Diplomasi Rahasia dan Burung Pengirim Pesan
Beberapa minggu setelah Elizabeth mulai bekerja di wilayah Victor, ia dan Randy terus bereksperimen dengan sihir produksi. Saat ini, kemampuan mereka baru sebatas memurnikan material mentah menjadi bahan berkualitas. Namun, Elizabeth sangat menyukai proses ini. Seperti anak kecil yang menemukan hobi baru, ia mencatat setiap efek dan reaksi material di buku catatannya dengan sangat tekun.
Namun, kesuksesan ini membawa masalah baru. Produksi mereka mulai melampaui kapasitas serapan pedagang keliling.
"Gudang kita mulai penuh, dan pedagang keliling tidak punya cukup modal untuk membeli semuanya," Randy menghela napas sambil menatap tumpukan material yang menjulang tinggi.
"Permintaan pasar lokal memang terbatas," sahut Elizabeth. "Lain ceritanya jika kita memiliki akses ke jalur perdagangan luar negeri."
Mendengar itu, Elizabeth terdiam sejenak. Randy tahu apa yang ia pikirkan. Keluarga Brauberg—keluarga asal Elizabeth—adalah penguasa pelabuhan besar yang mengontrol perdagangan maritim antarbenua. Mereka bukan sekadar bangsawan, tapi juga pedagang cerdik.
"Mungkin para kurcaci di benua seberang akan tertarik dengan material kokoh ini," cetus Randy mencoba mencairkan suasana.
Elizabeth tersenyum tipis. "Ya, kurcaci pasti sangat menghargainya. Sayangnya, wilayah Victor hanya memiliki desa nelayan terpencil yang menghadap sungai besar. Mengubahnya menjadi pelabuhan internasional adalah hal yang mustahil untuk saat ini."
Randy menatap Elizabeth, ingin bertanya apakah ia merindukan keluarganya, namun ia menahan diri. Ia tidak ingin mengorek luka yang belum kering. "Jangan terlalu memaksakan diri, Lady Elizabeth," ucap Randy lembut sebelum meninggalkan ruangan.
Begitu keluar dari kantor, sesosok bayangan muncul dari balik pilar.
"Wawasan Anda sungguh tajam, Tuan Muda," puji Keith dengan senyum khasnya.
"Hentikan, Keith! Jangan muncul tiba-tiba seperti hantu," gerutu Randy.
Keith hanya terkekeh. "Anda sudah memberikan kesempatan pada Lady Elizabeth untuk kembali bermimpi. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal, bukan?"
Randy mengangguk. "Tentang keluarganya. Aku ingin bicara dengan Rita."
Randy menemui Rita di halaman belakang saat gadis itu sedang membantu para pelayan mencuci pakaian. Kehadiran Randy membuat suasana riuh seketika, namun ia segera meminta izin untuk meminjam Rita sejenak.
Di tepi halaman yang sepi, Randy menatap Rita dengan serius. "Rita, aku ingin menghubungi keluarga Marquis Brauberg."
Rita tersentak. Ketakutan dan harapan bercampur di matanya. "T-tapi, Tuan Muda... Nona sudah dibuang oleh dunia. Beliau tidak ingin melibatkan keluarganya lagi."
"Dibuang? Itu hanya anggapan Lady Elizabeth karena ia terlalu baik," sanggah Randy. "Aku pernah melihat 'status' miliknya. Di sana masih tertulis 'Putri Marquis', bukan 'Mantan Putri'. Itu artinya, secara teknis, ayahnya belum memutuskan hubungan secara resmi."
Randy menjelaskan rencananya. Ia akan mengirim pesan rahasia kepada Duke Brauberg, berpura-pura menemukan 'barang peninggalan' milik Elizabeth. Reaksi sang Duke terhadap barang-barang itu akan menunjukkan apakah dia masih menyayangi putrinya atau benar-benar telah membuangnya.
"Saya sangat yakin Tuan Duke masih sangat menyayangi Nona," bisik Rita dengan suara bergetar. "Sebenarnya, Nona-lah yang menolak semua bantuan keuangan agar keluarganya tidak dituduh memberontak oleh kerajaan. Duke Brauberg bahkan harus memohon pada kerajaan hanya agar aku diperbolehkan ikut sebagai pelayan pribadinya."
"Begitu rupanya. Jadi mereka saling melindungi," Randy mengangguk paham. "Jika begitu, memberitahu sang Duke bahwa putrinya masih hidup dan aman adalah hal yang wajib dilakukan."
Rita ragu sejenak, lalu ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah alat sihir kecil berbentuk burung. "Mailbird."
Ini adalah alat komunikasi mahal yang hanya dimiliki kalangan atas. Rita telah menyimpannya sebagai kartu truf terakhir. "Alamat penerimanya sudah diatur ke kediaman utama Marquis Brauberg. Tolong... jaga Nona baik-baik."
Randy segera kembali ke kamarnya. Di sana, Keith sudah menunggu bersama sepucuk surat resmi yang telah disiapkan oleh ayahnya, Alan. Ternyata, ayah dan kepala pelayannya itu sudah memprediksi langkah Randy.
"Aku sudah mengawasimu selama tujuh belas tahun, Tuan Muda. Aku tahu apa yang kau pikirkan," goda Keith.
Randy hanya bisa tersenyum kecut. Ia memasukkan surat itu ke dalam kantong kecil di punggung Mailbird. Alat sihir itu bersinar samar, mengepakkan sayap organiknya, lalu terbang menembus langit biru menuju arah barat daya.
Randy memperhatikan burung itu sampai menghilang di cakrawala. "Semoga ini menjadi awal dari badai yang akan menghancurkan rencana 'orang suci' itu," gumamnya pelan.