Header Ads Widget

Episode 36: Bangsawan Pedagang Melihat dengan Jelas

 


(Bagian: Strategi Colette)

"Baiklah, sekian kelas perkenalan kita hari ini. Kalian mungkin masih lelah beradaptasi di lingkungan yang baru, jadi gunakan waktu luang kalian untuk beristirahat dan mempersiapkan diri menghadapi pelajaran esok hari."

Guru wali kelas yang sudah sepuh itu mengumumkan berakhirnya jam pelajaran.

Ketegangan di ruang kelas perlahan menguap. Setelah melalui sesi perkenalan diri, pembentukan komite, dan mendengarkan berbagai informasi menarik tentang kehidupan akademi, rasa canggung dan tekanan yang sebelumnya menyelimuti para siswa baru perlahan menghilang. Sikap ramah dan lembut dari guru wali kelas yang sudah lanjut usia itu tampaknya ikut andil besar. Karena ia berinteraksi dengan nada keibuan alih-alih kaku, suasana kelas menjadi jauh lebih harmonis.

Berkat itu, aura mengerikan yang sempat dipancarkan Eleonore perlahan memudar dari ingatan sebagian besar siswa. Namun, tentu saja pengecualian berlaku bagi pria yang menjadi target langsung amarahnya. Selama kurang lebih satu jam pelajaran, pria bernama Doggy itu duduk kaku dengan wajah sepucat mayat. Begitu guru membubarkan kelas, ia langsung melesat keluar ruangan seolah sedang lari dari kejaran malaikat maut.

Namun, tak ada satu pun siswa di kelas yang memedulikannya. Semua orang asyik mengobrol untuk mempererat hubungan dengan teman-teman baru mereka. Eleonore sendiri bahkan tampaknya sudah menghapus eksistensi pria itu dari ingatannya sama sekali.

"Apa yang akan kau lakukan setelah ini, Nona Unshineness?" Colette, yang duduk di sebelahnya, mengajukan pertanyaan itu sambil mengemasi barang-barangnya ke dalam tas.

"...Aku ada urusan setelah ini." "Begitu, ya... Apa urusannya masih lama?" "Yah... entahlah. Aku ada janji bertemu dengan seseorang."

Mendengar jawaban Eleonore, Colette menundukkan pandangannya sejenak, tampak berpikir keras. Tatapannya seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu, tetapi tak lama kemudian ia mengangkat wajahnya dan berkata dengan nada riang.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita jalan bareng ke tempat pertemuanmu?" Gadis itu tersenyum lebar sambil mengangkat jari telunjuknya.

Namun, Eleonore justru mengerutkan kening. Ia merasa curiga melihat sikap gadis di sebelahnya ini yang tampak terlalu kepo dan memperhatikannya.

"Ah, maaf! Aku tahu tawaranku tadi terdengar agak mencurigakan. Tapi mumpung kita sudah berkenalan, aku cuma ingin mengobrol lebih banyak denganmu." Colette buru-buru melambaikan tangannya dengan panik untuk menutupi kecanggungannya.

Meski begitu, kewaspadaan Eleonore tidak serta-merta luntur. "Kurasa kau tidak akan menikmati obrolan denganku. Aku ini orang yang membosankan."

"Itu sama sekali tidak benar!! Kau merendah terlalu jauh!" Colette merespons dengan sedikit hiperbolis, tapi ia tidak terlihat sedang menjilat atau memaksakan diri untuk mencairkan suasana. Eleonore entah bagaimana bisa merasakan ketulusan di balik bantahan gadis itu.

"...Oh, tapi tidak apa-apa kok kalau kau keberatan! Maksudku, aku memang lancang karena mencampuri urusan orang lain." Colette tiba-tiba mundur selangkah dan tertawa canggung. Apakah sikap penuh permintaan maaf ini murni sifat asli gadis bernama Colette, ataukah ini strategi tarik-ulur yang disengaja?

"...Baiklah. Jika kau memang memaksa, Holden." "Benarkah?! Yay! Aku merasa sangat terhormat!" Colette langsung bertepuk tangan dan tersenyum sangat lebar.

Gadis itu memancarkan aura cerah yang entah bagaimana bisa menular dan membuat orang lain ikut tersenyum. Dan meskipun Eleonore tidak ikut tersenyum, dinding pertahanannya perlahan mulai runtuh.

"Oh ya, panggil saja aku Colette. Aku tidak terlalu suka dipanggil dengan nama Holden." "Begitu, ya? ...Kalau begitu, Colette. Ayo kita pergi sekarang." "Hehe. Mohon bantuannya ya, Eleonore!"

Setelah pertukaran singkat itu, kedua gadis tersebut melangkah keluar meninggalkan ruang kelas.


"Omong-omong, kudengar guru sihir tadi bilang..." "Benarkah." "Katanya akademi ini rutin mengadakan kompetisi berkuda menjelang akhir musim dingin..." "---Kedengarannya menarik." "Oh, kudengar parfum yang terbuat dari ekstrak monster sedang sangat populer di kalangan para Seeker akhir-akhir ini..." "---Begitu, ya."

