Bab 1
Di bawah bulan yang bulat sempurna, api dan es berbenturan.
Seorang pria berlari melintasi tanah tandus yang telah berubah menjadi lautan api. Matanya yang terbuka lebar—iris merahnya tidak sekadar memantulkan warna kobaran api. Mata pria itu memang berwarna merah sejak lahir.
"Namaku Shiranui! Aku adalah pemimpin ketiga belas klan Suzaku dan penyihir bermata merah!"
Sambil meneriakkan namanya, ia mengubah lintasan larinya. Ia tidak sedang melarikan diri; ia sedang mendekat.
Tidak ada kata-kata balasan dari musuhnya. Selalu seperti ini. Ini adalah pertarungan keseratus antara Shiranui dan musuhnya, namun ia belum pernah sekalipun mendengar suara musuhnya dengan jelas.
Shiranui meneriakkan namanya untuk membakar semangatnya sendiri.
"Malam ini, aku akan merebut kemenangan, untuk diriku sendiri dan untuk rakyat Suzaku!"
Sambil berlari dan berteriak, Shiranui mempersiapkan serangan berikutnya. (Roh-roh api) Ia memanggil roh-roh api yang ada di udara dengan suara batinnya. Bersamaan dengan itu, ia meningkatkan dan melepaskan kekuatan sihir yang bersemayam di dalam dirinya.
"Bola Api!" (Fireball!)
Titik-titik cahaya yang tak terhitung jumlahnya muncul di atas kepala Shiranui. Cahaya itu dengan cepat membengkak menjadi bola-bola api yang lebih besar dari kepala manusia. Ketika Shiranui mengayunkan tangannya, bola-bola api itu melesat ke depan. Bunga-bunga api mekar di hadapannya, memperluas lautan api tersebut.
Shiranui tidak berhenti berlari. Ia terjun ke dalam lautan api, mencari keberadaan musuhnya. Panas yang menyengat bukanlah apa-apa bagi Shiranui, yang memang terlahir dengan organ pembawa api.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan musuhnya. Apakah ia terhempas oleh ledakan tadi? Jawabannya adalah tidak. Shiranui tahu lebih baik dari siapa pun bahwa musuhnya tidak akan kalah oleh serangan kecil seperti itu.
"....!"
Merasakan niat membunuh layaknya rasa sakit yang menusuk, Shiranui melompat menjauh dari tempatnya berpijak.
"Peti Es" (Ice Coffin)
Tepat setelah itu, suara berderit bergema, dan sebuah pilar es muncul di tempat Shiranui baru saja berdiri. Udara yang tadinya sangat panas seketika mendingin hingga mencapai suhu lanskap kutub yang membekukan. Pilar es itu memancarkan hawa dingin yang begitu pekat. Jika Shiranui terlambat menghindar sedetik saja, pilar itu benar-benar akan menjadi peti matinya.
"Panah Beku" (Frozen Arrows)
Tanpa jeda sedetik pun, serangan berikutnya datang. Shiranui menyambut rentetan panah es yang datang dengan tinju yang terkepal.
"Tinju Api!" (Fiery Fists!)
Kedua tinjunya meledak dalam kobaran api. Setiap panah es memancarkan hawa dingin yang sama pekatnya dengan pilar es sebelumnya. Satu serangan telak saja akan mengubah monster raksasa sekalipun menjadi patung es. Namun, tinju Shiranui yang diselimuti api tidak membeku. Tinju itu menghancurkan dan melelehkan panah-panah yang sangat dingin tersebut.
Total ada lima puluh satu panah es. (Jumlahnya bertambah lagi.) Terakhir kali mereka bertarung, ada empat puluh sembilan panah. Dua panah lagi telah ditambahkan. Ini berarti kekuatan musuh telah berkembang.
(Benar-benar musuh yang merepotkan tanpa akhir...!) Meski merasa jengkel dengan perkembangan musuhnya, sebuah senyuman tersungging di bibir Shiranui.
Mata Shiranui mengamati sekeliling mencari sosok musuh. Apakah serangan berikutnya akan datang dari jarak jauh? Atau pertarungan jarak dekat? Melalui kristal-kristal es yang berkilauan, sebuah siluet muncul. Saat ia melihatnya, sosok itu sudah berada di hadapannya.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci, namun tatapan mereka tidak bertemu. Seharusnya mereka bertatapan, tetapi Shiranui tidak bisa memastikannya. Sebuah topeng perak menyembunyikan wajah musuh.
Tendangan musuh yang berpakaian hitam, setajam tebasan pedang, menyerempet Shiranui saat ia menggeser tubuhnya. Tendangan yang begitu tajam hingga bisa membelah tubuh menjadi dua. Bahkan setelah meleset dengan tendangan bertenaga penuh seperti itu, musuh tidak kehilangan keseimbangan. Ia melompat mundur dan merapalkan sebuah mantra.
"Panah Beku" Shiranui ikut melompat mundur, membalas dengan mantranya sendiri. "Panah Crimson!" Api dan es saling meniadakan eksistensi satu sama lain.
"Badai Air" "Angin Puyuh Api!" "Tarian Bilah Es" "Formasi Api!" "Serangan Kristal Es" "Gelombang Panas!"
Keduanya terus-menerus melepaskan dan membenturkan mantra mereka. Sangat seimbang. Kecepatan mereka dalam merapalkan mantra dan kekuatan di baliknya benar-benar setara. Benturan berulang kali antara panas ekstrem dan dingin ekstrem membuat udara menjerit. Pertarungan berlangsung persis seperti sembilan puluh sembilan pertemuan sebelumnya. Jika terus begini, hasilnya akan kembali seri.
Namun, (Aku tidak akan membiarkan itu terjadi...! Aku telah merancang sihir baru untuk hari ini!) Sambil menetralisir Panah Beku dengan Panah Crimson-nya, Shiranui berlari ke samping. Menyadari hal ini, musuh mulai berlari sejajar dengannya.
"Tinju Api!" Shiranui mengubah arah menuju musuh, menyelimuti tinju kanannya dengan api.
"Pedang Beku" Tangan musuh, yang dibentuk seperti bilah pedang, terlapisi es. Kemudian, ia memperpendek jarak antara dirinya dan Shiranui.
Menduga Shiranui akan melakukan pertarungan jarak dekat, musuh mengambil kuda-kuda yang sesuai. Shiranui merasa kegirangan. Musuh ini selalu menghadapi serangan Shiranui secara langsung. Ia mengayunkan tinju apinya dengan lebar dan memukul.
Meskipun tinju apinya terlihat meleset karena berada di luar jangkauan pedang sekalipun, itu bukan sekadar meleset. Sambil membuka kepalan tangannya, Shiranui berteriak.
"Ular Api!" (Flame Serpent!)
Api yang menutupi tangannya menguat, memanjang menjadi garis api. Api itu merespons gerakan lengan Shiranui, mencambuk ke arah musuh. Musuh mengayunkan bilah esnya untuk memotong api yang mendekat. Meskipun tebasannya tajam, bilah es itu hanya membelah udara kosong. Garis api itu meliuk, menghindari bilah es.
Persis seperti namanya, Ular Api meliuk ke kanan dan ke kiri, menyerang wajah musuh. (Kena kau!) Mantra baru Shiranui, Ular Api, memungkinkannya mengendalikan api seperti cambuk sesuka hati. Api itu bisa melakukan gerakan kompleks seperti makhluk hidup yang mandiri, mengeksploitasi titik buta musuh.
Topeng perak itu terpental dan berputar di udara. Untuk pertama kalinya, Shiranui melihat wajah musuh bebuyutannya, yang ternyata adalah seorang wanita.
Ia sangat cantik. Kulitnya yang seputih salju menonjol di tengah kegelapan malam. Matanya panjang dan menyipit, hidungnya mancung, bibirnya tipis, dan telinganya terbentuk dengan sempurna. Semua fitur ini berpadu dengan harmonis, menciptakan wajah yang luar biasa menawan.
"Cantik..." Shiranui tanpa sadar menggumamkan kata-kata itu.
Ia sebenarnya tahu pemimpin Byakko adalah seorang wanita. Pertama kali Shiranui, pemimpin Suzaku, dan dia, pemimpin Byakko, bertarung adalah sepuluh tahun yang lalu. Saat itu Shiranui berusia dua belas tahun, dan meskipun ia tidak tahu persis umur lawannya, fisiknya menunjukkan bahwa ia seumuran.
Sejak awal, wanita itu menyembunyikan wajahnya di balik topeng. Topeng itu tampaknya memiliki fungsi untuk mengubah suaranya, membuatnya terdengar berderit tidak wajar dan menyembunyikan jenis kelaminnya. Namun, setelah satu atau dua tahun, Shiranui menyadari bahwa musuh bebuyutannya adalah seorang wanita. Itu karena perbedaan fisik. Selama dua tahun tersebut, Shiranui tumbuh menjadi jauh lebih tinggi, tetapi tinggi lawannya tidak banyak berubah. Di sisi lain, ada perubahan fisik lain pada wanita itu. Bahkan dari balik pakaian hitam longgar yang selalu dikenakannya, dadanya yang mulai berisi terlihat mencolok. Seiring berjalannya waktu, fisiknya dengan jelas menunjukkan ciri khas wanita. Ya, Shiranui tahu ia adalah seorang wanita. Jadi, hal ini seharusnya tidak mengejutkan. Namun, Shiranui tetap saja tercengang dan menghentikan serangannya.
Wanita itu sama terkejutnya. Kehilangan topeng adalah hal yang benar-benar tidak terduga. Konsentrasinya buyar, dan bilah es yang menutupi lengannya berubah menjadi uap lalu menghilang. Matanya yang panjang dan menyipit tertuju pada Shiranui. Tatapan mereka bertemu.
Matanya berwarna biru. Biru yang indah, seperti batu safir berkualitas tinggi, dalam dan jernih. (Jadi, ini adalah Mata Es.) Melihat Mata Es untuk pertama kalinya, Shiranui terpikat. Mata Es, seperti Mata Crimson milik Shiranui, adalah salah satu jenis Mata Roh. Mata Roh adalah tanda bagi mereka yang terlahir dengan afinitas tinggi secara alami terhadap roh tertentu. Mata Es memberikan afinitas tinggi terhadap roh es, sedangkan Mata Crimson memberikan afinitas tinggi terhadap roh api.
Meski terpikat, Shiranui sudah tahu bahwa ia memiliki Mata Es. Hanya penyihir dengan suatu bentuk Mata Roh yang bisa menandingi Shiranui, penyihir yang terlahir dengan Inti Crimson di tubuhnya. Ia sangat menguasai sihir es, jadi sudah jelas ia memiliki Mata Es.
"Kyaahhhhhhh!" Tiba-tiba, wanita itu menjerit dengan nada tinggi. Seolah-olah ia terlihat telanjang, ia berjongkok, memeluk pundaknya sendiri. Rambut hitam panjangnya terurai ke bahu dan punggungnya. Ikatan rambutnya pasti terlepas atau putus.
Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Namun, Shiranui tidak bisa bergerak. Tanpa diduga, sebuah bayangan jatuh menutupi profil wajah wanita itu. Shiranui buru-buru menatap ke langit. Bulan telah tertutup oleh awan.
"Ah..."
Duel telah berakhir. Ada aturan khusus untuk duel antara pemimpin Suzaku, Shiranui, dan pemimpin Byakko, wanita itu. Duel dilakukan pada malam bulan purnama. Duel dimulai ketika keduanya berhadapan di arena, menyinkronkan napas mereka dengan sempurna. Kemenangan diraih dengan membunuh lawan atau memaksa mereka menyerah. Jika fajar menyingsing atau bulan tertutup sepenuhnya oleh awan, duel dinyatakan seri.
"Apakah... sudah berakhir?" Wanita itu bertanya dengan suara lemah.
"Ah, ah, iya... sepertinya begitu." Shiranui tanpa sadar menjawab dengan bahasa formal. (Apa yang kulakukan? Aku membiarkan kemenangan telak lepas begitu saja.)
"Umm..." Ucapnya sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. "Maafkan aku karena menunjukkan sesuatu yang tidak sedap dipandang padamu..."
"Apakah kau berbicara tentang wajahmu?" "I-iya..." "Sama sekali tidak tidak sedap dipandang. Kau, yah... sangat..." "Sangat?" "S-sangat cantik!"
Apa yang sedang kuucapkan? Shiranui menjerit dalam benaknya.
"......!" Wanita itu mendongak seolah terkejut. Wajahnya merah padam, tapi Shiranui, yang kini tidak berani menatapnya secara langsung, tidak menyadarinya.
"Pertarungan ini seri! Sekali lagi, sama seperti sembilan puluh sembilan pertempuran sebelumnya, ini seri!" Shiranui membalikkan punggungnya. "Aku akan kembali ke desa Suzaku! Aku tidak punya alasan untuk tinggal di sini lebih lama lagi!" "I-iya." "Tapi! Sebelum aku pergi, aku ingin menanyakan satu hal padamu!" "I-iya. Apa itu...?" "Namamu! Tolong beritahu siapa namamu!" "...!" Ia bisa merasakan wanita itu menahan napas. Apakah aku menanyakan sesuatu yang tidak pantas? Apakah aku menyusahkannya? Tapi...
"...Aura." Wanita itu menjawab. "Namaku Aura."
"Aura..." Shiranui merasa itu adalah nama yang indah, sangat cocok dengan kecantikannya. "Maafkan aku. Namaku Shiranui." "Aku tahu. Kau selalu memperkenalkan dirimu..." "Benar juga! Kalau begitu, aku pamit..." "T-tunggu."
Saat Shiranui hendak pergi, Aura memanggilnya. "Apakah kau akan bertarung denganku lagi?" "T-tentu saja! Itu adalah tugasku sebagai pemimpin Suzaku! Dan..." "Dan...?" "Mengalahkanmu adalah tujuan hidupku!"
Tanpa menoleh ke belakang, Shiranui menjawab dan menunggu reaksi Aura. Aura menarik napas dalam-dalam beberapa kali sebelum berbicara. "...Syukurlah." Ia terdengar benar-benar lega.
"Kalau begitu, aku pergi!" Tidak sanggup bertahan lebih lama lagi, Shiranui meninggalkan tempat itu seolah sedang melarikan diri.
Di pusat desa Suzaku, sebuah pilar raksasa menjulang tinggi. Berkilau dengan perpaduan warna yang rumit dan tak terhitung jumlahnya, pilar ini tidak dibawa ke sini oleh tangan manusia dan tidak juga tumbuh dari tanah. Pilar itu terbang dari langit yang jauh dan menancap ke dalam bumi. Menawan sekaligus menakutkan, Shiranui bersandar padanya dan duduk.
Langit di ufuk timur mulai terang. "A-aku merasa lebih lelah dari biasanya..." Shiranui dan Aura selalu seimbang. Adalah hal yang wajar jika ia kelelahan setelah berduel, namun kali ini, jantungnya tidak mau berhenti berdebar. Wajahnya terasa panas seperti demam.
"Kakak." Saat Shiranui menundukkan kepalanya, mencoba mengatur napas, sebuah suara memanggilnya. Mendongak, ia melihat seorang gadis berambut merah berdiri di sana.
"Hibari." Shiranui menyebutkan nama adiknya.
"Selamat datang kembali, Kakak. Seri lagi kali ini?" "Y-yah."
Hibari memanggil Shiranui "Kakak" secara harfiah. Hibari adalah adik perempuan Shiranui yang baru saja menginjak usia enam belas tahun. Ia mengikat rambutnya yang lumayan panjang dan membiarkannya menjuntai di kedua sisi kepalanya. Meskipun fitur wajahnya yang lembut membuatnya tampak manis bahkan di mata kakaknya sendiri, ia juga merupakan kritikus yang tajam baginya.
"Baiklah, karena kau sudah kembali, berhentilah bermalas-malasan di sini dan pergilah melapor pada tetua. Kau sepertinya tidak mengalami luka parah, jadi kau bisa bergerak, kan?" Bahkan sekarang, ia tidak membiarkan kakaknya beristirahat setelah kembali dari pertempuran. "Ayo, berdiri." Gestur mengulurkan tangannya adalah bentuk kecil dari kebaikannya.
