuan memanjat pohonnya, tetapi jika ia ingin melihat gambaran area ini secara sekilas, melihat dari tempat tinggi adalah pilihan terbaik.
Mungkin aku bisa mengakalinya dengan angin.
Juhwan teringat bagaimana kawanan Red Sword memanjat pohon sebelumnya, lalu ia melepas tali yang diikatkan di pinggangnya. Jika ia mengikatkan tali ke pohon dan menggunakannya sebagai tumpuan, ia mungkin bisa memanjat. Dan jika ia menggunakan sihir angin, ia bisa meringankan berat tubuhnya sampai batas tertentu.
Setelah bersiap dengan canggung, ia menghadap pohon tertinggi seolah hendak memeluknya.
Desahan pun keluar dengan sendirinya. Juhwan membungkus kekuatan sihir pada pisau kecilnya. Dengan pisau itu, ia mengukir ceruk-ceruk di pohon sebagai pijakan lalu memanjatnya sedikit demi sedikit. Setiap kali ia memanjat, ia mencondongkan tubuh bagian atasnya ke belakang, membuat tali yang terikat longgar di antara dirinya dan pohon menjadi tegang.
Ia bahkan belum memanjat hingga separuh pohon, namun bulir-bulir keringat sudah menetes di dahinya. Mungkin ia tidak terlalu lama memanjat, tetapi rasanya seperti berjam-jam telah berlalu. Tangannya mulai basah karena tegang.
Setelah memanjat cukup lama, pepohonan di sekitarnya pun tampak di bawahnya. Masih jauh baginya untuk mencapai puncak. Namun ketika ia menatap ke tanah, rasa pusing menyergapnya.
Naik lebih tinggi lagi mustahil dilakukan.
Saat ia membayangkan apa yang akan terjadi pada Lizzie dan Dorothy jika ia jatuh dari sini, rasa takut menghantamnya dengan keras. Menggunakan angin untuk membuat tubuhnya seringan mungkin, Juhwan mengedarkan pandangannya.
Jauh di kejauhan, pepohonan musim dingin yang kering terbentang dengan lembut di sepanjang lereng hutan. Sebagian besar masih berupa hutan musim dingin biasa.
Berbeda dengan pegunungan curam di Korea, tempat ini terdiri dari pegunungan dan bukit besar yang saling terhubung oleh lereng landai. Beberapa area praktis berupa tanah datar. Namun di sekitar satu titik di kejauhan sana, pepohonan tropis menyebar ke luar. Bukan hanya beberapa pohon yang bercampur di antara yang lain seperti di sini. Tempat itu sepenuhnya dipenuhi oleh pohon-pohon tropis.
Apakah ada sesuatu di sana?
Tempat pepohonan tropis tumbuh itu sangat jauh. Terlalu jauh untuk dikunjungi dalam satu perjalanan. Di hutan seluas ini, jaraknya cukup jauh hingga ia bisa mengabaikannya sebagai wilayah lain yang tidak ada hubungannya dengan tempat ini.
Tetapi itu berarti pengaruhnya mencapai sampai ke sini. Hal itu mengganggunya. Juhwan menatap tempat itu sejenak, lalu menurunkan pandangannya. Matanya berhenti pada suatu titik diagonal di bawah pohon.
Sebuah gua.
Beberapa ranting menumpuk di dekat pintu masuknya. Dan sesuatu, tersembunyi oleh pepohonan, sedang berjalan mendekatinya.
0 Comments