Bab: Tragedi Komedi di Gedung Sekolah Lama
Malam itu, kegelapan bulan baru menyelimuti akademi bagaikan kain kafan. Di gerbang utama, Catherine dan kelompoknya berkumpul dengan semangat yang meluap. Keberhasilan mereka memecahkan insiden Elemen sebelumnya telah memulihkan kepercayaan diri sang Putra Mahkota, Edgar, dan teman-temannya.
Tanpa mereka sadari, keamanan malam itu diperketat hingga ke level yang ekstrem. Selain dua agen rahasia yang melekat, satu unit berisi belasan anggota divisi penyamaran kerajaan mengepung area tersebut. Sayangnya, baik unit kerajaan maupun Dark Guild yang disewa Chris adalah para ahli penyusupan. Dalam keajaiban yang mengerikan, kedua pihak gagal mendeteksi satu sama lain, terdistorsi oleh aura hantu yang mulai bangkit di gedung sekolah lama.
"Ingat, menara ini hanya muncul saat bulan baru. Kita harus ke bagian belakang gedung sekolah lama untuk menemukan pemicunya," ujar Catherine sembari membolak-balik catatannya di bawah cahaya lampu jalan yang redup.
"Ayo berangkat. Pakai tudung kalian!" perintah Edgar.
Empat orang dengan jubah hitam bertudung itu mulai melangkah masuk. Dari kejauhan, mereka terlihat persis seperti target yang digambarkan Chris kepada para pembunuh bayaran.
Intervensi Chris yang Putus Asa
Chris, yang mengawasi dari atap, nyaris terkena serangan jantung saat melihat jubah Catherine tersingkap oleh angin, memperlihatkan helai rambut merah muda yang sangat ia kenali.
Kenapa mereka yang muncul?!
Tanpa pikir panjang, Chris berlari turun, mengabaikan luka di tubuhnya. Ia harus menghentikan mereka sebelum para pembunuh di dalam membantai sang Putra Mahkota dan Catherine karena salah sasaran.
"Hah... hah... Tunggu!" Chris muncul dengan wajah pucat pasi dan napas tersengal.
"Chris? Kenapa kau di sini?" tanya Edgar terkejut.
"K-kalian... jangan masuk... berbahaya..." Chris mencoba bicara, namun Arthur justru merangkul bahunya dengan akrab. Sialnya, lengan Arthur menekan luka di rusuk Chris, membuatnya hanya bisa meringis kesakitan tanpa suara.
"Oh, lihat! Chris bahkan sudah siap dengan jubah hitamnya sendiri!" Arthur tertawa lebar sembari menarik tudung jubah Chris hingga menutupi kepalanya. "Ayo, jangan malu-malu. Kita pecahkan misteri ketujuh ini bersama-sama!"
Chris ingin berteriak bahwa ada tiga puluh pembunuh bayaran menunggu di dalam, namun ia terjerat dilemanya sendiri. Jika ia mengaku, ia harus menjelaskan bagaimana ia tahu, yang berarti membongkar rencana pengkhianatannya terhadap negara dan hubungannya dengan Gereja.
Dengan ekspresi yang lebih menyerupai mayat hidup daripada manusia, Chris diseret paksa oleh teman-temannya memasuki pintu masuk gedung sekolah lama—yang baginya, lebih terasa seperti gerbang neraka.
Pertemuan Dua Sisi Kegelapan
Di dalam gedung, suasana sangat mencekam. Bangunan tua itu seolah bersinar redup oleh energi hantu. Chris terus bergumam ke arah kegelapan, "Ini aku... jangan serang... ini aku," yang membuat Dario mendelik.
"Diamlah, Chris! Kau terlalu takut pada hantu."
Bagi Chris, hantu bukan masalah. Masalahnya adalah tiga puluh belati beracun yang mengintai di balik pilar. Di sisi lain, pemimpin Dark Guild mulai merasa ada yang aneh. Laporannya mengatakan jumlah target bertambah.
"Targetnya jadi tujuh orang? Dan ada pengawal profesional?" sang pemimpin mengerutkan kening. "Mungkin pengawal keluarga Marquis. Tak peduli siapa mereka, bunuh semuanya."
Saat kelompok Catherine mencapai aula terbuka di lantai dua, sebuah belati terbang membelah udara. Trak! Salah satu pengawal rahasia Edgar menangkisnya dengan reaksi kilat.
"Pembunuh bayaran?!" teriak Catherine, tubuhnya gemetar.
Chris segera melompat ke depan sebelum pertumpahan darah terjadi. "Berhenti! Ini aku! Rencananya berubah!"
Pemimpin Dark Guild muncul dari kegelapan, wajahnya dingin. "Berubah? Apa maksudmu, bocah?"
"Mereka bukan targetnya! Ini Putra Mahkota dan teman-temannya!" pekik Chris histeris.
Suasana mendadak beku. Edgar, Catherine, dan Arthur menatap Chris dengan tatapan yang bisa menghancurkan jiwa. "Putra Mahkota?" sang pemimpin beralih menatap dua pengawal rahasia kerajaan. Ia menyadari satu hal: mereka telah dikepung oleh agen negara. "KAU MENJEBAK KAMI, CHRIS!"
"Tidak! Aku benar-benar berniat membunuh target aslinya, tapi—"
"Pembunuhan?" tanya Edgar dengan suara rendah yang mematikan. "Target asli? Chris... apa yang kau lakukan?"
Chris terpaku. Ia baru saja mengakui niat pembunuhannya di depan calon raja. Namun, sang pemimpin Dark Guild tidak memberi waktu untuk drama. "Sekarang kita sudah saling tahu wajah masing-masing. Divisi Kegelapan Kerajaan takkan membiarkan kami pergi, dan kami pun takkan membiarkan kalian hidup untuk bersaksi!"
Munculnya Sang Menara
Tepat saat para pembunuh itu mengangkat senjata mereka, sebuah semburan mana yang luar biasa dahsyat menghantam atmosfer dari luar. BUM!!!
Seluruh gedung berguncang hebat. Jendela-jendela pecah berkeping-keping. Di luar sana, menembus kabut dimensi, sebuah menara raksasa yang tampak seperti pusaran waktu muncul begitu saja, menutupi langit malam.
"Menara Bulan Baru..." gumam Catherine tak percaya. "Padahal kita belum menggunakan cerminnya..."
Guncangan itu begitu kuat hingga semua orang terjatuh. Bagi para pembunuh, ini adalah lonceng kematian. Keributan ini pasti akan mengundang seluruh ksatria akademi.
"SEKARANG! HABISI MEREKA!" teriak sang pemimpin.
Waktu seolah membeku. Di tengah reruntuhan kaca dan bayangan menara raksasa, para pembunuh melompat dengan senjata terhunus, Edgar dan kawan-kawan mencengkeram senjata dengan sisa keberanian mereka, dan Chris... Chris hanya bisa menatap kehancuran dunianya yang runtuh lebih cepat daripada gedung tua itu.