Bab 2: Gadis Penuh Perhatian yang Memikirkan Orang Lain dan Kehidupan Manis Kami
Beberapa hari telah berlalu sejak Aoi dan Bibi Ryoko datang ke kamarku. Mulai hari Sabtu ini, kehidupan bersama kami akan sepenuhnya dimulai. Aoi akan pindah ke kamarku.
Sambil mengerjakan dokumen desain di mejamu, aku merenungkan masa depan. Bibi Ryoko khawatir dengan kepribadian Aoi yang mudah kesepian dan manja. Sebagai walinya, aku harus selalu ada untuknya sebisa mungkin.
Itu berarti aku perlu mengamankan waktu untuk kami berdua... Akan tetapi, dengan gaya hidupku saat ini yang dipenuhi jam lembur, hal itu terasa mustahil. Aku selalu pulang larut malam setiap hari, dan pada hari liburku, aku terlalu lelah bahkan untuk sekadar bangun dari tempat tidur. Kalau terus begini, waktuku bersama Aoi akan sangat terbatas. Aku harus mencari cara untuk mengurangi jam lemburku.
Kalau dipikir-pikir lagi, saat aku melampiaskan rasa frustrasiku pada Chizuru-san sebelumnya, dia menasihatiku, "Mungkin ada baiknya kau memikirkan kembali bagaimana pendekatan kerjamu." ...Mungkin sudah saatnya aku memperbaiki kebiasaan kerjaku.
Jika aku bisa mengurangi lemburku, aku akan punya lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama Aoi, dan kehidupan pribadiku akan lebih memuaskan. Sebagai walinya, aku akan bisa melakukan lebih banyak hal untuknya. "Untuk mencapai itu, aku perlu mengubah caraku menangani pekerjaan maupun urusan rumah..."
"Oh? Sepertinya kau cukup termotivasi hari ini, Yuya-kun," ucap Chizuru-san, yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahku. Aku menghentikan ketikanku dan menoleh ke arahnya. "Ahaha. Apa aku benar-benar terlihat seantusias itu?" "Yah, tadi kau baru saja bilang dengan jelas kalau kau ingin 'mengubah caramu bekerja'." "Ah... benarkah?" "Ngomong-ngomong—kapan kau punya keluarga?" "Hah?"
Pertanyaannya langsung menusuk ke inti, dan jantungku berdegup kencang. Aku belum melapor kepada siapa pun bahwa Aoi akan tinggal bersamaku. Bagaimana Chizuru-san bisa tahu soal ini? "K-keluarga? Apa maksudmu?" "Kalau tidak salah dengar, kurasa tadi kau menyebut kata 'rumah' bersamaan dengan 'pekerjaan'."
Sial. Dia mendengar gumamanku tadi. "B-bukan, bukan begitu. Bukan 'rumah' dalam artian seperti itu. Aku bilang 'proses kerja'. Aku cuma sedang berpikir kalau aku perlu mengevaluasi kembali prosesku." "Oh, begitu rupanya. Jadi itu yang kau maksud. Kukira kau mungkin baru saja punya pacar yang manis atau semacamnya!"
Aku hampir meledak menahan tawa. Bukan, bukan itu. Aku cuma tinggal bersama Aoi sebagai walinya. "Serius deh, Chizuru-san, kau mengatakan hal yang aneh-aneh saja. Aku tidak punya pacar," jawabku. "Masa sih? Serius, kau juga lumayan tampan, jadi kukira kau pasti punya setidaknya satu atau dua orang kekasih." "Kalau aku punya dua, itu malah jadi masalah namanya... Kalau kau bicara begitu, Chizuru-san, kau kan juga cantik, jadi tidak aneh kalau kau punya pacar—" "Hah? Aku tidak punya!"
Mata Chizuru-san seketika berubah kosong. Gawat. Aku lupa kalau topik ini adalah ranjau darat yang siap meledak.
"Ugh, aku ingin punya pacar... Aku ingin seseorang dengan baik hati memprogramku, sebuah perangkat lunak, sebagai pacarnya..." "Tunggu, apa? Itu sama sekali tidak masuk akal. Kau ingin seorang programmer jadi pacarmu?" "Bukan! Maksudku, kami harus merancang spesifikasi cinta bersama-sama!" "Itu malah lebih tidak masuk akal lagi!"
Spesifikasi cinta... Pilihan kata itu terasa agak kuno. Apakah itu berasal dari zaman Showa atau semacamnya? "Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Aku hanyalah seorang wanita malang yang dibebani dengan cacat serius dalam desain dasarku... Tidak ada pangeran berkuda putih yang akan datang dan merevisi strukturku..."
Chizuru-san melanjutkan pekerjaannya sambil merutuki dirinya sendiri. Komentarnya masih kurang spesifik, tapi kurasa dia mungkin hanya sedang merajuk. Huft... Untung saja aku berhasil menghindari ranjau darat itu, tapi kalau sampai ketahuan bahwa aku tinggal bersama seorang gadis SMA, itu akan merepotkan. Aku harus berhati-hati dengan ucapanku di kantor.
Aku melirik jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Dunia luar telah berubah gelap gulita. Malam yang larut lagi di tempat kerja... Jika aku akan tinggal bersama Aoi, aku tidak bisa terus-terusan pulang selarut ini setiap hari. Aku harus menyusun rencana yang matang. "Hah... Aku cuma ingin pulang," gumamku seraya kembali menghadap monitor dan mulai mengetik.
Ding dong. Ding dong. Suara interkom di dalam kamar berbunyi beberapa kali, perlahan membangunkanku dari tidurku. "Ugh... Jam berapa sekarang?" Aku mengambil ponsel pintarku. Waktu menunjukkan pukul dua belas siang.
Astaga. Meskipun hari ini Sabtu dan aku libur kerja, aku benar-benar sudah bangun kesiangan. Kurasa ini membuktikan seberapa lelahnya aku. Ding dong, ding dong, ding dong. Interkom kembali berbunyi nyaring, memecah lamunanku.
"Ya ampun, mereka benar-benar terus menekan tombolnya, ya..." Aku bangkit dari tempat tidur dengan lesu, mengucek mataku yang masih mengantuk saat berjalan menuju pintu depan. "Iya, datang! Tunggu sebentar!" Ketika kubuka pintu, berdirilah Aoi dalam balutan pakaian kasual.
"Halo, Yuya-kun." "Halo... hah?!" "Kenapa kau masih pakai piyama? Kau tidak lupa, kan?" Aoi menatapku tajam dengan mata menyipit.
Benar juga... mulai hari ini, Aoi akan tinggal bersamaku. Kotak-kotak pindahannya juga seharusnya akan tiba. "Aku tidak lupa. Kita sudah janji untuk merapikan kamar bersama sebelum barang-barangmu tiba." "Tapi kau kelihatan seperti baru bangun tidur." "Ugh..." "Sejujurnya. Kau ini ceroboh sekali. Kau harus lebih bisa mengurus dirimu sendiri." "Maaf..."
Diceramahi oleh anak berusia enam belas tahun rasanya agak... memalukan. "Pertama, Yuya-kun, kau harus cuci muka dulu. Lalu gosok gigi, dan kalau bisa, rapikan rambut bangun tidurmu itu. Untuk pakaianmu... karena aku butuh bantuanmu untuk bersih-bersih dan membongkar barang, pakai saja sesuatu yang nyaman dan tidak masalah kalau kotor." "Oke, oke. Aku akan bersiap-siap dengan benar. Untuk sekarang, masuklah dulu."
Sangat memalukan disuruh "bersiap-siap" oleh seorang gadis SMA tepat di depan kamarku sendiri. Aku berusaha memotong percakapan dan mempersilakan Aoi masuk. "Baiklah. Permisi." "Permisi? Mulai hari ini, ini akan jadi kamarnya Aoi juga, lho. Kau tidak perlu seformal itu." Ini bukan lagi hanya kamarku; ini adalah kamar kami. Mengucapkan "permisi" terasa sedikit terlalu berjarak.
Itulah yang kupikirkan, tapi Aoi menggelengkan kepalanya. "Tidak, kali ini aku akan cukup banyak merepotkanmu... Maaf karena sudah menyusahkan." Aoi menundukkan kepalanya dengan sopan. Bagus sih dia anak yang bertanggung jawab dan sopan, tapi bukankah dia bersikap terlalu sungkan? Kami adalah teman masa kecil, jadi dia bisa sedikit lebih akrab, seperti dulu.
"Aoi, kau tidak perlu sungkan. Boleh kok bergantung padaku." "B-bergantung padamu? Aku tidak akan melakukan hal kekanak-kanakan seperti itu!" Aoi membuang muka dengan keras kepala. Hmm, dia cukup teguh pada pendiriannya. Kuharap dia perlahan mau sedikit lebih terbuka seiring berjalannya waktu...
"Kalau begitu, permisi." Aoi melangkah masuk dan melepas sepatu pump hitamnya yang berhiaskan pita di bagian belakang. Ia mengenakan kemeja garis-garis hitam putih dengan celana denim sebagai bawahannya. Di tangannya terdapat sebuah tas jinjing (tote bag) berwarna krem. Pakaiannya simpel namun terlihat sangat nyaman untuk bergerak.
Terakhir kali aku melihatnya, ia masih berseragam sekolah. Ini pertama kalinya aku melihatnya mengenakan pakaian kasual sejak kami bertemu kembali, dan ia tampak sedikit lebih dewasa. Saat aku sedang mengaguminya, pandangan kami bertemu.
"...Ada yang salah?" "Oh, tidak. Aku cuma berpikir pakaian kasualmu simpel tapi terlihat cukup dewasa." "B-benarkah? Terima kasih." "Kau cantik, sungguh." "Pujian tidak akan mempan padaku! Yang lebih penting, ada belek di matamu. Menjijikkan, jadi bersihkan dulu sana, oke?" Aoi merona saat ia membalas ucapanku dan melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Aku memujinya, tapi malah berujung diomeli... Gadis-gadis seusia ini memang rumit." Untuk saat ini, sebaiknya aku mencuci muka dan menyegarkan diri. Saat aku berjalan menuju kamar mandi, tiba-tiba aku mendengar suara dari arah kamar.
"Fuh fuhn fuh-" Itu adalah suara gumaman Aoi yang sedang bersenandung. Ia tampaknya sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Mungkinkah dia senang karena dipuji soal pakaian kasualnya...?
"Haha, dia benar-benar tidak jujur tentang perasaannya." Meskipun ia terlihat lebih dewasa, ia masih memiliki sisi-sisi manis yang khas untuk gadis seusianya. Seraya memikirkan hal itu, aku memercikkan air keran yang dingin ke wajahku.
Setelah selesai bersiap, aku kembali ke kamar. Aoi sudah mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk bersih-bersih. Terdapat kantong sampah, beberapa tali plastik, dan gunting merah muda yang tergeletak di lantai.
"Yuya-kun, kenapa ruang tamunya berantakan sekali...?" Aoi berkata dengan raut wajah kecewa. Ah... aku melakukan kesalahan. Terakhir kali Aoi datang ke sini, aku telah menyembunyikan semua barang yang berserakan ke dalam kamar tidur untuk menutupinya.
Kini, ruang tamu tersebut kembali dipenuhi dengan tumpukan manga dan botol plastik kosong. Aku tidak bisa menyalahkan Aoi karena mengeluh. "Maaf. Aku belum bersih-bersih lagi sejak hari itu..." "Tetap saja, tempat ini terlalu berantakan. Kau benar-benar harus mengubah kebiasaanmu ini, oke?" Ia menggembungkan pipinya saat mengucapkan hal itu. Ugh, aku diomeli lagi.
"Aku benar-benar minta maaf... dan terima kasih sudah menyiapkan peralatan kebersihannya." "Tidak apa-apa. Lagipula, ini akan jadi kamarku juga mulai sekarang... Jadi, mari kita mulai dengan memunguti sampah-sampah ini. Bagaimana kalau kita pisahkan menjadi sampah umum, sampah plastik, botol PET, dan kertas? Aku sudah menyiapkan kantong sampah dan semuanya di sebelah sini." "Mengerti. Biar aku yang mengurus itu."
