(Bagian: Tirani Sang Nona Muda)
Sebuah ruang kelas di Gedung Bangsawan Akademi Kerajaan Righticia. Ruangan mewah tempat para mahasiswa baru aristokrat berkumpul.
Biasanya, di hari pertama sekolah, suasana hening yang tercipta murni berasal dari rasa canggung dan tegang karena berada di lingkungan baru bersama orang-orang asing. Namun, di kelas khusus ini, keheningan yang turun terasa jauh lebih berat dan terjadi karena alasan yang sama sekali berbeda.
Di sudut ruangan itu, duduk seorang siswi baru yang memancarkan aura tak tersentuh.
"…Cantik sekali." Gumam itu lolos begitu saja dari mulut salah satu siswa, mewakili isi kepala semua orang di sana.
Kecantikannya bagaikan burung bangau putih yang hinggap di hamparan awan. Sempurna, memukau, dan tak tertandingi. Seolah-olah semua kata dalam kamus yang diciptakan untuk menggambarkan keindahan dunia... lahir semata-mata hanya untuk mendeskripsikan gadis itu—Eleonore Unshineness.
Setiap orang yang hadir di kelas itu meyakini hal tersebut.
"..."
Meskipun dikelilingi oleh tatapan intens dari segala penjuru, Eleonore tidak menunjukkan tanda-tanda risih atau gugup. Ia duduk dengan mata terpejam anggun, posturnya menunjukkan ia sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Penampilannya begitu halus dan tak bercela, membuatnya tampak seperti patung mahakarya seorang seniman legendaris. Sinar matahari yang masuk melalui jendela diserap oleh rambut panjangnya yang hitam pekat dan berkilau. Mungkin karena kombinasi itulah, ia memancarkan aura magis yang membuatnya tampak hampir seperti dewi yang turun dari langit.
Namun, keheningan mencekam di kelas ini tidak hanya disebabkan oleh "kecantikannya" semata.
"Halo." Suara ringan seorang gadis memecah kesunyian ruangan. Semua orang yang hadir seketika menahan napas, bertanya-tanya siapa orang bodoh yang berani mengusik ketenangan tersebut.
"Kau Nona Unshineness, kan?"
Eleonore perlahan membuka matanya yang sekelam permata obsidian, lalu mengarahkan pandangannya pada sumber suara. Di sana, berdiri seorang gadis berambut cokelat dengan sepasang mata berwarna oranye terang. Penampilannya sangat biasa. Gadis itu memancarkan kepolosan dan kesederhanaan khas orang dari wilayah pedesaan. Dalam arti tertentu, dia adalah kebalikan total dari sosok Eleonore yang elegan.
"...Ya, benar." "Syukurlah, tebakanku tidak salah. Namaku Colette Holden. Salam kenal, ya!" Gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Colette itu tersenyum lebar tanpa beban.
Sebagian besar bangsawan di kelas itu menatap Colette dengan tatapan kasihan bercampur tak percaya. Mereka membatin, "Apa yang sedang dilakukan gadis udik ini...?" Nama keluarga 'Holden' jelas bukan nama bangsawan besar yang pernah mereka dengar. Namun, gadis itu dengan santainya mencoba memulai percakapan akrab dengan pewaris keluarga Duke Unshineness.
Saat dihadapkan pada aura luar biasa dan tak tergoyahkan yang dipancarkan Eleonore, semua orang berasumsi bahwa gadis kampung itu akan langsung diabaikan atau direndahkan.
Oleh karena itu, reaksi Eleonore selanjutnya benar-benar mematahkan ekspektasi mereka.
"Holden... Jadi, kau berasal dari keluarga bangsawan pedagang itu, ya?" balas Eleonore pelan. "Eh? Kau tahu keluargaku? Padahal kami tidak terlalu terkenal, lho." "Ya, aku pernah membacanya sedikit. Salam kenal juga, Colette. Kuharap kita bisa berteman baik."
Dengan senyum tipis yang ramah, Eleonore mengulurkan tangan putihnya. Colette tampak sedikit terkejut, namun dengan cepat membalas jabatan tangan itu dengan ceria.
