Episode 63: Bermain di Lumpur Itu Mengasyikkan
"Kenta, apa hari ini kami boleh ikut pergi ke desa bersamamu?" pinta Meileen.
"Tentu saja, tidak masalah."
Yang dimaksud 'kami' adalah Meileen, Yulia, Leon (putraku), dan Aira (putri Yulia). Leon dan Aira baru-baru ini mulai bisa berjalan, jadi ini waktu yang tepat untuk membawa mereka ke arena bermain baru.
"Hei, Maya! Yang kita lakukan di sana itu bukan untuk main-main, lho!" protes Nara saat melihatku langsung mengiyakan permintaan Meileen.
"Lho, ini kan memang untuk main-main? Kau bertani cuma karena pengen makan nasi enak, kan?" sindirku.
Ini bahkan belum jadi bisnis. Kalau cuma untuk kepuasan pribadi, bukankah itu namanya hobi? Dan hobi itu intinya untuk bersenang-senang.
"Eh, memang benar sih, tapi..."
"Tuan Mitsuhiko, aku juga ingin ikut. Aku penasaran dengan apa yang kau lakukan di sana," sela Eva.
"Tentu saja, ayo ikut! Jadi kita semua akan berangkat hari ini?" ucap Nara, mendadak berubah 180 derajat begitu pacarnya yang meminta.
Cih. Tadi saja protes, giliran pacarnya yang mau ikut langsung bilang 'oke'.
"Ivern juga akan pergi, jadi ayo cepat bersiap-siap!" teriak Meileen pada Ivern.
"Apa?! Aku tidak tertarik dengan urusan padi-padian!" tolak Ivern.
"Diam! Kalau aku dan Aira pergi, kau juga harus ikut! Paham?!" omel Yulia.
"...Iya, aku paham."
Dan begitulah, kami semua melakukan perjalanan kelompok ke desa terpencil di Lindor. Saat tiba menggunakan sihir teleportasi, mata Leon dan Aira langsung berbinar kagum melihat dunia luar.
"Oh, Meileen, Yulia. Kalian tidak boleh membiarkan anak-anak bermain di sawah yang ada padinya, tapi kalian bisa menggunakan petak sawah kosong di sebelah sana," tunjukku.
"Baiklah. Ayo ke sana, anak-anak."
"Oh ya, hati-hati! Sawah itu penuh lumpur. Kalian bisa terperosok—"
"Waaaaah!! Ibuuuu!!" "Aaaaaaa!!"
Terlambat. Leon dan Aira yang berlari gembira langsung terperosok ke dalam lumpur dan menangis sejadi-jadinya karena tidak bisa bergerak.
Meileen tertawa kecil. "Hihi, sudah kuduga. Biar aku bantu."
Tanpa mempedulikan pakaiannya, Meileen langsung masuk ke sawah berlumpur. Hari ini dia dan Yulia memang sengaja memakai celana panjang karena sudah bersiap kotor-kotoran.
Yulia mencoba menyusul Meileen, tapi dia malah kehilangan keseimbangan dan BYURR! Jatuh dengan sangat spektakuler ke dalam lumpur.
Melihat Yulia berlumuran lumpur dari ujung kepala sampai kaki, Leon dan Aira yang tadinya menangis histeris mendadak tertawa terbahak-bahak. Sejak saat itu, tempat itu resmi berubah menjadi arena mandi lumpur. Leon, Aira, Meileen, dan Yulia bermain perang lumpur dengan heboh.
"Wah, aku mau ikut juga!"
Eva yang tak tahan melihat keseruan mereka langsung meninggalkan Nara dan ikut terjun ke sawah.
"Hah? Kukira Eva ikut untuk melihatku berlatih..." gumam Nara lemas melihat pacarnya meninggalkannya demi lumpur.
"Sudah kubilang, kan? Ini namanya hobi, bukan kerjaan," hiburku.
