Header Ads Widget

Episode 3: Dikira Karyawan yang Dipecat di Taman

 

Aku duduk di bangku taman. Dengan sebotol air di satu tangan, aku menahan rasa pusing akibat mabuk semalam sambil menunggu mi instanku matang.

Sebenarnya, aku bisa saja menyembuhkan rasa mual ini dengan mudah menggunakan sihir penyembuhan. Namun, karena mengingat kejadian kemarin hanya akan membuatku depresi, aku—Harukaze Reito—memilih untuk menghadapi penderitaan hangover ini secara langsung.

Setelan jas yang kemarin kukenakan dengan sangat rapi kini tampak kusut masai. Dengan dasi yang sudah kulonggarkan, aku menyeruput mi instan yang baru saja matang. Aku hanya melamun, menikmati semilir angin pagi yang sejuk sambil mencoba mengosongkan pikiran.

"Hei, Paman, traktir aku makan, dong!"

"Hah?"

Tanpa kusadari, seorang gadis berseragam sekolah tahu-tahu sudah berdiri di depanku. Penampilannya sangat mencolok: seragam sekolah yang sengaja dimodifikasi ala gyaru yang sedang tren saat ini.

"Aku belum sarapan nih," ucapnya santai. "Gadis secantik aku pantas ditraktir, kan? Jadi, Paman mau beliin aku makan, nggak?"

"Nggak. Aku nggak bakal mentraktirmu."

"Pelit banget, sih," cibirnya. "Jangan-jangan Paman habis dipecat, ya? Sepagi ini nongkrong di taman, nggak bisa pulang ke rumah atau gimana?"

Gadis itu tertawa riang. Aku sebenarnya sudah terbiasa dengan gadis tipe seperti ini. Sebagai seorang mantan petualang, aku sudah sering bertemu berbagai macam orang dengan kepribadian yang berbeda-beda. Mantan pacarku juga punya banyak teman yang sifatnya mirip dengannya.

"Bukan! Tebakanmu salah total," balasku cepat. "Lagipula, jangan bolos sekolah cuma buat ngemis makanan di tempat kayak gini. Sana, berangkat ke sekolah!"

"Aku udah berhenti sekolah!" sergahnya tiba-tiba. "Aku ini mungkin bakal mati besok, jadi aku cuma mau ngobrol sama siapa aja yang mau dengerin, biarpun cuma sebentar! Aku ngomong begini ke Paman karena kelihatannya Paman gampang diajak ngobrol."

Senyum canggung yang terlukis di wajah gadis itu tampak sangat berbeda dengan ekspresi cerianya saat meminta makan tadi. Senyum itu terlihat begitu rapuh, seolah bisa hancur kapan saja.

Aku sudah terlalu sering melihat ekspresi wajah seperti itu. Dia bertingkah hiperaktif dan sok ceria hanya untuk menutupi kenyataan bahwa dia sedang berada dalam situasi yang putus asa. Itu adalah wajah khas orang-orang yang biasanya akan mati konyol karena memaksakan diri melakukan tindakan ceroboh.

Tanpa sadar, kata-kata ini meluncur begitu saja dari mulutku.

"Memangnya apa yang terjadi padamu? Asal kau tahu saja, kemarin aku baru mencoba melamar pacarku, tapi dia malah mencampakkanku karena ternyata dia sudah punya tunangan lain! Padahal kami sudah berpacaran sejak SMA, lho."

Aku tertawa miris menertawakan nasibku sendiri, dan mendengarnya, gadis itu pun ikut tertawa kecil.

"Apa?! Paman diselingkuhi? Payah banget!" ledeknya. Namun kemudian, suaranya perlahan melembut. "Ibu dan ayahku kabur entah ke mana, dan malah ninggalin setumpuk utang buatku."

Gadis itu melanjutkan ceritanya dengan nada getir. "...Aku nggak sanggup bayar uang sekolah. Situasiku memalukan banget sampai aku nggak berani cerita ke teman-temanku. Kontrak sewa apartemenku juga udah diputus, jadi aku nggak punya tempat tinggal lagi. Satu-satunya cara supaya aku bisa bertahan hidup cuma dengan jadi petualang. Makanya, aku mungkin bakal mati dibunuh monster besok."

Itu topik yang cukup berat. Perkataannya tentang "mungkin mati besok" memang terdengar berlebihan, tapi sepertinya syok akibat ditelantarkan oleh orang tuanya sendiri telah membuatnya kehilangan harapan dan nekat mengambil jalan pintas.

"Kalau kau pergi ke dungeon Kelas G yang nggak butuh lisensi petualang, risiko matinya hampir nol, kok," ujarku memberi saran. "Menurutku, lebih baik kau cari pengalaman dan kepercayaan diri dulu di sana sebelum benar-benar mendaftar jadi petualang sungguhan. Kalau kau takut, mau kutemani?"

Gadis itu mundur selangkah dan menatapku curiga. "Oh, jadi Paman ceritanya lagi modusin aku, ya? Sori ya, aku nggak sudi jual diri! Makanya, jadi petualang itu satu-satunya pilihanku sekarang."

Aku tersenyum kecut. Anak-anak di bawah umur sepertinya memang butuh izin orang tua, bahkan untuk sekadar kerja paruh waktu biasa. Pekerjaan yang tidak butuh syarat merepotkan seperti itu biasanya hanyalah prostitusi ilegal atau mempertaruhkan nyawa menjadi petualang.

"Bukan begitu maksudku," sanggahku. "Lagipula, aku ini mantan petualang. Aku sudah melihat terlalu banyak orang mati konyol dengan alasan yang sama sepertimu. Kalau aku pura-pura tidak tahu dan membiarkanmu pergi ke dungeon sendirian, aku bakal merasa bersalah. Yah, anggap saja ini cuma bentuk kemunafikan egois dariku."

"Apaan sih, sok puitis banget!" cibirnya, tapi tak lama kemudian ia tersenyum tipis. "Tapi... boleh deh. Aku terima tawaran Paman. Lagipula, aku juga takut kalau harus mati sendirian."

Aku memang selalu melakukan hal-hal seperti ini—membantu orang lain selama masih dalam kemampuanku. Ada aturan tak tertulis bahwa petualang harus bertanggung jawab atas nyawanya sendiri. Meskipun begitu, aku tetap tidak bisa membiarkan seorang gadis mati konyol begitu saja di depan mataku.

Aku bangkit dari bangku. "Ya sudah, ayo pergi! Kau nggak bakal bisa bertarung dengan perut kosong, kan? Aku akan mentraktirmu roti krim atau apalah nanti di jalan."

"Wah, pelit banget!"

Gadis itu mengekor di belakangku sambil tersenyum lebar. Setelah mampir untuk membelikan roti di minimarket terdekat, kami pun berjalan beriringan menuju dungeon Kelas G.


PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER

Post a Comment

0 Comments