...Para siswa baru yang menyaksikan interaksi itu hanya bisa bergumam tak percaya dalam hati. Mungkin karena pemandangan itu terasa begitu surealis, seolah-olah subjek agung dalam sebuah lukisan sakral tiba-tiba hidup dan tersenyum. Atau mungkin, rasanya seperti melihat seekor naga buas yang jalan pikirannya tak bisa ditebak, mendadak menunjukkan sikap ramah pada seekor kelinci.
Sejak upacara penerimaan, para siswa baru sudah mulai menyadari betapa "menakutkannya" eksistensi Eleonore. Sebagian dari mereka mengartikan ketakutan itu sebagai bentuk kekaguman akan bakat absolutnya. Siapa pun yang melihat ujian masuknya tahu bahwa Eleonore mendominasi secara mutlak di setiap mata pelajaran praktik: sihir, berkuda, hingga etiket.
Namun, sebagian siswa lainnya... khususnya mereka yang cukup peka selama Upacara Penerimaan tadi, merasakan jenis ketakutan yang berbeda. Ketakutan primal yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aura bloodlust (niat membunuh) yang samar namun menyesakkan.
Saat Eleonore berdiri di atas podium sebagai lulusan terbaik, orang-orang yang peka bisa merasakan hawa dingin yang tidak wajar menguar dari senyum tenangnya. Oleh karena itu, sebagian besar bangsawan di ruangan ini memendam keraguan dan insting untuk menjaga jarak dari sang Nona muda.
"Habisnya, sejak pertama kali aku melihatmu tadi, aku langsung ingin berteman denganmu," ucap Colette polos. "Oh, benarkah? Apa alasanmu?" "Yah, karena... jarang sekali kan kita bisa melihat orang secantik dirimu dari dekat?"
"Hehe, kau melebih-lebihkan. Di akademi elit ini, ada banyak sekali orang yang jauh lebih cantik dariku," balas Eleonore merendah seraya melambaikan tangannya dengan anggun. Mendengar jawaban elegan itu, teman-teman sekelas yang sejak tadi hanya menjadi penonton mulai mengubah persepsi mereka.
...Ternyata dia sangat ramah dan mudah didekati? Mungkin dia bukan bangsawan arogan atau orang yang kaku seperti rumor yang beredar. Kewaspadaan dan ketakutan yang sempat menyelimuti ruangan itu pun berangsur-angsur memudar.
Sayangnya, karena perubahan persepsi itulah, seseorang melakukan kesalahan penilaian yang sangat fatal.
"Tentu saja tidak ada yang bisa menandingi Nona! Bahkan saat Anda berpidato barusan, Nona memancarkan aura karismatik yang begitu absolut..." "Ah, iya! Itu benar sekali!!"
Sembari memotong ucapan Colette, suara melengking seorang pria menyela percakapan mereka.
"Mohon maaf atas kelancangan saya. Perkenalkan, nama saya Doggy Kamikamu. Saya sangat terkesima dengan penampilan luar biasa Nona Eleonore di upacara penerimaan tadi."
Mengabaikan ekspresi kesal Colette yang ucapannya dipotong, pria bernama Doggy itu menatap Eleonore dengan mata berbinar-binar dan memperkenalkan dirinya. Ia memasang senyum menjilat di wajahnya—tipikal senyum licik milik pedagang korup—sambil menangkupkan kedua tangannya di dada. Secara keseluruhan, pria itu memberikan kesan penjilat yang sangat mencurigakan.
"Segala sesuatu tentang Nona—sikap Nona, tarikan napas Nona, suara Nona, hingga gerak-gerik Nona—benar-benar persis seperti bidadari surgawi yang turun ke bumi!" "...Begitu, ya. Terima kasih banyak atas pujiannya."
Meski dihujani pujian bertubi-tubi yang hiperbolis, ekspresi Eleonore tidak menunjukkan setitik pun rasa senang. Sebaliknya, sorot matanya justru semakin dingin.
"Ya! Benar-benar luar biasa! Pidato Nona sangat megah dan berkelas, jauh, JAUH melampaui pidato kampungan milik siswa jelata dari Divisi Ksatria yang berdiri di sebelah Nona tadi—"
Merasa pujiannya kurang ditanggapi, Doggy mencoba menjilat lebih keras dengan cara merendahkan orang lain. Namun, tepat pada detik itu... Suhu di seluruh ruangan kelas anjlok ke titik beku.
"...Apa yang baru saja kau katakan?"
