Header Ads Widget

Episode 37: Cara Menaklukkan Eleonore


(Bagian: Ambisi Pedagang & Kisah Cinta Sang Bos Terakhir)

Keluarga Holden adalah garis keturunan pedagang kaya yang telah memperluas pengaruh mereka ke berbagai industri dan meraih kesuksesan finansial luar biasa dalam beberapa dekade terakhir. Berkat kontribusi ekonomi mereka yang masif dan upaya mereka memperluas jaringan aristokrat, mereka dianugerahi gelar Baron oleh Raja dua generasi yang lalu. Mereka adalah contoh murni dari keluarga bangsawan baru (Nouveau Riche).

Oleh karena itu, "ambisi" yang biasanya sudah mulai memudar di kalangan aristokrat lama, masih menyala terang di dalam diri mereka. Berbeda dengan gaya hidup konservatif, kaku, dan cepat puas yang sering terlihat di kalangan bangsawan tingkat atas seperti Count dan Marquis, keluarga Holden menolak terjebak dalam zona nyaman yang stagnan. Dengan kata lain, mereka masih sangat sibuk berupaya memperluas kekuasaan dan pengaruh.

Koneksi dengan bangsawan berpangkat tinggi dan hubungan kuat dengan individu yang berpotensi memegang kekuasaan besar di masa depan. Keluarga Holden berusaha memperoleh hal-hal tersebut dengan memanfaatkan modal finansial dan sumber daya manusia mereka secara maksimal. Sebagai keluarga berdarah pedagang, mereka jauh lebih memahami arti penting sebuah koneksi (jaringan) dibandingkan kaum bangsawan pada umumnya.

Tak dapat dihindari bahwa keluarga seambisius itu akan mengincar lingkungan Akademi Kerajaan Righticia, yang pada praktiknya merupakan gudang harta karun berupa koneksi emas. Ini adalah tempat di mana bibit-bibit menjanjikan—mulai dari pewaris bangsawan kelas atas hingga rakyat jelata jenius yang berpotensi meraih posisi tinggi—berkumpul menjadi satu. Karena latar tempatnya adalah akademi, tidak terlalu sulit untuk mencoba mendekati target. Ini adalah komunitas networking yang paling sempurna bagi mereka.

Itulah alasan utama mengapa Colette, putri sulung keluarga Holden, dikirim ke tempat ini. Gadis itu telah bertekad untuk mengikuti jejak bisnis keluarganya dan segera memperluas jaringan kenalannya.

Target pertama yang langsung menarik perhatiannya tentu saja putri pewaris dari keluarga Duke Unshineness, yang hari ini menonjol sebagai perwakilan mahasiswa terbaik. Meskipun saat ini gelar tertinggi Unshineness adalah Earl (Count), tidak akan mengejutkan jika keluarga itu naik pangkat menjadi Marquis atau bahkan Duke dalam waktu dekat. Para bangsawan kelas atas lainnya tentu tidak bisa lagi meremehkan mereka. Jika hal itu menjadi kenyataan, memiliki relasi yang baik dengan pewarisnya akan menjadi investasi jangka panjang yang tak ternilai.

Setelah mengambil keputusan tersebut, Colette segera melancarkan aksinya untuk menghubungi targetnya, dengan menggunakan segala taktik memenangkan hati klien yang telah ditanamkan keluarganya sejak kecil.

Namun, hasil dari taktik briliannya itu baru terlihat beberapa jam kemudian.

Sang putri bangsawan pedagang itu kini duduk dengan keringat dingin yang mengucur deras di dahinya. Colette bergidik mendengarkan Eleonore, sang Nona muda Unshineness, yang terus berbicara panjang lebar (baca: meracau) tanpa henti di sebelahnya.

Semuanya bermula ketika Colette iseng memancing obrolan dengan menyebutkan sosok pemuda yang menjadi lulusan terbaik di Divisi Ksatria. Karena insting pedagangnya sangat tajam dalam mengamati manusia, Colette langsung yakin bahwa pasti ada "hubungan spesial" antara pria itu dan Eleonore saat upacara tadi. Dan dari perubahan drastis pada reaksi Eleonore, Colette menyimpulkan bahwa pemuda bernama Arcus itu pastilah sosok yang sangat berharga bagi sang Nona muda.

