Sang Pahlawan Wanita yang Terbuai Mimpi
"Ah, ini luar biasa!"
Sambil mengapung di atas pelampung di bawah langit biru yang cerah, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bersorak. Segalanya berjalan persis seperti rencanaku. Aku, seorang gadis dari Jepang yang damai, bereinkarnasi ke dunia otome game "The Saint of Destiny and the Rhapsody of Calamity"—atau yang sering disebut para pemain sebagai gim "No Way".
"Itu memang tipikal dari tokoh utama wanita yang dicintai, Cathy," gumamku pada diri sendiri.
Dari atas pelampung yang bergoyang, aku melirik ke pantai. Di sana, berpose mempesona dengan pakaian renang mereka, adalah para pria yang sudah masuk ke dalam genggamanku:
Putra Mahkota Edgar Roa Alexander.
Dario Weissman, putra perdana menteri.
Chris Lowe, putra Menteri Kehakiman.
Arthur Lance, putra Komandan Ksatria.
Mereka semua adalah tokoh kunci masa depan negara ini. Bagiku, tidak ada yang sulit untuk ditaklukkan, terutama Edgar. Cerita utama gim ini tidak akan bisa dimulai sebelum aku menyingkirkan tunangannya, Elizabeth.
Kasihan Elizabeth (lol). Aku penasaran apakah dia sedang meratap di tengah hutan terkutuk sekarang? Atau mungkin dia sudah tewas membusuk karena kemiskinan dan kelaparan?
Dalam alur gim aslinya, Elizabeth yang putus asa akan merusak segel penyihir jahat Eleonora dan jiwanya akan dirasuki. Ia akan menjadi Final Boss yang harus dikalahkan. Lalu, aku dan para pria tampanku akan membunuhnya, dan dunia pun berakhir bahagia. Aku sudah memainkan gim ini berkali-kali hingga ingat setiap pilihan dialognya.
Tugas sebagai "Orang Suci" sangatlah mudah. Aku tidak perlu bertarung; aku hanya perlu duduk manis di belakang dan memberikan sihir penyembuhan sementara para pria ini bertumpah darah untukku. Lagipula, aku benci sikap Elizabeth yang angkuh dan mandiri itu. Dia pantas mendapatkan akhir yang mengerikan.
Namun, ada satu hal yang menggangguku. Saat pengusiran kemarin, Elizabeth terlalu diam. Di dalam gim, seharusnya dia banyak membantah. Apakah dia juga reinkarnator? Ah, tidak mungkin. Kalau dia reinkarnator, dia pasti jauh lebih pintar untuk tidak membiarkan dirinya diusir begitu saja.
"Hei! Cathy!" panggil Edgar.
Aku segera turun dari pelampung dan berjalan anggun di air dangkal. Edgar berlari menghampiriku dan menggenggam tanganku erat. Ah, rasanya benar-benar seperti menjadi putri raja.
"Cathy, kudengar ada reruntuhan kuno di dekat sini," ucap Edgar penuh semangat. "Kami pikir kami harus mencoba menaklukkannya sebagai persiapan pelatihan semester kedua."
Aku tersenyum penuh kemenangan dalam hati. Ini adalah acara utama: [Tutorial Pertempuran] dan [Pembukaan Fitur Status]. Aku harus membujuk mereka masuk ke sana untuk mendapatkan gulungan sihir langka.
"Hah? Reruntuhan? Bukankah itu menakutkan?" aku berakting lemah lembut.
"Tenanglah, aku akan melindungimu," bisik Edgar. Pria-pria lain pun ikut menimpali, berebut ingin menjadi pahlawanku. Hehehe, gim ini terlalu mudah.
Kami tiba di reruntuhan. Tempatnya kotor dan berbau apek, aku ingin segera mengambil apa yang kubutuhkan dan kembali berjemur. Dengan buff sihir suci yang kuberikan, Edgar dan yang lainnya menebas monster-monster kecil seperti goblin dan slime dengan mudah.
Kami sampai di ruangan terakhir—tempat di mana seharusnya terdapat alat untuk membuka fitur Crafting dan gulungan sihir pengganda. Fitur Crafting sebenarnya merepotkan, tapi gulungan itu bisa dijual dengan harga sangat tinggi untuk membeli gaun dan perhiasan baru.
Namun, saat kami sampai di depan peti mati batu yang legendaris itu...
"Hah? Peti matinya... sudah bergeser?" aku terbelalak.
"Kosong?" Arthur menendang peti mati itu hingga bergema.
Aku terpaku. Gulungan sihir kuno di bawahnya sudah hilang! Padahal untuk menggeser peti ini, seharusnya dibutuhkan tenaga empat pria dewasa yang sudah diperkuat sihir suci. Siapa yang bisa melakukannya sebelum kami?
"T-tidak mungkin..." aku menggigit kuku, rasa cemas mulai merayap.
"Ada apa, Cathy?" Edgar memiringkan kepalanya.
"T-tidak, hanya saja... aku sedih karena kalian sudah bekerja keras tapi tidak menemukan harta apa pun," aku memaksakan senyum manis. Edgar langsung mengelus kepalaku dengan lembut. Yah, setidaknya aku masih punya mereka. Jika aku butuh uang, aku tinggal meminta mereka membelikanku apa saja.
Sementara itu, di waktu yang sama...
"Sepertinya wilayah Victor akhirnya memiliki pengrajin yang kompeten," ujar seorang pedagang keliling dengan wajah puas.
Randy berdiri di gudang, menatap koin emas yang diterimanya. Ia dan Elizabeth berhasil memproses material sisa monster menjadi bahan baku berkualitas tinggi menggunakan sihir Crafting. Permintaan pasar melonjak, dan kas wilayah Victor yang tadinya kosong kini mulai terisi.
(Sepertinya liburan musim panas ini akan sangat sibuk,) batin Randy sambil melirik Elizabeth yang sedang fokus menghitung pembukuan.
Cathy tidak menyadari satu hal penting: Elizabeth tidak sedang meratap di hutan. Dia sedang membangun kekuatan besar di bawah perlindungan seorang reinkarnator berotot dan seorang penyihir agung kuno. Takdir dunia ini sudah melenceng jauh dari naskah gim yang Cathy agung-agungkan.