Sebuah bayangan hitam pekat mulai berputar dan merayap di sekitar kaki Eleonore. Rambut hitamnya yang berkilau seolah melayang di udara tanpa angin. Energi magis gelap dan sangat menyeramkan memancar keluar dari tubuhnya, seakan siap menelan siapa pun hidup-hidup.
Ketegangan yang tak terlukiskan mencekik leher semua orang di ruangan itu. Aura intimidasi yang begitu absolut dan mencekam mendominasi kelas, membuat udara terasa kental hingga bernapas pun menjadi sulit.
"I-itu adalah pidato yang s-sangat luar biasa..." Doggy tergagap, wajahnya sepucat mayat. "Bukan itu. Kalimat setelahnya." "B-bahwa... pidato Nona tak tertandingi... d-dan rakyat jelata dari kelas Ksatria itu tidak ada apa-apanya d-dibandingkan Nona..."
"...Haaaah." Helaan napas Eleonore yang dingin membuat tubuh pria bernama Doggy itu membeku kaku di tempat.
Suara napas dan detak jantung panik Doggy terdengar sangat keras di ruangan yang mendadak sunyi senyap itu. Keringat dingin mengucur deras membasahi dahinya yang lebar.
"Apakah kau... baru saja merendahkannya?" "T-tidak, s-saya tidak bermaksud—"
"Tadi kau menyebutnya 'siswa jelata dari kelas Ksatria', bukan? Bukankah itu bukti nyata bahwa kau sedang bersikap diskriminatif padanya?"
Tatapan mata Eleonore menajam, menusuk langsung ke jiwa pria itu bak bilah es.
"Di akademi ini, status sosial bukanlah penentu nilai seseorang. Jadi, kusarankan kau segera membuang jauh-jauh cara berpikir kampunganmu itu. Lagipula, berani-beraninya kau menghina pemuda sehebat dia di hadapanku?"
Nada bicaranya sangat tenang dan tertata, sama sekali tidak ada teriakan emosional. Namun, justru ketenangan itulah yang menjadi kedok paling mengerikan; karena semua orang bisa merasakan bahwa di balik wajah tenang itu, tersimpan amarah gelap yang siap meledak dan membantai.
"...S-saya... saya mohon maaf yang sebesar-besarnya." Doggy gemetar tak terkendali. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, tubuhnya nyaris ambruk ke lantai karena teror mental.
"Jika kau ingin meminta maaf, jangan minta maaf padaku. Sujud dan minta maaflah padanya... dan juga kepada seluruh rakyat jelata dan Kepala Sekolah akademi ini." Eleonore menolak permintaan maaf itu mentah-mentah dengan tatapan jijik, seolah sedang menatap serangga kotor.
Dengan keringat yang membanjiri seluruh tubuhnya, Doggy memekik pelan dan langsung lari terbirit-birit keluar dari ruang kelas.
Di belakangnya, Eleonore kembali memasang ekspresi acuh tak acuh, seolah tak terjadi apa-apa. Sementara itu, teman-teman sekelas lainnya hanya bisa duduk merinding ketakutan. Keheningan jenis baru—keheningan karena teror absolut—kini menyelimuti ruangan.
"...Ehm, jadi begitulah. Tadi memang kedengarannya aku membandingkan kalian berdua, tapi aku sama sekali tidak bermaksud merendahkan perwakilan Ksatria itu seperti pria tadi, oke? Menurutku kalian berdua sama-sama luar biasa hebat!" Colette dengan panik mencoba mengklarifikasi ucapannya sebelumnya, takut bernasib sama.
"...Hehe. Benarkah? Yah, sejujurnya, menurutku dia itu jauh, jauh lebih hebat dan lebih unggul daripadaku," balas Eleonore dengan senyum yang sangat manis dan tulus.
Senyum itu jelas tidak menyimpan kemarahan apa pun. ...Namun, bagi siapa pun yang baru saja menyaksikan teror barusan, senyum manis itu justru memancarkan aura obsesi posesif yang mengerikan.
Sejak hari itu, muncul sebuah aturan tak tertulis dan kesepakatan mutlak di antara seluruh siswa Divisi Bangsawan:
"Jangan pernah, dalam keadaan apa pun, mengucapkan hal buruk tentang Lulusan Terbaik Kelas Ksatria di hadapan Nona Eleonore Unshineness!"
0 Comments