Komedi di Menara Jam & Rencana yang Melenceng
"Jadi... apa sebenarnya yang sedang kau lakukan?"
Melihat ekspresi Ellie yang luar biasa kesal, Randy hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kecut. "Yah, itu..." Kalimatnya menggantung. Ia tidak punya pembelaan, terutama dengan pemandangan tangan kanannya yang masih "menyatu" dengan tongkat terkutuk itu.
Seandainya Ellie tidak datang menyusulnya, mungkin Randy sudah pasrah menjadi penghuni tetap menara jam ini.
Mari kita putar balik waktu sejenak.
Setelah mengalahkan sang Lich, Randy kembali ke pintu keluar menara jam. Namun, tepat di depan pintu, ia menyadari satu masalah fatal: ia tidak bisa keluar.
Sebenarnya bisa saja ia mendobrak pintu itu. Tapi masalahnya, ia sedang membawa tongkat raksasa dengan bongkahan batu besar di ujungnya yang menempel erat di tangan. Keluar dalam kondisi seperti itu di tengah alun-alun kota yang ramai sama saja dengan mengumumkan, "Halo, aku baru saja menjarah situs bersejarah!"
Pagi dan sore hari adalah waktu warga bersantai di taman menara. Jika ia nekat keluar, ia akan langsung dilaporkan ke penjaga keamanan. Tuduhannya tidak main-main: masuk tanpa izin, perusakan bangunan kuno, dan pencurian artefak. Di dunia ini, dungeon yang berada di bawah properti negara atau gereja adalah milik mereka. Randy bisa berakhir di penjara bawah tanah yang asli jika tertangkap.
(Sangat mencolok... ini benar-benar mencolok,) batin Randy meratap.
Ia sempat mencoba mencocokkan ukuran bongkahan batu itu dengan lubang pintu rahasia, namun hasilnya nihil. Satu-satunya cara adalah menghancurkan pintu keluar, yang artinya ia akan melakukan vandalisme terang-terangan.
(Kalau mau menghancurkan pintu, lebih baik tunggu malam sekalian,) pikirnya pasrah.
Akhirnya, Randy menyeret tongkat berat itu kembali ke ruang tersembunyi. Karena kelelahan setelah begadang dan bertarung, ia memutuskan untuk tidur siang di sana sampai gelap.
Randy terbangun bukan karena alarm, melainkan karena guncangan keras di kepalanya.
"Aduh! Sakit..."
Ia mengusap kepalanya dan membuka mata, hanya untuk menemukan Ellie berdiri di depannya dengan urat-urat kemarahan yang menonjol di dahi.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ellie dingin. "Itu kalimatku! Kenapa kau bisa di sini?" Randy balik bertanya.
Ellie bersedekap, amarahnya sudah di ubung-ubun. Di luar, matahari mulai terbenam. "Siapa yang bilang mau pulang sebelum siang? Liz sampai hampir menangis karena kau tak kunjung kembali!"
"Mau bagaimana lagi? Aku terjebak," sahut Randy sambil menunjukkan tangannya yang terikat pada tongkat. Ellie hanya bisa menghela napas panjang, menatapnya seolah Randy adalah makhluk paling bodoh di kerajaan ini.
"Kupikir kau hanya idiot, ternyata kau benar-benar bebal," gumam Ellie.
"Ugh..." Randy terdiam. Ia memang lupa total pesan Ellie soal air suci.
"Kau punya otak atau cuma pajangan? Bisa-bisanya lupa dalam tiga langkah!" Ellie terus menyerangnya dengan kata-kata pedas.
"Ngomong-ngomong—" Randy mencoba mengalihkan pembicaraan. "Kenapa kau bisa tahu aku di sini?"
Ellie menjelaskan bahwa ia melacak sisa energi sihir dari batu ajaib yang ia berikan pada Randy, lalu melakukan teleportasi. Randy merasa bersalah, bukan hanya pada Ellie, tapi terutama pada Liz. Ia meminta maaf dengan tulus, meski Ellie masih terus mengejeknya sepanjang perjalanan pulang melalui portal sihir.
Setelah tiba di rumah, Liz menyambut mereka dengan wajah khawatir yang perlahan berubah menjadi bingung melihat "aksesori" baru di tangan Randy.
"Randy... itu apa?" tanya Liz sambil memiringkan kepala.
"Ini kenang-kenangan dari dungeon," jawab Randy getir.
