Header Ads Widget

CHAPTER 5 SEMAKIN DEKAT

 


INTERLUDE ②

Malam itu.

"Kakak! Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu...!!"

"Ada apa? Kenapa kau terburu-buru begitu?"

Mata Elena membelalak melihat adiknya yang bergegas menghampirinya begitu dia sampai di rumah. Dia segera berhenti mengerjakan tugas dan berbalik menghadap adiknya.

"Dengar! Seperti yang Kakak katakan, Byleth-sama benar-benar orang yang baik! Mulai sekarang, aku tidak akan lagi percaya rumor dengan membabi buta! Apa pun yang terjadi!!"

"Hah? Ada apa denganmu tiba-tiba... Tenang dulu."

Meskipun bingung dengan keadaan adiknya yang gembira, Elena dengan tegas menepuk tempat di sampingnya dan menyuruh Alan duduk. Setelah jeda singkat, dia mendesak adiknya.

"Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Ceritakan pelan-pelan agar aku bisa mengerti."

"Ba-baik! Jadi saat istirahat makan siang hari ini, ketika aku belajar di perpustakaan───" Elena akhirnya mengetahui alasan kegembiraan Alan.

"Aku bertemu dan bahkan dikonsultasi oleh Byleth-sama di sana───"

"Hah, Byleth itu? Tidak mungkin, dia bukan tipe orang yang menggunakan perpustakaan. Kau yakun tidak kalau kau salah orang?"

"Aku tidak akan salah orang yang menasihatiku!"

"Ku-kurasa kau benar..."

Dia belum pernah mendengar Byleth menggunakan perpustakaan. Wajar saja dia tidak bisa membayangkannya.

"Tapi bagaimana dia bisa memberimu nasihat...? Itu subjek yang sulit, kan?"

"Sejujurnya, aku mendapat kesan kalau Byleth-sama yang memimpin, dia akan lebih mungkin berhasil daripada aku. Sungguh menyedihkan."

"Astaga, tidak perlu begitu rendah hati. Bukankah kau sudah rajin mempelajari ini selama bertahun-tahun? Tidak mungkin kau akan kalah di berbagai bidang."

"Haha, aku berharap bisa serendah hati itu..."

"....."

Senyum yang dibuat Elena seolah berkata 'Itu memang kau' menghilang ketika dia melihat senyum masam Alan. Dia menyadari kalau adiknya menyuarakan pemikiran jujurnya dengan kata-kata, tanpa penipuan.

"Byleth-sama dengan jelas mengajarkan kepadaku aspek-aspek keras dari konsep yang kubuat. Tidak ada ruang untuk keberatan dan dia memiliki perspektif yang jauh lebih luas dariku. Dia bahkan mengingatkanku tentang kelemahan aspirasiku saat ini... Aku serius merasa tidak bisa bersaing. Aku hampir seperti dimarahi Ayah."

"A-aku mengerti kau mengatakannya dengan serius, tapi..."

Orang yang tidak tahu tidak bisa mengalahkan orang yang tahu. Elena mencoba mencari cara untuk memperhalus keadaan, tapi Alan mengutip alasan lain mengapa tidak demikian.

"Mungkin... Kurasa dia sangat unggul dalam keterampilan manajemen. Mengingat kedudukan Byleth-sama, tidak aneh kalau dia memiliki pendidikan semacam itu sejak kecil."

"Manajemen berarti... menjalankan sebuah organisasi, kan?"

"Ya. Aku sudah memberitahumu tentang konsep restoran yang ingin kujalankan, ingat? Untuk mengurangi limbah makanan, aku ingin memasak inventaris yang mendekati kedaluwarsa sebanyak mungkin dan menyediakan makanan gratis bagi mereka yang kesulitan makanan."

"Oh benar, ya."

"Dan Byleth-sama mengatakan ini tentang itu. 'Kalo orang yang kau beri makanan gratis mengklaim makanan ini membuat mereka sakut atau hal-hal aneh tercampur di sana, bagaimana kau akan bertanggung jawab?'."

"Hah!?"

"'Tujuan mereka adalah uang, dan membuat bukti itu mudah. Bahkan kalau kau memperjuangkan ketidakbersalahan, rumor buruk pasti akan menyebar. Itu mengarah pada hasil negatif bagi restoran, dan yang terpenting bagi keluargamu.'"

"Tunggu! Tidak mungkin hal seperti itu bisa terjadi. Cerita seburuk itu... sungguh tidak mungkin." Kurangnya contoh nyata dan pengalaman pengkhianatan, Elena awalnya menolaknya dengan tegas, tetapi mudah dibantah.

"Tidak, menurutku itu kebenarannya. Karena apa yang dikatakan Byleth-sama sama dengan apa yang Ayah dan Ibu lakukan, dan juga restoran lain."

"Apa yang dia katakan? Byleth?"

"'Ada banyak orang yang memanfaatkan niat baik untuk keinginan egois mereka sendiri. Tidak setiap dunia hanya terdiri dari orang baik. Itulah kenapa para pemilik restoran yang mengetahui itu, meskipun itu berarti membuang bahan-bahan, mereka memilih untuk membuangnya. Kalo bisnis mereka tidak berkembang, mereka tidak dapat melindungi mata pencarian karyawan mereka yang bekerja keras'. Kira-kira seperti itu."

"Byleth itu... mengatakan hal seperti itu...?"

Baru setelah mendengar kata-kata ini, Elena pertama kali memahami kenapa 'metode untuk menghindari pemborosan bahan' yang disarankan Alan untuk konsepnya tidak pernah dipraktikkan.

"Diberi tahu hal seperti ini, kau akan berpikir kau tidak bisa menang, kan?"

"Aku tidak bisa menyangkal itu."

"Tidak mungkin aku biasanya bisa mengatakan sesuatu yang begitu logis. Aku bahkan belum memikirkannya... Tapi, aku sama sekali tidak berniat menyerah."

"Aku senang mendengar kau mengatakan itu."

Senyum muncul dari lubuk hati.

"Oh, Byleth-sama juga mengajarkan ku ini. 'Daripada menunggu kesempatan untuk berkonsultasi, ambillah tindakan agar kau dapat berkonsultasi sendiri. Karena rencana mu menguat di dalam dirimu, kau harus segera bergerak untuk menciptakan waktu yang berarti'. Itu benar-benar luar biasa, bisa menunjukkan apa yang kurang dariku hanya dari konsultasi singkat... Byleth-sama benar-benar luar biasa."

"Hei, apa kau yakun itu benar-benar Byleth?"

"Aku bilang itu dia!"

"Ma-maaf. Aku mengerti itu di kepalaku, tapi..."

"Aku benar-benar tidak pernah membayangkan orang seperti itu bersekolah di akademi..." Masih ragu di samping Elena, Alan mendongak ke langit-langit. Dia menatap Byleth yang dibayangkan dengan mata kagum.

"Jadi Kakak, agar tidak menyia-nyiakan saran Byleth-sama, setelah pulang sekolah hari ini aku pergi ke restoran Ayah dan... meminta mereka untuk mengizinkanku berkonsultasi lebih cepat."

"Oh, jadi itu sebabnya kau terlambat pulang. Kau tidak dimarahi kan!? Kau dilarang berkunjung selama jam kerja, kan!?"

"Sebaliknya, aku dipuji. 'Aku terkesan', katanya. Mungkin karena apa yang aku minta."

"Be-begitu... Kalo begitu, baguslah."

Ayah mereka akan baik ketika mereka dengan patuh mengikuti aturan. Tetapi kalau mereka melanggarnya, dia menjadi ayah yang menakutkan. Elena meringis, tapi segera menunjukkan ekspresi lega.