Aku memungut beberapa botol plastik yang berserakan. "Yuya-kun, jangan lupa lepas label dan tutupnya..." "Aku tahu, aku tahu. Aku akan mengelupasnya dan memilahnya sebagai sampah plastik, kan?" "Oh, kau benar-benar tahu rupanya. Pintar, anak pintar." "Emangnya aku ini anak kecil atau apa?" "Hehe. Saat kau bilang begitu, rasanya ini memang seperti kamar anak kecil."
Selagi Aoi menggodaku, aku membawa botol-botol plastik itu ke dapur. Aku membilasnya sedikit dan memilah label serta tutup botol ke dalam kantong sampah yang sesuai. Sembari bekerja, aku mencuri pandang ke arah Aoi. Ia sedang memilah sampah dan membuangnya dengan sangat cekatan. Fakta bahwa ia melakukannya tanpa keraguan sedikit pun menunjukkan bahwa ia terbiasa membantu pekerjaan rumah tangga. Manga-manga di lantai telah tertata rapi di rak buku, semua volumenya tersusun dengan sempurna. Majalah-majalah tak terpakai lainnya sudah diikat dan siap dibuang kapan saja.
Sejujurnya, aku merasa terkejut. Dulu aku pernah mendengar bahwa Aoi sangat kesulitan dengan pekerjaan rumah. Ia pernah memecahkan piring saat mencucinya, keliru memasukkan sabun cuci piring saat menggunakan mesin cuci, dan dikejar oleh anjing tetangga saat sedang menyapu di luar rumah.
Jadi, selama tujuh tahun kami terpisah, Aoi benar-benar telah tumbuh menjadi seseorang yang sangat bertanggung jawab. Saat aku sedang memperhatikan Aoi bersih-bersih, pandangan kami sempat bertemu selama sejenak.
"Um... apa ada sesuatu yang sedang kau pikirkan?" "Ya. Aku cuma berpikir bahwa kau sangat cekatan. Kau sudah sangat mahir mengurus pekerjaan rumah." "Yah... aku sudah terus berlatih untuk menjadi istri yang baik. Aku ingin menjadi gadis yang bisa kau sukai, Yuya-kun."
Telinga Aoi yang berbentuk indah itu berubah semerah apel. Ia mungkin tidak menyadarinya, tetapi ia sedang menatapku dengan tatapan yang sedikit bergantung padaku. Bukankah tadi dia bilang tidak akan bersikap manja? "Yah, mengesampingkan ceritaku, kau juga harus bisa bersih-bersih, Yuya-kun, kau tahu itu kan?" "Ugh... aku akan berusaha sebaik mungkin." "Hehe. Apakah kau tidak suka bersih-bersih?" "Bukannya aku tidak suka; aku cuma tidak punya tenaga untuk bersih-bersih karena sibuk bekerja..."
"Ngomong-ngomong, tempo hari kau menyebutkan kalau pekerjaanmu juga sibuk... Hmm..." Ekspresi Aoi berubah serius saat ia menopang dagu dengan tangannya, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Raut wajahnya yang serius itu tak lama kemudian berubah menjadi sebuah senyuman. "Kalau begitu, untuk memastikan kau bisa menjalani hari-harimu dengan bahagia, aku akan merawatmu dengan baik, Yuya-kun."
Itu terdengar seperti ucapan seorang istri yang berbakti dan mendukung suaminya. Rasa malu melandaku, dan aku bisa merasakan pipiku memanas. Kenapa teman sekamarku ini memancarkan aura pengantin baru tanpa menyadarinya? Rasanya nyaris menyilaukan.
"Yuya-kun, ada apa?" "B-bukan apa-apa. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" "Hmm... kalau begitu, bisakah kau tolong lap jendelanya? Aku membawa peralatan kebersihannya di dalam tote bag-ku, jadi kau bisa pakai itu—" "Kyaa!"
Saat Aoi mendekati tote bag-nya, ia tersandung kantong sampah di dekatnya. "Awas!" Secara naluriah aku menangkap Aoi untuk mencegahnya terjatuh. "Kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" "Y-Ya... Terima kasih..." "Ada apa? Apa ada yang sakit?" "Tidak, hanya saja... aku merasa malu berada dalam posisi ini."
Kesadaran menghantamku. Lenganku sedang melingkari pinggangnya, mendekapnya erat. Aku bisa merasakan suhu tubuh Aoi melalui lenganku, beserta lekuk tubuhnya yang lembut... terutama dadanya. Payudaranya yang penuh menempel padaku, menciptakan sensasi yang luar biasa mendebarkan.
Aku sadar wajahku kembali memanas. Merasa malu di depan seorang gadis SMA... Aoi benar-benar telah tumbuh dalam berbagai hal. Aku buru-buru melepaskan Aoi dari dekapanku. "M-Maaf! Apa kau tidak suka digenggam seperti itu?" "Tentu saja tidak... Jangan menanyakan hal-hal yang menyebalkan begitu. Dasar bodoh."
Reaksinya yang imut malah membuatku semakin malu. Apa-apaan ini? Apakah kami ini pasangan siswa yang masih lugu? Ini rasanya terlalu manis sekaligus asam di saat yang bersamaan. Saat aku memikirkan cara untuk memecah suasana canggung ini, Aoi tertawa.
"Hehe. Rasanya sedikit mirip seperti waktu kita masih kecil dulu, ya kan? Dulu aku sangat ceroboh, selalu terjatuh dan terluka. Kau selalu menempelkan plester padaku... Mengingatnya saja sudah membawa kembali banyak kenangan." "Ahaha, iya, aku ingat itu. Haruskah aku melakukan hal yang sama seperti dulu? Kau tahu, saat aku bilang, 'Sakit, sakit, pergilah jauh-jauh'?" "Fufu, aku bukan anak kecil lagi. Aku tidak akan melakukan hal kekanak-kanakan seperti itu."
Bahkan saat ia menyangkalnya, Aoi tampak bahagia. Ekspresi polosnya itu sama sekali belum berubah. Manusia berubah seiring berjalannya tujuh tahun—tidak hanya dari segi penampilan, tetapi juga hati mereka. Namun, beberapa jejak masa lalu akan tetap tertinggal, itu adalah hal yang tak dapat disangkal. Itu adalah sore hari di hari pertama kami tinggal bersama saat aku menyadari kebenaran sederhana ini.
"Selesai!" Entah karena rasa pencapaian setelah selesai bersih-bersih atau sekadar karena kelelahan, kata-kata itu meluncur begitu saja. Ruangan itu kini sebersih saat pertama kali aku pindah ke sini. Semua ini berkat Aoi.
Aku telah menugaskan Aoi di kamar bergaya Barat yang terpisah, yang berbeda dari kamar tidurku. Meskipun kamar itu berisi barang-barang pribadiku dan persediaan kebutuhan sehari-hari, jumlahnya tidak banyak. Aku menyingkirkan barang-barang itu, membersihkan ruangannya, dan merencanakannya agar ia bisa langsung menggunakannya begitu barang-barangnya tiba.
Aku berbaring di lantai ruang tamu yang baru saja dipoles, menatap langit-langit dan menghela napas. Pada saat itu, wajah Aoi mengintip ke dalam garis pandangku. "Kita tidak punya waktu untuk istirahat, Yuya-kun. Barang-barangku akan segera tiba." "Ayolah, tidak bisakah kita istirahat sebentar saja?" "Kalau kau beristirahat sekali saja, nanti kau bakal malas untuk mulai bergerak lagi. Sekarang, sebelum barang-barangnya tiba, mari kita periksa letak perabotannya..."
Kruyuk. Suara lucu menggema ke seluruh penjuru ruangan—perutku yang keroncongan. Hanya ada kami berdua di ruangan ini. Kalau bukan aku pelakunya, maka sudah pasti itu Aoi. Aoi memalingkan wajahnya dengan canggung, dan aku menyadari semburat merah di pipinya.
Jadi dia lapar, ya? Dia bisa bilang begitu saja... tapi mungkin memalukan bagi gadis seusianya untuk mengaku bahwa dia 'kelaparan'. Aku bangkit dan mengelus perutku. "Ayo kita istirahat sebentar. Aku tidak bisa bergerak karena aku kelaparan. Aku belum makan apa-apa sejak bangun tidur."
Aku menahan diri untuk tidak menyinggung bunyi perut keroncongan tadi dan malah mengekspresikan rasa laparku. Sebenarnya aku tidak terlalu kelaparan, tapi kupikir Aoi mungkin juga ingin makan sesuatu. "Yah, kurasa kau ada benarnya juga. Pepatah bilang 'pasukan tak bisa bertarung dengan perut kosong', kan. Aku setuju dengan pendapatmu, Yuya-kun."
Aoi mengangguk seolah merasa lega. Dia ini keras kepala sekali... tapi kurasa itu lucu dengan caranya sendiri. "Kau mau makan apa? Bagaimana kalau kita pesan antar (delivery)?" "Itu ide yang buruk. Itu terlalu boros." "Boros? Kau agak terlalu serius, Aoi." "Aku tidak serius kok! Hanya saja kau itu yang terlalu malas." Aoi mengatakan hal itu dengan nada bercanda, tetapi suaranya terdengar lembut. Sepertinya suasana hatinya sedang bagus.
Namun, aku melihat betapa cepatnya ekspresi bahagia di wajah Aoi berubah menjadi raut kekecewaan. "...Apa-apaan ini?" Aoi mengerutkan keningnya saat ia membuka lemari es. "Apa maksudmu dengan, 'apa-apaan ini?' Itu lemari es. Kau tahu kan, alat elektronik." "Aku tahu itu! Yang kutanyakan itu isinya!" Ia menunjuk dengan tegas ke arah bagian dalam lemari es.
"Kenapa kosong melompong begini?" "Coba lihat baik-baik. Ada teh, susu, dan mayones di sana." "Bagaimana dengan sayuran? Daging? Makanan olahan seperti keju atau daging asap...?" "Tidak ada satupun." "Aku tidak percaya ini..."
Aoi membenamkan wajahnya ke kedua tangannya. Kurasa inilah yang bisa kau harapkan dari seorang pria yang tinggal sendiri dan tidak pernah memasak. Bagi sebagian orang, mungkin ada beberapa bumbu tambahan dan bir yang tersimpan di sana.
"Apa yang biasanya kau makan di rumah, Yuya-kun?" "Bento minimarket dan mie instan." "Itu sangat tidak sehat. Kau bisa mati kalau terus-terusan begitu!" "Apakah kau benar-benar harus berkata seperti itu!?!?" "Aku tidak melebih-lebihkannya sama sekali! Kalau kau terus mempertahankan pola makan yang tidak sehat, kau bisa-bisa terkena penyakit serius." "Ugh. Aku tidak bisa membantahnya..."
Bukan hanya pola makanku saja yang buruk, jam kerjaku juga tidak teratur karena sering lembur. Aku punya firasat aku bakal gagal dalam pemeriksaan kesehatanku berikutnya. "Yah, mau bagaimana lagi. Ayo kita pergi ke swalayan dan beli beberapa bahan makanan." "Tunggu, apa?"
Pergi membeli bahan makanan berarti... "Apa kau bilang kau mau memasak untukku, Aoi?" "Ya. Kalau tidak terlalu merepotkan, aku akan dengan senang hati melakukannya." "Itu sama sekali tidak merepotkan! Aku sangat senang mendengarnya. Aku sudah tidak sabar untuk mencicipi masakanmu." "Syukurlah kalau begitu! Itu membuat usahaku terasa sepadan... Hehehe, aku tidak sabar untuk memamerkan keahlianku! Sekarang, ayo kita pergi belanja!"
Tepat saat Aoi mengucapkan hal itu dengan penuh semangat, interkom berbunyi. "Halo! Kami dari perusahaan jasa pindahan!" Aku bisa mendengar suara petugas pindahan dari pintu depan. Barang-barang Aoi telah tiba. "Bisa-bisanya aku lupa kalau aku harus menerima barang-barangku... Aku terlalu terbawa suasana." "Haha, Aoi, kau ini ceroboh sekali." Ketika aku menggodanya, Aoi memelototiku dengan wajah memerah.
"Ugh... Ini semua salahmu karena membiarkan lemari esmu kosong, Yuya-kun!" "Oke, oke, aku minta maaf!" Aku buru-buru meminta maaf dan bergegas menuju pintu masuk, mencoba untuk melarikan diri darinya.
Setelah menerima barang-barang Aoi, kami berganti pakaian dan pergi menuju swalayan terdekat. Matahari mulai terbenam, memancarkan semburat jingga yang menyelimuti kota. Warna hangat mentari senja terasa begitu lembut. Sudah lama rasanya aku tidak menikmati suasana jalanan di sore hari, karena aku biasanya selalu menghabiskan hari liburku bermalas-malasan di rumah.
