Header Ads Widget

Cerita Pendek: Bagaimana Jika yang Terbangun adalah Rofus dari Empat Raja Surgawi? II - Volume 2 Repeat Vice

 


Cerita Pendek: Bagaimana Jika yang Terbangun adalah Rofus dari Empat Raja Surgawi? II

Lantai 4 dari Ruang Besar di Makam Kaisar Pertama. Di hadapan salah satu anggota Empat Raja Surgawi, Serigala Bayangan Rofus, berdirilah sosok sesosok Alraune yang misterius. Akar-akar pohon yang tak terhitung jumlahnya meledak menembus lantai, membentang menutupi ruangan yang sangat luas itu, tumbuh subur dengan dedaunan hijau meskipun tanpa setitik pun cahaya matahari. Lingkungan tersebut telah dimanipulasi, mengubah ruang bawah tanah itu menjadi sesuatu yang menyerupai sebuah kawasan hutan.

Rofus mengerutkan keningnya dan menatap tajam ke arah sang Alraune. Pada pandangan pertama, ia tampak cantik layaknya seorang dewi. Akan tetapi, tubuhnya terbentuk dari elemen kegelapan murni. Ini adalah karakteristik yang sangat dipahami oleh Rofus—dia adalah seorang familiar milik Kaisar Pertama, yang berarti Alraune ini, pada kenyataannya, adalah pelayan penjaga dari Sang Kaisar Pertama.

Entah apa alasannya, Alraune itu mengarahkan aura permusuhan yang sangat jelas kepada Rofus. Ribuan akar yang menjalar dari lantai meruncing tajam menjadi ujung yang mematikan, mengambil wujud yang sarat akan niat membunuh saat mereka membidik Rofus sebagai target.

"Hmm..."

Meski aura permusuhan yang pekat itu diarahkan kepadanya, Rofus hanya memiringkan kepalanya, sedikit pun tak menunjukkan ketegangan. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa dirinya dijadikan target oleh familiar Kaisar Pertama ini. Ia telah membereskan seluruh anggota bajak laut langit, «Scarlet Wind», yang entah bagaimana berhasil menyusup ke dalam makam, dan ia sangat yakin bahwa tindakannya sama sekali tidak menentang kehendak Sang Kaisar Pertama.

Tiba-tiba, akar-akar itu, yang kini telah bermutasi menjadi bilah pedang tajam, melesat maju. Rofus mengangkat perisai sihirnya untuk mencegat mereka; namun, perisai itu tertembus begitu saja tanpa ada perlawanan. Ia dengan lincah menghindari bilah akar yang mendekat dengan pergerakan yang sangat minim.

"Mereka berhasil menembusnya...? Tetapi daya tembusnya tidak sehebat itu... Apa sebenarnya maksud dari semua ini?"

Sambil terus menghindar dari serangan akar yang tajam, Rofus melakukan observasi dengan tenang, berusaha untuk membedah prinsip di balik fenomena aneh ini. Akar-akar tersebut tidak menembus perisainya karena daya tembus yang luar biasa; melainkan terasa seolah-olah mereka menyelinap melewati celah-celah struktur mantra sihirnya itu sendiri.

Secara teoretis, hal itu memang bukan sesuatu yang mustahil, tetapi untuk mengeksekusi teknik semacam itu akan menuntut tingkat keterampilan dan presisi yang luar biasa. Rofus mengerutkan keningnya memikirkan fakta bahwa seekor monster, terlebih lagi salah satu familiar milik Kaisar Pertama, mampu mencapai tingkat kemahiran ini.

"Yah, jika ini memang sedang terjadi, maka aku juga harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa sihir pertahananku bisa saja dibobol dengan mudah."

Dengan decih kesal di dalam hatinya karena kerepotan ini, Rofus memanggil sebuah sabit hitam di tangannya. Jika bertahan sudah tidak lagi berguna, maka ia harus beralih ke serangan ofensif. Walaupun sejujurnya ia sangat ingin menghindari bentrokan fisik dengan pihak Kaisar Pertama, karena ia diserang lebih dulu, maka perlawanan sudah tidak bisa dihindari lagi.

"Kau ini, aku ingat kau adalah patung yang bertugas di altar lantai paling bawah. Kau pikir kau ini siapa, berani mengarahkan bilah pedangmu kepadaku?"

Rofus mengayunkan sabit hitamnya, melepaskan tebasan energi gelap raksasa yang mampu menelan seluruh area ruangan dan menyebabkan kerusakan destruktif berskala besar. Namun, tebasan hitam pekat itu langsung dicegat oleh ribuan akar yang bermunculan, kemudian membuyar seakan-akan telah ditiup hancur oleh angin.

"Hah...?"

Serangan dengan kekuatan penuhnya berhasil diblokir dengan sangat mudah. Tidak, itu bukan sekadar diblokir; rasanya seolah-olah struktur sihirnya itu sendiri telah diurai secara paksa. Rofus mengenali fenomena ini.

"Pembubaran Sihir (Magic Disintegration)...? Kau benar-benar bisa melakukannya?"

