Rahasia di Gedung Sekolah Tua: Kristal Ektoplasma
"Hah? Hantu bisa dijadikan bahan industri?"
Suara Randy yang tidak percaya membuat Liz hanya bisa mengangguk pasrah. Keheningan seketika menyelimuti ruang klub yang biasanya bising itu. Namun, Annabelle tiba-tiba memecah suasana dengan seruan "Ah!" yang nyaring, seolah sebuah lampu baru saja menyala di kepalanya.
"Aku ingat sekarang! Aku pernah melihat catatan tentang itu di tumpukan dokumen lama Klub Okultisme!"
Tanpa menunggu jawaban, Annabelle bergegas keluar menuju ruang klub sebelah. Suara gaduh rak buku yang digeser dan tumpukan kertas yang jatuh terdengar hingga ke ruang sebelah, menandakan betapa paniknya gadis itu mencari referensi.
"Bagaimana cara menggunakannya, Liz?" tanya Randy penasaran. "Itu..." Liz tampak ragu. Sepertinya Ellie tahu materi itu bisa digunakan, tapi rincian teknisnya masih terkubur dalam kabut ingatan sang Penyihir Agung.
Tak lama kemudian, Annabelle kembali dengan napas terengah-engah, membawa setumpuk dokumen usang di pelukannya. Ia membanting kertas-kertas itu ke atas meja. Anehnya, meski dokumen itu terlihat sangat kuno, tintanya tidak pudar sedikit pun dan kertasnya masih terasa kokoh di tangan.
Randy mengambil salah satu bundel dokumen yang tampaknya merupakan catatan penelitian dari era yang sangat lama. Daftar isinya dimulai dari metode penangkapan hantu hingga spekulasi filosofis tentang asal-usul roh.
"Ini bukan sekadar catatan klub..." bisik Randy.
Isi di dalamnya cukup kelam dan eksperimental:
Alat penangkap roh berbentuk jaring energi.
Wadah bertekanan tinggi untuk mengurung hantu.
Eksperimen paparan sinar matahari terhadap ektoplasma.
Analisis pengaruh air suci terhadap stabilitas molekul roh.
Bagi Randy yang memiliki rasa hormat khas orang Jepang terhadap leluhur, membaca eksperimen etis yang meragukan ini terasa agak mengganggu. Namun, sebagai seorang peneliti amatir, ia tak bisa menampik bahwa data ini sangat berharga.
"Dikatakan di sini... pemberian tekanan ekstrim pada wadah hantu tidak mengubah suhunya, tetapi pada titik tertentu, hantu itu kehilangan bentuk gasnya dan mengkristal," Luke membacakan salah satu baris dengan lantang.
"Mengkristal?" Randy mengerutkan kening.
"Sayangnya, catatan setelah bagian itu hilang," Cecilia mendesah kecewa setelah membolak-balik lembaran berikutnya. "Analisis tentang kristal itu sengaja disobek atau hancur termakan usia."
"Tempat ini... sebenarnya apa?" tanya Randy. "Isi dokumen ini terlalu spesifik untuk sekadar kegiatan ekstrakurikuler siswa."
Annabelle mengangguk pelan. "Dulu, Akademi Kerajaan bukan hanya sekolah, tapi lembaga penelitian mutakhir—semacam universitas riset modern. Klub Okultisme sebenarnya adalah sisa-sisa dari 'Laboratorium Pengkajian Metafisika' yang dulu ada di sini sebelum kekuasaan bangsawan pusat memecah fasilitas penelitian nasional."
Randy mengusap dagunya. Fokusnya kini kembali ke kamera. "Eksperimen hantu ini menarik, tapi prioritas kita tetaplah menyempurnakan kamera."
"Justru itu, Randy," Cecilia menyelanya sambil menyodorkan satu lembar kertas terakhir. "Lihat kalimat terakhir ini."
Randy membaca teks yang ditunjuk Cecilia:
"...Mungkin berlebihan jika dikatakan kita bisa mengabadikan waktu, namun materi kristal ini terbukti mampu melestarikan dokumen dalam jangka panjang tanpa perubahan sedikit pun. Aku akan mencoba mengaplikasikannya pada tinta ini."
Mata Randy membelalak. Tinta yang tidak pudar selama ratusan tahun... kertas yang tidak rusak... ini adalah 'larutan pengunci' (fixer) yang selama ini ia cari! Jika ektoplasma bisa mempertahankan kondisi suatu objek pada titik waktu tertentu, maka gambar di kertas fotosensitif Valion bisa dibuat permanen.