"Kau mau makan apa, Yuya-kun?" tanya Aoi. "Hmm... Kalau kau yang memasak, aku mau makan apa saja," jawabku. "Itu adalah hal yang paling sulit untuk dikerjakan. Tolong berikan permintaan spesifik padaku." "Kalau begitu... bagaimana dengan hamburger?" "Bukankah kau selalu makan hamburger dari bento minimarket?" "Yah, iya sih. Tapi aku benar-benar ingin makan hamburger buatanmu." "B-begitu ya... dimengerti. Aku akan membuatnya untukmu."
Aoi mulai memikirkan bahan-bahan yang kami butuhkan, bergumam pelan, "Daging giling dan bawang bombai... Kita punya susu di kulkas, kan?" Aku berjalan di sampingnya, menyelaraskan langkahku dengannya. Setelah beberapa saat, kami tiba di tempat tujuan kami, swalayan. Tempat ini merupakan cabang dari sebuah jaringan swalayan besar, yang terkenal dengan harganya yang murah dan variasi produknya yang cukup lengkap. Kurasa penduduk setempat sering berbelanja di sini... meskipun aku sendiri biasanya lebih mengandalkan minimarket.
"Baiklah. Apa yang harus kita beli pertama kali?" tanyaku seraya memegang keranjang belanja. "Ayo kita mulai dari sayur-sayurannya." "Oke. Tadi kau menyebutkan ingin membeli bawang bombai, kan." Aku mengulurkan tangan untuk mengambil beberapa bawang bombai di bagian sayuran terdekat.
"Terima ini!" "Aduh!" Aoi memukul tanganku. "Eh, Aoi? Bukankah kita mau membeli bawang bombai?" "Tidak sembarang bawang bombai bisa dipakai. Kita harus memilihnya dengan cermat." "Kau ini pemilih sekali..."
"Itu karena kau terlalu sembrono, Yuya-kun. Dengarkan baik-baik. Pertama, lihat permukaan bawang bombainya. Pilih yang kulitnya bagus, bersih, dan tidak ada memarnya." "Dimengerti. Kalau yang ini bagaimana?" "Coba kulihat... Terlihat bagus, tapi agak ringan. Kau harus mencari yang lebih berat. Bawang bombai yang lebih berat mengandung lebih banyak air, yang berarti lebih segar dan lezat."
Aoi terus memilih-milih bawang bombai, sembari menjelaskan, "Bawang yang bentuknya lebih mendekati bulat bahkan lebih bagus lagi." "Kau benar-benar menaruh perhatian besar saat memilih bahan masakanmu, ya? Kau berbelanja layaknya seorang ibu rumah tangga yang sudah berpengalaman." "Hehe, aku belum berpengalaman apa-apa kok. Ini pertama kalinya aku memasak untukmu, jadi hari ini pada dasarnya adalah debutku." "Begitu ya. Lantas, debut seperti apa ini untukku?" "Ini adalah debut seorang pria yang dirawat oleh seorang gadis muda." "Terdengar seperti perawatan lansia saja. Sepertinya aku malah debut sebagai pembantu rumah tangga atau semacamnya."
"Selamat atas debutmu, Kakek Yuya!" "Jangan panggil aku kakek!!??" Aku lebih suka dipanggil paman saja. Benar sih Aoi sudah banyak membantuku, tapi 'Kakek Yuya' itu agak kelewatan... tunggu sebentar? Aku sadar bahwa aku sedang digoda oleh Aoi.
Sebagai walinya, sebenarnya akulah yang sedang dirawat oleh seorang anak di bawah umur... Ketika aku menghentikan langkahku, Aoi pun ikut berhenti. "Yuya-kun? Ada apa?" "Um, yah... Aku merasa tidak enak karena telah menjadi wali yang payah. Mulai sekarang aku akan berusaha sebaik mungkin agar bisa lebih diandalkan." "Itu tidak benar. Kau selalu menjadi sosok yang baik dan bisa diandalkan, Yuya-kun. Aku sangat bersyukur kau mau menerimaku kali ini."
"Itu hal yang berbeda. Susah membedakan siapa yang sebenarnya menjadi wali di sini." "Tidak apa-apa kok. Aku sangat senang bisa merawatmu, Yuya-kun." "Meskipun begitu..." "Sebenarnya akulah yang merasa menyesal. Tiba-tiba saja menyela masuk dan bilang ingin tinggal bersama... Aku ini sangat egois, ya kan?" "Aoi..."
Aku tidak menyangka Aoi memiliki perasaan seperti itu... Jadi itulah alasan mengapa ia bersikap sungkan, mengucapkan hal-hal seperti, "Maaf mengganggu." Aku sama sekali tidak berpikir ia egois. "Hei. Apa menurutmu aku ini tipe pria yang akan merasa terganggu hanya karena kau memintaku sesuatu?" "I-itu... kurasa tidak." "Kalau begitu, aku ingin kau lebih banyak bersandar padaku. Jangan sungkan-sungkan. Aku memang terlihat seperti paman tua yang kelelahan, tapi untuk saat ini, aku adalah walimu, Aoi."
"Yuya-kun..." "Um... Kita ini ibarat sebuah keluarga mulai hari ini, kan? Jadi kau boleh bersandar lebih padaku, sama seperti dulu." Mungkin aku terlalu berusaha untuk terdengar keren. Di masa lalu, aku bisa melontarkan kalimat-kalimat memalukan seperti itu dengan mudahnya, tetapi sekarang rasanya sedikit canggung.
Aoi menatapku, ekspresinya tampak penasaran, dan pipinya sedikit merona. "Yuya-kun... Terima kasih. Aku akan berusaha sebaik mungkin." "Bukan, apa maksudmu dengan 'berusaha sebaik mungkin'? Dari mana kau belajar kata itu...? Apa aku benar-benar tidak bisa diandalkan?" "Bukan begitu! Hanya saja... tiba-tiba saja bergantung padamu seperti itu... rasanya mustahil. Ini memalukan."
Aoi membuang pandangannya dariku, gelisah karena malu-malu. Itu sudah pasti pertanda kalau ia ingin bergantung padaku! Ia bahkan sudah bersandar padaku sekarang ini. Hmm... Dia bisa secara tidak sadar bergantung padaku, tetapi dia tidak bisa melakukannya secara sadar. Ini sangat merepotkan.
"Jadi, apa ada sesuatu yang kau inginkan? Apa saja boleh." "Um... Aku tidak bisa memikirkan apa pun. Aku tidak butuh apa-apa, sungguh." "Ini susah ya... Jadi, apa yang kau ingin aku lakukan?" "Apa yang kuingin kau lakukan...?" "Ya. Apa saja tidak masalah."
"Kalau begitu, hanya satu hal." "Apa itu? Katakan saja." "Tolong jangan terlalu menekankan statusmu sebagai 'wali'. Aku, um... Aku ingin menikah denganmu, Yuya-kun. Jadi aku ingin kau lebih melihatku sebagai 'istri'mu... Apakah permintaanku ini berlebihan?" Aoi mengucapkan hal itu dengan ekspresi sedikit merajuk.
Permintaannya yang menggemaskan itu membuat kepalaku pusing. Aneh sekali dia tidak menganggap hal ini sebagai bagian dari 'bergantung padaku'. "Oke, mengerti. Aku akan mengingatnya." "Ah, curang! Kau sedang menghindari pertanyaanku, kan?" "Aku tidak menghindarinya. Aku mengerti perasaanmu. Tapi untuk saat ini, prioritas utamanya adalah agar kau bisa terbiasa dengan kehidupan barumu."
Walaupun kubilang begitu, sejujurnya permintaan Aoi tadi membuat jantungku berdebar kencang. Kami melanjutkan acara belanja kami yang sempat tertunda. Sambil menyusuri lorong swalayan, kami memasukkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat hamburger ke dalam keranjang belanja kami.
Di dalam keranjang itu sudah ada bahan-bahan untuk makan malam dan sarapan besok pagi, bersama dengan beberapa barang kebutuhan sehari-hari. Sepertinya Aoi masih ragu-ragu untuk membeli barang-barang untuk dirinya sendiri.
Aku tidak boleh membiarkannya terus seperti ini... Aku harus berubah agar Aoi bisa merasa nyaman bersandar padaku tanpa perlu bersikap sungkan.
Saat aku sedang tenggelam dalam pikiranku, tiba-tiba Aoi menghentikan langkahnya. Di depan kami berdirilah seorang gadis yang terlihat seumuran dengan Aoi. Gadis itu mengikat rambut pirangnya dengan gaya kuncir kuda (ponytail), mengenakan atasan rajut dengan potongan besar yang mengekspos bahu kanannya, rok pendek, dan sepatu bot hitam. Ia memancarkan aura khas gadis-gadis gal (gyaru).
"Hei! Bukannya itu Aoi-chi?" Gadis itu melambai dan berlari menghampiri kami. Mengingat ia memanggil Aoi dengan nama panggilan akrab, mereka pasti lumayan dekat.
"Oh, Rumi-san! Selamat sore!" "Hai! Aoi-chi, kamu belanja di swalayan ini juga? Keren banget! Aku juga lagi belanja di sini!" "Haha, benar juga ya! Aku tidak menyangka bisa kebetulan bertemu dengan Rumi-san di swalayan ini." "Iya kan? Lucu banget ya!" "Iya, lucu sekali!" Setelah percakapan itu, keduanya saling tertawa bersama.
Tampaknya kedua orang yang terlihat sangat bertolak belakang ini secara mengejutkan dapat berteman akrab. Sangat melegakan melihat bahwa Aoi punya teman di sekolahnya. Aku harus melaporkan hal ini pada Bibi Ryoko nanti.
"Yuya-kun, izinkan aku memperkenalkanmu padanya. Ini adalah Rumi Kanbe. Dia teman sekelasku." "Salam kenal! Aku Rumi!" "Salam kenal juga! ... Eh? Tunggu sebentar?"
Entah mengapa, Rumi menatapku dengan sangat lekat. Ada apa ini? Apa ada sesuatu di wajahku? "... Apakah Yuya-san ini kakak laki-lakinya Aoi-chi atau semacamnya?" "Ehh?" Rumi mengalihkan pandangannya dariku dan menoleh ke arah Aoi.
"Hei, Aoi-chi. Apa dia ini kakakmu? Kalian berdua tidak terlihat terlalu mirip, dan jarak usianya juga sepertinya lumayan jauh, ya kan?" "A-Apa? Yah, um..." Aku tidak mungkin mengatakan kalau kami adalah teman serumah. Tapi aku juga tidak bisa memikirkan kebohongan yang bagus. Aoi terlihat panik, memasang ekspresi kebingungan.
"Ya ampun, jangan-jangan—kalian berdua ini sedang menjalin hubungan rahasia ya?" "B-Bukan! Bukan begitu, tapi, um..." "Aduh, bikin gemas saja deh! Kalau begitu, mari kita tanyakan langsung pada Yuya-san. Jadi, Yuya-san, hubungan seperti apa yang kau miliki dengan Aoi-chi?"
"Umm, coba kupikir..." Aku sudah pasti takkan bisa menjelaskan kalau aku adalah walinya. Sebagai gantinya, aku memutuskan untuk menyembunyikan detail-detail yang spesifik dan hanya menyampaikan perasaanku.
"Aoi adalah seseorang yang sangat penting bagiku."
Segera setelah aku menyuarakan isi pikiranku, kulihat wajah Aoi yang berada di sebelahku merona merah padam. Entah mengapa, ia membuka dan menutup mulutnya seolah ingin berkata, "Apa yang kau bicarakan, Yuya-kun?!"
"Tunggu, seriusan? Punya pacar yang lebih tua? Itu sih lucu banget! Aku suka!" Mata Rumi berbinar-binar saat ia meraih kedua tangan Aoi dan mengguncangkannya naik turun. Yah, padahal sebenarnya aku ini bukan pacarnya. "Aoi-chi! Kamu luar biasa! Di mana kamu bisa dapat pacar setampan ini!?"
