Ambisi Sang Santa dan Spekulasi Ending Terlarang
"Aku benar-benar tidak mengerti... Apa-apaan ini?!"
Suaraku bergema di ruang kelas kosong yang pengap. Aku duduk mematung, memeras otak hingga rasanya saraf-saraf kepalaku akan putus. Mengapa? Mengapa Luke, si tokoh pendukung yang seharusnya baru muncul di akhir game, sekarang berjalan tegak di koridor sekolah dengan kostum ksatria?
Tadi, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Luke—si Pangeran Terbuang dari alur "No Way"—sedang mengawal Cecilia. Ia terlihat begitu alami, begitu menyatu dengan suasana, sampai aku harus mengucek mata tiga kali untuk memastikan aku tidak sedang berhalusinasi.
"Kenapa dia jadi ksatria? Bukankah seharusnya dia jadi petualang liar?!"
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur kepingan informasi yang kacau di kepalaku.
Teori Konspirasi: DLC dan Konten Tambahan
Mari kita urutkan faktanya. Dalam game otome “The Saint of Destiny and the Rhapsody of Calamity,” Luke adalah karakter bantuan yang terlupakan. Hampir tidak ada pemain yang mau memasukkannya ke dalam tim karena ia tidak punya event romantis dan muncul terlalu terlambat.
Tapi sekarang, dia ada di sini. Di samping Cecilia.
"Mungkinkah... Cecilia juga seorang reinkarnasi?" bisikku ngeri. "Atau Elizabeth yang merencanakan semua ini untuk menjebakku?"
Sementara aku—sang Santa yang suci—sibuk melakukan tugas-tugas membosankan seperti bekerja di dapur umum demi reputasi, apakah mereka diam-diam memenangkan hati Luke? Tunggu, jika Luke sekarang menjadi jalur strategi baru, berarti pengetahuanku tentang game ini sudah usang!
"Sial... ini pasti gara-gara DLC (Content Tambahan) atau Edisi Lengkap!" Aku memukul meja dengan kesal.
Aku hanya memainkan versi aslinya. Jika mereka berasal dari era yang lebih baru dan telah memainkan versi Edisi Lengkap yang menyertakan rute Luke dan event tambahan, maka aku berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Aku kalah dalam hal informasi!
Bayang-Bayang "Bad Ending B"
"Elizabeth... kau benar-benar licik!"
Sekarang aku paham mengapa dia menerima pembatalan pertunangan itu dengan wajah angkuh. Dia tahu sesuatu yang tidak kuketahui. Dia sengaja menghancurkan skenario asli untuk menyeretku ke rute yang tidak dikenal.
"Bad Ending A... aku sudah tahu soal itu." Dalam akhir itu, Eleonora (si penyihir) membantai Catherine dan teman-temannya. Layar menjadi hitam, dan muncul tulisan 'Bad Ending A'. Huruf 'A' itu selalu menjadi misteri. Semua orang yakin ada Bad Ending B, tapi tak ada yang pernah menemukannya.
"Bagaimana jika... kemunculan Luke adalah kunci menuju Bad Ending B yang legendaris itu?"
Keringat dingin mengucur di leherku. Jika aku salah melangkah, aku tidak akan hanya gagal mendapatkan pangeran, tapi aku akan berakhir mati dalam kehinaan yang bahkan tidak tercatat di buku panduan manapun.
Serangan Balik Sang Protagonis
"Pikirkan, Cathy... pikirkan! Bagaimana cara menghancurkan rencana mereka?"
Aku menatap tanganku yang gemetar, lalu tiba-tiba sebuah ide brilian melintas. Mengapa aku harus mengikuti skenario mereka? Jika ini bukan lagi game yang kukenal, maka aku akan menjadi orang yang mengacaukan panggungnya!
"Benar. Aku tidak perlu memenangkan kompetisi... aku hanya perlu menghancurkan acaranya!"
Aku adalah Sang Santa. Aku punya pengaruh. Jika Elizabeth dan Cecilia sedang merencanakan sesuatu untuk festival budaya nanti, aku hanya perlu mengerahkan Edgar, Arthur, Chris, dan Dario untuk melakukan sabotase di bawah kedok 'Ramalan Suci'.
"Luke mungkin kuat, tapi dia tetaplah tokoh pendukung. Di pihakku, ada barisan ksatria dan jenius sihir terbaik di kerajaan ini!"
Aku berdiri dengan tegak, menyunggingkan senyum suci yang selama ini menjadi senjataku. Rasa cemas tadi menguap, digantikan oleh kepercayaan diri yang meluap-luap.
"Kau membuat kesalahan besar, Elizabeth. Memamerkan Luke di depanku adalah peringatan yang membuatku waspada. Sekarang, aku akan tetap berada di dekatmu, mengawasi setiap langkahmu, dan saat waktunya tiba... aku akan menghancurkan semua kebahagiaan yang kau susun."
Aku berjalan keluar dari ruang kelas dengan langkah anggun. Beberapa siswa yang lewat menatapku dengan kagum, terpesona oleh aura "suci" yang kupancarkan. Mereka tidak tahu, bahwa di balik senyum ini, aku sedang merencanakan kehancuran bagi siapa pun yang mencoba merebut panggung utamaku.
"Terima kasih atas informasinya, kalian pecundang. Pertandingan yang sesungguhnya baru saja dimulai!"