Teori dasar Colette adalah: manusia, pada dasarnya, menyukai topik romansa. Hal ini sangat berlaku bagi gadis-gadis remaja seusia mereka. Bukan hal aneh menjadikan cerita romansa sebagai pancingan utama untuk memperdalam persahabatan wanita (Girls' Talk). Itu bisa menciptakan peluang koneksi yang lebih erat. Itulah yang direncanakan Colette, tapi...

"...Dan saat aku merasa sedih karena mengingat masa laluku yang kelam, Arcus akan diam-diam menemaniku tanpa bertanya... Bahkan saat aku dengan egois dan manja memintanya untuk terus berada di sisiku selamanya, dia hanya tersenyum lembut tanpa membantah dan mengelus kepalaku dengan tangan besarnya────!!"

"...Arcus itu sangat jenius dalam sihir dan ilmu pedang, tahu! Dia sangat kuat sampai bisa mengalahkan Komandan Ksatria militer kami dengan mudah... dan suatu kali, saat aku nyaris diserang monster di hutan, dia langsung menebasnya dalam sekejap... dan menoleh padaku sambil berbisik cemas, 'Nona, apa Anda terluka?' Kyaaa!"

"...Meskipun dia selalu terlihat keren dan tampan, Arcus aslinya punya sisi yang sangat imut dan ceroboh, lho! Pernah suatu malam kami belajar bersama sampai larut untuk ujian masuk ini... dan dia tertidur dengan kepala bersandar di bahuku... Lalu, di sela napas tidurnya, dia bergumam, 'Nona Eleonore...' Dia memimpikanku, Colette!! Kau percaya itu?!"

(Wah... ini... ini terlalu banyak informasinya, kan?!)

Ini tidak lagi bisa disebut sekadar 'berbagi kisah cinta'. Kemampuan Eleonore untuk bercerita dan memamerkan kebucinan-nya seolah tidak ada habisnya.

Sebagai seorang pedagang, Colette juga tergolong sangat cerewet. Ini berkat pelatihan teknik sales (penjualan) keluarganya, yang mengajarkannya cara membuat obrolan terus mengalir agar klien tidak bosan. Namun Eleonore ini... dia sama sekali tidak tahu kapan harus menginjak rem!

Pertama-tama, jumlah episode membanggakan tentang sang Testbreaker Arcus itu terlalu banyak! Setiap insiden diceritakan Eleonore secara mendetail, mencakup Tiga Elemen Utama (kapan, di mana, dan situasinya apa), membuat ingatan itu terdengar mengerikan akuratnya. Bahkan insiden-insiden yang terdengar mustahil atau terlalu mirip plot novel murahan—seperti kekuatan manusia super sang ksatria pelayan—jadi terdengar sangat nyata jika dia yang menceritakannya.

(Sungguh memikat dan mendominasi obrolan... Siapa sebenarnya pria bernama Arcus ini...??) Colette tidak diberi sedikit pun celah untuk menyela. Pikirannya hanya dipenuhi pusing dan kebingungan soal sosok manusia sempurna bernama Arcus ini.

"...Ah, astaga. Maafkan aku, Colette. Aku tidak bermaksud mendominasi percakapan. Aku jadi sedikit terbawa suasana," ucap Eleonore dengan wajah merona, seolah baru sadar.

"...T-tidak, tidak masalah. Sama sekali tidak! D-dia benar-benar pria yang... luar biasa, ya..." (Itu jauh lebih dari sekadar 'sedikit' terbawa suasana!!) batin Colette berteriak histeris, sambil memaksakan senyum ramahnya. Senyum profesional yang aslinya jarang harus ia paksakan sekaku ini.

"Hehe, kau benar sekali. Arcus itu sangat kuat... baik hati... dan luar biasa keren." Namun, Eleonore tampaknya sama sekali tidak menyadari kepanikan lawan bicaranya. Sambil menangkupkan kedua tangan ke pipinya, ia mendesah panjang dengan tatapan mata penuh damba.

