Gedung Pelatihan Tua: Ujian Kekuatan dan Tekad
Begitu mereka melangkah melewati pintu kayu ek yang berat, suasana berubah drastis. Udara di dalam gedung sekolah tua itu terasa unik; pengap dan dingin, jauh lebih menggigit daripada udara musim gugur di luar, namun entah bagaimana ada sensasi "hangat" yang tidak wajar merayapi kulit.
"Wow. Tempat ini lebih mirip dungeon daripada gedung sekolah," gumam Randy sambil mengedarkan pandangan.
"Tempat ini memang digunakan untuk simulasi penjara bawah tanah, Senpai," Cory menjelaskan.
Di Akademi Kerajaan, kelas ilmu pedang dan seni bela diri sering menggunakan gedung tua ini sebagai tahap pra-latihan sebelum para siswa terjun ke dungeon yang sesungguhnya. Tujuannya satu: membiasakan mereka menghadapi makhluk undead.
"Makhluk undead, terutama tipe roh, adalah jenis monster yang paling menjengkelkan untuk dihadapi," tambah Annabelle. Meskipun gayanya yang menggunakan perlengkapan ala pemburu hantu terlihat agak berlebihan, ucapannya mengandung kebenaran.
Serangan fisik murni biasanya hanya akan menembus tubuh mereka tanpa hasil. Tanpa senjata yang diresapi sihir, air suci, atau sihir suci, melawan hantu hanyalah pemborosan tenaga. Darah naga adalah penawar paling ampuh, namun benda itu terlalu berharga untuk sekadar latihan di sekolah.
"Strukturnya sederhana namun atmosfernya pas. Instruktur juga bisa mengawasi dengan mudah dari luar. Masuk akal," Luke mengangguk paham.
Tiba-tiba, sesosok hantu muncul tepat di samping Luke. Tanpa menoleh, Luke merapalkan mantra singkat dan kilatan sihir langsung melenyapkan makhluk itu.
"Tuan Luke, kau mahir menggunakan sihir juga?" tanya Liz yang kini merapat ke lengan Randy karena ketakutan.
Luke membalas dengan senyum ksatria yang sempurna. "Yah, bisa dibilang aku serba bisa, walau mungkin tidak ada satu bidang pun yang benar-benar menonjol."
Randy mendengus mendengar kerendahhatian palsu itu. "Jangan percaya padanya, Liz. Jika pria ini ada di dalam buku cerita, dia adalah prototipe pahlawan yang sempurna."
Luke memang tipe jenius yang bekerja keras. Di dunia yang Catherine kenal sebagai 'game', Luke mungkin hanyalah versi lemah dari ksatria utama, Edgar. Namun di dunia nyata ini, Luke yang terus ditempa oleh persaingannya dengan Randy telah berevolusi menjadi ksatria serba bisa yang luar biasa.
"Aku mengasah sihir dan pedangku setiap hari agar tidak tertinggal jauh darimu, Randy," ujar Luke sambil menghunus pedangnya.
Randy menarik pedang besarnya dari tas ajaib. "Tentu saja. Aku mendedikasikan hidupku untuk melatih otot dan insting. Aku tidak akan kalah dari pria yang menggunakan otak sepertimu."
Tiba-tiba, ruang di depan mereka melengkung. Belasan hantu muncul serentak.
"Siapa yang kau sebut pria otak... Awas! Mereka datang!" seru Luke.
SLASH!
Randy mengayunkan pedang besarnya dalam satu putaran lebar. Hantu-hantu di depannya terbelah dan lenyap seketika.
"Pedangmu... bisa menyentuh mereka?" Luke tertegun.
"Aku memodifikasi pedang ini dengan bahan yang kupelajari di kuil bawah tanah tempo hari," Randy menyeringai. Meski tidak seefektif senjata suci murni, kemampuan menembus dimensi astral itu sudah lebih dari cukup bagi Randy.
"T-tunggu, Randolph-senpai! Jangan dihancurkan semua!" seru Annabelle panik. "Tujuan kita adalah menangkapnya!"
"Tenanglah. Aku hanya sedang menyisir sampah. Untuk eksperimenmu, kita butuh sesuatu yang lebih kuat, seperti Wraith," jawab Randy tenang.
Mereka membutuhkan subjek yang memiliki kepadatan energi tinggi agar tidak hancur saat diberi tekanan dalam wadah eksperimen. Setelah sepakat, rombongan itu bergerak lebih dalam ke lorong yang remang-remang.