"Tapi kalau dia tahu kau berkonsultasi karena pria itu, bukankah kau akan dimarahi?"

"Itu dia... Dia tertawa dan bercanda 'Atas saran siapa?' Dia sepertinya mengerti tindakanku. 'Kau tidak akan melakukan hal seperti ini tanpa ada yang menyuruhmu'."

"I-ttu memang Ayah..."

"Haha, sungguh."

Kemampuan yang memungkinkannya naik ke puncak Earl dimanfaatkan bahkan dengan cara seperti ini. Dan saat satu topik berakhir, suasana menjadi lebih lembut. Saat itu, Alan angkat bicara.

"Tapi aku benar-benar diberkahi oleh beberapa kebetulan yang beruntung."

"Kebetulan?"

"Seperti yang Kakak katakan, aku tidak pernah mendengar Byleth-sama menggunakan perpustakaan, kan? Jadi... Kalo Byleth-sama tidak 'kebetulan' menggunakan perpustakaan, aku tidak akan mendapatkan konsultasi berharga ini."

"Itu benar... Dia 'kebetulan'... 'kebetulan'... Oh!"

"Kakak?"

Saat dia merenungkan kata-katanya, Elena tampak menyadari sesuatu dan dengan cepat menutup mulutnya. Karena pembicaraan sulit sudah selesai dan suasana menjadi lebih santai, dia bisa berpikir fleksibel.

"Alan, mungkinkah masalah itu bukan kebetulan...?"

"A-apa maksudmu, Kakak?"

"Begini... Aku juga berkonsultasi dengan Byleth tentang adikku yang kesulitan dalam urusan bisnis. Tepat setelah istirahat makan siang dimulai..."

"Ja-jadi...?"

"Jadi... Ada kemungkina untuk mengantisipasi Alan yang kesulitan akan mengunjungi perpustakaan, Byleth juga pergi ke perpustakaan... Kalk apa yang Alan katakan benar dan Byleth telah mempelajari manajemen, dia kemungkinan akan memiliki kepercayaan diri dalam mengatasi beberapa kekhawatiran..."

"Ah! Kalo dipikir-pikir, ketika Byleth-sama bertemu dengan ku, dia tersenyum lebar... Mu-mungkinkah senyum itu berarti 'Seperti yang diharapkan, kau ada di sini'...?"

"I-itu tidak salah lagi!"

Tanpa sepengetahuan Byleth, interpretasi yang keterlaluan telah muncul.

"Pri-pria itu... Melewatkan pelajaran sore setelah memberi nasihat pula...! Dia tidak hanya berusaha terlihat keren..."

"Kakak, wajahmu merah..."

"I-ini karena aku marah! Itu jelas sekali!"

Pada kenyataannya, Byleth tidak mengetahui identitas Alan dan hanya pergi ke perpustakaan karena alasan pribadi, tapi... Kesalahpahaman ini telah menjadi katalis utama untuk meningkatkan favorability Byleth.

CHAPTER 5

SEMAKIN DEKAT

"Hei."

"..."

"Heiii."

"Hm?"

Keesokan harinya. Di dalam kelas pagi ini. Seperti biasa, aku sedang melamun dalam isolasi ketika sebuah suara memanggil dari sampingku. Ketika aku perlahan menoleh, Elena ada di sana, memainkan kalung di lehernya, dia terlihat gelisah.

"Oh, selamat pagi, Elena."

"Se-selamat pagi."

"..."

"Jadi, hanya itu yang ingin kau katakan?"

"Hah? Selamat pagi?"

"Kalo kau mengatakannya dua kali, kau sudah menyapaku 2 kali, lho... Haa..." Elena menghela napas dari bibirnya yang ramping dan melirikku dengan jengkel. Dia tampak tidak puas, tapi aku tidak tahu kenapa.

"Kau berencana menepisnya lagi seperti kemarin, kan? Maaf, tapi aku sudah dengar. Bagaimana kau memberi nasihat kepada Alan."

"Oh, itu."

"Bukan hanya 'itu'. Kalo kau memberinya nasihat, seharusnya kau memberitahuku kemarin... Mungkin aku akan memujimu karenanya..." ───Dia bergumam pelan. Tapi aku bisa mendengar suaranya.

"Maaf. Kau benar, seharusnya aku menyebutkannya karena dia yang pertama kali datang kepadaku untuk meminta nasihat."

"Apa kau benar-benar berpikir begitu? Kata-katamu terasa agak kosong bagiku."

"Tidak, aku serius..."

(Dia tajam... Sebenarnya, aku tidak tahu dia adik Elena, jadi aku tidak bisa mengatakan apa-apa...) Bukan berarti aku sengaja tidak menyebutkannya. Aku tidak punya pilihan.

"Um, bolehkah aku bertanya sesuatu? Bagaimana Alan di rumah...? Apa dia terlihat baik-baik saja? Aku tahu ini sulit ditanyakan, tapi apa aku tidak bersikap kasar padanya sama sekali...?"

"Jangan khawatir. Jauh dari terluka, matanya berbinar saat dia memujimu. Aku lebih kesulitan bagaimana harus merespons."

"Begitu. Senang mendengarnya."

Merasa lega dengan laporannya, pipiku sedikit rileks. Kemarin, aku telah merenungkan bagaimana aku 'seharusnya memilih kata-kataku lebih hati-hati'. Kegelisahan di dadaku hilang.

"Hei... Um, Byleth?"

"Hm? Kau mulai terdengar seperti Sia."

"Kalo kau menggodaku, aku akan memukulmu."

"Maaf!"

"Bagaimanapun... terima kasih. Karena mendengarkan kekhawatiranku dan kemudian bersusah payah mencari Alan agar kau bisa menasihatinya..." Dengan gaya yang bisa dibilang khas dirinya, dia menyampaikan rasa terima kasihnya dengan nada yang entah mengapa malu dan menepis. Tapi aku tidak mengerti sebagian dari apa yang dia syukuri.

"Um, apa maksudmu?"

(Aku tidak ingat mencari Alan-kun atau semacamnya... Kami kebetulan bertemu satu sama lain saja kok...)

"Kau masih akan pura-pura tidak tahu? Tapi tidak ada gunanya. Kau tidak punya alasan lain untuk berada di perpustakaan, kan?"

"......"

(Aku pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan beberapa buku dan karena ada urusan dengan Luna... meskipun)

"Hei, apa kau selalu menghabiskan waktumu begitu saja? Tidak apa-apa untuk tetap diam kalau kau sudah dipuji." (Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa melanjutkannya dengan lelucon... ini serius.) Kalo aku terus bersikap samar, percakapan ini pasti akan menyimpang. Untuk saat ini, aku akan memahami apa yang aku mengerti dan mencoba untuk melakukan diskusi yang berarti.

"Ketika kau mengatakan 'kalau aku sudah dipuji', aku tidak memberi nasihat untuk mendapatkan terima kasih. Aku tidak merasa perlu untuk memberitahu orang lain." (Saat itu aku hanya putus asa agar dia tidak mengatakan 'Kau megenalku, kan?')

"Hmm. Itu alasan yang cukup bagus, tapi bukankah kau perlu memberi tahu orang lain dalam kasusmu? Dengan rumor burukmu yang beredar, kenapa kau bersikap angkuh?"

"Ahaha, kau benar sekali."

"Astaga..."

(Dengan semua rumor buruk yang mengikutiku, mungkin aku harus lebih vokal tentang hal-hal baik yang aku lakukan...) Aku menganggapnya sebagai pemikiran alami, tapi sebagai Byleth yang selalu dirumorkan, itu seperti menerima pukulan akal sehat tepat di ulu hati.

