Header Ads Widget

Chapter 20 - Tong Daging Itu Penting

 


Tong Daging Itu Penting


Selagi dia mendekap anak itu, Lizzie melangkah mendekat. Juhwan menggendong Dorothy dengan satu lengan dan menarik Lizzie ke dalam pelukannya dengan lengan yang lain. Lizzie, yang tubuhnya begitu mungil hingga tidak mencapai dadanya, bersandar erat di sisi tubuh Juhwan.

Namun kemudian, saat dia tiba-tiba tersadar, dia menyadari bahwa pakaian anak itu entah mengapa terasa lembap. Aroma aneh juga perlahan menguar dari bagian sekitar kaki anak itu.

Tampaknya dia baru saja mengompol.

"...."

Ya, sudah pasti air seni. Aromanya mempertegas hal itu. Namun, wajah Dorothy terlihat begitu cerah dan polos sampai-sampai Juhwan tidak tega untuk menunjukkan bahwa dia menyadarinya. Jika anak itu tidak segera berganti pakaian, dia bisa masuk angin.

"####."

Ketika Lizzie mengatakan sesuatu kepada Dorothy, anak itu tiba-tiba merosot turun dari pelukannya dan berdiri di lantai.

Apakah dia tidak takut pada pria-pria yang berlumuran darah itu? Kaki mungilnya melangkah cepat saat dia berlari di sela-sela pria yang sedang mengerang kesakitan di atas tanah.

Jejak kaki kecil tercetak di atas tanah. Jejak kaki basah yang tidak beraturan, basah oleh air pipis, berjejer satu demi satu seolah-olah seseorang telah mencap tanah dengan air.

Setelah berlari melewati para pria itu, anak itu langsung menggelayuti tong yang berisi daging serigala. Dorothy mencengkeram tong kayu itu dengan kedua tangannya dan mengerahkan seluruh tenaganya. Setelah bersusah payah beberapa saat, dia akhirnya malah lunglai bertumpu di atas tong tersebut. Tampaknya dia berniat untuk menggendong dan membawanya pergi.

Namun, seorang anak kecil jelas tidak memiliki kekuatan untuk mengangkat tong tersebut. Benda itu jauh terlalu berat untuknya. Wajah Dorothy berubah memerah saat dia mengerang dan justru menyeret tong itu menyusuri tanah.

Berbeda dengan si kecil, Lizzie tidak sanggup memaksakan dirinya untuk menatap pria-pria yang terkapar. Dia sedikit memalingkan wajahnya dan hanya memperhatikan gerak-gerik Dorothy.

"###."

Lizzie mengucapkan sesuatu yang mirip dengan sebelumnya ke arah Dorothy.

Mendengar kata-kata itu, Dorothy bergegas menarik tong tersebut dengan sekuat tenaga hingga wajahnya menjadi semakin merah padam.

Tentu saja Lizzie tidak menyuruh anak itu untuk membawa daging serigala ke dalam. Dia kemungkinan besar menyuruhnya untuk bergegas mengganti pakaiannya yang basah. Dan Dorothy mungkin berpikir seseorang akan mencuri daging itu jika dia masuk ke dalam rumah.

"...."

Obsesi Dorothy terhadap daging benar-benar mencengangkan. Ada tekad keras di dalam dirinya yang sama sekali menolak untuk meninggalkan makanan itu di luar.

Mungkin karena dia mengerahkan terlalu banyak tenaga saat menarik tong tersebut, Dorothy tiba-tiba melepaskan kentut dengan bunyi tut.

Lizzie, yang berdiri di sampingnya, tertawa seolah tercengang. Akhirnya, dia bisa tertawa lepas seperti biasanya lagi. Sesuatu terasa membuncah di dalam dada Juhwan.

Syukurlah.

Juhwan melangkah menghampiri anak itu dan mengangkat tong kayu tersebut. Karena ukurannya tidak terlalu besar, tong itu terlihat sangat kecil di dalam cengkeraman tangannya.

"#####."

Sepasang mata Dorothy berkilau saat dia mendongak menatap Juhwan seolah-olah pria itu adalah seorang pahlawan. Bagi anak itu, pasti terasa sangat luar biasa melihat Juhwan bisa dengan mudah mengangkat sesuatu yang bahkan tidak bisa dia geser sedikit pun.