"Ini berarti... kita harus segera berburu hantu," seringai Randy muncul kembali.
"Di mana tempat terdekat untuk menemukan mereka?" tanya Randy antusias.
Annabelle sedikit gemetar, namun jarinya menunjuk ke arah jendela. "Bahkan di dalam akademi pun ada... di gedung sekolah tua."
"Di dalam sekolah?!" Randy menoleh ke arah Liz dengan wajah berseri-seri. "Beruntung sekali kita!"
Liz, di sisi lain, sudah pucat pasi. Ia mematung di tempatnya saat Cecilia menyenggol bahunya.
"Aku... aku tunggu di sini saja ya—" "Tidak bisa, Liz! Siapa yang akan melindungimu kalau kau sendirian? Ayo berangkat!" tarik Randy tanpa ampun.
Gedung Sekolah Tua dan Misteri Kelima
Mereka tiba di sebuah bangunan batu tua yang tertutup lumut di pinggir halaman sekolah. Bangunan itu tampak menyeramkan di bawah cahaya bulan yang pucat.
"Ini benar-benar seperti setting film horor," gumam Randy. Ia melihat Annabelle sudah mengenakan perlengkapan lengkap: jumpsuit ketat, kacamata pelindung, dan sebuah alat seperti tongkat biliar elektronik. Sama sekali tidak estetis, tapi ia tampak sangat serius.
"Ini adalah bangunan asli dari seribu tahun lalu," jelas Annabelle. "Bahkan sebelum akademi didirikan, tempat ini sudah menjadi fasilitas penelitian. Sekarang hanya digunakan sebagai gudang, tapi hantu-hantu mulai bermunculan di sana."
Wajah Liz semakin pucat saat Annabelle mulai menceritakan legenda urban setempat.
"Berhati-hatilah, karena di sini adalah lokasi misteri kelima dari 'Tujuh Keajaiban Akademi': Koridor Senja Tanpa Ujung."
Annabelle bercerita tentang seorang siswi di masa lalu yang gantung diri di lantai tiga karena ditinggalkan kekasihnya. Konon, di saat senja atau malam hari, koridor di sayap barat lantai tiga tidak akan pernah berujung. Sejauh apa pun kau melangkah, kau tidak akan menemukan pintu keluar—sebuah manifestasi dari keinginan sang gadis agar kekasihnya tidak pernah bisa pulang dan meninggalkannya.
"Kenapa... kenapa hantunya harus punya cerita sedih seperti itu?" bisik Liz sambil menutup telinganya.
"Justru karena ada cerita, ektoplasmanya pasti sangat kuat!" seru Randy penuh semangat. "Ayo, saatnya kita memecahkan misteri sekolah ini sekaligus menyelesaikan kamera kita!"
Pengamat dari Atap
Di tempat lain, dari atas atap gedung sekolah utama, sepasang mata mengawasi mereka melalui teleskop.
"Apa yang dilakukan rombongan itu di gedung sekolah lama malam-malam begini?" gumam Catherine sendirian.
Karena Chris sedang diskors, Catherine terbebas dari interogasi lebih awal. Ia kini mengamati Liz dan Randy dengan alis berkerut. Sebagai seseorang yang memiliki ingatan tentang 'game' dunia ini, ia merasa ada yang tidak beres.
"Dalam game, gedung itu seharusnya terkunci total setelah matahari terbenam. Tidak ada skenario atau event di sana," Catherine membatin. Ia ingat banyak pemain di forum dulu mengeluh bahwa gedung sekolah tua hanyalah aset yang terbuang—sebuah tutorial dungeon yang tidak memiliki kelanjutan cerita.
"Tujuh Keajaiban Akademi... dulu para pemain mengira itu hanya teks pelengkap untuk memperkaya latar belakang, bukan quest yang bisa dijalankan. Tapi melihat mereka masuk ke sana..."
Catherine kembali mengintip melalui teleskop. Di dalam kegelapan gedung sekolah tua, ia melihat kilatan cahaya kebiruan yang aneh—cahaya hantu.
"Jika ini adalah hidden event atau konten tambahan yang tidak ada di versi aslinya... aku harus mencari tahu apa yang mereka dapatkan di sana," bisik Catherine dengan ambisi yang mulai menyala.
Previous Chapter | LIST | Next Chapter