"D-di mana... yah, um... dia adalah seseorang yang dulu sering menjagaku waktu kami masih tinggal berdekatan..." "Dulu tinggal berdekatan... tunggu, apakah ini situasi teman masa kecil!?!? Astaga! Itu terlalu sempurna, Aoi-chi! Persis seperti di drama—bisa disingkat jadi Emo-chi (Emosional)!" "Tolong berhenti memberiku julukan yang aneh-aneh! Dan, um, tolong rahasiakan hal ini antara kita saja dan jangan bilang siapa-siapa di kelas..."
"Oke, baiklah, tapi syaratnya nanti kamu harus ceritakan semuanya padaku. Hei, kalian berdua sudah berciuman belum?" "Tentu saja belum!!" Aoi melayangkan protes, menjadi salah tingkah oleh sikap Rumi yang terlalu blak-blakan. Penyebutan kata "ciuman" tampaknya membuatnya semakin malu.
Saat aku sedang memperhatikan mereka berdua saling bercanda, ponsel Rumi tiba-tiba berdering. "Oh, ibuku... dia sepertinya marah, 'Di mana belanjaannya?' Ups, gawat. Aoi-chi, aku harus pergi sekarang." "Oke, tapi tolong, ingat untuk merahasiakan hal ini..." "'Jaga agar tetap tertutup rapat', kan? Tenang saja. Tolong jaga Aoi-chi untukku ya, Yuya-san!" "Ya, dan aku juga akan sangat berterima kasih kalau kau mau terus menjadi temannya." "Ooh, kedengarannya dewasa banget! Pasti! Sampai jumpa, kalian berdua!"
Dengan lambaian tangan yang ceria, Rumi berlari menuju bagian makanan laut. "Dia gadis yang ceria dan sangat ramah, ya?" "Yang lebih penting, Yuya-kun, kenapa kau malah bilang begitu saat Rumi-san bertanya tentang hubungan kita?" "Memangnya kenapa? Itu bukan hal yang besar, kan. Aku tidak yakin dia bakal menyimpulkan kalau kita tinggal serumah hanya dari ucapanku tadi. Dan lagipula, kau tidak menyangkal soal 'pacar' itu, kan?"
"I-itu karena... aku sebenarnya agak senang disangka sebagai pacarmu..." "Maaf, apa tadi? Aku tidak mendengarnya dengan jelas." "B-bukan apa-apa! Cuma, tolong berhati-hatilah dengan ucapanmu. Kau sendirilah yang akan mendapat masalah kalau sampai orang-orang salah paham." "Iya, kau benar... maaf kalau perkataanku menyebabkan kebingungan. Tapi memang benar kok kalau kau itu sangat penting bagiku, Aoi."
"Nngh... Jangan mengatakan hal-hal semanis itu... Itu namanya curang." Aoi bergumam seraya memalingkan pandangannya, pipinya masih memerah karena malu. "...Curang sekali karena cuma aku saja yang jadi salah tingkah. Dasar bodoh." "Tunggu, apa kau marah?" "Aku tidak marah. Dasar bodoh."
Meskipun ia berkata begitu, fakta bahwa ia terus menambahkan kata "bodoh" di akhir kalimatnya membuatku agak khawatir... "...Hehe, Yuya-kun, ekspresi bingung di wajahmu itu sebenarnya lumayan imut juga lho." Aoi tersenyum tersipu.
Aku benar-benar tidak paham, tapi... kalau dia sudah tersenyum begitu, berarti dia memang tidak sedang marah, kan? "Baiklah, Yuya-kun. Ayo kita ke kasir." "Iya. Ayo cepat pulang. Aku sudah kelaparan di sini." "Hehe, kau seperti anak kecil saja, mengeluh karena lapar."
Uhm, bukannya perutmu sendiri baru saja keroncongan beberapa saat yang lalu? ...Lebih baik aku menahan diri untuk tidak menggodanya soal itu. Aku sudah bisa membayangkan ia akan kembali memanggilku "bodoh".
"Selamat menikmati!" Aoi melepas celemeknya dan duduk berhadapan denganku.
Di atas meja, tersaji stik hamburger saus demi-glace yang aku minta. Hidangan itu disajikan dengan pelengkap berupa telur mata sapi, tomat ceri, dan kentang goreng. Sepiring besar selada Caesar juga tertata dengan rapi. "Wah! Kelihatannya enak sekali!" "Hehe, ini adalah masakan yang kubuat dengan segenap kemampuanku. Ayo makan sebelum dingin." "Iya. Ayo kita mulai makan!"
Ketika aku memotong stik hamburger itu, sari dagingnya langsung meleleh keluar. Pada saat itu juga, aku sangat yakin bahwa rasanya akan luar biasa. Di bawah tatapan Aoi yang cemas, aku mengambil sepotong daging seukuran gigitan dan membawanya ke mulutku.
Saat aku mengunyahnya, stik hamburger itu langsung lumer di mulut. Dagingnya sangat empuk dan juicy. Sari daging yang panas melapisi lidahku, dan rasa gurih dari dagingnya benar-benar luar biasa. Saus demi-glace-nya sangat kaya dan penuh cita rasa.
Aku sampai tak bisa mengingat kapan terakhir kali aku makan stik hamburger selezat ini. Rasanya jauh lebih enak daripada makanan minimarket mana pun yang biasa kumakan. "Hah... Aoi, ini luar biasa!" "Benarkah? Syukurlah!" Aoi menghela napas lega.
"Yuya-kun, pastikan kau makan sayurannya juga, ya? Makanan minimarket dan mie instan itu tidak memberikan nutrisi yang cukup. Kau butuh asupan serat dan vitamin yang memadai." "Caramu bicara itu terdengar seperti seorang ibu." "Hei, aku ini masih gadis SMA tahu."
Ia menggembungkan pipinya, terlihat begitu imut sampai-sampai aku tak kuasa menahan tawa. "Haha, maaf. Tapi serius, aku sangat terkesan. Tadi kau bilang sudah berlatih menjadi istri yang baik, tapi keterampilan memasakmu ini benar-benar luar biasa." "Aku ingin memasak makanan yang lezat untukmu, jadi aku bekerja sangat keras untuk mempelajarinya." "...Aoi, kau luar biasa. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi orang dewasa yang pantas bersanding di sisimu."
"Itu sama sekali tidak benar... Yuya-kun sudah sangat—tunggu, jangan makan terlalu cepat, nanti kau tersedak!" "Aku tak bisa berhenti. Ini terlalu lezat." "B-benarkah...? Ah, Yuya-kun, ada saus yang belepotan di mulutmu."
Aoi mengambil selembar tisu, mencondongkan tubuhnya ke arahku, dan menyeka sudut mulutku. Tindakan yang tiba-tiba itu membuat jantungku berdegup kencang. "Nah, sudah bersih. Sejujurnya, kau kan bukan anak kecil lagi." "Ah, iya. Terima kasih..."
Aku pun menyadarinya... Aku benar-benar sedang diurus oleh gadis yang lebih muda dariku. Rasanya sedikit memalukan, tapi di saat yang sama juga sangat menenangkan. Hidangan yang hangat ini, dibagikan bersama seseorang yang istimewa, adalah sesuatu yang tidak bisa kurasakan saat tinggal sendirian. Meskipun ini baru hari pertama kami tinggal bersama, aku menyadari diriku benar-benar menikmati kehidupan berdua ini.
"Yuya-kun, masih ada sisa nasi kalau kau mau tambah." "Terima kasih, aku mau tambah sedikit." "Hehe, makanlah sebanyak yang kau mau."
Melihat senyum lembut Aoi membuat otot-otot di pipiku ikut mengendur. Sepanjang makan malam, kami berdua menikmati momen kebersamaan yang benar-benar membahagiakan.
Setelah makan malam, Aoi bertugas mencuci piring sementara aku bertugas mengeringkannya. Ia meneteskan sabun cuci piring ke atas spons, dengan mudahnya membuat busa berlimpah dan membersihkan piring-piring itu dengan sangat cekatan. Sekali lagi, hal ini menyadarkanku betapa mahirnya ia dalam mengurus pekerjaan rumah tangga.
Setelah semua piring selesai dicuci, kami mengobrol sejenak sebelum pembicaraan beralih ke paket-paket pindahan yang tiba tadi siang. Totalnya ada lima kotak, dan beberapa di antaranya cukup berat. "Yuya-kun, soal membongkar barang-barang itu..." Aoi melirik ke arah kotak-kotak itu, tampak ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu.
...Ia sudah membersihkan kamar, pergi berbelanja, dan bahkan memasak makan malam. Ia pasti lelah. "Sejujurnya, aku lebih memilih untuk membongkarnya besok. Aku sedang ingin bersantai malam ini." "Benar juga, itu ide yang bagus. Besok kan masih akhir pekan, jadi ayo kita lakukan itu besok saja," jawab Aoi sembari menghela napas lega. Aku harap ia bisa lebih terus terang saja dan bilang, "Aku terlalu lelah untuk membongkar barang-barang hari ini."
Aku bangkit dan memindahkan kotak-kotak itu ke dalam kamarnya. "Jadi... apa yang harus kita lakukan sekarang?" "Kalau kau mau, kau bisa mandi duluan. Aku tidak masalah mandi belakangan." Ia menambahkan, "Aku sudah memanaskan airnya untukmu." Tindakan dan kata-katanya benar-benar layaknya seorang istri yang sempurna.
"Yah... kalau begitu, aku akan mandi duluan." "Oh, ngomong-ngomong, samponya hampir habis." "Masa sih? Kukira kita masih punya stok."
Aku mencatat dalam hati untuk membeli sampo lagi besok... lalu tiba-tiba sebuah ide terlintas di benakku. "Aoi, bagaimana kalau kita pergi berbelanja besok sore setelah selesai membongkar barang-barang?" "Hah? Hanya kita berdua?" "Iya. Kita bisa santai saja, mengobrol santai sambil belanja."
Hari ini, aku menghabiskan waktu bersama Aoi untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Aku merasa aku mulai memahami hal-hal apa saja dari dirinya yang telah berubah dan hal-hal apa saja yang masih tetap sama. Akan tetapi, masih banyak hal yang belum kuketahui tentang dirinya—seperti bagaimana kehidupan sekolahnya. Besok, aku akan mengajaknya berbelanja dan mungkin mampir untuk minum kopi. Itu akan menjadi kesempatan yang bagus untuk mendengarkan ceritanya tentang masa-masa di sekolah.
Aoi tersenyum bahagia. "Belanja... Kita bisa pergi keluar bersama lagi." "Baiklah, aku akan ikut juga. Kalau kuserahkan semuanya padamu, kau pasti akan berakhir membeli banyak barang yang tidak berguna." "Meskipun kau mengatakannya sambil tersenyum, itu tetap saja sebuah sindiran..." "Kau bilang sesuatu?" "Tidak, hanya saja Aoi itu semanis biasanya." "Ugh, apa kau memperlakukanku seperti anak kecil lagi?" "Haha, tentu saja tidak. Kalau begitu, aku pergi mandi dulu, ya."
Aku melangkah menuju ruang ganti di bawah tatapan pura-pura kesalnya, memasukkan pakaianku ke keranjang cucian sebelum melangkah masuk ke kamar mandi. Pancuran air hangat membasahi kepalaku saat aku mengembuskan napas panjang. "Huft... hari yang panjang."
Sambil menyampoi rambutku, aku merenungkan kejadian-kejadian yang terjadi hari ini. Aoi memang beberapa kali menggodaku di sana-sini, tetapi sebagian besarnya semata karena ia mengkhawatirkanku. Kata-katanya sama sekali tidak menyakiti, melainkan penuh dengan kebaikan. Menghabiskan waktu bersama sangatlah menyenangkan—bersih-bersih, berbelanja, dan menikmati makanan yang dimasaknya... Sejujurnya, "kemampuan istri" Aoi benar-benar dipamerkan secara penuh hari ini.
Ia memang pernah bilang kalau dirinya sudah berlatih untuk menjadi istri yang baik... Ia pasti telah berusaha dengan sangat keras. "Kurasa aku juga tidak boleh bermalas-malasan. Aku harus bisa memosisikan diriku dengan baik dan menjadi orang dewasa bertanggung jawab yang bisa ia andalkan."
Setelah membilas sisa-sisa sampo di rambutku, aku mematikan pancuran air. Tepat pada saat itu, aku mendengar suara pintu dibuka. "Permisi," suara Aoi terdengar dari belakangku.