"Hah? Wajahmu merah sekali." Hibari berjongkok dan mengintip wajah Shiranui. "...Apakah terjadi sesuatu yang berbeda kali ini?"
"T-tidak, tidak ada apa-apa." "Pembohong." Hibari sangat tanggap, dan Shiranui adalah pembohong yang buruk. Shiranui tahu itu. Tidak ada gunanya mencoba menyembunyikannya.
"Sebenarnya..." Shiranui menceritakan pada adiknya tentang ia yang melihat wajah pemimpin Byakko untuk pertama kalinya dan mengetahui namanya.
"Hmm... Jadi pemimpin Byakko itu ternyata seorang wanita. Dan dia benar-benar cantik, ya." Shiranui sedikit menyesal telah memuji kecantikannya, meskipun fakta bahwa ia adalah seorang wanita pasti akan terungkap. Tentu tidak pantas bagi Hibari, seorang anggota klan Suzaku, mendengar pemimpin mereka memuji pemimpin musuh. Benar saja, tatapan Hibari yang tertuju pada Shiranui dipenuhi kecurigaan dan rasa jijik.
"Ini pertama kalinya aku mendengarmu memuji penampilan seorang wanita, Kakak." "I-itu tidak benar." "Benar. Kau selalu terlalu fokus pada studi dan melatih sihirmu, kau bahkan tidak pernah punya pacar. Kau bahkan belum pernah merasakan cinta pertama." "Ugh..." Shiranui kehabisan kata-kata.
"Jadi, maksudmu, kau jatuh cinta pada pandangan pertama pada Aura—" Di tengah ucapan adiknya, mata Shiranui terbelalak. Ada seseorang di belakang Hibari.
"Kakak? ...!" Menyadari perilaku aneh Shiranui, Hibari menoleh dan tersentak. Seorang wanita berjubah biru yang berkibar berdiri di sana tanpa suara. Wajahnya tersembunyi oleh kerudung (veil), tetapi rambut merah muda terang yang panjang dan tubuh rampingnya menunjukkan bahwa ia adalah seorang wanita.
(Dia mendekat tanpa aku sadari. Siapa dia...?)
"Itu Kristal Mantra yang sangat mengesankan." Wanita berjubah itu berbicara. Dilihat dari suaranya, ia sepertinya berusia pertengahan hingga akhir dua puluhan. Nada suaranya lebih terdengar monoton daripada tenang.
Shiranui meletakkan tangannya di pilar tempat ia bersandar tadi dan berdiri. Pilar ini adalah sebuah Kristal Mantra. "Bencana yang datang dari surga. Sungguh mengesankan bagaimana klan Suzaku merebut kembali tanah ini, dengan Kristal Mantra yang masih tertancap di dalamnya."
"S-siapa kau? Apakah kau dari klan Byakko?!" Hibari menegang dan meninggikan suaranya. Sudah jelas bahwa wanita itu bukan orang biasa. Desa Suzaku tidak berada di jalur utama mana pun. Dan saat ini adalah waktu fajar menyingsing.
"Tolong maafkan kelancanganku. Namaku Lillie." Wanita itu berbicara dengan anggun seraya membungkuk. "Aku datang membawa ramalan dari Oracle Menara Dunia."
Tiga ratus tahun yang lalu, sebuah bintang jatuh. Itu adalah awal dari malapetaka. Tiga belas pilar berwarna cerah turun ke dunia, menancap jauh ke dalam bumi. Pilar-pilar ini, yang kemudian dikenal sebagai Kristal Mantra, melepaskan racun yang membunuh setiap makhluk hidup di sekitarnya. Manusia tidak terkecuali. Dunia jatuh ke dalam kekacauan. Banyak desa, kota, dan bahkan negara hancur, dan orang-orang terusir dari rumah mereka. Kristal Mantra terus memancarkan racun mereka untuk jangka waktu yang panjang. Tepatnya, selama sepuluh tahun.
Sepuluh tahun setelah kedatangan mereka, racun itu berhenti. Ketiga belas Kristal Mantra berhenti memancarkan racun. Bahkan setelah satu bulan, dua bulan, racun itu tidak pernah kembali. Orang-orang bersukacita dan berusaha untuk menghancurkan Kristal Mantra tersebut. Namun, mereka tidak mampu menghancurkan pilar-pilar menjijikkan itu. Mereka bahkan tidak bisa membuat satu goresan pun. Bukan dengan pedang pahlawan, bukan dengan sihir orang bijak, dan bukan pula dengan senjata pengepungan dari negara-negara besar—tidak ada yang bisa membuat Kristal Mantra itu goyah.
Orang-orang akhirnya memahami kebenaran yang membuat putus asa. Kristal Mantra tidak dapat dihancurkan. Yang lebih memperburuk keadaan, racun yang ditinggalkan oleh Kristal Mantra melahirkan warisan yang mengerikan.
Binatang Mantra. Racun dari Kristal Mantra membunuh manusia, hewan, dan bahkan binatang buas ajaib, tetapi terkadang, ada yang selamat. Namun, selamat bukan berarti mereka tidak terluka. Makhluk yang selamat dari racun tersebut berubah menjadi entitas mengerikan—Binatang Mantra.
Binatang Mantra jauh lebih buas dan kuat daripada binatang buas ajaib biasa. Bahkan para pahlawan dan orang bijak (Sage) kesulitan untuk mengalahkan mereka. Meskipun tidak abadi, Binatang Mantra diyakini tidak menua. Belum ada kasus terkonfirmasi di mana Binatang Mantra mati karena penyebab alami.
Satu-satunya keberuntungan adalah Binatang Mantra memiliki jangkauan jelajah yang terbatas. Binatang Mantra tetap berada di sekitar Kristal Mantra. Mereka tidak berkelana jauh untuk menyerang kota atau desa. Namun, ini juga berarti bahwa bahkan setelah racunnya berhenti, orang-orang tetap tidak bisa mendekati tanah di mana Kristal Mantra berdiri.
Sejak peristiwa pertama tiga ratus tahun yang lalu, Kristal Mantra terus berjatuhan dalam siklus tiga puluh tahun. Setiap siklus, sekitar sepuluh Kristal Mantra akan tiba. Dengan setiap kedatangan, umat manusia kehilangan lebih banyak lahan yang bisa dihuni. Menghancurkan Kristal Mantra menjadi harapan terbesar umat manusia.
Seorang wanita berambut merah muda terang, dengan wajah tersembunyi di balik kerudung—Lillie mengaku sebagai utusan dari Oracle Menara Dunia. Menara Dunia adalah lembaga supranasional yang memprediksi dan memantau kedatangan Kristal Mantra. Tepat di pusat benua tengah, sebuah struktur menjulang tinggi yang mencapai langit berdiri, dan di puncaknya berdiam seorang Oracle (Gadis Peramal) dengan kekuatan untuk melihat masa depan.
(Mengapa seorang utusan dari Oracle Menara Dunia berada di Desa Suzaku?) Meskipun perasaannya tidak enak, Shiranui membimbing Lillie ke kediaman Tetua untuk mendengarkannya.
Hari masih fajar, namun sang Tetua sudah bangun, menunggu untuk menerima laporan pertempuran Shiranui. "Seorang utusan dari Menara Dunia, itu benar-benar tamu yang langka." Duduk bersandar pada kulit hewan yang digelar di lantai ruang tamu, Tetua Kagari memegang pipa rokok di tangannya. Meskipun dipanggil Tetua, Kagari adalah seorang wanita yang baru saja menginjak usia empat puluh tahun.
"Baiklah, cerita menarik apa yang kau bawa untuk kami?" Kagari dengan malas menyingkirkan rambut merah panjangnya ke belakang dan menyalakan pipanya dengan api kecil yang memancar dari ujung jari telunjuknya. Menciptakan api sekecil itu dengan semudah bernapas adalah prestasi yang hanya bisa dilakukan oleh penyihir berpengalaman, tetapi itu sudah menjadi hal yang alami baginya. Kagari adalah pemimpin sebelumnya dan orang yang mengajarkan dasar-dasar sihir kepada Shiranui.
Shiranui duduk di sebelah Kagari, dengan Hibari duduk di sebelahnya. Kehadiran Hibari di sini bukan sekadar karena ia adalah adik Shiranui. Ia adalah penyihir paling terampil ketiga setelah Shiranui dan Kagari, memegang posisi sebagai Wakil Pemimpin. Kehadirannya sangatlah penting.
Lillie, duduk bersila berhadapan dengan Kagari, menampakkan senyum tipis di balik kerudungnya. "Oracle ingin menyampaikan kata-katanya secara langsung kepada kalian semua." Dengan itu, Lillie merogoh punggungnya, mengambil sesuatu dari sabuknya, dan meletakkannya di pangkuannya. Itu adalah sebuah cermin. Cermin lonjong yang dibingkai dengan batu permata yang tak terhitung jumlahnya. Lillie meletakkan tangannya di atasnya dan menggumamkan sesuatu dengan lembut. Sosok kabur mulai terbentuk di atas cermin.
Seorang gadis kecil, yang tampaknya berusia tidak lebih dari delapan atau sembilan tahun, duduk dengan postur sempurna dan mata tertutup dengan tenang. Cermin itu adalah sebuah artefak yang dapat menampilkan dan berkomunikasi dengan seseorang dari lokasi yang jauh.
Shiranui belum pernah menjumpai alat seperti itu sebelumnya. Sebagai seseorang yang mengabdikan diri untuk menguasai sihir, ia penasaran dengan teknologi di baliknya, tetapi fokusnya dengan cepat beralih ke gadis di cermin tersebut.
Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah rambut emasnya. Meskipun rambut pirang tidak terlalu langka di benua tengah, rambut gadis itu begitu berwarna emas cerah hingga tampak bersinar. Rambut itu terurai panjang ke punggungnya, mencapai pinggangnya. Poni depannya pasti cukup panjang juga, tetapi poni itu diangkat oleh sebuah pita merah, memperlihatkan dahinya yang bundar. Jubah putihnya yang longgar dihiasi dengan pola ular emas dan perak yang saling melilit, kemungkinan mewakili ular suci yang konon bisa meramalkan masa depan.
Shiranui menelan ludah. Tidak diragukan lagi bahwa gadis ini adalah Oracle dari Menara Dunia. Ia memancarkan aura wibawa yang kuat.
Gadis itu perlahan membuka matanya. Mata birunya bukanlah biru es yang dalam seperti milik Aura, melainkan berwarna seperti langit cerah. "Ah. Jadi kalian adalah orang-orang Suzaku," kata gadis itu sambil memandang Shiranui, Hibari, dan Kagari. "Aku izinkan kalian memperkenalkan diri."
Kagari mendengus mendengar cara bicaranya. "Bukankah sudah menjadi kebiasaan bagi tamu untuk memperkenalkan diri lebih dulu? Apakah Oracle dari Menara Dunia begitu sombong?" "Tetua!" Shiranui dengan cepat menegur Kagari. Kagari adalah mentor yang ia hormati, tetapi Oracle adalah entitas dari surga. Ketidaksopanan seperti itu tidak bisa diterima.
"Ho, kau punya nyali juga. Aku menyukaimu, wanita. Karena dirimu, aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Griguri." "...Apa?" Shiranui berseru tanpa sengaja. "Griguri...? Apakah itu benar-benar nama Oracle?"
"Benar sekali! Memangnya kau punya masalah dengan itu?" Oracle Griguri tampak marah. "Ini adalah nama dengan sejarah yang panjang dan mulia! Para Oracle Menara Dunia telah menyandang nama Griguri sejak zaman nenek dari nenek dari nenekku! Setiap Oracle diberi nama Griguri!" "Aku tidak tahu." "Itu tidak diketahui secara umum!" "Kenapa tidak?" Shiranui menelan pertanyaan itu sebelum keluar dari bibirnya. Jawabannya sudah jelas tanpa perlu mendengarnya. Seorang Oracle mistis yang meramalkan malapetaka dengan nama seperti Griguri, yang paling banter terdengar imut dan paling buruk terdengar aneh, mungkin memang akan diejek oleh sebagian orang.
"Jika kau berani mengolok-olok namaku, nasibmu akan jadi seperti ini, seperti ini!" Sambil mengatakan ini, Oracle Griguri membuat gestur menggorok lehernya sendiri dengan ibu jarinya. "Aku akan mengingatnya," kata Shiranui. Ia sama sekali tidak berniat mengejeknya, tetapi berdebat hanya akan memperburuk keadaan. Ia menundukkan kepalanya.
"Sangat baik. Sekarang giliran kalian untuk memperkenalkan diri. Kau di sana, wanita." "Aku Kagari, sang Tetua." "Lalu kau, gadis kecil." "Ga-Gadis kecil... Aku Hibari, Wakil Pemimpin." "Dan terakhir, kau." "Aku Shiranui, sang Pemimpin." Sambil memperkenalkan dirinya, Shiranui mengangkat kepalanya.
Mata biru langit itu menatap lurus ke arah Shiranui. "Mata Crimson. Sekarang aku mengerti." "Apa maksudmu dengan itu?" "Aku memerintahkanmu, Shiranui, Pemimpin Suzaku." Oracle Menara Dunia menyatakan dengan suara yang bertolak belakang dengan penampilannya yang masih muda. "Menikahlah dengan Pemimpin Byakko dan hasilkan seorang penerus." "..."
Shiranui tidak bisa memahami arti kata-kata Oracle Griguri. Ia hanya menatap wajah seperti anak kecil itu dengan kebingungan yang luar biasa. "Mengapa kau memberiku tatapan rindu seperti itu? Aku sudah bilang padamu untuk merayu, menikahi, dan menghamili Pemimpin Byakko." "..."
Shiranui memejamkan matanya dan mengulangi kata-kata Oracle Griguri di kepalanya. Ia mencoba mencernanya, tetapi kata-kata itu terlalu mustahil untuk diterima. Shiranui membuka matanya lebar-lebar dan berteriak. "Apaaaa?! Kau ingin aku menikahi Pemimpin Byakko?!" "Reaksimu berlebihan. Kau adalah seorang pria, dan Pemimpin Byakko adalah seorang wanita di usia yang tepat, bukan? Seorang pria dan wanita yang menghasilkan anak adalah hal yang wajar." "Meskipun begitu! Apakah kau mengerti hubungan antara klan Suzaku dan Byakko?"
"Jangan meremehkanku. Aku sangat tahu. Klan Suzaku menyeberang dari benua barat ke benua tengah seratus tahun yang lalu. Mencari tanah baru, klan Suzaku menggunakan sihir api mereka untuk mengalahkan Binatang Kutukan dan mengklaim tanah yang tak berpenghuni. Itulah yang kini menjadi rumah kalian, Desa Suzaku." Shiranui mengangguk.
"Namun, tanah itu sebenarnya tidak tak berpenghuni dari awal. Sebelum kedatangan Batu Kutukan, ada orang-orang yang tinggal di sana. Mereka adalah klan Byakko. Klan Byakko menuntut pengembalian tanah tersebut, tetapi klan Suzaku menolak. Yah, itu tidak bisa dihindari. Tanah tempat Binatang Kutukan berkeliaran akan menjadi milik mereka yang berhasil mengusir Binatang Kutukan tersebut. Itu telah menjadi hukum tak tertulis di dunia ini sejak bencana Batu Kutukan dimulai. Namun, wajar saja bagi klan Byakko, yang ingin merebut kembali tanah air mereka, memiliki keinginan seperti itu." "......" "Kepentingan klan Suzaku, yang memperoleh tanah baru, dan klan Byakko, yang ingin kembali ke tanah air mereka, tidak sejalan, yang akhirnya berujung pada konflik. Klan Suzaku yang ahli dalam sihir api, menghadapi klan Byakko yang mahir dalam sihir es. Kekuatan mereka seimbang, dan konflik tersebut telah berlangsung selama sembilan puluh tahun. Apakah kau punya keberatan dengan penjelasan ini?"
"Tidak, semuanya persis seperti yang kau katakan. Jika kau memahami hal ini, kau seharusnya mengerti mengapa pernikahan antaraku dan pemimpin klan Byakko sangatlah sulit. Terlebih lagi, apa artinya bagiku dan pemimpin klan Byakko memiliki seorang anak?" "Anakmu kelak akan menyelamatkan dunia." "......Ya?" "Dengarkan baik-baik." Nada suara sang Gadis Peramal, Griguri, merendah.
