Sepuluh hari berlalu sejak "Bencana Fire Drakon". Para petualang dari Cotton-elka akhirnya kembali ke kota Pond. Kelompok Peringkat B, Four Eastern Stars, langsung memacu kuda menuju Ibukota untuk menerima tugas berikutnya, sementara Pia dan kawan-kawan menuju markas Serikat Petualang di Pond.
Para petualang masuk dengan kepala tegak. Kabar tentang keberhasilan mereka mempertahankan desa telah menyebar. Saat mereka menunjukkan batu sihir dan permata elemen yang mereka kumpulkan dari bangkai monster, seisi aula Serikat menyambut mereka dengan tepuk tangan meriah.
Namun, Pia, Priscilla, dan Paula justru berjalan menuju konter resepsionis dengan wajah serius.
"Aku lega kalian semua selamat," sapa Freya, sang resepsionis.
"Di mana Pippin?" tanya Pia. Pippin adalah pria dari Cotton-elka yang pertama kali membawa kabar krisis ke Pond.
"Dia sudah berangkat kembali ke desa dua hari yang lalu. Begitu pulih, dia langsung ingin membantu desanya. Kurasa kalian berpapasan di jalan."
"Syukurlah kalau begitu." Pia menghela napas. Tiba-tiba, ketiga gadis itu membungkuk dalam-dalam. "Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya!"
"Apa?! Kenapa kalian minta maaf?" Freya panik.
"Kami sempat berpikir Serikat tidak akan melakukan apa pun dan pergi begitu saja tanpa pamit, padahal kalian semua sangat mengkhawatirkan Cotton-elka."
"Aku mengerti perasaan kalian saat itu. Serikat hanya menjalankan prosedur," hibur Freya. "Tolong angkat kepala kalian!"
Keputusan yang Mengejutkan
"Kami juga ingin meminta maaf kepada Ketua Serikat," lanjut Pia.
"Dia sedang tidak ada. Beliau dipanggil ke Ibukota karena masalah Fire Drakon. Oh ya, kalian melihat drakon itu dari dekat, kan?"
"Tidak juga," jawab Pia. "Hanya ada api yang meledak dari Hutan Penyesatan, lalu sesosok makhluk raksasa terbang ke arah Ibukota dan kembali lagi sebelum menghilang. Hanya itu yang kami tahu."
Pemerintah dan kaum bangsawan yang tadinya acuh tak acuh kini mulai panik. Sekarang setelah ancaman Fire Drakon membayangi Ibukota, mereka baru mengirimkan pasukan dan petualang tingkat tinggi untuk menyelidiki Hutan Penyesatan. Ironisnya, hal ini justru membuat Cotton-elka menjadi tempat yang jauh lebih aman karena monster-monster di sana dibasmi oleh tentara kerajaan.
"Lalu, ada satu hal lagi..." Pia menarik napas panjang. "Kami memutuskan untuk berhenti menjadi petualang. Kami merasa sudah mencapai batas kemampuan kami."
"Apa?! Kenapa? Setelah semua ini, kalian pasti bisa menemukan anggota baru!" seru Freya.
"Kami ingin membantu membangun kembali desa kami. Benar kan, Priscilla?"
"Ya. Desa butuh tenaga kerja," jawab Priscilla singkat. Kemampuan Priscilla dalam mendeteksi musuh akan sangat berharga bagi keamanan desa tanpa perlu membayar mahal.
"Begitu ya... Lalu kau, Paula?"
Paula menggelengkan kepala dengan mantap. "Maafkan aku, tapi jalanku berbeda. Mulai sekarang, aku akan mendedikasikan hidupku untuk melayani Tuan Hikaru!"
"......Hah?!"
Jeritan Freya bergema di seluruh aula Serikat.
Diskusi di Atas Pelana
Di tempat lain, jalanan Ibukota mulai terlihat. Sara merapatkan kudanya ke samping Selyse.
"Nah, itu dia," kata Sara. "Sudah lama aku tidak melihat Ibukota. Rasanya agak kangen."
"Semoga kekacauan 'Bencana Fire Drakon' tidak menghancurkan kota ini," gumam Selyse khawatir.
"Rakyat jelata mungkin tenang, tapi aku yakin para bangsawan sedang kencing di celana," canda Sara.
"Aku belum pernah melihat makhluk seperti itu!" Serika menyahut dari belakang. "Pasti jauh lebih kuat dari Naga Putih!"
"Kenapa kau malah terdengar bersemangat?" sela Sara. "Instingku bilang itu berita buruk."
