Bab 106: Necromancer
Angin dingin menyusup masuk melalui celah-celah jendela, bahkan menembus dinding batu yang tebal. Celah di antara bebatuan itu seharusnya tertutup rapat, tetapi dia sama sekali tidak tahu dari mana angin itu menyelinap masuk.
Dingin sekali!
Di balik selimutnya ada kantong kulit berisi air hangat. Itulah satu-satunya hal yang ia gunakan untuk menghangatkan diri. Namun, jika ia mengeluarkan satu jari saja dari balik selimut, rasanya seluruh tubuhnya akan membeku.
Ini sama sekali tidak seperti bangunan di Bumi, di mana menyalakan pemanas air akan membuat ruangan menjadi hangat dalam sekejap. Meskipun jendela dan pintu ditutup rapat serta tirai ditarik, bangunan di dunia ini tetap saja terasa sangat dingin.
Junghwa mengusap tubuhnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Meski sudah memakai beberapa lapis pakaian, merinding tetap merayap di kulitnya. Kulitnya yang kaku karena kedinginan seolah mengeluarkan suara gesekan kering setiap kali bersentuhan dengan kain.
Rasanya sakit.
"Aku ingin pulang."
Dunia ini adalah tempat yang dingin.
Awalnya, ketika mereka memanggilnya Pahlawan dan makhluk mulia, kesan yang ia dapatkan selembut bulu angsa. Namun, berbeda dengan kesan pertama itu, segala hal tentang dunia ini terasa sedingin angin musim dingin. Hal-hal yang tadinya hangat di Bumi berubah setelah mereka tiba di sini, menyesuaikan diri dengan tempat ini.
Sama seperti kekasihnya.
Sambil mendengus pelan, Junghwa merangkuk lebih dalam ke balik selimut.
Pada awalnya, tiba di tempat ini terasa luar biasa. Orang-orang berpakaian mewah berbaris, membungkuk dan berbicara dalam bahasa yang tidak ia mengerti, tetapi ia bisa melihat bahwa mereka semua bahagia. Semua orang di sekelilingnya tampak takjub dan gembira. Pada momen itu, ia menyadari bahwa dirinya telah dipanggil ke dunia ini sebagai seorang Pahlawan.
Persis seperti cerita di dalam novel. Ruangan yang megah, pakaian yang indah, orang-orang yang menawan, kastil abad pertengahan, dan lampu gantung yang berkilauan. Kepalanya sempat pusing karena itu semua.
Jika ia dipanggil sendirian, mungkin ia akan sedikit ketakutan. Mungkin ia akan berpikir untuk kembali ke Bumi. Namun, ia datang bersama kekasihnya.
Ia pernah berpacaran dengan beberapa pria sebelumnya, tetapi tidak pernah ada pria yang begitu memedulikannya seperti Taehyung. Bahkan ketika ia bertemu pria lain saat mereka masih berpacaran, Taehyung tetap mengatakan bahwa ia mencintainya, memeluknya sambil menangis, dan melakukan segala sesuatu persis seperti yang Junghwa inginkan.
Ia sempat berpikir bahwa ini adalah hal yang sangat baik. Bukan saja ia menjadi eksistensi yang spesial, tetapi di sampingnya ada seorang pria yang menganggapnya sebagai orang terbaik di dunia. Ia tidak bisa memimpikan masa depan yang lebih baik dari itu. Ia tidak merasa sedikit pun menyesal meninggalkan Bumi. Malah, pikiran bahwa ia telah sepenuhnya terputus dari keluarganya membuatnya merasa lega.
Di rumahnya di Bumi, suasananya selalu suram. Hanya dengan melangkah masuk ke dalam rumah, suasana hangat dan ceria di dalam hatinya langsung berubah dingin. Ayah, ibu, kakak perempuan, dan kakak laki-lakinya adalah orang-orang yang hebat. Universitas bagus, pandai berbicara, kemampuan yang luar biasa. Apa pun yang mereka lakukan, mereka berhasil. Apa pun yang mereka coba, mereka langsung mahir seketika.