"Sepuluh tahun dari sekarang, bencana Batu Kutukan skala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya akan terjadi. Ratusan... tidak, ribuan Batu Kutukan akan menghujani seluruh dunia. Itu adalah malapetaka raksasa... Bencana Besar, itulah sebutanku untuk peristiwa itu." "A-apa...!" Shiranui terdiam. Sulit untuk dipercaya. Ia tidak ingin mempercayainya. Tetapi ramalan Gadis Peramal Menara Dunia adalah mutlak. "Jika kita tidak mengatasi krisis ini, dunia akan binasa."
"A-apa yang harus kita lakukan...?" "Aku akan memberitahumu. Hasilkan seorang anak. Anakmu adalah kunci menuju Tujuh Cahaya (Seven Luminaries)." "Tujuh Cahaya...?" "Potensi umat manusia untuk melawan Bencana Besar. Tujuh orang bijak (Sage). Masing-masing disamakan dengan bulan, api, air, kayu, emas, tanah, dan matahari, yang masing-masing berhubungan dengan hari-hari dalam seminggu."
"Jadi, jika ketujuh orang bijak itu dikumpulkan... dunia akan selamat?" "Hmm," Gadis Peramal itu bergumam dengan nada samar. "Sage Matahari akan menjadi yang paling krusial. Faktanya, hanya Sage Matahari yang benar-benar bisa menghadapi Bencana Besar. Enam yang lain, meski bukan sekadar figuran, akan lebih berperan sebagai pelopor."
"Maksudmu, anak Shiranui kelak akan menjadi Sage Matahari?" sela Kagari. "Tepat sekali. ...Kau tampaknya tidak terlalu terkejut." "Itu bukan hal yang sama sekali tak terduga. Jika seorang anak lahir dari seseorang dengan mata merah (crimson) dan seseorang dengan mata biru es, bukankah anak itu akan mampu menggunakan sihir tertentu?" Mendengar kata-kata Kagari, Hibari menepuk tangannya. "Oh! Sihir mustahil yang diciptakan oleh kakakku!" "...! Begitu rupanya."
Tugas seorang penyihir bukan hanya mempelajari dan menggunakan sihir, tetapi juga menciptakan sihir baru. Sebagai seorang penyihir, Shiranui telah merancang banyak mantra. Walaupun tujuan utamanya adalah untuk mengalahkan pemimpin Byakko, ada satu tujuan penting lainnya: penghancuran Batu Kutukan. Dipercayai secara luas bahwa batu kutukan tidak dapat dihancurkan oleh tangan manusia, tetapi itu hanya berdasarkan pengalaman masa lalu. Kebijaksanaan manusia pada akhirnya akan menghancurkan batu kutukan tersebut. Shiranui percaya bahwa kata "pada akhirnya" itu mungkin tidak berada di masa depan yang terlalu jauh. Ia terus melakukan penelitian sihirnya dengan keyakinan ini dan berhasil. Ia merancang sihir pamungkas yang bahkan dapat menghancurkan batu kutukan.
Namun, itu baru sebatas teori yang telah diselesaikan. Sihir itu belum bisa dipraktikkan karena Shiranui sendiri tidak bisa menggunakan sihir tersebut. Bukan hanya Shiranui; tak ada seorang pun di dunia ini, seahli apa pun mereka, yang bisa menggunakannya. Untuk menggunakan sihir tersebut, seseorang membutuhkan bakat yang luar biasa tinggi untuk sihir api dan sihir es secara bersamaan, dua elemen yang saling berlawanan. Mereka yang terlahir dengan bakat sihir api tidak bisa menggunakan sihir es dan sebaliknya. Itu adalah hukum mutlak dunia ini. Tetapi bagaimana jika ada makhluk ajaib yang memiliki bakat untuk api maupun es, dua elemen yang saling berlawanan? Bahkan jika makhluk seperti itu tidak ada saat ini, bagaimana jika suatu hari nanti ia dilahirkan?
"Apakah kau punya ide? Beritahu aku." "Ya." Shiranui kemudian mulai menjelaskan kepada Gadis Peramal itu tentang sihir mustahil yang telah ia rancang.
"Aku mengerti. Jadi, anakmu akan lahir dengan bakat yang dapat mewujudkan sihir mustahil tersebut menjadi kenyataan." "Tetapi, meskipun begitu..." "Jalannya sudah jelas. Apa lagi yang kau ragukan? Cepatlah, nikahi Pemimpin Byakko, dan buat dia hamil." "A-aku, aku...! Seperti yang aku sebutkan sebelumnya, ada sejarah berdarah antara klan Suzaku kami dan klan Byakko." "Ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengakhiri apa yang disebut sejarah berdarah itu." "Tapi," "apakah kau... Apakah kau sebegitu membencinya klan Byakko?" "...Itu..." Shiranui kehabisan kata-kata.
Sejujurnya, Shiranui sendiri tidak menyimpan kebencian apa pun terhadap klan Byakko. Pada masa-masa awal konflik, ada banyak korban jiwa di kedua belah pihak. Tetapi itu adalah masa lalu. Konflik skala besar perlahan-lahan berkurang seiring waktu, dan pada era generasi sebelumnya, dibuatlah sebuah perjanjian yang melarang duel antara siapa pun selain para pemimpin klan. Sebulan sekali, para pemimpin akan bertarung, dan jika pemimpin Byakko menang, klan Suzaku akan menyerahkan tanah mereka, dan jika pemimpin Suzaku menang, klan Byakko akan menyerah pada niat mereka untuk kembali ke tanah air. Sejak perjanjian ini dibuat, belum ada pertempuran langsung antar kedua klan, dan tidak ada lagi korban nyawa. Duel tersebut selalu berakhir seri selama tiga generasi, dan meskipun konflik itu sendiri belum berakhir, ada semacam kedamaian dengan cara tertentu. Ada sejarah berdarah. Tentu saja, itu ada. Tetapi bagi Shiranui, itu adalah sesuatu yang tidak memiliki perasaan yang nyata.
Namun, sebagai pemimpin yang memikul beban sejarah berdarah itu, bisakah Shiranui dengan jujur mengatakan bahwa ia sama sekali tidak menyimpan kebencian terhadap klan Byakko? Seolah mencari keselamatan, Shiranui memandang Kagari, pemimpin sebelumnya. Di bawah tatapan penerusnya, Kagari mengembuskan kepulan asap panjang dan berbicara. "Kupikir, ini sudah saatnya." Ia mengetukkan pipa rokoknya ke asbak, menjatuhkan abunya, lalu melanjutkan. "Aku tidak lagi menyimpan dendam terhadap klan Byakko, seperti yang dikatakan Gadis Peramal itu. Bukankah ini kesempatan yang baik, Shiranui?" "Tetua..."
"Aku rasa ini saatnya untuk mengakhiri semuanya!" Hibari mengangkat tangannya dan berbicara. "Hanya karena leluhur kita memulai pertarungan, bukan berarti kita harus terus melanjutkannya selamanya. Aku yakin orang-orang klan Byakko pun pasti sudah ingin mengakhirinya sekarang." "Tapi..." "Lagipula, ini menyangkut nasib dunia, bukan? Jika kau mendengar apa yang dikatakan Gadis Peramal itu, bahkan pemimpin klan Byakko pun tidak akan bisa menolaknya." "Itu…" Shiranui berpikir keras.
"Gadis Peramal, mengenai kisah Bencana Besar, apakah kau sudah menyampaikannya kepada pemimpin klan Byakko?" "Belum. Aku telah menyampaikannya kepadamu, sang pemimpin klan Suzaku, terlebih dahulu." "Kalau begitu, tolong tunggu beberapa saat sebelum menyampaikannya kepada pemimpin klan Byakko." "Oh?" Gadis Peramal itu menyipitkan matanya. "Kenapa begitu?"
"Aku juga tidak menyimpan kebencian terhadap klan Byakko. Banyak anggota klan Suzaku, terutama generasi muda, kemungkinan memiliki sentimen yang sama. Namun, itu hanya cerita dari sisi kita. Perasaan anggota klan Byakko yang tidak dapat merebut kembali tanah air mereka pasti berbeda." "Hmm." "Setelah mendengar ramalanmu, pemimpin klan Byakko mungkin tidak bisa menolak pernikahan denganku. Namun, hal itu akan menyisakan kebencian yang mendalam di antara anggota klan Byakko. Hanya ada satu cara agar pernikahan bisa terjadi dengan persetujuan kedua klan." "Dan apa cara itu?" "Berpegang teguh pada perjanjian dan mengakhiri perseteruan sembilan puluh tahun ini melalui duel." Meskipun begitu, mungkin masih ada kebencian yang tertinggal. Namun, duel antara para pemimpin diselenggarakan dengan persetujuan kedua klan. Hasil dari duel tersebut seharusnya dapat memberikan tingkat kepuasan tertentu.
"Aku mengerti. Lalu, bisakah kau menang? Melawan musuh yang belum bisa kau kalahkan selama sembilan puluh tahun ini." "Aku akan menang. Aku akan menang dan pastinya aku akan menikahi pemimpin klan Byakko!" Shiranui mengepalkan tinjunya di depan dada, menunjukkan tekadnya yang bulat.
"Kau terlihat sangat antusias." "Eh...?" "Kupikir kau akan lebih enggan. Bagaimanapun juga, kau disuruh menikahi musuh bebuyutanmu. Meski aku yang memberi perintah, ini permintaan yang cukup tidak masuk akal." "T...tapi...! D-demi dunia! Ya, ini demi dunia." "Benarkah itu satu-satunya alasan?" Gadis Peramal itu menyeringai dengan nakal. "Yah, kalau kau memang sangat termotivasi, maka tidak apa-apa. Caranya tidak masalah. Nikahilah pemimpin klan Byakko dan hasilkan anak. Ini demi masa depan dunia manusia."
Sosok Gadis Peramal Griguri itu beriak seperti permukaan air lalu menghilang. "Ramalan Oracle memang telah disampaikan," Ucap Lillie sambil mengambil cermin itu dan berdiri tanpa menimbulkan suara gemerisik pakaian. "Aku akan undur diri sekarang. Sampai kita bertemu lagi." "Aku akan mengantarmu ke gerbang desa." "Anda tidak perlu repot-repot." Menolak tawaran Shiranui, Lillie pun pergi meninggalkan kediaman itu.
Sebagai utusan Menara Dunia, Shiranui tidak ingin orang luar bebas berkeliaran di desa. Menyembunyikan hawa keberadaannya dengan niat untuk mengikutinya secara diam-diam, ia berjalan di belakangnya, tetapi ia dengan cepat kehilangan jejaknya setelah meninggalkan kediaman. Sama seperti saat ia muncul, ia menghilang tanpa jejak. (Benar-benar sesuai dugaan dari utusan Menara Dunia. Mereka pasti sangat ahli dalam sihir, atau mungkin bahkan seorang Sage.)
Menara Dunia tidak hanya sebagai badan pengawas Kristal Kutukan tetapi juga sebagai institusi untuk mensertifikasi para Sage. Gelar Sage diberikan kepada penyihir-penyihir yang memiliki kemampuan dan karakter untuk berkontribusi pada perdamaian dunia. Pada dasarnya, mereka adalah penyihir yang secara langsung berafiliasi dengan Menara Dunia, tetapi lebih dari itu, Shiranui tidak tahu banyak. Sejak pendiriannya, hanya segelintir penyihir yang pernah dianugerahi gelar Sage. Prestasi mereka bervariasi, dengan beberapa meninggalkan jejak dalam sejarah, sementara yang lain tetap tidak dikenal. Sebagaimana Menara Dunia itu sendiri diselimuti misteri, begitu pula eksistensi para Sage.
"Kakak." Saat Shiranui menyerah untuk melacak Lillie dan berbalik untuk kembali ke kediaman, Hibari memanggilnya. "Apakah kau benar-benar yakin? Menikahi pemimpin klan Byakko?" "Yah, apa boleh buat. Ini demi dunia." "Hmm..." "Kenapa menatapku dengan curiga begitu?" "Gadis Peramal tadi juga menyebutkannya, tapi Kakak, kau tidak terlihat enggan sama sekali. Apakah itu karena pemimpin klan Byakko itu sangat cantik?" "B-bukan begitu! Aku sama sekali, sama sekali tidak berpikir seperti itu!" "Tingkahmu sangat mencurigakan. Yah, terserahlah. Asalkan Kakak bahagia, maka itu sudah cukup." "Bahagia?" "Lagipula, pernikahan adalah sesuatu yang kau lakukan agar bisa bahagia, kan?" "Yah, itu mungkin benar secara umum, tapi..." "Menurutku…" Hibari menatap wajah Shiranui dari bawah dan berbicara. "Jika kau akan menikah, aku ingin kau dan pasanganmu sama-sama bahagia." "Hibari..."
"Omong-omong, Kakak. Aku tanya saja buat jaga-jaga, tapi kau tahu kan?" "Tahu apa?" "Cara membuat bayi." "J-jangan konyol. Memang benar aku telah mendedikasikan diriku untuk belajar dan melatih sihir sejak aku masih muda. Tidak heran jika aku sering dibilang naif dan kurang pengalaman. Bukannya aku bangga akan hal itu, tapi aku tidak punya satu pun teman dekat, apalagi pengalaman jatuh cinta." "Itu benar-benar bukan sesuatu yang pantas dibanggakan..." "Tapi, aku memang tahu cara membuat bayi." "Kapan kau mempelajarinya?" "Enam bulan yang lalu!" "Itu baru saja!"
Sekitar enam bulan yang lalu, sepasang suami istri muda dari desa berkonsultasi pada Shiranui, mengeluhkan kesulitan mereka untuk memiliki anak dan menanyakan apakah ada obat untuk membantu mereka agar bisa hamil. Sebagai pemimpin desa, Shiranui meneliti dan memperoleh pengetahuan tentang reproduksi demi memecahkan masalah mereka. Omong-omong, saat Shiranui masih bereksperimen dengan pengembangan obat kesuburan, pasangan muda yang bersangkutan malah sudah keburu memiliki anak, sehingga obat tersebut tidak pernah diselesaikan.
"Lalu sebelum itu, kau pikir bagaimana caranya bayi dilahirkan?" "...Bahwa ketika seorang pria dan seorang wanita rukun, seekor burung bangau akan membawakan bayi untuk mereka." "Tidak, tidak, tidak." "Jangan khawatir. Aku sudah tahu sekarang. Dengan pengetahuan yang tepat, sebagian besar hal biasanya akan berjalan lancar." "Yah... terserahlah. Saat ini, Kakak, ada hal-hal lain yang perlu kau fokuskan terlebih dahulu." "Ah, ya. Selain mengalahkan pemimpin klan Byakko, aku tidak bisa memikirkan hal lain."
Telah bertarung seratus kali tanpa satupun kemenangan melawan musuhnya itu, kemenangan kali ini adalah keharusan mutlak. Sekadar mengerahkan kekuatan saja tidak akan cukup. Itu membutuhkan tekad yang tajam, resolusi, dan setiap tetes pemikiran matang. Shiranui membayangkan sosok musuh bebuyutannya itu di dalam benaknya. Rambut hitam yang halus. Kulit seputih salju. Mata biru sedalam lautan yang memikat. Bibir sewarna bunga sakura.
(Cantiknya... Ah!) Shiranui memegangi kepalanya dengan kedua tangan dan menggelengkannya. (Tidak, tidak! Pikiran mesum sudah mulai merayap masuk! ...Tapi)
Tetapi jika ia menang, ia bisa menjadikan wanita cantik bak dewi itu sebagai istrinya. Bayangkan saja. Aura berdiri di sisinya sebagai istrinya. Melihatnya tersenyum sambil menggendong bayi mereka. (Ini, ini mungkin yang dinamakan... kebahagiaan. ...Tidak, tidak, tidak! Pikiran mesum! Aku harus membuangnya jauh-jauh.)