Aku berbalik dengan penuh kehati-hatian. Dan di sanalah ia berdiri, dengan sehelai handuk yang membalut tubuhnya, gelisah karena gugup. Bahkan dari balik handuk pun, terlihat jelas betapa bagusnya proporsi tubuhnya. Justru karena handuk itu melekat ketat di tubuhnyalah lekuk tubuhnya jadi semakin menonjol.
Bukan cuma tubuhnya saja yang memancarkan aura seksi. Tonjolan tulang selangkanya, tahi lalat di dekat belahan dadanya, dan rona merah di kulitnya, semua itu berpadu menciptakan daya tarik dewasa yang sangat memikat. Sosoknya terlalu dewasa untuk anak seusianya, membuatku tak bisa berkata-kata.
"U-Um... tolong jangan menatapku seperti itu. Itu, yah, memalukan..." "M-Maaf!" Aku buru-buru memalingkan pandanganku, dan menggunakan sebuah handuk untuk menutupi bagian depanku. "Jadi, uh... apa yang membawamu ke mari? Ada yang kau perlukan?" "Yah, aku pikir... aku bisa membantu menggosok punggungmu."
Aku tak salah dengar. Ia benar-benar baru saja bilang, "menggosok punggungmu". "Uh... oke, Aoi, ayo kita tenang sedikit." "Aku tenang kok. Lagipula, menggosok punggung seseorang yang kau sayangi itu hal yang sangat wajar, bukan?" "Tidak, tidak juga. Bukankah ini agak terlalu memaksakan diri?"
"Aku tidak memaksakan diri! Aku melakukan ini karena aku menginginkannya," desaknya, menuangkan sabun cair ke waslap dan membuat busa dengan sangat cekatan. "Aku akan menggosok punggungmu sekarang." "Tunggu—tahan sebentar...!"
Sebelum aku sempat menghentikannya, waslap itu sudah menyentuh punggungku dengan lembut. "Nn... nah, begini... gosok, gosok..." Saat Aoi menggerakkan waslap itu naik turun dengan penuh semangat, embusan napas manis lolos dari bibirnya yang menggoda. Ia mungkin tak menyadarinya, tetapi setiap gerakannya sungguh luar biasa memikat.
Gambaran Aoi yang terbalut handuk mandi itu tercetak jelas di benakku. Kaki jenjangnya sangat indah, dan pemandangan belahan dadanya benar-benar menghancurkan akal sehatku. Aku tak perlu menyuarakan apa yang sedang kupikirkan, tetapi jelas sekali terlihat bahwa dadanya nyaris tak tertutupi oleh handuk tersebut.
"Yuya-kun... punggungmu benar-benar bidang. Dan kuat." "A-Apa??" "Punggung pria memang selebar ini, ya?" "Ah... i-iya! Punggung, kan?"
Untuk sesaat, aku sempat panik mengira handuk yang kugunakan untuk menutupi tubuhku terlepas. Aku harap ia tak menggunakan pilihan kata yang ambigu seperti itu. Sejujurnya, aku merasa cukup kebingungan. Mandi bersama seperti ini sama sekali tidak mencerminkan sifat Aoi yang kukenal. Rasanya ini sama sekali bukan dirinya. Apa tujuannya sebenarnya?
"Hei, Aoi. Kenapa kau melakukan ini?" "...Kurasa aku masih merasa sedikit cemas." "Eh?" Aku menoleh untuk menatapnya, tidak begitu memahami maksud dari perkataannya.
"Aku... aku khawatir kalau aku terlalu menyusahkanmu karena tiba-tiba saja muncul di hadapanmu. Aku pikir mungkin kau hanya bersikap baik dan merawatku murni karena merasa berkewajiban..." "Aoi..." "Karena itu, setidaknya aku ingin membalas kebaikanmu dengan suatu cara. Aku ingin berguna untukmu, meski hanya sedikit. Kalau aku merasa tidak dibutuhkan olehmu, aku jadi mulai cemas tinggal di kamar ini..."
Suaranya yang rapuh menggema dengan penuh kesedihan di dalam kamar mandi. Apa yang sedang dibicarakannya ini? Aku tidak mungkin bisa merasa bahagia dengan semua ini jika ini semua ia lakukan murni karena kewajiban. Aku merasa sangat menyedihkan karena telah menempatkan Aoi dalam posisi yang membuatnya merasa seperti ini. Satu-satunya alasan kenapa kau ada di kamar ini adalah karena kau ingin bersamaku.
"Itu sama sekali tidak benar, Aoi. Aku ingin melindungimu, itulah sebabnya aku setuju agar kita tinggal bersama. Aku sama sekali tak menganggapmu sebagai beban. Jadi kumohon jangan berpikir kalau kau harus membalas budi padaku atau membuat segalanya jadi rumit." "Tapi aku belum bisa membalas kebaikanmu dengan cara apa pun..." "Ya, tapi kurasa di sanalah letak kesalahanmu." "Eh?"
"Tentu saja aku merasa bahagia saat kau memasakkan makanan untukku dan membantuku. Tapi menurutku, itu bukanlah sesuatu yang harus kau rasakan sebagai sebuah kewajiban. Sama sekali tidak masuk akal jika kau harus melayaniku hanya agar kau bisa tinggal di sini. Tempat ini sudah menjadi rumahmu." "Yuya-kun..."
"Memasak dan membantu urusan rumah, ya? Jangan mengatakan hal menyedihkan seperti, 'Aku harus melakukan ini agar bisa tinggal di kamar ini.' Aku ingin kau mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan kecepatanmu sendiri, tanpa merasa tertekan. Hal yang paling membuatku bahagia adalah saat kau bisa menjalani setiap hari dengan senyuman dan tanpa menahan dirimu sendiri, mengerti?" Saat aku mengutarakan hal itu, pipiku terasa panas.
Aku mungkin terdengar terlalu berusaha keren. Dulu aku bisa mengucapkan kalimat seperti ini dengan mudahnya, tetapi sekarang rasanya sangat sulit bagi paman tua yang lelah ini. "Yah, tolong bersabar saja dengan ruang yang sempit ini, oke? Aku terlalu sibuk untuk pindah ke tempat yang lebih besar. Haha."
Aku mencoba menyembunyikan rasa maluku dengan sebuah candaan, dan Aoi pun tersenyum lembut. "Aku mengerti. Yah... ini mungkin tidak bisa terjadi seketika, tapi aku sedang mencoba mengubah sudut pandangku. Aku akan berusaha sebaik mungkin."
Tidak, tidak. Caramu menyampaikannya itu malah terdengar seperti kau sama sekali tidak akan berubah, iya kan? Aku berpikir begitu, tapi aku memutuskan untuk menahan diri dari menggodanya. Aoi memiliki langkahnya sendiri. Meskipun hanya perlahan-lahan, itu tidak masalah. Aku seharusnya mendukungnya saja sebagai sesama orang dewasa.
Tepat saat aku merasa lega karena semuanya sudah terselesaikan, Aoi tiba-tiba mulai gelisah. "Hmm? Ada apa?" "Yah, um... Aku pikir aku harus menggosok bagian depanmu sekarang." "...Barusan kau bilang apa?"
Itu sudah pasti ide yang sangat buruk. Aku juga pria normal. Jika ia mulai menggosokku di sana, aku tidak bisa memungkiri kemungkinan kalau akal sehatku mungkin akan benar-benar menguap. Aku menghadap Aoi dan mencengkeram erat kedua bahunya. "Y-Yuya-kun?" "Aku sangat menghargai perasaanmu, Aoi. Tapi aku ingin kau berhenti melakukan hal-hal semacam ini."
"Tidak apa-apa kok, ini tidak apa-apa, sungguh." "Aku juga seorang pria! Kalau kau melakukan ini, siapa yang tahu kapan aku mungkin pada akhirnya akan memanfaatkanmu?" "K-kau akan menyerangku!?!?" Wajah Aoi berubah menjadi merah padam, seolah-olah pipinya merona karena malu.
"Benar sekali. Sangat mungkin kalau aku bisa saja mendorongmu jatuh sekarang juga, tahu?" "M-mendorongku jatuh...?" "Kau bukan anak kecil lagi, Aoi. Kau mengerti maksudku, kan? Itu hanya menunjukkan betapa memikatnya dirimu." "A-aah... T-tidak, itu tidak boleh..."
"Aku juga setuju. Dan karena kau sudah mengerti, aku ingin kau pergi dari sini sekarang." "T-tapi..." "Apa kau yakin kau mau aku mendorongmu jatuh? Apa tidak masalah?" "A-aku pergi sekarang!"
Aoi pasti merasa sangat malu, karena ia langsung berlari keluar dari kamar mandi secepat kelinci yang terkejut. Misi terselesaikan. Aku membasuh tubuhku di bawah kucuran shower lalu menenggelamkan diri ke dalam bak mandi (bathtub). Mungkin karena aku baru saja terbebas dari ketegangan tadi, sebuah helaan napas meluncur keluar.
"Hah... Kalau ada gadis sememikat dirinya yang mendekatiku seperti itu, akal sehatku pasti akan goyah..." Aku bertanya-tanya apakah Aoi sedang merasa dadanya berdebar-debar di luar sana. Dengan mata terpejam, aku menenggelamkan diri lebih dalam ke dalam kehangatan air, terlarut dalam pikiran-pikiran tersebut.
Tepat sebelum tidur, insiden lainnya kembali terjadi. Saat ini, aku sedang duduk di lantai berhadapan dengan Aoi, yang telah mengenakan piyamanya, mendiskusikan masalah yang sedang kami hadapi. Topiknya adalah "pengaturan tempat tidur kami".
"...Aku agak sedikit bingung. Aoi, bisakah kau menjelaskannya lagi dengan lebih jelas?" "Ya. Aku sudah membeli kasur futon baru, tapi barangnya tidak ikut dikirimkan hari ini. Kasurnya baru dijadwalkan tiba besok. Jadi, aku ingin tidur di ranjang yang sama denganmu malam ini, Yuya-kun."
"Maaf, tapi itu mustahil." Aku menjawabnya tanpa ragu. Apakah ia sudah melupakan interaksi kami di kamar mandi tadi? "K-kenapa tidak?" "Aoi, kalau kita tidur di ranjang yang sama dan terjadi sesuatu yang tidak beres, itu akan jadi masalah, kan? Aku akan tidur di lantai. Kau bisa pakai ranjangnya." "Itu tidak boleh. Akan sangat gawat kalau kau sampai masuk angin."
"Aku akan baik-baik saja hanya untuk satu malam ini." "Kecerobohan semalam saja bisa memicu datangnya penyakit! Kau bisa-bisa menyakiti tubuhmu sendiri. Bagaimana jadinya kalau itu memengaruhi pekerjaanmu?" "Tapi tetap saja, tidur di ranjang yang sama itu..." "Kumohon. Aku mengkhawatirkan kesehatanmu, Yuya-kun."
Tampaknya Aoi sama sekali tidak punya niat untuk mengalah. Dengan wajah imutnya itu, ia secara mengejutkan ternyata sangat keras kepala. Aku memahami jalan pikirannya; aku pun juga tidak ingin ia sampai masuk angin, karena itulah aku menyarankan agar ia yang memakai ranjangnya. Ugh... Kurasa aku harus menahannya hanya untuk hari ini saja.
"Baiklah. Kita bisa tidur bersama khusus untuk malam ini." "Terima kasih! Maaf sudah merepotkan." "Tidak kok, aku tidak merasa ini merepotkan sama sekali."
Kenyataannya, aku dengan tulus merasa bahagia karena Aoi mengkhawatirkan kesehatanku. Namun, aku tak bisa mengatakannya keras-keras, karena itu hanya akan menciptakan suasana manis yang aneh. Kami mematikan lampu dan naik ke ranjang bersama. Karena tak ingin saling bertatapan saat kami tidur, aku berbaring memunggunginya. Tentu saja, ukuran ranjang ini bukanlah double; ini adalah ranjang single. Dengan kami berdua menempati ranjang sekecil ini, otomatis jarak di antara kami pun menipis.
Aku bisa mendengar embusan napas Aoi yang lembut di belakangku. Pada titik ini, aku merasa segalanya mulai menjadi sedikit di luar kendali... "...Ranjang ini beraroma seperti dirimu, Yuya-kun." "Hah? A-apa baunya tidak enak?" "Tidak. Aromanya terasa familier... dan sangat menenangkan."