Di tengah keluarga seperti itu, Junghwa adalah satu-satunya itik buruk rupa.
Jika ia diadopsi dari tempat lain, mungkin ia bisa menerimanya dengan berpikir bahwa darah mereka berbeda. Tetapi penampilannya sangat mirip dengan anggota keluarganya yang lain, seolah-olah ia dicetak dari cetakan yang sama. Tidak mungkin ada yang mengira ia dibawa dari luar.
Lalu, mengapa hanya otaknya yang begitu kurang?
Semua orang di keluarganya, termasuk Junghwa sendiri, mempertanyakan hal itu.
Aku melahirkanmu. Kau punya genku. Kau adik perempuanku. Kau punya mata, hidung, dan mulut yang sama denganku… Jadi, kenapa kau seperti itu?
Keluarganya sering melontarkan kata-kata seperti itu, seolah berbicara dengan satu suara.
Yah, dia sendiri juga ingin tahu.
Universitas bergengsi tempat kakak perempuan dan kakak laki-lakinya diterima pada percobaan pertama—Junghwa gagal masuk sekali, lalu gagal lagi. Bahkan ketika ia menurunkan standar pilihan kampusnya, hasilnya sama saja. Ia terus menerus gagal dalam ujian masuk.
Namun sejujurnya, ia tidak pernah ingin masuk universitas sejak awal. Kehidupan yang ia inginkan bukanlah belajar, menjadi dokter, pengacara, pegawai negeri, atau karyawan di perusahaan ternama. Mimpinya adalah bekerja sebagai pramuniaga di toko pakaian kecil, mengumpulkan pengalaman, dan suatu hari nanti menjual pakaian buatannya sendiri di sebuah toko kecil di Dongdaemun.
Ia tidak bermimpi menjadi desainer papan atas atau membuat namanya terkenal di dunia mode Paris. Ia hanya ingin membuat dan menjual pakaian yang bisa dibeli dengan mudah oleh siapa saja, dipakai selama satu atau dua tahun, lalu diganti saat trennya sudah lewat. Otaknya mungkin bodoh, tetapi ia tahu batas kemampuannya sendiri.
Ia punya mimpi sederhana yang sangat cocok untuknya. Namun, orang tuanya tidak bisa menerima bahwa putri bungsu mereka bodoh, jadi mereka terus menjejalkannya ke lembaga bimbingan belajar ujian masuk. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun—ia menjadi siswa pengulang yang menua dan harus menahan tawa ejekan dari orang lain. Bahkan ketika ia memohon dan menangis untuk berhenti, mereka tidak pernah mengizinkannya menjalani kehidupan yang berbeda.
Mereka benar-benar orang yang mengerikan.
Tetapi sekarang, ia bebas. Ia tidak perlu lagi memaksakan diri menghadapi ujian masuk yang tidak pernah ia inginkan. Mulai sekarang, hanya kebahagiaan yang menantinya. Hanya jalan bertabur bunga.
Setidaknya, itulah yang ia pikirkan.
Mungkin orang bodoh akan tetap bodoh, apa pun yang terjadi.
Di dalam kegelapan di balik selimutnya, Junghwa menitikkan air mata sedikit demi sedikit.
Kapan ia mulai menyadari rasa dingin yang tersembunyi di balik senyuman orang-orang itu? Kapan ia melihat rasa jijik di mata orang-orang Tyron? Kapan ia menyadari bahwa pria dan wanita diperlakukan berbeda di sini? Bahwa wanita dianggap sebagai makhluk rendahan, makhluk lemah yang bahkan tidak bisa berdiri sendiri?
Dan kapan hubungannya dengan kekasihnya, yang dulunya setara, berubah menjadi hubungan superior dan inferior? Kapan sikap pria yang dulu memujanya seperti dewi, yang mengatakan bahwa ia mencintai dan memujanya, berubah menjadi seperti memperlakukan barang kepemilikan?