Selyse hanya tersenyum tipis. Dalam tasnya, terdapat permata putih susu titipan Kepala Desa Cotton-elka. Ia merasa bersalah karena Penyihir Misterius yang memberikan serangan fatal pada naga itu telah menghilang. Selyse berencana menyisihkan sebagian besar imbalannya untuk dikirim kembali ke desa sebagai 'bagian' sang penyihir.
"Aku penasaran apa yang terjadi pada pemuda berambut hitam yang kita temui di jalan waktu itu," gumam Selyse.
"Pemuda itu? Mungkin dia tidak pernah sampai ke Cotton-elka," sahut Sara.
"Instingku bilang dia ada di sana," balas Selyse.
Keraguan Sang Pendeta
"Tapi dia bukan penyihir, kan?" tanya Sara. "Dia lebih terlihat seperti tipe penyamun (rogue)!"
"Benar!" timpal Serika. "Tipe-tipe temannya Sara!"
"Dia bukan temanku! Dan lagi, yang menghabisi Naga Putih itu seorang gadis, bukan dia."
Selyse melirik Sophie yang sejak tadi terdiam. "Sophie, ada yang mengganggu pikiranmu?"
Sophie mengangguk pelan. "Ada dua hal. Pertama, tentang Fire Drakon yang terhormat itu. Dalam kitab suci dan mitos, drakon adalah utusan dewa. Apakah utusan dewa benar-benar akan menyerang manusia tanpa alasan?"
"Mungkin dia juga muak dengan kegilaan Baginda Raja," cetuk Selyse berani.
"Wah, hati-hati bicara, Selyse!" goda Serika.
"Raja kita membiarkan desa hancur tanpa bantuan. Jika Fire Drakon adalah pelindung hutan itu, masuk akal jika dia marah," balas Selyse. "Dan menurutmu, drakon itulah yang membunuh Dungeon Master?"
"Aku meragukannya," sahut Sara. "Aku sempat masuk ke bagian terdalam dungeon setelah drakon itu pergi. Aku menemukan tumpukan abu monster, tapi batu sihir dan permata elemen di lantai enam—lantai yang seharusnya tidak ada itu—sudah hilang diambil seseorang."
"Drakon tidak akan mengambil batu sihir," pungkas Sara.
Keheningan menyelimuti mereka. Di balik kepahlawanan Four Eastern Stars dan amukan Fire Drakon, ada sosok bayangan yang bergerak dalam diam, mengumpulkan rampasan perang dan mengubah takdir dari balik tirai.
"Seseorang telah menyelesaikan dungeon tanpa kita sadari dan melepaskan Fire Drakon ke langit," gumam Selyse. "Tapi kita tidak tahu kebenarannya. Bisa saja itu bukan drakon. Mungkin petualang dari Leather-elka yang membunuh Dungeon Master. Sudahlah, tidak ada gunanya memikirkan hal yang tidak pasti." Ia beralih ke Sophie. "Lalu, apa hal lain yang mengganggumu?"
"Itu..." Sophie mengernyitkan dahi, tampak semakin bimbang. "Tentang gadis bernama Paula."
"Paula... gadis desa itu?"
"Ya. Aku benar-benar tidak habis pikir. Melihat jumlah darah yang hilang dari tubuh Pia, luka itu seharusnya fatal. Namun, dia selamat. Tentu saja, kita harus bersyukur dia masih hidup."
"Paula seorang Healer, kan?"
"Ya, tapi hanya tingkat pemula."
Sophie menekankan bahwa sihir penyembuhan tingkat pemula mustahil bisa menyelamatkan Pia. Saat kejadian, Sophie sendiri jujur merasa tidak akan sanggup menolong karena kekurangan energi sihir. Di kerajaan ini, hanya ada segelintir Healer Peringkat B ke atas. Sophie tidak akan bertanya-tanya jika seorang pendeta senior dari gereja yang menyembuhkan Pia, tapi sulit dipercaya jika gadis seperti Paula memiliki kekuatan setingkat itu.
"Jika kita bertemu dengannya lagi, aku akan menanyakannya," ujar Sophie.
"Ide bagus," setuju Selyse. "Memang menyebalkan memiliki misteri yang tak terpecahkan, tapi jika kita terus menjalankan tugas sebagai petualang, kebenaran pasti akan terungkap. Ayo, cepat. Kita harus sampai di Ibukota sebelum matahari terbenam."
Miliarder Baru di Kota Pond
Keheningan yang damai menyelimuti kamar hotel. Hikaru sangat menyukai ketenangan ini. Ia dan Lavia sedang membaca buku dengan santai; Lavia asyik dengan novel petualangan, sementara Hikaru membaca buku panduan botani.