Sentuhan Sang Penyihir Agung
Saat mereka memasuki area gedung pelatihan, gerombolan hantu yang lebih besar mengepung mereka. Liz secara naluriah menutup matanya, gemetar hebat. Namun, saat itu juga, aura di sekitar Liz berubah.
Ketakutan itu lenyap, digantikan oleh tatapan tajam dan dingin.
"Benar-benar merepotkan," gumam Ellie yang kini mengambil alih tubuh Liz. Ia melangkah maju dengan anggun. "Kita tidak punya waktu seharian di sini."
Jentikan jari.
BOOM!
Kilat menyambar tanpa suara guntur, menguapkan seluruh hantu di koridor itu dalam sekejap. Area tersebut mendadak sunyi senyap. Annabelle dan Cory ternganga, lalu segera menghujani Luke dengan pujian.
"Luar biasa, Tuan Luke! Sihir tanpa mantra yang sangat cepat!" seru Cory.
Luke hanya bisa tersenyum kaku. "A-ah... ya, begitulah." Ia tahu persis itu bukan perbuatannya, tapi ia tidak mungkin menjelaskan tentang kepribadian ganda Liz di sana.
Sambil berjalan, Randy berbisik pada Luke, "Lain kali, mintalah Ellie mengajarimu teori sihir. Kau pasti bisa mengejar level ksatria sihir dalam waktu singkat."
"Kau serius? Aku sangat menginginkannya," balas Luke dengan nada tekad yang kuat.
Lantai Tiga: Wilayah Wraith
Mereka menaiki tangga menuju lantai tiga. Menurut Annabelle, lantai ini adalah wilayah yang belum terjamah baginya karena tingkat bahayanya yang melonjak drastis.
"Kenapa setiap naik lantai musuhnya semakin kuat? Seperti desain game saja," gerutu Luke.
"Mungkin karena pengaruh misteri Tujuh Keajaiban di ujung lorong sana," Randy menanggapi. Dan benar saja, sesosok Wraith—hantu yang memiliki warna dan pakaian lebih jelas daripada hantu biasa—muncul di hadapan mereka. Ia mengenakan seragam sekolah tua, menatap mereka dengan mata yang memancarkan kebencian.
"Bagus, ini subjek yang kita cari," ujar Randy. "Masalahnya, bagaimana cara melumpuhkannya tanpa menghancurkannya?"
"Biar aku coba," Luke menawarkan diri. Randy memberikan pedangnya pada Luke untuk dipegang sementara.
Randy menghilang dari posisi berdirinya.
BAM!
Tendangan di lantai bergema saat Randy muncul di depan Wraith dalam sekejap. Tinju kanannya yang dilapisi sihir menghantam sisi wajah roh itu. Namun, karena kekuatannya terlalu besar, Wraith itu langsung meledak menjadi kabut dan musnah.
"Tch, gagal lagi," Randy mendecak kesal.
"Kau terlalu kasar, Anak Hutan," Luke menghela napas jengkel. "Kau memukulnya seperti sedang menghantam gorila."
Luke melangkah maju saat Wraith lain muncul. "Lihat bagaimana seorang ksatria kota melakukannya dengan halus."
Luke melesat, mendekati Wraith dalam satu gerakan mengalir. Tinju kirinya menghantam perut roh itu dengan presisi. Kali ini, Wraith tersebut tidak hancur, melainkan hanya meredup dan menjadi sangat lemas, seolah kehilangan kepadatan energinya.
"Ya! Berhasil!" seru Luke bangga.
Randy mengamati dengan seksama. Ternyata roh pun memiliki batas ketahanan terhadap guncangan energi tertentu. Sambil Annabelle sibuk menggunakan alat O-Cumeter untuk menyerap Wraith yang melemah itu ke dalam wadah, Luke menepuk bahu Randy dengan nada mengejek.
"Jangan iri, Randy. Teknik sehalus ini tidak diajarkan di hutan."
"Itu hanya keberuntungan," dengus Randy, meski ia diam-diam mencatat teknik kontrol tenaga Luke dalam benaknya.
"Semuanya! Kita berhasil menangkapnya!" seru Annabelle riang, rasa takutnya lenyap karena kegembiraan ilmiah. Ia menoleh ke arah rombongan. "Kita sudah mendapatkan apa yang kita cari, tapi... karena kita sudah sampai di sini, bolehkah kita melihat misteri 'Koridor Senja'?"
Randy melirik ke arah Ellie yang tampak bosan. Karena tidak ada keberatan, mereka pun melanjutkan perjalanan. Di depan mereka, koridor panjang itu mulai memancarkan cahaya merah temaram yang menyeramkan, seolah-olah matahari terbenam abadi terperangkap di dalamnya.