"Bagaimanapun, aku harus memberitahumu kalau ayahku telah memperhatikanmu."

"Kenapa bisa begitu?"

"Karena dia mendengar bagaimana kau memberi Alan nasihat dengan sangat bijaksana. Bukan hanya itu───dia bahkan bertanya padaku, 'Pria macam apa Byleth-kun itu? Tolong ceritakan lebih banyak tentang dia' Dia belum pernah menanyakan hal seperti itu padaku sebelumnya."

"Apa maksudnya itu? Kedengarannya agak menakutkan."

"Jangan khawatir, aku... memberimu ulasan yang bagus, jadi bersyukurlah."

"Aku menghargainya, tapi kau tidak perlu membuatku menonjol. Akan lebih baik kalau kau mengatakan hal-hal buruk tentangku." Ayah Elena berkuasa di puncak Earldom. Tidak ada yang lebih menakutkan daripada menarik perhatian orang seperti itu. Ketika aku dengan jujur mengungkapkan perasaanku, dia menatapku dengan mata terbelalak, entah kenapa dia tampak terkejut.

"Apa, kau benar-benar orang yang bijaksana, ya."

"Hah?"

"Itu yang Ayahku bilang juga. 'Kalo kau memberitahunya ini dan dia mencoba merendahkan dirinya, dia pasti orang yang lebih bijaksana' Kurasa orang-orang cakap cenderung menghindari menonjol karena mereka akan diberi lebih banyak pekerjaan dan tanggung jawab."

"Tidak mungkin, itu tidak benar."

"Konon, semakun bijaksana seseorang, semakun mereka memiliki sikap belajar dan selalu berusaha menerima hal-hal baru. Itu juga kata-kata Ayahku."

"Uh, begitu..."

(Tapi aku tidak terus-menerus berusaha menerima hal-hal baru atau semacamnya... Ini semua hanya salah paham.) Hanya mendengarkan ini, aku merasakan sensasi tidak nyaman dan menyeramkan seperti dia melihat menembusku.

"Kalo semuanya sesuai dengan apa yang dia katakan, aku harus melapor kembali... Tapi untuk semuanya menjadi benar..."

"Tidak, sungguh, aku tidak sepintar itu atau semacamnya."

(Jadi kenapa percakapannya mengalir seperti itu!?) Aku tidak terus-menerus menerima hal-hal baru atau semacamnya. Ini semua hanya salah paham.

"Bagaimanapun, tidak ada gunanya kau menyangkal kalau kau tidak bijaksana. Kau mampu memberikan nasihat khusus kepada Alan, kan?" Dia berbicara seolah itu sudah jelas, tanpa sedikit pun keraguan dalam pandangannya sendiri.

"Boleh aku bertanya sesuatu? Apa sebenarnya yang Ayahmu rencanakan... setelah mendengar laporan dariku?"

"Aku bahkan tidak bisa membayangkan, tapi mungkin dia akan mengatur pernikahan politik? Mereka menyebutnya begitu, kan?"

"Hah? Siapa?"

"Kau, tentu saja."

Elena menunjuk dengan jari rampingnya ke arahku. Dan kemudian───

"Denganku."

Katanya, sambil menunjuk dirinya sendiri seolah itu adalah hal yang paling wajar.

"Hahhh!?"

"Reaksi macam apa itu? Apa kau tidak puas denganku atau bagaimana? Aku ingin kau tahu, aku ini sudah dilamar oleh banyak bangsawan."

"Tidak tidak, bukan itu maksudku."

Gagasan pernikahan politik tidak terasa realistis bagiku setelah bereinkarnasi di sini.

"Apa kau benar-benar baik-baik saja dengan itu, Elena? Aku ini punya banyak rumor buruk. Kau seharusnya menolaknya."

"Jangan... meremehkanku. Kalo kau sepintar itu, kau seharusnya bisa membaca maksudnya..."

"Tidak, aku benar-benar tidak mengerti implikasinya di sini."

Elena menggembungkan pipinya yang memerah dengan cemberut. Aku dengan tenang membalas, karena ini benar-benar tidak bisa dimengerti.

"Aku tidak mau bilang..."

"Kalo kau melakukan kesalahan, bertanggung jawablah dan bicaralah."

"Oh, baiklah..."

Karena melibatkan orang lain, dia dengan patuh mengalah pada permintaanku. Elena menyilangkan lengan rampingnya dan melirik-lirik, berkedip cepat.

"Aku, aku... bercanda pada adikku bahwa... 'Aku akan menyetujui lamaran dari siapa pun yang membantu Alan'. Dan Ayah kebetulan mendengar lelucon itu... Sejak kau menasihatinya, Alan benar-benar menyukaumu."

"Astaga, jadi pada dasarnya ini salah Elena, ya."

"Ini salah Alan! Kalo saja dia tidak memberi tahu Ayah...!"

"Yang memulai yang paling bersalah, kan? Pengorbanan diri seperti itu tidak seharusnya dipuji."

"Kau tidak perlu menyalahkanku sebanyak itu... Aku hanya mengatakannya karena aku sangat ingin membantu Alan..." Mencibirkan bibirnya dengan agak cemberut, Elena berhenti menyilangkan lengannya dan mulai memelintir rambut merah indahnya di sekitar jarinya.

"Yah... Menurutku itu benar-benar mulia darimu sebagai kakaknya. Aku suka semangatmu itu."

"..."

"Oh tunggu, akan memalukan kalau kau mengabaikanku begitu saja."

Saat aku memohon bertatapan mata, Elena, yang membeku dengan mata terbelalak, mulai bergerak dengan cara normalnya lagi.

"Ja-jangan salah paham. Bukan berarti aku mengatakan itu berharap mendapat pujian darimu atau semacamnya. Jadi jangan salah paham."

"Jangan khawatir, aku tidak akan."

(Entah kenapa, sikap ini paling cocok untuk Elena...) Meskipun sebagian orang mungkin menyebutnya angkuh, entah kenapa aku sama sekali tidak merasa tidak senang. Itulah sifatnya yang luar biasa.

"Hmmmm... Pokoknya, ini! Ini untukmu!"

"Hm?"

Dengan perubahan topik yang tiba-tiba, Elena merogoh sakunya dan menyodorkan tiga bungkusan kepadaku.

"Apa ini?"

"......Cokelat."

Dia memberitahuku dengan singkat, masih terlihat tidak senang.

"Untuk saat ini, terima kasih atas kemarin... Sudah membantu Alan. Kalo kau suka rasanya, lain kali akan kubawakan lagi."

"Ahaha, kau tidak perlu terlalu berterima kasih untuk itu."

"Hmph!"

Dengan dengusan itu sebagai komentar terakhirnya, Elena duduk di sampingku. Cokelat yang dia berikan padaku sedikit meleleh karena hangatnya suhu tubuhnya. Setelah itu, seperti biasa, tibalah waktu istirahat makan siang.

"Hei, apa kau tidak kesepian makan sendirian? Bukankah makan sendirian kurang menyenangkan?" Saat aku mengeluarkan bekal yang aku bawa ke kelas, Elena melontarkan kata-kata menyakutkan itu kepadaku tepat saat dia bersiap menuju kafetaria.

"Aku juga punya perasaan, lho, Elena-san?"

"A-aku tidak bermaksud menyakuti perasaanmu! Jangan salah paham!"

"Yah, kalau begitu... Jadi apa yang ingin kau katakan?"

"Oh, maksudku adalah... Kau tidak perlu membawa makananmu sendiri, kan? Kalo kau bersikeras makan di kelas, tentu saja kau akan sendirian."