Suara lembutnya yang berbisik di telingaku sedikit menggelitik, membuatku menggeliat pelan. Aku ekstra berhati-hati agar tak sampai menyentuhnya. "...Apakah terasa sempit, Yuya-kun?" "Yah, namanya juga ranjang untuk satu orang, jadi mau bagaimana lagi." "Um... kau boleh merapat lebih dekat kalau kau mau. Kita boleh kok berpelukan... Lagipula tempatnya memang sempit, mau bagaimana lagi."
Suaranya memiliki nada manis yang sangat mengundang. Aoi, tolong berhentilah tanpa sadar bersikap seimut ini. Seperti yang kubilang di kamar mandi tadi, aku juga pria normal. "Terima kasih, tapi kurasa aku akan tetap di posisi ini saja... Selamat malam, Aoi." "Oke. Selamat malam."
Setelah saling mengucapkan selamat tidur, aku memejamkan mata. Dalam keheningan, waktu pun berlalu dengan perlahan. ...Aku tidak bisa tidur. Memang menyedihkan, tapi sepertinya aku terlalu tegang dalam situasi semacam ini. Aku bertanya-tanya apakah Aoi sudah tertidur.
Saat aku sedang memikirkan hal ini, ia angkat bicara. "Yuya-kun, apa kau masih bangun?" "Iya, aku masih bangun." "Sepertinya aku belum bisa tidur. Tolong ceritakan satu kisah yang menyenangkan sampai aku tertidur, ya." "Itu permintaan yang sangat tidak masuk akal... Maksudku, kalau aku menceritakan kisah yang seru, bukankah kau malah akan terus terjaga?" "Kalau begitu ceritakan saja apa pun."
"Yah, kalau begitu... bagaimana dengan cerita dari masa lalu? Waktu kita pindahan, kenapa kau bilang ingin menikah denganku?" "...Mengungkit-ungkit topik itu tidak adil namanya. Sungguh, kau sama sekali tidak punya kepekaan." "M-Maaf. Kalau begitu ayo kita ganti topik." "Tidak apa-apa, kok. Ayo kita mengobrol."
Aoi dengan lembut menarik lengan piyamaku. "Waktu kita masih kecil, secara alami aku mulai menyukaimu saat kita bermain bersama. Tanpa kusadari, aku mulai berpikir, 'Aku ingin menjadi istri orang ini'... tapi sekarang, kau agak pemalas, jadi nilaimu berkurang. Kau harus memperbaiki kebiasaanmu itu, ya?" "Y-Ya. Aku akan berusaha sebaik mungkin." "Aku mengandalkanmu, lho."
Ia terkekeh pelan, menggodaku. Suaranya terdengar mulai jauh lebih mengantuk. "Yuya-kun... bagiku kau adalah sosok kakak laki-laki yang sangat ideal, kau tahu?" "...Begitu ya." "Iya... kau baik hati, bisa diandalkan, dan serba bisa melakukan segalanya... Aku sudah mencintaimu sejak lama."
Citra masa lalu itu sangatlah jauh berbeda dengan sosok lelah diriku di masa dewasa ini. Apakah aku benar-benar sekeren itu dulu? "Aoi, aku akan kembali menjadi pria yang memancarkan kecemerlangan seperti dulu. Pria keren yang kau kagumi." "Zzz... zzz..."
"...Haha, dia malah sudah ketiduran." Memutar kepalaku sembari masih memunggungi tubuhnya, aku melihat wajah Aoi yang sedang terlelap; begitu damai dan bahagia. "Kurasa aku juga harus segera tidur." Aku kembali menghadap ke depan dan memejamkan mataku. Tak butuh waktu lama hingga rasa kantuk benar-benar menguasai diriku.
Langit senja memeluk kota dengan lembutnya. Di depanku terbentang sebuah taman bermain. Ada perosotan, kotak pasir, palang panjat (monkey bar), dan jungle gym—peralatan bermain khas yang sering kau temui. Di salah satu sudut, menjulang sebuah menara jam yang tinggi. Itu adalah menara jam berdesain unik yang dihiasi dengan pahatan sayap malaikat.
Tak diragukan lagi... ini adalah taman tempat aku pertama kali bertemu dengan Aoi, di kota tempat tinggalku dulu. Saat aku mengenang kembali tempat yang penuh dengan memori ini, aku menyadari bahwa aku pasti sedang memimpikan peristiwa dari masa laluku.
Ketika Aoi meninggalkan kota itu, beberapa peralatan bermain di taman tersebut ikut disingkirkan, termasuk jungle gym-nya. Rasanya aneh melihat jungle gym itu masih berdiri di sana persis seperti dulu. Saat aku menyapukan pandangan ke sekeliling taman, aku menyadari keberadaan seorang gadis kecil di dalam kotak pasir. Ia masih kecil, sekitar seusia anak yang baru masuk sekolah dasar. Itu pasti adalah sosok Aoi semasa kecil.
Aoi sedang menangis, lututnya lecet-lecet. Kalau aku tidak salah ingat, ia tersandung di kotak pasir dan melukai dirinya sendiri. Tiga anak laki-laki sebayanya mengelilinginya. "Ha! Kamu jatuh lagi!" "Gadis ceroboh! Bodoh banget!" "Rasakan itu akibatnya karena main di kotak pasir! Sana main rumah-rumahan saja di rumah!"
Salah satu anak laki-laki itu memegang sebuah boneka beruang mungil dengan pita. Itu adalah beruang yang sering Aoi pakai saat sedang bermain peran. "Ugh... hiks... kembalikan boneka beruangku!" "Nggak mau! Nih, tangkap!" "Hei! Ayo ambil sini!"
Anak-anak laki-laki itu mulai saling melempar boneka hewan tersebut. Aoi dengan putus asa mengejar mereka ke sana kemari, namun tak ada tanda-tanda ia akan berhasil mendapatkannya kembali. Selagi aku menyaksikannya dengan hati yang berat, seorang anak laki-laki berseragam sekolah muncul di sudut pandanganku. Tanpa keraguan sedikit pun, ia berlari ke arah kerumunan anak-anak nakal itu.
Anak laki-laki itu adalah... diriku semasa SMP. Aku bergegas menghampiri tempat di mana Aoi sedang menangis. "Maaf Kakak terlambat! Kakak salah mengira tempat pertemuannya! Ini cuma kesalahan kecil dari 'Kakak laki-laki'mu ini, lho!"
"Hah? K-Kakak...?" Aoi terlihat kebingungan. Tentu saja; Aoi adalah anak tunggal dan tidak punya kakak laki-laki. Ia pasti tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh anak SMP di depannya itu.
"Ayo, kita pulang! Ibu bilang dia bikin kari kesukaanmu hari ini!" Aku terus melanjutkan peranku sebagai "kakak palsu". Tujuanku adalah untuk membuat anak-anak laki-laki itu menyadari keberadaan seorang kakak laki-laki yang mengintimidasi yang akan datang menolong Aoi jika mereka merundungnya. Dulu aku pikir itu adalah langkah yang sangat cerdas untuk ukuran anak SMP.
Membelakangi Aoi yang masih kebingungan, aku menghadap ke arah anak-anak laki-laki itu. "Bisa kembalikan boneka hewan itu?" "Hah?" "Kalian paham kan maksudku? Itu teman penting adik perempuanku." "I-Iya..."
Salah satu dari ketiga anak laki-laki itu dengan patuh mengembalikan bonekanya. Di mata anak kecil, anak SMP mungkin sudah terlihat seperti orang dewasa. Sedikit gertakan saja sudah cukup untuk membuat mereka ciut ketakutan. Aku melemparkan senyum pada anak-anak nakal itu.
"Dan... tolong jaga adikku baik-baik ya, oke?" Saat aku mengucapkan hal itu dengan nada yang sedikit direndahkan, anak-anak laki-laki itu mengangguk kuat-kuat lalu buru-buru berlari pergi. Tampaknya rencanaku berhasil.
Aku mengembalikan boneka hewan itu kepada Aoi. "Ini untukmu." "Um... Kakak ini siapa? Aku tidak punya kakak laki-laki." "Ahaha, itu cuma bohong. Itu sekadar mantra kecil untuk memastikan anak-anak nakal tadi tidak menjahilimu lagi." "Uh...?"
"Oh... apakah akan lebih mudah dimengerti kalau kubilang ini keajaiban sihir? Kakak merapal mantra sihir supaya kamu tidak di-bully lagi." "Apa Kakak benar-benar bisa menggunakan sihir?" "Kakak bisa. Keahlian Kakak adalah sihir yang membuat gadis yang sedang menangis kembali tersenyum."
Aku melontarkan rayuan gombal seperti itu sembari mengusap kepala Aoi. Kalau aku mengatakan hal yang sama sekarang, itu hanya akan terdengar mesum dan menjijikkan, namun di masa lalu, aku adalah bocah yang ceria dan menyegarkan. Kurasa kalimat itu masih cocok untukku kala itu.
"Ah, aku harus berterima kasih. Terima kasih sudah mengambilkan beruangku kembali." "Sama-sama. Ngomong-ngomong, siapa namamu?" "Aoi! Aoi Shiratori!" "Aoi, ya? Nama yang bagus. Aku Amae Yuya. Salam kenal." "Iya! Salam kenal juga, Yuya-kun!"
"...Lututmu lecet, ya? Apa terasa sakit?" "Iya. Sedikit sakit..." Mengingat lukanya tampaknya langsung menguras habis energi Aoi seketika. "Begitu ya. Kita harus mendisinfeksinya dan menempelkan plester. Apa kau bisa berjalan sampai ke rumah?" "...Maukah kau menemaniku, Yuya-kun?"
Aoi menatapku dari bawah dengan matanya yang berkaca-kaca karena air mata. Ekspresinya yang manis itu memancing instingku untuk melindunginya, tetapi aku tahu bahwa membawa pergi seorang anak kecil dari taman bermain bukanlah hal yang benar. "Hmmm. Untuk sekarang, ayo kita cuci lukanya dulu. Siapa anak kuat yang bisa menahan rasa sakit?" "Aku!"
Aku mencuci lutut Aoi yang tergores dengan air keran taman. Ia terlihat seolah-olah akan menangis, tetapi ia menggigit bibirnya dan menahan air matanya. Tepat saat aku selesai mencuci lukanya, seorang wanita berlari menghampiri kami, terlihat jelas sedang panik. Itu adalah Bibi Ryoko.
"Aoi!" "Ibu!" Aoi dengan cepat berlari ke arah Bibi Ryoko. Mungkin melihat ibunya telah membuatnya melupakan rasa sakit di lututnya; ia tampak sangat penuh energi. Aoi memeluk Bibi Ryoko erat-erat. "Ibu!"
"Ya ampun! Ibu sangat khawatir waktu kamu tidak pulang-pulang... Astaga, apa lututmu lecet?" "Iya. Aku tadi sedikit tersandung... tapi tidak apa-apa karena ada Yuya-kun di sini!" Aoi menarik tangan Bibi Ryoko dan membawanya ke arahku.
"Ibu, ini Yuya-kun. Dia sudah menolongku!" "Begitu rupanya. Terima kasih banyak sudah menjaga putriku, anak muda." Bibi Ryoko menundukkan kepalanya dengan sopan. "Ah, tidak apa-apa. Itu sudah menjadi hal yang sewajarnya dilakukan."
"Ya ampun... Apakah kamu ini Yuya-kun dari keluarga Amae?" "Hah? Bibi kenal saya?" "Tentu saja! Kamu kan cukup dikenal di sekitar sini sebagai pemuda yang baik. Nenek dari sebelah rumah bilang kamu juga sangat baik padanya." "B-begitu ya. Rasanya agak memalukan..."
"Hehe. Oh! Kalau kamu mau, kamu bisa mampir ke rumah kami. Biar Bibi traktir kamu sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolong putri Bibi. Bagaimana kalau makan kue?" "Oh, tidak usah repot-repot. Saya benar-benar harus pergi sekarang..." "Yuya-kun, kamu mau pergi?"
Aoi memegang tanganku dengan erat, raut wajahnya terlihat seolah-olah ia akan segera menangis. Ia masih memiliki kebiasaan lugu dalam mencari kenyamanan, persis seperti ketika kami masih kecil dulu. "Oke, aku akan mampir sebentar saja." "Benarkah? Hore!"
