Undangan ke "Neraka" Musim Panas
"O-oi... kau serius? Kau baru saja mengajaknya pergi berduaan ke tengah hutan?!" "Arcus... kau benar-benar pria yang agresif, ya!" "Kau berani mengatakan itu di depan kami semua?! Ada batasnya seberapa jauh kau boleh pamer kemesraan!!" "Mmm... sepertinya aku benar-benar meremehkan keberanian Arcus dalam mengambil langkah."
Begitu permintaanku terlontar, suasana tenang di ruang OSIS langsung pecah. Para senior mulai ribut, berteriak kegirangan sambil melontarkan komentar-komentar usil yang membuat telingaku panas.
...Tunggu sebentar. Kalian semua salah paham!!
Aku akui, mengajak seorang siswi bangsawan ke kamp militer secara tiba-tiba memang terdengar sangat... mencurigakan. Tapi aku tidak memintanya karena alasan romantis murahan yang mereka pikirkan! Ini soal tugas dari amplop biru itu!
"Tolong tenang dulu! Kalian terlalu berlebihan menyimpulkannya. Dengarkan dulu penjelasanku—"
Aku berusaha menenangkan para senior yang sudah terlanjur heboh. Di saat yang sama, aku melirik ke arah Eleonore.
Gadis itu tampak benar-benar terpaku. Sepasang mata hitam legamnya melebar, menatapku dengan bibir yang sedikit terbuka. Melihat ekspresi "blank" dari sang Final Boss yang biasanya selalu punya jawaban untuk segalanya, aku sempat menahan napas sejenak.
Keheningan canggung menyelimuti kami selama beberapa detik, sebelum akhirnya Eleonore mengeluarkan tawa kecil yang terdengar sangat merdu.
"Hehe... Maafkan aku, Arcus. Aku hanya tidak menyangka kau akan meminta hal itu dariku." "Um... maaf kalau ini terdengar mendadak. Sebenarnya ini sesuatu yang sudah kupikirkan, tapi aku bingung mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya..." "Tidak perlu minta maaf."
Eleonore tersenyum, jauh lebih lembut dan tulus dari biasanya. Aku merasa wajahku mulai memanas. Sial, kenapa aku jadi merasa malu sendiri padahal tujuanku murni profesional? Seharusnya aku menanyakan ini secara pribadi, bukan di depan para senior yang haus gosip ini.
"Jadi... kau ingin aku ikut ke kamp pelatihan ksatria, kan? Baik, aku terima."
Jawaban Eleonore terdengar sangat ringan, seolah aku baru saja mengajaknya sekadar minum teh di taman.
"Anda... benar-benar mau ikut?" tanyaku memastikan. "Tentu saja. Bukankah aturannya tadi aku harus memenuhi harapanmu jika hasilnya seri? Lagipula, ini adalah tantangan yang menarik."
Ikut ke kamp pelatihan Divisi Ksatria itu bukan perkara mudah bagi seorang bangsawan. Jadwal Divisi Bangsawan sendiri pasti punya tugas musim panas yang menumpuk. Aku benar-benar tidak menyangka dia akan setuju secepat itu tanpa keraguan sedikit pun.
"Lagipula... karena Arcus yang memintanya, aku yakin kau punya alasan penting di baliknya. Aku tidak akan bertanya lebih jauh sekarang," tambahnya dengan tatapan penuh rahasia.
(Ketajaman instingnya benar-benar menakutkan...) batin menderu. Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan apa pun darinya.
"Senang melihat kalian sangat akrab, tapi pastikan pekerjaan OSIS tetap selesai sebelum libur musim panas, ya?" Emily-senpai menengahi dengan nada memperingatkan. "Tentu, Senpai." "Kami mengerti."
Kami menjawab serempak. Ini poin penting; aku harus bekerja dua kali lipat lebih keras agar tugas OSIS tidak terbengkalai selama aku mengawal Eleonore di kamp nanti.
"Lalu, permintaan apa yang akan diajukan Eleonore sebagai balasan?" tanya Sharon dengan mata berbinar penasaran.
Benar, taruhan ini seri. Artinya sekarang giliran Eleonore yang memegang "kartu as" untuk memintaku melakukan apa pun. Aku menelan ludah, sedikit cemas memikirkan apa yang akan meluncur dari bibirnya.
"...Sebenarnya, aku belum mau mengatakannya sekarang!" ucap Eleonore sambil mengepalkan tangannya di depan dada.
"Eh?! Memangnya boleh begitu?!" protesku refleks. "Aku tidak bilang aku tidak akan memintanya, kan? Aku hanya akan menyimpannya sebagai kejutan."
Gawat... ini lebih menakutkan daripada diminta sekarang. Aku hanya bisa berdiri mematung saat Eleonore memberikan senyum nakal yang sangat cantik ke arahku.
"Hehe... Aku akan memikirkan sesuatu yang sangat 'spesial' untukmu, Arcus. Nantikan saja." "...Mohon jangan yang terlalu aneh-aneh, Nona."
Aku hanya bisa menghela napas pasrah. Tapi setidaknya, langkah pertamaku untuk menjalankan misi dari Instruktur Kirill sudah berhasil. Dalam hati, aku mengepalkan tangan merayakan kemenangan kecil ini.
Di Kamar Asrama Putri Divisi Bangsawan
Malam harinya, di sebuah kamar mewah yang hanya diperuntukkan bagi bangsawan kelas atas.
"Hehe... fufufu..."
Eleonore berbaring di atas ranjang sutranya, membenamkan wajahnya di bantal sambil terkekeh riang. Suara tawanya terdengar seperti melodi yang penuh dengan kemenangan.
"Aku tak pernah menyangka... Arcus sendiri yang akan mengajakku pergi bersamanya."
Ia berguling dan menatap langit-langit kamar dengan mata berbinar. Di dadanya, ia mendekap erat sebuah sarung tangan putih yang sudah tampak usang dan berkerut—sebuah benda kenangan yang selalu ia simpan.
"Sekarang, aku punya alasan yang sah di mata hukum akademi."
Alasan yang ia butuhkan hanyalah sebuah "izin". Kamp pelatihan militer adalah acara yang akan membuat Arcus terikat dalam waktu lama. Bagi Eleonore, membiarkan Arcus jauh dari jangkauan matanya selama berminggu-minggu adalah siksaan yang tak tertahankan.
Awalnya ia sempat berpikir untuk "menyusup" atau memaksa pihak akademi agar ia bisa ikut, tapi sekarang... Arcus sendirilah yang mengundangnya masuk ke dunianya.
"Arcus... mungkin ini sedikit licik, tapi ronde ini aku yang menang."
Karena "permintaan" Arcus sebenarnya adalah keinginan terdalam Eleonore yang menjadi kenyataan. Dan ia masih memiliki satu jatah permintaan yang belum ia gunakan. Dalam situasi yang seperti mimpi ini, pikirannya mulai liar memikirkan skenario apa yang paling menyenangkan untuk dilakukan di kamp nanti.
"Fufufu..."
Ia mendekap sarung tangan putih itu semakin erat ke dadanya, seolah sedang memeluk pemiliknya. Ia menghirup aromanya, seolah mencoba mengunci keberadaan Arcus di dalam hatinya selamanya.
"Ah, benar juga."
Eleonore bergumam, teringat sesuatu. "Aku harus meminta Colette mencarikan informasi... tentang penginapan mana yang paling mewah dan tersembunyi di sekitar lokasi kamp nanti."
Senyum manis namun misterius kembali terukir di wajahnya. Liburan musim panas kali ini... sepertinya akan menjadi sangat panjang bagi Arcus.
0 Comments