Sang Alraune telah secara instan menganalisis formula magis yang dilepaskannya dan membongkarnya menjadi kepingan yang tidak berbahaya, membuatnya kehilangan seluruh daya hancurnya. Sepengetahuan Rofus, hanya ada satu individu di dunia ini yang sanggup mengeksekusi teknik gila semacam ini.

"Baiklah, aku mengerti... Kalau begitu aku tidak akan menahan diri lagi—«Dunia Tanpa Cahaya (Lightless World)»!"

Jika Alraune ini benar-benar memiliki tingkat keterampilan yang setara dengan sosok yang ada di dalam ingatannya—seorang mantan rekan seperjuangan—maka ia bisa menjadi ancaman yang sangat berbahaya. Rofus mengambil kesimpulan itu. Begitu ia mengaktifkan mantranya, kabut hitam yang sangat pekat langsung menyembur keluar, menelan seluruh lingkungan sekitarnya ke dalam kegelapan mutlak. Namun, kegelapan tersebut gagal menyentuh tubuh sang Alraune. Akar-akar dalam jumlah tak terhitung sedang membubarkan kabut hitam itu dari titik awal kontak mereka.

Akar-akar dan pepohonan yang tumbuh subur menjamur di setiap sudut ruang besar itu, sehingga mereka secara efektif mengurai kabut dari «Dunia Tanpa Cahaya». Dengan demikian, ruangan itu tidak akan sepenuhnya tertelan kegelapan. Namun—Rofus justru menyeringai.

Pada detik berikutnya, semburan napas naga kegelapan meledak dari balik kabut, menyapu bersih barisan akar dan pepohonan itu. Bukan hanya napas naga; beragam variasi serangan elemen yang dimodifikasi oleh sihir kegelapan mulai meratakan hutan buatan sang Alraune. Di balik kabut hitam yang pekat, ribuan familiar, yang lahir dari bayangan Rofus, berkerumun layaknya pasukan. Sihir «Dunia Tanpa Cahaya» ini sebenarnya berfungsi sebagai pengalih perhatian untuk menyembunyikan pasukan familiar yang beraneka ragam. Kabut gelap itu tidak hanya menghalangi persepsi visual, tetapi juga merusak radar deteksi sihir musuh.

Dengan ini, Rofus mencabut segala akses informasi dari pihak Alraune seraya terus-menerus melepaskan rentetan berbagai serangan sihir mematikan menggunakan pasukan familiar-nya yang masif. Bagi Alraune, semua serangan ini merupakan pola yang asing. Tidak ada waktu yang cukup baginya untuk menganalisis semuanya tepat waktu menggunakan kemampuan Pembubaran Sihir-nya. Hutan yang diciptakan oleh Alraune itu ditebang habis dengan sangat cepat, dan sebagian besar dari ruangan besar itu kini mulai dimakan oleh bayang-bayang kegelapan.

Dalam manuver putus asanya, Alraune itu memekarkan bunga-bunga raksasa dari dahan-dahan di sayapnya, lalu menyebarkan serbuk sari beracun. Namun, manuver ini pun langsung tertiup jauh oleh angin hitam yang dipanggil oleh salah satu familiar bayangan Rofus.

Rofus telah mengategorikan Alraune ini sebagai ancaman berbahaya. Karena itu, ia tak lagi merasa perlu menggunakan trik pengecoh atau bermain dengan sangat hati-hati. Ia akan menghancurkannya menggunakan lonjakan output energi magis yang brutal serta kuantitas pasukan familiar yang melimpah ruah. Inilah gaya bertarung orisinal dari salah satu anggota Empat Raja Surgawi, Serigala Bayangan Rofus.

Saat semua jalur pelarian telah dipotong rapat, empat sayatan yang sangat dalam terkoyak di atas tubuh gelap sang Alraune. Ini adalah tebasan mematikan yang dilepaskan dari Sabit Malaikat Maut (Scythe of the Reaper) milik Rofus. Ketajamannya yang tak masuk akal mampu membelah perisai pelindung apa pun, dan murni mengabaikan batasan jarak.

Namun, Alraune tersebut pada dasarnya adalah seekor familiar bayangan. Meskipun ia menderita luka parah, elemen kegelapan akan terus meluap dari dalam dirinya untuk memulihkannya kembali. Rofus tentu saja tidak akan membiarkan celah momen pemulihan ini terbuang sia-sia. Hujan bola kegelapan dan tombak-tombak bayangan mendarat membombardirnya tanpa henti, disusul oleh serangan gabungan secara serentak dari seluruh familiar, seolah-olah menjadi pukulan palu eksekusi untuk mengakhiri segalanya. Akibat telah kehilangan perisai sihirnya, Alraune itu terpaksa menanggung seluruh hantaman destruktif itu dengan tubuhnya sendiri.

Rentetan ledakan kegelapan yang menghasilkan asap hitam membumbung tinggi. Rofus, yang kini merasa sangat yakin akan kemenangannya, mengangkat sudut bibirnya hingga membentuk seringai angkuh.