Hanya karena membawakan satu tong daging, anak itu menatapnya seperti ini. Ternyata menjadi seorang pahlawan itu sungguh mudah.

Merasa agak canggung, Juhwan menggaruk bagian belakang lehernya tanpa alasan yang jelas.

Prok, prok.

Suara tepukan tangan terdengar dari sampingnya. Saat menoleh, dia melihat Lizzie sedang menatap Dorothy dengan ekspresi yang agak tegas.

"#### daging #### dalam ##."

Sembari menunjuk ke arah rumah, Lizzie berbicara. Dia kemungkinan besar menyuruh Dorothy untuk meninggalkan daging itu dan bergegas masuk sebelum masuk angin. Seiring dirinya yang perlahan mempelajari lebih banyak kata, situasi di mana dia bisa memahami berbagai hal dari konteksnya pun turut bertambah.

Dorothy tampak bimbang saat pandangannya beralih antara tong daging dan Juhwan. Wajah mungilnya menoleh ke sana kemari dengan sibuk.

Setelah membandingkan Juhwan dan tong tersebut beberapa kali, anak itu tiba-tiba tersenyum cerah. Tampaknya dia telah memutuskan bahwa daging itu akan aman jika ditinggalkan bersama Juhwan.

Walaupun orang dewasa mungkin menganggap hal itu konyol, ini jelas merupakan masalah yang sangat serius bagi Dorothy. Mungkin dia boleh merasa sedikit tersanjung.

Dorothy menjawab Lizzie dengan lantang dan langsung berlari ke dalam rumah. Tetesan air pipis memercik dari tubuh anak itu saat dia berlari.

Terkejut, Lizzie bergegas menyusulnya dari belakang. Jika Dorothy tidak segera melepas pakaiannya begitu masuk ke dalam, lantai rumah pasti akan basah kuyup oleh air pipis. Meskipun hal semacam itu kemungkinan besar sama sekali tidak dipedulikan oleh si anak.

Setelah Lizzie dan Dorothy masuk ke dalam rumah, Juhwan meletakkan tong tersebut dan membalikkan badannya.

Salah satu dari pria desa itu telah pingsan, tetapi dua orang sisanya masih sadar. Mereka menggeliat kesakitan dan mengeluarkan suara erangan lirih.

Saat Juhwan melangkah mendekati mereka, Gus menghadang jalannya. Sembari menggelengkan kepala, pria tua itu mengatakan sesuatu. Kemungkinan besar itu adalah peringatan agar Juhwan tidak membunuh mereka.

"...."

Ini mungkin bisa dianggap sebagai tindakan membela diri, tetapi membunuh seseorang tetap saja bisa mendatangkan hukuman. Mungkin hukuman mati. Mungkin perbudakan. Mengingat kereta kuda yang dia lihat sebelumnya membawa seseorang yang tampak seperti kriminal atau budak, kemungkinan besar begitulah cara kerja dunia ini.

Gus menunjuk ke arah rumah dan kembali menggelengkan kepalanya.

Ya, aku mengerti.

Juhwan menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. Dijebloskan ke dalam penjara, dieksekusi, atau menjadi budak akan menjadi bencana besar bagi dirinya. Lizzie dan Dorothy akan ditinggalkan sendirian tanpa pelindung. Jika dia sampai menghilang, mereka berdua kemungkinan besar akan berakhir di tangan pria lain.

Juhwan sedikit menenangkan dirinya dan menatap tajam pria-pria yang terkapar itu satu per satu.

Akan kuingat wajah kalian, keparat. Jika kalian berani menampakkan diri di depanku sekali lagi, tidak peduli apa pun yang terjadi, berikutnya akan kubunuh kalian.

Itulah yang dia gumamkan di dalam hati, meskipun dia ragu akan pernah melihat mereka lagi. Bahkan jika dia membiarkan mereka begitu saja, pria-pria ini tampaknya lebih berpeluang mati daripada bertahan hidup.

Tempat ini adalah Zaman Pertengahan, di sebuah desa terpencil yang tidak memiliki fasilitas medis yang layak. Paling bagus mereka hanya memiliki tanaman herbal, tetapi jelas tidak ada dokter di sini. Penyihir pun tidak ada.