"Kakak... Kenapa kau membuat begitu banyak ekspresi sendirian? Kadang tegas, kadang senyum-senyum sendiri." "A-aku tidak tersenyum." "Tadi iya! Sadarlah, Pemimpin!" Hibari memukul bokong Shiranui dengan keras. "Aduh..." Sambil mengelus bokongnya yang perih, Shiranui berbicara pada adiknya. "Selama sebulan ke depan, aku akan memusatkan perhatian pada penelitian dan latihanku tanpa menemui siapa pun. Aku akan menyerahkan semua urusan desa kepadamu sebagai Wakil Pemimpin." "Ya. Aku tidak bisa melarangmu memaksakan diri, tapi... Tolong, jangan mati, Kakak." "....." Orang yang takut akan kematian bukanlah lawan yang pantas. Itulah sebabnya Shiranui tidak bisa mengangguk mengiyakan kata-kata adiknya. Jadi sebagai gantinya, Shiranui menjawab, "Aku akan menang. Aku pasti akan menang."
(Dia melihatku! Dia melihatku! Dia melihatku!)
Duduk di bawah rindangnya pohon, sambil memeluk topengnya erat-erat, Aura menjerit tanpa suara di dalam hatinya. Ia berada di hutan di pinggiran Desa Byakko. Setelah duel berakhir, Aura telah kembali ke desa tetapi belum juga pulang ke rumah. Jarang ada orang yang memasuki hutan ini, di mana sinar matahari sulit menembus dan hampir tidak ada tanaman liar yang bisa dimakan. Kapanpun ia merasa gelisah secara emosional, sejak kecil Aura memiliki kebiasaan untuk menghabiskan waktu dengan memeluk lututnya di tempat sepi ini hingga ia merasa tenang.
(Pria itu melihat wajah asliku!)
Pemimpin klan Suzaku itu akhirnya melihat wajah telanjangnya. Topeng Aura bukan sekadar untuk menyembunyikan wajahnya. Topeng itu adalah alat sihir yang diwariskan secara turun-temurun oleh para pemimpin Byakko, yang berfungsi sedikit mengurangi konsumsi energi saat menggunakan sihir. Untuk alasan kepraktisan itulah, Aura mengenakan topeng tersebut selama berduel—pada awalnya.
Sepuluh tahun yang lalu, ketika Aura menjadi pemimpin—di usianya yang baru menginjak empat belas tahun—ia memiliki penampilan seperti anak laki-laki. Secara spesifik, ia tidak memiliki lekukan khas tubuh wanita. Hal ini dikarenakan latihan keras yang telah mengikis lemak di tubuhnya. Namun, sekitar usia enam belas tahun, tubuhnya mulai berubah. Meskipun ia memakai pakaian longgar yang tidak memperlihatkan lekuk tubuh, fisik Aura secara drastis menjadi sangat feminin.
Ia merasa sangat malu. Ia merasa sangat malu tak tertahankan jika pemimpin Suzaku tahu bahwa ia adalah seorang wanita, dan topeng itu menjadi jauh lebih penting sebagai alat untuk menyembunyikan wajahnya daripada fungsi praktisnya. Topeng itu juga memiliki efek mengubah suaranya, tetapi ia tetap berusaha untuk berbicara sesedikit mungkin.
(Aku tidak ingin dia mengetahuinya...) Aura terisak. Mata birunya membengkak dan memerah karena menangis.
Ketika Aura bertanya, "Apakah kau akan bertarung denganku lagi?" pria itu—Shiranui—menjawab, "Tentu saja." Aura merasa lega saat itu, tetapi sebagai pemimpin Suzaku, ia memang tidak bisa menolak duel. Namun, sekarang setelah pria itu tahu bahwa Aura adalah seorang wanita, apakah ia masih akan bertarung dengan kesungguhan yang sama seperti sebelumnya?
(Pertarunganku dengannya adalah segalanya bagiku...)
Saat Aura memeluk topengnya lebih erat, sehelai poninya jatuh menutupi matanya. Meskipun sebagian besar orang klan Byakko memiliki rambut putih atau berwarna pucat, rambut Aura berwarna hitam pekat. Di Desa Byakko, anak-anak berambut hitam dibenci dan dijauhi karena dianggap sebagai anak terkutuk, tetapi Aura adalah pengecualian.
Yang lebih penting daripada rambut hitamnya adalah mata biru yang ia miliki sejak lahir. Mereka yang memiliki mata biru es memiliki bakat langka untuk sihir es. Sudah 130 tahun sejak seseorang dengan mata biru es terlahir di antara klan Byakko, dan ini adalah yang pertama kalinya sejak konflik dengan klan Suzaku dimulai.
Seseorang dengan mata biru es diyakini dapat mengalahkan klan Suzaku. Aura tumbuh besar dengan memikul beban ekspektasi seluruh penduduk Byakko di pundaknya. Sejak ia bisa mengingat, yang ada hanyalah latihan, latihan, dan latihan. Ia tidak pernah berpikir itu adalah hal yang sulit. Ia tidak melakukan apa pun selain berlatih. Ia tidak memikirkan apa pun selain sihir. Hal itu telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Aura tumbuh menjadi sangat kuat. Pada saat ia berusia sepuluh tahun, tidak ada satupun penyihir Byakko yang bisa menandinginya. Tak bisa dihindari, Aura menyadari bahwa dirinya spesial. Warna rambutnya, warna matanya, bakat dan kemampuannya sebagai penyihir, segala hal tentang dirinya berbeda dari orang-orang di sekitarnya.
—Aku sendirian.
Semakin kuat dirinya, semakin Aura merasa kesepian. Dan Shiranui-lah yang telah mengisi kekosongan tersebut.
Shiranui. Pemimpin klan Suzaku. Pria itu berbeda dari yang lain. Bahkan saat Aura bertarung dengan seluruh kekuatannya, ia tidak bisa memenangkan pertarungan. Tidak peduli seberapa sering mereka berduel, ia tetap tidak bisa menang. Meskipun Aura terus bertambah kuat melalui latihan tanpa henti, pria itu juga bertambah kuat. Mereka selalu berada di level yang sama.
Awalnya, ia merasa kebingungan. Ketidakmampuannya untuk menang membuatnya merasa frustrasi dan jengkel. Namun, pada suatu saat, Aura mulai menantikan pertarungan dengannya. Berlatih keras dengan satu-satunya tujuan untuk mengalahkan pria itu menjadi hal yang sangat menyenangkan baginya. Memikirkan teknik baru juga menyenangkan. Pria itu adalah satu-satunya musuh yang bisa Aura hadapi dengan kekuatan penuhnya. Karena statusnya yang spesial, Aura selalu merasa kesepian, tetapi pria itu masuk ke dalam dunianya secara langsung dan bertahan di sana.
Berkat pria itu—berkat Shiranui—Aura tidak lagi kesepian.
"Kakak."
Mendengar suara itu, Aura perlahan mengangkat wajahnya. Ia telah merasakan seseorang mendekat dan sudah menebak siapa itu, jadi ia tidak terkejut. Berdiri di hadapan Aura adalah seorang pemuda ramping berambut putih.
"Blanc..." Aura menyebut nama adiknya.
"Kau tidak pulang untuk waktu yang lama, jadi aku khawatir. Apakah kau terluka?" Blanc—adik laki-laki Aura yang terpaut usia tujuh tahun—berjongkok dan bertanya. Senyum lembut tersungging di wajahnya yang tampan.
"Aku baik-baik saja..." "Baguslah. Tapi, duduk di sini memeluk lututmu berarti ada sesuatu yang mengganggumu. Apakah ini tentang duel itu...?"
Aura menggelengkan kepalanya. "Aku tidak kalah. Hasilnya seri seperti biasa. Tapi dia melihat wajah asliku. Dia tahu kalau aku ini perempuan."
"Yah... Kupikir dia sebenarnya sudah tahu kalau kau itu perempuan." "B-benarkah? Lalu apakah dia akan tetap bertarung serius melawanku mulai sekarang...?" "Apakah itu yang kau khawatirkan? Jika dia malah menahan diri, itu justru hal yang bagus, bukan."
Aura menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Jika dia berhenti bertarung serius denganku, aku tidak akan bisa hidup..."
Blanc sedikit mengangkat bahunya yang ramping. "Kau terdengar seperti seorang gadis yang sedang dimabuk cinta, Kak." "Cinta...?" Pikiran itu tidak pernah sekalipun terlintas di benaknya. Mungkinkah perasaan yang ia miliki untuk Shiranui ini benar-benar cinta? Aura tidak begitu paham apa itu cinta. Ia hanya mengetahuinya sebagai sebuah konsep tetapi tidak benar-benar memahaminya secara mendalam.
"Aku menghormatinya sebagai saingan yang sepadan. Tapi hanya sebatas itu. Hanya itu saja. Lagipula, seseorang yang suram dan hanya pandai menggunakan sihir sepertiku tidak mungkin bisa jatuh cinta." "Aku tidak berpikir begitu. Tapi, Kak, meskipun kau benar-benar jatuh cinta, kau harus memilih orang yang tepat. Pemimpin Suzaku sama sekali tidak bisa diterima."
Ucap Blanc sambil memainkan anting panjang yang hanya ia kenakan di telinga kirinya. "Pemimpin Suzaku adalah musuh yang harus dikalahkan. Seorang pria yang harus dibunuh. Jangan pernah lupakan itu."
Dengan suara yang lembut namun dingin, Blanc membalikkan punggungnya. "...Aku tahu." "Aku akan melapor pada para tetua untukmu."
Blanc pergi, dan Aura membenamkan wajahnya ke topeng yang ia pegang. "...Aku tahu hal itu."
Meskipun begitu. (...Aku ingin melihatnya.)
Sekali duel berakhir, mereka tidak akan bertemu lagi selama sebulan ke depan. Aura selalu menantikan hari itu dengan penuh harap. Bahkan jika pria itu telah melihat wajah aslinya, bahkan jika pria itu tahu bahwa ia adalah seorang wanita, ia berharap dan percaya bahwa tidak ada yang akan berubah.
Waktu berlalu dan malam di mana bulan purnama bersinar kembali tiba. Cahaya bulan memandikan arena duel yang sunyi itu.
Awan yang berarak tipis. Bulan tidak akan tertutup awan hingga fajar menyingsing. Shiranui dan Aura berdiri saling berhadapan dalam jarak di mana mereka bisa melihat wajah satu sama lain dengan jelas. Wajah mereka terlihat. Aura hadir tanpa topengnya, menyingkap wajahnya yang cantik.
(Sesuai dugaanku, dia sangat cantik.) Layaknya dewi bulan, pikir Shiranui. (Tapi...) Ia tidak boleh membiarkan dirinya terpesona. Duel malam ini akan menjadi pertempuran yang paling sengit.
Shiranui perlahan menarik napas dalam-dalam. Kemudian, ia membuka mulutnya untuk mengumumkan namanya. "Namaku—" "Aku Aura!" Aura meneriakkan namanya, nyaris menutupi suara Shiranui. "Oh, m-maaf! Aku menyela ucapanmu, Shiranui!" "T-tidak apa-apa. Silakan, lanjutkan."
Itu adalah pertama kalinya Aura mengumumkan namanya dengan suara lantang. Tampil tanpa mengenakan topengnya menunjukkan semacam perubahan dalam pola pikir atau tekad yang spesial.
"Apakah kau yakin? Kalau begitu, sekali lagi... Aku Aura! Pemimpin Byakko ketujuh belas dan penyihir bermata biru es! Kepada pemimpin klan Suzaku, aku tidak meminta belas kasihan! Aku menginginkan pertarungan dengan kekuatan penuh!" Shiranui mengangguk dan menjawab dengan suara lantang. "Namaku Shiranui! Pemimpin Suzaku ketiga belas dan penyihir bermata merah! Aku bersumpah akan menantang pemimpin Byakko dengan segala kemampuanku!"
Aura tampak tersenyum. (Tidak mungkin aku menahan diri. Sejauh yang aku tahu, kau adalah penyihir terkuat. Rival terbaik dan terhebat!)
Shiranui melepaskan kekuatan sihirnya. Roh-roh api yang bersemayam di udara merespons sihir Shiranui, memancarkan hawa panas dan membuat pemandangan di sekitar tampak bergelombang. Aura juga meningkatkan kekuatan sihirnya. Roh-roh es yang merespons mendinginkan udara, dan kristal-kristal es kecil berkilauan di bawah cahaya bulan.
"Tornado Membara!" "Bunga Bulan Salju!"
Shiranui, pemimpin Suzaku. Aura, pemimpin Byakko. Tirai telah dibuka untuk duel ke-101.
Ledakan dan embun beku. Badai salju dan angin puyuh. Sihir mereka terus-menerus saling berbenturan, menghanguskan dan membekukan arena duel yang terpencil itu.
(Kuat...!) Shiranui telah menghabiskan setiap detik dalam sebulan terakhir untuk mempersiapkan hari ini. Ia merasa telah melampaui batasan sebelumnya. Namun, Aura juga telah tumbuh menjadi sama kuatnya.
"Tombak Api!" "Tombak Air!" Sangat seimbang.
"Api Biru Matahari!" "Kegelapan Putih Murni!" Kekuatan dan kecepatan sihir mereka benar-benar setara. Namun.
"Domain Kristal!" (Crystal Domain!) Dari tanah yang hangus dan membeku, puluhan pilar es menyembul keluar. Shiranui menggertakkan giginya. Pilar es yang diciptakan oleh Domain Kristal memancarkan hawa dingin yang intens, mengaktifkan roh-roh es secara maksimal. Seiring dengan meningkatnya kekuatan roh es di arena, kekuatan roh api di sekitarnya menjadi melemah.
"Gelombang Membara!" (Scorching Wave!) Shiranui memanggil gelombang api untuk menghancurkan pilar-pilar es tersebut. Api menyapu pilar-pilar es itu, melelehkan dan menghancurkannya.
(Apa...?) Mata Shiranui membelalak. Beberapa pilar es mampu menahan hantaman gelombang apinya. Ia tidak bisa menetralisirnya sepenuhnya. Ini berarti bahwa kekuatan sihir Aura telah mulai melampaui kekuatan Shiranui.
(Keseimbangannya mulai goyah...!) Jika mereka terus berbalas sihir seperti ini, tidak butuh waktu lama bagi Shiranui untuk benar-benar kewalahan.
(Aku harus mengakhiri ini dalam satu serangan...!) Untuk melepaskan salah satu teknik baru yang telah ia ciptakan khusus untuk hari ini, Shiranui memantapkan pijakan kakinya di tanah dan merendahkan kuda-kudanya. Menarik napas dalam-dalam, ia memusatkan sihirnya.
"Berkumpullah, semua warna merah di dunia ini." Memenuhi paru-parunya dengan hawa panas, Shiranui mengubah tarikan napasnya menjadi hembusan dan mulai melantunkan mantranya. Biasanya, seorang penyihir merapal mantra saat merapal sihir. Mantra itu membantu menghubungkan pikiran dan sihir, serta memfasilitasi sinkronisasi antara sihir dan roh. Namun, merapal dengan kata-kata tidaklah wajib. Penyihir berpengalaman seperti Shiranui dan Aura, bisa merapal sihir tanpa harus melafalkan kata-kata.
Tetapi sihir yang akan digunakan Shiranui membutuhkan konsentrasi mental yang sangat tinggi dan sinkronisasi yang lebih dalam dengan roh. Bahkan Shiranui, dengan mata merahnya, tidak akan bisa menggunakannya tanpa merapalnya dengan lantang. Sihir itu juga membuatnya tidak bisa bergerak selama proses tersebut.
Shiranui membuka mata merahnya lebar-lebar, menatap dinding uap yang mengepul di hadapannya. Merapal mantra sambil berdiri diam membuatnya menjadi target yang sangat empuk. Jika ia diserang sekarang, ia tidak akan memiliki kesempatan. Aura pasti sudah menyadari titik lemah Shiranui ini.
Aura muncul menembus dinding uap tersebut. Menerima tatapan Shiranui, Aura berkata, "Ratu malam yang tak kenal ampun berbicara kepada bintang-bintang di surga. Bumi akan berhenti berputar, dan waktu akan membeku." Ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan mulai melantunkan mantranya sendiri. Sebagai respons atas sihir tingkat tinggi milik Shiranui, ia juga akan menggunakan sihir tingkat tinggi.
Shiranui tersenyum dalam hati. (Kau memang selalu seperti ini.) Kekuatan dibalas dengan kekuatan. Teknik dibalas dengan teknik. Sihir tingkat tinggi dibalas dengan sihir tingkat tinggi. Ia selalu menghadapinya secara langsung tanpa menghindar. Itulah mengapa bertarung melawan Aura membuat jantungnya berdebar kencang dan darahnya mendidih.
