Api yang Terpendam di Kediaman Brauberg
Sejak hari ketika vonis pengasingan Elizabeth dijatuhkan, Marquisat Brauberg tenggelam dalam kesunyian yang mencekik, seolah-olah api kehidupan di sana telah padam.
Biasanya, rumah besar sang Marquis akan riuh rendah selama liburan musim panas. Elizabeth dan ayahnya, Lucien von Brauberg—sang Menteri Keuangan—seharusnya kembali dari ibu kota untuk menikmati masa istirahat. Namun kini, yang tersisa hanyalah keheningan yang sulit dipercaya.
Keluarga Brauberg adalah dinasti yang membangun kekayaan mereka lewat perdagangan maritim. Para pelayan mereka adalah individu-individu berpendidikan tinggi dengan loyalitas mutlak kepada tuan mereka. Itulah sebabnya, pengasingan Elizabeth terasa seperti luka yang menganga bagi mereka. Terlebih lagi, dengan beredarnya rumor kematian sang putri dalam beberapa hari terakhir, amarah yang membara mulai menyelimuti kediaman tersebut.
Sebenarnya, Marquisat bukannya padam. Sebaliknya, mereka seperti gudang mesiu yang menunggu percikan api. Mereka menahan amarah demi menghormati pengorbanan Elizabeth, sampai akhirnya seekor burung pengantar surat terbang masuk melewati jendela kantor sang Marquis.
"Seseorang! Panggil Flora dan Cedric segera!"
Pintu kantor terbuka dengan bantingan keras. Lucien von Brauberg muncul dengan napas terengah-engah. Rambut cokelat keemasannya yang biasa tersisir rapi kini acak-acakan. Ia tampak lebih putus asa sekaligus lebih bersemangat daripada hari-hari sebelumnya.
Istri Lucien, Lady Flora, dan putra sulungnya, Cedric, segera bergegas masuk dengan wajah bingung.
"Ayah? Ada apa?" tanya Cedric cemas.
Tanpa kata, Lucien menyerahkan surat yang baru saja ia terima. Begitu membacanya, tubuh Flora dan Cedric mendadak kaku, sebelum akhirnya air mata mulai membasahi pipi mereka.
"Liza... Liza masih hidup!" isak Flora.
"Ya. Terima kasih Tuhan..." Cedric merangkul bahu ibunya. Mereka semua sempat menerima kenyataan pahit bahwa kontak dengan Elizabeth hilang di Hutan Terkutuk, yang hampir pasti berarti kematian. Namun, surat ini mengubah segalanya.
Biasanya, mereka enggan mengungkapkan syukur kepada "Tuhan" yang diwakili oleh Gereja—institusi yang menaungi sang Orang Suci gadungan itu—namun kali ini, rasa lega mengalahkan kebencian mereka.
"Pertama, kita harus memberlakukan perintah pembungkaman," tegas Lucien, matanya kini berkilat tajam. "Liza masih hidup. Jika pihak istana tahu, ini akan membahayakannya dan juga para dermawan yang melindunginya."
Lucien teringat detail dalam surat itu: pengasingan Elizabeth dilakukan secara terburu-buru tanpa ruang keberatan. Ia tahu benar bahwa putrinya sengaja mengakui kesalahan palsu demi melindungi posisi keluarga Marquisat dari intrik politik.
"Mereka menjebak kita," geram Lucien. "Mereka ingin membunuh Elizabeth dan menekan kekuatan Brauberg sekaligus."
Keyakinan itu kini menjadi kepastian. Mereka menyadari bahwa Catherine—sang pahlawan wanita yang dipuja—dan Putra Mahkota Edgar telah bersekongkol untuk melemahkan posisi mereka. Saat itulah, bahan bakar ditambahkan ke dalam api kemarahan yang selama ini mereka tahan.
"Sepertinya pemerintah pusat benar-benar ingin menjadi musuh kita," gumam Lucien pelan, namun penuh ancaman. "Tapi aku sudah tidak peduli lagi pada mereka."
"Kau akan menemui gadis itu, kan?" tanya Flora penuh harap.
"Ya. Balas dendam bisa menunggu. Saat ini, Liza adalah prioritas utama. Tapi kita harus sangat hati-hati. Jika aku pergi ke wilayah tempat Liza menghilang secara terang-terangan, itu akan memicu kecurigaan."
Keluarga Brauberg kini tidak lagi peduli pada nasib kerajaan yang mengecewakan atau pemerintahan yang korup. Fokus mereka telah bergeser sepenuhnya.
"Untungnya, berkat Liza 'mengasingkan diri', aku dibebaskan dari tugas sebagai Menteri Keuangan. Aku punya banyak waktu sekarang," Lucien menyeringai tipis. Ia segera memanggil kepala pelayannya. "Sebastian! Siapkan jalur komunikasi rahasia segera!"
Lucien membentangkan peta benua di mejanya, menghitung rute menuju sebuah wilayah kecil bernama Victor. Sambil memegang pena, ia menulis balasan dengan penuh perasaan. Setelah selesai, ia mengikatkan surat itu pada seekor Mailbird dan melepaskannya ke angkasa.
"Diam-diam, tanpa tergesa-gesa, namun dengan kecepatan penuh..."
Mereka bertiga memperhatikan burung itu terbang menjauh sampai hilang di cakrawala.
Dalam sejarah resmi gim yang diketahui Cathy, pemberontakan keluarga Brauberg seharusnya berakhir dengan kegagalan. Namun kini, sejarah telah melenceng. Tak seorang pun di ibu kota tahu bahwa api yang mereka kobarkan akan berbalik menjadi hujan percikan api yang akan menghancurkan kerajaan, Catherine, dan siapa pun yang berani menyentuh putri kesayangan keluarga Brauberg.