Seorang pria yang hidung dan tulang pipinya hancur melesak ke dalam hingga seluruh wajahnya cekung tidak akan pernah bisa bertahan hidup di tempat seperti ini. Dan kalaupun karena mukjizat dia berhasil selamat, wajahnya tidak akan pernah bisa pulih dengan benar. Tulang hidung dan wajahnya sudah telanjur remuk. Tidak ada operasi plastik di sini. Dia bahkan mungkin tidak akan bisa bernapas dengan normal lagi.

Yang lainnya pun tidak berbeda jauh. Yang satu lengannya patah total ke arah yang berlawanan, dan yang lain kemungkinan besar organ dalamnya telah hancur meskipun tidak terlihat dari luar.

Lagipula, Juhwan tadi nyaris tidak menahan kekuatannya sama sekali.

Mungkin lengan yang patah itu bisa menyatu kembali, tetapi sudah pasti pria itu tidak akan pernah bisa menggunakannya dengan benar lagi. Saat Juhwan mematahkan tulang tersebut, dia sempat memelintirnya sekali lagi sembari menekuknya ke belakang, cukup kuat untuk meremukkannya menjadi serpihan kecil. Jika lengan itu bisa digerakkan dengan normal lagi setelah sembuh, itu benar-benar sebuah mukjizat dari Tuhan.

"...."

Juhwan menatap sekali lagi ke arah pria-pria yang terkapar.

Ya. Sudah pasti.

Jika mereka berhasil bertahan hidup karena keberuntungan semata, kehidupan yang jauh lebih kejam telah menanti mereka. Neraka dunia yang nyata.

Baguslah.

Juhwan memalingkan pandangannya dari mereka dan mengembuskan napas panjang. Pikirannya akhirnya bisa sedikit lebih tenang sekarang.

Itu semua juga berkat Lizzie dan Dorothy yang sudah bisa kembali tersenyum.

Sebelum dia tiba di rumah tadi, jika mereka berdua sampai mengalami hal yang jauh lebih buruk dari apa yang dia saksikan, baik Lizzie maupun Dorothy tidak akan mungkin bisa tersenyum seperti itu.

Kejadian hari ini pasti akan menyisakan trauma mendalam yang tidak akan pernah bisa terhapus, menorehkan bayang-bayang kelam pada diri mereka berdua selamanya.

Baik Lizzie maupun Dorothy tidak akan pernah bisa tersenyum ramah kepadanya lagi.

Baru pada saat inilah dia merasakan kelegaan yang sesungguhnya.

Seolah bisa merasakan emosi Juhwan, Gus menepuk lengan pria itu dengan perlahan. Kemudian dia mendorongnya dengan lembut ke arah rumah, tampak mengisyaratkan bahwa dia sendiri yang akan mengurus pria-pria yang terkapar itu.

"...."

Saat Juhwan menganggukkan kepalanya, Gus menyunggingkan senyum tipis tanda lega.

Juhwan melangkah menghampiri kotak-kotak kayu yang dibawa oleh para pria tersebut.

Di dalam kedua kotak itu terdapat berbagai macam peralatan seperti palu besi, paku, pahat, palu kayu silinder, dan gergaji. Juhwan mengenali benda-benda umum seperti palu, tetapi beberapa perkakas lainnya terlihat sama sekali asing di matanya.

Bagaimanapun juga, peralatan seperti itu kemungkinan besar sangat penting untuk sebuah pondok di tengah gunung di mana orang-orang harus bertahan hidup secara mandiri. Dia menebak benda-benda ini awalnya memang milik rumah ini dan sekarang sedang dikembalikan.

Juhwan menggotong kotak-kotak kayu itu ke dalam rumah, lalu mengambil tong daging serta kulit serigala. Melalui celah jendela yang sedikit terbuka, dia bisa mendengar suara Dorothy. Anak itu sedang terkekeh keras, tampaknya menemukan sesuatu yang terus-menerus menghiburnya.

Saat Gus melihat Juhwan melangkah masuk ke dalam rumah, dia membalikkan badannya. Tampaknya dia berniat meninggalkan pria-pria itu di sana dan bergegas turun gunung. Mungkin dia hendak pergi ke desa. Atau mungkin untuk membawa seseorang kembali ke sini.