Ellie langsung mengintip. "Mana air suci yang kuberi?" "Ah, itu... aku pakai untuk menghancurkan Lich," jelas Randy. Ia menceritakan bagaimana ia menggunakan botol air suci sebagai peluru yang dipukul dengan batu tongkatnya.
"Kau gila?! Kenapa malah dibiarkan menempel begitu? Itu kutukan, bodoh!" seru Ellie. "Eh? Memangnya kutukannya bisa dipatahkan?"
Tanpa menjawab, Ellie meminta Liz untuk menepi sejenak. Seketika, rambut Liz berubah menjadi hitam kelam dan matanya menjadi merah padam—pertanda Ellie mengambil alih kesadaran tubuh Liz sepenuhnya. Tanpa ragu, Ellie mencengkeram tongkat terkutuk itu.
"Hei, bahaya!" teriak Randy.
Tapi Ellie malah menyeringai. Kabut ungu gelap yang melilit tangan Randy mulai merambat ke tubuh Ellie. "Apa? Cuma 'sisa makanan' begini?" gumam Ellie sombong. Kabut itu seolah terhisap masuk ke dalam tubuhnya.
Plop.
Tangan Randy terlepas begitu saja. "Wah! Lepas!"
"Kau... apa kau baru saja memakan kutukannya?" tanya Randy ngeri. "Muntahkan! Itu buruk untuk kesehatanmu! Ayo muntah!" Randy mulai memukul-mukul punggung Ellie (dalam tubuh Liz) dengan panik.
"Hei! Hentikan! Menjijikkan!" Ellie melompat mundur dengan pipi sedikit merona. "Aku ini Archmage, kutukan receh begini tidak ada apa-apanya."
Setelah suasana tenang, mereka menatap tongkat yang kini sudah bersih dari aura jahat. Randy mengusulkan untuk membongkarnya. Liz awalnya ragu karena nilai sejarahnya, tapi Ellie justru yang paling semangat mendesak untuk menghancurkannya.
Begitu dibongkar menggunakan sihir Liz, tongkat itu hancur dan menyisakan material langka yang luar biasa: Orichalcum, Cabang Pohon Dunia, Kristal Bumi, Air Mata Laut, dan Pecahan Bintang.
"Luar biasa..." gumam mereka. Namun, ada satu bahan yang kurang untuk menyatukannya kembali: darah sebagai katalis.
Tanpa aba-aba, Ellie melukai ibu jarinya sendiri dengan batu tajam. Darah yang menetes segera terserap ke dalam kotak penyimpanan item. "Cukup untuk hari ini. Kita butuh lebih banyak darah selama beberapa hari ke depan jika ingin menempanya ulang."
Sementara itu, di sisi lain ibu kota...
Catherine dan kelompok pria tampannya kembali dari dungeon peringkat E. Sepanjang jalan, para pria itu sibuk mengeluh tentang betapa menyebalkannya tunangan mereka masing-masing, berharap Catherine akan bersimpati.
(Kalian berdua memang serasi, sama-sama bodoh,) mungkin itu yang akan dikatakan Randy jika melihat mereka.
Catherine sendiri tidak peduli. Ia hanya fokus pada satu hal: Event Pertemuan Cecilia dan Dario. Sesuai jadwal game, Dario seharusnya bertemu Cecilia saat senja dan mereka akan bertengkar hebat.
(Itu dia! Bingo!) mata Catherine berbinar melihat Cecilia keluar dari toko buku.
Dario melangkah maju. "Ah, Cecilia..."
Namun, yang terjadi sungguh di luar skenario. Cecilia hanya melirik sekilas dengan tatapan dingin, membungkuk anggun sesaat, lalu berkata, "Selamat sore, Lord Dario. Saya sedang terburu-buru."
Tanpa menunggu jawaban, Cecilia langsung naik ke kereta kudanya dan pergi. Dario mematung di pinggir jalan. Catherine melongo.
(Hah? Kenapa? Kenapa dia tidak marah? Kenapa dia malah pergi begitu saja?!)
Catherine tidak tahu bahwa pembicaraannya dengan Liz sebelumnya telah mengubah segalanya. Setelah mendengar cerita Liz tentang betapa bahagianya hidup bersama pria yang menerima apa adanya (Randy), Cecilia merasa tunangannya sendiri, Dario, hanyalah beban yang tidak layak untuk diperdebatkan lagi.
Rantai takdir otome game itu baru saja putus, dan Catherine sama sekali tidak siap menghadapi kekacauan yang akan datang.
0 Comments