"Merah (Crimson) adalah awal. Merah adalah akhir. Seiring dengan hatiku yang membara, hanguskanlah surga dan bumi." Shiranui menurunkan kedua tangannya yang terkatup dari atas kepala ke depan dadanya. Titik cahaya merah terbentuk di depan kepalan tangannya, menyerap semua panas di sekitarnya lalu membengkak besar.
"Semua harapan akan hancur. Bintang-bintang akan jatuh ke dalam kegelapan. Kehidupan akan tenggelam dalam tidur yang abadi." Aura dengan lembut memisahkan tangannya yang terkatup. Titik cahaya putih terbentuk di antara kedua telapak tangannya, memancarkan hawa dingin ekstrem yang mencapai suhu Nol Mutlak (Absolute zero).
"Pembakaran Langit Crimson!" (Crimson Heaven Scorch!) "Nol Mutlak!" (Absolute Zero!)
Api dan es. Dua sihir agung yang saling berlawanan telah dilepaskan.
Titik cahaya merah, yang kini menjadi bola api raksasa, menyerap panasnya sendiri saat terus mengembang, melesat maju ke arah Aura. Sementara itu, titik putih yang diciptakan Aura semakin mengintensifkan hawa dinginnya saat bergerak maju menuju Shiranui. Neraka yang berkobar dan hawa dingin mutlak yang mampu membekukan semua kehidupan saling berbenturan.
Benturan kekuatan yang dahsyat itu membuat tanah berguncang hebat dan atmosfer menjerit. Seandainya dua sihir agung ini tidak memiliki atribut yang berlawanan, seluruh pegunungan di sana pasti sudah berubah menjadi debu. Atribut yang saling berlawanan tersebut saling menetralkan satu sama lain. "Pembakaran Langit Crimson" milik Shiranui dan "Nol Mutlak" milik Aura memiliki kekuatan yang benar-benar seimbang.
Meskipun saling bertolak belakang, keseimbangan tabrakan itu mencungkil tanah dengan dalam tetapi tidak menyebabkan kehancuran yang meluas, dan malah berubah menjadi hamparan uap luas yang menyelimuti seluruh area dengan warna putih pekat.
(Bahkan "Pembakaran Langit Crimson" pun tidak cukup...) Shiranui jatuh dengan satu lutut bertumpu di tanah. Napasnya tersengal-sengal, dan pandangannya kabur. Upaya keras untuk menggunakan sihir agung itu telah melepaskan semua kelelahan yang selama ini ia tekan. "Guh..." Sambil menggertakkan giginya, ia berdiri.
Angin dingin berhembus. Uap itu terbelah, memperlihatkan Aura yang sedang melompat di udara.
"Tarian Bilah Es." Bilah-bilah es dalam jumlah tak terhitung melesat dalam lintasan yang kompleks, layaknya sebuah tarian.
"Formasi Api!" Shiranui melepaskan banyak garis api, menenunnya menjadi sebuah jaring untuk mencegat bilah-bilah es tersebut. Bilah-bilah es itu, alih-alih menguap saat bersentuhan dengan jaring api, justru memotong jaring itu dan mendekat dengan cepat ke arah Shiranui.
Dengan mata terbelalak, Shiranui tertusuk oleh bilah-bilah es tersebut. Di lengan, kaki, perut, dada, dan bahkan di tenggorokannya. "Guh..." Shiranui jatuh ke satu lututnya lagi, membatukkan darah sebelum akhirnya roboh dan bertumpu pada kedua lututnya.
Aura perlahan berjalan menuju sosok Shiranui yang tertunduk tanpa nyawa.
(A-apa? Tidak mungkin? Ini tidak mungkin benar, kan?) Berdiri di hadapan Shiranui, Aura merasa panik. Ia tidak pernah menyangka bahwa "Tarian Bilah Es"-nya akan mendarat dengan telak. Tentu saja, ia merapalnya dengan niat membunuh, tanpa menahan diri. Namun, ia sangat yakin Shiranui akan mampu menetralisirnya.
(Aku tidak menyadari kalau dia sudah sangat kelelahan...) Aura sebenarnya juga sama lelahnya. Jumlah sihir yang mereka tukarkan sejak awal pertarungan sudah menembus lebih dari seratus mantra dengan mudah. Dan itu sudah termasuk penggunaan sihir agung mereka. Nyatanya, Aura juga bernapas dengan sangat berat. Tetapi ia yakin bahwa pertarungan ini masih jauh dari kata usai. Ia berpikir pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Namun, di sinilah Shiranui, tak mampu sepenuhnya membalas mantranya, berlutut dengan kepala tertunduk.
"U-um, apakah dia mati...?" Itu pertanyaan yang bodoh. Sudah sangat jelas bahwa itu bukanlah luka yang bisa membuat seseorang bertahan hidup.
"Tidak mungkin..." Aura tersungkur ke tanah, menutupi wajah dengan kedua tangannya. "Shiranui telah tiada... Aku membunuhnya... Aku..."
Aura menangis. Air matanya mengalir tak terkendali. Semenjak menjadi seorang pemimpin, ia telah meneguhkan hatinya untuk menghadapi kemungkinan terbunuh dan membunuh orang lain. Namun, tidak ada setitik pun kebahagiaan dalam kemenangannya ini, yang ada hanyalah kesedihan yang luar biasa mendalam atas fakta bahwa pria itu telah mati.
"Shiranui-san! Shiranui-san! Shiranui-san...!"
Saat Aura terisak dan memeluk apa yang ia yakini sebagai tubuh Shiranui yang sudah tak bernyawa, tubuh itu tiba-tiba meledak dalam kobaran api. "A-apa...?" Bilah-bilah es yang tertancap di tubuh pria itu mencair dalam sekejap. Api menyelimuti seluruh tubuhnya, tumbuh menjadi semakin dahsyat. Dan kemudian, di atas api yang berputar-putar itu, muncullah sosok tersebut.
Seekor burung yang terbuat dari api, sang Suzaku. Roh api tingkat tinggi yang namanya diambil oleh klan Suzaku. Sebuah reinkarnasi murni dari nyala api. Membentangkan sayapnya yang lebar, Suzaku melepaskan pekikan tinggi dan terbang ke udara. Menghujankan percikan bunga api layaknya hujan saat ia membumbung ke langit, Suzaku ditatap oleh Aura yang memasang ekspresi kebingungan.
"Kebangkitan Phoenix."
Aura terkesiap mendengar suara yang tak terduga itu dan langsung melihat lurus ke depan. Tatapan mereka bertemu. Mata merah Shiranui sedang menatap ke arah Aura.
"Apa...?" Shiranui bergerak. Bangkit dan melesat maju dari tanah, ia memangkas jarak di antara mereka. Aura, yang terlalu terkejut untuk bereaksi, langsung dijepit ke tanah.
"Shiranui-san...?" Dengan kedua tangannya dipegangi dan kedua kakinya ditahan dengan terampil, Aura dilumpuhkan, ia hanya bisa menatap wajah Shiranui, hingga lupa berkedip.
"Dalam posisi ini, kau tidak bisa melawan lagi. Aku menang." Shiranui mendeklarasikan kemenangannya. Aura, dengan mulut sedikit terbuka, menatap ke arah leher Shiranui. Ada bekas noda darah, tetapi tidak ada luka sama sekali.
"Aku sebelumnya telah merapal mantra kebangkitan pada diriku sendiri sejak awal." Menyadari tatapan Aura, Shiranui memberikan penjelasan, tetapi penjelasan itu tidak diproses oleh pikiran Aura.
Bagi Aura, satu-satunya fakta yang penting adalah Shiranui telah hidup kembali, bahwa pria itu masih hidup. Bahkan hasil akhir dari duel itu pun sudah menguap dari pikirannya.
"Aku ingin kau mengakui kekalahanmu." "Syukurlah..." Air mata kembali menggenang di mata Aura. Kali ini, itu adalah air mata kebahagiaan, bukan air mata kesedihan. "Syukurlah kau masih hidup…" Aura menangis. "Aku sangat bersyukur kau masih hidup..."
Lebih jauh lagi, Shiranui dibuat kebingungan oleh situasi di mana Aura tampaknya justru bahagia bahwa ia masih hidup, dan juga oleh fakta bahwa ia sama sekali tidak memberikan perlawanan. (Apakah benar-benar tidak apa-apa menganggap ini sebagai kemenanganku?) Shiranui bisa selamat dari serangan mematikan Aura sebelumnya hanya karena ia tidak jadi mati. Dalam artian itu, tidak bisa dibilang Aura yang menang, tetapi tidak ada sanggahan atau argumen apa pun dari Aura mengenai hal itu.
Untuk duel hari ini, Shiranui telah mengembangkan dua sihir baru: Api Suzaku dan Kebangkitan Phoenix. Sihir kebangkitan adalah puncak tertingginya ilmu sihir, berada dalam ranah sihir mustahil yang telah menjadi incaran para penyihir sepanjang sejarah tetapi tidak pernah ada yang berhasil mencapainya. Dalam meraih sihir mustahil ini, Shiranui telah berhasil, meskipun dengan kapasitas yang terbatas.
Suzaku, sebagai roh api tingkat tinggi, diasosiasikan dengan dua konsep: pembakaran dan regenerasi. Shiranui telah memaksimalkan konsep regenerasi, sebuah pencapaian yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang dengan Mata Merah. Terlebih lagi, Shiranui telah mengurangi tingkat kesulitan mantranya dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai target kebangkitan, bukan orang lain. Alasannya adalah nyawa sendiri lebih mudah diintervensi daripada nyawa orang lain. Meski begitu, itu tetap belum cukup untuk mewujudkan sihir mustahil tersebut. Oleh karena itu, Shiranui menerapkan batasan yang sangat ketat, yang mana hanya mengizinkan penggunaan sihir kebangkitan satu kali saja seumur hidup, sehingga dengan demikian barulah mukjizat kebangkitan bisa tercapai.
...Itulah cerita yang ingin Shiranui sampaikan agar didengar oleh Aura. Sebagai seorang penyihir yang kemampuannya setara dengan Shiranui, ia seharusnya tertarik pada bagaimana Shiranui berhasil mewujudkan sihir kebangkitan dan akan langsung memahaminya jika dijelaskan. Namun, Aura sepertinya sama sekali tidak tertarik dengan teori Kebangkitan Phoenix, apalagi hasil akhir dari duel mereka, karena ia hanya terus menangis.
Tampaknya semua penjelasannya terasa hambar. Ini benar-benar di luar dugaan.
"Ah, um..." Shiranui bertanya dengan ragu. "Kenapa kau menangis padahal aku masih hidup?"
Aura menjawab sambil terisak. "Itu karena... kau adalah segalanya bagiku..." "A... Aku...?" "Aku tidak bisa membayangkan dunia tanpamu!" "........."
Dada Shiranui terasa sesak mendengar kata-kata dan wajah Aura yang berlinang air mata. Rasanya sakit. Dadanya terasa sakit. Sesuatu yang panas membuncah dari lubuk dadanya yang terdalam. Perasaan apa ini? Perasaan yang luar biasa kuat, menggebu, dan panas untuk wanita di hadapannya ini.
"A-Aura-dono..!" Tunggu! Akal sehatnya menjerit. (Apa yang akan kuucapkan...?)
Namun suara akal sehatnya langsung tenggelam, memudar jauh ke belakang kepalanya. Dan Shiranui, menatap lurus ke dalam sepasang mata biru es Aura yang basah oleh air mata, menyatakannya.
"Tolong, jadilah istriku...!"
Ia sama sekali tidak pernah berencana untuk melamarnya tepat di sini, saat ini juga. Setelah memenangkan duel antara Suzaku dan Byakko, ia seharusnya mengumpulkan para tetua dari klan Suzaku dan klan Byakko, menyampaikan ramalan yang dianugerahkan oleh Gadis Peramal Menara Dunia, dan mendapatkan persetujuan mereka... begitulah prosedur yang seharusnya berjalan. Namun, Shiranui sudah tidak bisa menahan dirinya lagi.
Untuk pertama kalinya selama dua puluh dua tahun kehidupannya, emosi telah mengalahkan akal sehatnya.
"Tolong, menikahlah denganku...!"
Aura bergerak. Tangan Shiranui yang menahan pergelangan tangannya ditepis dengan mudah. (Sial...!) Shiranui panik. Ia telah menurunkan kewaspadaannya. Tangan putih Aura mendekati wajah Shiranui. (Tamatlah riwayatku...!) Shiranui menguatkan dirinya. Namun, tangan Aura melewati pipi Shiranui dan melingkar ke bagian belakang kepalanya. Lalu, Shiranui ditarik mendekat dan dipeluk erat.
(....!?)
Aura, yang mendekap kepala Shiranui ke dadanya yang penuh, berbicara. "Aku akan... menikah denganmu... jadikan aku istrimu...!"
Shiranui benar-benar kebingungan dengan respons Aura. Meskipun ia yang melamar, fakta bahwa lamarannya diterima—dan dengan penuh suka cita pula—adalah sesuatu yang tidak bisa diproses oleh otaknya. Dengan wajah yang terbenam di dada Aura, Shiranui hanya merasa pusing.
Bulan terbenam, dan fajar menyingsing. Matahari pagi mewarnai arena duel yang tandus itu dengan cahaya putih.
"Aku akan melahirkan mereka! Entah itu satu anak atau sepuluh anak, asalkan itu anak Shiranui-san..." "I-iya."
Entah bagaimana, Aura langsung menerima lamaran Shiranui, dan ia pun menceritakan ramalan dari Gadis Peramal Menara Dunia. Bencana besar yang akan terjadi dalam sepuluh tahun, dan bagaimana anak yang lahir dari Shiranui dan Aura kelak akan menjadi kunci untuk melawannya sebagai Sage dari Tujuh Cahaya. Aura sama sekali tidak meragukan kata-kata Shiranui, setidaknya tidak dari luarnya.
"Eh, aku tahu ini terdengar sangat tidak masuk akal, tapi apa kau benar-benar percaya padaku...?" "Tentu saja! Jika itu keluar dari mulut Shiranui-san, aku percaya!" "Mengapa kau sebegitu percayanya padaku? Bagimu, aku ini adalah musuh bebuyutanmu sejak lama." "Karena kita sudah bertarung untuk waktu yang sangat lama."
Menjawab pertanyaan Shiranui, Aura tersenyum lembut. "Setiap kali kita berduel, aku bisa merasakan sihirmu dengan kuat. Sifatmu yang murni dan jujur tersampaikan melalui sihirmu jauh lebih fasih daripada kata-kata." "...Benar juga."
Konon, para ahli pedang yang tangguh bisa saling memahami hanya dengan menyilangkan pedang. Begitu pula halnya dengan penyihir yang terampil, mereka dapat mengenal satu sama lain dengan membenturkan sihir mereka. Ini bukan sekadar mengetahui, melainkan lebih ke arah merasakannya secara samar-samar. Sihir yang Shiranui rasakan dari Aura terasa murni dan tenang, namun di saat yang sama bisa seganas badai.
"Aku sangat berterima kasih atas kepercayaanmu." "Tidak perlu berterima kasih. Sudah sewajarnya bagi seorang istri untuk mempercayai suaminya!" "K-kita belum resmi menikah. Masih ada rintangan yang harus kita atasi sebelum pernikahan kita." "...! B-benar juga. Pertama-tama, kita harus melapor kepada para tetua."
Shiranui mengangguk. "Aura-dono. Tolong sampaikan ramalan Gadis Peramal itu kepada para tetua kalian, lalu mari kita atur pertemuan antara para pemimpin desa kita." "B-baik. Ah." "Ada apa?" "Kita akan kembali ke desa kita masing-masing sekarang, kan?" "I-iya, benar."
Aura mengulurkan tangannya dengan raut sedih untuk menyentuh wajah Shiranui. Ujung jarinya yang gemetar membelai pipi Shiranui dengan lembut. "Kita akan berpisah, ya?" "......!"
Shiranui mengerang. (Aku ingin memeluknya!) Ia entah bagaimana berhasil menekan hasrat itu. Seperti yang baru saja ia katakan sendiri, Aura belum resmi menjadi istrinya. Ia tidak bisa menyentuhnya begitu saja.