Hmm. Mungkin akan ada pertarungan lain nanti.

Juhwan melangkah masuk ke dalam pondok dan menutup pintu kayu yang tebal itu rapat-rapat. Di dekat pintu masuk, terletak kotak kayu yang penuh dengan peralatan perkakas. Dari dalam kotak itu, dia mengambil palu yang berukuran paling besar. Secara diam-diam, dia menyandarkannya ke dinding agar bisa dia sambar kapan saja dibutuhkan.

Udara hangat dari tungku perapian perlahan-lahan menyebar ke seluruh penjuru pondok. Namun, seisi rumah itu sebenarnya masih terasa sangat dingin. Kondisinya memang tampak lebih baik daripada rumah tempat dia sempat tinggal sebentar saat pertama kali tiba di desa, tetapi jelas tidak bisa dibandingkan dengan insulasi rumah modern di Bumi.

‘Aku harus mengatasi masalah ini secepat mungkin.’

Mungkin masalah utamanya terletak pada langit-langit pondok yang memiliki celah terbuka lebar di atas kepala. Bahkan tanpa tahu pasti pun, dia menduga bahwa udara dingin yang mengalir masuk dari sana menjadi penyebab separuh dari rasa dingin di dalam rumah. Dia ingin memperbaiki langit-langit itu entah bagaimana caranya.

Benar-benar ada terlalu banyak hal yang harus dikerjakan, sampai-sampai membuat kepalanya pening.

Dorothy berdiri di dekat tungku perapian dengan bagian bawah tubuhnya yang tidak tertutup kain. Pakaian panjang yang mirip kemeja itu nyaris tidak bisa menutupi pinggulnya.

Pakaian yang dia kenakan sebelumnya adalah sebuah gaun panjang yang mencapai mata kaki, tetapi pakaian yang ini terlihat seperti versi pendek dari gaun tersebut. Karena lengan bajunya pendek dan ukurannya pas di badannya, pakaian ini kemungkinan besar adalah baju yang dia kenakan saat usianya masih lebih muda dulu.

Lizzie menyeka tubuh Dorothy dengan menggunakan selembar kain lembap. Tugas itu tampaknya tidak mudah karena anak itu terus saja menggeliat ke sana kemari. Gaun yang basah kuyup oleh air pipis dilipat dengan rapi di atas batu-batu yang mengelilingi tungku perapian.

Lizzie menggumamkan sesuatu dengan lirih, seolah sedang menegurnya karena terlalu banyak bergerak, ketika Dorothy tiba-tiba menoleh menatap ke arah Juhwan.

Begitu melihat kehadirannya, wajah anak itu langsung berbinar dengan senyuman cerah.

"Daging###."

"...."

Merasa sedikit kecewa, Juhwan awalnya mengira anak itu akan langsung memanggilnya "Ayah" begitu melihatnya, tetapi tampaknya daya tarik daging telah menang telak.

Seperti yang sudah diduga, makanan adalah segalanya bagi seorang anak kecil.

Dorothy mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan mengepakkannya layaknya sayap kupu-kupu, memberi isyarat memanggil Juhwan untuk mendekat.

"Ayah! ##. Ayah!"

Saat dia melangkah mendekat, Dorothy melepaskan diri dari pegangan Lizzie dan langsung melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan Juhwan. Terkejut, dia menyambut anak itu dengan satu tangan, tetapi bagian pantat kecilnya yang halus seperti kulit katak itu ternyata masih terasa lembap.

Begitu mereka bergerak menjauhi tungku perapian, udara di sekitar seketika kembali menjadi dingin, dan kulit yang basah akan dengan cepat kehilangan kehangatannya.

"Kamu bisa masuk angin."

Juhwan bergegas menggendong anak itu kembali ke dekat perapian dan mendudukkannya. Lizzie memanggil nama Dorothy sembari mengangkat kedua alisnya. Entah mengapa, cara Lizzie menegur anak itu terlihat agak canggung di matanya.

Hal itu entah bagaimana membuatnya tersenyum sendiri.

Saat pertama kali dia bertemu mereka, keduanya tampak bersikap penuh kehati-hatian satu sama lain, hampir seperti orang yang belum lama saling mengenal. Namun sekarang, Lizzie mengomelinya persis seperti seorang ibu muda.