"Ah, aaaah... Mendengar cerita betapa sempurna priamu itu malah membuatku jadi merasa iri," celetuk Colette, berusaha mencari celah untuk mengubah topik pembicaraan sebelum rentetan episode bucin sesi kedua dimulai. Siapa pun yang mendengarkan ini lebih lama lagi pasti akan terkena diabetes atau bahkan mag akut.

...Namun, celetukan santainya itu adalah kesalahan yang sangat fatal.

"...Apa maksud ucapanmu barusan? Kau... menjadikan Arcus sebagai target incaranmu?" Suara yang begitu menusuk dan luar biasa dingin tiba-tiba meluncur pelan dari bibir Eleonore.

Rambut-rambut halus di tengkuk Colette, yang biasanya selalu kebal tekanan, langsung berdiri tegak merespons bahaya. Keringat sedingin es menetes, dan tekanan bloodlust yang tak terlukiskan seolah mencengkeram erat paru-parunya.

"Eh—T-tidak, bukan begitu! Bukan, bukan! I-itu mustahil! Seseorang sepertiku... s-statusku sama sekali tidak sebanding dengannya. I-itu tidak mungkin terjadi. Benar, kan?!" Colette merangkai kata dengan panik, berusaha menutupi kesalahpahaman itu.

Namun, semua upayanya terdengar berantakan dan hanya memperlihatkan keputusasaan untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Tatapan tajam nan gelap Eleonore sama sekali tidak melembut.

"Lagipula... lagipula... setelah aku mendengarkan seluruh ceritamu tadi...!" "Bagaimana jika mendengarnya malah membuatmu semakin menginginkannya?" desis Eleonore, mencondongkan tubuhnya semakin dekat hingga auranya mencekik leher Colette.

Persis seperti pria gemuk bodoh di ruang kelas tadi, Colette merasa seolah pasokan oksigennya diputus. Napasnya mulai tersengal-sengal lemah. Namun, meski dilanda teror absolut, putri pedagang ini berhasil menemukan seutas akal sehatnya. Tanpa memudarkan senyum paksanya, ia berteriak dalam satu tarikan napas:

"...KARENA MENURUTKU KAU DAN DIA ADALAH PASANGAN PALING SERASI YANG PERNAH ADA!!"

Colette memejamkan matanya rapat-rapat, memohon pada dewi keberuntungan agar kalimat itu tepat sasaran. ... ... Tiba-tiba, tekanan mematikan dan udara dingin di sekitarnya lenyap seketika. Sebuah jeda kosong tercipta, diikuti keheningan yang sedikit canggung.

Ketika Colette dengan hati-hati membuka sebelah matanya untuk melihat apa yang sedang terjadi, ia melihat Eleonore yang kini... berwajah semerah tomat rebus.

"M-menurutmu begitu...? Apa kami benar-benar... terlihat cocok bersama? Aku dan Arcus...?" "Y-YA!! BENAR SEKALI!! Aku tidak bisa membayangkan ada wanita lain yang pantas bersanding dengannya selain dirimu! Kalian berdua seperti takdir yang disatukan langit! Sangat serasi!!" "A-apakah itu... apakah takdir kami memang terlihat sejelas itu di mata orang lain...?" "WAH! JELAS SEKALI! Kalian berdua benar-benar dua jiwa yang ditakdirkan bersama oleh para Dewa pencipta dunia ini!!"

Colette, yang beberapa detik lalu nyaris pingsan ketakutan, kini melontarkan rentetan pujian dengan kecepatan kilat layaknya sedang berjualan. Insting bertahannya menyala; ia tahu bahwa menyanjung hubungan mereka berdua adalah satu-satunya tiket keselamatannya.

"...Hehe, fufufu. Oh, ya ampun, benarkah? Apa kami... benar-benar terlihat seserasi itu?" Dengan senyum lebar yang terlihat sepenuhnya rileks dan berbunga-bunga, Eleonore dengan malu-malu merapikan rambut panjangnya yang selembut sutra ke belakang telinga menggunakan kedua tangannya.