"Sama saja kalau aku pakau kafetaria, sih."

"Bagaimana kau bisa melupakanku di sana... Aku akan menemanimu, kurasa." 'Hmph!' Dia memalingkan wajahnya, tapi dia menawarkan sesuatu yang sungguh bijaksana.

"Oh? Kalo begitu, kalau kau juga mulai membawa bekal sendiri, Elena, kita bisa makan siang bersama."

"A-apa-apaan itu?"

Selama ada risiko dia bisa menghindariku seperti laba-laba yang menyebarkan anak-anaknya, aku sama sekali tidak ingin pergi ke kafetaria. Jadi alih-alih mengubah tindakanku sendiri, aku akan membuatnya mengubah tindakannya. Aku melontarkan argumen konyol itu, tapi entah kenapa, dia tidak menolak. Dia melirik-lirik, berkedip cepat lagi.

"A-apa kau mengajakku kencan...?"

"Tentu saja."

"Kau... tidak menganggap serius apa yang terjadi pagi ini, kan? Pembicaraan tentang Ayahku yang ingin mengatur pertunangan antara kau dan aku?"

"Itu tidak berhubungan, kan?"

"Kau berpikir untuk tetap dekat agar bisa mempertahankan pengaruh Leclerc, kan? Kira-kira begitu." Dia menatap tajam seolah berkata, 'Jawab dengan jujur'. Tapi aku tidak memikirkan hal seperti itu. Tidak, tidak perlu memikirkannya. (Yah, diriku yang dulu mungkin berpikir begitu, tapi───)

"Tidak perlu perhitungan seperti itu. Elena dan aku sudah dekat, kan? Jadi tidak ada gunanya berpikir seperti itu, dan aku tidak ingin interaksi kita menjadi perhitungan."

"Eek!"

"Hah, dari reaksimu, cuma aku yang mengira kita dekat ya!? Astaga, kalau begitu apa yang barusan aku katakan sungguh memalukan..."

"A-aku juga berpikir begitu, kok... Kalo kita... teman dekat..."

Kegembiraan yang dia tunjukkan sebelumnya menghilang dalam sekejap. Dia mengangguk pelan tanda setuju. Aku merasa lega.

"Ma-maksudku... 'Apa kau tidak khawatir tentang pertunangan dan mencoba mendekatiku?' Itu yang aku tanyakan tadi..."

"Ahaha, aku mengerti. Tidak perlu malu. Aku juga tidak menganggapnya serius."

"Grr... Kau menggodaku seperti itu kemarin juga... Aku benar-benar marah sekarang!"

"Ma-maaf soal itu!"

(Dia sudah terlihat marah sih...) Kalo aku terus berpura-pura bodoh di sini, aku pasti akan merusak suasana hatinya lebih parah.

"Oh, baiklah... Pikirkan saja dulu. Aku akan menemanimu... tiga kali seminggu, kurasa."

"Kau mengizinkan sebanyak itu!?"

"Dua kali. Menyebalkan kalau kau menantikannya seperti itu."

"Sayang sekali..."

(Seharusnya aku tidak mengatakan hal yang tidak perlu...) Makan sendirian memang sepi dan sama sekali tidak menyenangkan. Aku hanya bisa menyesali kalau dia mengurangi jumlahnya.

"Oh tunggu, aku baru saja terpikir. Kalo Elena akan makan denganku, bukankah Sia jadi sendirian? Kalo itu terjadi, maka jumlahnya bisa───"

"Hah? Apa yang kau bicarakan?"

Dia menatapku dengan kekesalan yang luar biasa, padahal menurutku aku hanya mempertimbangkan hal yang jelas sebagai tuannya.

"Semua orang tahu kalau kau menjadikan gadis itu musuhmu berarti kau tidak bisa bertahan di sekolah ini. Sia punya teman paling banyak di sini."

"Begitu... Kau benar."

Aku terkejut dengan jawabannya, tapi jujur saja, aku tidak ada keraguan tentang itu. Ketika dia menunjukkannya, aku tersentak menyadarinya. Mengingat kepribadian dan karakter Sia, tidak mungkin dia kekurangan teman.

"Satu-satunya alasan kau masih bisa pergi ke akademi di samping rumor buruk itu adalah karena kau keluarga marquess dan tuan Sia, kan? Tanpa dua hal itu, kau pasti sudah lama dihancurkan oleh orang lain."

"Apa dia entah bagaimana berniat menjadi penguasa akademi...?"

"Dengan memberi teman-temanmu lebih banyak kebebasan, ikatan kalian pasti akan semakun dalam tanpa sengaja." Sia tampak lembut, ceria namun rapuh───seolah menyentuh kepalanya akan membuatnya melayang seperti dandelion. Dalam analogi game, dia terlihat mudah untuk mendapatkan pengalaman, tapi menyerangnya akan segera memanggil banyak sekutu untuk membalas berkali-kali lipat───benar-benar bos terakhir yang tersembunyi.

"Sia benar-benar luar biasa, ya..."

Saat aku menegaskan kembali kualitasnya yang luar biasa,

"Oh, um... Maaf, tolong jangan pedulikan gangguan ku! Byleth-St. Ford-sama! Luna-Peremmer-sama memanggilmu...!"

"Apa?"

Salah satu teman sekelasku dengan takut-takut memanggilku.

"Luna?"

Ketika aku mendengar itu dan melihat ke arah pintu kelas, Luna ada di sana dengan wajah yang sama mengantuknya, dia memegang tiga buku di kedua tangannya dan menghadap ke sini.

"Terima kasih sudah memberitahuku. Kau menyelamatkanku."

"Eek! Ba-baik! Permisi!"

Ketika aku berterima kasih kepada teman sekelasku, dia bergegas pergi secepat kilat. (Rumor macam apa yang telah sampai ke telinga orang itu... Ketakutannya tidak bisa dipercaya, tapi...) Aku tidak terkejut karena aku tahu situasinya, tetapi tetap saja mengejutkan.

"Yah, Luna memanggilku jadi aku akan segera kembali, oke?"

"Byleth... Apa kau mengenalnya!?"

"Kenapa kau begitu terkejut? Luna juga sekolah di sini."

Aku tidak mengerti kenapa dia bereaksi begitu, tapi aku mengatakan apa yang aku pikirkan dan mendekati Luna.

"Sudah sehari, Byleth-St. Ford."

"Ya, sudah sehari."

Wajah tanpa ekspresi dan suara monoton, kedua tangan memegang buku. Ini adalah pemandangan yang familiar untuk ku sekarang.

"Aku datang ke sini hari ini karena aku perlu berbicara denganmu. Tapi sebelum membahas masalah utama, bolehkah aku bertanya satu hal? Ada sesuatu yang menggangguku."

"Silakan."

Mendengar persetujuanku, Luna menoleh untuk melihat ke arah Elena.

"Kalian berdua terlihat dekat."

"Ya, bisa dibilang dia adalah orang yang paling dekat denganku."

"Begitu. Elena-san adalah orang yang paling dekat denganmu?"

"Uh, hmm?"

(Ada nada ketus di suaranya... Tidak, mungkin aku hanya membayangkannya.)

"Apa itu karena kau memiliki hubungan seperti keluarga dengan Elena-san?"

"Bukan begitu, hanya saja dia satu-satunya yang berbicara denganku di kelas."

"Aku tidak mengerti maksudmu. Kai adalah orang yang baik."

"Apa kau lupa, Luna...? Aku punya banyak rumor buruk."

"Ah, kau benar. Maaf."

Aku mengatakan itu dengan bercanda, tapi dia mengangguk dengan wajah datar.