Juhwan sebenarnya sudah mengetahui dari malam-malam yang dia lewati bersama Lizzie bahwa wanita itu belum pernah tidur dengan pria mana pun sebelumnya. Jadi, Dorothy kemungkinan besar adalah adik perempuannya yang berusia jauh lebih muda.

Meski begitu, melihat kebersamaan mereka berdua justru memberikan kesan yang kuat seperti pasangan ibu dan anak kandung.

Hal itu terasa sedikit aneh baginya, sehingga dia diam-diam terus mengamati interaksi mereka.

Jika diperhatikan sekarang, wajah mereka berdua sama sekali tidak mirip satu sama lain. Mungkin mereka adalah saudara tiri yang berbeda ibu.

Namun kemudian, fakta bahwa Dorothy memanggilnya "Ayah" membuat situasi ini kembali terasa janggal. Jangan-jangan anak itu sebenarnya tidak sedang mengucapkan kata Ayah. Mungkinkah kata asing tersebut memiliki arti kakak laki-laki? Namun, hal itu entah mengapa terdengar jauh lebih aneh lagi di telinganya.

Dia sama sekali tidak tahu pasti.

Selagi Juhwan berdiri terpaku di sana, Lizzie dan Dorothy sibuk bergerak ke sana kemari. Dorothy memeriksa untuk memastikan bahwa daging di dalam tong aman, sementara Lizzie dengan susah payah berusaha menangkap anak yang terus menggeliat aktif itu demi menyeka bersih bagian kaki dan pantatnya.

Entah karena merasa geli atau sekadar merasa terhibur, Dorothy tertawa terbahak-bahak dan berlari berputar-putar mengelilingi tubuh Juhwan. Lizzie terus berusaha menangkapnya tetapi selalu gagal setiap kali mencoba, hingga lama-kelamaan dia mulai merasa jengkel.

Juhwan langsung menyergap Dorothy yang bertelanjang dada saat anak itu berputar mendekat, lalu mendudukkannya dengan santai di depan Lizzie. Begitu Lizzie mulai mengoceh memberikan apa yang terdengar seperti sebuah omelan, Dorothy seketika terdiam patuh layaknya seekor anak anjing dengan telinga yang layu terkulai.

Di samping sepasang ibu dan anak yang sedang berselisih itu, Juhwan menambahkan lebih banyak kayu bakar dan menyiramkan sedikit air di atas bara api yang menyala untuk membuat arang. Sembari menyendok abu keluar menggunakan sekop lebar untuk dibuang ke luar rumah, dia diam-diam mengambil kembali palu besi yang tadi bersandar di dinding.

Tepat ketika dia melangkah keluar rumah, dia melihat beberapa orang pria sedang berjalan tergesa-gesa mendekati pondok dari jarak yang tidak terlalu jauh.

Pemburu bernama Gus, kepala desa, serta beberapa orang pria asing yang tidak dia kenali.

Sambil mencengkeram palu besi di tangan, Juhwan berdiri dengan kokoh di depan pintu rumah dan menunggu kedatangan mereka mendekat.

Udara di sekitar kini telah tumbuh menjadi jauh lebih dingin. Hari-hari di musim dingin berjalan dengan sangat singkat. Langit baru saja akan mulai berubah kemerahan sebelum kegelapan dengan cepat menelan habis segalanya.

Menyadari hal tersebut, para pria desa itu tampak membawa obor yang belum dinyalakan di tangan mereka.

Juhwan secara diam-diam memeriksa apakah orang-orang itu membawa senjata lain selain obor.

Salah seorang pria yang berjalan di barisan paling belakang tampaknya menyembunyikan sesuatu di balik pinggangnya, tetapi yang lainnya tidak memegang apa-apa di tangan mereka. Dua orang di antaranya hanya tampak membawa pemukul kayu yang tergantung di sabuk mereka.

Senjata sebanyak itu kemungkinan besar hanya digunakan untuk perlindungan diri dari serangan binatang buas di gunung.

Sang kepala desa sendiri hanya membawa sesuatu yang terlihat seperti bungkusan kain yang didekap di bawah ketiaknya.

Sepertinya mereka datang bukan untuk menantang Juhwan bertarung.


PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER

Post a Comment

0 Comments