Di jantung Kerajaan Ponsonia terletak ibu kota agung, G. Ponsonia. Dari sana, berbagai jalan bercabang menuju kota-kota satelit di sekitarnya, salah satunya adalah Pond.
Pond adalah kota kecil berpenduduk sekitar 6.000 jiwa yang menawarkan kenyamanan hidup. Kedekatannya dengan ibu kota menjamin pasokan komoditas yang stabil, menjadikannya kota yang sibuk namun tetap terasa akrab bagi para pejalan kaki.
Kegelisahan di Resepsionis Guild
"Ugh... benar-benar tidak ada pekerjaan." Freya, resepsionis Guild Petualang Pond, terkulai lemas di atas konter.
"Ya ampun. Gadis muda sepertimu tidak seharusnya bersikap begitu," tegur Gloria, resepsionis senior yang memiliki aura dewasa dan tegas.
Freya sempat melirik Gloria dengan perasaan iri sekaligus ngeri. Di kerajaan ini, usia delapan belas adalah awal usia pernikahan, dan wanita di atas dua puluh lima tahun sering dianggap "terlambat". Gloria sendiri berada di awal usia dua puluhan, namun auranya sering kali membuat Freya gemetar jika salah bicara.
Selain Gloria, ada pula Aurora, resepsionis cantik dengan aura misterius yang memiliki basis penggemar fanatik bernama Aliansi Aurora. Freya menghela napas lagi; ia merasa bosan karena sepinya komisi yang masuk akibat warga yang sedang memperketat pengeluaran.
"Sama sekali tidak ada formulir komisi," keluh Freya.
"Ya, orang-orang sedang pelit dengan uang mereka—"
Freya tersentak dan menatap sosok yang baru saja menyahut ucapannya.
"Hikaru!"
"Halo. Sudah lama tidak bertemu."
Di hadapannya berdiri bocah berambut hitam yang tampak tidak meyakinkan sebagai petualang, namun secara ajaib selalu berhasil meraup banyak keuntungan.
Hadiah dari Hopestadt
Freya memasang wajah cemberut. Ia kesal karena Hikaru pergi ke Einbiest tanpa memberitahunya; ia justru baru tahu kabar itu dari Aurora.
"Aku tahu kau marah," ujar Hikaru sambil terkekeh pelan. Ia meletakkan sebuah paket kecil di atas konter. "Kupikir ini akan cocok untukmu, jadi aku membelinya."
Itu adalah sebuah jepit rambut logam yang dihiasi batu warna-warni khas Einbiest—perpaduan warna biru laut, merah tua, dan amber yang sangat serasi dengan rambut Freya. Kekesalan Freya menguap seketika, digantikan oleh binar kegembiraan saat ia mencoba jepit tersebut.
Setelah suasana mencair, mereka masuk ke bilik konsultasi untuk memproses dokumen administratif dan berbincang mengenai turnamen Ruler’s Rumble yang disaksikan Hikaru di Einbiest.
Kecurigaan yang Tersisa
Hikaru juga menanyakan perkembangan terbaru mengenai kasus pembunuhan Count Morgstadt serta situasi keamanan di Pond. Freya menjawab dengan jujur, namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Sampai jumpa," kata Hikaru sambil melambai dan pergi dengan senyuman.
Freya menatap kepergiannya dengan tatapan lesu. Begitu Hikaru hilang dari pandangan, Freya segera bangkit dan menuju ruangan Unken, sang Guildmaster.
"Ada yang aneh... Saat dia bertanya tentang pembunuhan Count Morgstadt, tatapan matanya berubah tajam. Mungkinkah dia memang terlibat dalam kasus itu?" gumam Freya penuh keraguan.
Analisis Situasi: Kembali ke Pond
Kembalinya Hikaru ke Pond bukan sekadar kunjungan biasa. Berikut adalah poin-poin penting dalam transisi ini:
1. Status Sosial di Pond
Freya: Bertindak sebagai informan internal Hikaru di Guild. Meskipun ia curiga, ia memiliki keterikatan emosional (terutama setelah diberi hadiah).
Gloria & Aurora: Representasi birokrasi Guild yang memiliki pengaruh sosial besar di kota kecil tersebut.
