Revisi ini berfokus pada dinamika karakter, kejelasan teknis tentang sihir dan waktu, serta penajaman suasana (dari ketegangan di gedung sekolah hingga komedi gelap saat Randy muncul).
Revisi Novel: Akhir Petualangan dan Karma yang Menanti
Bentang alam yang terdistorsi dan bergelombang perlahan memudar, berganti dengan pemandangan berwarna cokelat kemerahan yang sunyi. Perasaan aneh tanpa bobot yang menyelimuti mereka berempat pun berakhir dengan hentakan kaki di tanah yang nyata.
"Apakah kita sudah kembali?"
Randy mengedarkan pandangan. Matanya tertuju pada alat berbentuk oval milik Ellie; angka-angka di sana menunjukkan waktu saat ini. Di luar jendela menara, lanskap wilayah Victor yang familier terbentang luas. Mereka benar-benar telah kembali ke titik awal.
Semua orang menghela napas lega. Namun, benak Randy masih dipenuhi bayang-bayang: masa lalu Martha, identitas asli Ellie, dan suara misterius di akhir perjalanan tadi. Sepertinya jasad Ellie masih ada di suatu tempat... tapi masa bodoh, aku butuh istirahat, pikirnya.
"Untuk sekarang, mari kita pulang," Randy meregangkan badannya hingga sendi-sendinya berbunyi. "Aku lapar setengah mati."
"Kita harus berteleportasi ke lapangan olahraga dulu untuk menutup celah dimensi ini," sahut Ellie dengan desahan panjang. Sebenarnya ia pun ingin segera tidur, tapi jika lubang dimensi ini dibiarkan terbuka, waktu di dunia luar tidak akan pernah bergerak maju. Bagi Randy, waktu yang berhenti berarti ia tidak bisa menyalakan api untuk memasak. Itu masalah hidup dan mati.
"Baik, mari selesaikan ini dengan cepat. Aku sudah di ambang batas," keluh Randy sambil menahan uap. Ellie memutar bola matanya dan merapal mantra, memindahkan mereka berempat ke lapangan olahraga sekolah.
Kekuatan yang Tertinggal
Di lapangan olahraga, pemandangan ganjil menyambut mereka. Luke dan Cecilia—versi yang tertinggal di dunia nyata—masih membeku di tempat dengan posisi yang sama persis seperti sebelum mereka pergi. Namun, Randy dan Ellie tetap bisa bergerak bebas di tengah keheningan waktu.
Randy berpose canggung, mencoba mengetes kekakuannya sendiri, lalu menyeringai masam. "Kenapa aku masih bisa bergerak?"
Dulu, ia bisa bergerak dalam waktu yang berhenti karena pengaruh darah naga. Tapi sekarang, darah itu seharusnya sudah tidak ada lagi di tubuhnya.
"Ini mungkin sisa pengaruh dari kekuatan naga itu," Ellie menjelaskan sambil menyiapkan tongkatnya. "Kau pernah menyerap darah naga dan menundukkannya dengan paksa. Dengan kata lain, kau telah mengasimilasi kekuatan itu menjadi milikmu sendiri. Kau bergerak sekarang bukan karena darah naga, tapi karena kekuatan yang kau raih dengan tanganmu sendiri."
Randy mengangguk paham, lalu melirik ke gedung sekolah tua di kejauhan. Ia sempat berpikir untuk masuk ke sana dan mencoret-coret wajah bodoh para pangeran selagi mereka membeku, namun ia segera menepis ide kekanak-kanakan itu. Fokusnya kembali pada Ellie.
"Ayo tutup lubangnya." "Dimengerti."
Ellie perlahan menutup celah dimensi. Menara Waktu perlahan memudar dan menghilang dari pandangan. Begitu celah itu tertutup sempurna, dunia seolah "terbangun". Debu kembali berputar tertiup angin, awan merayap di langit gelap, dan desis dedaunan kembali memenuhi rungu.
"Oh!" Luke dan Cecilia tersentak, menatap kosong ke tempat menara tadi berdiri.
"Rasanya seperti petualangan yang sangat panjang..." bisik Cecilia. "Tapi bagi dunia, ini terjadi dalam sekejap," Luke menimpali dengan senyum tipis.
Tiba-tiba, Randy dan Luke menoleh dengan sigap. Dari balik kegelapan, beberapa anggota organisasi bayangan—unit intelijen kerajaan—muncul secara tiba-tiba.
"Aku berani sumpah tadi ada menara raksasa di sini," gumam salah satu agen misterius sambil menatap tajam ke arah Randy. "Randolph Victor... kenapa pakaianmu berubah?"