Di Bumi, meskipun ia bodoh, tidak punya apa-apa, dan tidak punya kemampuan, pria dan wanita tetaplah manusia yang sama. Tetapi tempat ini berbeda. Di sini, wanita adalah milik pria. Manekin tanpa kehendak. Boneka tanpa pikirannya sendiri.
Junghwa tahu bahwa itu tidak benar, tetapi tidak ada orang lain di sini yang akan menoleransi cara berpikir seperti itu. Jika semua orang punya telinga hewan, maka orang yang tidak memilikinyalah yang dianggap tidak normal. Hal-hal yang sudah menjadi hal biasa di Bumi tidak berlaku di dunia ini.
Sekalipun ia bersikeras bahwa wanita juga manusia, bahwa mereka setara, ia tidak bisa menjadi manusia yang sama jika orang lain tidak mengakuinya. Ia diajari bahwa semua manusia dilahirkan setara, tetapi baru setelah datang ke sini ia belajar bahwa kesetaraan hanya mungkin terjadi ketika masyarakat mengizinkannya. Itu bukan sesuatu yang secara alami dimiliki orang sejak lahir.
Jika kekasihnya memihaknya, situasinya mungkin akan berbeda. Namun pada suatu titik, pria itu mulai mengatakan hal yang sama seperti orang-orang di dunia ini.
Padahal kau seorang wanita. Karena kau seorang wanita. Kau kan wanita, jadi kenapa kau…
Ia benar-benar terisolasi. Rasanya seolah ia sendirian di sebuah pulau kecil, terombang-ambing di tengah lautan yang luas.
Apa yang harus kulakukan?
Kekasihnya, Taehyung, telah menghabiskan malam-malamnya dengan banyak wanita sejak hari pertama mereka tiba di dunia ini. Di Bumi, Junghwa dianggap cukup cantik, tetapi ia tidak bisa dibandingkan dengan wanita-wanita di sini. Ia bukan tandingan mereka.
Lalu, bukankah wajar jika ia juga berpikir untuk mencari pria lain? Tetapi Taehyung akan mengamuk setiap kali ia bersama pria lain. Dulu, pria itu memohon dan bergantung padanya. Tetapi sekarang… Karena Taehyung, bahkan pria-pria yang awalnya mendekatinya dengan bunga dan perhiasan tidak lagi berani mendekat.
Karena sang Pahlawan tidak menyukainya.
Andai saja ia bisa mengendalikan mana dengan benar, semuanya mungkin akan lebih baik. Tetapi sepertinya orang bodoh akan tetap bodoh bahkan setelah pergi ke dunia lain. Ia tidak bisa menggunakan sihir dengan benar.
Jika kebohongannya terbongkar dalam kondisi ini…
"Apa yang harus kulakukan?"
Junghwa menutup mulut dengan tangannya, menyembunyikan isak tangis yang hampir pecah. Para penjaga yang menunggu tepat di luar kamarnya, dan para pelayan di ruang kecil sebelah, semuanya adalah mata-mata. Mereka melaporkan semua yang ia lakukan kepada raja dan para bangsawan.
Tahan. Jangan menangis.
Ia tidak boleh menunjukkan sisi ketakutannya ini kepada mereka. Kebohongannya bisa terbongkar. Taehyung, yang kini sudah bisa menggunakan sihir, mungkin tidak perlu khawatir. Tetapi situasi Junghwa berbeda. Sekalipun ia wanita, ia saat ini ditoleransi karena statusnya sebagai Pahlawan. Jika hal itu berubah, posisinya akan terbalik sepenuhnya.
"Rudolph itu apa sih sebenarnya? Mereka menyuruhku membuat satu, tapi bahkan tidak menjelaskan caranya."
Ketika mereka dengan santai bertanya apakah ia pernah bertemu Santa, ia menjawab ya. Orang Korea mana yang belum pernah bertemu Santa? Saat Natal tiba, Santa ada di mana-mana. Ketika mereka bertanya apakah ia pernah menerima hadiah dari Santa, ia secara alami menjawab pernah.
