"Jadi... kita benar-benar akan menghajar naga sekarang?" Randy bertanya dengan antusiasme yang hampir tidak masuk akal.
Ellie menghela napas, menjelaskan dengan nada getir. Tekanan perjalanan waktu bukanlah sesuatu yang bisa ditahan oleh material biasa. Hanya kulit naga—makhluk yang eksistensinya mampu membengkokkan hukum alam—yang bisa menjadi perisai bagi jiwa mereka. Tanpa itu, mereka hanya akan menjadi debu di antara lipatan dimensi.
Bahu Luke terkulai. Naga adalah inkarnasi dewa yang hampir punah. Makhluk ilahi yang tidak mengenal lelah, mampu meratakan kota dengan satu embusan napas, dan mengendalikan gravitasi hanya dengan kehendak. Mencari naga adalah kemustahilan; mengalahkannya adalah kegilaan.
Namun, di tengah keputusasaan itu, Randy tertawa. Tawa yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
"Sempurna," Randy menyeringai, menatap Ellie. "Ada naga yang sedang tertidur di dalam diriku, kan? Kau bisa menariknya keluar, bukan? Aku membacanya di monitor tadi."
"Itu terlalu berbahaya, Randy!" Ellie memprotes keras. "Menarik keluar esensi naga berarti kau akan kehilangan penguatan fisik luar biasa yang baru saja kau dapatkan. Kau akan kembali menjadi manusia biasa. Bisakah kau menaklukkan naga tanpa kekuatan naga?"
Randy mendengus, matanya berkilat menantang. "Bukan soal 'bisakah', tapi 'lakukanlah'. Cepat atau lambat, aku harus mendisiplinkan garis keturunan liar ini di bawah kepalan tanganku sendiri. Lebih baik aku memukulnya sekarang sebelum dia tumbuh terlalu besar dan mengambil alih tubuhku."
Ritual Pemisahan Jiwa
Ellie melihat tekad yang tak tergoyahkan di mata Randy. Ia tahu, jika mereka menunda, naga di dalam diri Randy akan terbangun di saat yang tidak tepat—mungkin di tengah sekolah atau kota yang ramai. Menara Waktu ini, dengan segala proteksi dimensinya, adalah arena terbaik.
"Baiklah. Terima ini," Ellie menyerahkan beberapa botol ramuan tingkat tinggi. "Jangan sombong. Kau akan membutuhkannya."
Randy menerima ramuan itu dengan dengusan frustrasi, lalu berdiri di tengah aula yang penuh dengan sisa-sisa organik Guardian. Ellie mengangkat tongkat sihirnya, memulai mantra terlarang:
"Jiwa-jiwa yang mengerang dalam sangkar darah dan baja... Ular merah yang memutuskan rantai kehancuran... Atas namaku, pisahkan yang menyatu! Soul Sequestration!"
Cahaya merah pekat meledak dari tubuh Randy. Ia berlutut, merasakan kekuatan dahsyat yang selama ini menopangnya ditarik paksa keluar. Rasanya seperti kulitnya dikuliti dari dalam. Di hadapannya, gumpalan energi merah gelap menyerap bangkai-bangkai makhluk di sekitar, membentuk daging, sisik, dan tulang.
"ROOOOOOARRRRR!!!"
Lantai dimensi retak. Seekor naga merah dengan dua tanduk raksasa muncul, membentangkan sayapnya yang menutupi langit-langit aula. Udara bergetar hebat hingga Cecilia jatuh terduduk, wajahnya pucat pasi.
Pertarungan Melawan Kedigdayaan
"Anak kecil yang kurang ajar..." suara naga itu menggema seperti guntur, menghina inang lamanya.
"Aku punya satu pertanyaan," potong Randy sembari meregangkan lehernya. "Kau berencana pergi begitu saja tanpa izin? Bayar harganya dengan kulitmu!"
Naga itu mendengus meremehkan, lalu mengayunkan cakar raksasanya. Randy mencoba memukul dada sang naga, namun ia terlempar seperti peluru, menghantam dinding dimensi hingga menara berguncang.
"Cih, berat sekali," Randy meludah darah, bangkit dengan salto ke belakang. Ia kini bertarung dengan kekuatan manusianya sendiri.
Luke muncul di sampingnya, pedang terhunus. "Jangan memukul bagian tengahnya, bodoh! Kulitnya terlalu tebal."
"Perintah otakku hanya 'pukul' dan 'tendang', Luke! Tapi baiklah, bantu aku," balas Randy menyeringai.
"Aku akan mengincar tanduknya. Elizabeth butuh itu untuk senjata," ujar Luke dengan tenang sebelum menghilang dalam kilatan kecepatan tinggi.
Kerja Sama Dua Pembunuh Naga
Naga itu melompat ke udara, melepaskan semburan api (Breath) yang membakar segalanya. Randy dan Luke menyelimuti diri dengan mana, menerobos lautan api dengan tubuh yang sedikit hangus.
Naga itu menyerang Randy dengan kakinya. Randy menahan injakan raksasa itu dengan kedua tangan yang bergetar hebat. Tulangnya retak, darah mengalir dari telinga dan hidungnya.
"Sekarang, Luke!" teriak Randy parau.
Naga itu membuka rahangnya untuk menelan Randy dari jarak dekat, namun di saat itulah Luke muncul di atas kepala sang naga.
"Kuzuyama—Hancurkan Gunung!"
Tebasan pedang Luke yang bermuatan mana murni menghantam pangkal tanduk naga. Suara patahan keras bergema bersama raungan kesakitan sang naga. Tanduk raksasa itu lepas, jatuh ke lantai aula.
Namun, naga itu membalas dengan cambukan ekor yang telak. Luke terlempar, menghantam pilar dengan sudut tubuh yang mengerikan. Cecilia berteriak, berlari menuju Luke yang tak berdaya.
"Jangan mendekat, Cecilia!" Luke terbatuk darah, berusaha bangun meski kakinya patah. Sang naga perlahan mendekat, siap mengakhiri hidup sang pendekar pedang.
"Hei, kadal brengsek. Lawanmu di sini."
Suara kurang ajar itu membuat sang naga menoleh. Di sana berdiri Randy, memegang massa hitam besar yang kasar—tanduk naga yang baru saja patah, yang kini ia genggam seperti pedang raksasa yang belum jadi.
"Ayo," tantang Randy dengan senyum haus darah. "Aku sudah kembali ke performa terbaikku. Akan kuhancurkan kau dengan bagian tubuhmu sendiri!"
Luke, meski compang-camping, tertawa melihat kegilaan sahabatnya. Cecilia merasakannya—sebuah keyakinan mutlak bahwa di tangan pria yang menantang takdir ini, naga sekalipun akan bertekuk lutut.