"Aku sangat kaget melihat menara itu sampai bajuku robek dan aku harus ganti," jawab Randy asal-asalan. Jawaban yang sangat tidak masuk akal, namun pihak intelijen tidak punya bukti untuk membantahnya.
Sebelum mereka bertanya lebih jauh, Randy menunjuk ke gedung sekolah tua. "Daripada mengurusi bajuku, bukankah suasana di sana sedang sangat... meriah?"
Suara denting pedang samar-samar terdengar dari arah gedung sekolah. Mengingat keselamatan Putra Mahkota adalah prioritas utama, para agen bayangan itu segera mengabaikan Randy dan melesat menuju sumber kegaduhan.
Kekacauan di Gedung Tua
Di dalam gedung sekolah tua, waktu kembali mengalir dengan liar. Edgar, Arthur, dan dua agen pelindung membentuk formasi melingkar untuk melindungi Catherine dari serbuan pembunuh bayaran.
"Aku akan mendukung kalian!" seru Catherine. Ia mengeluarkan tongkat sihirnya dan merapal mantra penguat (buff). Seketika, kekuatan fisik dan kecepatan berpikir semua orang meningkat drastis.
Dario memanfaatkan momentum itu dengan melepaskan bola-bola api, membakar para pembunuh yang mencoba mendekat. Arthur dan Edgar menebas setiap ancaman yang lolos dengan presisi yang luar biasa berkat sihir Catherine.
Meskipun kalah jumlah, kelompok Edgar mampu bertahan tanpa korban jiwa. Kedatangan tambahan agen bayangan dari luar—yang dikirim setelah menara menghilang—menjadi pukulan telak bagi para pembunuh.
"Mundur! Semuanya mundur!" teriak pemimpin pembunuh bayaran sambil melemparkan bom asap beracun.
"Itu kabut beracun! Tutup mulut dan mata kalian!" teriah sebuah suara. Semua orang menunduk, namun itu sebenarnya hanyalah gertakan dari Chris. Pria itu memanfaatkan kepanikan untuk melarikan diri, berbaur di antara para pembunuh yang kocar-kacir.
Setelah kabut mereda, Catherine segera memberikan sihir penyembuhan. "Terima kasih, Cathy. Tanpamu, kami mungkin sudah tamat," puji Edgar.
Namun, Dario menatap sudut ruangan yang kosong. "Kenapa Chris melarikan diri?"
"Kita harus menangkapnya dan membuatnya bicara. Itulah tugas terakhir kita sebagai temannya," jawab Edgar dengan nada getir.
Karma di Gang Gelap
Chris terengah-engah, memegangi sisi tubuhnya yang terluka. Ia berhasil lolos dari gedung sekolah, namun ia tahu ia tak punya jalan kembali. Saat ia bersandar di dinding gang sempit untuk mengatur napas, sebuah bayangan turun dari atap.
"Kau... menjebak kami, hah?" Seorang pembunuh bayaran yang selamat menatapnya dengan amarah yang meluap. Ia mencengkeram kerah baju Chris. "Kau akan menjadi sandera kami sebagai ganti kerugian ini!"
BUGH! Pukulan keras mendarat di wajah Chris. Namun, sebelum pembunuh itu bisa bertindak lebih jauh, sebuah tangan besar mendarat di bahunya.
"Ketemu."
Randy muncul entah dari mana, merangkul bahu sang pembunuh seolah mereka teman lama.
"Randolph Victor...!" Chris memekik kaget.
"Lepaskan aku!" sang pembunuh meronta, namun Randy justru menjepit kepala pria itu di bawah ketiaknya dengan kekuatan yang tidak masuk akal.
"Kalian ini grup yang sering mengganggu kami belakangan ini, kan? Benar, kan?" Randy tersenyum lebar, tapi matanya dingin.
"Aku... aku tidak tahu!"
"Berbohong itu dosa, kawan," Randy mempererat jepitannya hingga pria itu memekik kesakitan. "Nah, sekarang hubungi semua teman organisasimu. Aku beri waktu lima detik."
"Mana mungkin aku bisa melakukannya!"
"Pasti punya cara rahasia, kan? Ayo, cepat."
Di tengah gang gelap itu, Chris hanya bisa terduduk lemas melihat pemandangan surealis di depannya: seorang pembunuh bayaran yang mengerikan sedang dikerjai habis-habisan oleh seorang pemuda yang baru saja mengeluh lapar.
0 Comments