"Tapi apa ini tidak terlalu ekstrem untuk ukuran hobi?!" protes Nara sambil merentangkan tangannya ke arah hamparan sawah.
Sawah-sawah itu baru saja ditanam, tapi berkat sihir percepatan pertumbuhanku, padi-padi itu sudah mulai berbuah lebat.
"Itulah kehebatan sihirku."
Namun, sihir ini punya efek samping. Karena pertumbuhan dipaksakan, nutrisi dari dalam tanah akan tersedot habis dengan sangat cepat. Itulah sebabnya kami membutuhkan jumlah pupuk yang sangat besar. Aku menugaskan Ivern untuk terus membeli pupuk dari kota Weimar dengan gerobak. Sikap pihak militer Weimar belakangan ini menunjukkan bahwa mereka ingin aku pergi dari negara itu. Tapi kalau mereka bersikap seperti itu, aku justru semakin ingin menetap.
Nara saat ini sedang berlatih memanen dan merontokkan padi menggunakan sihir anginnya. Berkat latihan harian ini, presisi sihir Nara meningkat drastis.
Karena tugasku hanya memantau dan memicu sihir, aku jadi bosan.
"Ya sudahlah. Aku mau ikut main lumpur sama Leon," kataku sambil berjalan menuju sawah. Ivern langsung mengikutiku tanpa banyak bicara.
"...Aku juga ikut," ucap Nara akhirnya.
Dan begitulah, kami para pria dewasa akhirnya ikut bermain lumpur layaknya anak kecil.
Di tengah permainan, gerakanku mendadak berhenti.
"Ayah?" tegur Leon kebingungan.
Aku tidak menjawab. Mataku menatap jauh ke arah cakrawala. Detik berikutnya, aku merapal sihir tingkat tinggi dan menembakkannya jauh ke angkasa.
WUSSHHH! BOOOOM!
"Wah! Maya, kau ngapain tiba-tiba nembak sihir begitu?!" teriak Nara kaget.
Berbeda dengan Nara dan Ivern yang panik, Leon justru bertepuk tangan. "Ayah! Itu keren banget!!"
"Haha, tentu saja! Ayah keren, kan?" balasku sambil mengelus kepalanya.
Meileen dan Yulia menghampiriku dengan wajah serius. "Kenta, ada apa?"
"Bukan apa-apa. Ada rombongan yang mencoba melintasi perbatasan Lindor secara ilegal di depan sana. Jadi aku membereskan mereka."
"Maaf, aku sama sekali tidak merasakannya," ucap Meileen merasa bersalah. Jangkauan deteksi Meileen memang terbatas karena dia sedang fokus menjaga Leon. Jangkauan deteksiku yang mencapai puluhan kilometer berkat status Summoner memang tidak masuk akal.
"Jarak perbatasannya puluhan kilometer dari sini, lho..." gumam Ivern tak percaya.
"Um, Maya-san..." panggil Nara ragu-ragu. "Hebat sih kau bisa mendeteksi sejauh itu. Tapi... bagaimana kalau yang kau tembak barusan itu cuma orang biasa? Atau pengungsi?"
"Perbatasan Lindor sedang ditutup total. Siapa pun yang mencoba menyeberanginya secara sembunyi-sembunyi pasti bukan orang biasa. Lagi pula, mereka semua pria dewasa yang bersenjata lengkap. Sudah pasti itu sindikat kriminal."
Militer negara lain tidak akan berani menyusup sembarangan karena takut memicu konflik diplomasi. Namun, karena Lindor saat ini adalah tanah tak bertuan yang kaya akan bangunan kosong peninggalan bangsawan, banyak sindikat kriminal yang mencoba menjadikannya markas.
"Bagaimana kalau tebakanmu salah?" tanya Nara.
"Ya tidak apa-apa kalau salah."
Mendengar jawabanku yang kelewat santai, Nara hanya bisa menepuk jidatnya. "Itu bukan hal yang pantas diucapkan oleh pahlawan..."
0 Comments