"Sekarang aku mengerti. Tatapan simpatik yang ditujukan padaku. Apa mereka pikir kalau aku sedang diancam?"

"Tidak, tidak, sungguh maaf soal itu."

"Tidak apa-apa, aku sendiri yang datang padamu."

Luna menggelengkan kepalanya sedikit ke samping. Pembicaraan ringan sebanyak ini sebelum memulai bisnis seharusnya sudah cukup. Agar tidak membuang waktunya, aku sendiri yang memulai membahas masalah utama.

"Jadi, apa yang kau butuhkan dariku, Luna?"

"Jawaban ku mengenai undangan yang kau berikan kemarin."

"Hah, bukankah kau bilang butuh satu atau dua hari untuk memikirkannya?"

"Aku memutuskan kemarin."

Sebuah pikiran melintas di benakku saat kami berbicara. ["Tapi kalau aku yang mengundangnya, apa menurutmu dia tidak akan mau bermain?] [Untuk menjelaskan secara singkat, daripada bermain, dia lebih suka membaca buku.] [Sudah terkenal bahwa dia menolak semua undangan dengan mengatakan 'Tolong biarkan aku membaca'...] Aku teringak percakapanku dengan Sia yang terlihat khawatir.

"...."

Aku sudah tahu dia akan menolak. Berkat Sia, aku sudah siap untuk penolakan sejak kemarin. Jadi tentu saja aku juga akan mendapatkan jawaban yang membingungkan...

"Aku akan menerimanya. Minggu ini atau minggu depan tidak masalah."

"Hah?"

"Aku bilang aku akan menerimanya."

"Be-benarkah!?"

"Kenapa kau begitu terkejut? Bukankah kau yang mengundangku?"

"Yah, memang, tapi aku dengar kau menolak undangan untuk pergi permain."

"Itu... tergantung waktu dan keadaan. Apa itu tidak baik?"

"Tidak, tidak, tentu saja tidak apa-apa! Aku malah senang sekali. Aku pikir aku akan ditolak."

"Begitu...begitu ya."

(Entah kenapa... Luna juga terlihat senang...?) Tapi wajah dan suaranya sama sekali tidak menunjukkan perubahan. Pasti aku hanya membayangkannya lagi.

"Byleth-St. Ford, aku punya satu permintaan mengenai janji bermain kita. Karena aku biasa menghabiskan hari liburku dengan membaca, aku tidak tahu tempat-tempat untuk bermain. Jadi, bolehkah aku menyerahkan seluruh perencanaan sepenuhnya padamu?" Dia sedikit membuka matanya lebih lebar, menatapku dengan kuat. Perasaan 'Aku serahkan semuanya padamu' benar-benar tersampaikan.

"Ahaha, karena aku yang mengundangmu, tentu saja kau bisa menyerahkannya padaku."

"Terima kasih banyak. Kalo begitu, mohon putuskan tanggal dan waktunya juga. Aku tidak punya janji selain membaca, jadi aku bisa menyesuaikan jadwalku."

"Baik."

"Kalo begitu, aku sudah menyampaikan apa yang perlu aku sampaikan, jadi aku akan pergi sekarang." Luna sedikit menundukkan kepalanya dan melangkah mundur, buru-buru berusaha pergi.

"Oh, Luna. Satu hal terakhir."

"Ya?"

"Buku macam apa yang kau pegang itu? Karena kau pernah merekomendasikan buku menarik sebelumnya, aku penasaran."

"Ini bukan buku hiburan."

"Oh, begitu?"

"Ya. Secara pribadi ini agak memalukan, jadi aku tidak bisa menceritakannya padamu. Sampai jumpa lagi."

"Ah..."

Seolah tidak ingin ditanyai lebih lanjut, Luna segera mengubah arah hadapnya dan terhuyung-huyung pergi dengan tergesa-gesa. (Aku sempat melihat sekilas sesuatu seperti majalah fashion...? Tapi dia tidak punya alasan untuk merasa malu akan hal itu, jadi apa ya... Sekarang aku penasaran...) Saat aku mengamati sosok Luna yang menjauh, merenungkannya───

"Heiii,"

"Wah, kau mengagetkanku!"

Seseorang menepuk pundakku. Ketika aku menoleh ke belakang, ada Elena dengan bibir mengerucut seolah dia ingin mengatakan sesuatu.

"Apa yang membuatmu begitu terpukau?"

"Aku tidak terpukau atau apa pun..."

"Hmph. Pokoknya, itu bukan urusanku."

Setelah mengatakan itu dengan singkat, Elena mengubah nada suaranya dan mengganti topik pembicaraan.

"Jadi... Luna-san juga mengenalmu, ya? Kukira hanya Sia dan aku."

"Mengenal apa tentangku?"

"Kalo kau berpura-pura tidak tahu, aku akan marah."

"Aku tidak berpura-pura!"

"Haa..."

Menyadari aku serius, dia menghela napas kesal, lalu memberitahuku terus terang.

"Se-seperti... orang baik, kurasa? Kira-kira begitu."

"Ahaha, aku tidak tahu apa Luna berpikir begitu tentangku, tapi dia memang merekomendasikan buku-buku kepadaku dan semacamnya."

"Yah tentu saja. Dia terlihat benar-benar menikmati percakapan itu juga."

"Hm? Bagaimana kau bisa tahu kalau Luna menikmatinya? Dia hanya datang untuk menyampaikan pesan." Menyadari penggunaan kata 'juga' olehnya, aku membalas dengan hal yang jelas, yang menyebabkan dia memberikan pendapat yang agak sulit dipercaya.

"Dari pandanganku, dia terlihat lebih bersenang-senang."

"Hah? Maksudmu Luna yang dilihat Elena? Apa kau tidak salah orang?"

"Apa kau secara tidak langsung mengatakan mataku buta?"

"Bukan itu maksudku!"

Aku tidak bisa menjelek-jelekkan putri bangsawan terkemuka seperti itu. Selain itu, ini salah paham, jadi aku melambaikan tangan menjelaskan.

"Tidak, hanya saja, itu Luna, tahu? Apa kau benar-benar bisa tahu dia bersenang-senang?"

"Aku juga tidak tahu. Aku bertanya dengan samar."

Pertanyaannya yang samar tersampaikan, dan Elena juga dengan samar menyangkalnya.

"Tapi itu pertama kalinya aku melihatnya berbicara dengan seseorang begitu lama. Luna-san yang aku kenal selalu mengucapkan selamat tinggal dan langsung pergi setelah menyampaikan urusannya, tahu?"

"Hah?"

"Ditambah lagi, dia tidak pernah menjadi orang yang mendekati seseorang sebelumnya. Selain datang dan pergi ke sekolah, dia tidak pernah melangkahkan kaku keluar dari perpustakaan."

"Dia tidak!? Yah, kurasa itu tidak mengejutkan untuk Luna..."

Aku terkejut, tapi berpikir secara rasional, itu bukanlah hal yang mengejutkan.

"Hal yang paling sulit dipercaya adalah dia menerima undanganmu untuk bermain."

"Ya, itu juga mengejutkanku. Aku dengar dari Sia kalau dia sering menolak undangan untuk bermain. Tapi... sekarang setelah kupikir-pikir, mungkin kesannya aku memaksanya bermain."

"Dari kepribadianmu, tidak mungkin kau melakukan itu, kan?"

"Bukan kepribadian, tapi lebih seperti masalah status? Aku dengar Luna menolak undangan dari berbagai macam orang, tapi bukankah undangan dariku akan sulit dia tolak? Aku masih pewaris keluarga bangsawan tingkat tinggi."

"Begitu, dalam artian itu. Tentu saja akan lebih sulit baginya untuk menolak dibandingkan undangan orang lain, tapi dia bukan gadis lemah yang tidak bisa menolak...."