2. Investigasi Count Morgstadt
Kecurigaan Freya menunjukkan bahwa meski waktu telah berlalu, kasus pembunuhan Count Morgstadt masih menjadi isu panas di Ponsonia. Hikaru harus bergerak sangat hati-hati karena para petinggi Guild mulai memperhatikan pola perilakunya.
3. Persiapan Teknis Hikaru
| Item | Tujuan |
| Jepit Rambut Einbiest | Alat diplomasi untuk meredam kemarahan Freya (atas saran Lavia/Paula). |
| Komisi Pengiriman | Samaran legal untuk membenarkan perjalanannya lintas batas negara. |
Setelah meninggalkan konter Freya, Hikaru tidak langsung menuju stasiun kereta kuda. Ia justru berbelok menuju koridor yang lebih sepi, tempat di mana ruangan Guildmaster berada.
"Masuklah," suara berat terdengar dari dalam bahkan sebelum Hikaru mengetuk pintu.
Unken, pria tua yang menjabat sebagai Guildmaster Pond, duduk di balik meja kayu besar yang penuh dengan tumpukan dokumen. Matanya yang tajam menatap Hikaru dari balik kacamata kecilnya.
"Aku sudah mendengar kau pergi ke Einbiest," ujar Unken tanpa basa-basi. "Cukup berani bagi seorang pemula untuk menyeberangi perbatasan demi menonton sebuah turnamen."
"Saya hanya ingin melihat dunia luar, Guildmaster," jawab Hikaru dengan nada tenang yang tertata.
Unken mendengus kecil. "Dunia luar saat ini sedang tidak stabil. Sejak Leather-elka direbut kembali oleh Ponsonia, perbatasan menjadi lebih sensitif. Terutama dengan berita tentang mayat hidup (Undead) yang muncul di arena Einbiest."
Hikaru tetap diam, tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Ia tahu Unken sedang mengujinya.
Negosiasi di Balik Layar
"Aku tidak peduli apa yang kau lakukan di sana, Hikaru. Selama kau tidak membawa masalah ke kota ini," lanjut Unken sambil menyandarkan punggungnya. "Tapi, ada sesuatu yang perlu kau ketahui. Pasukan keamanan kerajaan baru saja memperketat pengawasan terhadap para pengembara yang memiliki ciri-ciri seperti rekanmu."
Jantung Hikaru berdenyut sedikit lebih cepat, namun wajahnya tetap datar. Rekanmu. Apakah yang dimaksud adalah Lavia?
"Apakah ini terkait dengan kasus Count Morgstadt?" tanya Hikaru langsung.
"Tepat. Hadiah untuk penangkapan pelayan Count yang hilang itu telah dinaikkan. Kerajaan mulai tidak sabar. Mereka mengirim beberapa penyelidik khusus dari ibu kota ke kota-kota satelit, termasuk Pond."
Hikaru menyadari bahwa situasinya lebih genting daripada yang ia perkirakan. Kembalinya ia ke Pond adalah untuk mencari celah hukum, namun kedatangan penyelidik dari ibu kota justru mempersempit ruang geraknya.
Langkah Berikutnya: Strategi Bayangan
Hikaru keluar dari ruangan Unken dengan banyak pikiran. Ia harus segera memperingatkan Lavia dan Paula agar tidak menampakkan diri sama sekali di pusat kota.
Status Persiapan Hikaru:
| Target | Tindakan | Tingkat Risiko |
| Lavia | Tetap dalam Life Cloaking di luar tembok kota. | Tinggi |
| Paula | Menyamar sebagai pelancong biasa (tanpa topeng Flower Face). | Sedang |
| Informasi | Mencari tahu siapa "Penyelidik Khusus" dari ibu kota. | Kritis |
"Pond tidak lagi setenang yang terlihat," gumam Hikaru sambil menyesuaikan sabuk senjatanya.
Ia harus segera menghubungi Kelbeck dari Guild Pencuri. Jika ada orang yang tahu cara menghindari penyelidik kerajaan, orang itu adalah Kelbeck. Hikaru menghilang ke dalam gang-gang gelap Pond, bergerak dengan keheningan yang hanya bisa dicapai oleh seseorang dengan stat Stealth MAX.
0 Comments