Meskipun ia diperlakukan seperti orang bodoh, ia tetap disayangi sebagai putri bungsu. Orang tuanya selalu meletakkan hadiah dari Santa di samping tempat tidurnya setiap tahun sampai ia duduk di kelas atas sekolah dasar. Taehyung pun menjawab dengan tawa, sama sepertinya, mengatakan bahwa ia menerimanya setiap tahun saat masih kecil.
Baru jauh setelahnya ia menyadari bahwa Santa yang dibicarakan orang-orang Kerajaan Tyron berbeda dari yang ia kenal.
Beberapa hari setelah percakapan tentang Santa itu, para penyihir yang konon bekerja di istana kerajaan datang silih berganti dan meletakkan sesuatu yang disebut magic beast (monster ajaib) di depannya. Lalu mereka menyuruhnya membuat Rudolph.
Ketika ia menjawab tidak tahu caranya, mereka menyuruhnya menuangkan mana ke dalam monster itu. Tetapi ketika ia bersusah payah menuangkan mana ke dalamnya, monster itu mati. Lalu mereka membawa yang lain. Jika mati, monster lain datang. Lalu yang lain lagi. Proses itu berulang terus-menerus. Setiap kali itu terjadi, tatapan orang-orang di sekitarnya menjadi semakin dingin dan menakutkan.
Baru kemudian ia menyadari bahwa proses itu ada hubungannya dengan jawabannya tentang Santa.
Ia benar-benar bodoh.
Mungkin Taehyung sudah tahu. Tetapi bagi pria itu, hal tersebut mungkin tidak masalah. Sihir Taehyung menggerakkan hal-hal yang mati.
Pria itu adalah seorang Necromancer.
Bahkan jika seekor monster mati, itu tidak menimbulkan masalah baginya. Malah, ia senang karena mendapatkan pelayan baru.
Junghwa mendengar bahwa Tyron sedang berada di ambang perang besar. Di perbatasan, bentrokan kecil dikabarkan sering pecah. Mereka mengatakan negara musuh, Kerajaan Simoni, penuh dengan orang-orang kejam. Mereka bilang warga mereka sendiri dijarah dan dibunuh setiap hari, dan bahwa mereka membutuhkan kekuatan Sang Pahlawan.
Pentingnya sosok Taehyung tumbuh dari hari ke hari karena ia bisa mengubah mayat menjadi tentara. Sekarang, bahkan ada pembicaraan bahwa ia akan menikahi sang putri.
Tapi aku…
Kalau begini terus, tamatlah riwayatnya. Ia tidak tahu kapan ia mungkin akan dijebloskan ke penjara karena berbohong.
Ia takut. Sangat ketakutan.
Aku ingin pulang.
Ia sedang menangis diam-diam, meredam suaranya, ketika seseorang masuk. Junghwa segera menutup mulutnya dari balik selimut. Suara seorang pria terdengar dari arah pintu.
"Nona Junghwa, apakah Anda menangis?"
Itu adalah ksatria penjaganya.
Sejak saat pertama kali ia datang ke dunia ini sampai sekarang, hanya pria inilah yang memperlakukannya dengan kebaikan yang tak pernah berubah. Bahkan ketika ia tidak bisa menggunakan sihir dengan benar, bahkan ketika Taehyung marah padanya, hanya pria ini yang tidak pergi. Ia tetap berada di sisinya dan melindunginya.
Pria ini adalah ksatria pelindungnya. Setidaknya, ia bisa memercayai orang ini.
Ketika Junghwa mengintip sedikit, sang ksatria mendekat dan berlutut di samping tempat tidur.
"Anda menangis lagi." "A-Aku… Aku takut. Aku ingin pulang." "Saya minta maaf. Tidak ada lingkaran sihir yang dapat mengembalikan Pahlawan yang dipanggil ke tempat asalnya. Tetapi saya ada di sini. Saya akan selalu melindungi Anda." "Percayalah pada saya, Nona Junghwa. Saya tidak akan pernah membiarkan Anda sendirian. Tubuh dan hati saya adalah milik Anda."