"Aku akan senang kalau itu benar, tapi... Ada alasan lain kenapa aku berpikir dia mungkin merasa terpaksa. Begini, aku sebenarnya punya hutang padanya, jadi aku juga punya alasan untuk mengundangnya kali ini, untuk membalas budi. Jadi mungkin Luna hanya berusaha untuk tidak merusak reputasiku." Setelah menasihati Alan, Luna telah berkata... 'Aku menghormatimu sebagai pribadi' ───dan semacamnya. Masuk akal kalau dia tidak bisa menolak dan merusak harga diriku, karena dia benar-benar berpikir begitu.

"Aku mengerti maksudmu, tapi dia menerima undanganmu kali ini karena dia menyukaumu. Itu pasti."

"Semoga begitu..."

"Jangan khawatir, aku tidak salah. Karena dia melotot───tidak, lupakan saja."

"Hm?"

(Apak dia akan bilang 'melotot'? Tidak, tidak mungkin Luna akan melakukan itu, dan aku tidak merasakan itu saat berbicara dengannya...) Pasti dia bermaksud mengatakan hal lain.

"Hei, Byleth. Kau tidak mengatakan apa pun padanya tentang aku, kan?"

"Coba kulihat... saat itu dia hanya berkata 'Kalian berdua terlihat dekat' dan aku menjawab 'Kau yang paling dekat denganku', kurasa."

"Hmm. Aku sama sekali tidak senang akan hal itu. Karena kau tidak punya teman."

"Ahaha, kau benar sekali."

Melihat alasan kenapa aku mengatakan 'yang paling dekat denganku', Elena menatapku dengan jengkel. Tatapan itu menyakutkan.

"Jadi kau membuatnya cemburu, kan? Mengatakan kau akan bermain dengannya tapi 'aku yang paling dekat denganmu' dan segala macamnya."

"Cemburu? Ahaha, Luna bukan gadis picik seperti itu."

"Oh? Kalo itu aku, aku akan cemburu mendengar hal seperti itu."

"....."

Aku menyadari kesalahanku. Itu sama saja dengan mengatakan 'Kau gadis picik!' secara tidak langsung. (Apa yang harus kulakukan... Aku takut menatap Elena sekarang...)

"Hei hei, kalau aku cemburu karena hal seperti itu, apa itu membuatku menjadi gadis yang picik?" Aku merasakan tekanan. Tekanan dalam suaranya. Kalo aku mengiyakan sekarang, aku pasti akan diserang.

"Um, menurutku...itu imut."

"Ap-apa, ah, hah!? Ja-jangan besar kepala, baka..."

"Ma-maaf soal itu!"

Dia mencubit pipiku dengan tajam menggunakan jari-jarinya yang ramping. Saat aku mengatakan 'gadis picik', aku menyadari kalau aku akan dimarahi apa pun yang terjadi. Langit-langit berbentuk kubah dengan kedalaman yang luar biasa. Deretan jendela kaca patri besar berjajar. Lampu gantung terpasang di sekeliling untuk menerangi seluruh ruangan yang luas. Beberapa lukisan berbingkau di dinding. Bahkan hanya suasana saja sudah menyenangkan di aula makan akademi yang mewah dan megah ini───

"Baiklah, kalau begitu, permisi."

"Ya, makan siangnya sangat menyenangkan!"

"Aku juga menikmatinya!"

"Silakan bergabung lagi kalau kau ada waktu! Elena-sama!"

"Ya, tentu saja."

Saat Elena sedang menuju kelas sambil mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya.

"Oh!"

"Ah, maaf soal itu."

Dia kebetulan bertabrakan dengan Sia, yang sedang membawa bahan ajar.

"Sudah terlalu lama, Elena-sama! Sungguh kejutan bertemu dengan Anda di sini!"

"Fufu, aku juga merasakan hal yang sama. Sungguh kebetulan yang membahagiakan." Setelah sapaan singkat, Elena melihat ke bawah dan memperhatikan apa yang dipegang Sia. Dia bertanya dengan penasaran.

"Tapi, apa yang kau lakukan membawa bahan-bahan selarut ini?"

"Maaf, saya punya pertanyaan yang tidak saya mengerti jadi saya menerima les privat..."

"Seperti yang diharapkan, kau masih sangat rajin."

Sambil menyulap tugas melayani tetapi selalu bersedia bertanya jika tidak yakun, Elena tidak bisa tidak mengagumi Sia. Tapi dia juga merasa khawatir.

"Tapi kau seharusnya lebih menghargai waktu luangmu. Karena kau memiliki waktu luang, kau harus memanjakan diri sendiri."

"Terima kasih atas perhatian Anda! Tapi saya merasa harus memanfaatkan kebebasan saya untuk belajar!" Respons yang khas dari Sia, tapi sebagai teman dekatnya, Elena tidak bisa tidak ikut campur.

"Itu mungkin benar, tapi menggunakan waktu luang untuk mengistirahatkan tubuh juga bisa menjadi cara yang baik untuk memanfaatkannya. Atau apa Byleth telah mengatakan sesuatu padamu?"

"Tidak ada yang seperti itu! Saya hanya bertindak atas kemauan saya sendiri."

"Kalo begitu kau seharusnya tidak terlalu memaksakan dirimu..."

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan bangsawan bahwa para pelayan menjalani hidup yang sibuk. Saat Elena mengamati wajah Sia, mencari argumen yang mungkin bisa meyakunkannya untuk beristirahat... dia berkedip kaget.

"Hm?"

Mata Sia berbinar cerah, tanpa lingkaran hitam di bawahnya. Seluruh tubuhnya tampak penuh semangat dan energi───

"Mungkinkah... Kau sebenarnya tidak lelah?"

"Meskipun benar saya bekerja keras, saya berani bilang saya memiliki pekerjaan termudah di antara para pelayan berkat Byleth-sama! Fufu..."

"Berkat Byleth...?"

Penjelasan ini tidak masuk akal baginya.

"Aku ingin sekali mendengar lebih banyak tentang ini. Aku cukup penasaran."

"Tentu saja!"

Tersenyum manis, dia mengangguk penuh semangat───tidak diragukan lagi senang membahas tuannya. Membalas senyum Sia, Elena memutuskan untuk mengarahkan percakapan ke topik utama.

"Baiklah kalau begitu, bagaimana bisa kau tidak lelah Sia? Menyulap studi dan tugas mu sebagai pelayan seharusnya membuat itu tidak mungkin, kan?"

"Itu benar, tapi di antara para pelayan, saya berani bilang saya memiliki pekerjaan termudah...," Sia menjawab, melipat tangan kecilnya dengan nada meminta maaf namun dengan sedikit kebanggaan.

"Elena-sama, apa Byleth-sama tidak mengatakan apa pun tentang ini kepada Anda?"

"Ya, dia tipe orang yang suka merendah bahkan saat dia melakukan sesuatu yang patut dipuji."

"Fufu, sepertinya orang lain juga melihatnya seperti itu. Seperti dia menganggapnya sepele setelah melakukan sesuatu yang begitu alami?"

"Tepat sekali! Entah apa yang dia pikirkan tapi dia terlalu berusaha untuk terlihat keren."

"Tapi itu cukup keren juga, kan?!"

"Sudah, sudah, aku tidak bilang itu bagus sekali. Orang yang menyembunyikan perbuatan baik mereka itu menjengkelkan." Elena berbicara kasar tapi Sia tidak terpancing. Tersenyum saat dia melanjutkan ceritanya, sepertinya dia memahami perasaan sejati Elena di balik kata-kata itu.