Semua jejak rasa sakit di lututnya seolah sirna saat Aoi melompat-lompat dengan gembira. Di bawah langit yang terlihat seperti tumpahan jus jeruk, kami bertiga berjalan menuju rumah Aoi. Dalam perjalanan pulang, Aoi mengobrol dengan riang tentang Bibi Ryoko, teman-teman bonekanya, boneka beruangnya, dan juga buku-buku bergambar kesukaannya. Ia berbicara dengan bangga, seolah sedang memamerkan harta karunnya.
"Wah, Aoi, kamu punya banyak hal yang kamu sukai ya!" "Iya! Aku menyukai semuanya!" Wajah Aoi bersinar cerah di bawah cahaya mentari sore.
Inilah momen di mana Aoi dan aku pertama kali bersinggungan. Sebuah memori yang penuh nostalgia, bermandikan warna-warni matahari senja yang memukau.
Kesadaranku terbangun, menampilkan interior kamarku yang gelap gulita. Terbangun dari mimpi di tengah malam, aku bergumam pelan pada diriku sendiri. "...Jadi begitu rupanya. Diriku di masa lalu benar-benar sekeren itu, ya?"
Aku pernah menjadi kakak laki-laki yang keren dan bisa diandalkan untuk melindungi Aoi. Rasanya sangat jauh berbeda dengan sosok dewasa tak bersemangat yang telah menjadi diriku saat ini. Sebaliknya, Aoi telah tumbuh dengan luar biasa. "Dia adalah anak pekerja keras..."
Aku tidak bisa membiarkan diriku tertinggal di belakang. Aku harus menjadi orang dewasa yang pantas untuk menjadi walinya. ...Namun, anehnya terasa lebih hangat dari biasanya di balik selimut ini. Dan ada sesuatu yang lembut menekan punggungku...?
"Tunggu...!" Embusan napas terkejut lolos dari bibirku. Aoi rupanya sedang tidur dengan lengannya melingkari pinggangku. Kami berada dalam kontak fisik jarak nol. Karena posisi ini, dada Aoi yang penuh menekan punggungku secara langsung.
Sensasi apa ini... Meskipun benda itu menempel di tubuhku, rasanya sangat mendekap dan luar biasa lembut. "...Mmm..." Sebuah suara manis dan mengantuk menyapa telingaku. ...Mungkinkah dia sudah bangun?
Aku memutar kepalaku dengan sangat berhati-hati untuk melihat wajah Aoi. "Yuya-kun... Hehe. Aku mencintaimu." Aoi memasang ekspresi penuh kebahagiaan, mengigau dalam tidurnya.
Igauan tidurnya itu benar-benar terlalu berlebihan. Itu terlalu imut. Dan kelembutan ini... Kenapa dia bisa tanpa sadar memancingku seperti ini?! ...Kepalaku mulai pusing.
Aku tak tahan lagi. Aku harus segera melarikan diri dari kontak fisik yang terlalu dekat ini. Aku pun buru-buru turun dari ranjang. "Maaf, Aoi. Kau sajalah yang tidur di ranjang." Aku dengan hati-hati menjauhkan diriku dari Aoi dan akhirnya tidur di lantai ruang tamu.
Keesokan paginya, aku terbangun oleh suara alarm ponsel pintarku. Sesuai dugaanku, punggungku terasa sedikit pegal. Seperti yang Aoi bilang, tidur di lantai memang bukan ide yang bagus.
Saat aku duduk, aku baru menyadari ada sebuah selimut yang menutupi tubuhku. Aoi pasti menyelimutiku pagi ini. "Ah, Yuya-kun. Selamat pagi!" Aoi menyapaku seraya berlari-lari kecil menghampiriku. Ia sudah berganti pakaian kasual dan mengenakan celemek merah muda sebagai luarannya.
"Selamat pagi, Aoi. Terima kasih selimutnya." "Itu bukan sebuah ucapan terima kasih. Aku kan sudah bilang berkali-kali supaya jangan tidur di lantai... Apa yang sebenarnya terjadi?" "Uh, yah. Saat aku bangun, aku mendapati ada seseorang di sana, dan rasanya sedikit menyegarkan."
Mulai sekarang, Aoi akan selalu ada di sini setiap paginya. Ini adalah pemandangan yang tak pernah terbayangkan olehku hingga beberapa saat yang lalu. "Hehe. Ini juga menyegarkan untukku. Tinggal di kamar yang sama dengan Yuya-kun rasanya seperti mimpi." "Mungkin ini memang cuma mimpi... Bercanda kok. Hahaha."
"Hehe, Yuya-kun... Hei, jangan mencoba mengalihkan pembicaraan dengan tertawa. Kau tak boleh tidur di lantai lagi, oke?" "Ah, iya. Maafkan aku." Sial sekali. 'Strategi mengalihkan dengan tawa'-ku berakhir dengan kegagalan telak.
"Aku sedang menyiapkan sarapan, jadi tolong bersiap-siaplah selagi aku memasak. Pastikan kau mencuci muka dan menggosok gigi, ya?" "Caramu bicara itu persis seperti ibuku saja..." Dengan seutas senyum masam, aku mengembalikan selimut itu ke ranjang dan beranjak menuju kamar mandi.
"Terima kasih atas makanannya," ucapku seraya menautkan kedua tanganku setelah menghabiskan masakan buatan Aoi. Menu sarapan hari ini terdiri dari sosis, telur dadar (omelet), dan sup miso. Semuanya lezat, tetapi telur dadarnya benar-benar istimewa. Rasa manisnya pas, dan tekstur lembutnya adalah yang terbaik.
"Sama-sama," jawab Aoi, menutupi mulutnya dengan sebelah tangan dan menguap pelan. "Ya ampun. Apa kau tidak tidur nyenyak semalam?" "Tidak, aku tidur nyenyak kok, tapi... aku mungkin masih lelah gara-gara pindahan," ucap Aoi, mengucek matanya yang mengantuk dan menambahkan, "Aku baik-baik saja kok. Jangan khawatirkan aku."
Begitu rupanya... Sepertinya ia belum punya cukup energi untuk membongkar barang-barang kemarin karena terlalu lelah. Besok adalah hari kerja. Aoi harus bersekolah di pagi harinya. Ia mungkin ingin beristirahat hari ini. Walaupun masih ada tugas membongkar barang dan berbelanja yang harus dilakukan, setidaknya aku ingin membiarkannya beristirahat mulai dari sore hari nanti.
"Ngomong-ngomong, Yuya-kun, apa rencanamu hari ini?" "Yah..." Aku awalnya berpikir ingin mendengar cerita-cerita Aoi di kafe, tapi mungkin akan lebih baik kalau kami pulang lebih awal dan makan malam di rumah. Dengan begitu, Aoi juga bisa beristirahat dengan lebih nyaman. Selagi mempertimbangkan hal itu, sebuah ide bagus muncul di benakku.
"Pertama, ayo kita bongkar barang-barang. Setelah selesai, kita bisa pergi belanja bahan makanan, lalu bagaimana kalau kita makan malam di luar?" "Yuya-kun, kita kan tidak boleh boros." "Aku tidak boros kok. Sekali-kali pergi ke restoran tidak masalah, kan." "Tapi..."
"Jangan sungkan-sungkan. Lagipula, aku sudah memutuskan kalau kita akan pergi." "Caramu memutuskannya itu agak memaksa... Oh, apa kau sedang berusaha memperhatikanku? Kau menyarankan makan di luar untuk mengurangi pekerjaan rumah tangga karena kau tahu aku sedang lelah, kan?" "Kau terlalu banyak berpikir. Aku cuma sedang ingin makan steik saja. Haha..." Aku tertawa untuk menyembunyikan maksudku.
Mengenal Aoi, ia mungkin masih akan tetap bersikeras memasak makan malam meskipun ia sedang lelah. Tetapi jika ia kelelahan, aku tak ingin memaksanya untuk melakukannya. Itulah alasannya kenapa aku menyarankan makan di luar. Kami tetap bisa mengobrol di restoran, dan itu akan memberinya kesempatan untuk beristirahat.
"...Hehe. Terdengar seperti sesuatu yang akan kau katakan, Yuya-kun." "Hah? Apa maksudmu dengan itu?" "Kalau kau tidak mengerti, tidak apa-apa kok. Ayo kita cepat bersihkan piringnya supaya kita bisa mulai membongkar barang." "O-Oke...?"
Aku tidak benar-benar mengerti makna tersembunyi di balik kata-kata Aoi, tetapi suasana hatinya tampak membaik, jadi aku membiarkannya saja. Kami dengan cepat mencuci piring dan mulai proses membongkar barang-barang pindahannya.
"Biar aku yang mengurus pakaiannya, jadi bisakah kau menangani kotak yang berat di sebelah sana itu, Yuya-kun?" "Dimengerti." Mengikuti arahannya, aku membuka kotak yang ia maksud.
Kotak itu berisi banyak sekali buku. Selain novel dan buku resep masakan, terdapat juga panduan belajar dan sebuah kamus bahasa Jepang. "Aoi, apakah kau suka belajar?" tanyaku seraya menata buku-buku tersebut di rak. "Aku tidak begitu yakin. Tapi aku menikmati waktu yang kuhabiskan untuk mengerjakan PR dan mengulang pelajaran di rumah." "Wah. Hebat juga kau masih mau belajar di rumah." "Tidak kok. Belajar kan memang sudah menjadi tugas seorang pelajar."
Aoi menanggapi dengan rendah hati, tetapi ia terlihat senang menerima pujian itu. Ini hanyalah sebuah obrolan santai, tetapi aku menyadari bahwa mengenal sisi-sisi berbeda dari Aoi ini adalah hal yang sangat penting. "Hei. Aku ingin mendengar lebih banyak tentangmu, Aoi... Hah? Apa ini...?"
Aku mengeluarkan sebuah boneka beruang dari dalam kotak. Berbeda dengan boneka beruang yang dulu sering Aoi pakai bermain saat masih kecil, boneka yang ini masih benar-benar baru. "Aoi, di mana aku harus menaruh boneka hewan ini?" "Coba kulihat... Bagaimana kalau meletakkan Beatrix di atas rak buku?" "Hah? Beatrix?"
Mengingat konteks percakapannya, Beatrix kemungkinan besar adalah nama boneka hewan ini. Mungkinkah... ia memberi nama pada boneka hewannya? Menyadari tatapanku, Aoi mengeluarkan suara "Ah" kecil dan dengan cepat merebut Beatrix dari tanganku.
"A-aku tidak sedang bermain rumah-rumahan atau semacamnya, ya!?" "Haha. Aku tidak meragukannya kok. Aku hanya berpikir sangat imut karena kau memberinya nama." "Apakah itu... kekanak-kanakan?" "Tidak, sama sekali tidak. Aku juga akan memanggilnya Beatrix mulai sekarang. Salam kenal, Beatrix."
"Huft... Syukurlah, Beatrix. Kau sudah mendapat teman baru selain aku." Aoi memeluk boneka hewan itu dengan erat, dan ekspresinya begitu lembut sehingga aku tak kuasa untuk tidak terpikat melihatnya.
Aoi pasti telah menghabiskan banyak waktu sendirian tumbuh di keluarga dengan orang tua tunggal. Kemungkinan besar di rumahnya, boneka-boneka hewannyalah yang menjadi teman mengobrolnya. Kebiasaan mencari kenyamanan seperti itu pasti terus berlanjut hingga sekarang. ...Sebagai walinya, aku harus memastikan Aoi tidak pernah merasa kesepian lagi.
Ngomong-ngomong, ada sesuatu yang membuatku penasaran. "Hei, kenapa kau menamainya Beatrix?" "Eh? Y-Yah..." "Jangan-jangan karena ini boneka beruang (bear), lalu kau terpikir plesetan nama seperti Beatrix...?" "N-namanya lucu, kan!?"
"Haha. Iya, menurutku namanya memang imut." "Muu! Kau pasti sedang menggodaku, kan!?" Wajah Aoi memerah padam saat ia memukul punggungku dengan main-main. Menurutku reaksi itu adalah yang paling menggemaskan, tetapi aku memutuskan untuk menahan diri mengatakannya, karena itu mungkin hanya akan membuatnya semakin marah.
Sembari Aoi menceramahiku, berkata, "Kau ini masih saja memperlakukanku seperti anak kecil, Yuya-kun," kami terus melanjutkan acara membongkar barang.