Aura mengerikan Final Boss yang tadi seolah mampu membunuh serangga hanya lewat tekanan udara... kini telah menguap tanpa sisa, digantikan oleh tingkah tersipu-sipu khas seorang gadis remaja yang sedang kasmaran berat.

(Ahhhhhh... YA AMPUN! Aku hampir mati!!) Melihat perubahan ekstrem itu, Colette membuang napas panjang yang mengandung ribuan makna. Tentu saja, yang paling dominan adalah rasa syukur tak terhingga karena telah lolos dari ancaman pembunuhan.

Rasa takutnya menguap, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa.

(...Tapi, tunggu dulu. Bukankah artinya, selama aku setuju dan mendukung hubungannya dengan pemuda bernama Arcus ini, aku bisa membangun aliansi yang sangat kuat dengannya?) Di tengah kelelahannya, otak dagang Colette kembali bekerja cerdas, menganalisis pola interaksinya dengan sang Nona Duke.

Pola aturannya ternyata sangat sederhana: Eleonore Unshineness sangat terobsesi pada pria bernama Arcus. Selama kau tidak mencoba mendekati pria itu secara romantis atau menginjak ranjau darat dengan menjelek-jelekkannya, maka tidak akan ada konflik apa pun. Kau bahkan bisa mengendalikan mood-nya dengan sangat mudah.

Meski baru saja dihadapkan pada emosi gelap paling menakutkan dalam hidupnya, Colette dengan berani mencapai kesimpulan pragmatis tersebut.

"...Tapi sayang sekali, kami tidak bisa banyak menghabiskan waktu bersama karena dia mengambil Divisi Ksatria," gumam Eleonore tiba-tiba, nada suaranya berubah melankolis dan murung. "Kudengar kurikulum di sana sangat padat dan ketat... Sedih rasanya tidak bisa berada di sisinya setiap saat meski kami ada di tempat yang sama..."

Eleonore menundukkan kepalanya, terlihat benar-benar sedih. Meskipun Divisi Ksatria dan Divisi Bangsawan berada di dalam kompleks lahan yang sama, situasi di mana siswa dari kedua departemen ini bisa bebas berinteraksi sangatlah jarang terjadi. Jika dibiarkan, mereka bisa jadi akan menjalani sisa tahun ajaran nyaris tanpa interaksi rutin sama sekali. Bagi Eleonore yang luar biasa posesif, ini adalah penderitaan terbesar.

(...Tunggu. Bukankah ini sebuah peluang emas?!) Colette tersenyum licik di dalam hati. Ia membatin, "Aku bisa memanfaatkannya!"

"Kalau itu masalahnya, tenang saja! Aku bisa memberitahumu sebuah cara yang dijamin bisa membuat kalian berdua menghabiskan waktu lebih banyak bersama secara legal!" "!? Memangnya... ada cara seperti itu?" Eleonore mendongak cepat, matanya berbinar penuh harap. "Tentu saja ada! Caranya adalah..."

……… ... ...

Di tempat lain, di area asrama akademi.

"HEI!! GAWAT!! INI GAWAT BANGET!!" Seorang siswa berlari tergopoh-gopoh dari kejauhan sambil berteriak histeris, menarik perhatian banyak orang di sekitar asrama.

Beberapa siswa yang sedang berkumpul di lorong langsung mengerumuninya, "Ada apa? Apa yang terjadi?!" "Iya, kenapa kau panik begitu?" "Bukan, serius! Kelas Ksatria lagi rusuh besar!!" "Kelas Ksatria?" "Iya, ah, pokoknya..."

Siswa itu menenangkan napasnya yang memburu sejenak, menelan ludah yang menumpuk di tenggorokannya, lalu berteriak:

"Kabarnya, Siswa Peringkat Terbaik dan Si Mantan Seeker Peringkat-A itu mau berduel habis-habisan di belakang asrama!!"

Di tempat yang tak jauh dari kerumunan itu, Eleonore yang baru saja lewat mendengarnya. "...Arcus?!" Wajah Eleonore memucat pasi, dan ia memekik dengan suara gemetar.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter

Post a Comment

0 Comments