(Bagian: Ujian Ksatria Gabungan)
"Sekarang kita akan memulai ujian ksatria gabungan antara Regu 8 dan Regu 27."
Akhirnya, waktunya telah tiba. Di sebuah arena yang dipenuhi pagar kayu, bangunan-bangunan rapuh mirip gubuk, dan tong-tong kayu yang berserakan, aku, Emma, dan Elette berdiri berdampingan.
Ini adalah medan simulasi yang dirancang khusus untuk peperangan perkotaan. Lokasi pertempuran untuk ujian ini ditentukan secara acak. Tujuannya adalah untuk melihat seberapa cepat peserta bisa beradaptasi dengan lingkungan tempur yang mendadak. Proses pencocokan lawannya pun diundi secara acak dari seluruh grup yang ada. Kau tak akan tahu siapa lawanmu sampai detik-detik terakhir.
Dan ternyata, lawan kami adalah Grup 27.
Salah satu anggotanya adalah seorang pemuda berambut merah. Fisiknya sangat berotot, benar-benar mencerminkan tipikal petarung jarak dekat. Di sebelahnya, berdiri seorang pemuda berambut biru dengan kaki dan tangan yang kurus. Namun, tatapannya yang seolah menelanjangi kelemahan lawan itu adalah ciri khas seseorang yang terbiasa menganalisis pertempuran. Dia mungkin tipe petarung gesit atau pencuri yang mengandalkan serangan kejutan. Anggota terakhir adalah seorang pemuda—atau lebih tepatnya, bocah laki-laki berambut pirang. Sepintas tak ada yang menonjol dari perawakannya, tapi ada satu hal yang langsung menarik perhatianku.
Mata kirinya memiliki pupil vertikal yang menyempit dan tajam layaknya mata binatang buas. Itu pasti Demon Eye (Mata Iblis).
Dalam dunia sihir Celestia, ini merujuk pada mutasi langka sejak lahir yang memungkinkan pemiliknya melancarkan efek magis hanya melalui tatapan. Ada beberapa karakter dalam gim yang memiliki item atau kemampuan serupa, tapi ini pertama kalinya aku berhadapan langsung dengan pemilik asli Mata Iblis di dunia ini. Hal paling merepotkan dari Mata Iblis adalah kau tidak bisa menebak efeknya hanya dari melihat. Kau tak akan tahu kemampuannya sampai dia benar-benar menggunakannya.
...Aku harus sangat berhati-hati.
"Sihir dan ilmu pedang dapat digunakan tanpa batasan. Namun, setiap pelanggaran terhadap aturan keselamatan yang telah dijelaskan saat briefing akan mengakibatkan diskualifikasi seketika dan hukuman berat. Syarat kemenangan adalah: melumpuhkan seluruh anggota tim lawan, melempar mereka keluar dari arena, atau memaksa mereka menyerah. Keputusan lumpuh akan ditentukan murni oleh penilaian objektif penguji."
Pengawas ujian membacakan aturannya. Penjelasannya memang panjang dan membosankan, tapi intinya sederhana: Bertarunglah. Hajar lawan kalian sampai babak belur atau sampai mereka menangis minta ampun. Itu saja.
"Demikian penjelasan dari kami. Semua peserta—"
Akhirnya dimulai. Aku melirik dua gadis di sebelahku. Emma sepertinya menyadari tatapanku; dia mengangguk mantap sambil memamerkan senyum lebarnya. Sebaliknya, Elette tampak sangat gugup, tubuhnya kaku dan bibirnya terus menggumamkan sesuatu pada dirinya sendiri. Yah, selama semuanya berjalan sesuai rencana yang kususun, seharusnya tidak ada masalah.
"───Mulai!"
Ujian resmi dimulai.
Elette langsung melesat ke barisan depan, dan aku mengikutinya selangkah di belakang. Emma mengambil posisi di retret, membentuk formasi standar: garis depan (Elette), lini tengah (aku), dan lini belakang (Emma).
Di seberang, musuh merespons dengan maju serentak menggunakan formasi ganda merah dan biru. Si bocah pirang tampaknya mengambil peran support dari belakang.
"Kegelapan yang pekat..." Elette merapal mantra, dan tangan kirinya melepaskan jurang kegelapan, sementara pedangnya berbenturan keras dengan pedang besar si Merah.