Membongkar barang tidak selesai di pagi hari, jadi kami memutuskan untuk beristirahat makan siang. Aku tidak ingin Aoi memasak karena ia terlihat agak kelelahan. Memikirkan hal itu, aku menyarankan agar kami beli bento minimarket saja untuk makan cepat. Aoi sempat ragu-ragu, mengatakan, "Kau tidak perlu terlalu memperhatikanku begitu," tetapi ia tampak bahagia saat menyantap bentonya. Aku sudah mengira ia akan berkomentar bahwa itu tidak sehat, jadi aku bersyukur ia mau menerima tawaranku.
Setelah makan siang, kami kembali bekerja. Di tengah-tengah pekerjaan kami, perlengkapan tidur Aoi akhirnya tiba dengan selamat. Mulai malam ini kami bisa tidur secara terpisah. Kalau aku harus merasakan debaran segila itu setiap malam, aku takkan bisa bertahan hidup.
Setelah kami selesai membongkar semuanya dan beristirahat sejenak, kami berdua berangkat menuju swalayan. Walaupun kami pergi ke sana hanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan bahan makanan, Aoi tampak sangat ceria sepanjang waktu. Kini, kami telah kembali ke rumah setelah berbelanja dan sedang mengobrol dengan nyaman bersama.
"Yuya-kun, sebentar lagi waktunya makan malam." "Iya, ayo kita pergi ke restoran seperti yang direncanakan." "Kau ingin makan steik, kan? Tapi jangan makan berlebihan, lho. Kita ini sudah tidak muda lagi." "Hei, berhenti memperlakukanku seperti paman tua." "Fufu, aku cuma bercanda. Nah, ayo kita berangkat!"
Dengan Aoi yang terus menggodaku, kami bersiap-siap dan meninggalkan kamar. Kami melintasi area perumahan dan menyusuri jalan utama. Jika kami terus berjalan lurus, kami akan tiba di stasiun.
Sembari mengobrol tentang hal-hal sepele, kami tak lama kemudian tiba di restoran tersebut. Itu adalah restoran bergaya Barat yang populer di daerah ini, dan aku sudah pernah ke sana beberapa kali. Steik di sini rasanya sangat lezat.
Suasana di dalam restoran lumayan ramai, tetapi masih ada beberapa meja yang kosong. Awalnya aku mengira tempat ini akan penuh sesak pada jam-jam segini, jadi aku merasa lega karena tidak perlu mengantre. Staf restoran mempersilakan kami, "Silakan duduk di meja mana saja yang kosong," dan saat aku sedang mempertimbangkan akan duduk di mana...
"Aah, Aoi! Yuya-san juga ada di sini!" Tiba-tiba aku mendengar namaku dipanggil. Aku menoleh untuk mencari sumber suara tersebut. Di sana, kulihat seorang gadis berambut pirang yang kukenal sedang duduk sendirian di meja berkapasitas empat orang.
"Itu Rumi-san. Kita sering sekali bertemu, ya?" "Iya, benar." Kami saling bertukar senyum dan menghampiri meja Rumi.
"Halo, Rumi-san." "Aoi-chi! Hai, hai! Aku tidak menyangka kita akan bertemu dua hari berturut-turut. Apakah ini yang namanya takdir?" "Mungkin ini cuma kebetulan saja...? Ngomong-ngomong, bukankah kau bilang kau mau nongkrong dengan teman-temanmu hari ini?" "Iya. Kami memang barengan sampai beberapa saat yang lalu, tapi kemudian dia bilang, 'Aku mau makan malam di rumah saja,' lalu pulang. Jadi di sinilah aku, makan malam sendirian yang menyedihkan. Apakah kalian berdua sedang berkencan?"
"K-kencan? Tidak, kami cuma sedang mau makan bersama kok." "...Tapi diam-diam Aoi-chi pasti senang disangka sedang kencan yang mesra." "Hentikan, Rumi-san!" "Oooh, mukamu merah!" "Aku tidak merona!"
Melihat Aoi menggembungkan pipinya sangatlah lucu sampai-sampai aku tak kuasa menahan tawa. Kalau dipikir-pikir lagi... Aoi terlihat sangat santai saat berbicara dengan Rumi, tapi aku penasaran bagaimana hubungannya dengan teman-teman sekelasnya yang lain. Aoi selalu menggunakan bahasa formal dengan semua orang, jadi aku khawatir ia mungkin sedang membangun tembok emosional dengan mereka. Berhubung Rumi ada di sini, ini mungkin kesempatan yang bagus untuk mempelajari tentang "Aoi saat di sekolah", sisi yang tidak terlalu banyak aku ketahui.
"Hei, Rumi-san. Kalau tidak keberatan, bolehkah kami bergabung denganmu untuk makan malam?" "Tentu saja boleh! Oh, tapi Aoi, apa kamu lebih suka berduaan saja dengan Yuya-san?" "B-Bukan begitu! Ayo kita makan malam bersama, kita bertiga."
Aoi berkata dengan suara yang sangat pelan, "...Mumpung cuma ada kita berdua di kamar, aku bisa menahan diriku untuk saat ini," terdengar agak kekanak-kanakan. Aku harap ia berhenti tanpa sadar bersandar padaku seperti itu. Aku dan Aoi duduk berhadapan dengan Rumi.
Kami melihat-lihat satu buku menu yang sama, dan aku memesan steik sedangkan Aoi memilih doria. Rumi menyebutkan bahwa ia sudah memesan spageti telur ikan cod dan sekarang sedang menunggu makanannya datang. "Hei, Aoi-chi," ucap Rumi sembari menyeringai nakal.
"Aku mau kamu menceritakan padaku bagaimana kamu dan Yuya-san pertama kali bertemu!" "Bagaimana kami pertama kali bertemu...? Tidak ada yang spesial kok. Waktu itu aku lagi di taman bermain, lututku lecet, lalu Yuya-kun menolongku." "Begitu rupanya. Jadi, Aoi-chi kecil jatuh cinta pada kakak kelas yang baik hati itu, ya?" "S-Sudah cukup ceritanya soal aku. Mari kita bicarakan tentang sekolah saja."
Hal itu langsung memancing ketertarikanku, dan aku pun melompat masuk ke dalam obrolan mereka. "Oh, aku juga ingin mendengarnya." "Sudah kuduga dari Yuya-kun. Aku tahu kau pasti akan mendukungku." "Tentu saja. Jadi, Rumi-san, seperti apa Aoi kalau sedang di sekolah?"
"Pada akhirnya, pembicaraannya tetap soal aku, kan...?" Aoi menatapku tajam dengan ekspresi cemberut, tetapi kurasa ia menganggap topik ini masih lebih baik daripada membicarakan masalah asmara. Ia tidak berusaha menghentikan obrolan ini. "Kalau soal Aoi-chi di sekolah... dia itu terlihat sangat serius dan bertanggung jawab. Aku sudah beberapa kali melihat teman-teman sekelas mengandalkannya semenjak semester baru ini dimulai, dan aku secara pribadi juga sering mengandalkannya lho."
"Itu memang terdengar seperti dirinya... Apakah dia bergaul dengan baik dengan teman-temannya?" "Tentu saja! Dia punya banyak teman selain aku. Yah, walau begitu aku tetaplah sahabat terbaiknya!" "Begitu ya. Si cengeng Aoi itu benar-benar sudah dewasa..."
"Yuya-kun, perkataanmu itu terdengar seperti ucapan dari kerabat keluarga." Aoi mengatakan hal itu dengan tatapan jengah. Tolong berhentilah memperlakukanku seperti paman tua. Aku kan masih berumur dua puluhan.
Sebelum aku sempat melayangkan protes, Rumi menyela dengan raut wajah kesal, "Tapi itu sayang sekali." "Sayang sekali? Apa maksudmu?" "Karena belum semua orang menyadari sifat asli Aoi-chi." "...Sifat asli?"
Kalau ia membicarakan soal sifat asli, itu berarti Aoi menyembunyikan wajah aslinya, kan? Aoi yang serius dan bertanggung jawab, dan selalu diandalkan oleh teman-teman sekelasnya. Seperti apa sebenarnya wajah asli Aoi...? Tidak, tidak. Aku tak bisa membayangkan Aoi memiliki sisi tersembunyi.
"Rumi-san, apa yang kau maksud dengan 'sifat asli'?" Ketika aku bertanya dengan hati-hati, Rumi mulai mengguncangkan bahunya saat ia berbicara. "Semua orang tidak tahu... kalau Aoi-chi itu benar-benar sangat manis dan imut!"
Ia menggebrak meja dengan kedua tangannya. Komentar yang tak terduga itu sukses membuat Aoi dan diriku nyaris terjungkal. "Kau tahu kan, Yuya-san? Aoi-chi ini orangnya agak sedikit pelupa! Dia itu benar-benar menggemaskan, ya kan?!" "Ah... Dia biasanya memang terlihat sangat bertanggung jawab, tapi kadang-kadang dia bisa jadi sangat linglung." "Iya kan?! Itulah bagian terbaik dan paling emosional dari dirinya!"
"Rumi-san, tolong jangan meneriakkan hal-hal aneh di dalam restoran. Memalukan." Mengabaikan protes Aoi, Rumi terus melanjutkan pidato berapi-apinya.
"Dengarkan ini, Yuya-san! Suatu hari, Aoi-chi sedang mencoba membuka pintu ruang persiapan IPA. Dia menarik pintunya kuat-kuat, tapi pintunya tak mau terbuka. Dengan wajah serius dia bergumam, 'Aneh sekali... padahal kuncinya sudah dibuka,' tapi pintu itu sebenarnya adalah tipe pintu yang didorong! Pada akhirnya, dia memasang wajah bingung dan mengeluh, 'Uugh, pintunya keras sekali!' Maksudku, tinggal didorong saja kan! Kenapa dia bersikeras keras menariknya? Normalnya kan orang juga akan mencoba mendorongnya! Aoi-chi yang benar-benar kebingungan dan panik—dia itu benar-benar terlalu imut!"
"Itu memang imut... atau lebih tepatnya, lucu." "Iya kan? Itu benar-benar sangat lucu! Ahaha!" Iya, benar juga... pfft, ahaha!
"...Kalian berdua. Menertawakan kesalahan orang lain itu perbuatan yang tidak baik, lho." Aoi mengatakan hal itu sambil tersenyum, namun matanya tidak ikut tersenyum. Aku bisa merasakan pesan "Aku akan marah" tersampaikan dengan sangat jelas, yang mana hal itu cukup menakutkan. "'Kami minta maaf, Aoi-chi...'" "Baguslah kalau kalian sadar."
Setelah kami meminta maaf, Aoi mengangguk puas. Mulai sekarang, aku mungkin harus berhenti terlalu banyak menggodanya.
"Yah, begitulah adanya. Aku cukup akrab dengan Aoi-chi kok." Rumi, setelah berhasil mendapatkan kembali ketenangannya, mencondongkan tubuhnya untuk berbisik padaku. "Aoi-chi memang memakai bahasa formal dengan semua orang, dan dia selalu memasang wajah serius sampai dia benar-benar dekat dengan seseorang. Tapi meskipun semester baru saja dimulai, dia sudah mulai terbuka dan tersenyum secara alami dengan teman-teman sekelasnya yang baru. Jadi tidak usah khawatir, Yuya-san."
Setelah mengucapkan hal itu, Rumi mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Tidak usah khawatir, ya...? Aoi benar-benar telah mendapatkan teman yang sangat baik. "Terima kasih, Rumi-san. Sekali lagi, tolong jaga Aoi ya." "Tentu, sama-sama. Aku juga akan mengandalkanmu untuk menjaga Aoi-chi kami."
"...Apa yang sedang kalian bicarakan?" Aoi memiringkan kepalanya dengan kebingungan. "Bukan apa-apa. Iya kan, Rumi-san?" "Cuma sedikit rahasia kecil antara aku dan Yuya-san." "Hah? Apa itu? Tolong beritahu aku. Aku jadi penasaran!" "Tidak boleh! Ini kan rahasia." "Ayolah! Jangan pelit begitu!"
Melihat mereka berdua bersenang-senang bersama membuatku tersenyum secara alami. Aku benar-benar bersyukur ia bisa berteman dengan sahabat yang luar biasa. ...Akan tetapi, dalam perjalanan pulang, aku dibuat kewalahan karena Aoi terus saja memberondongku dengan pertanyaan, "Apa rahasianya?"
Previous Chapter | LIST | Next Chapter
0 Comments