"Tapi, tapi, setelah kita menikah, kita akan selalu bersama, kan?" "Selalu... ya. Memang begitulah artinya menikah." "Kalau begitu, untuk saat ini, aku akan menelan air mataku dan kembali ke desaku."
Aura dengan enggan melangkah mundur menjauhi Shiranui, menyatukan kedua tangannya di depan dada, dan memejamkan matanya. Merasakan kekuatan sihir Aura yang dengan cepat terkumpul dan menajam, Shiranui sedikit tersentak.
"Pemanggilan Byakko." (Byakko Summon)
Saat bibir Aura yang sewarna ceri mengucapkan kata-kata itu dengan lembut, pusaran angin muncul di belakangnya. Angin tersebut, diiringi es dan salju, dengan cepat menurunkan suhu di sekitarnya. Tak lama kemudian, saat angin itu mereda, seekor harimau muncul. Seekor harimau yang kekar dengan bulu putih bersih.
"Byakko..." Shiranui terkesiap saat membisikkan nama harimau itu. Roh es Byakko, kebalikan dari Suzaku, roh api. Ini bukanlah pertama kalinya Shiranui melihat Byakko. Dalam pertarungan-pertarungan sebelumnya, Aura telah memanggil Byakko berulang kali. Dan setiap kali itu terjadi, Shiranui selalu memanggil Suzaku untuk melawannya.
Aura mengelus kepala Byakko. Byakko merendahkan tubuhnya, menyipitkan matanya seperti anak kucing yang sedang ingin bermain. Aura menapakkan kakinya di sisi Byakko dan naik ke punggungnya. "Aku akan membawa tetua dan wakil pemimpin ke desa Suzaku. Tunggu aku selama tiga hari... tidak, lima hari!"
Setelah berbicara dan menepuk punggung Byakko pelan, Byakko berbalik dan mulai berlari. Kecepatan Byakko jauh melampaui kuda tercepat mana pun. Bagaikan hembusan angin, sosok putihnya menghilang di balik cakrawala.
Shiranui benar-benar takjub. Aura rupanya masih memiliki cukup tenaga tersisa untuk memanggil Byakko. Dalam kondisinya saat ini, Shiranui sama sekali tidak sanggup memanggil Suzaku. Meskipun ia berhasil melumpuhkan Aura dan mendeklarasikan kemenangan, kenyataannya, seandainya Aura memberikan perlawanan sedikit saja, Shiranui-lah yang akan kalah.
(Aku tidak percaya aku menang...) Bahkan jika dia disuruh untuk bertarung melawan Aura dan menang lagi, ia merasa tidak akan mampu. Itu adalah kemenangan yang sangat tipis.
(Tapi kenapa Aura menerima lamaranku?) Aura telah menerima lamarannya bahkan sebelum ia menyampaikan ramalan Gadis Peramal itu.
(Sepertinya dia memang menyimpan perasaan padaku...) Mungkinkah seseorang menumbuhkan perasaan pada musuh bebuyutan yang telah ia lawan selama sepuluh tahun? Shiranui bertanya pada dirinya sendiri bagaimana perasaannya.
(Aku tidak pernah menganggapnya sebagai sosok yang menyebalkan.) Ia hanya tidak ingin kalah. Ia ingin menang. Sepuluh tahun berlatih keras dengan tekad bulat itu memang berat, tetapi juga memuaskan. Jangankan membencinya, Shiranui justru merasakan rasa hormat dan terima kasih terhadap Aura.
"...Aku akan melihatnya lagi dalam tiga hari." Meskipun mereka baru saja berpisah, ia sudah sangat menantikan pertemuan mereka berikutnya.
(Aku tidak boleh menyia-nyiakan tiga hari ini. Aku harus belajar dan bersiap-siap. Pengetahuan tentang cara membuat anak...) Menghadap matahari pagi yang perlahan naik, Shiranui mengepalkan tinjunya dan bersumpah. "Aku pasti akan menjadi ayah yang hebat bagi anak kita yang luar biasa!"
Dua hari setelah malam duel. Saat malam semakin larut di desa Suzaku, angin dingin berhembus. "Shiranui-san! Aku datang!"
Bukan suatu kebetulan Shiranui berada di gerbang desa pada saat itu. Ia telah merasakan pendekatan kekuatan sihir yang luar biasa kuat dan bergegas ke sana. Seekor harimau raksasa, diselimuti angin dingin yang membuat kristal es menari-nari, menatap Shiranui dari atas. Di punggungnya ada tiga sosok. Salah satunya—seorang wanita cantik berambut hitam—melompat turun dengan anggun dan tersenyum pada Shiranui.
"A-Aura-dono..." "Maafkan aku. Aku berjanji tiga hari... tapi aku sangat ingin bertemu denganmu lebih cepat, jadi aku datang dalam dua hari." Sambil berbicara, Aura mengelus leher harimau raksasa itu—Byakko.
Untuk melakukan perjalanan dari desa Byakko ke desa Suzaku, seseorang harus melewati dua gunung. Jalurnya sangat berbahaya, bahkan tidak bisa dilewati oleh kuda. Namun, Byakko bisa melintasi medan tak berjalur sekalipun. Kendati demikian, memanggil Byakko, roh es tingkat atas, dan mempertahankan wujud fisiknya adalah di luar kemampuan penyihir biasa, bahkan penyihir terampil sekalipun. Hanya Aura, dengan mata biru esnya, yang sanggup melakukannya.
"Kakak benar-benar memaksakan diri." Salah satu sosok di punggung Byakko mendarat di sebelah Aura. "Aku hampir terlempar berkali-kali." Seorang pemuda berambut putih dan berjubah putih. Meskipun wajahnya tampan dan halus, cara mendaratnya memperjelas bahwa tubuhnya sangat terlatih di balik jubah itu.
"Apakah itu adikmu?" Menjawab pertanyaan Shiranui, Aura menepuk kedua tangannya. "Iya! Biar aku perkenalkan. Ini adikku—" "Saya Blanc. Saya mendukung kakak saya sebagai wakil pemimpin." Sebelum Aura sempat menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu memperkenalkan dirinya dan membungkuk dengan sopan.
"Aku Shiranui, pemimpin Suzaku. Blanc-dono, senang bertemu denganmu." Ketika Shiranui mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, Blanc membalasnya dengan senyum lembut. "Senang bertemu dengan Anda, Shiranui-sama." Tangan Blanc tampak pucat dan jari-jarinya ramping, tetapi Shiranui bisa merasakan cengkeramannya yang kuat. Tiba-tiba, cengkeraman Blanc mengencang.
"....Um." Shiranui menggertakkan gigi belakangnya menahan rasa sakit. Ia bisa merasakan tulang-tulangnya berderak. "Blanc-dono...?" "Oh, mohon maaf. Saya sangat diliputi kegembiraan dan kegugupan saat bertemu dengan Shiranui-sama sehingga saya tidak sengaja memberikan terlalu banyak tenaga." Blanc tertawa polos dan melepaskan cengkeramannya.
(...Sepertinya dia bukan sekadar pemuda biasa seperti kelihatannya.) Dia adalah wakil pemimpin Byakko dan adik laki-laki Aura. Mengingat ia kemungkinan besar berlatih bersama Aura, ia tidak mungkin penyihir sembarangan. Wajar saja jika, sebagai wakil pemimpin Byakko, ia tidak menyimpan perasaan baik terhadap pemimpin Suzaku.
"Bibi, silakan turun juga." Atas panggilan Aura, orang terakhir yang menunggangi Byakko bergerak. Wanita itu berdiri dan, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, turun dengan anggun di antara Aura dan Shiranui. Dari gerakannya, sudah jelas ia bahkan lebih terampil daripada Blanc.
Ia adalah seorang wanita. Kecantikannya menyaingi Aura, tetapi tidak ada secercah pun emosi di mata atau mulutnya, memberikan kesan yang agak artifisial padanya. Rambut panjangnya seputih salju yang baru turun. Seperti yang Blanc sebutkan, Byakko pasti bergerak cukup agresif saat melintasi jalur pegunungan, namun pakaian warna nilanya sama sekali tidak terlihat kusut.
Meskipun ia tampak belum mencapai usia tiga puluh tahun, Shiranui tahu ia sebenarnya sekitar sepuluh tahun lebih tua. Ia juga mengetahui namanya. "Aku senang melihatmu dalam keadaan sehat, Floro-dono." Shiranui pernah bertemu Floro, pemimpin Byakko sebelumnya dan tetua saat ini, sekali sebelumnya.
"Sudah sepuluh tahun, bukan, anak muda? Atau lebih tepatnya, kau sekarang adalah pemimpin Suzaku yang hebat. Kau telah menjadi jauh lebih kuat." Floro menanggapi sapaan Shiranui. Suaranya, seperti ekspresinya, tidak menunjukkan emosi apa pun.
(Dia tidak menua sama sekali, orang ini.) Floro yang dilihatnya setelah sepuluh tahun terlihat persis seperti yang ada dalam ingatannya.
"Kita akan berbicara di kediaman tetua. Izinkan aku memandu kalian." Saat ia memandu ketiganya, Shiranui menyadari kembali betapa gentingnya situasi ini. Pemimpin, wakil pemimpin, dan tetua desa Byakko sedang berjalan melintasi desa Suzaku. Untungnya, kedatangan mereka terjadi pada malam hari ketika tidak ada penduduk yang melihat. Jika Byakko dilihat oleh banyak penduduk desa pada siang hari, itu pasti akan menyebabkan keributan besar.
"Silakan, lewat sini." Di ruang tamu kediaman itu, Kagari, Hibari, dan seorang wanita lain—wajahnya tersembunyi oleh kerudung, dengan rambut merah muda terang—sudah hadir. Wanita ini adalah Lillie, utusan dari Menara Dunia. Lillie telah tiba lagi di desa Suzaku pada siang harinya.
"Gadis Peramal memiliki pesan untuk Shiranui-sama dan pemimpin Byakko." Shiranui tidak memiliki cara untuk menghubungi Menara Dunia, jadi ia belum bisa melaporkan kemenangannya dalam duel dengan Aura atau diterimanya lamaran pernikahannya. Namun, sepertinya Gadis Peramal Menara Dunia sudah mengetahui segalanya. Dengan demikian, dengan dimediasi oleh utusan dari Menara Dunia, tokoh-tokoh kunci dari desa Suzaku dan Byakko akhirnya berkumpul bersama.
"Izinkan aku memperkenalkan orang-orang dari Byakko. Dan ini adalah Lillie-dono, utusan Gadis Peramal dari Menara Dunia." "Saya di sini untuk menyampaikan kata-kata Gadis Peramal. Senang bertemu dengan Anda semua." Lillie, yang sedang duduk tegak, tersenyum tipis usai diperkenalkan.
Ketiganya dari Byakko saling bertukar pandang, lalu memperkenalkan diri secara berurutan: Aura, Blanc, dan Floro. "Um, nah... Saya Aura. Sang pemimpin. Senang bertemu dengan Anda." "Saya Blanc, wakil pemimpin. Merupakan suatu kehormatan bisa bertemu dengan utusan dari Menara Dunia." "Saya Floro, sang tetua. Mengingat ada perwakilan dari Menara Dunia yang hadir, sepertinya kisah bencana besar yang Aura sebutkan bukan sekadar karangan klan Suzaku semata."
Kagari, yang sedang bersandar malas dengan kiseru (pipa rokok Jepang) di salah satu tangannya, tertawa. "Apakah kau meragukannya, Fu-chan?" Fu-chan? Shiranui menatap ketiga orang dari Byakko itu. Hanya ada satu orang yang bisa dipanggil dengan nama panggilan tersebut.
"Aku tidak bisa mengambil risiko untuk tidak meragukannya. Tapi untuk sebuah kebohongan, itu terlalu meyakinkan. Kupikir setidaknya kau akan datang dengan kebohongan yang lebih baik, Kagari." Orang itu—Floro—membiarkan senyum tipis melintasi wajahnya, yang sebelumnya seperti topeng noh yang datar.
"Fu-chan... Kagari... Kalian berdua saling memanggil dengan nama panggilan seperti itu?" Kagari dan Floro, seperti halnya Shiranui dan Aura, dulunya adalah musuh bebuyutan, yang terus-menerus berduel selama sepuluh tahun terakhir sebagai pemimpin desa mereka masing-masing. Shiranui merasa ada yang ganjil mendengar mereka saling memanggil dengan nama panggilan akrab.
"Terkejut? Bukan hal yang aneh jika persahabatan berkembang di antara musuh bebuyutan." Perkataan Kagari membuat Shiranui mengangguk mengerti. "Tidak, aku sangat memahaminya. Sangat paham."
"Um! Aku Hibari! Aku wakil pemimpin! Oh, dan pemimpin ini adalah kakakku!" Hibari berdiri dan membungkuk. "A-Adik perempuan!? Aku... Aura. Senang bertemu denganmu!" Aura sampai tersandung saat menyebutkan namanya sembari membalas membungkuk.
Saat Hibari mengangkat wajahnya, ia tersenyum dengan tangan di dadanya. "Syukurlah. Aura-san ternyata orang yang baik." "T-tidak, aku cuma orang membosankan yang keahliannya hanya sihir..." Aura menggelengkan kepala dan mengibaskan kedua tangannya dengan panik, lalu menundukkan bahunya.
"Percaya dirilah. Aura-san, kau itu wanita yang luar biasa. Bagaimanapun juga, kau berhasil membuat kakakku yang sangat tidak peka ini jatuh cinta pada pandangan pertama." "J-jatuh cinta pada pandangan pertama...?" "Hibari! Jangan mengatakan hal-hal yang tidak perlu!" "Aku selalu khawatir. Aku bertanya-tanya apakah kakakku yang tidak peka dan keras kepala ini akan pernah menemukan istri yang baik." "Penghinaanmu semakin bertambah!"
Mengabaikan protes Shiranui, Hibari melanjutkan. "Jika Aura-san menjadi istri kakakku, aku akan merasa lega. Tolong jaga dia baik-baik." Hibari meraih tangan Aura dan kembali membungkuk.
"Tunggu." Sebuah suara dingin bergema di ruang tamu. Suara itu milik tetua Byakko, Floro. "Aku belum menyetujui pernikahan mereka."
Mata Floro, yang tertuju pada Shiranui, sedingin suaranya. "Aku akan menghormati perjanjian. Karena kalah dalam duel, kami, rakyat Byakko, akan menyerah untuk kembali ke tanah air kami. Namun, menyerahkan pemimpin kami adalah sesuatu yang berada di luar perjanjian. Beberapa anggota kami mungkin akan melihat ini sebagai bentuk Byakko yang menyerah tanpa syarat kepada Suzaku."
Tatapan sedingin es itu membuat Shiranui merinding. Tetapi ia tidak boleh mundur. Menatap mata Floro secara langsung, Shiranui berbicara. "Kalian tidak perlu merelakan tanah air kalian. Aku memimpikan masa depan di mana rakyat Suzaku dan Byakko dapat hidup berdampingan."
Mata Floro menjadi semakin dingin. "Kau bermaksud menyambut rakyat Byakko ke tanah ini?" Shiranui mengangguk. "Ini desa yang kecil, jadi kami tidak bisa menampung semuanya sekaligus. Akan butuh waktu untuk berkembang. Tapi pada akhirnya..." "Mengapa kau ingin menerima kami?"
Shiranui menarik napas dalam dan menenangkannya sebelum menjawab. "Karena aku percaya bahwa rakyat Suzaku dan Byakko bisa menjadi satu keluarga." "Kenapa kau berpikir kita, yang memiliki sejarah berlumuran darah, bisa menjadi sebuah keluarga?" "Memang benar, banyak darah tertumpah di tahap awal konflik kita. Namun, sejak ditetapkannya aturan duel, kedua belah pihak telah mematuhi aturan tersebut, dan tidak ada lagi darah yang tumpah. Selama waktu ini, kita telah membangun kepercayaan dan rasa hormat terhadap satu sama lain, bukan kebencian. Jalan bagi kita untuk hidup bersama sudah terbuka." "........"