Si Biru tampak sibuk menghindari rentetan sihir kegelapan itu. Keistimewaan utama sihir elemen Kegelapan adalah kemampuannya untuk merampas penglihatan lawan sekaligus menguras energi magis mereka secara perlahan. Meskipun punya kelemahan jika dipakai sebagai satu-satunya senjata utama, sihir ini sangat mematikan jika dijadikan support untuk tipe petarung gesit sepertinya.
Yang cukup mengejutkan adalah, meski tubuh Elette terbilang mungil, dia sanggup menahan gempuran fisik dari si Merah yang bertubuh raksasa. Dia memang bilang dia percaya diri dengan kemampuan berpedangnya. Sepertinya di balik sifat pemalunya, keterampilannya bukanlah isapan jempol belaka.
"Hei, Zack, jangan gegabah! Ada si 'Testbreaker' di belakangnya!" seru si Biru dari kejauhan. "URAAAAA!!"
Sama sekali mengabaikan peringatan rekannya, si Merah—Zack—justru melancarkan serangan membabi-buta ke arah Elette sambil menerjang kabut kegelapan.
...Jadi, sepertinya julukan 'Testbreaker' itu benar-benar sudah melekat padaku, ya. Aku tidak tahu harus bangga atau malu, tapi... ya sudahlah. Begitu si Merah masuk terlalu dalam ke wilayah kami, situasinya berbalik menjadi 3 lawan 1.
"[Wind Arrow]!" (Panah Angin!) "Api!"
Saat aku menembakkan panah angin, Emma menyambarnya dengan sihir api dari belakang, menciptakan kombinasi Panah Api yang melesat cepat. Ini adalah serangan sihir terkoordinasi. ...Yah, aslinya aku bisa melakukan kombinasi ini sendirian, tapi... untuk sebuah ujian, aku harus mendapatkan poin ekstra dengan menunjukkan "kerja sama tim".
"Gawat!" "Tuh kan, sudah kubilang!"
Hujan panah api yang membara menghujani si Merah. Si Biru akhirnya berhasil menyusul ke garis depan, tapi semuanya sudah terlambat. Dengan serangan telak ini, satu dari mereka seharusnya sudah tumbang.
"─────!"
Namun, tepat sebelum mata panah itu menembus target— Anak-anak panah magis itu mendadak lenyap tanpa bekas, seolah tersapu oleh hembusan angin tak kasat mata.
...Apa? Aku tidak merapal pelan. Kekuatan serangannya tidak selemah itu sampai bisa pudar dengan sendirinya. Pasti ada campur tangan eksternal.
Aku memfokuskan pandanganku ke depan. Tim Merah dan Biru telah kembali ke formasi dan bersiap menyerang Elette lagi. Aku harus maju ke garis depan untuk membantunya. ...Tapi sebelum itu, mataku tertuju pada bocah pirang di barisan belakang musuh.
Bocah itu menatapku tajam dengan keringat dingin mengucur di dahinya. Dia tidak sedang menonton pertandingan dengan santai. Itulah perannya, dan itulah alasan kenapa sihir kombinasi kami tiba-tiba dinetralkan.
"Emma, Elette! Barisan belakang musuh punya Mata Penghancur Sihir (Anti-Magic Eye)!! Hati-hati!"
Mata Penghancur Sihir. Konsepnya sederhana, tapi di medan tempur, kemampuan ini adalah mimpi buruk.
"Serius?! Apa aku harus ikut maju pakai pedang?!" seru Emma panik. "Jangan, aku yang maju! Emma, fokus gunakan sihir penyembuhan pada Elette kalau dia terluka!"
Aku belum bisa memastikan batas kemampuannya, tapi kemampuan sekuat pembatalan sihir pasti punya cooldown atau batas penggunaan yang ketat. Terbukti, bocah pirang itu sekarang terlihat kelelahan dengan napas memburu. Artinya, mustahil baginya untuk menetralisir semua sihir yang kami lemparkan.
"Haa!!"
Aku melesat maju, terjun ke tengah pusaran pertarungan jarak dekat. Tepat saat pedang Merah dan Biru hendak mengayun bersamaan ke arah Elette, aku menyelip di antara mereka.
"Tuan Arcus!" "Kita ubah polanya! Elette, gunakan sihirmu sekarang!" "B-baik!"
Aku mengambil alih duel fisik dan menahan rentetan serangan ganda dari Merah dan Biru, memberi ruang bagi Elette untuk mundur.
"Hah, jadi tim kalian ini sebenarnya tidak bisa bekerja sama, ya?" "Kau meremehkan kami kalau berpikir kau bisa melawan kami berdua sendirian, bocah!" Si Merah dan si Biru mencemoohku sambil terus melancarkan tebasan.