"Hmph, receh sekali. Walaupun dia adalah anak emas kesayangan Sang Kaisar Pertama, bila dihadapkan denganku..."

Rofus baru saja mulai bicara namun tiba-tiba ia terdiam kaku. Di balik gumpalan asap yang masih mengepul, siluet dari tubuh Alraune itu terekam samar, sedang mengalami sebuah transformasi yang amat drastis. Dari wujud yang tadinya menyerupai manusia, perlahan makhluk itu tumbuh menjadi jauh lebih besar dan bermutasi menjadi sebuah wujud yang sangat grotesque (menjijikkan). Makhluk yang menggelembung besar itu kemudian mendobrak keluar menembus tabir asap.

Melihat wujud yang mengerikan ini, Rofus mendongak dengan raut wajah sangat syok, matanya terbelalak lebar.

"Wujud mutasi macam apa itu...? Jangan-jangan, dia sebenarnya adalah... seekor Dendroid—?"

Makhluk setengah manusia dan setengah pohon itu mengalami transformasi ekstrem. Tubuhnya tumbuh semakin membengkak masif, bermutasi menjadi monster raksasa yang sudah sama sekali kehilangan bentuk kemanusiaannya. Dari punggungnya, sayap kolosal yang menyerupai dahan pohon raksasa membentang lebar, dan secara bersamaan, gelombang pasang dari kekuatan Pembubaran Sihir meledak ke segala penjuru arah. Akibatnya, sihir «Dunia Tanpa Cahaya» berhasil dinetralisir total, dan kabut hitam yang begitu tekat itu pun lenyap seketika dalam satu sapuan bersih.

"Ugh—beraninya kau..."

Meskipun mulai merasa sangat tertekan oleh situasi, Rofus kembali memanggil Sabit Malaikat Maut yang baru ke tangannya. Dengan lenyapnya tabir kabut, wujud dari ribuan familiar bayangannya kini terekspos dengan sangat jelas, dan mereka semua langsung mengambil postur siaga tempur. Namun anehnya—alih-alih mengunci target mereka pada makhluk grotesque tersebut, para familiar itu kini justru membidik tepat ke arah tuan mereka sendiri, Rofus.

"Hah—??"

Semburan napas maut dari spesies naga serta taring-taring tajam dari ratusan serigala gaib menerjang lurus ke arah Rofus dalam sebuah gempuran serentak. Terkejut oleh manuver pengkhianatan mendadak dari pasukan familiar-nya sendiri, Rofus dengan tergesa-gesa memusatkan energi sihirnya, mempertebal perisai pelindungnya dengan kepadatan mana tingkat tinggi untuk menahan serbuan dahsyat itu.

Entah bagaimana caranya, seluruh familiar itu telah terputus sepenuhnya dari ikatan kendali Rofus. Ia mencoba untuk meneriakkan instruksi komando lagi, tetapi suaranya seakan tidak pernah sampai ke telinga mereka. Rasanya seolah otoritas kepemilikannya telah dirombak dan dirampas paksa secara sepihak. Oleh siapa? Rofus mendongak ke arah makhluk menjijikkan itu dengan tatapan syok berat.

"...Kau... jangan bilang kau bahkan sudah menguasai teknik Kendali Sihir (Magic Control)..."

Pengambilalihan otoritas kendali magis—ini adalah sebuah teknik terlarang yang dikenal dengan nama Kendali Sihir. Secara teori hal ini mungkin saja dilakukan, namun dalam kondisi tempur yang normal, hal semacam ini seharusnya menjadi suatu kemustahilan absolut. Satu-satunya sosok yang Rofus tahu sanggup mengeksekusi kekuatan layaknya dewa semacam ini di tengah pertempuran sengit hanyalah mantan kawan seperjuangannya dulu. Sosok monster grotesque itu menunduk menatap Rofus yang masih terbengong, tanpa sepatah kata pun.

"...Telah tertulis bahwa Beliau tidak akan pernah mengizinkan keturunannya yang hina dan kotor untuk mewarisi takhta Lightless."

"Apa...? Kau rupanya bisa berbicara—"

Rofus membelalakkan matanya yang tak percaya pada makhluk yang baru saja melontarkan kalimat padanya. Pada detik yang sama, ribuan akar yang sangat tajam meledak memelesat dari lantai, menembus lurus dan mengoyak tubuh Rofus tanpa ampun. Perisai sihir yang telah dibentangkan dengan perlindungan penuh ke segala arah itu ditusuk semudah merobek kertas tipis. Itu adalah sebuah luka tusukan yang sangat fatal. Sebuah vonis kematian yang tak bisa lagi dihindari.

"Selamat tinggal—Serigala Bayangan Rofus."

Suara terakhir yang terngiang di telinganya di detik-detik napas terakhirnya adalah suara tenang yang sangat mengganggu dari makhluk grotesque tersebut—Invidia.

"Seandainya saja kau terbangun sebagai 'Rofus sang Serigala Bayangan dari Empat Raja Surgawi'..."—Tamat.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter


Post a Comment

0 Comments