Mereka telah kembali ke Pond lebih awal dari petualang lainnya. Hikaru segera menemui Kelbeck, ketua Serikat Pencuri, untuk menjual permata hitam yang ia dapatkan dari Naga Hitam.
"Tidak tahan godaan, ya? Dari mana kau mencuri ini?" tanya Kelbeck curiga.
Hikaru menjelaskan bahwa ia mendapatkannya dari monster raksasa dan tidak melakukan hal ilegal, meski membawanya ke Serikat Pencuri justru memberi kesan sebaliknya. Namun, menjualnya ke Serikat Petualang hanya akan memicu interogasi berbahaya tentang Fire Drakon.
Kelbeck akhirnya membeli permata itu seharga 5 juta gilan. Lima juta. Hikaru, yang sebelumnya hanya memiliki seratus ribu gilan, kini mendadak memiliki uang lima puluh kali lipat.
"Ini bijih berlian hitam," ungkap Kelbeck. Itulah alasan harganya begitu selangit.
Karena membawa emas sebanyak itu terlalu mencolok, Hikaru menukarnya dengan koin platina peringatan kerajaan. Setiap koin bernilai 100.000 gilan dan memiliki nomor seri anti-pemalsuan. Hikaru pun menjadi jutawan dalam semalam.
Ia segera pindah dari hotel murah ke Grand Hotel, penginapan paling bergengsi di Pond. Harganya mencapai 5.000 gilan per malam, namun itu bukan masalah baginya sekarang. Hikaru memutuskan untuk mengambil cuti sepuluh hari. Ia menyadari bahwa euforia kemenangan bisa membuat seseorang lengah, dan di dunia ini, kelengahan berarti maut.
Kedatangan Sang Pengikut Setia
"Tehnya habis."
Hikaru terkekeh melihat Lavia yang begitu antusias membaca. Saat ia memberitahu Lavia bahwa ia menggunakan permintaan drakon untuk menghentikan perang demi dirinya, Lavia tersipu malu dan berkata, "Kau melakukan itu untukku? Terima kasih." Kata-kata itu membuat Hikaru merasa tak terkalahkan.
Sambil menyeduh teh baru, Hikaru bergumam, "Sebentar lagi."
Ada alasan lain mengapa mereka menunggu di sini. Sebuah ketukan pelan terdengar di pintu. Hikaru menaruh tangannya di kenop pintu; melalui kemampuan [Detection], ia sudah tahu siapa yang datang.
"T-Tuan Hikaru! Tolong izinkan aku tetap berada di sisimu!"
Saat pintu dibuka, Paula berdiri di sana dengan tubuh membungkuk sembilan puluh derajat.
"Sudah kau selesaikan urusanmu di sana?" tanya Hikaru tenang.
Setelah kejadian di Cotton-elka, Hikaru sengaja tidak memberi banyak penjelasan pada Paula. Ia ingin menguji kesetiaan gadis itu. Ia mendaftar di hotel mewah ini menggunakan nama aslinya agar Paula bisa menemukannya jika memang serius.
"Sudah," jawab Paula mantap. "Pia dan Priscilla kembali ke Cotton-elka, tapi aku memutuskan untuk mendedikasikan hidupku padamu. Aku sangat bersyukur kau telah menyelamatkan nyawa Pia."
"Begitu ya. Masuklah."
Paula melangkah masuk ke kamar di bawah tatapan penasaran Lavia. Ini adalah langkah pertama bagi mereka.
"Banyak hal yang harus kita bicarakan," ujar Hikaru.
Mulai saat ini, Paula akan mendampingi perjalanan Hikaru dan Lavia. Di masa depan, gadis inilah yang akan dikenal sebagai "Santa Pengembara" karena sihir penyembuhan tingkat legendarisnya dan kepribadiannya yang rendah hati.
Status Tim Hikaru:
Hikaru (Rogue/Strategist): Memegang kendali keuangan (5 juta gilan) dan rahasia politik kerajaan.
Lavia (Mage): Memiliki atribut suci dan kekuatan api yang dahsyat.
Paula (Healer): Anggota baru dengan potensi sihir penyembuhan tingkat "Mitos".
Dengan komposisi tim yang semakin lengkap, petualangan Hikaru yang sebenarnya di dunia ini baru saja dimulai. Tujuan berikutnya: Menghadapi konsekuensi dari tuntutan sang Fire Drakon di Ibukota.
Apalagi yang akan dilakukan Hikaru untuk memastikan keamanan Lavia di tengah pergolakan takhta Ponsonia?