Tamu Tak Terduga di Kediaman Victor
Setelah memastikan bahwa Elizabeth adalah orang yang ia selamatkan, Randy tidak mungkin bisa mundur lagi. Meninggalkan dua wanita di tengah Hutan Terkutuk sama saja dengan mengirim mereka ke jemputan maut. Akhirnya, ia memutuskan untuk membawa mereka ke dalam keretanya menuju ibu kota wilayah Victor.
Perjalanan berlanjut dengan tenang tanpa serangan monster tambahan. Mereka tiba di kediaman keluarga Victor—sebuah rumah besar tua yang kokoh di atas bukit yang menghadap ke kota—pada siang hari.
Begitu sampai, Randy segera turun dan hendak memindahkan Elizabeth yang masih pingsan. Ia ragu sejenak, lalu memutuskan untuk menggendongnya di pundak seperti karung beras.
"Tuan Muda, apakah Anda masih menganggap ini di tengah hutan?" tegur Harrison dengan wajah datar.
"Aku tahu," gumam Randy ketus. "Ini keadaan darurat, jadi protokol etiket tidak dihitung."
"Kenapa harus di pundak? Gaya putri raja (bridal style) akan jauh lebih baik."
"Gaya putri raja terlalu intim. Aku tidak mau dituduh macam-macam," jawab Randy sambil melangkah masuk ke rumah besar itu.
Kehadiran Randy yang menggendong seorang wanita cantik di pundaknya seketika memicu kegaduhan. Para pelayan berlarian seperti sarang lebah yang diguncang. Wajar saja, dari sudut pandang mana pun, Randy terlihat persis seperti seorang penculik yang baru saja pulang membawa jarahan.
"Sudah kubilang, kan?" gumam Harrison yang mengikuti dari belakang.
Randy mengabaikan tatapan aneh itu dan membawa Elizabeth ke kamar tamu paling mewah yang mereka miliki.
"Rita, segera siapkan tempat tidurnya," perintah Randy kepada pelayan pribadi Elizabeth yang tampak kebingungan.
Dengan bantuan para pelayan rumah, tempat tidur segera siap. Randy meletakkan Elizabeth dengan perlahan. Melihat napasnya yang teratur, jelas bahwa ia hanya kelelahan secara mental dan fisik.
Sembari menunggu, Randy duduk di kursi samping tempat tidur. Pikirannya berkecamuk. Mengapa Elizabeth diasingkan tanpa pengawalan layak? Dan apa sebenarnya kabut hitam yang merasukinya di hutan tadi?
Saat ia sedang melamun, ia menyadari para pelayan rumah Victor menatapnya dengan tajam dari ambang pintu.
"Ada apa?" tanya Randy bingung.
"...Tuan Muda. Kami harus mengganti pakaian Nona ini segera," ucap salah satu pelayan dengan nada menegur.
Randy baru menyadari bahwa gaun Elizabeth sudah compang-camping, memperlihatkan kulitnya yang seputih porselen. Wajahnya sedikit memerah, ia segera berdiri. "Ah, benar. Maaf, tolong urus dia."
Di luar ruangan, Randy bertemu dengan Keith, pengurus rumah tangga keluarga Victor. Pria tua itu tampak kurus namun memiliki aura wibawa yang sangat kuat.
"Siapa wanita muda itu, Tuan Muda?" tanya Keith sambil membetulkan kacamata satu lensanya.
"Elizabeth von Brauberg. Putri Marsekal dari Kerajaan Alexandria."
Keith terdiam sejenak. "Jadi, rumor pengasingan itu benar..."
"Dia dikirim tanpa pelayan, tanpa pengawal pribadi, dan hanya ditemani satu pelayan muda yang tidak berpengalaman. Pengawal yang disiapkan pihak kerajaan justru terlihat seperti ingin membunuhnya," Randy bersandar di dinding dengan ekspresi muak. "Ini bukan pengasingan biasa. Mereka ingin dia menghilang selamanya di hutan."
"Ini masalah besar," gumam Keith. "Lalu, bagaimana pendapat Anda, Tuan Muda?"
"Aku tidak bisa membiarkannya mati. Untuk saat ini, kita harus menunggu keputusan Ayah."
Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka. Rita memberi isyarat bahwa Elizabeth sudah bangun. Randy masuk dan menemukan Elizabeth telah berganti pakaian tidur sederhana, namun kecantikannya tetap memukau.
"Terima kasih telah membantunya, Rita," ucap Randy kepada pelayan berambut cokelat itu.
Rita tertegun. "E-eh... Tuan Muda berterima kasih pada pelayan sepertiku?"
Suara jernih seperti denting lonceng terdengar dari atas tempat tidur. "Sepertinya Anda memang pria yang unik, Tuan Randolph."
"Nona!" Rita segera membantu Elizabeth duduk.
Randy membungkuk dengan hormat formal. "Saya Randolph Victor. Ahli waris Viscount Victor di Kepangeranan Highland. Sebuah kehormatan bisa membantu Anda, Lady Elizabeth."
Elizabeth membalas dengan anggukan dalam. "Anda adalah penyelamat hidup dan martabat saya."
Randy merasa tidak nyaman dengan formalitas yang terlalu kaku. Ia berlutut agar posisinya lebih rendah dari Elizabeth, sebuah tindakan yang membuat Elizabeth panik. Akhirnya, mereka sepakat untuk duduk dan berbicara dengan lebih santai.
"Apakah Anda tidak akan bertanya apa-apa?" tanya Elizabeth saat melihat Randy hendak berpamitan untuk membiarkannya mandi.
Randy berhenti di depan pintu dan tersenyum tipis. "Bertanya tentang apa? Tentang pengasingan Anda? Saya rasa saya bukan orang yang cukup tidak peka untuk menanyakan hal sesensitif itu sekarang."
"Tetapi... saya sudah bukan lagi anggota keluarga bangsawan tinggi. Anda tidak perlu seformal ini."
Randy berbalik, memberikan senyum nakal yang sedikit melunturkan aura "Putri Es" milik Elizabeth. "Jangan terlalu memaksakan diri, Lady. Jika ada yang ingin aku tanyakan, mungkin hanya soal ukuran gaunmu agar para pelayan bisa menyiapkan pakaian baru."
Wajah Elizabeth memerah seketika. Rita pun ikut tersenyum canggung.
"Lupakan lelucon saya tadi," ucap Randy sambil membungkuk lagi. "Silakan istirahat. Para pelayan kami akan membantu Anda mandi dan menyiapkan makanan."
Begitu keluar dari kamar, Randy menghela napas panjang. Berinteraksi dengan wanita bangsawan jauh lebih melelahkan daripada melawan monster di hutan.
"Tuan Muda," Harrison muncul di koridor. "Tuan Besar—Ayah Anda—memanggil Anda ke ruang kerja."
Randy mengangguk. "Waktunya laporan. Ini akan menjadi pembicaraan yang panjang."