Interaksi itu sama sekali tidak bisa disebut sebagai percakapan dua arah. Colette terus menembakkan topik pembicaraan bertubi-tubi layaknya senapan mesin, sementara Eleonore mencegat setiap peluru itu dengan jawaban pendek satu kata layaknya dinding bungker.

Mengingat kepribadian Eleonore yang dingin pada orang asing, tidak mengherankan jika suasananya menjadi searah seperti ini. Namun anehnya, Colette sama sekali tidak terlihat menyerah atau terganggu.

"Oh, benar juga. Seperti yang kubilang di kelas tadi, pidatomu benar-benar luar biasa, lho!" "Terima kasih."

Tanpa gentar sedikit pun, Colette melompat ke topik baru. Dan jawaban yang ia terima tetap sama: singkat, padat, dan tanpa niat untuk memperpanjang obrolan.

Tetapi, kalimat Colette selanjutnya mengubah segalanya.

"Saat melihatmu berpidato, aku langsung berpikir, 'Ah, dia memang pantas jadi siswa terbaik.' Dan omong-omong... cowok yang berdiri di sebelahmu tadi... Perwakilan dari Kelas Ksatria itu, dia juga luar biasa, ya."

Seketika, langkah Eleonore terhenti. Colette pun ikut menghentikan langkahnya, diam-diam menikmati reaksi yang sama sekali berbeda dari rentetan jawaban sedingin es sebelumnya.

"...Dia... katamu?" Eleonore menundukkan pandangannya, suaranya tiba-tiba merendah.

Colette menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. Senyum puas yang mungkin tidak akan disadari oleh siapa pun. Senyum layaknya seorang penembak jitu yang pelurunya akhirnya mengenai tepat di titik kelemahan sasaran, setelah sebelumnya membuang seratus tembakan kosong... Tidak ada niat merendahkan di baliknya, hanya ada rasa lega bercampur "Kena kau!"

"Iya. Postur tubuhnya, sikap tenangnya, dan aura berwibawa dari suaranya... Benar-benar tipe orang yang pantas jadi ksatria pelindung, kan?" pancing Colette. "Begitu... Kau berpikir begitu?"

"Tidakkah kau merasa dia punya pesona keberanian yang memikat? Dia terlihat sangat dewasa untuk ukuran cowok seumurannya. Kalau cowok seperti itu tiba-tiba datang menyelamatkanmu dari bahaya di situasi krisis, hati gadis mana pun pasti akan berdebar, kan...?"

Eleonore tanpa sadar mengangguk setuju mendengar rentetan pujian Colette. Rona merah menjalar di kedua pipinya. Ia tampak malu, namun di saat yang sama, ekspresinya memancarkan kebanggaan yang luar biasa, seolah dialah yang sedang dipuji.

Melihat perubahan emosi yang begitu drastis dan transparan dari Nona Duke yang tadinya sedingin es itu, sang putri pedagang pun semakin yakin dengan tebakannya.

"Hei, orang yang akan kau temui di air mancur itu... cowok Ksatria itu, kan?" Colette tersenyum penuh kemenangan.

"...APA?!"

Setelah hening beberapa detik yang mematikan, Eleonore memekik kaget. Bisa dibilang, itu adalah suara paling emosional dan paling keras yang dikeluarkannya sepanjang hari ini.

"Kau kelihatan panik, tapi tebakanku sangat masuk akal, lho. Saat berpidato di atas panggung tadi, posisi berdirimu dengannya jauh lebih dekat dari jarak normal dua orang asing. Dan... kau langsung mengamuk dengan sangat mengerikan pada si Doggy gendut itu saat dia mencoba menjelek-jelekkan pria itu, kan?" Colette menguraikan deduksinya sambil mengibaskan tangan dengan santai.

"Ah... Yah... mau bagaimana lagi. ...Aku sama sekali tidak bisa memaafkan siapa pun yang berani merendahkannya." Eleonore menjawab dengan suara yang sedikit tersendat karena malu, namun ada tekad absolut dalam nada bicaranya.

"Kyaa! Kalian ada hubungan apa? Bagaimana kalian pertama kali bertemu? Sejak umur berapa kalian berpacaran? Ayo, ceritakan padaku! Aku sangaaaat suka kisah romantis!"

Colette yang rasa penasarannya sudah meledak, langsung memberondong Eleonore dengan rentetan pertanyaan, tak menyisakan celah untuk kabur.

Menghadapi gempuran itu, mata Eleonore berputar panik dan wajah cantiknya kini semerah tomat matang. Bukankah menanyakan pertanyaan sedetail ini tentang hubungan asmara orang lain itu sangat tidak sopan? Aku tidak punya kewajiban untuk menceritakannya!

Secara logika, Eleonore seharusnya berpikir begitu. Bahkan, sebagian dari dirinya memang berniat menolak dengan angkuh. ...Tetapi.

"A-aku... aku sudah mengenalnya... Arcus, sejak kami berusia tujuh tahun..."

Alih-alih menolak, Eleonore justru mulai bercerita dengan malu-malu namun penuh antusiasme. Faktanya, di balik aura bos terakhirnya yang mengerikan... Eleonore Unshineness adalah tipe gadis remaja yang tidak akan pernah bisa menahan diri untuk membanggakan pria yang sangat dicintainya kepada dunia.


Previous Chapter | LIST | Next Chapter

Post a Comment

0 Comments