Tidak ada orang lain yang bisa ia percayai. Junghwa pun menangis pecah di pelukan ksatria itu.
"Jangan tinggalkan aku. Kumohon." "Tentu saja tidak. Saya memuja Anda. Anda lebih berharga dari nyawa saya sendiri, Dewiku."
Apakah itu benar? Pria ini bilang dia cantik. Dia bilang dia mencintainya. Tetapi benarkah demikian? Bahkan di mata Junghwa sendiri, wanita-wanita di dunia ini jauh lebih cantik darinya. Apakah pria ini benar-benar melihat Junghwa lebih cantik dari mereka? Mungkinkah itu nyata?
Secercah keraguan melintas di benaknya, tetapi Junghwa memaksa dirinya untuk mengabaikannya. Sekalipun kata-kata pria ini adalah kebohongan, tidak ada yang bisa ia lakukan. Satu-satunya tempat yang tersisa baginya untuk bersandar adalah cinta pria ini.
Tiba-tiba, pria yang ia lihat di kereta bawah tanah terlintas di pikirannya. Pria bertubuh besar yang duduk menyilang darinya dan Taehyung. Pria itu mungkin juga ada di dunia ini. Mungkin mereka hanya kebetulan ikut terseret dalam pemanggilan pria itu...
Awalnya, ia sama sekali tidak memikirkan hal itu. Tetapi jika dipikir-pikir lagi sekarang... Ya. Pasti begitu.
Beberapa kali, kereta melewati stasiun dan memasuki terowongan gelap. Lalu, tiba-tiba, cahaya terang menyelimuti pria itu dan menyebar ke segala arah. Taehyung tidak melihat momen itu. Tetapi Junghwa terus merasa terganggu oleh pria tersebut. Dari waktu ke waktu, cahaya merah berkedip di atas kepalanya.
Ketika ia menatapnya langsung, cahaya api itu menghilang entah ke mana dan tidak lagi terlihat. Namun ketika ia memalingkan wajah, cahaya itu berkedip lagi di sudut pandangannya. Ketika ia kembali menatap pria itu, cahayanya hilang lagi. Dan saat ia memalingkan pandangan, cahaya itu berkedip sekali lagi dari sudut matanya.
Itu seperti sebuah penanda. Ia merasa seolah ada panah yang tertancap pada pria itu, memberitahunya, dia ada di sini. Karena matanya terus tertuju padanya, ia melihat tubuh pria itu diselimuti cahaya.
Tetapi ke mana pria raksasa itu pergi? Kenapa dia tidak bersama Junghwa dan Taehyung?
Baru sekarang ia menjadi penasaran. Apakah pria itu berubah seperti Taehyung juga? Jika ya, itu akan sangat menakutkan. Bahkan Taehyung, yang dulunya lembut dan baik, telah berubah menjadi sosok yang menindas. Lalu seberapa mengerikannya pria yang terlihat persis seperti preman itu sekarang?
Karena Taehyung adalah seorang Necromancer, pria raksasa itu pasti telah menjadi sesuatu seperti Raja Iblis.
Ah. Itu dia. Raja Iblis!
Tiba-tiba, Junghwa merasa ia mengerti mengapa mereka dipanggil ke mari. Mungkin ketika pria itu dipanggil sebagai Raja Iblis, ia dan Taehyung, yang kebetulan berada di dekatnya, ikut terbawa dan menjadi Pahlawan.
Jika kita membunuh pria itu, mungkin kita bisa kembali ke Bumi.
Mungkin saja begitu. Di novel-novel, jika Pahlawan membunuh Raja Iblis, mereka biasanya bisa kembali ke Bumi. Mungkin kali ini juga sama. Bahkan di dunia ini, Pahlawan tampaknya sangat jarang dipanggil, jadi orang-orang ini mungkin tidak tahu persis apa yang akan terjadi. Jika itu adalah sesuatu dari ratusan tahun yang lalu, mungkin ada cerita yang tidak diturunkan.
Kuharap itu benar.
Ia ingin pulang. Kembali ke rumahnya di Bumi.
0 Comments