Itu provokasi murahan, tapi... apa mereka pikir ini cukup untuk menciptakan celah?
"Mau adu mulut denganku? Boleh saja." "Hah?! Kau masih bisa bersikap sombong di posisi ini, Testbreaker?!" "Hei, hei, apa kau tidak sadar kalau kau sedang terdesak mundur?" Keduanya terus menyeringai puas.
Ya, kalau dilihat secara kasat mata, aku memang perlahan-lahan mundur ke belakang. Tapi apakah gerakan mundurnku ini karena terdesak atau karena hal lain... itu urusan berbeda.
"Apa yang kau tertawakan, sialan?!" "Oh, kelihatan, ya? Tidak, aku cuma merasa takjub. Tadi kau ditahan oleh seorang gadis kecil, tapi sekarang mulutmu besar sekali." "DASAR BAJINGAN!!"
Pria raksasa itu—yang wajahnya sudah semerah rambutnya karena marah—semakin brutal mengayunkan pedangnya. Namun, serangannya jadi berantakan dan kehilangan presisi.
"Hei, Zack, tenanglah..." si Biru mencoba memperingatkan. "Lihat, kan? Kalian mengejek kami tidak bisa bekerja sama, padahal kerja sama kalian sendiri berantakan. Ritme pedang kalian saling bertabrakan. Dari luar kalian memang terlihat menyerang bersama, tapi aslinya kalian cuma saling menghalangi jalan satu sama lain." "DIAM KAU!!"
Pedang besar si Merah yang mengamuk tanpa sadar menabrak pedang si Biru yang sedang mencari celah. Orang ini... gampang sekali diprovokasi. Kesabaran emosionalnya terlalu rendah.
"Ayo, bertemanlah yang rukun. Biar kubantu kalian—"
Aku menangkis serangan mereka sekaligus, lalu mengarahkan tangan kiriku lurus ke wajah si raksasa Merah. Sambil menarik napas pendek, aku merapalkan mantra:
"【Charm】!" (Pesona!)
Gelombang cahaya merah muda memancar dari telapak tanganku. Terkena telak dari jarak sedekat itu, fokus mata Zack seketika memudar, pupilnya menjadi kosong dan tak bernyawa. Di detik yang bersamaan, kabut kegelapan Elette menelan pandangan si Biru, membutakan matanya secara total.
"Uwaaah! Aku tidak bisa melihat apa-apa! Gelap! Dan... Zack?! Ini kau, kan?! Kenapa kau memelukku?! Lepaskan, sialan!!" "Ahhh... uuhhh~" "AAAAAAH, JANGAN SENTUH AKU DI SITU, BRENGSEK!!"
Dua pria dewasa itu kini bergumul dan saling meraba di depanku. Pemandangan itu sungguh menjijikkan dan tidak enak dilihat, tapi ini murni karena si Merah sedang dalam pengaruh hipnotis berat dan si Biru kehilangan penglihatannya.
"...Hasilnya ternyata jauh lebih brutal dari dugaanku." Aku menggaruk pipiku dengan canggung sambil membatin.
Strategi awal yang kami diskusikan adalah menggunakan Sparkle Emma dan tebasanku untuk menjaga jarak, lalu membiarkan sihir kegelapan Elette membutakan mereka satu per satu. Namun, rencana itu kacau karena agresivitas lawan dan keberadaan Mata Penghancur Sihir.
Karena itulah aku berimprovisasi. Aku menggunakan sihir unikku, Celestia: Copy (Replikasi), untuk meniru sihir Charm milik Elette secara diam-diam. Tujuannya adalah menghipnotis si Merah agar berbalik menyerang rekannya, sementara sihir kegelapan Elette membutakan si Biru.
Secara teknis, improivisasi ini berjalan sangat sukses. Aku hanya tidak menyangka efek hipnotisnya akan mengubah si Merah menjadi monster mesum yang menyerang rekannya sendiri di tengah arena.
"Arcus... kau luar biasa... Kau bahkan bisa menggunakan sihir unikku dengan jauh lebih baik daripadaku..." Elette, yang baru saja selesai disembuhkan oleh Emma, menundukkan wajahnya dengan sedih.
"Yah, kurasa ini cuma kebetulan saja," jawabku sejujurnya. Itu benar. Jarang sekali kau melihat lawan yang tingkat ketahanan mentalnya serendah si Zack itu sampai bisa dihipnotis separah ini.