"Begini, alasan saya tidak lelah adalah karena Byleth-sama mengubah kebijakannya..."

"Oh, kebijakan?"

"Ya! Pertama, jika saya punya pekerjaan sekolah yang belum selesai, itu jadi prioritas di atas tugas saya. Dan ketika Byleth-sama kembali ke kamarnya, itu jadi waktu luang saya." Elena menunjukkan ekspresi aneh melihat bagaimana Sia menggambarkan hal itu terjadi 'padanya'. Seolah berkata, '...tentunya ini tidak seharusnya terjadi pada semua pelayan, kan?'

"Um, jadi dengan kata lain... dia memprioritaskan pelajaran Sia dan meringankan beban kerjamu? Biasanya tugas pelayan akan lebih dulu dari segalanya dan kamu harus terus bekerja sampai Byleth tidur, kan?"

"Tepat sekali!"

Entah tidak menyadari maksud sebenarnya Elena atau bersemangat seperti anak kecil dengan mainan baru, dia meningkatkan energinya saat menceritakan kisah ini.

"Elena-sama! Menurut Anda apa yang akan terjadi jika saya mencoba melanjutkan tugas-tugasku yang tersisa selama waktu luang say?!"

"Hmm... dia akan memujimu karena begitu rajin bahkan di waktu luangmu, kan?"

"Tidak, saya akan dimarahi!"

"Dimarahi?"

"Dia akan dengan tegas berkata padaku ''Pekerjaanmu bisa menunggu sampai besok, sekarang istirahatlah'dan dia segera mengusir saya dari kamarnya!" Dia berseri-seri. Dan laporannya masih belum selesai.

"Juga! Keesokan paginya tempat-tempat yang saya biarkan belum selesai dibersihkan, sudah bersih..."

"Jangan-jangan... Byleth yang menyelesaikan pembersihannya untukmu?!"

"Saya tidak bisa memikirkan kemungkinan lain! Dia bersikeras tidak tahu, tapi itu satu-satunya saat ketenangan saya sedikit goyah!"

"Dasar bodoh. Dari sudut pandang Sia, dia pasti terlihat seperti tuan yang patut dibanggakan."

"Fufu... dia memang sesuatu yang patut dibanggakan!"

Sambil mengangguk dalam-dalam, dia tampak malu saat menyipitkan matanya.

"Kau benar, Byleth benar-benar luar biasa. Apa teman-teman sekelasmu di Akademi tahu tentang ini?"

"Ya...karena saya menjawab saat ditanya!"

"Lalu, apa dia menjadi populer di kalangan pelayan wanita karena itu?"

"Mungkin saja! Saat saya berbicara tentang Byleth-sama, sekitar 10 orang akan berkumpul!"

"Se-sebanyak itu!?"

"Teman-teman sekelas saya di Akademi lebih memercayai pandangan saya daripada rumor tentang Byleth-sama!" Sia berkata dengan santai, tapi Elena langsung memahami strateginya.

"Itu berkatmu, Sia. Tentu saja. Kau tersenyum lebar dengan sangat bahagia seperti 'Tuanku luar biasa!' sambil membanggakannya, kan? Tidak mungkin mereka tidak percaya."

"I-i-itu tidak benar! Aku tidak tersenyum seperti itu!"

"Pembohong. Wajahmu masih meleleh bahkan sekarang."

"Eek!!"

Dalam bahasa bangsawan, dia mengatakan Sia memiliki wajah yang tidak sopan. Untuk menyembunyikan wajahnya dari pandangan orang lain, Sia segera menutupi wajahnya dengan rambut kuning-putihnya.

"Kalau begitu, ada satu hal baik yang ingin kutanyakan padamu, Sia. Aku juga ingin mendengar pendapatmu."

"Y-ya?"

"Ini tentang Byleth. Sepertinya dia punya kencan akhir pekan ini dengan Luna-san."

"Eh...! Kencan!? Dengan Luna-sama!?"

Sia sangat terkejut. Dia membuka matanya lebar-lebar dan menarik tubuh bagian atasnya. Dia adalah orang yang memberi tahu Byleth kalau 'Luna tidak bermain', dan sekarang dia mengetahui informasi ini.

"Tidak salah lagi. Aku tidak pernah membayangkan Byleth akan berkenalan dengan Luna-san dan bahkan mengajaknya bersenang-senang..."

"Balasan Luna-sama adalah surat, kan? Anda pasti tahu dengan baik, Elena-sama!"

"Sebenarnya... aku mendengarnya langsung. Di kelas kami."

"Hah?"

"Penjelasanku ceroboh, maaf. Luna-san datang jauh-jauh ke kelas kami, tahu."

"A-apa!?"

Kutu buku Luna yang tidak pernah meninggalkan perpustakaan kecuali untuk bepergian... Sia juga tahu tentang ini. Justru karena dia tahu, dia merasa sulit untuk percaya.

"Wajar saja kau bereaksi seperti ini, tentu saja. Semua orang di kelas juga terkejut."

"Um, apakah menurut anda Luna-sama... mungkin benar-benar menyukau Byleth-sama...?!"

"Tidak salah lagi dia tertarik. Lebih dari sekadar suka, lebih pada tahap penasaran, menurutku. Byleth mengatakan sesuatu seperti 'Mungkin itu supaya tidak menghancurkan reputasiku' tapi bagi Luna yang menghargai waktunya lebih dari segalanya..."

"Seperti kata pepatah, dia terkenal karena menolak semua undangan..."

"Dengan alasan kalau 'Sama sekali tidak ada gunanya mengundangnya karena dia akan menolak', kan?"

"Uuu..."

Keduanya tidak memiliki perbedaan informasi yang mereka ketahui. Jadi sangat mungkin Luna menyukau Byleth. Sia memegangi kepalanya sambil mengerang.

"Dan dia memelototiku, tahu."

"Dia me-memelototi!?"

"Dengan intuisi wanitaku, menurutku dia merasa iri dan merasa 'Itu tidak adil' tentang kami yang berada di kelas yang sama."

"Uuuu..."

Mendapatkan informasi tambahan, Sia mengerang lebih keras.

"Fufu, bahkan kau, yang biasanya begitu masuk akal, bisa merasa cemburu, ya?"

"I-itu tidak...! Tugas saya adalah melayani Byleth-sama dengan tulus tanpa menyebabkan masalah apa pun!"

"Ekspresi dan perkataanmu tidak cocok. Kau terlihat sangat tegas sekarang."

"....."

Emosi seperti cemburu bisa menyebabkan masalah bagi tuannya. Tentu saja, sebagai pelayan dia tidak boleh menunjukkan, harus menyembunyikan, perasaan tidak pantas seperti itu, tapi Sia yang berusia enam belas tahun yang polos belum menguasai keterampilan itu. Mengingat kepribadiannya juga, itu adalah sifat yang paling tidak cocok dengannya.

"Sia, aku tidak akan memberi tahu siapa pun, jadi kau bisa jujur padaku."

"...Saya belum ingin Byleth-sama punya kekasih."

Ketika Elena mendesak Sia seperti ini... tidak akan ada kecanggungan. Sia langsung menjawab dengan pipi menggembung.

"Oh, terus terang sekali darimu."

"Sa-saya minta maaf!!"

"Aku tidak keberatan sama sekali, hehe. Jadi, kenapa kau tidak ingin dia punya kekasih?"

"Y-Yah... karena dia akan punya lebih sedikit waktu untuk dihabiskan bersama saya... Jika Byleth-sama punya kekasih, kami tidak akan bisa lagi berjalan ke dan dari sekolah bersama. Kami tidak akan punya waktu untuk berbicara di mansion. Saya tidak ingin itu terjadi..."

