Bab: Penjaga Menara dan Darah yang Bergejolak
"Randy, mereka datang!"
Peringatan Luke menarik Randy kembali ke realitas. Dari kegelapan atrium, sosok-sosok mengerikan turun dengan kecepatan yang tidak wajar. Makhluk itu humanoid, namun memiliki sepasang kaki laba-laba putih murni yang mencuat dari punggungnya. Kepalanya botak, tanpa mata, hanya menyisakan mulut merah terang yang robek hingga ke telinga. Seekor Arachne albino yang menjijikkan.
Makhluk itu mendarat tanpa suara, lalu membuka rahangnya lebar-lebar. Belum sempat jeritan melengking keluar dari tenggorokannya, tinju Randy sudah menghantam wajahnya.
"Diam," desis Randy.
Tubuh monster itu terpental hebat, menghantam dinding berdaging menara dengan bunyi debum yang basah. Cairan gelap menyembur, namun dalam hitungan detik, dinding itu berdenyut dan "memakan" bangkai si penjaga, seolah-olah menara ini sedang mencerna sampahnya sendiri.
"Menjijikkan. Apa itu?" Randy mengibaskan tangannya yang berlumuran lendir.
"Sistem imun menara," jawab Ellie pendek.
Randy mengeluarkan kamera dari tas ajaibnya. "Sangat tidak sopan. Haruskah kita mengambil foto mereka?"
"Ini bukan waktunya untuk dokumentasi, bodoh!" Luke menebas dua monster lagi yang baru saja mendarat. Pertempuran pecah seketika. Luke bergerak dengan pedangnya, Ellie melancarkan lidah api yang membakar habis sisa-sisa organik, sementara Randy... Randy sibuk mencari sudut foto terbaik sebelum akhirnya dipaksa Luke untuk ikut bertarung.
Warisan Naga di Dalam Nadi
Setelah lantai pertama bersih dari ancaman, Cecilia mengatur napasnya yang memburu. "Sebenarnya... kenapa kita tidak membeku seperti yang terjadi di luar?"
Pandangan Randy dan kedua temannya beralih ke Ellie. Sang penyihir kuno itu menghela napas panjang.
"Aku adalah penyihir yang menguasai hukum dimensi, jadi keberadaanku di sini adalah pengecualian. Tapi Randy..." Ellie menatap Randy dengan tajam. "Mungkin itu karena darah naga yang mulai terbangun."
"Darah naga?" Luke dan Cecilia berseru serempak.
Ellie menjelaskan bahwa sisa-sisa esensi naga dari senjata Voidwalker telah memilih tubuh Randy sebagai inangnya. Kekuatan purba itu kini perlahan-lahan berasimilasi dengan aliran darahnya, memberikan ketahanan terhadap distorsi waktu.
Randy menatap kepalan tangannya yang gemetar. Ia tidak merasa senang. Baginya, kekuatan yang "dipinjamkan" atau diberikan oleh entitas lain adalah penghinaan terhadap usahanya sendiri.
(Akan kudisiplinkan 'si bodoh' ini nanti,) batin Randy, bertekad untuk menundukkan esensi naga itu di bawah kendalinya sepenuhnya.
Logika Waktu yang Terdistorsi
"Jadi, kenapa waktu di luar berhenti tapi di sini tidak?" tanya Randy, berusaha mengalihkan fokus dari masalah darah naganya.
Ellie memberikan analogi sederhana. Dimensi ibarat sebuah kapal di sungai waktu. Ketika mereka mendobrak masuk, menara ini menjatuhkan "jangkar" dimensional untuk mendeteksi ancaman. Karena menara ini terhubung paksa dengan akademi, jangkar tersebut ikut menahan aliran waktu di dunia asal mereka.
"Hanya di dalam menara ini waktu tetap mengalir normal," pungkas Ellie. "Dan itulah yang kau butuhkan untuk eksperimen 'penuaan foto' konyolmu itu, kan?"
Cecilia dan Luke hanya bisa geleng-geleng kepala. Di tengah fenomena dimensi yang bisa menghancurkan kewarasan, Randy tetap konsisten memikirkan cara memotret kerusakan material.
Lift Organik dan Harapan yang Terpendam
Mereka tiba di sebuah lift. Pintu logamnya tertutup rapat tanpa aliran energi. Randy, dengan kekuatan fisiknya yang kini berada di luar nalar manusia, menyelipkan jarinya di celah pintu dan membukanya secara paksa.
"Masuklah," perintah Ellie.
Di dalam kotak lift yang gelap, Ellie mengeluarkan tongkat sihir yang ia ambil dari ruang bawah tanah gereja—sebuah artefak yang kini telah kembali aktif setelah meminum cukup darah sebagai katalis.
"Luke, buat lubang di lantai," instruksi Ellie. Setelah Luke melakukannya, Ellie menancapkan tongkatnya dan mulai merapalkan sihir. "Jika menara ini mematikan listriknya, maka kita akan menggunakan 'pendorong' sendiri."
Gaya gravitasi yang kuat tiba-tiba menghimpit mereka. Lift itu melesat naik bukan karena mesin, melainkan didorong oleh tekanan mana murni dari tongkat Ellie.
"Kenapa kau begitu bernafsu mencapai puncak, Lady Eleonora?" tanya Cecilia pelan di tengah deru lift.
Ellie tersenyum penuh arti. "Sihir penjelajahan waktu. Menara ini menyimpan data tentang masa lalu. Aku butuh petunjuk di mana tubuh asliku disembunyikan."
Suasana mendadak hening. Namun, di sudut lift, Randy mendengar gumaman kecil dari Luke yang penuh penyesalan.
"Kembali ke masa lalu... benarkah itu mungkin?"
Randy melirik sahabatnya itu. Ia tahu Luke membawa beban yang tidak pernah ia ceritakan, sebuah keinginan untuk memperbaiki sesuatu yang telah lama pecah di masa lalunya. Lift terus melesat ke atas, membawa harapan-harapan yang berbeda menuju puncak menara yang bernapas.