"Kau terlalu merendah... Rasanya aku ingin menyerahkan Celestia-ku padamu saja..." Elette tertawa pahit, mengejek dirinya sendiri.
...Yah, kalau kau bilang begitu, aslinya aku memang sudah "mengambil" sihirmu. Sihir unikku, Copy—atau lebih tepatnya "Replikasi"—memungkinkanku untuk menyimpan dan menggunakan sihir yang telah disalin. Jadi, mulai sekarang, aku bisa mengeluarkan sihir Charm itu kapan saja. Tentu saja, aku tidak akan sembarangan menggunakannya karena setiap sihir yang kusalin akan meninggalkan kelemahan fatal berupa penurunan resistensi elemen di tubuhku.
Omong-omong, aku belum memberi tahu Emma atau Elette soal rahasia sihir utamaku ini. Seperti yang kubilang sebelumnya, Celestia adalah kartu truf mutlak. Menjelaskan cara kerjanya secara rinci kepada orang asing adalah tindakan bunuh diri. Saat ini kami memang satu tim, tapi tidak ada jaminan mereka tidak akan menjadi musuhku di masa depan. Jika hari itu tiba, membiarkan mereka tahu kelemahanku adalah kerugian besar.
Ini mungkin terkesan licik, tapi begitulah cara bertahan hidup di dunia ini.
"...Baiklah, mari kita akhiri komedi ini."
Aku melangkah maju dan menodongkan ujung pedangku tepat ke leher kedua pria yang masih bergumul di tanah itu. Karena ujian ini melarang kami memenggal kepala lawan sungguhan, gestur ini adalah tanda mutlak bahwa mereka telah 'terbunuh'.
"Zack, Reidrich, dinyatakan LUMPUH!!" Suara penguji menggelegar. Dua anggota musuh tereliminasi. Kini hanya tersisa si bocah bermata iblis.
"Kau dengar sendiri, kan? Skornya 3 lawan 1. Kusarankan kau menyerah saja." Aku memperingatkannya dengan nada provokatif.
"Jangan bercanda! Seorang ksatria akan melawan musuh di hadapannya sampai napas terakhir!" Namun, bocah itu tak menunjukkan tanda-tanda gentar. Ia justru menghunus pedang dari pinggangnya dengan raut wajah nekat. "Ini belum berakhir, Testbreaker! Pemenangnya belum diputuskan!"
...Kurasa dia tipe orang yang tak akan mempan dengan provokasi logis. 'Seorang ksatria pantang mundur dari musuh'—itu memang prinsip dasar yang bahkan diajarkan di buku teori akademi.
"HAAAAAAAAAAA!!"
Arus listrik sihir mengalir deras menyelimuti seluruh tubuhnya. Lalu, dia menendang tanah, melesat ke arahku dengan kecepatan kilat.
"Api!" "Kegelapan... pekat!" Emma dan Elette bereaksi seketika, menembakkan rentetan sihir untuk menghadangnya.
...Tapi itu percuma. Ini adalah serangan bunuh diri. Dia membakar semua sisa energi magis dan staminanya dalam satu tarikan napas terakhir. Menghentikannya tidak akan semudah membalik telapak tangan.
...Aku aslinya ingin lebih menonjolkan kerja sama tim di babak ini agar nilainya bagus, tapi sepertinya tidak ada pilihan lain. Aku yang harus menyelesaikannya.
"【Imperial Blaze】" (Kobaran Api Kekaisaran)
Aku mengangkat pedangku dan mengucapkan nama sihir itu dengan tenang. Pada saat itu juga, pilar api berwarna ungu pekat meledak dan menyelimuti bilah pedangku. Intensitas cahaya api ungu itu begitu dahsyat, sampai-sampai menyerap cahaya di sekeliling arena, membuat dunia seakan meredup.
Angin yang berhembus. Pepohonan yang bergoyang. Emma, Elette, bahkan para pengawas ujian... semua orang di arena terdiam kaku, terpukau tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.
Di tengah keheningan itu, pandanganku mengunci sosok si bocah yang terus menerjang maju bagai kilat.
"────Slash." (Tebasan)
Hanya satu ayunan horizontal yang sederhana dan mengalir. Namun, tebasan yang dilapisi kobaran api ungu mematikan itu... seakan membakar ruang, waktu, dan udara di sekitarnya.
Dan tepat di detik berikutnya, tebasan itu menelan habis wujud si bocah kilat tanpa sisa.
0 Comments