"Hah?"

Dengan kata-kata yang menyiratkan 'Apa itu alasanmu yang sebenarnya?', Sia mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Ini berbeda dari Byleth yang dulu. Jarak di antara mereka telah tertutup, dan hubungan yang erat telah terjalin. Bagi Sia, yang telah bekerja keras dan kini melihat hasilnya, ini adalah periode yang paling menyenangkan. Perasaannya yang jujur adalah dia ingin melindungi wilayahnya.

"Kau megemaskan sekali, karena alasan itu. Aku tidak pernah memikirkannya seperti itu."

"Jadi, Elena-sama, bagaimana menurut Anda?"

"Eh..."

"Tolong, Elena-sama, sampaikan pendapat Anda. Ini adalah pertukaran yang adil." Untuk Elena, yang menegaskan prinsip 'kesetaraan untuk semua siswa', perkataan Sia valid. Tidak, dia memilih kata-kata ini justru karena dia tahu itu.

"I-ini hanya skenario hipotetis, oke? Hanya skenario hipotetis... tapi aku tidak bisa tidak berpikir kalau mungkin Byleth seharusnya bertanya padaku dulu daripada Luna-san..." Ketenangannya yang tadi menghilang, dan dengan setiap kata, suara Elena semakun pelan. Matanya mengembara, dan wajahnya memerah saat dia bergumam.

"Uh, Elena-sama, apakah Anda... menyukau Byleth-sama?"

"Kenapa kau bilang begitu!"

"Itu hanya intuisi wanita."

"....."

Sekarang, Sia menatap Elena tanpa berkedip, penuh perhatian. Kalo Byleth ada di sini, dia mungkin akan mengatakan sesuatu seperti, 'Wajahmu merah sekali, apa kau yakun kalau kau tidak demam?'

"Um, begini, begini... Ma-maksudku, bukan berarti aku menyukau pria itu atau apa pun. Aku hanya..."

"Begitukah?"

"Y-ya."

"Sungguh, sungguh?"

Ya.

"Sungguh, sungguh?"

"...."

Sia menatap Elena tanpa berkedip.

"To-tolong jangan menatapku seperti itu... Aku benar-benar tidak menyukaunya dengan cara itu, tapi, yah... kurasa itu tidak apa-apa. Sejujurnya..." Tidak dapat menahan interogasi diam-diam, Elena memalingkan wajahnya ke pemandangan di luar jendela dengan sikap tsundere, dan terus berbicara dengan mata tertunduk.

"Sia mungkin tahu, tapi dari posisiku, ada kalanya kau harus bertunangan dengan seseorang yang bahkan tidak kau kenal, baik penampilan maupun kepribadian... untuk membentuk pernikahan politik."

"Itu pernikahan politik, kan?"

"Ya. Aku bisa menolak lamaran sekarang karena aku seorang siswa, tapi itu tidak akan berhasil di masa depan karena menikah adalah pekerjaanku. Jadi, lebih baik mencari seseorang lebih awal, kan? Seseorang yang mungkin bisa kusukau..." Pernikahan adalah komitmen untuk menghabiskan seumur hidup dengan seseorang. Dan keinginan untuk menikahi seseorang yang dicintai adalah keinginan yang dimiliki setiap orang.

"Sia, ada sesuatu yang istimewa yang perlu kuberitahukan padamu... untuk saat ini, kandidat nomor satuku adalah... dia."

"A-apa!?"

"O-oh, tidak perlu begitu terkejut...dia sebenarnya pria yang cukup baik. Dia rendah hati, baik bahkan kepada mereka yang berstatus lebih rendah, bertindak tanpa mengharapkan imbalan, dan dia juga cerdas. Memang dia mungkin kurang peka dan bisa sedikit kurang ajar, tapi saat dibutuhkan dia bisa diandalkan..." Bagian ini tidak bisa kukatakan secara langsung. Aku tersenyum malu-malu dan menambahkan 'Bukankah dia cukup baik sebagai kandidat?'

"Jadi... aku sedikit cemburu. Dia pergi berkencan. Ini perasaan yang buruk tapi aku berharap aku tidak punya mata untuk pria yang sama seperti Luna..."

"Tolong jangan khawatir, Nona. Saya sangat menentang Byleth-sama mencari pasangan saat ini."

"Menurut Sia, berapa tahun lagi Byleth harus menunggu sebelum mencari pasangan romantis?"

"Hmm, itu pertanyaan yang sulit... satu tahun? Tidak, 3 tahun... tidak tunggu, 6 tahun... maksud saya 8 tahun!"

"Aku harus mengerjai Sia dan memberi tahu Byleth kalau dia menggangguku."

"A-apa!? Tidak, itu sama sekali tidak benar!"

Kalo dia menunggu delapan tahun, itu akan menjadi waktu untuk pernikahan politik yang diatur. Perspektif Elena bisa dimengerti, tetapi Sia hanya menjawab dengan jujur.

"Kau tahu, dia cukup populer akhir-akhir ini. Kurasa ada celah karena dia ternyata orang baik."

"Dia sangat populer!"

"Apa Sia ingin menjadi pasangannya?"

"Sa-saya!?"

Topik berubah tiba-tiba.

"Maksudku, kau menerima permen dan cambuknya lebih dari siapa pun, kan? Setelah sekian lama bersikap keras, tidak aneh untuk menyukaunya sekarang setelah dia lembut. Kau tipe orang yang selalu mengira itu salahmu, takut tidak disukau, dan ingin menyenangkan orang lain. Orang seperti mu itu bisa dengan mudah jatuh cinta padanya, kan?"

"Ti-tidak, itu terlalu lancang! Saya tidak sestatus dengan Elena-sama!"

Dia tampak cukup bingung, seperti yang diharapkan dari implikasi yang begitu jelas.

"Status atau tidak, pelayan bisa menjadi simpanan atau selir, kan? Secara hipotetis, kalau Sia bertindak atas itu, maka aku bisa mengkonfirmasi hal-hal dengan Byleth jauh lebih cepat daripada menunggu delapan tahun."

"Eek!"

Kata-kata menggoda diterima oleh Sia yang ketakutan, yang menjawab

"Tapi!"

"Tunggu, kau benar───itu tidak pantas!"

"Kenapa begitu?"

"Ah, kalau saya berpikir seperti itu, aku mungkin akan menyebabkan masalah bagi Byleth-sama. Saya egois, manja, dan cemburu... Saya cenderung mengarahkan perasaan itu padanya."

"Fufu, itu bukan masalah besar."

"Hah?"

"Byleth tidak akan marah tentang hal seperti itu. Dan karena kau telah diperlakukan dengan kasar sampai sekarang dengan alasan apa pun, kamu harus melampiaskan perasaanmu sedikit dan mendapatkan pembalasan. Kalo terjadi sesuatu, aku pasti akan melindungimu." Kata-kata putri sulung keluarga Earl itu benar-benar meyakunkan.

"Dan kalau dia tidak marah... bukankah itu berarti tidak apa-apa untuk 'berpikir seperti itu'? Itu bukan hal yang buruk, kan?"

"Ah, ah, i-i-itu..."

Wajah Sia memerah semakun merah di depan matanya. Seolah membayangkan bagaimana segala sesuatunya mungkin berakhir dengan baik di masa depan.

"Oh... kau akhirnya menyukaunya juga, kan? Kurasa pendekatan wortel dan cambuk berhasil."

"Bu-bukan begitu sama sekali!!"

Percakapan rahasia antara kedua gadis ini berlanjut hingga awal kelas berikutnya.


PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER

Post a Comment

0 Comments