Header Ads Widget

Episode 4: Tiga kepala lebih baik daripada satu.


 Beberapa hari setelah Elizabeth mulai membantu administrasi di wilayah Victor, sang mantan siswi jenius itu tampak duduk termenung di kantornya. Ia memegangi pelipisnya, menatap tumpukan laporan di atas meja kayu yang sudah tua.

"Hutan Terkutuk dan tanah tandus... ini jauh lebih buruk dari yang kubayangkan," keluh Elizabeth.

"Benar, kan?" sahut Randy yang duduk di seberangnya.

Di rumah ini, Randy tidak lagi memakai topeng "pelajar sopan" seperti di akademi. Ia bicara blak-blakan, sedikit kasar, namun jujur. Ia sadar ia bukan tipe orang yang bisa berpura-pura selamanya, itulah sebabnya ia selalu menjaga jarak dengan orang lain saat di sekolah.

"Kemiskinan wilayah ini sudah melegenda di seluruh negeri," tambah Randy sambil mengangkat bahu.

Elizabeth menatapnya tajam, seolah berkata, 'Tidak perlu bangga dengan hal itu.' Ia kembali membolak-balik kertas di depannya. "Jadi, sumber penghasilan utamamu hanya dari bangkai makhluk ajaib yang kau buru di hutan?"

Randy membusungkan dada. "Itu satu-satunya cara kami membayar gaji para ksatria dan pelayan."

Elizabeth memijat dahinya. Betapa serampangan. Penduduk desa berjuang mengolah tanah yang mati, sementara sang ahli waris mempertaruhkan nyawa di hutan hanya untuk menutupi biaya operasional rumah tangga. Ayah Randy, Alan, sudah bertahun-tahun mencoba meneliti teknik pertanian, namun hasilnya nihil. Randy pun, meski seorang reinkarnator, tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang agrikultur.

"Tunjukkan padaku produk hasil buruanmu," pinta Elizabeth tiba-tiba.

"Yah, sebaiknya kau siapkan hidungmu," gumam Randy sambil bangkit berdiri.


Mereka berjalan menuju gudang besar di belakang kediaman. Begitu pintu ganda itu dibuka, bau menyengat sisa-sisa makhluk hidup langsung menusuk indra penciuman.

"B-bau apa ini?!" Elizabeth tersentak, menutup hidungnya dengan sapu tangan.

"Ini adalah bau 'uang' di wilayah ini," jawab Randy dingin. Di dalam gudang berserakan kulit, taring, dan tulang binatang buas. Masalah utamanya adalah pengolahan. Material dari monster tingkat tinggi sangat sulit dipotong dan dibersihkan tanpa peralatan khusus yang mahal. Akhirnya, mereka hanya bisa menjual bahan mentah berkualitas rendah dengan harga murah.

Tiba-tiba, aura Elizabeth berubah. Rambut peraknya sesaat berkilat menjadi hitam, dan tatapannya berubah menjadi tajam dan penuh gairah.

"Oh, Ular Hitam? Tidak buruk juga tangkapanmu, Nak," suara Eleonora menggema dari bibir Elizabeth. Sang Penyihir Agung tidak terganggu sedikit pun oleh bau busuk itu. Ia melangkah masuk, menggeledah tumpukan material. "Ada banyak potongan monster tingkat tinggi di sini, bahkan batu sihir besar. Kenapa kalian masih miskin?"

"Karena kami tidak punya teknologi untuk mengolahnya, Nek," jawab Randy malas. "Biaya produksinya lebih besar daripada harga jualnya di pasar sekarang."

Eleonora mendengus. "Masalahnya hanya di proses awal dan permintaan pasar, ya? Baiklah, aku baru ingat sesuatu. Ikut aku!"

Tanpa peringatan, Eleonora menjentikkan jari. Cahaya sihir meluap dari lantai, menyelimuti mereka berdua. Sebelum Randy sempat memprotes, pemandangan gudang sudah berganti menjadi reruntuhan kuno di sebuah pulau terpencil.

"Sihir teleportasi?" Randy terpana. Ia menyadari monster di sekitar reruntuhan tidak berani mendekat karena takut pada aura Eleonora—sama seperti saat perjalanan mereka kembali ke kota dulu.

Eleonora membawa Randy ke sebuah ruang bawah tanah yang menyimpan peti mati batu. "Geser ini, Nak. Kartu truf kita ada di bawahnya."

Randy mengerahkan tenaga fisiknya yang luar biasa untuk menggeser peti mati berat itu. Di bawahnya, terdapat sebuah lubang rahasia berisi dua gulungan perkamen kuno.

"Ini adalah Magic Scroll kuno: Sihir Produksi," jelas Eleonora.

Randy menerima gulungan itu dan mengaktifkannya. Cahaya terang menyelimutinya, memberikan sensasi tanpa bobot yang aneh. Namun, hal yang paling mengejutkan terjadi setelah cahaya itu hilang. Randy secara tidak sengaja memanggil jendela statusnya.

Di sana, sebuah tab baru muncul: [Crafting: Beginner].

"Apa itu?" Eleonora terperanjat. Ia bisa melihat jendela status Randy—sesuatu yang seharusnya tidak terlihat oleh orang lain di dunia ini. "Sihir macam apa yang terukir di jiwamu ini?"

Randy mengabaikan rasa heran Eleonora dan mencoba fungsi Crafting. Ia menyentuh selembar kulit ular hitam kasar di tangannya. Seketika, kulit itu bersinar dan berubah menjadi lembaran kulit halus yang sudah tersamak sempurna.

"Luar biasa..." gumam Randy. Jika ia bisa memproses bahan mentah secara instan, keuntungan wilayah Victor akan melonjak drastis.

"Nenek, apa fungsi gulungan yang satu lagi?" tanya Randy dengan mata berbinar licik.

"Itu gulungan Copy. Bisa menyalin kemampuan sihir," jawab Eleonora.

Randy menyeringai jahat. "Bagaimana kalau kita salin sistem 'Status' milikku ini ke Elizabeth?"

Eleonora tertawa liar. "Aku suka idemu!"

Proses penyalinan dilakukan dengan cepat. Saat cahaya meredup, Elizabeth kembali mengambil alih tubuhnya. Ia mencoba memanggil statusnya sendiri dan tertegun melihat sebuah jendela melayang di depannya.

"Tuan Randolph..." suara Elizabeth bergetar.

"Ada apa?"

"Kekuatan sihirku... angkanya tidak masuk akal."

Randy melirik ke arah jendela status Elizabeth. Angka Mana di sana begitu besar hingga teksnya terlihat tumpang tindih dan sulit dibaca. Randy hanya bisa menghela napas pasrah. Ternyata, bahkan dalam urusan statistik pun, sang Putri Es adalah monster yang sesungguhnya.

"Baiklah," Randy menepuk tangannya. "Dengan ini, mari kita ubah wilayah miskin ini menjadi pusat industri sihir terkuat di dunia."


PREVIOUS CHAPTER | LIST | NEXT CHAPTER