"Tolong, izinkan aku menikahi Aura-dono. Biarkan kami menjadi contoh pertama dari rakyat Suzaku dan Byakko yang hidup bersama." Shiranui tidak menyebutkan pembenaran mulia bahwa ia melakukan ini demi keselamatan dunia. Hidup berdampingan antara kedua klan adalah sesuatu yang telah ia pertimbangkan bahkan sebelum mendengar ramalan dari Gadis Peramal tersebut.
"A-aku juga memohon persetujuanmu! Tolong izinkan aku menikahi Shiranui-san!" "Aura, kau sebaiknya diam dulu sejenak." Aura berjengit melihat mata dan mendengar suara dingin Floro, tetapi ia bersikeras. "A-aku tidak mau diam! Aku menghormatimu, Bibi Floro. Tapi akulah pemimpin saat ini!"
"Oh? Apakah kau menggunakan posisimu untuk menentangku?" Udara di ruangan itu seketika menjadi dingin. Ini bukan kiasan. Kekuatan sihir Floro yang meningkat telah mengaktifkan roh-roh es. "Eek!" Aura bergidik. Bukan hal yang aneh. Bahkan kulit Shiranui merinding seketika. Ia hampir secara naluriah mengambil posisi bertahan.
Dalam hal kehebatan sihir, Aura melampaui Floro. Jika mereka bertarung, Aura tidak diragukan lagi akan menang. Tetapi kekuatan sihir Floro begitu halus dan murni hingga membuat Aura sekalipun membeku.
"A-aku sudah memikirkan hal yang sama dengan Shiranui-san! Daripada membuat rakyat Suzaku pergi, tidak bisakah kita hidup bersama saja? Aku yakin Bibi Floro juga merasakan hal yang sama!" Suara Aura bergetar, tetapi ia tidak mundur; ia justru mengambil satu langkah ke depan. "........" "Dan juga..." Aura melangkah maju dengan berani. "Jika aku membiarkan Shiranui-san lepas, tidak akan ada pria yang mau maju untuk menikahi orang sepertiku! Jangan merampas kesempatan pertama dan terakhirku untuk menikah seumur hidup!"
"Apa yang kau katakan, Kak!" Di belakang Aura, Blanc meninggikan suaranya. "Tidak ada wanita yang lebih menawan dari kakakku di dunia ini! Percaya dirilah sedikit!" "Blanc, kau mendukungku ya." "Tentu saja! Aku selalu berada di pihakmu!" "Diam, Blanc. Ini bukan saatnya bagi Wakil Pemimpin untuk ikut campur." "...Um." Floro dengan dingin menegur Blanc, dan pemuda itu pun terdiam.
Aura memanggil Floro dengan sebutan 'bibi'. Menilik dari sebutan ini, tampaknya mereka memiliki hubungan darah. Selain itu, tidak sulit untuk membayangkan bahwa Floro juga merupakan mentor sihir bagi Aura dan Blanc. Dalam banyak hal, Floro tampak seperti lawan yang tidak mudah untuk ditentang.
"Bibi, kumohon!" Aura memohon dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. "Apakah kau begitu inginnya menikahi putra dari Desa Suzaku sampai-sampai kau menangis?" "I-iya!" Mengejeknya, nada bicara Floro tetap sedingin es. Aura mengangguk tanpa ragu. Akhir kata-katanya berubah sengau karena ia tersedak isak tangis.
"Apakah kau akan menelantarkan rakyat Byakko?" Tatapan dan kekuatan sihir Floro menjadi lebih dingin saat ia mendesak Aura. Aura mencoba melangkah maju dengan tegas, tetapi ia terdorong mundur oleh tekanan aura Floro. Berdiri di antara mereka, Shiranui meninggikan suaranya. "Tidak akan ada satu pun dari rakyat Byakko yang akan celaka!"
Tatapan Floro beralih dari Aura ke Shiranui. Aura begitu terintimidasi hingga tenggorokannya tercekat. Namun, Shiranui tidak mundur. Ia tidak mengalihkan pandangannya. "Kau sesumbar dengan berani, anak muda." Kekuatan sihir Floro semakin menguat, dan pecahan es yang tak terhitung jumlahnya muncul tepat di depan hidung Shiranui, setajam pisau. "Biar kuajarkan satu hal padamu. Sangatlah sulit untuk tidak membawa kemalangan bagi orang lain!"
Pecahan es itu melesat maju, memancarkan hawa dingin saat menyerang secara bersamaan. Bukan ke arah Shiranui—melainkan, pecahan es itu menargetkan Hibari, yang berada di belakangnya. "Ah!" Hibari menahan napas karena terkejut. "Hibari-san!" Di tengah gema teriakan Aura, Shiranui merapal mantra dalam hati. (Meleleh.) Tepat sebelum menembus tubuh Hibari, semua pecahan es itu menguap tanpa sisa. Shiranui tidak mengalihkan pandangannya dari Floro sedikit pun.
"Kau berhasil melelehkan esku bahkan tanpa menoleh ke belakang. Kerja bagus." "Floro-dono, tolong hentikan kejenakaan ini." Floro terkekeh pelan. "Cukup adil. Aku akan berhenti. Aku tidak ingin dibunuh oleh keponakanku sendiri."
Floro menggunakan pandangannya untuk meminta Shiranui melihat ke belakang. Shiranui menoleh ke belakang dan terkejut. Aura, yang melindungi Hibari dalam pelukannya, menatap tajam ke arah Floro. Mata biru esnya yang biasanya tenang kini merah karena marah, seolah siap untuk menyemburkan api. "Bahkan jika kau adalah bibiku, aku tidak akan memaafkan hal ini." Aura berbicara dengan suara rendah. Kekuatan sihir yang bahkan lebih dingin dari milik Floro memancar dari seluruh tubuh Aura, dan kristal-kristal es berterbangan di dalam ruangan itu.
"A-Aura-dono, tolong tenanglah..." "Ahahaha!" Tawa keras menenggelamkan upaya Shiranui untuk menenangkannya. Tawa itu berasal dari Kagari, yang menggaruk-garuk dadanya yang terbuka lebar sambil berkata, "Bukankah ini sudah cukup, Fu-chan? Tekad mereka berdua tampaknya cukup kuat bagiku." Setelah ditegur, Floro menghela napas panjang.
"Bibi...?" Aura sihir dari tubuh Aura menghilang, dan suhu ruangan yang sedingin es kembali normal. "Yah, kurasa itu cukup untuk dibilang lulus." Floro berkomentar, "Berperan menjadi penjahat, kerja yang bagus." Kagari memamerkan deretan giginya dan menepis tangannya yang tadi menggaruk dadanya.
Melihat senyum Floro menghiasi wajah cantiknya, Shiranui pun akhirnya mengerti. "Floro-dono, Anda tidak berniat menentang pernikahan kami sejak awal, kan?" "Tidak." Floro membenarkan dengan singkat. "Ini adalah kesempatan untuk mengakhiri perseteruan antara Byakko dan Suzaku. Kita tidak boleh membiarkannya lepas begitu saja. Namun, ini adalah masalah yang rumit. Aku hanya ingin menguji tekadmu." "Yah, seseorang harus melakukannya. Jika Fu-chan tidak melakukannya, aku yang sudah siap untuk melakukan hal yang sama."
Floro dan Kagari saling bertukar pandang lalu terkekeh pelan bersama-sama. "Kalau begitu, pernikahan kita—" "Aku menyetujuinya. Aku tidak ingin dibenci karena merampas tahun-tahun pernikahan keponakanku." "Oh, Bibi!" "Kau tidak keberatan dengan hal ini kan, Blanc." "...Jika kakak bahagia, maka aku tidak keberatan." Ada jeda singkat sebelum Blanc menjawab.
(Dengan ini...) Dengan persetujuan dari kedua belah pihak pemimpin klan Suzaku dan Byakko, wakil pemimpin, dan tetua, pernikahan tersebut resmi diterima.
"Anak muda, atau lebih tepatnya, pengantin pria." Floro beralih menatap Shiranui lagi. "Aura adalah anak yatim piatu dari mendiang kakak perempuanku. Aku hanya bisa membebani hidupnya, tetapi sebagai orang tua penggantinya, aku menginginkan kebahagiaan untuknya. Tolong jaga Aura, keponakanku, dengan baik."
Shiranui langsung duduk, menempelkan kedua kepalan tangannya di lantai dan membungkuk dalam-dalam. "Aura-dono akan membuatku dan rakyat Byakko bahagia. Aku bersumpah mempertaruhkan segalanya." "Shiranui-san!" Suara Aura terdengar lantang. "Kita bisa menikah!" Saat Shiranui berdiri, Aura langsung berlari ke pelukannya. Aura menempelkan seluruh tubuhnya pada Shiranui. Setiap bagian dari tubuhnya terasa begitu lembut.
"Ah, Aura-dono, aku juga bahagia, tapi ada orang-orang di sekitar kita..." "Aku tidak peduli!" "Y-yah, aku peduli..."
"Silakan nikmati kebersamaan kalian. Ini demi dunia." Suara seorang gadis kecil menggema. "Suara siapa ini...?" Shiranui berseru terkejut sambil melihat sekeliling untuk mencari sumbernya. Duduk tegak di tengah ruang tamu adalah Lillie. Sebuah cermin ditempatkan di depan lututnya, dan suara itu berasal dari pantulan di cermin tersebut.
"Gadis Peramal..." Sambil masih menempel pada Shiranui, Aura terkesiap pelan, "Eh?" "Apakah gadis manis itu adalah Gadis Peramal Menara Dunia?" "Benar sekali. Aku adalah Gadis Peramal Griguri dari Menara Dunia. Tunjukkan rasa hormatmu." Menjawab pertanyaan Aura kepada Shiranui, Gadis Peramal Griguri menjawabnya sendiri.
"Hah? G-Griguri...?" "Griguri! Aku tidak suka namaku diejek. Ingat itu." "Iya... um..." Melihat ekspresi Aura yang kebingungan, Griguri mendengus dan mengalihkan mata biru langitnya yang jernih ke arah Shiranui. "Sepertinya kau telah berhasil mencapai pernikahan. Kau telah melewati gerbang pertama. Kerja bagus."
"Ya, tapi... mendapat persetujuan pernikahan bukan berarti kami sudah resmi menikah." "Kenapa tidak? Jika kedua belah pihak setuju, maka pernikahannya sudah sah." "Upacara perayaannya belum diadakan."
"Shiranui." Dipanggil oleh Kagari, Shiranui membalikkan badannya. "Itu bisa ditunda. Cepatlah menjadi sepasang suami istri." "Namun, itu berarti memberitahu penduduk desa belakangan." "Tidak masalah. Lebih cepat jika menetapkan faktanya terlebih dahulu. Benar kan, Fu-chan?" Ditanya seperti ini, Floro mengangguk setuju. "Tidak ada keberatan."
"Jadi, Shiranui, Aura. Mulai detik ini, kalian resmi menjadi suami dan istri. Selamat." "Selamat! Kakak, Aura-san!" "Kakak, selamat." Aura, yang sejak tadi memeluk Shiranui, tiba-tiba menjauh.
"Aura-dono?" Aura berlutut, menempelkan kedua tangan dan dahinya ke lantai. "A... Aku tidak punya kelebihan lain selain sihir. Selain sihir, aku ini benar-benar bodoh dan tidak tahu apa-apa. Sangat tidak pantas bagi orang sepertiku untuk menjadi istri Shiranui-san. Tapi meskipun begitu, tolong... tolong, jaga aku..." "Aura-dono, tolong angkat kepalamu."
Shiranui berlutut, menangkup lembut pipi Aura dengan kedua tangannya dan mengangkat wajahnya. Di sepasang mata azurnya, Aura melihat pantulan dirinya sendiri, terpantul layaknya sebuah cermin. "Aku juga sama sepertimu. Selain sihir, aku tidak tahu apa-apa. Kita, dalam artian tertentu, sama seperti bayi. Tetapi bayi akan tumbuh. Kita bisa mempelajari apa yang tidak kita ketahui, selangkah demi selangkah, bersama-sama." "Shiranui-san..." Saat Shiranui dan Aura saling menatap dalam-dalam,
Uhuk, uhuk. Batuk keras Gadis Peramal Griguri yang disengaja memotong momen di antara mereka. "Bermesraan silakan saja, tetapi ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepada kalian berdua. Lihatlah ke sini." Shiranui dan Aura menoleh ke arah Gadis Peramal Griguri, duduk tegak dengan punggung lurus.
"Shiranui, Pemimpin Suzaku, dan Aura, Pemimpin Byakko, aku mempercayakan kalian berdua sebagai Sage." Gadis Peramal Griguri menunjuk dengan tangan mungilnya yang putih ke arah Shiranui dan Aura lalu berbicara. "Sage! Untukku dan juga Aura-dono?"
"Ya. Kalian adalah Sage masa kini, sosok penting dari Tujuh Cahaya. Aku melihat masa depan di mana kalian, yang kelak akan menjadi orang tua, dihitung di antara Sage Tujuh Cahaya. Shiranui sebagai Sage Api, dan Aura sebagai Sage Air." Shiranui dan Aura saling menatap dengan mata terbelalak lebar. "Tidak perlu heran. Bahkan tanpa ramalan sekalipun, kalian memiliki kekuatan dan karakter untuk berkontribusi bagi kedamaian dunia. Kalian harusnya merasa bangga."
Gelar yang dianugerahkan kepada mereka oleh Menara Dunia, Sage, bukanlah sesuatu yang pernah didambakan Shiranui demi kekuasaan atau ketenaran. Namun, bahkan dirinya pun menyimpan kerinduan untuk meraih gelar Sage. "Omong-omong, kalian tidak punya hak untuk menolak." "A... Aku mengerti." Menara Dunia melampaui batas-batas negara. Bahkan negara besar sekalipun tidak bisa menentang niat Menara Dunia.
"Tolong terimalah ini." Lillie, yang berdiri bahkan tanpa suara gemerisik kain, menyerahkan sebuah buku kepada Shiranui dan Aura masing-masing. Di sampul tebalnya tergambar lambang yang menyerupai sebuah pohon. "Ini..."
Shiranui mengenali lambang itu. Tidak ada penyihir yang tidak mengetahuinya. Di luar nalar pemahaman manusia, menjulang di ranah para dewa, pohon kehidupan agung yang dikenal sebagai Pohon Dunia (World Tree). Hanya ada satu institusi yang menggunakannya sebagai lambang resminya: Menara Dunia. "Kitab Pencerahan (Book of Enlightenment). Bukti dari gelar Sage." "Jadi ini..."
Menelan ludah dengan susah payah, Shiranui berdehem. Konon katanya ini adalah kitab sihir yang diberikan kepada mereka yang diangkat sebagai Sage oleh Menara Dunia, berisi rahasia terdalam mengenai sihir... "Um, bolehkah kami melihat isinya?" "Itu milik kalian sekarang. Lakukan sesuka hati kalian."
Shiranui menatap Aura, mereka berdua saling mengangguk, dan kemudian Shiranui membuka Kitab Pencerahan tersebut. Membalik halamannya, ia mengerutkan kening. Pada pandangan pertama, buku itu sepertinya hanya berisi teknik-teknik dasar sihir. Ia menutup buku itu. (Tapi ini...) Ia hampir berpikir itu adalah buku pengantar ilmu sihir, lalu ia pun menyadarinya.
"Oh... Ini..." Sepertinya Aura juga menyadarinya. Isinya memang buku pengantar ilmu sihir, tetapi yang membuatnya spesial adalah sampulnya. Lambang yang tergambar di sampulnya diukir dengan kekuatan magis, menggabungkan pola mantra yang sangat kompleks. Walaupun kelihatannya tidak memiliki efek unik tertentu, bagi seorang penyihir yang akrab dengan sihir, kerumitan dan keindahan pola mantranya sudah cukup untuk membuat mereka tak bisa berkata-kata. Mereplikasi pola-pola ini akan sangat mustahil, menjadikannya sarana anti-pemalsuan yang sempurna.
(Begitu rupanya, ini memang bisa berfungsi sebagai bukti...) "Um, permisi..." Aura, yang mendekap Kitab Pencerahan di dadanya, dengan ragu mengangkat tangannya untuk berbicara. "Apa sebenarnya arti dari menjadi seorang Sage...?"
"Baiklah. Sebagai sebuah posisi, kalian dianggap sebagai penyihir yang berafiliasi dengan Menara Dunia. Namun, dalam kasus kalian, kalian bukan sekadar Sage biasa melainkan Sage Tujuh Cahaya. Kalian akan berada di bawah komandoku secara langsung sebagai atasan. Meskipun begitu, ketika tidak diberi instruksi spesifik, kalian bebas bertindak sesuai kebijaksanaan kalian, mendedikasikan diri kalian untuk dunia." Mendedikasikan diri untuk dunia. Shiranui menegang mendengar pernyataan santai Gadis Peramal Griguri.
"Dengarkan baik-baik, tugas kalian untuk saat ini hanyalah satu. Terapkan diri kalian dengan tekun pada tugas reproduksi (menghasilkan keturunan)." Gadis Peramal Griguri membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari telunjuk kirinya, lalu menyelipkan jari telunjuk kanannya melalui lingkaran tersebut dengan gerakan yang cepat.
"Gadis Peramal, itu tidak sopan." Lillie, yang sejak tadi diam saja, menyuarakan ketidaksetujuannya dengan suara berbisik. "Shiranui-san, apa arti dari isyarat tangan itu?" "E-etto..." Meskipun itu adalah isyarat yang tidak lazim dilihatnya, seperti yang dikatakan Lillie, itu sepertinya menyiratkan sesuatu yang kurang pantas.
"Jangan terlalu kaku begitu. Aku hanyalah jiwa yang bosan dan terperangkap di menara ini. Menggoda pengantin baru dengan sedikit candaan kotor adalah hiburan tersendiri..." Di tengah kalimat, sosok Gadis Peramal Griguri, yang sebelumnya melayang di udara, tiba-tiba menghilang. "Kan sudah kubilang itu tidak sopan." Lillie mengambil cermin tersebut dan mengikatnya ke obinya.
"Apakah itu tidak apa-apa? Memutus ucapan Gadis Peramal-sama di tengah jalan?" "Bukan masalah." Lillie tersenyum tipis di balik kerudungnya dan berdiri. "Aku pamit undur diri sekarang. Shiranui-sama, Aura-sama, semoga kalian menemukan kebahagiaan."
Dengan begitu, utusan Menara Dunia pun pergi. Meskipun Shiranui menawarkan untuk mengantarnya ke gerbang desa, Lillie menolaknya.
"Nah, kita sudah menunda banyak hal, tapi ada beberapa hal yang harus diselesaikan segera." Kagari menyalakan pipa berisi tembakaunya dengan sihir saat ia berbicara. "Hal-hal yang harus diselesaikan, maksudmu?" "Kau sudah tahu, kan?" Atas pertanyaan Shiranui, Kagari menjawab sambil menggaruk rambut merahnya, mengisap asapnya dalam-dalam. "Kewajiban awal dari pengantin baru... malam pertama mereka."
Malam pertama (Wedding night). Malam pertama yang dihabiskan pengantin baru bersama.
Shiranui akan menghabiskan malam pertamanya bersama Aura di kediaman Kagari. Kediaman Kagari adalah yang terbesar di Desa Suzaku, dengan banyak kamar kosong. Floro dan Blanc masing-masing juga telah diberi kamar mereka sendiri. Namun, Kagari tampaknya berniat minum-minum dengan Floro sepanjang malam. Sudah sepuluh tahun sejak pertemuan terakhir mereka; ada banyak hal yang harus dibicarakan. "Aku minta maaf, Aura-dono. Idealnya, aku akan mengundangmu ke rumahku, tetapi setiap kamar di sana, termasuk kamar tamunya, penuh sesak dengan buku-buku sihir." "T-tolong jangan khawatir. Kamarku juga sama berantakannya..."
Duduk berhadapan di atas bantal, Shiranui dan Aura. Sebuah futon digelar di belakang Aura. Ada satu futon. Dan dua bantal. Tangan Aura, yang diletakkan di pangkuannya, mengepal erat. Ketegangan terlihat jelas di bahunya juga. Ia pasti merasa sangat gugup.
"A-aku gugup." Shiranui juga merasakan ketegangan yang sama. "S-Shiranui-san, apa kau juga gugup?" "Y-yah, begitulah. B-bagaimanapun juga, ini adalah malam pertama kita." "M-malam pertama kita, ya!"
Malam pertama. Malam pertama pasangan suami istri menghabiskan waktu bersama. Apa yang mereka lakukan bersama? Bukan sekadar soal tidur. Bukan sekadar tentang mengekspresikan cinta. Ada sesuatu yang harus mereka lakukan. Apa itu? Jawabannya sudah jelas, (Membuat anak.)
Menciptakan seorang anak. Tindakan paling primitif manusia sejak zaman purba. Membawa kehidupan baru ke dunia—sebuah upaya yang mendalam dan mulia. Shiranui baru benar-benar tahu apa yang dilakukan pada tindakan ini hanya setengah tahun yang lalu. Meskipun ia memahaminya secara teori, ia tidak memiliki pengalaman praktik sama sekali.
"Aura-dono, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?" "Y-ya?" "Apakah kau tahu bagaimana seorang pria dan wanita bisa mengandung anak?" "Yah, um... Aku percaya ketika seorang pria dan seorang wanita menikah dan rukun, seorang bayi akan hadir ke perut istrinya. Apakah aku salah?"
Shiranui semakin gelisah mendengar jawaban Aura yang tidak pasti. "Yang kau maksud dengan 'rukun', kira-kira apa yang harus dilakukan?" "Um, m-misalnya, berlatih sihir bersama... Apakah seperti itu?" Ekspresi serius Aura menunjukkan bahwa ia tidak sedang bercanda.
Shiranui menghela napas dalam hatinya. (Apa-apaan ini! Jangan-jangan Aura-dono tidak tahu bagaimana cara membuat bayi!) "Shiranui-san? Bukankah berlatih bersamaku akan menyenangkan?" "B-bukan begitu maksudku! Berlatih dengan Aura-dono tentu akan menjadi momen indah yang seperti mimpi!"
Itu adalah perasaan Shiranui yang sesungguhnya. Jika ia mendedikasikan dirinya untuk berlatih dengan Aura, ia bisa mencapai tingkatan yang lebih tinggi sebagai seorang penyihir. Tapi itu bukan intinya sekarang. Apa yang harus mereka lakukan adalah mengandung seorang anak.
(Apa yang harus kulakukan...) Menambah rasa gugupnya, Shiranui merasa tenggorokannya kering kerontang. (Untuk saat ini, aku butuh sesuatu untuk diminum...) Memindai sekelilingnya, Shiranui menemukan kendi air di samping futon. "Permisi." Ia menuangkan isi kendi air itu ke gelas di dekatnya dan dengan cepat meminumnya dalam satu tegukan.
"Uhuk! I-ini..." Itu adalah sake. Kendi dan gelasnya berwarna kuning langsat, jadi ia tidak menyadari bahwa itu bukan air. (Dan ini sake yang sangat keras...) Tenggorokannya terasa seperti terbakar. Shiranui menyalahkan Kagari dalam hati. (Tetua! Kenapa Anda meninggalkan sesuatu seperti ini di sini!)
Wajahnya mulai terasa hangat. (Tidak, tunggu, mungkin ini pendekatan yang tepat. Gunakan kekuatan sake untuk mengumpulkan keberanian...) Shiranui meminum seteguk sake lagi.
"Shiranui-san? Apakah kau baik-baik saja?" "A-aku baik-baik saja. Malahan, aku baru saja mabuk oleh kecantikanmu."
Ya! Shiranui bersorak dalam hatinya. Berkat sake itu, ia merasa jauh lebih berani. Itu adalah kalimat yang tidak akan pernah bisa ia ucapkan saat sadar. "A-aku, dibilang seperti itu...! Malunya..." Aura tersipu merah.
"Jangan malu. Ayo, perlihatkan lebih banyak wajah cantikmu itu." "B-baik!" Mencoba menghindari tangan Shiranui yang terulur, Aura berdiri. "Aku menerima gaun tidur (nightdress) dari Kagari-sama." "Gaun tidur?"
"Iya. Beliau bilang kau pasti akan sangat senang jika aku memakainya. Aku akan ganti baju, jadi bisakah kau berbalik?" "B-baiklah." Dengan enggan, Shiranui berbalik sesuai instruksi. Tak lama kemudian, ia mendengar suara gemerisik pakaian di belakangnya. "U-um, bisakah kau mematikan lampunya?" Mendengar suara Aura yang malu-malu, Shiranui berdehem dengan gugup. "Akan kumatikan."
Sambil tetap duduk, Shiranui memerintahkan roh api untuk mematikan lentera yang ditempatkan di pintu masuk dan sudut ruangan. Kegelapan yang remang-remang kini mendominasi ruang tamu tersebut. Sekali lagi, Shiranui mendengar suara gemerisik pakaian. Untuk mempertahankan momentum dari alkohol tersebut dan untuk memperlama momennya, Shiranui terus menyesap minumannya sambil menunggu.
"Maaf membuatmu menunggu. Tolong lihat ke sini." Diarahkan oleh Aura, Shiranui berbalik menatapnya, merasa seperti terhipnotis. Dalam cahaya redup, sosok Aura seolah melayang di depannya. Tali bahu tipis yang nyaris tidak menutupi bagian pribadinya, gaun yang begitu pendek hingga hampir tidak menutupi apa pun, dan kain yang begitu tipis sehingga hampir tembus pandang. Gaun tidur yang diberikan Kagari sama sekali tidak menyembunyikan kulitnya—Aura praktis terlihat seperti telanjang.
"A-aku malu..." Aura menunduk, berdiri dengan kaki disilangkan. Kedua tangannya dengan gugup saling meremas di dekat area pribadinya. Jika tangannya tidak ada di sana, bagian tersembunyinya pasti sudah terlihat dengan jelas.
Kata-kata Aura menyadarkan Shiranui dari lamunannya. (Tetua! Ini terlalu merangsang!) Ia protes dalam hatinya. "Ini... ini hampir sama saja seperti telanjang, kan..." "M-maafkan aku!"
Shiranui menutupi matanya dengan lengannya dan memalingkan wajah. "M-maafkan aku, tapi... jika kau tidak keberatan... jika tidak terlalu tak sedap dipandang..." "T-tapi..." "Aku ingin kau melihatnya. Aku telah menjadi istrimu. Seluruh diriku adalah milikmu. Aku ingin kau memiliki seluruh diriku."
Shiranui dengan ragu menurunkan lengannya. "K-kalau begitu... Aku akan melihatnya..." Meski ia mencoba mengalihkan pandangannya ke arah Aura, dorongan untuk melihat berbenturan dengan ketakutannya akan apa yang mungkin ia lihat.
(Lihatlah, Shiranui! Kalau kau tidak melihatnya, kau tidak akan bisa membuat anak!) Dengan tekad bulat, sambil menggertakkan gigi, Shiranui akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah Aura.
Aura disinari cahaya bulan yang masuk melalui jendela, memperlihatkan segalanya. Tangannya yang tadinya terlipat rapat kini mengendur dan merenggang, tidak menyisakan satu pun bagian yang tersembunyi. Tidak ada lagi jejak rasa malu di wajahnya; tatapannya terhadap Shiranui dipenuhi dengan kasih sayang yang lembut. Emosi mati. Sentimen dan akal sehat hancur berkeping-keping menjadi jutaan bagian lalu mati.
"Shiranui-san, tolong lembutlah padaku." Shiranui terhuyung-huyung berdiri dan melangkah ke arah Aura. "T-tolong serahkan padaku." Seluruh tubuhnya mendidih, berpacu dengan sangat kencang. Napasnya berat. Detak jantungnya liar tak terkendali. "Aura-dono..."
Shiranui mengulurkan kedua tangannya dan mencengkeram bahu Aura. Tersesat dalam emosinya yang meluap-luap, ia tanpa sengaja mencengkeramnya terlalu kuat. Tetapi Aura tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan atau rasa tidak nyaman, malah bersandar pada dada Shiranui. "Tolong, Aura..."
"A-Aura!" Tiba-tiba, Shiranui mendorong Aura hingga jatuh ke atas futon. Aura tampak terkejut tetapi dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi senyuman. Lengannya yang ramping dan pucat dengan lembut memeluk kepala Shiranui.
(Apa yang harus aku lakukan sekarang!?) Ia tahu tentang proses membuat bayi. Ia mengerti teorinya. Ia seharusnya tahu, tetapi pikirannya kosong. Pikirannya tidak berfungsi, matanya berputar-putar. Keringat dingin bercucuran. (Gawat!)
Kegembiraan dan ketegangan yang ekstrem. Dan sake. Shiranui baru teringat. Ia ingat bahwa dirinya tidak kuat minum alkohol.
"Ugh..." Menekan tangannya untuk menahan rasa mual yang naik, Shiranui terhuyung-huyung menuju vas bunga di sudut ruangan. Ia membenamkan wajahnya ke dalam vas itu, dan kemudian... "Bweeeek!"
"Shiranui-san!? Apa kau baik-baik saja!?" Ia sama sekali tidak baik-baik saja. Di antara rasa mual dan rasa menyedihkan, air mata mengalir di wajahnya. "M-maaf. Aku kira itu air lalu meminum sake yang kuat, dan sekarang aku merasa mual..." "Ya ampun, ini gawat!"
Aura, yang telah datang ke sisi Shiranui, dengan lembut mengusap punggungnya. Kepeduliannya yang tulus sangat terasa melalui sentuhannya. Kebaikan hatinya itu memancing lebih banyak air mata dari Shiranui.
Di bawah hangatnya dekapan matahari pagi, Shiranui membuka matanya. Di luar jendela, burung-burung berkicau.
"Sudah pagi, ya..." Ia mengingat kembali kejadian semalam sambil menatap kosong ke langit-langit. Sake keras itu membuatnya mabuk berat, tetapi ia tidak sampai pingsan. Kenangan menyakitkan tentang malam pertama yang gagal tergambar dengan sangat jelas di benaknya. Setelah itu, Aura membawakannya air, menyeka keringatnya dengan telaten, dan bahkan membersihkan muntahan dari dalam vas. Sementara itu, Shiranui menghabiskan malam itu dengan terbaring di atas futon setelah muntah, tak bisa melakukan apa-apa, diliputi oleh rasa malu yang luar biasa, hingga akhirnya tertidur pulas.
Melirik ke samping, Shiranui melihat wajah tidur Aura yang damai di sebelahnya. Rasa sakit dari malam pertama yang gagal bukan hanya ditanggung oleh Shiranui seorang. Aura, yang telah menelanjangi dirinya kepada suaminya hanya untuk ditolak, pasti terluka sangat dalam. Namun Aura tidak menunjukkan gejolak batin itu sedikit pun.
"Aku tidak akan gagal lagi," sumpah Shiranui pelan. Ia mengulurkan tangannya dan menggenggam ringan tangan Aura yang tergeletak di depan wajahnya. Sebagai tanggapan, tangan Aura dengan lembut meremas punggung tangannya. Matanya tetap terpejam.
"Aura?" Ia memanggil dengan lembut, tetapi yang membalas hanyalah suara ritmis napas Aura.
(Masa depan memang tidak bisa ditebak.) Di sinilah mereka, musuh bebuyutan lama, kini berbagi lantai yang sama, sambil berpegangan tangan. Shiranui memejamkan mata, bukan untuk tidur, melainkan untuk membayangkan. Ia mencoba membayangkan wajah anak yang akan lahir dari dirinya dan Aura.
(...Aku tidak bisa membayangkannya.) Ia tidak bisa membayangkan wajah anak mereka, atau bahkan akan menjadi ayah seperti apa dirinya nanti. Aura telah menjadi istrinya, tetapi Shiranui masih belum bisa memercayainya. Meski begitu, Shiranui sangat yakin.
(Aura. Bersamamu, aku bisa merajut masa depan apa pun.) Ia akan menyelamatkan dunia dari bencana yang akan segera datang. Untuk dirinya sendiri, untuk Aura, dan untuk anak mereka kelak.
"Aku pasti akan menunjukkan padamu, Aura, hal terbaik yang bisa kita ciptakan bersama-sama!" Dengan tekad yang kuat di dalam hatinya, Shiranui mengucapkan ikrar tersebut.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments